B. Tinjauan Umum Hukum Humaniter Internasional
1. Pengertian dan Tujuan Hukum Humaniter Internasional
Istilah Hukum Humaniter Internasional atau lengkapnya disebut international humanitarian law applicable in armed conflict berawal dari istilah hukum perang (laws of war), yang kemudian berkembang menjadi hukum sengketa bersenjata (laws of armed conflict), yang akhirnya pada saat ini biasa dikenal dengan istilah hukum humaniter. Hukum Humaniter Internasional (HHI) ialah sebagai salah satu bagian Hukum Publik Internasional, merupakan salah satu alat dan cara yang digunakan oleh setiap negara, termasuk oleh negara damai atau
12 Jawahir thontowi dan Pranoto Iskandar, Hukum Internasional, Refika Aditama, Bandung, 2006, hlm.64.
13 Mochtar Kusumaatmadja dan Ety R Agoes, Pengantar Hukum Internasional, Alumni, Bandung, 2003, hlm.150-151.
negara netral, untuk ikut serta mengurangi penderitaan yang dialami oleh masyarakat akibat perang yang terjadi di berbagai negara. Hukum Humaniter Internasional merupakan satu instrumen kebijakan dan sekaligus pedoman teknis yang dapat digunakan oleh semua aktor internasional untuk mengatasi isu internasional yang berkaitan dengan kerugian dan korban perang.14
International Committee of The Red Cross memberi pengertian pada hukum humaniter internasional yaitu aturan-aturan internasional, yang dibentuk oleh perjanjian internasional atau kebiasaan, yang secara spesifik, diharapkan untuk mengatasi problem-problem kemanusiaan yang muncul secara langsung dari sengketa-sengketa bersenjata internasional maupun non internasional, dan untuk alasan-alasan kemanusiaan, membatasi hak dari pihak-pihak yang berkonflik untuk menggunakan metode dan alat perang pilihan mereka atau untuk melindungi orang-orang dan harta milik mereka yang mungkin terkena dampak konflik.
Hukum Humaniter Internasional merupakan salah satu bagian dari Hukum Publik Internasional yang diterapkan pada waktu pertikaian senjata.
Tujuan Hukum Humaniter Internasional adalah menjamin penghormatan manusia dalam batas keperluan militer dan ketertiban umum, serta mengurangi akibat-akibat permusuhan. Sebagai bagian dari Hukum Publik Internasional, tentu saja aturan-aturan hukum humaniter internasional tidak hanya bersumber dari perjanjian internasional saja. Sebagaimana cabang hukum internasional lainnya,
14 Rina Rusman, Hukum Humaniter Internasional dalam Studi Hubungan Internasional, Rajawali Pers, Jakarta, 2010, hlm. 27.
norma hukum humaniter internasional juga bersumber dari kebiasaan internasional dan prinsip-prinsip hukum yang diakui oleh bangsa-bangsa.
Di dalam perkembangan selanjutnya, yaitu pada permulaan abad ke-20, diusahakan untuk mengatur cara berperang, yang konsepnya banyak dipengaruhi oleh asas kemanusiaan. Di dalam perkembangan sekarang ini, istilah hukum sengketa bersenjata mengalami perubahan, yaitu diganti dengan istilah Hukum Humaniter Internasional yang berlaku dalam Sengketa Bersenjata (International Humanitarian Law Applicable in Armed Conflict) atau Hukum Humaniter Internasional (International Humanitarian Law). Beberapa rumusan mengenai hukum humaniter antara lain : 15
a) Menurut Jean Pictet :
International Humaniterian Law in the wide sense is constitutional legal provision, whether written and costumary, ensuring respect for individual and his well being.
b) Geza Herzegh merumuskan bahwa Hukum Humaniter Internasional adalah:
Part of the rules of public international law which serve as the protection of individuals in time of armed conflict. Its place is beside the norm of warfare it is closely related to them but must be clearly distinguish from these it purpose and spirit being different.
15Arlina Permanasari, Pengantar Hukum Humaniter, International Committee of The Redcross , Jakarta, 1999, hlm.8.
c) Mochtar Kusumaatmadja mengemukakan bahwa hukum humaniter adalah : Bagian dari hukum yang mengatur ketentuan-ketentuan perlindungan korban perang, berlainan dengan hukum perang yang mengatur perang itu sendiri dan segala sesuatu yang menyangkut cara melakukan perang itu sendiri
Berdasarkan pengertian diatas, maka terbentuk ruang lingkup hukum humaniter, dimana dapat dikelompokan dalam 3 (tiga) kelompok, yaitu aliran luas, aliran tengah, aliran sempit. Jean Pictet, menganut aliran luas, yaitu bahwa hukum humaniter mencakup Hukum Jenewa, Hukum Den Haag, dan Hukum Hak Asasi Manusia. Hal ini berseberangan dengan Geza Hergezh. Menurutnya, pengertian hukum humaniter internasional termasuk dalam aliran sempit, hanya terbatas pada hukum Jenewa saja, adapun alasan yang dikemukakan oleh Hergezh adalah : 16
a. Hukum yang benar-benar dapat dikatakan mempunyai sifat internasional hanyalah Hukum Jenewa saja, apabila Hukum Den Haag dimasukan maka akan mengurangi sifat humaniter yang diutamakan.
b. Hak Asasi Manusia tidak dimasukkan karena di dalam literatur hukum Negara sosialis, hak asasi manusia ini ditegakkan dengan sarana hukum nasional.
Haryomataram sebagai penganut aliran tengah mengatakan hukum humaniter hanya terdiri atas Hukum Jenewa dan Hukum Den Haag. Tujuan pokok dari kaidah-kaidah hukum ini untuk alasan-alasan perikemanusiaan guna mengurangi atau membatasi penderitaan individu-individu, serta untuk membatasi kawasan di dalam mana kebiasaan konflik bersenjata diizinkan. Berdasarkan
16 Haryomataram, Sekelumit tentang Hukum Humaniter, Sebelas Maret University Press, Surakarta, 1994, hlm.20.
alasan inilah, ketentuan-ketentuan itu kadang-kadang disebut sebagai “hukum perang humaniter” atau kaidah-kaidah hukum “perang yang berperikemanusiaan”.
Nama-nama yang ada pada saat ini diakui untuk kaidah-kaidah tersebut adalah
“hukum humaniter internasional”.17
Hukum Humaniter tidak dimaksudkan untuk melarang perang, karena dari sudut pandang hukum humaniter, perang merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat dihindari. Hukum humaniter mencoba untuk mengatur agar suatu perang dapat dilakukan dengan lebih memperhatikan prinsip-prinsip kemanusiaan.
Mohamed bedjaoui mengatakan bahwa tujuan hukum humaniter itu adalah untuk memanusiawikan perang.18
Ada beberapa tujuan yang ingin dicapai oleh hukum humaniter internasional diantaranya adalah :
a. Memberikan perlindungan terhadap kombatan maupun penduduk sipil dari penderitaan yang tidak perlu (unnecessary syffering) karena perang akan selalu memakan korban baik dari pihak kombatan maupun dari pihak penduduk sipil.
b. Menjamin Hak Asasi Manusia yang sangat fundamental bagi mereka yang jatuh ke tangan musuh, tidak dibenarkan perlakuan yang tidak layak, sistem pembalasan, ini sangat dilarang oleh Hukum Humaniter. Bagi kombatan yang jatuh ke tangan musuh harus diberi perlindungan dan perawatan serta berhak diperlakukan sebagai tahanan perang.
c. Mencegah dilakukannya perang secara kejam tanpa batas, seperti penggunaan senjata perang yang sangat berbahaya dan memiliki daya membunuh yang
17T.May Rudy, Hukum Internasional 2, PT.Refika Aditama, Bandung, 2002, hlm.78.
18Arlina Permanasari, Op-cit, hlm.12.
sangat dahsyat. Dalam hal ini yang terpenting adalah tidak melanggar kemanusiaan.