BAB III KEWENANGAN PEJABAT YANG MENERBITKAN SURAT
C. Surat Keterangan Ahli Waris yang Dikeluarkan oleh Balai
Dalam struktur organisasi Departemen Kehakiman, Balai Harta Peninggalan berada di bawah lingkungan Direktorat Perdata pada Direktorat Jenderal Hukum dan Perundang-Undangan Departemen Kehakiman. Tugas-tugas Balai Harta Peninggalan adalah :
a. Pengurusan diri pribadi dan harta kekayaan anak-anak yang belun dewasa selama belum ditunjuk seorang wali atas mereka (Pasal 359 BW).
b. Sebagai wali pengawas (Pasal 366 BW).
c. Mewakili kepentingan anak-anak belum dewasa dalam hal ada pertentangan dengan kepentingan wali (Pasal 370 BW).
d. Pengurusan harta kekayaan anak-anak belum dewasa dalam hal pengurusan itu dicabut dari wali mereka (Pasal 338 BW).
e. Pengampuan atas anak-anak yang masih dalam kandungan (Pasal 348 BW).
f. Dan pembukaan surat-surat wasiat (Pasal 41 dan 42 ON dan Pasal 937 dan Pasal 942 BW).
g. Pengurusan harta peninggalan yang tidak ada kuasanya/
onbeheerdenalaten schappen (Pasal 1126, 1127, dan 1128 BW), demikian
pula pengurusan barang-barang peninggalan penumpang-penumang dan awak kapal yang meninggal dunia, hilang atau tertinggal pada kapal-kapal Indonesia (Stb. 1886 Nomor 131).
h. Pengurusan boedel-boedel dari orang yang tidak hadir/ boedels van afwezigen (Pasal 463 BW).
i. Pengurusan harta kekayaan orang-orang yang berada di bawah pengampuan karena sakit jiwa atau pemboros. Dalam hal ini Balai Harta Peninggalan adalah bertugas selaku pengampu pengawas (Pasal 499 BW), akan tetapi bila pengurusan dicabut dari pengampunya langsung menjadi pengurus harta kekayaan orang yang berada di bawah pengampuan (Pasal 452 jo. Pasal 338 BW).
j. Pengurusan harta-harta kekayaan orang-orang yang dinyatakan pailit (Pasal 13 Peraturan Kepailitan Stb. 1905 Nomor 217).
k. Selanjutnya pada awal perang dunia ke 11 kepada Balai Harta Peninggalan dibebani tugas untuk menguasai dan mengurus harta kekayaan pribadi kaula-kaula musuh yang diatur dalam Stb. 1940 Nomor 135 (Besluit Commissie Rechtverkeer in Oorlogstijd tanggal 15 Mei 1940 Nomor 56/
CRO). Tugas berakhir dengan selesainya persoalan-persoalan yang timbul dalam Perang Dunia II itu.
l. Semasa pemerintahan Republik Indonesia kepada Balai Harta Peninggalan dibebai tugas untuk mewakili pemilik-pemilik tanah partikelir yang tidak diketahui pemilikny atau tempat tinggal pemiliknya dalam hal likuidasi
tanah-tanah partikelir tersebut (Pasal 2 ayat 2 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1958, Lembaran Negara 1958 Nomor 2).
m. Pekerjaan dewan perwalian (voogdijraad) yang dibentuk dengan Besluit : Gouverneur General Van Nederlandsch-Indie tanggal 25 Juli 1927 Nomor 8 Stbl. 1927 Nomor 382 mulai berlaku tanggal 5 Agustus 1927.
n. Jabatan (fungsi) dari College Van Boedel Meesteren menurut penetapan Gouverner Van Nederlandsch-Indie dari tanggal 31 Mei 1828 Nomor 30 Stbl. 1828 Nomor 46 yang dengan Stbl. 1873 Nomor 148 art. 1 diubah dengan Staatblad 1895 Nomor 99 diserahkan kepada Balai Harta Peninggalan dan Perwakilan Balai Harta Peninggalan di Indonesia.
o. Surat Keterangan tentang hak waris bangsa Timur Asing kecuali Tionghoa ditentukan pada ayat 1 fatsal 14 dari Instruksi Voor de Gouvernements Landmeters dalam Stbl. 1916 Nomor 517.102
Keterangan ahli waris bagi golongan Timur Asing bukan Tionghoa diterbitkan oleh Balai Harta Peninggalan. Untuk golongan ini tidak ada standarisasi kewenangan apakah yang dalam wilayah kerjanya tempat kematian atau boleh diterbitkan oleh BHP lain. BHP akan menggunakan hukum adat atau hukum agama (hukum Islam), bila harus menggunakan porsi dalam keterangan ahli waris yang harus diterbitkan, disesuaikan dengan hukum adatnya
masing-102 Dari uraian tugas-tugas Balai Harta Peninggalan sebagai yang diuraikan di atas, maka pada huruf o di atas disebutkan bahwa Balai Harta Peninggalan mempunyai tugas dan wewenang untuk membuat keterangan hak mewaris bagi penduduk Indonesia keturunan Timur Asing yaitu keturuna Arab, India, Pakistan, dan lain-lainnya kecuali Tionghoa. Keterangan hak mewwaris tersebut harus dibuat berdasarkan kepada hukum waris yang berlaku dalam Negara Leluhurnya.
Tugas dan wewenang tersebut didasarkan kepada pearturan berupa “Instruksi Bagi Para Pejabat Pendaftaran Tanah di Indonesia dan Mereka yang Bertindak Sedemikian”, Lembaran Negara 1916 Nomor 517, Pasal 14 ayat 1.
masing. Penggunaan hukum adat atau hukum agama (Islam) dalam menempuh porsi terhadap keterangan ahli waris yang akan diterbitkan oleh BHP sangat tergantung kepada etnis dari pihak yang meminta jasa BHP untuk menerbitkan keterangan ahli waris itu, maksudnya WNI keturunan tersebut apakah keturunan India, keturunan Pakistan, Tamil, Arab, dan bila keturunan Arab maka berlaku hukum adatnya dan tidak ada harta bersama. Lain halnya bila ada perjanjian kawin maka harta terpisah. Hal ini untuk memenuhi Pasal 36 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang mengenal harta bersama, oleh sebab itu BHP sebelum mengeluarkan keterangan ahli waris terlebih dahulu harus melakukan pengecekan ke Daftar Pusat wasiat Kementrian Hukum dan HAM, apakah ada wasiat atau tidak.
Prosedur pembuatan keterangan ahli waris yang diterbitkan oleh HBP adalah sebagai berikut :
1. Surat permohonan dari pemohon/ ahli waris atau kuasa di atas materai ; 2. Dibuat petikan dan nomor ;
3. Dibuat berita acar kehadiran oleh anggota teknik hukum bila tidak ada lagi ahli waris yang masih di bawah umur namun bila ada anak di bawah umur akan dilakukan pendaftaran boedel ;
4. Keterangan ahli waris dibuat oleh ketua BHP, aslinya diserahkan kepada ahli waris dan pertinggal di BHP.
Terhadap berita acara kehadiran yang dibuat oleh BHP adalah suatu keharusan dimana di dalam berita kehadiran ini akan dijelaskan apa yang menjadi tujuan dari penghadap dan didahului dengan sumpah. Adapun yang menjadi dasar
hukum dari berita kehadiran yang dikeluarkan oleh BHP tersebut dapat dilihat dalam ketentuan yang terdapat dalam Pasal 360 KUH Perdata, paragraf terakhir yang menyatakan “Pegawai Catatan Sipil berwajib memberitahukan kepada Balai segala peristiwa kematian yang harus dibukukan dalam register, dengan pertelaan di samping itu, apakah orang-orang yang meninggal itu meninggalkan anak-anak yang belum dewasa, dan memberitahukan pula perlangsungan segala perkawinan yang belum dewasa”.
Keterangan ahli waris yang diterbitkan BHP terhadap golongan Timur Asing bukan Tionghoa adalah disesuaikan dengan domisili di mana almarhum meninggal dunia, hal ini sesuai dengan Pasal 23 KUH Perdata yang menyatakan bahwa rumah kematian seseorang yang meninggal dunia, dianggap terletak di mana yang meninggal dunia mempunyai tempat tinggal terakhir.
BHP dalam melaksanakan pembuatan keterangan ahli waris berdasaran Pasal 14 ayat 1 Instruksi bagi Pejabat-Pejabat Pendaftaran Tanah di Indonesia dan Mereka yang Bertindak Sedemikian (Instructie voor Goeverernment Landmeters in Indonesia en els zoodaning Fungeerende Personen) Lembaran Negara Tahun 1916 Nomor 517, mulai berlaku tanggal 1 November 1916, sebagai berikut :
“Pada pemindahan hak seluruhnya atau sebagian dari barang tidak bergerak karena warisan tanpa surat wasiat di antara mereka yang disamakan haknya dengan orang-orang Indonesia sejauh terhadap mereka tidak berlaku hukum waris yang ditetapkan bagi orang-orang Eropa, maka para Pejabat Pendaftaran Tanah sebelum memberikan Surat-Surat Ukur yang dimaksud tadi, harus meminta diserhkan suatu surat keterangan pembuktian dari Balai harta Peninggalan atau Balai Boedel atau wakil-wakil mereka yang bersangkutan yang menyatakan bagaimana berdasarkan hukum waris yang berlaku bagi para yang berkepentingan, pembagian dan pemindahan itu harus
dilaksanakan, yang surat bukti itu diberikan tanpa materai dan tanpa dipungut biaya apapun.”103
Selain dari Instruksi bagi Pejabat-Pejabat Pendaftaran Tanah di Indonesia dan Mereka yang Bertindak Sedemikian (Instructie voor Goeverernment Landmeters in Indonesia en els zoodaning Fungeerende Personen) Lembaran Negara Tahun 1916 Nomor 517, tidak ada undang-undang lain yang menagtur tentang kewenangan pembuatan keterangan ahli waris oleh BHP.
103 Muklis Adin, Makalah Sosialisasi Undang-Undang Balai Harta Peninggalan, disajikan dalam Rapat Balai Harta Peninggalan se-Indonesia di Medan, tanggal 4-5 2007, hlm 8.
BAB IV
PEMBUATAN SURAT KETERANGAN AHLI WARIS BAGI WARGA NEGARA INDONESIA KETURUNAN TIONGHOA
BERAGAMA ISLAM DI KOTA MEDAN
A. Surat Keterangan Ahli Waris Bagi Warga Negara Indonesia Keturunan Tionghoa Beragama Islam Menurut Para Notaris
Dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia hingga saat ini belum ada suatu aturan khusus mengenai surat keterangan waris. Dengan tidak adanya suatu Undang-Undang atau peraturan perundang-undangan mengenai surat keterangan waris di Indonesia, maka hal ini menjadi bahan pemikiran bagi para notaris.
Dikarenakan belum ada pengaturan yang tegas dan jelas tentang surat ahli waris, maka dikalangan notaris sendiri ada dua pendapat tentang bentuk dan syarat-syarat pembuatan surat keterangan waris oleh notaris, yaitu:104
1. Pendapat Pertama:
a. Ahli waris datang kepada notaris untuk minta dibuatkan surat keterangan waris dari notaris atas meninggalnya pewaris;
b. Notaris meminta kepada ahli waris untuk membuat surat pernyataan kesaksian ahli waris yang isinya menerangkan tempat tinggal/ domisili si pewaris semasa hidupnya. Umumnya yang membuat dan menandatangani surat pernyataan adalah minimal dua orang saksi yang usianya lebih kurang sama dengan pewaris dan dalam surat pernyataan kesaksian tersebut ahli waris bisa turut mengetahui dan menandatangani surat
104Ibid
pernyataan tersebut. Surat pernyataan kesaksian ahi waris umumnya ada dua bentuk, yaitu pernyataan yang dibuat oleh saksi-saksi sendiri (di bawah tangan dan dilegalisir oleh Notaris) dan akta pernyataan oleh saksi-saksi dihadapan Notaris (akta notaris);
c. Kemudian notaris memeriksa pada Pusat Daftar Wasiat Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia yang pada intinya menyatakan tentang ada atau tidak pewaris membuat surat wasiat;
d. Atas dasar hal-hal tersebut, kemudian notaris membuat surat keterangan ahli waris atau surat keterangan hak mewaris.
Sifat dari surat keterangan waris tersebut dalam hal ini adalah surat keterangan dari notaris yang dikeluarkan oleh notaris dalam bentuk aslinya (in originali).
2. Pendapat kedua:
Ahli waris datang menghadap kepada notaris membuat pernyataan tentang ahli waris yang disertai dua orang saksi lalu notaris menuangkannya dalam akta pernyataan yang sebelumnya terlebih dahulu notaris menanyakan pada Pusat Daftar Wasiat Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia tentang ada atau tidak pewaris membuat surat wasiat. Adapun sifat dari surat waris ini adalah akta pernyataan ahli waris, yang dibuat dalam bentuk minuta akta dan dikeluarkan oleh notaris dalam bentuk salinan akta pernyataan ahli waris (akta pihak).
Surat Keterangan Ahli Waris digunakan sebagai dasar dari penentuan para ahli waris terhadap harta benda yang ditinggalkan oleh pewaris. Dalam hal ini kita ketahui bahwa Notaris dapat menerbitkan SKAW sejak berlakunya
Undang-Undang Jabatan Notaris (UUJN) yang dimana memuat kewenangan Notaris untuk membuat akta otentik.105
Sebagaimana yang diketahui bahwa yang berwenang untuk menerbitkan SKAW untuk golongan penduduk beragama Islam (Pribumi) adalah surat keterangan ahli waris dibuat oleh para ahli waris yang kemudian dibenarkan dan dikuatkan oleh Lurah dan Camat.
Dalam hal WNI keturunan Tionghoa yang beragama Islam memiliki 2 kedudukan didalam penggolongan penduduk, yakni: golongan cina (Tionghoa) dan golongan Bumi Putera (Indonesia/Pribumi). Dan mereka (WNI keturunan Tionghoa beragama Islam) dapat memilih salah satu dari golongan tersebut untuk dilaksanakan pembuatan SKAW nya.106
Dalam praktek terdapat tiga jenis keterangan waris, yaitu keterangan waris bawah tangan, akta keterangan waris Notaris, dan keterangan waris dari Balai Harta Peninggalan. Keterangan waris bawah tangan hanya menerangkan bahwa nama-nama yang ada di dalam keterangan waris tersebut merupakan ahli waris yang berhak atas warisan dari pewaris tanpa adanya besaran masing-masing untuk ahli waris. Pembenaran keterangan waris bawah tangan biasanya dilakukan oleh RT, RW, Kelurahan hingga kecamatan. Sedangkan keterangan waris yang dibuat oleh Notaris maupun Balai Harta Peninggalan memuat jumlah atau besaran bagian dari masing-masing ahli waris.
Tetapi dalam prakteknya jarang Notaris menerima pembuatan surat keterangan ahli waris dengan posisi penghadap yang memiliki 2 penggolongan
105Pasal 15 ayat (1) UUJN
106HasilwawancaradenganIbuNonik, Notaris di Kabupaten Deli Serdang, padatanggal 30 November 2017.
penduduk, oleh karena itu Notaris akan menyarankan agar penghadap tersebut untuk membuat surat keterangan ahli waris yang diperbuat oleh para ahli waris disaksikan oleh kepala desa/lurah dan disetujui oleh camat.
Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) wilayah Sumatera Utara, sesuai dengan sensus penduduk yang diselenggarakan pada tahun 2010, sebanyak 2.097.610 jiwa penduduk menempati Kota Medan. Dengan total sebanyak 1.422.237 jiwa beragama Islam, 425.253 jiwa beragama Kristen Protestan, 37.552 jiwa beragama Kristen Katolik, 9.296 jiwa beragama Hindu, 184.807 jiwa beragama Buddha, dan sebanyak 370 jiwa yang tercatat sebagai penganut agama Kong Hu Cu.
Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), merupakan organisasi yang didirikan pada tahun 1961. PITI merupakan hasil peleburan dari dua organisasi Muslim Tionghoa sebelumnya, yaitu Persatuan Islam Tionghoa (PIT) dan Persatuan Tionghoa Muslim (PTM). Persatuan Islam Tionghoa didirikan oleh Yap A. Siong dan H. Abdul Karim Oey di Medan, pada tahun 1953.107
PITI yang berdiri pada tahun 1961,berazaskan Al-Qur’an dan sunnah.108 Penggunaan Al Quran dan Sunnah dimaksudkan agar para muallaf ini lebih mendalami ajaran Islam, dan melaksanakan ibadah sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Tujuan dari pembentukan PITI adalah untuk membentuk masyarakat Islam dalam arti yang seluas-luasnya dalam rangka nation-building, sesuai dengan cita-cita Revolusi Indonesia.
107 Organisasi ini bernama Persatuan Islam Tionghoa Indonesia, yang disinkat dengan P.I.T.I didirikan pada tanggal 14 April 1961, di Jakarta dan berkedudukan di wilayah Republik Indonesia. Lihat AD/ART PITI tahun 2012.
108 AD/ART PITI Pusat, tahun 2012-2017, h. 4
Menurut penelitian-penelitian yang pernah dilakukan belum ada data yang pasti mengenai jumlah penduduk Tionghoa Muslim di Indonesia, tetapi pimpinan PITI memperkirakan jumlah penduduk Tionghoa lebih kurang 10 juta orang.
Sedang seorang ahli Cina dari Universitas Indonesia, A. Dahana mencatat 7.200.000 orang, dan seorang peneliti masalah Cina dari Universitas Nasional Singapura menduga ada 5.700.000 orang Tionghoa.109
Dari jumlah itu orang Tionghoa Muslim menurut pimpinan PITI Pusat (Anton Medan) dalam dakwahnya mengungkapkan mencapai 5(lima) persen dari total penduduk Tionghoa di Indonesia.110 Seorang pemerhati tentang Tionghoa Muslim H.M. Ali Karim memperkirakan Tionghoa Muslim hanya 2(dua) persen,111 dan seorang tokoh Tionghoa Muslim yang sangat terkenal yaitu Drs. H.
Junus Jahya menduga penduduk Tionghoa Muslim hanya sekitar 1(satu) persen dari total penduduk Tionghoa di Indonesia.112
Tujuan PITI adalah untuk mempertegas peranan keagamaan yaitu sebagai wadah usaha menyempurnakan dan meningkatkan keimanan, keislaman, dan ketaqwaan kepada Allah SWT.113
Dalam AD/ART PITI disebutkan bahwa Visi PITI adalah mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil alamin (Islam sebagai rahmat bagi sekalian alam).
Sedangkan Misi PITIadalah untuk mempersatukan Muslim Tionghoa dengan
109 Coppel, Charles A.Tionghoa Indonesia Dalam Krisis. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1994. h, Pendahuluan
110 H. Muslim Nur,(Pembina PITI Padang) diungkapkan ketika Pengajian, Masjid Raya Pasar Gadang, 12 Desember 2015
111 Ibid
112 Jahja, H. Junus,ed. Masalah Tionghoa Di Indonesia Asimilasi vs Integrasi Jakarta:
Lembaga Pengkajian Masalah Pembauran, 1999, h. 10
113 Sambutan tertulis H. Alamsjah Ratu Perwira Negara selaku Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat pada Musyawarah Nasioanal I PITI, 19-20 Desember 198 di Jakarta.
Muslim Indonesia, Muslim Tionghoa dengan etnis Tionghoa non Muslim dan etnis Tionghoa dengan umat Islam. Melaksanakan dakwah Islamiyyah (amarma’ruf nahi mungkar), untuk meningkatkan kualitas pemahaman dan pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, menyelenggarakan pendidikan, pengajaran, dan pengembangan kebudayaan yang sesuai dengan ajaran Islam, guna membina manusia Muslim yang taqwa, berbudi luhur, terampil, dan memiliki pengetahuan yang luas. Menjalin kerjasama dengan ormas lain guna meningkatkan kesejahteraan sosial dalam rangka mewujudkan ukhuwah Islamiyah.114
Di Medan, kantor DPD PITI bertempat Jl. Prof. H.M. Yamin, SH , (Bukit Barisan Dalam) no. 8-Q, Medan dan diketuai oleh Muhammad Chow Chin Wie.
Pada saat ini, menurut catatan lembaganya, populasi Cina muslim di Medan mencapai 1.000 keluarga. Ini angka yang kecil, mengingat komunitas Tionghoa di kota Medan mencapai 20% dari sekitar 2,3 juta penduduk kota Medan.
Menurut Bapak Muhammad Chow Chin Wie mengenai Surat Keterangan Ahli Waris bagi Warga Negara Indonesia yang berketurunan Tionghoa tetapi beragama Islam, memang sangat membingungkan. Ketika dijelaskan dengan singkat permasalahan yang mungkin akan timbul akibat dari penggolongan penduduk dan belum adanya unifikasi hukum yang berdampak pada pembuatan Surat Keterangan Ahli Waris, dan dihadapkan pada pilihan lebih memilih menghadap kepada Notaris, Lurah atau Camat, dan Pengadilan Agama, Bapak Muhammad Chow Chin Wie pribadi lebih memilih untuk menghadap Notaris.
114 Lihat, AD/ART/PITI tahun 2012-2017, h. 7
Baginya surat pernyataan dari Lurah atau Camat tidak cukup kuat di depan mata hukum, sedangkan ketika ditanyakan mengapa tidak menghadap kepada Pengadilan Agama, “Takut ribet”, begitu saja dijawabkan oleh Bapak Muhammad Chow Chin Wie. Oleh sebab itu, Bapak Muhammad Chow Chin Wie selaku ketua DPD PITI Kota Medan lebih memilih untuk menghadap Notaris ketika akan membuat Surat Keterangan Ahli Waris.115
Untuk pembagian warisan secara Islam, sebelum tahun 1990-an dibuat oleh Pengadilan Agama dalam bentuk Fatwa Waris.116 Namun demikian, pada awal tahun 1990 ada edaran dari Mahkamah Agung yang melarang Pengadilan Agama untuk membuat Fatwa Waris untuk WNI yang beragama Islam. Dalam hal tidak terjadi sengketa waris. Sejak itulah maka yang berwenang untuk membuat keterangan waris bagi pewaris yang beragama Islam pun cukup dibuat di bawah tangan dengan disahkan oleh Lurah dan dikuatkan oleh Camat setempat. Berbeda dengan waris yang dibuat oleh Notaris maupun yang dibuat oleh BHP.
Keterangan waris yang dibuat di bawah tangan dan disahkan lurah camat tersebut tidak menetapkan berapa jumlah/bagian dari para ahli waris. Bahkan sering terjadi, keterangan waris tersebut dibuat tanpa adanya penelitian sama sekali.
Sehingga tidak diketahui secara pasti, berapa sebenarnya jumlah ahli waris dari seorang pewaris. Kondisi ini mengakibatkan sering terjadinya sengketa waris karena keterangan waris yang tidak tepat. Akibat sering adanya gugatan masalah keterangan waris yang keliru, akhir-akhir ini lurah dan camat menolak versi surat
115 Hasil wawancara kepada Bapak Muhammad Chow Chin Wie, Ketua DPD PITI Kota Medan, yang dilangsungkan pada tanggal 14 Agustus 2018, pukul 14.00 WIB.
116http://irmadevita.com/2012/keterangan-waris/, diakses pada tanggal 17 April 2017, 00.30 WIB.
Pernyataan para ahli waris yang menyebutkan lurah “menyaksikan dan membenarkan” dan camat “menguatkan”, diganti menjadi “mengetahui” atau
“menyatakan benar bahwa ahli waris adalah warga kami”. Artinya di sini, lurah dan camat posisinya hanya mendaftarkan surat yang sudah ditanda-tangani sebelumnya oleh ahli waris.
Masalah lain dalam pembuatan surat keterangan waris di bawah tangan seperti ini adalah: tidak dilakukannya pengecekan wasiat terlebih dahulu oleh para ahli waris. Oleh karena itu, jika si pewaris ternyata pernah membuat wasiat secara diam-diam maupun terang-terangan di hadapan Notaris, namun tidak memberitahukannya kepada ahli warisnya atau orang lain, maka wasiat tersebut tidak akan pernah diketahui oleh ahli waris atau pihak lain yang nantinya akan melakukan pengalihan hak atas harta peninggalan pewaris. Bisa jadi tanah yang dijual ahli waris sesuai keterangan waris sebenarnya sudah diwasiatkan kepada orang lain sama sekali (diluar ahli waris menurut undang-undang).
Kondisi seperti ini kadang menyeret Notaris yang membuat akta peralihan hak warisnya dari seorang ahli waris kepada orang yang nama-namanya tercantum dalam Surat Pernyataan Ahli Waris menjadi turut tergugat dalam kasus-kasus peralihan hak karena warisan. Karena posisi notaris benar-benar tergantung pada kejujuran para ahli waris yang hadir dan melakukan peralihan hak.
Notaris Irma Devita berpendapat bahwa yang berhak untuk membuat keterangan waris pribumi sebaiknya memang dikembalikan kepada kewenangan Pengadilan Agama dalam bentuk Fatwa Waris. Karena hal ini setidaknya
memberikan entry barier atau hambatan bagi orang-orang yang sekedar mengaku-ngaku sebagai ahli waris bisa memperoleh hak atas suatu warisan.
Mengenai surat keterangan ahli waris bagi WNI Tionghoa yang beragama Islam, Notaris Irma Devita memberikan keterangan117:
“Pada prinsipnya keterangan notaris dibuat sesuai dengan kondisi pewaris.
Artinya, keterangan waris tersebut dibuat untuk siapa? Jika keterangan waris tersebut dibuat untuk ahli warisnya yang beragama Islam, maka keterangan ahli waris tersebut tetap menjadi wewenang lurah camat. Tetapi apabila keterangan ahli waris tersebut dibuat untuk ahli waris yang non Islam, maka dibuat oleh Notaris.”
Berbeda pula dengan Notaris Erik H.118 Menurut Erik, Indonesia merupakan Negara yang didominasi oleh penduduk muslim. Di matanya, Indonesia merupakan Negara Islam. Disamping itu, peraturan yang melindungi profesi Notaris masih jauh dari arti perlindungan. Oleh karena itu, surat keterangan waris bagi WNI Tionghoa yang beragama Islam sebaiknya diterbitkan oleh Pengadilan Agama dalam bentuk Fatwa Waris. Baginya, surat keterangan waris memang lebih bagus apabila diterbitkan oleh sebuah lembaga Negara yang lebih mengerti bagian-bagian dari Hukum Kewarisan Islam.
Lain pula pendapat Notaris NK (nama dismarkan sesuai permintaan).
“Pada dasarnya belum ada peraturan yang tetap yang mengatur pewarisan bagi golongan Tionghoa yang beragama Islam, sehingga ini dapat menjadi ‘bomerang’
bagi notaris. Menurutnya, golongan Tionghoa yang beragama Islam dapat
117Ibid.
118WawancaradenganNotaris Erick H., Notaris Deli Serdang, 11 Maret 2018.
menempuh 2 cara pewarisan, yakni pewarisan berdasarkan hukum Islam dan berdsarkan hukum perdata seperti halnya masyarakat golongan Tionghoa pada umunya. Dia akan terlebih dahulu bertanya kepada penghadap apakah hendak dibuatkan SKAW menurut hukum Islam, atau menurut hukum perdata karena apabila berdasarkan hukum Islam maka yang bersangkutan dapat menemui camat
menempuh 2 cara pewarisan, yakni pewarisan berdasarkan hukum Islam dan berdsarkan hukum perdata seperti halnya masyarakat golongan Tionghoa pada umunya. Dia akan terlebih dahulu bertanya kepada penghadap apakah hendak dibuatkan SKAW menurut hukum Islam, atau menurut hukum perdata karena apabila berdasarkan hukum Islam maka yang bersangkutan dapat menemui camat