BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Obligasi Syariah
1. Pengertian dasar obligasi syariah(sukuk)
Obligasi merupakan surat utang dari emiten (dapat berupa badan hukum/lembaga atau pemerintah) yang memerlukan dana untuk kebutuhan operasi maupun ekspansi mereka. Investasi pada obligasi memiliki potansial keuntungan lebih besar dari pada produk perbankan. Keuntungan berinvestasi diobligasi adalah memperoleh bunga dan kemungkinan
capital gain (Nurul Huda, 2007:81).
Secara umum dapat juga diartikan obligasi adalah surat utang jangka panjang yang diterbitkan oleh suatu lembaga, dengan nilai nominal dan waktu tempo tertentu. Penerbit obligasi bisa perusahaan swasta, BUMN atau pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah. Salah satu jenis obligasi yang diperdagangkan dipasar modal kita saat ini adalah obligasi kupon (cupon bond) dengan tingkat suku bunga tetap (fixed interes) selama masa berlaku obligasi (Nurul Huda, 2007:81).
2. Jenis obligasi yang diperdagangkan
Jenis obligasi yang diperdagangkan di Bursa Efek antara lain (Anonim, 2007):
xxiv a. Corporate bonds: obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan, baik yang berbentuk badan usaha milik negara (BUMN), atau badan usaha swasta.
b. Government bonds: obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah.
c. Retail bonds: obligasi yang diperjual belikan dalam satuan nilai nominal yang kecil, baik corporate bonds maupun government bonds. 3. Karakteristik obligasi
Karakteristik obligasi antara lain (Anonim, 2007): a. Penerbit (emiten)
Mengetahui dan mengenal penerbit obligasi merupakan faktor sangat penting dalam melakukan investasi obligasi. Mengukur resiko/kemungkinan dari penerbit obigasi tidak dapat melakukan pembayaran kupon dan atau pokok obligasi tepat waktu (default risk) dapat dilihat dari peringkat (rating) obligasi yang dikeluarkan oleh lembaga pemeringkat.
b. Harga obligasi
Berbeda dengan harga saham yang dinyatakan dalam bentuk mata uang, harga obligasi dinyatakan dalam persentase, yaitu persentase dari nilai nominal. Ada 3 (tiga) kemungkinan harga pasar dari obligasi yang ditawarkan, yaitu:
1) Nilai pari (par) merupakan harga obligasi sama dengan nilai nominal.
xxv 2) Dengan premi (at premium) merupakan harga obligasi lebih besar
dari nilai nominal.
3) Dengan discount (at discount) merupakan harga obligasi lebih kecil dari nilai nominal.
c. Jangka waktu obligasi
Setiap obligasi mempunyai masa jatuh tempo atau berakhirnya masa pinjaman (maturity). Secara umum masa jatuh tempo obligasi di Indonesia adalah 5 tahun. Ada yang 1 tahun, ada pula yang sampai 10 tahun. Semakin pendek jangka waktu obligasi maka akan semakin diminati oleh investor, karena dianggap risikonya kecil.
Pada pasaran Amerika dikenal 3 kelompok masa jatuh tempo obligasi yaitu (Anonim, 2007):
1) Jangka pendek (surat utang atau bill): yang masa jatuh temponya hingga 1 tahun.
2) Medium term note: masa jatuh temponya antara 1 hingga 10 tahun. 3) Jangka panjang (obligasi atau bond): jatuh temponya diatas 10
tahun.
Pada saat jatuh tempo, pihak penerbit berkewajiban untuk melunasi pokok investasi di dalam obligasi tersebut, tentunya beserta bunganya. d. Tingkat suku bunga
Untuk menarik minat para investor, perusahaan harus memberikan insentif yang menarik berupa bunga yang relatif lebih besar dari pada tingkat suku bunga perbankan, misalkan 14%, 15% per
xxvi tahun. Istilah tingkat suku bunga dalam instrumen obligasi dikenal dengan nama kupon obligasi. Penentuan besarnya kupon obligasi sangat penting, untuk dapat menarik minat investor tentunya juga harus dipertimbangkan kemampuan perusahaan untuk membayar kupon tersebut sampai jatuh tempo (Anonim, 2007).
Kupon, suku bunga yang dibayarkan oleh penerbit kepada pemegang obligasi. Istilah kupon ini asal mulanya digunakan karena dimasa lalu secara fisik obligasi diterbitkan bersama dengan kupon bunga yang melekat pada obligasi tersebut. Pada tanggal pembayaran kupon, pemegang obligasi akan menyerahkan kupon tersebut ke bank guna ditukarkan dengan pembayaran bunga (Anonim, 2007).
Ukuran terhadap tingkat suku bunga sangat dipengaruhi oleh tingkat risikonya. Obligasi dengan tingkat risiko yang lebih tinggi, tentunya akan menawarkan tingkat suku bunga yang lebih tinggi dibandingkan dengan obligasi yang memiliki risiko lebih rendah. Hal ini biasanya dapat dianalisis berdasarkan peringkat obligasi yang dikeluarkan. Saat ini terdapat 2 perusahaan pemeringkat efek, yaitu, PEFINDO atau Kasnic Indonesia sekarang menjadi Moddy’s yang kegiatan usahanya adalah menganalisa kekuatan posisi keuangan dari perusahaan penerbit obligasi.
Risiko gagal bayar (default risk), dalam hal ini perusahaan penerbit bisa saja mengalami kesulitan keuangan dan mereka tidak menepati janjinya untuk membayar kupon atau bunga obligasi setiap
xxvii tahun atau pokok dari investasi (nilai pari). Bila hal ini terjadi maka perusahaan penerbit gagal memenuhi janjinya dan investor dirugikan. Dalam hal ini investor dapat melihat peringkat dari obligasi dari perusahaan yang menerbitkan. Pemeringkatan ini dilakukan oleh sebuah perusahaan independen (Anonim, 2007).
Tabel 2.1
Tingkat sekuritas menurut Moody's Investor Service dan Standar & Poor's (Perusahaan Pemeringkat Internasional) Tingkatan Keterangan
Aaa Kualitas terbaik Aa Kualitas tertinggi A Tingkatan diatas sedang Bbb Tingkatan sedang Bb Ada unsur spekulasi B
Umumnya kurang sesuai karakteristiknya dari investasi yang diinginkan
Caa Posisi jelek
Ca Tingkatan yang tinggi spekulasinya
C Tingkatan terendah-sangat jelek prospeknya
(Sumber: Panji Anogara, 2006:77)
Sedangkan PEFINDO memberikan simbol atau nilai pemeringkatan dari yang tertinggi sampai yang terendah sebagai berikut: : idAAA (superior), idAA (very strong), idA (strong), idBBB (adequate), idBB (somewhat weak), idB (non-investment), idCCC (vulnerable), idD (default). Peringkat idAAA sampai dengan idBBB menyatakan bahwa sebuah obligasi dinyatakan aman dari default risk
atau resiko gagal bayar atau obligasi dengan peringkat ini bisa dikatakan sebagai investment-grade bond. Peringkat di bawah dari idBBB tidak disarankan dalam investasi ini dan dikategorikan sebagai
xxviii dibubuhi tanda – (minus) atau + (plus). Hal ini memberikan indikasi akan naik atau turunnya dari peringkat sebuah obligasi. Misalkan sebuah obligasi mendapat peringkat idA+, maka peringkat dari obligasi tersebut mungkin akan naik menjadi idAA atau bila peringkat dari sebuah obligasi adalah idAA-, kemungkinan peringkat obligasinya akan turun menjadi idA (Anonim, 2007).
Pemeringkatan ini memberikan informasi kepada investor
mengenai kapasitas maupun kemampuan sebuah penerbit obligasi dalam memenuhi janjinya yaitu membayar bunga atau kupon secara berkala dan mengembalikan semua pokok atau nilai parinya begitu jatuh tempo.
Perlu investor mengerti juga, bahwa bukan hanya risiko tingkat suku bunga yang dapat mengakibatkan fluktuasi harga obligasi tapi risiko gagal bayar juga mempegaruhinya. Bila ada informasi dimana sebuah perusahaan akan gagal bayar maka peringkat dari perusahaan tersebut akan turun diikuti dengan anjloknya harga obligasi tersebut (Anonim, 2007).
e. Jadwal pembayaran
Kewajiban pembayaran kupon obligasi oleh perusahaan penerbit dilakukan secara berkala sesuai dengan kesepakatan sebelumnya, bisa dilakukan triwulanan, semesteran atau tahunan. Ketepatan pembayaran kupon obligasi kepada investor merupakan aspek penting dalam menjaga reputasi perusahaan penerbit obligasi.
xxix Tanggal kupon, tanggal pembayaran bunga dari penerbit kepada pemegang obligasi. Di Amerika, kebanyakan pembayaran kupon obligasi dilakukan secara tengah tahunan, yang artinya pembayaran kupon dilakukan setiap 6 bulan sekali. Di Eropa, kebanyakan obligasi adalah secara tahunan atau 1 kupon pertahun (Anonim, 2007).
f. Jatuh tempo (maturity)
Jatuh tempo (maturity) adalah tanggal dimana pemegang obligasi akan mendapatkan pembayaran kembali pokok atau nilai nominal obligasi yang dimilikinya. Periode jatuh tempo obligasi bervariasi mulai dari 365 hari sampai dengan diatas 5 tahun. Obligasi yang akan jatuh tempo dalam waktu 1 tahun akan lebih mudah untuk di prediksi, sehingga memilki resiko yang lebih kecil dibandingkan dengan obligasi yang memiliki periode jatuh tempo dalam waktu 5 tahun. Secara umum, semakin panjang jatuh tempo suatu obligasi, semakin tinggi kupon/bunganya (Anonim, 2007).
g. Pasar obligasi
Sebagai suatu efek, obligasi dapat diperdagangkan. Ada dua jenis pasar obligasi yaitu (Anonim, 2007):
1) Pasar primer, merupakan tempat diperdagangkannya obligasi saat mulai diterbitkan. Salah satu persyaratan ketentuan Pasar Modal, obligasi harus dicatatkan di bursa efek untuk dapat ditawarkan kepada masyarakat, dalam hal ini lazimnya adalah di Bursa Efek
xxx Surabaya (BES) sekarang sudah berubah menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI).
2) Pasar sekunder, merupakan tempat diperdagangkannya obligasi setelah diterbitkan dan tercarat di BEI, perdagangan obligasi akan dilakukan di pasar sekunder.
B. Obligasi Syariah (Sukuk)
1. Pengertian dasar obligasi syariah (sukuk)
Menurut Peraturan BAPEPAM No. IX. A.13 tentang penerbitan efek syariah, Sukuk adalah Efek syariah berupa sertifikat atau bukti kepemilikan yang bernilai sama dan mewakili bagian penyertaan yang tidak terpisahkan atau tidak terbagi atas:
a. Kepemilikan aset berwujud tertentu
b. Nilai manfaat dan jasa atas aset proyek tertentu atau aktivitas investasi tertentu
c. Kepemilikan atas aset proyek tertentu atau aktivitas investasi tetentu. Menurut Fatwa Dewan Syari’ah Nasional No:32/DSN-MUI/IX/2002, "Obligasi syariah adalah suatu surat berharga jangka panjang berdasarkan prinsip syariah yang dikeluarkan emiten kepada pemegang obligasi syari’ah yang mewajibkan emiten untuk membayar pendapatan kepada pemegang obligasi syari’ah berupa bagi hasil/margin/fee, serta membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh tempo".
xxxi Obligasi syariah merupakan bentuk pendanaan (financing) dan sekaligus investasi memungkinkan beberapa bentuk struktur yang dapat ditawarkan untuk tetap menghindarkan pada Riba. Berdasarkan pengertian tersebut, obligasi syariah dapat memberikan (Sofiniyah Gufron, 2005:28): a. Bagi hasil berdasarkan akad mudharabah/muqaradhah/qiradh atau
Musyarakah. Karena akadmudharabah/musyarakah adalah kerja sama dengan skema bagi hasil pendapatan atau keuntungan, obligasi jenis ini akan memberikan return dengan penggunaan term indicative/expected return karena sifatnya yang floating dan tergantung pada kinerja pendapatan yang dibagihasilkan.
b. Margin berdasarkan akadmurabahah, salam dan istishna.
c. Fee berdasarkan akad ijarah. Dengan akad tersebut, obligasi syariah
akan memberikan pendapatan tetap ( fixed return).
Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) menetapkan fatwa no.41 tentang obligasi Ijarah ini menggunakan dasar sebagai berikut:
a. Firman Allah SWT, antara lain:
1) Firman Allah QS. Al-Ma’idah (5): 1:
“Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu...”.
2) Firman Allah QS. Al-Baqarah (2) : 233:
" ...Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, tidak
xxxii
patut. Bertaqwalah kepada Allah, dan ketahuilah bahwa Allah
Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."
3) Firman Allah QS. al-Qashash (28): 26:
"Salah seorang dari kedua wanita itu berkata, 'Hai ayahku!
Ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena
sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk
bekerja (pada kita) adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya."
b. Hadist-hadist Nabi SAW, antara lain:
1) Hadis Qudsi riwayat Muslim dari Abu Hurairah:
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Tiga kelompok yang Aku
memusuhi mereka pada Hari Kiamat nanti. Pertama, orang yang
bersumpah atas nama-Ku lalu ia mengkhianatinya. Kedua, orang
yang menjual budak belian, lalu ia memakan (mengambil)
keuntungannya. Ketiga, orang yang memperkerjakan seseorang,
lalu pekerja itu memenuhi kewajibannya, sedangkan orang itu
tidak membayarkan upahnya" (HR. Muslim).
2) Hadis Qudsi Riwayat Ibn Majah dari Ibnu Umar, bahwa Nabi bersabda:
"Berikanlah upah pekerja sebelum keringatnya kering."
3) Hadis riwayat Abd ar-Razzaq dari Abu Hurairah dan Abu Sa'id al-Khudri, Nabi s.a.w. bersabda:
xxxiii 4) Hadis riwayat Abu Daud dari Sa'd Ibn Abi Waqqash, ia berkata:
"Kami pernah menyewakan tanah dengan (bayaran) hasil
pertaniannya; maka, Rasulullah melarang kami melakukan hal
tersebut dan memerintahkan agar kami menyewakannya dengan
emas atau perak”.
5) Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari `Amr bin `Auf:
"Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum kecuali perdamaian
yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram;
dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali
syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang
haram".
c. Ijma' ulama tentang kebolehan melakukan akad sewa menyewa (Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, Dr. Wahbah al-Zuhaili).
d. Kaidah fiqih :
"Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada
dalil yang mengharamkannya."
"Menghindarkan mafsadat (kerusakan, bahaya) harus didahulukan
atas mendatangkan kemaslahatan."
Obligasi syariah di dunia internasional dikenal dengan sukuk. Dalam bahasa Inggris sukuk diterjemahkan sebagai Islamic bond. Sukuk
berasal dari bahasa Arab yang memiliki arti mirip dengan sertifikat atau surat. Dalam pembahasan ekonomi syariah (Islam), sukuk mengandung
xxxiv pengertian sebagai surat berharga yang merupakan salah satu bentuk instrumen pembiayaan berdasarkan akad syariah tertentu, yang mewajibkan si penerbit sukuk untuk membayar pendapatan berupa bagi hasil atau margin keuntungan atau jasa (ujrah) sebagaimana ditentukan dalam akad serta membayar kembali dana yang tercantum pada lembar
sukuk pada saat jatuh tempo sukuk kepada sipemegang sukuk (Iswahjudi dan Mirza A. Adiwarman Karim, 2006:59).
Dari keterangan diatas, kemudian timbullah pertanyaan, apakah yang dimaksud dengan syariah? syariah merupakan hukum Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al-hadist. Sedangkan prinsip keuangan
syariah adalah suatu bentuk sistem keuangan yang berdasarkan prinsip etika dan keadilan yang berlandaskan syariah, atau hukum Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadist yang mengatur berbagai aspek kehidupan pribadi dan masyarakat.
Elemen-elemen utama dari prinsip-prinsip transaksi keuangan
syariah (Anonim, 2007: 5): a. Larangan atas bunga (Riba).
b. Penekanan pada perjanjian atau kesepakatan yang adil. c. Hubungan antara keuangan dengan produktivitas. d. Anjuran atas sistem bagi hasil atau profit sharing. e. Larangan terhadap judi atau maysir.
xxxv Suatu sukuk dapat dikatakan memenuhi prinsip syariah apabila jenis akad atau perjanjian penerbitannya tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah, yaitu antara lain transaksaksi yang dilakukan oleh para pihak harus bersifat adil, halal, thayib dan maslahat. Selain itu, juga harus terbebas dari berbagai unsur larangan, antara lain Riba, maysir dan
gharar. Penerbitan sukuk memerlukan adanya pernyataan kesesuaian
syariah (shariah compliance) dari ahli syariah yang diakui secara umum atau dari lembaga yang memiliki keahlian dibidang syariah di Indonesia ini merupakan tugas DSN (Dewan Syariah Nasional) (Anonim, 2007:5).
Gharar merupakan sesuatu yang mengandung keraguan, tipuan atau tindakan yang bertujuan merugikan orang lain. Gharar terbesar adalah tidak adanya kepastian mengenai rincian objek, cara penyerahan dan cara pembayaran. Dalam transaksi Islam harus ada itikad baik, sehingga tidak boleh ada gharar yang mengakibatkan kerugian akibat adanya itikad tidak baik tersebut (Adiwarman Karim, 2004:31).
Maysir merupakan unsur spekulasi, judi, dan sikap untung-untungan didalam transaksi keuangan yang memungkinkan diperolehnya suatu kekayaan dengan cara yang mudah. Maysir yang paling terbesar adalah dimana keuntungan suatu pihak merupakan kerugian pada pihak lain. Maysir juga bermakna spekulasi murni (Anonim, 2007:7).
Riba merupakan unsur tambahan yang diperjanjikan sebelumnya baik dalam transaksi jual beli maupun pinjam meminjam, secara batil atau
xxxvi bertentangan dengan ajaran Islam (Anonim, 2007:7). Riba terbagi menjadi tiga (Adiwarman Karim, 2004:33):
a. Riba fadl yaitu Riba yang timbul akibat pertukaran barang sejenis yang tidak memenui kriteria kualitasnya, sama kuantitasnya dan sama waktu penyerahanya. Riba fadl dapat ditemui dalam transaksi valas yang tidak secara tunai.
b. Riba nasiah yaitu Riba yang timbul akibat utang piutang yang tidak memenuhi kriteria untung muncul bersama resiko dan hasil usaha muncul bersama biaya. Riba jenis ini dapat ditemui dalam transaksi pembayaran bunga kredit dan pembayaran bunga tabungan, deposito, giro dan obligasi.
c. Riba jahiliah yaitu utang yang dibayar melebihi dari pokok pinjaman karena peminjam tidak mampu mengembalikan dana pinjaman pada waktu yang telah ditetapkan. Diperbankan konvensional Riba jahiliah
dapat ditemui dalam pengenaan bunga pada transaksi kartu kredit yang tidak dibayar penuh tagihannya.
2. Kriteria perusahaan yang dapat menerbitkan obligasi syariah (emiten).