BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.4. Pengertian Gangguan Pendengaran dan Ketulian
Menurut WHO pengertian gangguan pendengaran dan ketulian dibedakan berdasarkan ketentuan sebagai berikut:
1) Gangguan Pendengaran : berkurangnya kemampuan mendengar baik sebagian atau seluruhnya, pada salah satu atau kedua telinga, baik derajat ringan atau lebih berat dengan ambang pendengaran rata-rata lebih dari 26 dB(A) pada frekuensi 500, 1000, 2000 dan 4000 Hz (Modul, 2008).
2) Ketulian : hilangnya kemampuan mendengar pada salah satu atau kedua sisi telinga, merupakan gangguan pendengaran sangat berat dengan ambang pendengaran rata–rata lebih dari 81 dB(A) pada frekuensi 500, 1000, 2000 dan 4000Hz.
Gangguan pendengaran atau tuli adalah penurunan fungsi pendengaran. Ada tiga jenis gangguan pendengaran yang dapat dikenali dengan uji pendengaran : tuli konduksi, tuli sensorineural dan gabungan keduanya atau tuli campuran. Penyebab gangguan pendengaran berdasarkan jenis ketulian atau lokasi adalah
a. Tuli konduksi adalah akibat kelainan telinga luar dan atau tengah dengan telinga dalam normal seperti liang telinga, membran timpani, kavum timpani, radang, trauma telinga dan oklusio tuba.
b. Tuli sensorineural timbul sekunder dari kelainan koklearis saraf kedelapan (Nervus akustikus) atau saluran auditori sentral dengan telinga luar dan tengah normal seperti presbikusis, kelainan kongenital, waktu ibu hamil menderita morbili, parotitis, kelainan darah atau pembuluh darah : anemia, leukemia,
hipertensi, avitaminosis B1, intoksikasi obat: Steptomisin, Kina, Garamisin, infeksi.
c. Tuli campuran atau kombinasi meliputi gangguan pendengaran pada kedua mekanisme konduksi dan sensorineural seperti otitis media kronika stadium lanjut, dimana telah terjadi komplikasi ke labirin, otosklerosis stadium lanjut, dimana telah terjadi penjalaran pembentukan tulang pada labirin, trauma kapitis, dimana telah terjadi ruptur membran timpani dan putusnya rantai osikel, hematotimpani atau fraktur os temporal yang merusak koklea, trauma akustik, dimana disamping merusak membran timpani dan rantai osikel juga bunyi yang sangat keras dapat merusak organ Corti (Hetaharia danMulyani, 2011).
2.4.2. Cara Pemeriksaan Pendengaran 2.4.2.1. Audiometri Nada Murni
Pemeriksaan dilakukan menggunakan audiometer dan hasil pencatatannya disebut audiogram. Dapat dilakukan pada anak berusia lebih dari 4 tahun yang koperatif. Sumber suara digunakan nada murni (pure tone) yaitu bunyi yang hanya terdiri dari 1 frekuensi. Pemeriksaan dilakukan pada ruang kedap suara, dengan menilai hantaran suara melalui udara (air conduction) melaui headphone pada frekuensi 125, 250, 5000, 1000, 2000, 4000, dan 8000Hz. Hantaran suara melalui tulang (bone conduction) diperiksa dengan memasang bone vibrator pada prosesus mastoid yang dilakukan pada frekuensi 500, 1000, 2000, 4000 Hz. Intensitas yang biasa digunakan antara 10-100dB(A) (masing–masing dengan kelipatan 10), secara bergantian pada kedua telinga. Suara dengan intensitas terendah yang dapat didengar
dicatat pada audiogram untuk memperoleh informasi tentang jenis dan derajat ketulian.
Notasi pada audiogram dipakai grafik AC (air conduction), yaitu dibuat dengan garis lurus penuh (Intensitas yang diperiksa antara 125-8000 Hz) dan grafik BC (bone conduction) yaitu dibuat dengan garis terputus–putus (intensitas yang diperiksa : 250-4000 Hz).
Untuk telinga kiri dipakai warna biru, sedangkan untuk telinga kanan, warna merah. Dari hasil pemeriksaan audiogram disebut ada gap apabila antara AC dan BC terdapat perbedaan lebih atau sama dengan 10 dB(A), minimal pada 2 frekuensi yang berdekatan. Pada pemeriksaan audiometri, kadang–kadang perlu diberi masking.
Suara masking, diberikan berupa suara seperti angin (bising), pada head phone telinga yang tidak diperiksa supaya telinga yang tidak diperiksa tidak dapat mendengar bunyi yang diberikan pada telinga yang diperiksa.
Pemeriksaan dengan masking dilakukan apabila telinga yang diperiksa mempunyai pendengaran yang mencolok bedanya dari telinga yang satu lagi. Oleh karena AC pada 45 dB(A) atau lebih dapat diteruskan melalui tengkorak ke telinga kontralateral, maka pada telinga kontralateral (yang tidak diperiksa) diberi bising supaya tidak dapat mendengar bunyi yang diberikan pada telinga yang diperiksa. Dari audiogram dapat dilihat apakah pendengaran normal (N) atau tuli. Jenis ketulian, tuli konduktif, tuli sensorineural atau tuli campur. Derajat ketulian dihitung dengan menggunakan indeks Fletcher yaitu :
Ambang Dengar (AD) =
Menurut kepustakaan terbaru frekuensi 4000Hz berperan penting untuk pendengaran, sehingga perlu turut diperhitungkan, sehingga derajat ketulian dihitung dengan menambahkan ambang dengar 4000Hz dengan ketiga ambang dengar di atas, kemudian dibagi 4.
Ambang Dengar (AD) =
Dapat dihitung ambang dengar hantaran udara (AC) atau hantaran tulang (BC). Pendengaran normal: AC dan BC sama atau kurang dari 25 dB(A), AC dan BC berhimpit, tidak ada gap. Tuli sensorineural : AC dan BC lebih dari 25 dB(A), AC dan BC berhimpit tidak ada gap. Tuli konduktif: BC normal atau kurang dari 25dB(A) AC, lebih dari 25dB(A), antara AC dan BC terdapat gap. Tuli campur : BC lebih dari 25 dB(A), AC lebih besar dari BC terdapat gap.
Dari hasil pemeriksaan audiogram disebut ada gap apabila antara AC dan BC terdapat perbedaan lebih atau sama dengan 10dB(A), minimal pada 2 frekuensi yang berdekatan.Dalam menentukan derajat ketulian, yang dihitung hanya ambang dengar hantaran udaranya (AC) saja.
Derajat ketulian (ISO 1964) : 0 – 25 dB : normal
>25 – 40 dB : tuli ringan
>40- 55 dB : tuli sedang
>55- 70 dB : tuli sedang berat
>70 - 90 dB : tuli berat
> 90 dB : tuli sangat berat (Soetirto dkk, 2010) Tes Audiometri
Tes pendengaran dengan manual pure–tone audiometer merupakan pemeriksaan yang paling penting untuk mendeteksi terjadinya gangguan pendengaran. Untuk menghasilkan tes audiometri yang optimal dibutuhkan ruang kedap suara yang memadai, peralatan audiometer yang sudah dikalibrasi dan operator yang terlatih. Manual pure-tone audiometer merupakan peralatan yang memiliki kemampuan pengendalian frekuensi dan intensitas suara dari nada–nada murni yang diaplikasikan pada individu yang diperiksa. Rentang frekuensi biasanya berkisar antara 125 atau 250–8000 Hz dan dibagi dalam beberapa interval yang jelas.
Intensitas suara dapat digambarkan sebagai variable dengan interval 5 atau 10 dB(A).
Intensitas suara minimum yang terdengar oleh kedua telinga seorang dewasa muda yang sehat pada beberapa frekuensi yang berbeda, dinyatakan sebagai titik 0 (nol), dan digambarkan sebagai sebuah garis lurus, untuk menyatakan referensi nilai ambang batas titik nol dari potensi pendengaran manusia.
Individu yang akan di tes dengan mata tertutup di haruskan mengangkat tangannya, atau menekan sebuah tombol sebagai tanda bahwa yang bersangkutan mendengar bunyi nada yang ditest. Operator duduk pada jarak 2 kaki dan menggerakkan tombol yang menghasilkan bunyi dengan beberapa derajat frekuensi
untuk menentukan potensi pendengaran individu yang diperiksa. Selama proses pengetesan, telinga yang tidak dites harus ditutup, biasanya dengan menekan tragus untuk menutup liang telinga luar. Operator melakukan tes pendengaran dari berbagai frekuensi untuk mencatat intensitas suara minimum yang dapat didengar individu yang diperiksa. Perbedaan beberapa desibel dari titik nol dengan nilai yang dapat didengar, dilaporkan sebagai derajat potensi pendengaran individu yang diperiksa, yang berarti sebagai derajat penurunan potensi pendengaran dari masing–masing frekuensi yang diperiksa.
Dengan alat ini, gangguan pendengaran akibat bising sudah dapat diindikasikan sejak dini sebelum menimbulkan gejala gangguan berkomunikasi, dengan karakteristik gambaran audiogram yaitu, terjadinya penurunan tajam gambaran audiogram pada frekuensi 4000 Hz. Pada kasus yang lebih berat, gambaran penurunan di titik tersebut menjadi lebih tajam dan lebih lebar, dan biasanya bilateral.
Penurunan potensi pendengaran pada frekuensi tinggi jarang melampaui 75 dB(A), sedangkan pada frekuensi rendah jarang melampaui 40 dB(A) (Harrianto, 2010).