• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2. Pengertian Good Corporate Governance (GCG)

Definisi menurut Cadburry, GCG adalah prinsip yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan agar tercapai keseimbangan antara kekuatan serta kewenangan perusahaan dalam memberikan pertanggungjawabannya kepada para shareholders khususnya, dan stakeholders pada umumnya. Tentu saja hal ini dimaksudkan pengaturan kewenangan direktur, manajer, pemegang saham, dan pihak lain yang berhubungan dengan perkembangan perusahaan di lingkungan tertentu. Adapun Centre for European Policy study (CESP), memformulasikan GCG adalah seluruh sistem yang dibentuk mulai dari hak (right), proses dan pengendalian baik yang ada di dalam maupun di luar manajemen perusahaan.

Sedangkan menurut Noensi, seorang pakar GCG dari Indo Consult, mendefinisikan GCG patuh menjalankan dan mengembangkan perusahaan dengan bersih, patuh pada hukum yang berlaku dan peduli terhadap lingkungan yang dilandasi nilai-nilai sosial budaya yang tinggi. Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa GCG merupakan: 1) Suatu struktur yang mengatur pola hubungan harmonis tentang peran Dewan Komisaris, Direksi, Pemegang Saham dan Para Stakeholder lainnya. 2) Suatu sistem pengecekan dan perimbangan kewenangan atas pengendalian perusahaan yang dapat membatasi munculnya dua peluang: pengelolaan yang salah dan penyalahgunaan aset perusahaan. 3) Suatu proses yang transparan atas penentuan tujuan perusahaan, pencapaian, berikut pengukuran kinerjanya. Perkembangan terbaru membuktikan bahwa manajemen tidak cukup hanya memastikan bahwa proses pengelolaan manajemen berjalan dengan efisien. Diperlukan instrumen baru, GCG untuk memastikan bahwa

manajemen berjalan dengan baik. Ada dua hal yang ditekankan dalam konsep ini yaitu, pertama, pentingnya hak pemegang saham untuk memperoleh informasi dengan benar (akurat) dan tepat pada waktunya. Kemudian yang kedua yaitu kewajiban perusahaan untuk melakukan pengungkapan (disclosure) secara akurat, tepat waktu, dan transparan terhadap semua informasi kinerja perusahaan, kepemilikan, dan stakeholder. Di Indonesia sendiri, penerapan GCG khususnya bagi perusahaan publik dapat dikatakan belum begitu baik. Dalam kenyataanya GCG hingga saat ini belum diterapkan secara sepenuhnya. GCG tampaknya masih dirasakan seperti sebuah slogan, harapan, atau cita-cita yang ideal. Memang dalam kenyataannya perlu diakui bahwa belum semua perusahaan BUMN ataupun perusahaan swasta, khususnya perusahaan publik belum melaksanakan prinsip-prinsip GCG secara sempurna. Hal ini dikarenakan Pedoman GCG ini hanya dalam bentuk rekomendasi dan belum sepenuhnya ketentuan GCG diadopsi ke dalam peraturan-peraturan perundang-undangan yang memiliki kekuatan hukum mengikat. Sehingga banyak perusahaan merasa enggan untuk menerapkan GCG secara penuh.

2.3. Konsep Good Corporate Governance (GCG)

Konsep GCG ini sudah saatnya diimplementasikan dalam perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia, karena melalui konsep yang menyangkut struktur perseroan, yang terdiri dari unsur-unsur RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham), direksi dan komisaris dapat terjalin hubungan dan mekanisme kerja, pembagian tugas, kewenangan dan tanggung jawab yang harmonis, baik secara

intern maupun ekstern dengan tujuan meningkatkan nilai perusahaan demi kepentingan shareholders dan stakeholders. Konsep GCG pada intinya adalah : 1. Internal Balance

Antar organ perusahaan RUPS, Komisaris, dan Direksi dalam hal yang berkaitan dengan struktur kelembagaan dan mekanisme operasional ketiga organ perusahaan tersebut.

2. Eksternal Balance,

yaitu pemenuhan tanggung jawab perusahaan sebagai entitas bisnis dalam masyarakat dan stakeholders. RUPS adalah organ terpenting dari organ-organ lainnya dalam suatu perseroan terbatas, Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) adalah pemegang kekuasaan tertinggi dan memegang segala wewenang yang tidak diserahkan kepada Direksi atau komisaris dalam perseroan terbatas, yang merupakan suatu wadah bagi para pemegang sahamnya untuk menentukan operasional dari perseroan terbatas. RUPS terdiri dari RUPS tahunan yang diadakan setiap tahun dalam jangka waktu paling lambat enam bulan setelah tahun buku ditutup dan juga dapat diadakan sewaktu-waktu sesuai dengan kebutuhan, biasa disebut dengan Rapat Umum Luar Biasa Pemegang Saham.

2.4. Prinsip GCG

Prinsip GCG Dalam Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara No. PER-01/MBU/2011 harus mencerminkan pada hal-hal sebagai berikut :

1. Transparansi (Transparency)

Keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam mengungkapkan informasi material dan relevan mengenai perusahaan

2. Akuntabilitas (Accountability)

Kejelasan fungsi, pelaksanaan dan pertanggungjawaban Organ sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif

3. Pertanggung Jawaban (Responsibility)

Kesesuaian (kepatuhan) di dalam pengelolaan perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat 4. Kemandirian (Independency)

Keadaan dimana perusahaan dikelola secara profesional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh/tekanan dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat

5. Kewajaran (Fairness)

Keadilan dan kesetaraan di dalam memenuhi hak-hak pemangku kepentingan (Stakeholders) yang timbul berdasarkan perjanjian dan peraturan perundang-undangan.

2.5. Tujuan Penerapan Good Corporate Governance (GCG)

Penerapan sistim GCG diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah bagi semua pihak yang berkepentingan (stakeholders) melalui beberapa tujuan berikut:

1. Meningkatkan efisiensi, efektifitas, dan kesinambungan suatu organisasi yang memberikan kontribusi kepada terciptanya kesejahteraan pemegang saham, pegawai dan stakeholders lainnya dan merupakan solusi yang elegan dalam menghadapi tantangan organisasi kedepan.

2. Meningkatkan legitimasi organisasi yang dikelola dengan terbuka, adil, dan dapat dipertanggungjawabkan.

3. Mengakui dan melindungi hak dan kewajiban para shareholders dan stakeholders.

Dalam menerapkan nilai-nilai Tata Kelola Perusahaan, Perseroan menggunakan pendekatan berupa keyakinan yang kuat akan manfaat dari penerapan Tata Kelola Perusahaan yang baik. Berdasarkan keyakinan yang kuat, maka akan tumbuh semangat yang tinggi untuk menerapkannya sesuai standar internasional. Guna memastikan bahwa Tata Kelola Perusahaan diterapkan secara konsisten di seluruh lini dan unit organisasi, Perseroan menyusun berbagai acuan sebagai pedoman bagi seluruh karyawan. Selain acuan yang disusun sendiri, Perseroan juga mengadopsi peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Dalam hal penerapan prinsip GCG harus disadari bahwa penerapan Tata Kelola Perusahaan yang baik hanya akan efektif dengan adanya asas kepatuhan dalam kegiatan bisnis sehari-hari, terlebih dahulu diterapkan oleh jajaran manajemen dan kemudian diikuti oleh segenap karyawan. Melalui penerapan yang konsisten, tegas dan berkesinambungan dari seluruh pelaku bisnis.

2.6. Manfaat dan Faktor Penerapan Good Corporate Governance

Seberapa jauh perusahaan memperhatikan prinsip-prinsip dasar GCG telah semakin menjadi faktor penting dalam pengambilan keputusan investasi.

Terutama hubungan antara praktik corporate governance dengan karakter investasi internasional saat ini. Suatu perusahaan dan atau negara yang ingin menuai manfaat dari pasar modal global, dan jika kita ingin menarik modal jangka panjang, maka penerapan GCG secara konsisten dan efektif akan mendukung ke arah itu. Bahkan jikapun perusahaan tidak bergantung pada sumber daya dan modal asing, penerapan prinsip dan praktik GCG akan dapat meningkatkan keyakinan investor domestik terhadap perusahaan.

Di samping hal-hal tersebut di atas, GCG juga dapat :

1. Mengurangi agency cost, yaitu suatu biaya yang harus ditanggung pemegang saham sebagai akibat pendelegasian wewenang kepada pihak manajemen.

Biaya-biaya ini dapat berupa kerugian yang diderita perusahaan sebagai akibat penyalahgunaan wewenang (wrong-doing), ataupun berupa biaya pengawasan yang timbul untuk mencegah terjadinya hal tersebut.

2. Mengurangi biaya modal (cost of capital), yaitu sebagai dampak dari pengelolaan perusahaan yang baik tadi menyebabkan tingkat bunga atas dana atau sumber daya yang dipinjam oleh perusahaan semakin kecil seiring dengan turunnya tingkat resiko perusahaan.

3. Meningkatkan nilai saham perusahaan sekaligus dapat meningkatkan citra perusahaan tersebut kepada publik luas dalam jangka panjang.

4. Menciptakan dukungan para stakeholder (para pihak yang berkepentingan) dalam lingkungan perusahaan tersebut terhadap keberadaan dan berbagai strategi dan kebijakan yang ditempuh perusahaan, karena umumnya mereka mendapat jaminan bahwa mereka juga mendapat manfaat maksimal dari segala tindakan dan operasi perusahaan dalam menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan.

2.7. Faktor Lingkungan

Yang dimaksud faktor lingkungan adalah beberapa faktor yang berasal dari luar perusahaan yang sangat mempengaruhi keberhasilan penerapan GCG di suatu perusahaan, diantaranya :

1. Terdapatnya sistem hukum yang baik sehingga mampu menjamin berlakunya supremasi hukum yang konsisten dan efektif.

2. Dukungan pelaksanaan GCG dari sektor publik/ lembaga pemerintahaan yang diharapkan dapat pula melaksanakan Good Governance dan Clean Government menuju Good Government yang sebenarnya.

3. Terdapatnya contoh pelaksanaan GCG yang tepat (best practices) yang dapat menjadi standard pelaksanaan GCG yang efektif dan profesional.

4. Terbangunnya sistem tata nilai sosial yang mendukung penerapan GCG di masyarakat. Ini penting karena lewat sistem ini diharapkan timbul partisipasi aktif berbagai kalangan masyarakat untuk mendukung aplikasi serta sosialisasi GCG secara sukarela.

5. Hal lain yang tidak kalah pentingnya sebagai prasyarat keberhasilan implementasi GCG terutama di Indonesia adalah adanya semangat anti korupsi yang berkembang di lingkungan publik di mana perusahaan beroperasi disertai perbaikan masalah kualitas pendidikan dan perluasan peluang kerja. Bahkan dapat dikatakan bahwa perbaikan lingkungan publik sangat mempengaruhi kualitas dan skor perusahaan dalam implementasi GCG.

2.8. Pedoman Good Corporate Governance

Mengingat pentingnya permasalahan GCG bagi Indonesia, pada tanggal 19 Agustus 1991, di Indonesia telah berdiri sebuah lembaga dan non pemerintah, yaitu Komite Nasional bagi pengelolaan perusahaan yang baik. Tugas Komite adalah merumuskan dan merekomendasikan kebijakan nasional mengenai pengelolaan perusahaan yang baik bagi dunia usaha Indonesia. Selain itu komite diharapkan juga membuat spesifikasi bagi perbaikan hukum dan peraturan perundang-undangan sejalan dengan penerapan pedoman bagi pengelolaan perusahaan yang baik, dan membuat rumusan tentang struktur institusi yang mendukung pelaksanaan pedoman bagi pengelolaan yang baik. Komite Nasional Kebijaksanaan Corporate Governance akhirnya berhasil menetapkan pedoman GCG setelah melakukan pembahasan dengan melibatkan masyarakat luas melalui

lokakarya. Pedoman (code) yang telah dikeluarkan pada tanggal 29 November 2000 sudah resmi ditetapkan sebagai pedoman, menyusun pedoman tersebut sesuai dengan Keputusan Menko Perekonomian No 31/M.Ekuin/06/2000. Komite ini juga akan merekomendasikan perbaikan perangkat hukum yang diperlukan untuk menunjang implementasi code tersebut, yaitu sebagai berikut:

1. Melakukan perubahan atas Undang-Undang tentang Perseroan terbatas untuk mengakomodasi prinsip-prinsip GCG.

2. Melakukan perubahan atas Undang-Undang tentang Pendaftaran perusahaan untuk memastikan pelaksanaan keterbukaan terhadap informasi perusahaan.

3. Memperbaiki dan meningkatkan aturan-aturan yang berkaitan dengan keterbukaan, memperbaiki dan meningkatkan aturan-aturan tentang pembentukan Komite Audit dan Pejabat Kepatuhan (Compliance Officers).

4. Memperbaiki dan meningkatkan aturan-aturan yang berkaitan dengan keterbukaan, memperbaiki dan meningkatkan aturan-aturan pada pasar modal, termasuk mendukung terbentuknya Financial Supervisory Agency yang baru, sebagai bagian dari undang-undang tentang Central Bank yang baru.

5. Memperbaiki dan meningkatkan aturan-aturan dalam Anggaran Dasar Perseroan Terbatas.

6. Memperbaiki dan meningkatkan aturan-aturan pada sektor perbankan.

7. Membentuk sebuah lembaga pendidikan dalam memberikan pelatihan dan sertifikasi Direktur Perusahaan.

Di samping itu, Komite ini juga akan membentuk badan baik sementara maupun tetap yang menunjang implementasi GCG tersebut di Indonesia. Adapun

untuk mengembangkan kerangka kerja dalam pelaksanaan pedoman bagi pengelolaan perusahaan yang baik, Komite telah melaksanakan beberapa usaha-usaha antara lain sebagai berikut :

1. Pedoman bagi pengelolaan perusahaan yang baik telah diajukan kepada pemerintah sebagai inisiatif dari sektor swasta untuk dipergunakan sebagai acuan dan referensi dalam mengatur berbagai macam sektor-sektor swasta, profesi-profesi penunjang dan bahan pelatihan bagi para manajer.

2. Pedoman bagi pengelolaan perusahaan yang baik akan diterapkan seperti halnya standar dalam industri (contohnya ISO 9000). Sebagai tambahan, para pembuat peraturan akan mengambil bagian-bagian dari pedoman bagi pengelolaan perusahaan yang baik bagi penerapan peraturan-peraturan sektoral.

3. Lembaga pemeringkat independent akan melakukan pemeringkatan kepatuhan perusahaan sebagai bagian dari mekanisme pengontrolan oleh publik.

2.9. Kepuasan Pemasok

Berbagai penelitian menyebutkan pentingnya mengukur kepuasan hubungan antar organisasi (Jonsson dan Zineldin, 2003; Muhmin, 2002; Pamungkas, 2006;

Ganesan, 1994; Benton dan Maloni, 2004). Bahkan Robert M. Monezka (Pamungkas, 2006) menyebutkan bahwa keberhasilan kerjasama dapat dilihat dari kinerja yang diukur dari tingkat kepuasan. Selanjutnya Morrisey dan Pittaway dalam Fierro dan Redondo (2008) menyatakan bahwa kemampuan untuk memberikan sebuah tingkat kepuasan yang tinggi telah dipertimbangkan sebagai

sebuah bagian penting dari kesuksesan bisnis. Karena kepuasan merupakan salah satu dari beberapa prediksi yang mempengaruhi loyalitas (Biong, 1993).

Dikatakan pula oleh Biong (1993) bahwa kepuasan merupakan hasil dari peristiwa historis sedangkan loyalitas merupakan hasil yang diharapkan di masa yang akan datang. Hal ini berarti bahwa perasaan puas terhadap suatu hubungan akan sangat mempengaruhi timbulnya sikap loyalitas terhadap partnernya yang pada akhirnya menjadi kontribusi penting dalam membina hubungan kerjasama yang berjangka panjang. Oleh sebab itu, tepat sekali apabila dapat dikatakan bahwa hubungan dalam jangka panjang akan tercipta apabila terjadi kondisi yang memuaskan dan adanya kerjasama yang saling menguntungkan dengan bertambahnya nilai hasil usaha (Kalwani dalam Pamungkas, 2006). Bahkan dengan adanya loyalitas yang bisa dihasilkan dari perasaan puas atas hubungan faktor lain yang bisa menimbulkan ketidakpuasan seperti perubahan harga menjadi tidak berarti. Seperti yang telah dikemukakan oleh Jonsson dan Zineldin (2003) bahwa perubahan harga dapat membawa pada ketidakpuasan, tetapi jika hasil dari hubungan bagus, masing-masing partai mungkin bisa dipuaskan dengan adanya hubungan tersebut.

Kepuasan sering diartikan sebagai perasaan senang dan gembira karena terpenuhi hasrat hatinya. Menurut Kotler dan Keller (2006), secara umum kepuasan merupakan perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan antara kinerja atau hasil yang dirasakannya dengan harapannya.

Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kepuasan dapat diukur dari tingkat kesenjangan antara dua hal tersebut (kinerja yang dirasakan dan harapan). Sejalan

dengan pernyataan tersebut, Biong (1993) menjelaskan kepuasan berkembang sebagai sebuah konsekuensi atau akibat atas pengalaman satu pihak terhadap kemampuan pihak lain untuk memenuhi norma-norma atau aturan-aturan dengan harapan-harapannya. Dalam konteks hubungan pembeli-penjual Muhmin (2002) menyatakan bahwa kepuasan hubungan telah didefinisikan oleh beberapa peneliti sebagai sebuah keadaan kasih sayang yang positif dihasilkan dari penilaian perusahaan terhadap seluruh aspek dari hubungan bekerjanya dengan perusahaan lain.

Dalam studi manajemen rantai supplai, kepuasan sering disebutkan sebagai faktor utama atas ketahanan sebuah hubungan dalam rantai supplai. Ganesan (1994) menemukan bahwa kepuasan merupakan faktor penting dalam pencapaian hubungan yang berjangka panjang. Diperkuat oleh penelitian Benton dan Maloni (2004) yang menggambarkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara hubungan (relationship) dengan kepuasan (satisfaction) yang mengindikasikan bahwa kualitas hubungan pembeli-supplier mempunyai pengaruh yang kuat pada kepuasan supplier. Penelitian tersebut juga menyatakan bahwa tanpa kepuasan para anggota rantai supplai tidak dapat menghasilkan faktor-faktor yang bersifat psikologis seperti kepercayaan, komitmen, dan perasaan persahabatan dan cinta kasih yang sangat penting dalam mempertahankan hubungan. Dengan demikian, tingkat kepuasan yang tinggi akan mempunyai konsekuensi positif bagi hubungan atau relationship (Frazier dalam Jonsson dan Zineldin, 2003). Vasudevan et al (2006) menyatakan bahwa beberapa peneliti telah memandang kepuasan sebagai dua sisi yaitu dari sisi ekonomis dan

sisi non-ekonomis. Menurut pengamatan Geykens et al (Vasudevan et.al, 2006), kepuasan ekonomis berhubungan dengan penghargaan ekonomis yang terjadi pada hubungan pertukaran mitra seperti diskon harga. Sedangkan kepuasan non-ekonomis berhubungan dengan respon kasih sayang dan positif terhadap aspek psikologi non-ekonomis atas hubungan semisal perasaan dihargai, dihormati dan mendapatkan kesempatan untuk andil atau ikut serta dalam menemukan ide-ide baru pada pemecahan masalah usaha. Selanjutnya dapat dikatakan bahwa untuk menumbuhkan kepuasan yang akhirnya akan bermuara pada loyalitas, image perusahaan sangat diperlukan sebagai faktor kepercayaan. Sejalan dengan hal tersebut dalam hubungan pemasaran, Kuusik (2007) mengatakan bahwa Image dari merek atau supplier adalah salah satu faktor yang paling kompleks. Hal ini mempengaruhi loyalitas yang paling tidak pada dua cara. Pertama, pelanggan mungkin menggunakan pilihannya untuk mewakili imagenya sendiri. Itu mungkin terjadi baik pada level sadar maupun bawah sadar. Kedua, berdasarkan teori identitas sosial, orang cenderung mengklasifikasikan mereka menjadi kategori-kategori sosial yang berbeda yang menggiring kepada evaluasi dari tujuan dan nilai dalam kelompok dan organisasi yang beragam dalam perbandingannya dengan tujuan dan nilai dari pelanggan itu sendiri.

Dalam kaitannya dengan hubungan marketing, kepuasan hubungan merupakan salah satu konsep inti dalam penyusunan paradigma hubungan marketing, dan merupakan sebuah variabel penting dalam memahami perkembangan dan pemeliharaan hubungan pembeli-penjual dalam konteks antar organisasi (Muhmin, 2002). Lebih lanjut lagi dalam penelitian dibidang

pemasaran, kepuasan pada umumnya berhubungan dengan perasaan pelanggan terhadap produk atau jasa yang mereka nikmati sehingga memenuhi kebutuhannya sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Spreng et Al. (1996), Wong (2002) dan Jonsson dan Zineldin (2003). Wong (2002) juga menyatakan bahwa kepuasan pelanggan merupakan tujuan atau sasaran operasi pada bisnis perusahaan sebagai bagian penting pada adaptasi Total Quality Management (TQM). Kepuasan pelanggan diharapkan dapat menjadi rangsangan munculnya loyalitas terhadap perusahaan dan hal ini akan berpengaruh positif terhadap keuntungan perusahaan. Dengan dasar pemikiran dari Lupiyoadi dan Hamdani (2006), Peningkatan kepuasan pelanggan akan mengakibatkan pelanggan yang bertahan juga akan meningkat sehinggga pada akhirnya perusahaan akan menghasilkan laba yang lebih besar karena keberhasilan tersebut. Selanjutnya, Supranto (2003) menyebutkan ciri pelanggan yang loyal adalah pelanggan yang kecenderungan untuk membeli berkali-kali, mengajak orang lain membeli, membicarakan hal-hal baik menjadi produk oleh perusahaan yang menghasilkan produk tersebut dan hal ini akan menjadi promosi gratis dari mulut ke mulut.

Penjualan akan meningkat sehingga laba yang diharapkan juga akan meningkat.

Pengaruh positif yang dihasilkan dari seorang pelanggan yang puas juga disebutkan oleh Jonsson dan Zineldin (2003) sebagai pembelian ekstra atas produk atau jasa, kecilnya sensitivitas harga, komentar yang baik tentang perusahaan dan produk atau jasanya, kecilnya perhatian yang diberikan terhadap merek pesaing dan merek periklanan serta loyalitas yang berjangka panjang.

Sama halnya dengan penjabaran definisi kepuasan pelanggan, kepuasan supplier juga akan didapatkan apabila yang diharapkan atau dibutuhkan oleh supplier terpenuhi. Selanjutnya, kepuasan supplier tersebut dirumuskan sedemikian rupa agar dapat merangsang adanya loyalitas supplier terhadap hubungan yang telah terjalin dengan perusahaan, dengan adanya loyalitas tersebut diharapkan para supplier bersedia melakukan transaksi dan pengiriman berulang dengan kualitas produk kiriman yang bagus, pengiriman yang tepat waktu hingga kesediaannya untuk membicarakan hal-hal baik akan kebijakan perusahaan kepada rekan-rekannya yang dapat secara otomatis membuat para supplier baru untuk bergabung dan bekerjasama dengan perusahaan. Pernyataan tersebut sejalan

dengan pendapat Pamungkas (2006) yang didasarkan pada pernyataan Johnson (1999) bahwa “Strategi kemitraan dapat meningkatkan jumlah mitra yang kemudian ikut bergabung dalam kerjasama karena keberhasilan partner akan mempengaruhi partner lain untuk ikut bergabung”. Wong (2002) menyebutkan arti penting membangun kepuasan para supplier dimana kepuasan supplier dapat memberikan kontribusi dalam menciptakan kepuasan pelanggan. Mengingat peran penting dari kepuasan supplier tersebut, perusahaan perlu membuat para suppliernya puas dengan hubungan-hubungan dan operasi-operasi yang dilakukan dengannya agar perusahaan mempunyai dukungan penuh dan sungguh-sungguh dari para supplier. Pendekatan secara kekeluargaan dan secara kooperatip terhadap para supplier akan membuat mereka lebih merasa puas dengan hubungan yang terjalin dengan perusahaan dan oleh sebab itu mereka akan lebih kooperatip

dan berkeinginan untuk menolong perusahaan (Wong, 2002). Dengan demikian, jika para supplier merasa tidak terpuaskan oleh kebijakan perusahaan, mereka tidak akan memberikan kinerja terbaik mereka untuk membantu perusahaan dalam memenuhi kebutuhan konsumen.

Dengan demikian, kemampuan perusahaan dalam menciptakan kepuasan supplier dapat menjadi asset berharga yang tidak nampak bagi perusahaan. Hal ini harus benar-benar diperhatikan oleh manajemen perusahaan mengingat arti penting kualitas manajemen hubungan dengan supplier dalam menciptakan kepuasan supplier. Untuk tujuan tersebut, harus ada keselarasan antara kebutuhan perusahaan dan suppliernya sebagaimana yang diungkapkan Wong (2002) bahwa keselarasan atas kebutuhan dari perusahaan dan pemasoknya penting bagi mereka untuk memperoleh kinerja terbaik dari rantai suplai. Sebagai hasil akhir, penelitian Wong (2002) bahwa jika perusahaan mampu membuat supplier merasa puas terhadap hubungan yang dijalinnya melalui pendekatan relational, maka para supplier tersebut akan lebih kooperatif dan bersedia membantu perusahaan dalam memenuhi kebutuhan pelanggan. Hal ini menunjukkan bahwa kepuasan supplier dapat menjadi faktor pendukung kelancaran kualitas produksi. Karena hubungan baik dengan supplier merupakan bagian dari proses pelaksanaan program TQM yang juga mensyaratkan adanya integrasi kualitas aktivitas manajemen dari anggota lain dalam rantai pasokan (Kanji dan Asher, Youseff et al. dalam Wong, 2002).

2.10. Kerangka Konseptual

Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara No. PER-01/MBU/2011 maka prinsip GCG harus mencerminkan transparansi, akuntabilitas, pertanggungjawaban, kemandirian dan kewajaran adapun dampak penerapan prinsip GCG adalah peningkatan kepuasan vendor (Sitanggang dan Herawaty, 2014) peneliti menyusun kerangka konseptual seperti berikut:

Gambar 2.1

Kerangka Konseptual Penelitian

2.11 Hipotesis Penelitian

Pernyataan singkat yang disimpulkan dari landasan teori, dinyatakan dalam kalimat pernyataan bukan pertanyaan dan harus dilakukan pengujian ilmiah untuk dinyatakan diterima atau ditolak. Hipotesis berupa pernyataan hasil penelitian bahwa suatu perlakuan berpengaruh atau tidak berpengaruh terhadap peubah yang diamati. Umumnya di simbolkan dengan Ho dan Ha atau H1, H2, dan seterusnya

Hipotesis dalam penelitian ini, yaitu :

1. H1: Transparansi berpengaruh positif dan signifikan terhadap

1. H1: Transparansi berpengaruh positif dan signifikan terhadap