• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA

C. Pengertian Hasil Belajar

Proses pembelajaran melibatkan dua subyek yaitu guru dan siswa yang

akan menghasilkan suatu perubahan dalam diri siswa sebagai hasil dari kegiatan

pembelajaran. Perubahan yang terjadi dalam diri siswa sebagai akibat kegiatan

pembelajaran bersifat non-fisik seperti perubahan sikap, pengetahuan maupun

kecakapan. Berbagai perubahan yang terjadi pada diri siswa sebagai hasil proses

pembelajaran dapat dibedakan menjadi dua, yaitu output dan outcome. Output

merupakan kecakapan yang dikuasai siswa yang segera dapat diketahui setelah

mengikuti serangkaian proses pembelajaran. Ada juga yang menyebut output

pembelajaran merupakan hasil pembelajaran yang bersifat jangka pendek. Output

pembelajaran dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu soft skills dan hard

skills.

Hard skills merupakan kecakapan yang relatif lebih mudah untuk

dilakukan pengukuran. Hard skills dibedakan menjadi dua, yaitu.

a. Kacakapan Akademik (Academic Skills)

Kecakapan akademik (academic skills) merupakan kecakapan untuk

menguasai berbagai konsep dalam bidang ilmu-ilmu yang dipelajari,

seperti kecakapan mendefinisikan, menghitung, menjelaskan,

mendeskripsikan, memprediksi menganalisis, membandingkan,

membedakan, dan menarik kesimpulan dari berbagai konsep, data maupun

fakta yang berkaitan dengan bidang studi atau mata pelajaran yang

b. Kecakapan Vokasional (Vocational Skills).

kecakapan vokasional (vocational skills) sering disebut juga sebagai

kecakapan kejujuran, yaitu kecakapan yang berkaitan dengan bidang

pekerjaan tertentu. Misalnya, dalam bidang seni dan kerajinan ukir kayu,

yang termasuk kecakapan vokasional diantaranya kecakapan mendesain

ukiran, kecakapan memegang alat ukir, kecakapan mengoperasikan alat

ukir, kecakapan mengukir.

Soft skills merupakan strategi yang diperlukan untuk meraih sukses hidup

dan kehidupan dalam masyarakat. Kecakapan ini merupakan kecakapan yang

relatif sulit untuk dilakukan pengukuran dibandingkan kecakapan akademik dan

kecakapan vokasional. Soft skills dapat dibedakan menjadi dua yaitu:

a. Kecakapan personal ( personal skills)

Merupakan kecakapan yang diperlukan agar siswa dapat eksis dan

mampu mengambil peluang yang positif dalam kondisi kehidupan yang

berubah dengan sangat cepat. Kecakapan personal tersebut diantaranya

meliputi : kecakapan beradaptasi, kecakapan berpikir kritis dan kreatif,

kecakapan memecahkan masalah, dan kecakapan mengambil keputusan

,semangat, jujur, tangguh menghadapi tantangan, ulet dan sebagainya.

Anwar (2004: 29-30) dalam buku Evaluasi Program Pembelajaran

menyatakan bahwa kecakapan personal, seperti pengambilan keputusan

dan pemecahan masalah merupakan kecakapan utama yang menentukan

b. Kecakapan sosial (social skills)

Merupakan kecakapan yang dibutuhkan untuk hidup (life skill)

dalam masyarakat yang multikultur, masyarakat demokrasi dan

masyarakat global yang penuh persaingan dan tantangan. Kecakapan

sosial meliputi kecakapan berkomunikasi dengan empati, baik secara lisan

maupun tertulis dan kecakapan bekerja sama dengan orang lain, baik

dalam kelompok kecil maupun kelompok besar. Empati merupakan sikap

penuh pengertian dan seni komunikasi dua arah, perlu ditekankan karena

yang dimaksud berkomunikasi bukan sekedar menyampaikan pesan tetapi

isi dan sampainya pesan disertai kesan baik yang akan menumbuhkan

hubungan harmonis.

Dengan menguasai berbagai kecakapan tersebut diharapkan siswa akan

mempunyai prestasi sosial (social achievement) dalam masyarakat, mampu

mengatasi berbagai macam permasalahan maupun tantangan hidup, mampu

melihat dan mengambil peluang yang ada dalam lingkungan hidupnya yang pada

akhirnya siswa diharapkan mampu eksis dan sukses dalam hidup bermasyarakat

baik dalam lingkup local, regional, nasional maupun internasional. Prestasi sosial

siswa dalam masyarakat merupakan hasil pembelajaran yang bersifat jangka

panjang atau outcome. Beragam kecakapan siswa sebagai hasil pembelajaran

Gambar 2.1. Bagan klasifikasi hasil pembelajaran

Secara implisit, ada dua faktor yang mempengaruhi hasil belajar anak,

yaitu faktor internal dan faktor eksternal (Sudjana, 2000):

a. Faktor Internal

Faktor internal meliputi faktor fisiologis, yaitu kondisi jasmani dan

keadaan fungsi-fungsi fisiologis. Faktor fisiologis sangat menunjang atau

melatar belakangi aktivitas belajar. Keadaan jasmani yang sehat akan lain

pengaruhnya dibanding jasmani yang keadaannya kurang sehat. Untuk

menjaga agar keadaan jasmani tetap sehat, nutrisi harus cukup.

Faktor psikologis, yaitu yang mendorong atau memotivasi belajar.

Faktor-faktor tersebut diantaranya:

1) Adanya keinginan untuk tahu

2) Agar mendapatkan simpati dari orang lain.

3) Untuk memperbaiki kegagalan

4) Untuk mendapatkan rasa aman. Hasil Pembelajaran Out Put Hard Skills Academic Skills Vocational Skills Soft Skills Personal Skills Social Skills

Out Come Social

b. Faktor Eksternal

Faktor-faktor eksternal, yaitu faktor dari luar diri anak yang ikut

mempengaruhi belajar anak, yang antara lain berasal dari orang tua,

sekolah, dan masyarakat.

1) Faktor yang berasal dari orang tua

Faktor yang berasal dari orang tua ini utamanya adalah sebagai

cara pendidikan orang tua terhadap anaknya. Dalam hal ini dapat

dikaitkan suatu teori, apakah orang tua mendidik secara demokratis,

pseudo demokratis, otoriter, atau cara laisses faire. Cara atau tipe

mendidik yang demikian masing-masing mempunyai kebaikannya dan

ada pula kekurangannya.

Dalam kaitan dengan hal ini, Tim Penyusun Buku Sekolah

Pendidikan Guru Jawa Timur (1989: 8) menyebutkan, “Di dalam

pergaulan di lingkungan keluarga hendaknya berubah menjadi situasi

pendidikan, yaitu bila orang tua memperhatikan anak, misalnya anak

ditegur dan diberi pujian….” Pendek kata, motivasi, perhatian, dan

kepedulian orang tua akan memberikan semangat untuk belajar bagi

anak.

2) Faktor yang berasal dari sekolah

Faktor yang berasal dari sekolah, dapat berasal dari guru, mata

pelajaran yang ditempuh, dan metode yang diterapkan. Faktor guru

banyak menjadi penyebab kegagalan belajar anak, yaitu yang

menyangkut kepribadian guru, kemampuan mengajarnya. Terhadap

kepada yang diminati saja, sehingga mengakibatkan nilai yang

diperolehnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Keterampilan,

kemampuan, dan kemauan belajar anak tidak dapat dilepaskan dari

pengaruh atau campur tangan orang lain. Oleh karena itu menjadi

tugas guru untuk membimbing anak dalam belajar.

3) Faktor yang berasal dari masyarakat

Anak tidak lepas dari kehidupan masyarakat. Faktor

masyarakat bahkan sangat kuat pengaruhnya terhadap pendidikan

anak. Pengaruh masyarakat bahkan sulit dikendalikan. Mendukung

atau tidak mendukung perkembangan anak, masyarakat juga ikut

mempengaruhi.

Selain beberapa faktor internal dan eksternal di atas, faktor yang

mempengaruhi hasil belajar dapat disebutkan sebagai berikut.

1) Minat

Seorang yang tidak berminat mempelajari sesuatu tidak akan

berhasil dengan baik, tetapi kalau seseorang memiliki minat terhadap

objek masalah maka dapat diharapkan hasilnya baik. Masalahnya adalah

bagaimana seorang pendidik selektif dalam menentukan atau memilih

masalah atau materi pelajaran yang menarik siswa. Berikutnya mengemas

materi yang dipilih dengan metode yang menarik. Karena itu pendidik/

pengajar perlu mengenali karakteristik siswa, misalnya latar belakang

2) Kecerdasan

Kecerdasan memegang peranan penting dalam menentukan

berhasil tidaknya seseorang. Orang pada umumnya lebih mampu belajar

daripada orang yang kurang cerdas. Berbagai penelitian menunjukkan

hubungan yang erat antara tingkat kecerdasan dan hasil belajar di sekolah

(Sumadi, 1989 dalam Huzaifal Hamid).

3) Bakat

Bakat merupakan kemampuan bawaan sebagai potensi yang perlu

dilatih dan dikembangkan agar dapat terwujud (Utami, 1992: 17). Bakat

memerlukan latihan dan pendidikan agar suatu tindakan dapat dilakukan

pada masa yang akan datang. Selain kecerdasan bakat merupakan faktor

yang menentukan berhasil tidaknya seseorang dalam belajar (Sumadi,

1989 dalam Huzaifal Hamid). Belajar pada bidang yang sesuai dengan

bakatnya akan memperbesar kemungkinan seseorang untuk berhasil.

4) Motivasi

Motivasi merupakan dorongan yang ada pada diri anak untuk

melakukan sesuatu tindakan. Besar kecilnya motivasi banyak dipengaruhi

oleh kebutuhan individu yang ingin dipenuhi (Suharsimi, 1993: 88). Ada

dua macam motivasi yaitu motivasi instrinsik dan motivasi ekstrinsik.

Motivasi instrinsik adalah motivasi yang ditimbulkan dari dalam diri orang

yang bersangkutan. Sedangkan, motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang

timbul oleh rangsangan dari luar atau motivasi yang disebabkan oleh

hadiah, persaingan, pertentangan, sindiran, cemoohan dan hukuman.

Motivasi ini tetap diperlukan di sekolah karena tidak semua pelajaran

sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa.

Dengan memiliki kemampuan pada suatu mata pelajaran, baik itu

pengetahuan, keterampilan dan sikap yang mampu dikembangkan, siswa

diharapkan dapat mengalih gunakan kemampuan-kemampuan tersebut

dalam menghadapi masalah-masalah dalam berbagai bidang pelajaran.

Kemampuan bernalar, kemampuan memilih strategi yang cocok dengan

permasalahannya, maupun kemampuan menerima dan mengemukakan

suatu informasi secara tetap dan cermat merupakan kemampuan umum

yang dapat digunakan dalam berbagai bidang.

Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan

kurikuler maupun tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari

Benyamin Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah, yakni

Ranah Kognitif, Ranah Afektif, dan Ranah Psikomotorik.

a. Ranah Kognitif

Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental

(otak). Menurut Bloom, segala upaya yang menyangkut aktivitas otak

adalah termasuk dalam ranah kognitif. Ranah kognitif berhubungan

dengan kemampuan berfikir, termasuk di dalamnya kemampuan

menghafal, memahami, mengaplikasi, menganalisis, mensintesis, dan

kemampuan mengevaluasi. Dalam ranah kognitif itu terdapat enam aspek

atau jenjang proses berfikir, mulai dari jenjang terendah sampai dengan

jenjang yang paling tinggi. Keenam jenjang atau aspek yang dimaksud

1) pengetahuan/hafalan/ingatan (knowledge)

Adalah kemampuan seseorang untuk mengingat-ingat kembali

(recall) atau mengenali kembali tentang nama, istilah, ide,

rumus-rumus, dan sebagainya, tanpa mengharapkan kemampuan untuk

menggunakannya. Pengetahuan atau ingatan adalah merupakan proses

berfikir yang paling rendah.

2) pemahaman (comprehension)

Adalah kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami

sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat. Dengan kata lain,

memahami adalah mengetahui tentang sesuatu dan dapat melihatnya

dari berbagai segi. Seseorang peserta didik dikatakan memahami

sesuatu apabila ia dapat memberikan penjelasan atau memberi uraian

yang lebih rinci tentang hal itu dengan menggunakan kata-katanya

sendiri. Pemahaman merupakan jenjang kemampuan berfikir yang

setingkat lebih tinggi dari ingatan atau hafalan.

3) penerapan (application)

Adalah kesanggupan seseorang untuk menerapkan atau

menggunakan ide-ide umum, tata cara ataupun metode-metode,

prinsip-prinsip, rumus-rumus, teori-teori dan sebagainya, dalam situasi

yang baru dan kongkret. Penerapan ini adalah merupakan proses

4) analisis (analysis)

Adalah kemampuan seseorang untuk merinci atau menguraikan

suatu bahan atau keadaan menurut bagian-bagian yang lebih kecil dan

mampu memahami hubungan di antara bagian-bagian atau

faktor-faktor yang satu dengan faktor-faktor-faktor-faktor lainnya. Jenjang analisis

setingkat lebih tinggi dari pada jenjang aplikasi.

5) sintesis (syntesis)

Adalah kemampuan berfikir yang merupakan kebalikan dari

proses berfikir analisis. Sisntesis merupakan suatu proses yang

memadukan bagian-bagian atau unsur-unsur secara logis, sehingga

menjelma menjadi suatu pola yang yang berstruktur atau berbentuk

pola baru. Jenjang sintesis kedudukannya setingkat lebih tinggi

daripada jenjang analisis. Salah satu hasil belajar kognitif dari jenjang

sintesis ini adalah: peserta didik dapat menulis karangan tentang

pentingnya kedisiplinan sebagaimana telah diajarkan.

6) penilaian/penghargaan/evaluasi (evaluation)

Adalah jenjang berpikir paling tinggi dalam ranah kognitif

dalam taksonomi Bloom. Penilian/evaluasi disini merupakan

kemampuan seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap suatu

kondisi, nilai atau ide, misalkan jika seseorang dihadapkan pada

beberapa pilihan maka ia akan mampu memilih satu pilihan yang

b. Ranah Afektif

Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai.

Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap,

emosi, dan nilai. Beberapa pakar mengatakan bahwa sikap seseorang dapat

diramalkan perubahannya bila seseorang telah memiliki kekuasaan

kognitif tingkat tinggi. Ciri-ciri hasil belajar afektif akan tampak pada

peserta didik dalam berbagai tingkah laku.

Ranah afektif tidak dapat diukur seperti halnya ranah kognitif,

karena dalam ranah afektif kemampuan yang diukur adalah: Menerima

(memperhatikan), Merespon, Menghargai, Mengorganisasi, dan

Karakteristik suatu nilai. Skala yang digunakan untuk mengukur ranah

afektif seseorang terhadap kegiatan suatu objek diantaranya skala sikap.

Hasilnya berupa kategori sikap, yakni mendukung (positif), menolak

(negatif), dan netral. Sikap pada hakikatnya adalah kecenderungan

berperilaku pada seseorang. Ada tiga komponen sikap, yakni kognisi,

afeksi, dan konasi. Kognisi berkenaan dengan pengetahuan seseorang

tentang objek yang dihadapinya. Afeksi berkenaan dengan perasaan dalam

menanggapi objek tersebut, sedangkan konasi berkenaan dengan

kecenderungan berbuat terhadap objek tersebut. Oleh sebab itu, sikap

selalu bermakna bila dihadapkan kepada objek tertentu.

c. Ranah Psikomotorik

Ranah psikomotor merupakan ranah yang berkaitan dengan

keterampilan (skill) atau kemampuan bertindak setelah seseorang

yang berhubungan dengan aktivitas fisik, misalnya lari, melompat,

melukis, menari, memukul, dan sebagainya. Hasil belajar ranah

psikomotor dikemukakan oleh Simpson (1956) yang menyatakan bahwa

hasil belajar psikomotor ini tampak dalam bentuk keterampilan (skill) dan

kemampuan bertindak individu.

Hasil belajar psikomotor ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari

hasil belajar kognitif (memahami sesuatu) dan hasil belajar afektif (yang

baru tampak dalam bentuk kecenderungan-kecenderungan berperilaku).

Hasil belajar kognitif dan hasil belajar afektif akan menjadi hasil belajar

psikomotor apabila peserta didik telah menunjukkan perilaku atau

perbuatan tertentu sesuai dengan makna yang terkandung dalam ranah

kognitif dan ranah afektif.

Dokumen terkait