• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Landasan Teori

2.2.7 Pengertian Human Capital

Human Capital adalah kemampuan seseorang (dalam hal ini adalah dosen) yang memiliki pengetahuan dan keterampilan, serta mampu menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki dalam pekerjaan.

Manusia merupakan komponen yang sangat penting di dalam proses inovasi. Manusia dengan segala kemampuannya bila dikerahkan keseluruhannya akan menghasilkan kinerja yang luar biasa. Banyak pakar yang membicarakan masalah inovasi. Pada umumnya para pakar sependapat bahwa proses inovasi itu memerlukan adanya akumulasi pengetahuan.

Dalam konteks sebuah organisasi baru yang berbasis pada pengetahuan, ada tiga komponen modal yang sangat menentukan kinerja organisasi. Modal ini adalah sesuatu yang akhirnya memunculkan berbagai inovasi yang mendukung kinerja organisasi.

Human Capital Theory dikembangkan oleh Becker (1964) yang mengemukakan bahwa investasi dalam pelatihan dan untuk meningkatkan human capital adalah penting sebagai suatu investasi dari bentuk-bentuk modal lainnya. Tindakan strategis membutuhkan seperangkat sumber daya fisik, keuangan, human atau organisasional khusus, sehingga keunggulan kompetitif ditentukan oleh kemampuannya untuk memperoleh dan mempertahankan sumber daya (Wernerfelt, 1984).

Human Capital disini yang dimaksud adalah dosen, jika berbicara tentang perguruan tinggi, maka keberadaannya tidak bisa dilepaskan dari keberadaan dan peran dosen-dosen di dalamnya. Karena bagaimanapun juga kepada merekalah maka kinerja perguruan tinggi dapat diharapkan.

Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Berbeda dengan sekolah dasar dan menengah yang lebih banyak difokuskan kepada proses belajar dan mengajar, dan mempersiapkan murid untuk bisa naik ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Maka di perguruan tinggi karena dianggap sebagai jenjang tertinggi suatu proses pendidikan, maka selain diutamakan pada proses belajar – mengajar dan menyemaikan ilmu, tetapi juga kepada pencarian dan pengembangan ilmu sendiri, yang mana dengan bekal ilmu dan pengetahuan tersebut diharapkan dapat dijadikan alat untuk mendapatkan solusi permasalahan bagi masyarakat.

Sebagaimana profesi lain yang diakui keberadaannya, misalnya profesi dokter, maka agar dapat disebut pendidik profesional maka diperlukan proses sertifikasi. Ini bahkan telah menjadi persyaratan utama yang diminta pemerintah sebagaimana tercantum pada pasal 2. Dalam proses pencarian dan pengembangan ilmu sendiri, maka dosen juga dituntut untuk melakukan penelitian dan mempublikasikan hasil penelitiannya, kecuali itu juga mampu berinteraksi dengan masyarakat dengan kompetensi yang dimilikinya. Itulah esensi tri dharma perguruan tinggi.

2.2.7.1 Knowledge

Knowledge bisa diartikan sebagai pengetahuan yang kita peroleh karena masuknya informasi ke otak kita. Pengetahuan dapat disimpan sebagai memori. Knowledge merupakan apa saja yang kita ketahui. Secara garis besar ada dua macam kenowledge atau pengetahuan yaitu menurut Leksana TH (2003) 1.pengetauan fakta merupakan pengetahuan berupa informasi yang kita terima sebagai kenyataan dan 2.pengetahuan eksperensial pemahaman yang kita peroleh berasal dari pengalaman kita. Pengetahuan faktual bagi seorang akuntan misalnya berkaitan dengan double entri pada book keeping. Pengetahuan eksperensial karakternya berbeda, lebih sulit diajarkan karena sumbernya berasal dari pengalaman dan praktek. Contoh pengetahuan eksperensial dari seorang akuntan adalah melewati masa kerja selama puluhan tahun adalah pengetahuan untuk melindungi perusahaan agar bisa memperoleh keringanan membayar pajak secara legal.

Dalam perguruan tinggi knowledge atau pengetahuan sangat mutlak dibutuhkan, knowledge tidak hanya disalurkan tetapi juga dikembangkan melalui adanya research atau penelitian yang terus dilakukan oleh civitas akademika. karena dengan adanya knwledge seorang dosen mampu mengembangkan dan menyalurkan ilmu yang dimilikinya kepada masyarakat. Kita sering mendengar istilah knowledge is power, sebenarnya hal itu kurang tepat karena mereka yang memiliki knowledge belum tentu memiliki power jika saja tidak ada action atau tindakan yang merupakan realisasi dari knowledge tersebut

2.2.7.2 Skill

Skill bisa diartikan sebagai keterampilan (how to) atau cara untuk melakukan sesuatu. Landasan dari skill adalah pengalaman dan pembelajaran secara praktek lapangan. Contoh seorang tukang las memiliki pengetahuan teknik mengelas (teori mengelas) belum tentu menjadi tukang las yang jago.Skill memiliki karakter bisa ditransfer dari individu ke individu lain dengan melalui proses pembelajaran yang bertahap. Bagi seorang sekretaris misalnya penguasaanterhadap program aplikasi word dan excel juga merupakan skill. Cara yang paling efektif untuk mentransfer skill adalah dengan mengikut sertakan si pembelajar melakukan tahapan pekerjaan dan membuatnya mempraktekkan tahapan pekerjaan tersebut dalam konteks pelatihan lapangan dan melakukan pengulangan. Praktek dan pengulangan merupakan dua kunci utama bagi seseorang untuk mengakuisisi skill yang baru.

Disamping skill juga ada beberapa istilah yang terdapat di dalam diri seseorang yang masih dapat dibina atau ditingkatkan kemampuannya yaitu:

Habit biasa diterjemahkan sebagai kebiasaan, Habit juga sering dinyatakan sebagai pembawaan asal diri kita. Ada ungkapan bahwa kita bisa mengubah habit lama dan habit baru,anggapan ini mungkin memiliki maksud yang baik tetapi sebenarnya kurang tepat. Sebagian besar habit kita muncul berasal dari kondisi alamiah pembawaan kita. Sebagian besar habit bisa dikatakan sebagai talenta.Jika anda memiliki habit seorang yang gigih atau mudah berempati atau kompetitif,maka anda akan merasa kesulitan untuk mengubah habit itu.

Habit mengendap dalam diri kita dan menjadi jati diri kita, habit itulah ynag menjadikan diri kita apa adanya seperti sekarang ini. Habit muncul karena tempaan pengalaman hidup,lingkungan dan karakter asal. Habit ini bisa diartikan sebagai pola kecenderungan untuk berfikir, berperasaan dan bersikap.

Pengertian habit dengan behaviour (perilaku) sering diartikan sama padahal dua kata ini memiliki pengertian yang berbeda. Behaviour muncul dari perwujudan habit, Behaviour kita dilihat oleh orang lain sebagai ucapan dan perilaku kita. Behaviour lebih merupakan tindak tanduk yang nampak di permukaaan. Secara umum lebih susah merubah habit daripada behaviour, mengubah habit hanya bisa dilakukan dengan dorongan diri dalam diri yangsangat kuat, dan atau karena adanya suatu peristiwa atau kejadian penting dalam hidupnya sehingga membuat seseorang ingin merubah nilai-nilai dirinya.

Attitude,Banyak manajer yang mempertimbangkan attitude untuk merekrut karyawan baru. Attitude memiliki arti kecenderungan sikap. Attitude seseorang akan sangat mempengaruhi cocok atau tidak peran seseorang dalam suatu pekerjaan. Dalam suatu kepemimpinan, attitude para pemimpin memberi pengaruh yang signifikan dalam mewujudkan atmosfir kerja yang kondusif. Attitud yang positif memiliki kekuatan radiasi seperti medan magnet yang mampu mempengaruhi lingkungan sekitarnya untuk berubah. Attitude dapat dibentuk dari proses pembinaan yang kontinu atau terus menerus, pembinaan attitude akan lebih efektif jika dilakukan melalui proses penanaman nilai-nilai diri, proses ini merupakan fase pertumbuhan

2.2.7.3 Motivasi

Winardi (2002:1) menjelaskan istilah motivasi (motivation) berasal dari perkataan bahasa Latin, yakni movere yang berarti menggerakkan (to move). Diserap dalam bahasa Inggris menjadi motivation berarti pemberian motif, penimbulan motif atau hal yang menimbulkan dorongan atau keadaan yang menimbulkan dorongan. Selanjutnya Winardi (2002:33) mengemukakan, motivasi seseorang tergantung kepada kekuatan motifnya. Berdasarkan hal tersebut diskusi mengenai motivasi tidak bisa lepas dari konsep motif. Pada intinya dapat dikatakan bahwa motif merupakan penyebab terjadinya tindakan. Steiner sebagaimana dikutip Hasibuan (2003:95) mengemukakan motif adalah “suatu pendorong dari dalam untuk beraktivitas atau bergerak dan secara langsung atau mengarah kepada sasaran akhir”. Ali sebagaimana dikutip Arep dan Tanjung 2004:12) mendefinisikan motif sebagai “sebab-sebab yang menjadi dorongan tindakan seseorang”.

Winardi (2002:33) menjelaskan, motif kadang-kadang dinyatakan orang sebagai kebutuhan, keinginan, dorongan yang muncul dalam diri seseorang. Motif diarahkan ke arah tujuan-tujuan yang dapat muncul dalam kondisi sadar atau dalam kondisi di bawah sadar. Motif-motif merupakan “mengapa” dari perilaku. Mereka muncul dan mempertahankan aktivitas, dan mendeterminasi arah umum perilaku seorang individu.

Motivasi telah dirumuskan dalam sejumlah definisi yang berlainan. Walaupun begitu, tentang substansinya tidak banyak berbeda. Istilah motivasi, menurut Sumantri (2001:53), biasanya digunakan untuk menunjukkan suatu pengertian yang

melibatkan tiga komponen utama, yaitu (1) pemberi daya pada perilaku manusia (energizing); (2) pemberi arah pada perilaku manusia (directing); (3) bagaimana perilaku itu dipertahankan (sustaining). Campbell dalam Winardi (2002:4) menyatakan bahwa motivasi berhubungan dengan (1) pengarahan perilaku, (2) kekuatan reaksi setelah seseorang karyawan telah memutuskan arah tindakan-tindakan tertentu, dan (3) persistensi perilaku, atau berapa lama orang yang bersangkutan melanjutkan pelaksanaan perilaku dengan cara tertentu.

Menurut Mc. Donald, yang dikutip Oemar Hamalik (2003:158) motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Dengan pengertian ini, dapat dikatakan bahwa motivasi adalah sesuatu yang kompleks. Motivasi akan menyebabkan terjadinya suatu perubahan energi yang ada pada diri manusia, sehingga akan bergayut dengan persoalan gejala kejiwaan, perasaan dan juga emosi, untuk kemudian bertindak atau melakukan sesuatu.

Menurut Siti Sumarni (2005), Thomas L. Good dan Jere B. Braphy (1986) mendefinisikan motivasi sebagai suatu energi penggerak dan pengarah, yang dapat memperkuat dan mendorong seseorang untuk bertingkah laku. Ini berarti perbuatan seseorang tergantung motivasi yang mendasarinya.

Motivasi adalah sesuatu yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas. Masih dalam artikel Siti Sumarni (2005), motivasi secara harafiah yaitu sebagai dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar, untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu. Sedangkan secara psikologi, berarti usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya, atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya. (KBBI, 2001:756).

Dari beberapa pendapat di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa pengertian motivasi adalah keseluruhan daya penggerak baik dari dalam diri maupun dari luar dengan menciptakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu yang menjamin kelangsungan dan memberikan arah pada kegiatan sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek itu dapat tercapai.

Dokumen terkait