• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. MAKNA PACARAN YANG SEHAT DAN

A. Pengertian Kaum Muda

Yang disebut kaum muda adalah mereka yang berusia antara 13 sampai 30 tahun dan belum menikah. Secara pribadi yang sedang berkembang mereka

memiliki ciri khas dan keunikan yang tak tergantikan, kualitas, bakat, dan minat. Mereka mempunyai perasaan, pola pikir, tata nilai, dan pengalaman tertentu, masalah, kebutuhan, hak dan kewajiban serta peranan sendiri. Semua itu merupakan potensi untuk dikembangkan sehingga kaum muda dapat berperan dalam kehidupan Gereja, masyarakat dan Negara (Komisi Kepemudaan KWI, 1993: 8-9).

Istilah kaum muda dapat menimbulkan bermacam-macam pengertian, tergantung dari sudut peninjaunya. Dalam pandangan sosiologi, kaum muda merupakan kelompok orang yang mempunyai kedudukan dan peran tertentu sebagai kelompok yang sedang belajar menemukan tempatnya di dalam masyarakat. Sebagai pribadi konkret yang unik dengan kedudukan tertentu ini, kaum muda membutuhkan pengakuan dari masyarakat bahwa dirinya sanggup mengakui, memilih, serta mengintegrasikan bakat, sikap, dan kemahirannya sendiri. Mereka sudah bukan lagi anak-anak yang senantiasa membutuhkan perlindungan orang tua, namun mereka juga belum dapat untuk mandiri.

Dari sudut pandang psikologi, kaum muda merupakan kelompok orang yang berada dalam masa transisi perkembangan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Dalam masyarakat Indonesia, istilah kaum muda dan remaja sulit untuk dibedakan, tetapi para ahli psikolog pada umumnya menggolongkan masa muda dalam 2 (dua) periode, yaitu: periode pubertas dan periode adolescentia.

Masa pubertas mencakup usia 12-16 tahun, sedangkan masa adolescentia

mencakup usia 17-22 tahun. Pada tahap pubertas masa perkembangan seseorang ditandai oleh perubahan dalam hubungan dengan masyarakat atau lingkungan hidup yang lebih luas. Dalam masyarakat mereka berusaha menemukan tempat dan menyesuaikan diri secara lebih tepat (Purwa Hadiwardoyo, 1990: ).

Pada dasarnya pandangan psikologis dan sosiologi mengenai kaum muda mempunyai kaitan erat dan saling melengkapi. Psikologi menekankan perkembangan psikis sedang sosiologi menekankan kedudukan dan peran sosial kaum muda dalam masyarakat. Tetapi keduanya menunjukkan tempat kaum muda dalam masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Dengan demikian kaum muda dapat dimengerti sebagai kelompok orang yang berbeda dalam masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa, baik secara psikologi maupun sosiologi.

Orang muda Katolik Lingkungan St. Fransiskus Xaverius, Kambaniru, Paroki Sang Penebus, Waingapu, Sumba Timur juga termasuk kategori sebagai orang muda. Sebagai orang muda mereka juga mengalami masa perubahan yang sangat fundamental dalam bidang moralitas. Ketika memasuki usia muda mereka tidak lagi begitu saja menerima kode moral dari orang tua, guru, bahkan teman-teman sebaya. Kaum muda mengalami perubahan pandangan moral individu yang semakin lama menjadi lebih abstrak dan kurang konkrit, keyakinan moral lebih berpusat pada apa yang benar dan kurang pada apa yang salah. Keadilan muncul sebagai kekuatan moral yang dominan. Penilaian moral menjadi semakin kognitif. Hal ini mendorong kaum muda lebih berani menganalisis kode sosial dan kode pribadi dibandingkan masa kanak-kanak (Hurlock, 2005: 225).

Oleh karena itu dalam pembinaan kaum muda sifat-sifat dan ciri khas mereka harus dihargai dan diperhitungkan. Hendaknya mereka diberi kemungkinan, kesempatan, kepercayaan dan tanggung jawab sebagai subyek dan pelaku bina diri dan saling bina. Sebagai anggota Gereja yang berusia muda di paroki-paroki, mereka adalah warga Orang Muda Katolik (OMK), yang serentak

juga dapat menjadi anggota pelbagai wadah/ organisasi/ gerakan kategorial sesuai minat, bakat dan keinginan hatinya (Komisi Kepemudaan KWI, 1993: 8-9).

Dalam topik ini penulis akan membahas mengenai pengertian kaum muda yang dideskripsikan dalam beberapa bagian yaitu siapa saja yang disebut kaum muda dan siapa saja yang disebut kaum muda Katolik yang dipaparkan oleh beberapa tokoh.

2. Siapa Saja yang Disebut Kaum Muda

Untuk mengetahui siapa saja yang disebut kaum muda kita perlu melihat kembali pengertian dari kaum muda itu sendiri. Deskripsi mengenai kaum muda sangat beragam. Pendapat dari tokoh-tokoh dan dari Kamus Bahasa Indonesia lebih jelas mendeskripsikan arti dari kaum muda tersebut. Melalui deskripsi tersebut kita dapat mengetahui siapa saja yang disebut kaum muda. Deskripsi tersebut antara lain:

Kamus Besar Bahasa Indonesia (Powadarminta, 1982: 397.594) mengatakan bahwa kaum muda terdiri dari dua kata yaitu “Kaum” dan “Muda”. Kaum berarti golongan orang yang sekerja, sepaham, sepangkat, sedangkan muda berarti belum sampai setengah umur. Maka kaum muda adalah orang yang sekerja, sepaham, namun belum sampai setengah umur.

Deskripsi mengenai kaum muda diuraikan oleh Tangdilintin (1984: 5) dalam buku Pembinaan Generasi Muda: Visi dan Latihan, yang mengutip tulisan dr. J. Riberu dengan memakai istilah “muda-mudi”, sebagai berikut:

Dengan “muda-mudi” dimaksudkan kelompok umur sexennium ketiga dan keempat dalam hidup manusia (± 12-24 tahun). Bagi yang bersekolah, usia ini sesuai dengan usia Sekolah Lanjutan dan Perguruan Tinggi. Ditinjau dari segi sosiologis, sering kali patokan usia di atas perlu dikoreksi dengan

unsur status sosial seseorang dalam masyarakat tertentu. Status sosial yang dimaksudkan adalah hak dan tugas orang dewasa yang diberikan kepada seseorang sesuai dengan tata kebiasaan masyarakat tertentu. Status sosial ini seiring sejalan dengan status berdikari di bidang nafkah dan status sosial berkeluarga. Unsur status sosial ini menyebabkan seseorang yang menurut usianya masih dalam jangkauan usia muda-mudi, bisa dianggap sudah dewasa dan sebaliknya orang yang sudah melampaui usia tersebut tetapi masih dianggap muda-mudi.

Seperti yang dipaparkan oleh Tangdilintin (1984: 5) bahwa kaum muda itu digolongkan dari 2 segi yaitu: segi umur dan segi sosiologis. Pada segi umur dikatakan bahwa yang disebut kaum muda adalah semua orang yang berumur dibawah umur 24 tahun dan bisa dikatakan masih berstatus bersekolah atau kuliah. Pada segi sosiologis kaum muda dilihat tidak hanya dari umur dan status pendidikannya tetapi lebih melihat dari status sosialnya. Status sosial yang dimaksud adalah di mana seseorang dapat menempatkan dirinya dalam lingkungan yang ia tempati dan melaksanakan hak serta kewajibannya dalam masyarakat dan keluarga. Hal tersebut tidak terbatas oleh umur, bila seseorang sudah berkeluarga dan bekerja, mereka tidak bisa digolongkan sebagai muda-mudi. Mereka sudah memiliki tanggung jawab dalam status sosial yang berbeda dan bisa dikatakan sudah dewasa meskipun usianya masih dalam jangkauan usia muda-mudi. Tetapi sebaliknya bila orang yang sudah dewasa dalam segi umurnya, namun belum dapat melaksanakan hak dan kewajibannya dalam masyarakat, mereka masih dikatakan muda-mudi.

Shelton mengatakan bahwa kaum muda adalah mereka yang berusia antara 15-24 tahun dan sedang mengalami pertumbuhan fisik dan perkembangan mental, emosional, sosial, moral, serta religius (Shelton, 1987: 64). Mangunharjana berpendapat bahwa istilah kaum muda dipergunakan untuk menunjuk kaum,

golongan atau kelompok orang yang muda usia. Kaum muda adalah mereka yang berusia antara 15 tahun sampai 24 tahun atau usia muda-mudi yang masih berstatus sebagai siswa SMA dan berstatus sebagai mahasiswa (Mangunharjana, 1986: 11-12).

Memberi batasan kepada kaum muda memang sulit karena perlu memperhatikan berbagai segi di antaranya segi psikologis, sosiologis dan biologis. Kaum muda harus dilihat sebagai pribadi yang sedang berada dalam taraf tertentu yaitu dalam perkembangan hidup seorang manusia (Tangdilintin, 1984: 6).

3. Siapa Saja yang Disebut Kaum Muda Katolik

Pada bagian pertama telah dijabarkan deskripsi mengenai siapa saja yang disebut kaum muda pendapat para pakar-pakar dalam bidangnya. Pada bagian ini akan dibahas mengenai siapa saja yang disebut kaum muda Katolik. Seperti halnya pada bagian sebelumnya, pada bagian ini juga akan dijabarkan lebih jelas siapa saja yang disebut kaum muda Katolik (OMK). Deskripsi tersebut diambil dari pendapat dan pandangan dari beberapa pakar, yang antara lain sebagai berikut:

Kaum Muda Katolik (OMK) yaitu warga Gereja Katolik usia tingkat SMA dan Perguruan Tinggi yang belum menikah (Suhardiyanto, 1998: 387).

Seperti yang dipaparkan pada kutipan di atas bahwa kaum muda itu terdiri dari berbagai umur dan tingkat pendidikan yang berbeda dan belum menikah. Mereka menjadi warga Gereja karena telah disahkan secara resmi melalui sakramen-sakramen yang telah diterimanya. Gereja menyebut orang muda Katolik

dengan OMK (Orang Muda Katolik). OMK adalah organisasi di mana para kaum muda melakukan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan Gereja yang mendapatkan pembinaan dari Pastor, tokoh-tokoh orang muda maupun Dewan Paroki. Umat lebih familiar memanggil orang muda Katolik dengan sebutan OMK. Kaum muda Katolik (OMK) adalah mereka para kaum muda yang aktif dalam kegiatan Gereja.

Kaum muda Katolik atau yang sering disebut OMK harus sejak dini disadarkan bahwa mereka adalah pribadi-pribadi yang bermartabat karena diciptakan Allah sesuai dengan citra-Nya (Kej 1:27). Mereka memiliki panggilan dasar untuk menjaga hidup dan berperilaku sebagai citra Allah, dan semakin mendekati citra Allah itu. Untuk mendekati citra Allah itu kaum muda hendaknya mampu mengenali diri dan menerima diri sebagaimana adanya. Kesadaran diri itulah yang akan melandasi kaum muda untuk membangun harga diri dan percaya kepada dirinya. Dengan dasar harga diri dan percaya diri yang dimiliki itulah maka kepribadian yang menyangkut kejujuran, sikap adil, bertanggung jawab, disiplin dan solider akan berkembang seperti pada kutipan berikut:

OMK itu adalah kaum muda Katolik yang mengenal diri dan percaya diri sebagai citra Allah, berwatak jujur, adil, bertanggung jawab, terbuka, disiplin, solider, beriman kokoh-kritis dengan spiritualitas martyria, mau dan mampu berperan aktif dalam hidup menggereja, serta mengemban misi sosial membangun keadaban publik (Tangdilintin 2008: 62).

Pada kutipan di atas kaum muda sungguh diharapkan dapat bertanggung jawab akan perannya sebagai orang muda Katolik. Mereka mempunyai tanggung jawab untuk mengembangkan Gereja, melalui keterlibatannya dalam hidup menggereja. Kaum muda juga harus beriman secara kokoh dan menyadari bahwa dirinya adalah citra Allah yang memiliki sikap-sikap baik dan sesuai dengan

kehendak Allah. Sikap-sikap baik misalnya terbuka terhadap lingkungan sekitar dengan melihat akan tanggung jawab dan perannya terhadap Gereja maupun masyarakat.

Dokumen terkait