BAB II TINJ AUAN PUSTAKA
2.2 Landasan Teori
2.2.4. Kepuasan Kerja
2.2.4.1. Pengertian kepuasan kerja
Salah satu sarana penting pada manjemen sumber daya manusia dalam sebuah orgaisasi adalah terciptanya kepuasan kerja para pegawai atau karyawan. Kepuasan kerja menurut Martoyo, (1992: 115), pada dasarnya merupakan salah satu aspek psikologis yang mencerminkan perasaan seseorang terhadap
pekerjaannya,ia akan merasa puas dengan adanya kesesuaian antara kemampuan, keterampilan dan harapannya dengan pekerjaan yang ia hadapi.
Kepuasan sebenarnya merupakan keadaan yang sifatnya subyektif yang merupakan hasil kesimpulan yang didasarkan pada suatu perbandingan mengenai apa yang diterima pegawai dari pekerjaannya dibandingkan dengan yang diharapkan, diinginkan, dan dipikirkannya sebagai hal yang pantas atau berhak atasnya. Sementara setiap karyawan atau pegawai secara subyektif menentukan bagaimana pekerjaan itu memuaskan. Foustino dalam bukunya Susilo Martoyo, (1992 : 178) menyebutkan bahwa suatu kesimpulan menyeluruh tentang kepuasan hanya akan memberikan pertimbangan subyektif dari pegawai mengenai kepuasan sehubungan dengan gaji, keselamatan kerja, supervise, relasi – relasi antar perorangan dalam bekerja, peluang dimasa yang akan datang dan pekerjaan itu sendiri.
Berdasarkan batasan - batasan mengenai kepuasan kerja tersebut, dapat disimpulkan secara sederhana bahwa kepuasan kerja adalah perasaan seseorang terhadap pekerjaannya. Ini berarti bahwa konsepsi kepuasan kerja melihatnya sebagai hasil interaksi manusia terhadap lingkungan kerjanya. Di samping itu, perasaan seseorang terhadap pekerjaan tentulah sekaligus merupakan refleksi dari sikapnya terhadap pekerjaan. Pada dasarnya kepuasan kerja merupakan hal yang bersifat individual. Setiap individu akan memiliki tingkat kepuasan yang berbeda – beda sesuai dengan sistem nilai – nilai yang berlaku dalam dirinya. Ini disebabkan karena adanya perbedaan pada masing – masing individu. Semakin
banyak aspek – aspek dalam pekerjaan yang sesuai dengan keinginan individu, maka akan semakin tinggi tingkat kepuasan yang dirasakan, dan sebaliknya. 2.2.4.2. Faktor – Faktor Timbulnya Kepuasan Kerja
Sebagian besar orang berpendapat bahwa gaji atau upah merupakan faktor utama untuk dapat menimbulkan kepuasan kerja. Sampai taraf tertentu, hal ini memang bisa diterima, terutama dalam negara yang sedang berkembang, dimana uang merupakan kebutuhan yang sangat vital untuk bisa memenuhi kebutuhan pokok sehari – hari. Akan tetapi kalau masyarakat sudah bisa memenuhi kebutuhan keluarganya secara wajar, maka gaji atau upah ini tidak menjadi faktor utama. Sesuai dengan tingkatan motivasi manusia yang dikemukakan oleh Maslow, maka upah atau gaji merupakan kebutuhan dasar.
Moh. As’ad, (2002: 112) mengemukakan pendapatnya tentang faktor – faktor yang dapat menimbulkan kepuasan kerja antara lain :
1. Faktor hubungan antar karyawan, antara lain hubungan antara pimpinan dengan karyawan, faktor fisik dan kondisi kerja, hubungan sosial diantara karyawan, sugesti dari teman kerja, emosi dan situasi kerja.
2. Faktor individual, antara lain sikap kerja seseorang terhadap pekerjaannya,umur orang sewaktu bekerja, serta jenis kelamin karyawan. 3. Faktor – faktor dari luar (ekstern) antara lain keadaan keluarga karyawan,
rekreasi, pendidikan (training, up grading dan lain – lain).
Sedangkan Moch. As’ad (2002: 114) tentang faktor – faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja sebagai berikut:
a. Kesempatan untuk maju. Dalam hal ini ada tidaknya kesempatan untuk memperoleh kesempatan peningkatan pengalaman dan kemampuan kerja selama bekerja.
b. Keamanan kerja. Faktor ini sering disebut sebagai penunjang kepuasan kerja, baik karyawanpria maupun wanita. Keadaan yang aman sangat mempengarugi perasaan kerja karyawan selama bekerja.
c. Gaji. Gaji lebih banyak menyebabkan ketidakpuasan, dan jarang orang yang mengekspresikan kepuasan kerjanya dengan sejumlah uang yang di perolehnya.
d. Manajemen kerja. Manajemen kerja yang baik adalah yang memberikan situasi dan kondisi kerja yang stabil, sehingga karyawan dapat bekerja dengan nyaman.
e. Kondisi kerja. Dalam hal ini adalah tempat kerja, ventilasi, penyinaran, kantin, dan tempat parkir.
f. Komunikasi. Komunikasi yang lancar antara karyawan dengan pimpinan banyak dipakai untuk menyukai jabatannya. Dalam hal ini adanya kesediaan pihak pimpinan untuk mau mendengar, memahami dan mengakui pendapat atau prestasi karyawannya sangat berperan dalam menimbukan kepuasan kerja.
Menurut pendapat Moh. As’ad (2002:115), faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja antara lain:
a. Faktor psikologis, merupakan faktor yang berhubungan dengan kejiwaan pegawai yang meliputi minat, ketentraman kerja, sikap terhadap kerja, perasaan kerja.
b. Faktor fisik, merupakan faktor yang berhubungan dengan fisik lingkungan kerja dan kondisi fisik pegawai, meliputi jenis pekerjaan, pengaturan waktu kerja, perlengkapan kerja, sirkulasi udara, kesehatan pegawai.
c. Faktor finansial, merupakan faktor yang berhubungan dengan jaminan serta kesejahteraan pegawai, yang meliputi sistem penggajian, jaminan sosial, besarnya tunjangan, fasilitas yang diberikan, promosi dan lain-lain Adapun instrumen indikatornya adalah sebagai berikut (Tua E.H. (2002: 291-292):
- Gaji adalah jumlah bayaran yang diterima seseorang sebagai akibat dari pelaksanaan kerja apakah sesuai dengan kebutuhan dan dirasakan adil. - Pekerjaan itu sendiri adalah isi pekerjaan yang dilakukan seseorang apakah
memiliki elemen yang memuaskan.
- Rekan sekerja adalah teman-teman kepada siapa seseorang senantiasa berinteraksi dalam pelaksanaan pekerjaan. Seseorang dapat merasakan rekan kerjanya sangat menyenangkan atau tidak menyenangkan.
- Promosi adalah kemungkinan seseorang dapat berkembang melalui kenaikan jabatan.
2.3. Pengaruh Budaya Organisasi Ter hadap Kepuasan Kerja
Suatu organisasi akan semakin maju dan berhasil selain ditentukan oleh budaya, yang didukung oleh komitmen yang tinggi dari para karyawannya juga sangat ditentukan oleh kenyamanan dan kepuasan dalam melaksanakan pekerjaan. Kinerja yang baik dari seorang karyawan tidak akan muncul dengan mudah, kinerja yang baik akan muncul secara intern dalam pribadi manusia sebagai individu, dan secara ekstern dapat dimunculkan melalui stimulus kepada aspek- aspek yang menyebabkan seorang individu tidak mampu atau produktifitasnya rendah. Kinerja karyawan akan muncul apabila karyawan merasakan kenyamanan dan kepuasan dalam bekerja.Indriyani,(2003).
Apabila budaya organisasi ber manfaat bagi individu (misalnya, memperhatikan individu dan berorientasi pada prestasi, keadilan dan sportifitas), maka dapat diharapkan adanya peningkatan kepuasan kerja yang lebih baik daripada sebelumnya. Sebaliknya bilamana budaya organisasi yang ada bertentangan dengan tujuan, kebutuhan dan motivasi pribadi, kemungkinan yang timbul adalah kepuasan kerja berkurang. Dengan kata lain suatu organisasi ditentukan oleh interaksi antara kebutuhan individu dengan budaya organisasi yang ada dalam organisasi tersebut.
Sesungguhnya antar bludaya perusahaan dengan kepuasan karyawan terhadap hubungan dimana budaya (culture) dikatakan memberi pedoman seorang
nilai yang dibutuhkan karyawan dalam bekerja, berinteraksi dengan kelompoknya, dengan sistem dan administrasi, serta berinteraksi dengan atasannya. Hasil penelitian Kirk L. Rogga (2001) menyatakan bahwa budaya organisasi dapat meningkatkan kepuasan kerja karyawan.
2.3.1. Pengaruh Kepemimpinan Terhadap Kepuasan Kerja
Hubungan pemimpin-bawahan menjadi hubungan yang baik apabila bawahan menghargai, menyukai, dan mendukung pemimpin serta bersedia mengikuti arahan pemimpin. Keadaan ini akan memberikan kontrol bagi pemimpin dan memberikan kontribusi situasi yang menguntungkan pemimpin, sehingga terbentuk faktor situasional efektivitas kepemimpinan. Pengaruh dari seorang pemimpin tergantung atas penerimaan bawahan. Oleh karena itu pemimpin harus menyadari bahwa memelihara hubungan baik antara pemimpin dan bawahan sangatlah penting. Pemimpin mau berinteraksi dengan bawahan untuk mengenal mereka lebih dekat sehingga mampu memahami mereka. Bawahan merasa diperhatikan oleh pemimpin dan tentunya interaksi tersebut minimal membuat pemimpin dan bawahan memiliki hubungan yang cukup dekat. Keakraban yang terjalin membuat pegawai merasa bahwa dirinya dianggap dan diperhatikan sehingga keberadaannya di dalam pekerjaan itu terasa penting. Dampak dari pemeliharaan hubungan yang baik maka turut berpengaruh juga terhadap kepuasan pegawai ketika bekerja. Wicaksono,(2011).
Kepemimpinan yang ditetapkan oleh seorang manajer (pimpinan) dalam organisasi dapat menciptakan integrasi yang serasi dan mendorong gairah kerja pegawai untuk mencapai sasaran maksimal. Untuk itu seorang pemimpin harus
lebih bertanggungjawab dan bijaksana. Pemimpin yang dapat menerapkan gaya kepemimpinan yang tepat akan dapat memuaskan bawahannya sehingga pegawai menjadi lebih giat bekerja sehingga kinerja pegawai dapat terbentuk. Lebih lanjut menurut Kabul (2005) hasil diatas dapat ditarik benang merah dalam usaha untuk meningkatkan prestasi kerja melalui perilaku partisipasif kepemimpinan.
Kekuatan posisi pemimpin berupa tingkat kewenangan pemimpin, untuk mengevaluasi pelaksanaan kerja dan memberikan penghargaan, promosi maupun hukuman. Semakin besar kekuasaan formal seorang pemimpin akan meningkatkan pengendalian pegawai, hal ini membuat situasi semakin efektif bagi pemimpin. Untuk menjadi pemimpin yang disukai oleh bawahan tentunya menjadi pemimpin yang mampu menyeimbangkan kekuatan wewenang yang dimilikinya. Kondisi demikian membuat atmosfer kerja yang ada menjadi nyaman karena tidak adanya rasa ketidakadilan. Evaluasi dilakukan oleh atasan kepada bawahan terhadap pekerjaan bawahan sebagai tanggungjawab kerja dari atasan. Pemberian hadiah atau sanksi yang diberikan oleh pemimpin kepada bawahan seharusnya sesuai dengan porsi tindakan yang dilakukannya. Pegawai akan merasa dihargai ketika melakukan suatu prestasi kerja dengan adanya penghargaan dari pemimpin, sebaliknya pemberian hukuman terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh pegawai. Dengan penggunaan wewenang yang tepat maka akan mempengaruhi kepuasan kerja pegawai.Wicaksono,(2011).