BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Konsentrasi Belajar
2.2.1 Pengertian Konsentrasi Belajar
Konsentrasi dalam bentuk kata kerja (verb), yaitu concentrate, yang berarti memusatkan, dan dalam bentuk kata benda (noun), yaitu concentration, yang
berarti pemusatan. Secara garis besar, sebagian besar orang memahami pengertian konsentrasi sebagai suatu proses pemusatan pikiran kepada suatu objek tertentu. Dengan adanya pengertian tersebut, timbullah suatu pengertian lain bahwa di dalam melakukan konsentrasi, orang harus berusaha keras agar segenap perhatian panca indera dan pikirannya hanya boleh terfokus pada satu objek saja. Panca indera, khususnya mata dan telinga tidak boleh terfokus kepada hal-hal lain (Hakim, 2002).
Konsentrasi adalah pemusatan atau pengarahan (perhatiannya ke pekerjaanya atau aktivitasnya). Menurut Slameto (2003) konsentrasi merupakan pemusatan pikiran terhadap suatu hal dengan mengeyampingkan semua hal lainnya yang tidak berhubungan. Dimana dalam belajar konsentrasi berarti pemusatan pikiran terhadap mata pelajaran dengan mengeyampingkan semua hal yang tidak berhubungan dengan pelajaran.
Hendrata (2007) berpendapat konsentrasi adalah sumber kekuatan pikiran dan bekerja berdasarkan daya ingat dan lupa dimana pikiran tidak dapat bekerja untuk lupa dan ingat dalam waktu bersamaan. Apabila konsentrasi seseorang mulai lemah maka akan cenderung mudah melupakan suatu hal dan sebaliknya apabila konsentrasi masih cukup kuat maka akan dapat mengingat dalam waktu yang lama.
Menurut Djamarah (2008) mengungkapkan bahwa konsentrasi adalah pemusatan fungsi jiwa terhadap suatu objek seperti konsentrasi pikiran, perhatian dan sebagainya. Dalam belajar dibutuhkan konsentrasi dalam bentuk perhatian yang terpusat pada suatu pelajaran. Maka dari itu konsentrasi merupakan salah
satu aspek yang mendukung siswa untuk mencapai prestasi yang baik dan apabila konsentrasi ini berkurang maka dalam mengikuti pelajaran di kelas maupun belajar secara pribadi akan terganggu.
Sedangkan menurut Ahmadi (2003), dapat disimpulkan bahwa konsentrasi belajar adalah pemusatan fungsi jiwa dan pemikiran seseorang terhadap objek yang berkaitan dengan belajar (penerimaan informasi tentang pelajaran) dimana konsentrasi belajar ini sangat penting dalam proses pembelajaran karena merupakan usaha dasar untuk dapat mencapai prestasi belajar yang lebih baik (Ahmadi, 2003).
2.2.2 Gangguan Konsentrasi Belajar
Menurut Taylor (2009), apabila individu dengan sengaja memusatkan perhatiannya pada suatu objek yang menjadi sasaran kesadaran, dan selalu dalam kesibukan untuk membatasi medan perhatian (konsentrasi), maka akan menimbulkan ketegangan-ketegangan otot, yang tidak diperlukan oleh pekerjaan pelaksanaan tugas itu sendiri, yang berakibat timbulnya kelelahan dalam melaksanakan tugas tersebut. Oleh sebab itu, konsentrasi yang sengaja dibangun individu harus selalu dipertahankan dan menunjukkan sifat ketidakseimbangan.
Berdasarkan pendapat Ilyana (2013) bahwa kemampuan anak berkonsentrasi berbeda-beda sesuai usianya. Rentang perhatian anak dalam menerima informasi melalui aktivitas apapun juga berbeda. Pada dasarnya individu tidak akan dapat berkonsentrasi apabila berada dalam keadaan yang terlalu menegangkan atau berada dalam keadaan yang terlalu rileks. Konsentrasi dapat terbentuk apabila individu berada dalam keadaan diantara keduanya.
Walaupun konsentrasi merupakan pemusatan perhatian yang dilakukan secara sengaja, tetapi apabila dilakukan dalam jangka waktu yang relatif lama, dapat berpindah ke kondisi yang dapat menurunkan konsentrasi.
Ketidakberdayaan melakukan konsentrasi belajar ini merupakan problematik aktual di kalangan pelajar. Kita sering kali mengalami pikiran bercabang (duplikasi pikiran), saat melakukan kegiatan belajar. Pikiran bercabang bisa muncul tanpa kita sadari. Tentunya kita pun merasa terganggu sekali saat tak mampu berkonsentrasi dalam belajar. Saat belajar, kadangkala tanpa kita undang muncul ke permukaan alam pikiran mengenai masalah-masalah lama. Keinginan-keinginan lain atau yang terhambat menjadi pengganggu aktivitas belajar kita. Alhasil kitapun ikut terlibat ke alam pikiran yang melintas tersebut (Wardani, 2013).
Berdasarkan pendapat Hakim (2002), jika seorang siswa merasa tidak dapat berkonsentrasi di dalam belajar, sangat mungkin ia tidak dapat merasakan nikmat dari proses belajar yang dilakukannya. Hal ini mungkin dapat terjadi karena ia sedang mempelajari pelajaran yang tidak disukai, pelajaran yang dirasakan sulit, pelajaran dari guru yang tidak disukai, atau suasana tempat belajar yang ia pakai tidak menyenangkan.
Menurut Ahmadi (2003), bahwa ada beberapa aspek konsentrasi belajar adalah sebagai berikut :
Pemusatan pikiran yaitu suatu keadaan belajar yang membutuhkan ketenangan, nyaman, perhatian seseorag dalam memahami isi pelajaran yang dihadapi
2. Motivasi
Motivasi merupakan keinginan atau dorongan yang terdapat dalam diri seseorang untuk berusaha mengadakan perubahan tingkah laku yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhannya.
3. Rasa khawatir
Rasa khawatir merupakan perasaan yang tidak tenang karena seseorang merasa tidak optimal dalam melakukan pekerjaannya.
4. Perasaan tertekan
Perasaan tertekan adalah perasaan seseorang yang buka dari individu melainkan dorongan/tuntutan dari orang lain maupun lingkungan.
5. Gangguan pemikiran
Gangguan pemikiran ini merupakan hambatan seseorang yang berasal dari dalam individu maupun orang sekitar sendiri. Misalnya, masalah ekonomi keluarga ataupun masalah pribadi individu.
6. Gangguan kepanikan
Gangguan kepanikan merupakan hambatan dalam berkonsentrasi dalam bentu rasa was-was akan menunggu hasil yang akan dilakukan maupun yang sudah dilakukan oleh seseorang tersebut.
Kesiapan belajar adalah keadaan seseorang yang sudah siap akan menerima pelajaran, sehingga individu dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya. Gangguan konsentrasi berhubungan dengan kemampuan anak untuk memperhatikan dan berkonsentrasi, kemampuan yang berkembang seiring dengan perkembangan anak. Anak yang sangat terganggu konsentrasinya mengalami kesulitan untuk memfokuskan konsentrasinya, perhatiannya dan menyelesaikan tugas secara terus-menerus. Mereka sering lupa instruksi-instruksi, kehilangan barang-barang dan tidak mendengarkan orangtua dang gurunya.
2.2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konsentrasi Belajar
Menurut Kaur (2014), konsentrasi belajar siswa dapat dipenagruhi oleh berbagai faktor, seperti di bawah ini :
a. Lingkungan
Lingkungan dapat mempengaruhi kemampuan dalam berkonsentrasi, siswa akan dapat memaksimalkan kemampuan konsentrasi. Faktor lingkungan yang mempengaruhi konsentrasi belajar adalah suara, pencahayaan, temperatur, dan desain belajar.
1. Suara. Setiap orang memiliki reaksi yang berbeda terhadap suara, ada yang menyukai belajar sambil mendengarkan musik, belajar ditempat ramai, dan bersama teman. Tetapi ada yang hanya dapat belajar di tempat yang tenang tanpa suara, atau ada juga yang dapat belajar di tempat dalam keadaan apapun.
2. Pencahayaan. Pencahayaan merupakan salah satu faktor yang pengaruhnya kurang begitu dirasakan dibandingkan pengaruh suara, tetapi terdapat juga seseorang yang senang belajar di tempat terang, atau senang belajar di tempat yang gelap, tetapi kenyamanan visual dapat juga digolongkan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat kenyamanan di dalam ruangan atau bangunan.
3. Temperatur. Temperatur sama seperti faktor pencahayaan, merupakan faktor yang pengaruhnya kurang begitu dirasakan dibandingkan pengaruh suara, tetapi terdapat juga seseorang yang senang belajar di tempat dingin, atau senang belajar di tempat yang hangat, dan juga senang belajar di tempat dingin maupun hangat. 4. Desain belajar. Desain belajar merupakan salah satu faktor yang
memiliki pengaruh juga, yaitu sebagai media atau sarana dalam belajar, misalnya terdapat seseorang yang senang belajar di tempat santai sambil duduk di kursi, sofa, tempat tidur, maupun di karpet. Cara mendesain media dan sarana belajar merupakan salah satu cara yang dapat membuat kita lebih dapat berkonsentrasi.
b. Modalitas Belajar
Modalitas belajar yang menentukan siswa dapat memproses setiap informasi yang diterima. Konsentrasi dalam belajar dan kreativitas guru dalam mengembangkan strategi dan metode pembelajaran di kelas akan
meningkatkan konsentrasi belajar siswa sehingga hasil belajarnya pun akan meningkat pula.
Semakin banyak informasi yang diterima dan diserap oleh siswa, maka kemampuan berkonsentrasi pun harus semakin baik dan fokus dalam mengikuti setiap proses pembelajaran. Banyak cara yang ditawarkan oleh para ahli dalam meningktakan konsentrasi belajar siswa, isalnya dengan cara meningkatkan gelombang alfa agar setiap siswa dapat berkonsentrasi dengan baik, kemudian dapat juga dengan mengatur posisi tubuh pada saat belajar, dan mempelajari materi (informasi) sesuai dengan karakteristik siswa itu sendiri.
c. Pergaulan
Pergaulan juga dapat mempengaruhi siswa dalam menerima pelajaran, perilaku dan pergaulan mereka, dapat mempengaruhi konsentras belajar yang dipengaruhi juga oleh beberapa faktor, seperti faktor tekonologi yang berkembang saat ini contohnya televisi, internet, dan lain-lain ini sangat berpengaruh pada sikap dan perilaku siswa.
d. Psikologi
Faktor psikologi juga dapat mempengaruhi bagaimana sikap dan perilaku siswa dalam berkonsentrasi, misalnya karena adanya maslah dalam lingkungan sekitar dan keluarga. Hal ini ternyata akan mempengaruhi keadaan psikologis siswa, karena siswa akan kehilangan semangat da motivasi belajar mereka, tentunya akan berpenagruh juga terhadap tingkat konsentrasi siswa yang akan semakin menurun.
Selain itu menurut Hakim (2002), tidak dapat dipungkiri bahwa keberhasilan seseorang untuk dapat melakukan konsentrasi yang efektif memerlukan faktor-faktor pendukung tertentu. Faktor-faktor pendukung tersebut meliputi:
1. Faktor internal (faktor-faktor yang berasal dari dalam diri seseorang) Faktor internal merupakan faktor pertama dan utama yang sangat menetukan apakah seseorang dapat melakukan konsentrasi secara efektif atau tidak. Secara garis besar, faktor-faktor ini meliputi hal-hal berikut: a. Faktor jasmaniah
Hal ini dapat dilihat dari kondisi jasmani seseorang yang meliputi kesehatan badan secara menyeluruh, seperti berikut ini:
1. Kondisi badan yang normal menurut standar kesehatan atau bebas dari penyakit yang serius.
2. Kondisi badan di atas normal atau fit akan lebih menunjang konsentrasi.
3. Cukup tidur dan istirahat.
4. Cukup makan dan minum serta makanan yang dikonsumsi memenuhi standar gizi untuk hidup sehat.
5. Seluruh panca indera berfungsi dengan baik.
6. Tidak mengalami gangguan fungsi otak karena penyakit tertentu, seperti mag dan sakit kepala.
7. Detak jantung normal. Detak jantung ini snagat mempengaruhi ketenangan dan sangat mempengaruhi konsentrasi efektif.
8. Irama napas berjalan baik. Sama halnya dengan jantung, irama napas juga sangat mempenagruhi ketenangan.
b. Faktor rohaniah
Untuk dapat melakukan konsentrasi efektif, kondisi rohani seseorang setidak-tidaknya harus memenuhi hal-hal berikut:
1. Kondisi kehidupan sehari-hari cukup tenang
2. Memiliki sifat baik, terutama sifat sabar dan konsisten
3. Taat beribadah sebagai penunjang ketengan dan daya pengendalian diri
4. Tidak dihinggapi berbagai jenis masalah yang terlalu berat 5. Tidak emosional
6. Tidak sedang dihinggapi stres berat 7. Memiliki rasa percaya diri yang cukup 8. Tidak mudah putus asa
9. Memiliki kemauan keras yang tidak mudah padam
10. Bebas dari berbagai gangguan mental, seperti rasa takut, was-was dan gelisah.
2. Faktor eksternal (faktor-faktor yang ada di luar diri atau sekitar lingkungan seseorang).
Faktor eksternal adalah segala hal-hal yang berada di luar diri seseorang atau lebih tepatnya segala hal yang berada di seitar lingkungan. Hal-hal tersebut juga dapat menjadi pendukung terjadinya konsentrasi efektif.
Berikut ini beberapa faktor eksternal yang mendukung konsentrasi efektif.
a. Lingkungan sekitar harus cukup tenang, bebas dari suara-suara yang terlalu keras yang mengganggu pendengaran dan ketenangan. Sebagai contoh suara bising dari mesin kendaraan bermotor, suara keramaian orang banyak, suara pesawat radio, dan televisi yang terlalu keras.
b. Udara sekitar harus cukup nyaman, bebas dari polusi dan bau-bauan yang mengganggu rasa nyaman. Sebagai contoh, bau bangkai dan kotoran binatang, bau sampah, bau WC, dan lain-lain.
c. Peneragan di sekitar lingkungan juga harus cukup, tidak lebih dan tidak kurang sehingga tidak menimbulkan kesukaran bagi pandangan mata
d. Orang-orang yang ada di sekitar lingkungan juga harus terdiri dari orang-orang yang dapat menunjang suasana tenang. Apalagi jika lingkungan tersebut merupakan lingkungan belajar atau lingkungan kerja. Setiap orang akan sulit melakukan konsentrasi kerja yang efektif jika ia selalu dihadapkan dengan orang yang tidak dapat bekerja sama dengannya, terlebih lagi jika ia harus selalu berhadapan dengan orang-orang yang menjadi musuhnya.
e. Suhu di sekitar lingkungan harus menunjang kenyamanan dalam melakukan kegiatan yang memerlukan konsentrasi. Untuk itu perlu
diperhatikan sirkulasi udara, pendingin ruangan atau setidaknya kipas angin.
f. Tersedia fasilitas yang cukup menunjang kegiatan kerja, seperti ruangan yang bersih, kursi, meja dan peralatan untuk keperluan belajar, yang menimbulkan rasa nyaman dan dapat mendukung konsentrasi belajar yang efektif.
2.2.4 Ciri-ciri Konsentrasi Belajar
Menurut Engkoswara (2012), bahwa ada klasifikasi perilaku belajar yang dapat digunakan untuk mengetahui ciri-ciri siswa yang dapat digunakan untuk mengetahui ciri-ciri siswa yang dapat berkonsentrasi adalah sebagai berikut :
1. Perilaku kognitif, yaitu perilaku yang menyangkut masalah pengetahuan, informasi, dan maslah kecakapan intelektual. Pada perilaku kognitif ini, siswa yang memiliki konsentrasi belajar dapat dilihat melalui:
a. Kesiapan pengetahuan yang dapat segera muncul bila diperlukan b. Komprehensif dalam penafsiran informasi
c. Mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh
d. Mampu mengadakan analisis dan sintesis pengetahuan yang diperoleh.
2. Perilaku afektif yaitu perilaku yag berupa sikap dan persepsi. Pada perilaku ini siswa yang memiliki konsentrasi belajar dapat dilihat dari: a. Adanya penerimaan, yaitu tingkat perhatian tertentu
c. Mengemukakan suatu pandangan atau keputusan sebagi integrasi dari suatu keyakinan, ide dan sikap seseorang.
3. Perilaku psikomotor. Pada perilaku ini, siswa yang memiliki konsentrasi belajar dapat dilihat dari adanya:
a. Adanya gerakan anggota badan yang tepat atau sesuai dengan petunjuk guru.
b. Komunikasi non vrbal, seperti ekspresi muka dan gerakan-gerakan yang penuh arti.
c. Perilaku berbahasa. Pada perilaku ini, siswa yang memiliki konsentrasi belajar dapat dipengaruhi adanya aktivitas berbahasa yang terkoordinasi dengan baik dan benar.
2.2.5 Penyebab Terganggunya Konsentrasi
Hambatan konsentrasi pada umumnya terjadi karena perhatian bercabang, terjadi pertentangan antara keinginan belajar dengan dorongan untuk melakukan pekerjaan yang lain. Dengan menekan semua keinginan yang tidak berhubungan dengan belajar, sesorang bisa berkonsentrasi dengan optimal.
Menurut Nugroho (2007), kemampuan konsentrasi ini dapat ditingkatkan dengan niat mengerjakan, mempersiapkan suasana, bahan dan semua perlengkapan yang diperlukan lebih dahulu. Apabila hal ini dibiasakan, maka begitu duduk akan segera dapat langsung konsentrasi pada kegiatan belajar saja. Faktor-faktor penyebab gangguan konsentrasi adalah sebagai berikut :
1. Faktor internal
Dari dalam diri sendiri, misalnya minat belajar rendah (mata pelajaran dianggap tidak menarik), perencanaan jadwal belajar yang buruk dan kesehatan yang sedang menurun.
2. Faktor eksternal
Berupa suasana perlengkapan, penerangan ruangan, suara, dan adanya gambar-gambar yang mengganggu perhatian.
Selain itu, penyebab-penyebab timbulnya kesulitan konsentrasi belajar, antara lain:
1. Lemahnya minat dan motivasi pada pelajaran
Motivasi kuat yang timbul dalam diri seorang siswa dapat mendorongnya belajar sangat diperlukan. Ada siswa yang akan dapat berprestasi bila diberikan sebuah rangsangan.
2. Timbulnya perasaan negatif, seperti gelisah, tertekan, marah, khawatit, takut, benci dan dendam.
3. Suasana lingkungan belajar yang berisik dan berantakan
Suara hiruk-pikuk kendaraan, suara orang yang sedang bertengkar dan lain-lain dapat mempengaruhi perhatian dan kemampuan seseorang untuk konsentrasi belajar.
4. Gangguan kesehatan jasamani
Bila siswa terlihat ogah-ogahan pada materi pelajaran yang sedang didalaminya, hendaknya jangan tergesa-gesa untuk menghakimi bahwa
ia malas belajar. Mungkin saja kondisi kesehatannya saat itu sedang ada masalah.
5. Bersifat pasif dalam belajar
6. Tidak memiliki kecakapan dalam cara-cara belajar yang baik.
Menurut Hakim (2002) bahwa timbulnya gangguan konsentrasi dapat disebabkan oleh hal-hal berikut ini yaitu:
1. Faktor internal, merupakan faktor penyebab gangguan konsentrasi yang berasal dari dalam diri seseorang. Faktor internal terbagi ke dalam dua garis besar sebagai berikut:
a. Faktor jasmaniah
Faktor penyebab gangguan konsentrasi yang bersumber dari kondisi jasmaniah siswa yang tidak berada di dalam kondisi normal atau mengalami gangguan kesehatan, misalnya:
1. mengantuk 2. lapar dan haus
3. gangguan panca indera 4. gangguan pencernaan 5. gangguan pernapasan
6. gangguan di kulit yang menyebabkan gatal dan perih 7. gangguan saraf dan otak
8. tidak betah diam dan hiperaktif, dan
9. kondisi tubuh yang tidak sehat seperti tidak enak badan, demam, pusing, dan gangguan kesehatan lainnya.
b. Faktor rohaniah
Faktor penyebab gangguan konsentrasi berasal dari mental seseorang (rohaniah) yang sedang mengalami berbagai macam gangguan, mulai dari gangguan mental ringan (saat pribadi seseorang masih berada dalam batas normal) sampai pada gangguan mental berat (saat pribadi orang tersebut sudah berada dalam kondisi abnormal). Berikut ini beberapa gangguan mental yang dapat menimbulkan gangguan konsentrasi seseorang yaitu:
1. Tidak tenang dan tidak betah diam yang bersumber dari pembawaan atau maslah tertentu
2. Ada kecenderungan mudah gugup (nervous) dan grogi
3. Emosional, tidak sabar, dan selalu sering bersikap terburu-buru. 4. Mudah tergoda pada sesuatu yang terlihat dan terdengar di
sekitar lingkungan
5. Ada kecenderungan untuk mudah cemas setiap kali mengerjakan sesuatu yang penting.
6. Mudah grogi di tengah lingkungan orang banyak, seperti kampus, kantor
7. Tidak dapat mengendalikan khayalan, ingatan masa lalu, dan pikiran-pikiran lain yang muncul saat mengerjakan sesuatu. 8. Tidak percaya diri yang mengakibatkan timbulnya bayangan
9. Sedang dihinggapi gangguan mental tertentu, seperti stres, trauma, frustasi, psikomatis, neurosis, dan depresi, mulai dari yang ringan sampai yang berat. Pada gangguan psikosomatis, seseorang sudah sering tidak dapat lagi berpikir secara realitis. 2. Faktor eksternal, merupakan faktor penyebab gangguan konsentrasi
yang berasal dari luar diri seseorang, yaitu lingkungan di sekitar orang tersebut berada. Faktor gangguan eksternal yang sering dialami adalah adanya rasa tidak nyaman dalam melakukan berbagai kegiatan yang memerlukan konsentrasi penuh, seperti belajar, bekerja, dan beribadah. Berikut ini contoh-contoh gangguan tersebut yaitu sebagai berikut: a. Ruangan belajar yang terlalu sempit dan menimbulkan rasa tidak
leluasa dan tidak rileks, apalagi jika ruangan tersebut dipenuhi oleh barang-barang yang sebetulnya tidak layak berada di ruangan tersebut.
b. Ruangan belajar yang tidak bersih
c. Tata letak barang-barang yang tidak teratur sehingga menimbulkan kesan berantakan atau semrawut yang juga dapat menimbulkan perasaan tak menentu.
d. Udara di sekitar lingkungan kerja yang berpolusi dari debu yang berasal dari ruangan kerja yang tidak bersih atau berasal dari luar karena terlalu ramainya lalu lintas.
e. Adanya aroma yang tidak sedap, seperti bau busuk dari sampah, bangkai binatang, atau WC yang jarang dibersihkan.
f. Suhu udara yang terlalu panas
g. Hubungan yang kurang harmonis dengan orang-orang yang sering berada dalam satu lingkungan yang sama.
h. Polusi udara yang berasal dari kendaraan bermotor, mesin pekerja bangunan, suara bising dari kerumunan orang banyak, dan suara keramaian lalu lintas, terutama jika orang tersebut melakukan kegiatan di tempat yang lokasinya di daerah pusat bisnis.
i. Gangguan penglihatan yang bersumber dari lingkungan yang kotor, tata letak barang-barang yang tidak teratur, gambar di dinding yang tidak sesuai dengan selera dan etika, dan tingkah laku orang di sekitar lingkungan.