BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Kedalaman Modeling
1. Pengertian Modeling
Ilmu psikologi memahami bahwa manusia senantiasa berkembang karena
proses belajar yang dilaluinya dalam seluruh perjalanan hidupnya. Salah satu
bentuk belajar seorang individu adalah mempelajari sikap dan perilaku sosial
dengan jalan meniru sikap dan perilaku orang lain yang menjadi model. Cara
belajar seperti ini menjadi salah satu kajian diskusi para ilmuwan psikologi
tentang proses yang lebih luas atas proses belajar yang dialami oleh seseorang
dengan imitasi, modeling, observational learning, peniruan, dan mungkin istilah
lainnya.
Apakah modeling itu? Beberapa sumber menganggap adanya kesamaan arti
antara modeling dan imitasi. Ada pula yang menganggap imitasi sebagai salah
satu bentuk modeling. Kamus Psikologi, karangan J.P. Chaplin (2003) yang
diterjemahkan oleh Dr. Kartini Kartono, mendefinisikan imitasi sebagai meniru
perbuatan orang lain dengan sengaja, sedangkan modeling diartikan dengan
belajar memberikan reaksi dengan jalan mengamati orang lain yang tengah
mereaksi. Definisi tersebut tidak begitu jelas maksudnya karena tidak ada
penjelasan lebih lanjut mengenai hal itu. Akan tetapi, di dalam kamus tersebut,
modeling juga dapat diartikan sebagai imitasi, peniruan, atau menirukan.
Pengertian mengenai modeling juga diuraikan oleh Alwisol (2006). Ia
menerjemahkan kata modeling dengan kata ‘peniruan’ meskipun istilah dalam
Bahasa Indonesia ini dirasa tidak cukup mampu mencakup keseluruhan makna
dari modeling itu sendiri. Namun demikian, penggunaan istilah “peniruan’ ini
dapat mewakili arti modeling. Ia mengartikan modeling sebagai usaha meniru dan
atau mengulangi kembali apa yang dilakukan oleh orang lain (model) dengan
jalan menambah dan atau mengurangi tingkah laku yang dapat dilihat,
menggeneralisir berbagai pengamatan sekaligus, serta melibatkan adanya proses
kognitif (Alwisol, 2006). Dengan demikian, modeling tidak semata-mata
dimengerti sebagai meniru perilaku model secara persis, melainkan juga melihat
dinamika yang ada dalam tataran kognitif individu yang melakukannya, seperti
perilaku yang baru. Bagaimana bentuk-bentuk modeling itu terjadi, akan diuraikan
pada sub bab berikutnya.
Bandura (1986) mengungkapkan berbagai macam rumusan yang mencoba
menjelaskan mengenai arti modeling. Dalam bukunya, setidaknya terdapat 3 dasar
pendekatan untuk memahami makna dari modeling. Menurutnya, dalam konsep
lama atau tradisional, banyak di antara pemikir yang mengartikan modeling
sebagai imitasi. Mereka melihat bahwa modeling adalah proses dimana seseorang
berusaha mengikuti perbuatan-perbuatan orang lain. Seiring waktu berjalan,
pemahaman tradisional ini dirasa membatasi power yang ada dalam proses itu
Anggapan ini muncul karena modeling bukan hanya dipandang sebagai meniru
perilaku secara persis apa yang dilakukan oleh orang lain, melainkan ada proses
pengolahan dalam diri pengamat sehingga dapat menciptakan perilaku baru
dengan sedikit atau banyak variasi nantinya. Beralih kepada pandangan tradisi
kalangan psikodinamik, beberapa tokoh kepribadian dan perkembangan
mengintepretasikan modeling sebagai identifikasi. Mereka menganggap
identifikasi berasal dari proses adopsi terhadap pola-pola perilaku, representasi
simbolik model, motif-motif, nilai, idealisme-idealisme, dan kesadaran yang ada
dalam diri orang lain. Sedangkan menurut teori sosial-kognitif, modeling
menunjukkan berbagai macam proses penyesuaian psikologis karena cukup
banyak mempengaruhi dinamika seseorang jika dibandingkan dengan istilah
imitasi yang terasa lebih sempit maknanya. Oleh karenanya, wilayah
pembelajaran melalui modeling dibagi ke dalam lima bentuk fenomena, seperti
2. Kedalaman Modeling
Alwisol (2006) menyebutkan empat macam bentuk modeling yang dimengerti
sebagai tingkatan kedalaman perilaku modeling, yaitu seberapa jauh perilaku
modeling mencapai pada usaha-usaha menginternalisasikan dan mengidentifikasikan ciri atau sifat model ke dalam diri pengamat. Kedalaman
modeling tersebut dapat kita pahami dari tingkat paling dangkal sampai yang paling dalam, yaitu:
1) Modeling Tingkah laku Baru
Modeling tingkah laku baru adalah munculnya perilaku baru pada diri pengamat setelah melihat perilaku dalam diri model. Munculnya tingkah laku
baru berawal dari adanya beberapa deskripsi tentang perilaku model yang
tersimpan dalam kognisi seseorang kemudian diolah menjadi suatu gambaran
mental. Tahap berikutnya, proses pengolahan ini akan digabungkan dengan
berbagai deskripsi atas berbagai pengalaman lain dalam kehidupan seseorang
sehingga nantinya akan menghasilkan suatu bentuk perilaku yang baru.
2) Modeling Mengubah Tingkah Laku Lama
Modeling mengubah tingkah laku lama adalah pengubahan pengamat terhadap berbagai perilaku yang sudah ada dalam dirinya akibat adanya konsekuensi yang
diterima model atas perilaku tersebut. Modeling senacam ini tergantung dari
konsekuensi sosial yang ada. Apabila perilaku model diterima secara sosial, akan
terjadi penguatan perilaku yang sama atau serupa yang terdapat dalam diri
pengamat. Sebaliknya, apabila perilaku model tidak diterima secara sosial,
konsekuensi sosial inilah yang dapat mengubah perilaku lama yang ada dalam diri
pengamat, semakin memperkuat atau memperlemah perilaku yang sudah ada
sebelumnya.
3) Modeling Kondisioning
Modeling kondisioning adalah bentuk modeling yang dikombinasikan dengan pengkondisian klasik. Modeling semacam ini banyak digunakan untuk mempelajari respon emosional. Respon emosional akan muncul dalam diri
pengamat setelah melihat respon dalam diri model yang telah mendapat perkuatan
akan ditujukan kepada obyek yang ada di dekatnya saat ia mengamati model
tersebut atau dapat juga ditujukan terhadap obyek yang memiliki hubungan
dengan obyek yang menjadi sasaran emosional dari model. Misalnya, seseorang
yang mengalami rangsangan seksual setelah menonton film porno, melampiaskan
nafsunya kepada seorang anak di sekitarnya, seperti sering terjadi dalam kasus-
kasus pelecehan seksual anak.
4) Modeling Simbolik
Modeling simbolik menunjuk pada proses belajar atas berbagai nilai dan gaya hidup yang tidak secara langsung tampak atau terlihat secara fisik, misalnya
tentang kejujuran, keterbukaan, kerendahatian, dan sebaginya. Modeling simbolik
bisa dilakukan terhadap beberapa sumber seperti orang lain, film, buku-buku
cerita atau komik, gambar-gambar yang ada di koran dan majalah, serta berbagai
media massa lainnya.
Modeling simbolik memungkinkan seseorang mempelajari nilai-nilai keutamaan seorang salah satu tokoh yang ada dalam hidupnya, yang tampak
dalam tayangan di televisi, atau dimana saja karena perilaku tokoh menghasilkan
sesuatu yang menyenangkan (reward). Mungkin juga, seseorang akan mengikuti
persepsi salah seorang yang ada dalam televisi karena ia memiliki pemahaman
yang hampir sama dengan sang tokoh terhadap sesuatu hal.
Menurut Bandura (1986), teori sosial-kognitif menggunakan 5 efek atau
fenomena dalam memahami modeling. Fenomena ini menunjukkan cakupan
wilayah belajar yang mungkin terjadi dalam peristiwa modeling. Efek atau
fenomena di sini kita mengerti sebagai bentuk-bentuk dari modeling itu sendiri.
Pembedaan ke dalam lima bentuk ini berguna untuk menghindari adanya
kebingungan jika menggunakan istilah ‘imitasi’, ‘observational learning’ dan
sekaligus menjadi semacam pengarah guna memahami mekanisme modeling.
Beberapa bentuk modeling tersebut dapat kita mengerti dari uraian di bawah ini.
1) Observational Learning Effects
Fenomena observational learning effects adalah fenomena yang terjadi saat
seseorang mempelajari berbagai kemampuan-kemampuan kognitif (intelektual),
standart pendapat, dan pola-pola perilaku yang baru dengan jalan mengamati
orang lain. Misalnya, seseorang akan menganggap kedisiplinan adalah nilai yang
paling tinggi dalam suatu tempat kerja, karena atasannya (model) mengatakan
demikian pada salah satu acara evaluasi dengan berbagai pertimbangan dan
pembahasan yang mendalam. Sebelumnya, disiplin bukan hal yang penting bagi
dia, asalkan semua pekerjaannya dilakukan dengan baik. Dengan memahami lebih
kerja, termasuk meniru kebiasaan atasannya yang datang lebih awal dari jadwal
kantor.
2) Inhibitory and Disinhibitory Effect
Efek inhibitory adalah efek yang terjadi saat pengamat mengurangi perilaku
tertentu yang telah dipelajari sebelumnya atau bersikap lebih membatasi perilaku tersebut karena melihat model menerima konsekuensi negatif atas perilaku itu.
Contoh kasus misalnya, jika seseorang sudah tidak berani melakukan korupsi
akibat temannya yang melakukan korupsi mendapatkan hukuman.
Sedangkan efek disinhibitory terjadi saat pengamat meningkatkan performansinya atas perilaku-perilaku yang telah dipelajari sebelumnya.
Meskipun berbagai perilaku model berbahaya atau mengancam, pengamat tetap
meningkatkan perilakunya karena berbagai perilaku itu model tidak menimbulkan
sesuatu efek yang merugikan, dalam contoh yang sama orang itu akan tetap berani
melakukan korupsi, bahkan lebih besar, akibat temannya yang melakukan korupsi
tidak mendapatkan hukuman atau dibiarkan saja.
3) Response Facilitation Effects
Setiap orang sebenarnya mampu untuk berperilaku tertentu. Namun karena
kurangnya dorongan atau dukungan sosial, ia tidak berani melakukannya.
Kenyataannya, suatu ketika seseorang akan melakukan hal itu karena adanya
dorongan dari orang lain yakni ketika orang lain (model) melakukan perilaku
yang sama atau serupa dengan apa yang sebenarnya ada dalam diri dan mampu
dilakukan, tetapi belum dilakukan, oleh pengamat. Inilah yang dinamakan
ditunjukkan oleh model menjadi suatu kekuatan pendorong terhadap perilaku-
perilaku yang sudah dipelajari sebelumnya, meskipun awalnya pengamat belum
berani melakukan. Misalnya, seseorang ingin membicarakan tentang kasus
korupsi yang terjadi pada suatu lembaga pemerintahan tetapi ia merasa takut
untuk memulainya. Saat orang lain (model) menyinggung tentang hal yang sama,
ia akan berani menyambung pembicaraan itu karena ia merasa ada dukungan dari
sosialnya.
4) Environmental Enhancement Effects
Environmental enhancement effects adalah fenomena dimana pengamat akan menggunakan obyek yang dipakai oleh pengamat pada situasi-situasi yang
berbeda atau aktivitas-aktivitas yang memiliki tujuan berbeda. Hal itu terjadi jika
berbagai macam perilaku dari model tidak hanya menjadi penguat bagi
terbentuknya perilaku yang serupa dalam diri pengamat, namun juga
memungkinkan pengamat melakukan aktivitas lain dengan menggunakan suatu
obyek yang dipakai saat peristiwa modeling terjadi. Misalnya, saat seseorang
melihat model menggunakan sticker yang berisi nama, sebagai alat identitas
pemilik alat tulis, pada salah satu alat tulisnya, pengamat dapat meniru dengan
menggunakan sticker semacam itu pada buku-buku pribadinya.
5) Arousal Effects
Dalam berbagai proses interaksi sosial, biasanya seseorang turut
mengungkapkan emosinya lewat ekspresi mukanya. Fenomena arousal effects
menunjuk pada bangkitnya gejolak emosi yang ada dalam dalam diri pengamat
seseorang (model) mengungkapkan kekecewaannya karena dibohongi oleh
temannya, pengamat akan cenderung merasakan gejolak kecewa seperti apa yang
dirasakan oleh model. Namun pada sisi lain, pengamat juga mungkin akan
mengembangkan antisipasi dalam dirinya apabila ia menghadapi situasi-situasi
yang mirip dengan pengalaman model. Dalam kasus yang sama, pengamat akan
menyiapkan diri apabila ia juga mengalami keadaan yang serupa, misalnya
dengan mencoba bersikap lebih tenang dan lainnya.
Dari dua uraian tersebut, rumusan yang diungkapkan Bandura memiliki
penjelasan yang lebih luas dibandingkan uraian Alwisol namun uraiannya tidak
cukup mengungkap sisi tingkat kedalaman modeling. Oleh karena itu, penelitian
ini akan menggunakan konsep modeling dari Alwisol dengan pertimbangan
bahwa konteks penelitian ini adalah ingin mengenali sejauh mana internalisasi
nilai-nilai yang dilakukan pengamat terjadi melalui mekanisme belajar modeling
atas pemimpin biara sebagai modelnya
.