• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN TEORITIS ............................................................. 10-42

G. Pengertian Pedagang

Pedagang adalah orang yang melakukan perdagangan, memperjualbelikan barang yang tidak diproduksi sendiri, untuk memperoleh keuntungan. 8 Pedagang adalah mereka yang melakukan perbuatan perniagaan sebagai pekerjaannya sehari. Perbuatan perniagaan pada umumnya adalah perbuatan pembelian barang untuk dijual lagi.9 Pedagang dibagi menjadi tiga, yaitu :

1. Pedagang besar/ distributor/ agen tunggal

Distributor adalah pedagang yang membeli atau mendapatkan produk barang dagangan dari tangan pertama atau produsen secara langsung. Pedagang besar biasanya diberi hak wewenang wilayah/daerah tertentu dari produsen.

2. Pedagang menengah/ agen/ grosir

Agen adalah pedagang yang membeli atau mendapatkan barang dagangannya dari distributor atau agen tunggal yang biasanya akan diberi daerah kekuasaan penjualan/ perdagangan tertentu yang lebih kecil dari daerah kekuasaan distributor.

3. Pedagang eceran/ pengecer

Pengecer adalah pedagang yang menjual barang yang dijualnya langsung ke tangan pemakai akhir atau konsumen dengan jumlah satuan atau eceran.10

8 Eko Sujatmiko, Kamus IPS, Surakarta: Aksara Sinergi media Cet. I, 2014, h. 231

9C.S.T. Kensil dan Christine S.T. Kansil, Pokok-pokok Pengetahuan Hukum Dagang

Indonesia, Jakarta: Sinar Grafika, 2008, h. 15.

10http://organisasi.org/jenis-macam-pedagang-perantara-pengertian-distr ibutor-agen-grosir,Pada tanggal 01 September 2015, Jam 05:51

Pedagang yaitu seseorang atau sekelompok orang yang melakukan distribusi dengan cara membeli hasil produksi dari produsen maupun pedagang lain dan kemudian menjualnya kembali ke konsumen untuk memperoleh keuntungan. Berdasarkan modal yang dimiliki, pedagang dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:

a. Pedagang kecil (pengecer), yaitu seseorang atau sekelompok orang yang secara langsung bertransaski dengan konsumen. Contoh : pedagang kaki lima atau warung yang menjual rokok, makanan, dan minuman secara eceran (per buah). b. Pedagang besar, yaitu seseorang atau sekelompok orang yang membeli barang

hasil produski secara langsung dari produsen dan kemudian menyalurkannya (menjual) kepada pedagang kecil (pengecer). Contoh : pedagang besar di pusat penjualan alat-alat elektronik di daerah Jakarta menyalurkan hasil produksi tersebut kepada para pedagang kecildi sekitar kota Jakarta.

Berdasarkan jenis barang dan jasa yang didistibusikan, pedagang dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :

a. Pedagang barang, yaitu menjual barang hasil produksi dari berbagai macam produsen dan kemudian menyalurkannya kepada konsumen yang membutuhkan. Contoh : pedagang furniture, alat elektronik, kebutuhan pokok, dan sejenisnya. b. Pedagang jasa, yaitu menjual jasa berdasarkan keahlian yang dimiliki. Contoh :

Menurut Undang-Undang nomor 20 tahun 2008 pasal 1 tentang usaha mikro, kecil, dan menengah, dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan: 11

1. Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi criteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.

Kriteria Usaha Mikro adalah sebagai berikut:

a. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau

b. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah)

Ciri-ciri Usaha Mikro :

a. Jenis barang/komoditi usahanya tidak selalu tetap, sewaktu-waktu dapat berganti

b. Tempat usahanya tidak selalu menetap, sewaktu-waktu dapat pindah tempat.

c. Belum melakukan administrasi keuangan yang sederhana sekalipun dan tidak memisahkan keuangan keluarga dengan keuangan usaha.

d. Sumber daya manusia (pengusahanya) belum memiliki jiwa wirausaha yang memadai.

e. Tingkat pendidikan relative sangat rendah.

f. Umumnya belum memiliki akses perbankan, namun sebagian dari mereka sudah akses ke lembaga keuangan non bank.

g. Umumnya tidak memiliki izin usaha atau persyaratan legalitas lainnya. 2. Usaha Kecil adalah usaha ekonomi poduktif yang berdiri sendiri, yang

dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang erusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari Usaha Menengah atau Usaha Besar yang memenuhi criteria Usaha Kecil sebagaimana di maksud dalam Undang-Undang ini.

Kriteria Usaha Kecil adalah sebagai berikut :

a. Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau

b. Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp300.000.000,00 (tiga ratus jutah rupiah) sampai dengan paling banyak Rp2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah).

Ciri-ciri Usaha Kecil :

a. Jenis barang/komoditi yang diusahakan umumnya sudah tetap dan tidak mudah berubah.

b. Lokasi/tempat usaha ummnya sudah menetap dan tidak berpindah-pindah. c. Pada umumnya sudah melakukan administrasi keuangan walau masih

sederhana. Keuangan perusahaan sudah mulai dipisahkan dengan keuangan keluarga dan sudah membuat neraca usaha.

d. Sudah memiliki izi usaha dan persyaratan legalitas lainnya.

e. Sumber daya manusia (pengusaha) memiliki pengalaman dalam berwirausaha.

f. Sebagian sudah memiliki akses perbankan dalam hal keperluan modal. g. Sebagian besar belum dapat membuat manajemen usaha dengan baik

seperti business planning.

3. Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau Usaha Besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana di atur dalam Undang-Undang ini.

Kriteria Usaha Menengah adalah sebagai berikut :

a. Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp500.000.000,00 (lia ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau b. Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp2.500.000.000,00 (dua

milyar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah).

Ciri-ciri Usaha Menengah :

a. Pada umumnya telah memiliki manajemen dan organisasi yang lebih baik, lebih teratur bahkan lebih modern dengan pembagian tugas yang

jelas. Antara lain: bagian keuangan, bagian pemasaran dan bagian produksi.

b. Telah melakukan manajeen keuangan dengan menerapkan system akuntansi dengan teratur, sehingga memudahkan untuk auditing dan penilaian atau pemeriksaan termasuk oleh perbankan.

c. Telah melakukan aturan atau pengelolaan dan organisasi perburuhan, telah ada jamsostek, pemeliharaan kesehatan, dan lain-lain..

d. Sudah memiliki segala persyaratan legalitas antara lain izin tetangga, izin usaha, izin tempat, upaya pengelolaan lingkungan, dan lain-lain. e. Sudah memiliki akses kepada sumber-sumber pendanaan perbankan. f. Pada umumnya telah memiliki sumber daya manusia yang terlatih dan

terdidik.

4. Usaha Besar adalah usaha ekonomi produktif yang dilakukan oleh badan usaha dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan lebih besar dari Usaha Menengah, yang meliputi usaha nasional milik Negara atau swasta, usaha patungan, dan usaha asing yang melakukan kegiatan ekonomi di Indonesia.

Dokumen terkait