BAB I PENDAHULUAN
G. Originalitas Penelitian
3. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Pendidikan adalah usaha meningkatkan diri dalam segala aspeknya. Definisi ini mencakup kegiatan pendidikan yang melibatkan guru maupun yang tidak melibatkan guru (pendidik), yang juga mencakup pendidikan formal, maupun non formal serta informal. Segi yang dibina
73 Zakiyah Daradjat, Dasar-Dasar Agama Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), hlm. 260.
74 M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Bina Aksara, 1987), hlm. 141.
75 Thoha Chatib, Kapita Selekta Pendidikan Islam (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 1996), hlm. 61.
dalam definisi ini adalah seluruh aspek kepribadian.77 Pendidikan sebagai mana dirumuskan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan (UUSPN) No 20 tahun 2003 merupakan usaha sadar dan terencana melalui proses pembelajaran agar peserta didik dapat aktif, dapat mengembangkan potensi dirinya agar memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, dan keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.78
Sering ditemukan semacam kebingungan atau kerancuan antara penggunaan istilah pendidikan dan pengajaran. Ada orang yang berpendapat pendidikan tidak sama dengan pengajaran. Ada yang berpendapat pendidikan lebih luas dari pengajaran. Ada juga yang mengatakan pendidikan adalah usaha sadar pengembangan aspek rohani manusia, sedangkan pengajaran aspek jasmani dan akal saja. Sikun Pribadi, Guru Besar IKIP Bandung, pernah menjelaskan masalah ini dalam salah satu tulisannya, menurut pendapatnya, mendidik dalam arti pedagogis tidak dapat disamakan dengan pengertian mengajar. Pengajaran menurut pendapatnya ialah suatu kegiatan yang menyangkut pembinaan mengenai segi kognitif dan psikomotor semata-mata, yaitu supaya anak lebih banyak pengetahuannya. Sedangkan mendidik ialah melaksanakan
77 Ahmad Tafsir, Metodik Khusus Pendidikan Agama Islam (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1992), hlm. 6.
berbagai usaha untuk menolong anak didik dalam menuju kedewasaannya.79
Pendidikan mempunyai peran dan fungsi ganda, pertama peran dan fungsinya sebagai instrumen penyiapan generasi bangsa yang berkualitas, kedua, peran serta fungsi sebagai instrumen transfer nilai. Fungsi pertama menyiratkan bahwa pendidikan memiliki peran artikulasi dalam membekali seseorang atau kelompok orang dengan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan, yang berfungsi sebagai alat untuk menjalani hidup yang penuh dinamika, kompetisi dan perubahan. Fungsi kedua menyiratkan peran dan fungsi pendidikan sebagai instrumen transformasi nilai-nilai luhur dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kedua fungsi tersebut secara eksplisit menandai bahwa pendidikan mengandung makna bagi pengembangan sains dan teknologi serta pengembangan etika, moral dan nilai-nilai spiritual kepada masyarakat agar tumbuh dan berkembang menjadi warga negara yang memiliki kepribadian yang utuh sesuai dengan fitrahnya, warga negara yang berada dan bermartabat, terampil, demokratis, dan memiliki keunggulan kompetitif (competitive advantage).80
b. Definisi Pendidikan Agama Islam
Pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terrencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani ajaran agama Islam, dibarengi dengan tuntunan untuk
79 Ahmad Tafsir, Metodik Khusus Pendidikan Agama Islam (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1992), hlm. 6-7.
menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa. Menurut Zakiyah Daradjat, pendidikan agama Islam adalah suatu usaha untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh. Lalu menghayati tujuan yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai pandangan hidup. Tayar Yusuf, mengartikan pendidikan agama Islam sebagai usaha sadar generasi tua untuk mengalihkan pengalaman, pengetahuan, kecakapan dan keterampilan pada generasi muda agar kelak menjadi manusia yang bertakwa kepada Allah SWT. Sedangkan menurut Ahmad Tafsir, pendidikan agama Islam adalah bimbingan yang diberikan seseorang kepada seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran agama Islam.81
Pendidikan dalam Islam dikenal dengan beberapa istilah, yaitu at-tarbiyah, at-ta‟lim, dan at-ta‟dib. Setiap istilah tersebut memilki makna tersendiri yang berbeda satu sama lain. Perbedaan tersebut disebabkan oleh adanya perbedaan teks dan konteks. At-tarbiyah diturunkan dari akar kata ar-rabb yang sebagian ahli diartikan sebagai tuan, pemilik, memperbaiki, merawat, dan memperindah. At-Tarbiyah menurut Muhammad Jamaluddin al-Qosim berarti proses pencapaian sesuatu sampai pada batas kesempurnaan yang dilakukan secara tahap demi tahap.
81 Abdul Majid dan Dian Andiyani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi
Tarbiyah juga dimaknai sebagai proses penanaman etika yang dimulai pada jiwa anak yang sedang tumbuh dengan cara memberi petunjuk dan nasihat, sehingga ia memiliki potensi-potensi dan kompetensi-kompetensi jiwa yang mantap, yang dapat membuahkan sifat-sifat bijak, baik, cinta akan kreasi, dan berguna bagi tanah airnya. Tarbiyah seperti yang dikatakan Atiyah al-Abrasyi, berarti upaya mempersiapkan individu untuk kehidupan yang benar, sempurna, kebahagiaan hidup, cinta tanah air, kekuatan raga, kesempurnaan etika, sistematik dalam berpikir, tajam, berperasaan, giat dalam berkreasi, toleransi pada yang lain, berkompetensi dalam mengungkapkan bahasa tulis, dan bahasa lisan, dan terampil beraktivitas.82
Pendidikan dalam pengertian tersebut (tarbiyah) juga dapat dipahami sebagai sebuah proses humanisasi yaitu pengembangan dimensi rasionalitas, dimensi afektif, sehingga dapat menumbuhkan kecerdasan emosional, intelektual, dan spiritual yang pada gilirannya membentuk cara pandang individu untuk melahirkan suatu moral sosial.83
c. Tujuan Pendidikan Dalam Islam
Tujuan pendidikan hendaknya dirumuskan atas dasar nilai-nilai ideal yang diyakini dapat mengangkat harkat dan martabat manusia. Nilai-nilai ideal yang menjadi kerangka pikir dan bertindak bagi seorang muslim serta sekaligus menjadi pandangan hidup sebagaimana telah dibicarakan di depan, adalah nilai-nilai ilahiyah yang bersifat transenden, universal dan
82
Rois Mahfudn, Al-Islam Pendidikan Agama Islam (Erlangga, 2011), hlm.143-144.
83
eternal. Konsep tujuan pendidikan yang berdasarkan nilai-nilai tersebut oleh Abdurrahman An-Nahlawi disebut "Ahdafur Rabbani" (tujuan yang bersifat ketuhanan). Sedangkan menurut Omar Muhammad Attoumy Asy-Syaebani, tujuan pendidikan Islam memiliki empat ciri pokok, yakni:
1. Sifat yang bercorak agama dan akhlak.
2. Sifat keseluruhannya yang mencakup segala aspek pribadi pelajar (subjek didik), dan semua aspek perkembangan dalam masyarakat. 3. Sifat keseimbangan, kejelasan, tidak adanya pertentangan antara
unsur-unsur dan cara pelaksanaannya.
4. Sifat realistik dan dapat dilaksanakan, penekanan pada perubahan yang dikehendaki pada tingkah laku dan pada kehidupan, memperhitungkan perbedaan-perbedaan perseorangan di antara individu, masyarakat dan kebudayaan di mana-mana dan kesanggupannya untuk berubah serta berkembang bila diperlukan.84
Dalam perumusan tujuan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, tujuan sebagai arah dan sebagai sesuatu yang akan dicapai. Yang dimaksud dengan tujuan sebagai arah ialah tujuan yang merupakan arah perkembangan subjek didik. Arah itulah yang akan dicapai sehingga jelas sampai di mana perkembangannya. Tujuan sebagai arah harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan subjek didik, kebutuhannya, perasaannya, perhatiannya, bahkan lingkungannya. Arah
84
ini juga menentukan sikap dan tindakan pendidik serta alat yang dipergunakan.85
Tujuan sebagai sesuatu yang akan dicapai ialah perubahan tingkah laku, sikap, dan kepribadian yang bagaimana yang diharapkan setelah subjek didik mengalami pendidikan. Yang menjadi masalah ialah sifat dan tanda perubahan itu. Misalnya tanda-tanda orang yang taat beribadah dan bertakwa, tanda-tanda orang yang sudah makrifah kepada Allah, dan juga tanda-tanda orang yang bertanggung jawab atas kemakhlukanya.86
Pendidikan agama Islam di sekolah/madrasah bertujuan untuk menumbuhkembangkan dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketakwaannya, berbangsa dan bernegara, serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi (Kurikulum PAI : 2002).87
Secara umum, pendidikan agama Islam bertujuan untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan peserta didik tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara (GBPP PAI, 1994). Dari tujuan tersebut dapat ditarik beberapa dimensi yang
85 Ibid.
86 Ibid.
87 Abdul Majid dan Dian Indrayani, Pendidikan Agama I slam Berbasis Kompetensi
hendak ditingkatkan dan dituju oleh kegiatan pembelajaran pendidikan agama Islam, yaitu (1) Dimensi keimanan peserta didik terhadap ajaran agama Islam, (2) Dimensi pemahaman dan penalaran (intelektual) serta keilmuan peserta didik terhadap ajaran agama Islam, (3) Dimensi penghayatan atau pengalaman batin yang dirasakan peserta didik dalam menjalankan ajaran agama Islam, (4) Dimensi pengamalannya, dalam arti bagaimana ajaran agama Islam yang telah diimani, dipahami, dan dihayati atau diinternalisasi peserta didik itu mampu menumbuhkan motivasi dalam dirinya untuk menggerakkan, mengamalkan dan menaati ajaran agama dan nilai-nilainya dalam kehidupan pribadi.88