• Tidak ada hasil yang ditemukan

Seks berfungsi untuk berkembang biak mengembangkan keturunan dan meraih kenikmatan yang luar biasa dalam kehidupan manusia. Kenikmatan selalu membawa ketenangan dalam hati dan fikiran, dan sebaliknya ketidaknyamanan menimbulkan kegelisahan dan penderitaan.1

Manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang paling mulia diantara makhluk-makhluk lainnya. Dianugerahkan kepadanya insting untuk mempertahankan keturunan sebagai konsekuensi kemuliaanya itu. Ini berarti manusia harus memperkembangkan keturunan dengan alat yang telah diperlengkapkan tuhan kepadanya. Diantara perlengkapan ini adalah alat kelamin dan nafsu syahwat untuk saling bercinta. Dari percintaan inilah akan timbul nafsu seks sebagai naluri manusia sejak lahir.

Naluri seks merupakan naluri manusia yang paling kuat dan menghujam. Sebab, ia beraksi secara kokoh dan menuntut respon teratur. Ia merupakan unsur orisinal di dalam eksistensi manusia, demi hikmah yang tinggi dan tujuan yang berkaitan dengan kelestarian hidup dan kelangsungan generasi, seperti yang disebutkan di dalam al-Qur’an:

1

Sudirman Tebba, Ayat-ayat Seks, (Jakarta: Pustaka Irvan, 2006), h. 11

Artinya:

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang Telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.”(Q.S. an-Nisa:1)2

1. Pendidikan

Makna pendidikan tidaklah semata-mata kita menyekolahkan anak ke sekolah untuk menimba ilmu pengetahuan, namun lebih luas daripada itu. Seorang anak akan tumbuh kembang dengan baik manakala ia memperoleh pendidikan yang paripurna (komprehensif), agar ia kelak menjadi manusia yang berguna bagi masyarakat, bangsa, Negara, dan agama. Anak yang demikian ini adalah anak yang sehat dalam arti luas, yaitu sehat fisik, mental-emosional, mental-intelektual, mental-sosial dam mental-spiritual. Pendidikan itu sendiri sudah harus dilakukan sedini mungkin di rumah maupun di luar rumah, formal di institute pendidikan, dan non formal di masyarakat.

Berbicara soal pendidikan, menyangkut tiga hal pokok, yaitu: 1. Aspek Kognitif

Yang dimaksud dengan aspek kognitif, adalah kemampuan anak untuk menyerap ilmu pengetahuan yang diajarkan. Hal ini berhubungan dengan kemampuan intelektual dan taraf kecerdasan anak didik.

2. Aspek Afektif

Yang dimaksudkan dengan aspek afektif, adalah kemampuan anak untuk merasakan dan menghayati apa-apa yang diajarkan, yang telah diperolehnya dari aspek kognitif diatas. Sehingga daripadanya timbullah motivasi untuk mengamalkan atau melakukan apa-apa yang telah dimilikinya itu.

3. Aspek Psikomotorik

2

Yurdian Wahyudi Asmin dan Muhammad Abdul Bashir, Islam dan Anarsisme Seks,

17

Yang dimaksud dengan aspek psikomotor, kemampuan anak didik untuk merubah sikap dan perilaku sesuai dengan ilmu yang telah dipelajari (aspek kognitif) dan ilmu yang telah dihayatinya (aspek afektif).

Sebagai contoh misalnya, dikatakan pendidikan agama Islam (dalam hal ini shalat) baru dikatakan berhasil secara paripurna, bila anak ltu:

a) Memahami/mengetahui secara intelektual hal ihwal yang berhubungan dengan shalat (aspek kognitif)

b) Merasakan/menghayati makna serta manfaat dan hikmah shalat baginya (afektif)

c) Melaksanakan amalan shalat secara fisik dengan manjalankan shalat lima waktu (aspek psikomotorik)3

Pendidikan menurut istilah akan diuraikan sebagai berikut:

a. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan.4

b. Menurut undang-undang RI No. 2 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional Bab I Pasal 1 ayat 1 dikemukakan, pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.

c. Menurut Drs. Amir Dien Indra Kusuma, bahwa bantuan yang diberikan dengan sengaja kepada anak dalam pertumbuhan jasmaninya maupun rohaninya untuk mencapai tingkat dewasa.5

3

Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari, Ilmu Kodekteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa, (Jakarta: Dana Bhakti Prima Yasa, 1996), h. 155-156.

4

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), edisi ketiga, h. 263.

5

Amir Dien Indra Kusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, tth), h. 27.

d. Menurut Prof. Dr. Zakiah Darajat: Pendidikan adalah suatu aktifitas untuk mengembangkan seluruh aspek kepribadian manusia yang berjalan seumur hidup. Ini berarti pendidikan tidak hanya berlangsung didalam kelas tetapi berlangsung diluar kelas.6

Secara keseluruhan, pendidikan adalah segala usaha yang dilakukan tanpa pamrih, dalam rangka memberikan bimbingan dan pengarahan menuju suatu hidup yang harmonis dan sejahtera untuk individu-individu dalam mengarungi kehidupan.

Dengan demikian pendidikan tidak hanya cukup dilakukan didalam kelas dalam waktu terbatas, karena sasarannya adalah pembentukan watak, sikap, tingkah laku, bahkan pendewasaan seluruh aspek kehidupan anak. Pendidikan maupun peserta didik sangat membutuhkan pengawasan dan kontinuitas sikap. Oleh karena itu, pendidikan harus lebih banyak dilakukan oleh orang tua dan masyarakat, karena sebagian besar waktu anak-anak dihabiskan diluar sekolah.

2. Seks

Seks dalam kamus biologi berarti ”sifat kelamin atau nafsu syahwat atau jenis kelamin”.7

Menurut sseksiologi, nafsu syahwat adalah kekuatan naluri yang terkuat diantara naluri-naluri lainnya. Firman Allah Dalam Surat ali-Imran ayat 14:

Artinya:

”Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita,...”

Menurut Sarlito Wirawan Sarwono dan Ami Siambadar dalam bukunya ”Peranan Orang Tua dalam Pendidikan Seks Anak”, seksualitas

6

Zakiah Darajat, FilsafatPendidikan Islam, (Jakarta: Pembinaan Kelembagaan Agama Islam), (DEPAG RI, 1983-1984), h. 147.

7

19

adalah suatu istilah yang mencakup segala sesuatu yang berkaitan dengan seks. Dalam pengertian ini ada dua aspek (segi) dari seksualitas:

a. seks dalam arti sempit b. seks dalam arti luas

Dalam artinya yang sempit seks berarti kelamin. Sedangkan seks dalam artinya yang luas, yaitu segala hal yang terjadi sebagai akibat (konsekuensi) dari adanya perbedaan jenis kelamin.8

Berdasarkan uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwasanya seks adalah jenis kelamin dan semua ihwal uang berhubungan dengan alat kelamin, seperti membedakan antara pria dan wanita, persetubuhan, reproduksi seks, kelenjar-kelenjar, dan hormon-hormon yang mempengaruhi alat-alat kelamin sampai peran dan kerjaan serta hubungan antara pria dan wanita.

3. Pendidikan Seks

Pendidikan seks adalah salah satu cara untuk mengurangi atau mencegah penyalahgunaan seks, khususnya untuk mencagah dampak-dampak negatif yang tidak diharapkan, seperti kehamilan yang tidak direncanakan, penyakit menular seksual, depresi, dan perasaan berdosa.

Akan tetapi dipihak lain, ada pihak-pihak yang tidak setuju dengan pendidikan seks. Hal itu karena dikhawatirkan dengan pendidikan seks, anak-anak yang belum saatnya tahu tentang seks jadi mengetahuinya. Selanjutnya, karena dorongan keinginan tahu yang besar yang ada pada remaja, mereka jadi ingin mencobanya.

Pandangan pro-kontra pendidikan seks ini pada hakikatnya tergantung sekali pada bagaimana kita mendefinisikan pendidikan seks itu sendiri. Jika pendidikan seks diartikan sebagai pemberian informasi mengenai seluk-beluk anatomi dan proses faal dari reproduksi manusia

8

Sarlito Wirawan Sarwono dan Ami Siamsidar, Peranan Orang Tua Dalam Pendidikan Seks, (Jakarta: CV. Rajawali, 1986), h. 7-8

semata ditambah dengan tekhnik-tekhnik pencegahannya (alat kontrasepsi), kecemasan yang disebutkan diatas memang beralasan.9

Adapun yang berkenaan dengan pendidikan seks akan dikemukakan oleh pendapat beberapa tokoh pendidikan berikut ini, diantaranya adalah:

a. Menurut Dr. Sarlito Wirawan Sarwono, pendidikan seks adalah salah satu cara untuk mengurangi atau mencegah dampak negatif yang tidak direncanakan, penyakit menular seksual, depresi dan perasaan bedosa.10

b. Menurut Prof. Dr. Abdul Aziz Elqusy, pendidikan seks ialah pemberian pengalaman yang benar kepada anak, agar dapat membantunya dalam menyesuaikan diri dalam kehidupannya dimasa depan sebagai hasil dari pemberian pengalaman kepada si anak, dan si anak akan memperoleh sikap mental yang baik terhadap masalah seks dan masalah keturunan.11

c. Menurut Salim Sahli yang dimaksud dengan pendidikan seks adalah penerangan yang bertujuan untuk membimbing serta mengasuh laki-laki dan perempuan sejak dari anak-anak sampai anak-anak dewasa, perihal pergaulan antar kelamin umumnya dan kehidupan seksual. Khususnya agar mereka dapat melakukan sebagaimana mestinya sehingga kehidupan berkelamin itu mendatangkan kebahagiaan dan kesejahteraan bagi umat manusia.12

d. Dr. Abdullah Nasih Ulwan mengatakan:

نأ ﺬ ﻪ رﺎ و ﻪ ﻮ و ﺪ ﻮ ا ﺔ ا ﺔ ﺮ ﺎ دﻮ ﻘ ا

ﺎ ﻖ ﻰ ا ﺎ ﺎ ﻀﻘ ا ﻘ

,

ةﺰ ﺮﻐ ﺎ ﺮ و

,

و

9

Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Remaja, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006), h. 182-183

10

Sarlito Wirawan Sarwono, Peranan Orang Dalam Pendidikan Seks, (Jakarta: Rajawali, 1986), Cet.ke-1, h. 183.

11

Abdul Aziz, Pokok-pokok Kesehatan Jiwa/Mental II, Terjemah Zakiah Darajat,

(Jakarta: Bulan Bintang, 1975), Cet.ke-1, h. 281

12

Salim Sahli, Sex Education, (Semarang: Yayasan Arafah Abadi dan Yayasan Sejahtera, 1995), h. 227.

21

”bahwa pendidikan seks adalah upaya pengajaran, penyadaran, dan penerangan tentang masalah-masalah yang berkenaan dengan seks, naluri dan perkawinan sehingga jika anak telah mengetahui masalah-masalah yang diharamkan dan yang dihalalkan bahkan mampu menerapkan tingkah laku Islami sebagai akhlak kebiasaan dan tidak akan mengikuti syahwat dan cara hedonisme.”13

Dengan melihat definisi-definisi diatas, para ahli mengungkapkan bahwa pendidikan seks adalah usaha untuk memberikan bimbingan dan pengarahan agar dapat memberikan pengertian tentang seks yang benar serta tidak disalahgunakan dalam rangka pencapaian kehidapan yang teratur dan harmonis serta diridhoi oleh Allah SWT, sedangkan menurut Nasih Ulwan tidak hanya sebatas memberikan bimbingan dan pengarahan, akan tetapi lebih condong kepada sikap dan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari (akhlak).

B. Seks Ditinjau Dari Segi Agama Islam

Kemunculan istilah pendidikan seks (seks education) dalam sistem pendidikan Islam bukan berasal dari warisan Islam atau dapat dikatakan tidak ada dalam din Islam. Istilah pendidikan seks berasal dari masyarakat barat. Negara barat yang pertama kali memperkenalkan pendidikan ini secara sistematis adalah swedia yang dimulai sekitar 1926. diindonesia, pembicaraan mengenai pendidikan seks secara resmi baru dimulai pada 9 september 1972 melalui orasi Masalah Pendidikan Seks yang dicetuskan fakultas Kedokteran Univarsits Pajajaran.

13

Abdullah Nasih Ulwan, Pedoman Pendidikan Anak Dalam Islam, (Bandung: Asysyifa, 1998), h. 572

Tidak ditemukannya istilah pendidikan seks dalam Islam bukan berarti tidak ada pendidikan mengenai seks di dalam sistem pendidikan Islam. Pembahasan seks dalam Islam tersebar dan dibahas bersamaan dengan pendidikan lainnya.

Ketika membahas akhlak, seks merupakan bagian yang dikomentari. Contohnya akhlak pergaulan antara pria dan wanita.

Ketika membahas ibadah, seks merupakan bagian yang dikomentari. Contohnya wajib shalat bagi individu yang telah baligh, mandi junub bagi orang yang selesai haidh, bersenggama dan mimpi basah.

Ketika membahas akidah, kembali seks menjadi bagian yang dikomentari. Contohnya dapat dilihat pada surat al-Ahzab ayat 35:

☺ ☺

☺ ☺

Artinya:

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak

23

menyebut (nama) Allah, Allah Telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”

Termasuk pengetahuan yang berkaitan dengan biologis manusia seperti cara membersihkan diri setelh haidh dan menyusui yang diterangkan dalam surat al-Baqarah ayat 233:

Artinya:

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. dan kewajiban ayah memberi makan dan Pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan Karena anaknya dan seorang ayah Karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, Maka tidak ada dosa atas keduanya. dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, Maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. bertakwalah kamu kepada Allah dan Ketahuilah bahwa Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.”

Dengan demikian, pendidikan seks dalam Islam adalah satu paket dengan pendidikan nilai yang lain. Inilah salah satu ciri yang membedakan pendekatan pendidikan seks sekuler. Pemisahan pendidikan dari dari pesan-pesan nilai Islam akan mengakibatkan hilangnya sasaran yang hendak dicapai dalam pembinaan moral. Inilah penyebab kegagalan pendidikan seks sekuler

selama ini. Pendidikan seks hanya berupa penyampaian pengetahuan seputar seksualitas manusia.14

Manusia itu diciptakan Allah sebagai makhluk yang paling mulia diantara makhluk-makhluk lainnya. Allah menganugerahkan naluri kepada manusia untuk mempertahankan keturunan sebagai konsekuensi kemuliaannya itu. Naluri itu yang kemudian kita kenal sebagai naluri seks yang harus diarahkan pada naluri yang di rahmati Allah, sebagaimana firman Allah dalam surat Yusuf ayat 53:

⌦ ⌧

Artinya:

“Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), Karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang”

Ayat diatas menunjukan bahwa ada dua jenis nafsu syahwat, yaitu nafsu liar (hewani) dan nafsu yang dirahmati Allah SWT. Nafsu liar akan membawa manusia kepada kejahatan, sedangkan nafsu yang dirahmati Allah akan memberikan kasih sayang yang diwujudkan dalam perkawinan, dijelaskan dalam firman Allah dalam surat ar-Rum ayat 21:

Artinya:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”

Sungguh, Islam telah mengatur segala-galanya. Meskipun manusia diberi keleluasaan untuk menyalurkan hasrat seksualnya, namun bukan berarti

14

Marzuki Umar Sa’bah, Seks dan Kita, (Jakarta: Gema Insani Press, 1988), Cet I, h. 322-324.

25

melaksanakan kebebasan seksual. Sebab, keleluasannya dalam menyalurkan dorongan seksual harus tetap dalam ikatan nikah sebagaiman firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 223:

Artinya:

“Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, Maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan Ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.”

Melalui tali pernikahan itulah, kesucian masalah seksual bisa terpelihara. Masalah seksual yang dianggap jijik, kotor, hina oleh kaum rahbaniyyah atau yang didewa-dewakan oleh kaum yang menyuarakan kebebasan seksual, maka oleh Islam ditempatkan secara terhormat. Ia bukanlah masalah yang jijik dan kotor. Namun ia bukan pula sebagai sesuatu yang diagung-agungkan sehingga manusia justru diperbudaknya. Namun ia merupakan sesuatu yang bersifat biologis yang memiliki kaitan dengan moral.

Tak mengherankan, bila didalam Islam banyak sekali aturan-aturan yang berkenaan dengan masalah seksual ini. Banyak petunjuk-petunjuk yang duberikan al-Qur’an, dan banyak pula contoh perbuatan yang dilakukan Rasulullah SAW sebagai dasar pendidikan seksual.

Diantara tuntutan yang diajarkan Islam dalam kaitannya dengan masalah seksual, misalkan: larangan hidup membujang, menjaga pandangan mata terhadap lawan jenis yang bukan mahromnya, perlunya para wanita menutup aurat, takterkecuali bagi laki-laki dengan batasan-batasan tertentu, larangan kawin dengan saudara sekandung (incest), begitupun dengan yang sepersusuan, menjauhi (tidak bersetubuh) dengan istri yang sedang haidh, larangan berdua-duaan antara laki-laki dan wanita yang bukan mahromnya (khalwat), adab bersetubuh, adab berhias bagi wanita, larangan berzina, adab meminang, sifat malu wanita saat dipinang, cara memilih calon istri, larangan beristri lebih dari empat orang, sikap istri bila diminta “tidur” bersama oleh suami dan sebagainya.

Semua hal tersebut diatas, merupakan pedoman pendidikan seksual yang telah dinyatakan dalam al-Qur’an dan sunnah Nabi SAW. Adanya pedoman pendidikan seksual tersebut sebagai konsekuensi dari pengakuan Islam terhadap naluri seksual. Dan sebagai bukti, bahwa Islam menjunjung tingggii kesucian dan keluhuran dorongan-dorongan seksual pada manusia.15

Pandangan Islam tentang seks ini berdasar atas pengetahuan tentang fitrah manusia, sehingga tidak ada seorangpun di dalam masyarakat yang berani melampaui batas-batas fitrahnya, dengan cara penyimpangan yang bertentangan dengan nalurinya. Tetapi ia akan menempuh cara sesuai dengan metode lurus yang telah digariskan Islam, yaitu institusi perkawinan. Sebagaimana firman Allah dalam surat ar-Rum diatas.

Dari sini kita dapat mengetahui bahwa Islam mengharamkan upaya menghindarkan diri dari perkawinan dan zuhud di dalamnya dengan niat mengosongkan diri untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Terutama sekali jika muslim ini mampu untuk kawin dan segala sarananya mudah ia dapatkan. Bahkan, di dalam syari’at Islam, kita mendapatkan bahwa syari’at memerangi secara keras setiap penyeruan rahbaniyyah yang dibenci dan hina itu, karena bertentangan dengan fitrah, naluri dan kecenderungan manusia.

Al-Baihaqi meriwayatkan di dalam hadits Sa’ad bin Abi Waqash ra:

ﺔ ّ اﺔّ ا ﺔّ ﺎ هّﺮ ﺎ ﺎ ﺪ أ ﷲا ّنإ

Artinya:

“Sesungguhnya Allah telah menggantikan rahbaniyyah dengan al-Hanifiyyah yang luhur” Ath-Thabrani dan al-Baihaqi meriwayatkan dari Rasulullah SAW, bahwa beliau bersabda:

ﻰ ﻜ ّﺛ ﻜ ّ نﻷاﺮ ﻮ نﺎآ

Artinya:

“Barang siapa mudah baginya untuk kawin, kemudian ia tidak kawin, maka ia bukan termasuk umatku”

15

Ayip Syafruddin, Islam dan Pendidikan Seks Anak, (tt, CV.Pustaka Manti, 1992), h. 32-33

27

Diantara sikap Rasulullah SAW di dalam mendidik masyarakat dan mengatasi kerusakan-kerusakan jiwa, adalah sebagaimana sebagaimana yang terlihat di dalam hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Anas ra, bahwa:

Tiga macam manusia telah datang kepada istri-istri Nabi SAW, bertanya kepada mereka tentang ibadah beliau. Ketika mereka diberitahukan tentang ibadah beliau itu, seakan-akan mereka memandangnya sedikit, sehingga mereka bertanya, “dimanakah kedudukan kami disisi Nabi SAW, sedang beliau telah diampuni dari dosanya yang telah lalu dan yang akan datang?” salah seorang diantara mereka berkata, “adapun aku, selalu tidak luput dari shalat malam”, yang lain berkata, “aku selalu berpuasa dan tidak pernah berbuka”, dan yang lainnya berkata, “aku menghindarkan diri dari kaum wanita dan tidak pernah kawin”. Kemudian, datanglah Rasulullah SAW seraya bersabda, “kaliankah yang berkata anu dan anu itu? Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa kepada-Nya daripada kalian. Tetapi, aku berpuasa dan aku berbuka, aku shalat dan aku tidur, dan aku mengawini kaum wanita. Oleh karena itu, barang siapa benci terhadap sunnahku, maka ia bukan termasuk umatku”.

Sikap rasulullah SAW ini merupakan penjelasan yang paling besar bahwa Islam adalah dini ‘l-fitrah, way of life dan risalah keabdian sampai Allah mewariskan bumi dan segala isinya. Dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?

Diantara pandangan Islam tentang seks adalah bahwa Islam memandang pemenuhan syahwat dan naluri secara halal melalui perkawinan, termasuk salah satu amal saleh. Pelakunya berhak mendapatkan keridhaan Allah, balasan dan pahala.16

C. Awal Penerapan Pendidikan Seks

Insting seksual (gharijah jinsiyah) bukan suatu hal yang buruk bagi manusia, tapi sangat bermanfaat untuk keberlangsunga generasi muda. Berkat

16

Abdullah Nasih Ulwan, Pedoman Pendidikan Anak Dalam Islam, (Bandung: Asysyifa, 1998), h. 667-669

insting ini juga manusia menjadi betah hidup didunia. Kalau insting ini digunakan secara benar akan terwujud kehidupan yang indah dan menyenangkan bagi umat manusia. Namun sebaliknya kalau manusia menyalahgunakan insting ini secara sewenang-wenang, maka hidup akan menjadi neraka baginya. Guru dan orang tua harus serius memberikan bekal yang praktis untuk anak-anak dalam segala tahapnya sehingga mereka terhindar dari perbuatan asusila.

Anak-anak yang mudah terangsang memang harus ditangani dengan benar. Sebagian orang mengira bahwa anak-anak yang belum baligh tidak mengerti apa-apa tentang seks, dan bahkan tidak memiliki sensitivitas tertentu. Pandangan seperti ini tampaknya harus segera dirubah karena menurut riset anak-anak sudah mengalami rasa nikmat, dan bahkan bisa dilihat. Alat kemaluan anak-anak laki-laki bahkan tegang ketika tersentuh. Anak-anak yang berusia 5 sampai 6 tahun kadang-kadang suka melihat kemaluan temannya dan kadang-kadang saling menyentuh.

Para ahli psikolog mengatakan bahwa anak-anak yang berusia 6 sampai 7 tahun sudah bis membayangkan hubungan seks dan bahkan ingin mengetahuinya lebih jauh lagi. Dari usia 8 tahun sampai 9 tahun kadang-kadang mereka secara sembunyi-sembunyi berbicara dengan kawan-kawannya membicarakan masalah seks. Kadang-kadang mereka juga ingin mengetahui rahasia hubungan seks kedua orang tua mereka. Semakin dewasa, semakin besar hasrat seksula mereka. Hasrat seksual pada anak-anak memang tampak dalam bentuk yang berbeda-beda. Kecenderungan seperti itu jika masih dalam batas-batas kewajaran, maka tidak akan menjadi masalah. Namun jika anak-anak sudah kecanduan dengan seksual , maka ini tidak bisa dibiarkan lagi. Anak-anak yang cepat matang secara seksual akan mengalami kesulitan-kesulitan mental, sebab ia tidak bisa memuaskan hasratnya lewat pernikahan resmi. Sebagian anak-anak juga ada yang terbiasa melakukan onani sejak kecil, jika tidak bisa dihentikan kebiasaan ini sejak kecil maka akan terbawa sampai dewasa. Orang tua harus melakukan pengawasan dan berusaha

Dokumen terkait