BAB III PENYIMPANGAN DALAM PENGADAAN BARANG MILIK
B. Pengertian Penyimpangan Dalam Pengadaan Rumah Negara
1.Pengertian Penyimpangan
Secara primer penyimpangan adalah perilaku yang menyimpang dari kewajiban-kewajiban normal suatu jabatan pemerintahan, karena kepentingan pribadi (keluarga, golongan, kawan akrab), demi mengejar status dan gengsi, melanggar peraturan dengan jalan melakukan atau mencari pengaruh bagi kepentingan pribadi atau kelompoknya36.
Penyimpangan dimaksudkan pula sebagai perbuatan dan atau perilaku dari orang dan kelompok untuk melakukan penyelewengan yang hal itu dimintakan legalisasi atau diusulkan diadakannya perubahan atas ketentuan yang berlaku, sehingga untuk dikemudian hari yang demikian itu tidak lagi merupakan suatu penyimpangan yang tidak sah37.
35
Paparan Audit Ketua Badan Perwakilan Keuangan Atas Audit BPK Tahun 2010 di Depan Anggota DPR RI, Maret 2011
36 J.S.Nye, Corruption and Political Development a Cost Benefit Analysis, Harvard University,1967
37
Bimbingan Teknis Penyelesaian Keuangan Negara, Badan Akuntansi Keuangan Negara (BAKUN), 1996
Penyimpangan sekunder adalah suatu perilaku yang dapat menunjukkan kepada pelanggaran-pelanggaran yang serius, berulang-ulang, diorganisir dan diintregrasikan sebagai bagian dari citra pribadi si pelaku. Hal yang mendasar yang turut mengembangkan keadaan itu adalah penilaian negatif masyarakat terhadap si pelaku. Ketika keadaan itu dirasakan sebagai suatu ancaman terhadap kesejahteraannya maka masyarakat akan memberikan dorongan kepada pelanggar hukum dalam bentuk kepercayaan-kepercayaan yang berkaitan dengan sebab-sebab tingkah lakunya.
Pemberian dorongan kepada pelanggar hukum ini, kemudian dihayati melalui serangkaian interaksi yang mengarah pada penyimpangan sekunder. Selanjutnya suatu yang terjadi dalam masyarakat yang disebabkan oleh adanya penilaian mengenai tindakan tersebut dan melembagakan ukuran-ukuran penekanannya terhadap si pelanggar hukum seringkali muncul dalam suatu siklus umpan balik yang semakin menimbulkan penyimpangan dan pemberian cap (labeling).
2. Bentuk Penyimpangan Secara Pidana Dalam Pengadaan Rumah
Negara
Untuk penyimpangan secara pidana dalam pengadaan rumah negara dapat berupa penggelapan, penipuan, tindak pidana korupsi dan penyalahgunaan jabatan atau wewenang serta pemalsuan.
Penyimpangan dalam pengadaan aset Negara bisa dikategorikan sebagai korupsi karena merupakan jenis kegiatan yang melawan hukum melakukan
perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan Negara atau perekonomian Negara38.
a. Jenis-Jenis Tindak Pidana Dalam Pengadaan Rumah Negara
Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa untuk penyimpangan secara pidana dalam pengelolaan rumah negara dapat berupa penggelapan, pencurian, penipuan, tindak pidana korupsi dan penyalahgunaan jabatan atau wewenang serta pemalsuan. Untuk dapat mengetahui akar dari setiap jenis tindak pidana yang kerap terjadi dalam pengelolaan rumah negara, maka jenis tindak pidana dalam pengelolaan rumah negara haruslah dibahas satu demi persatu sebagai berikut.
1. Tinjauan Umum Tentang Tindak Pidana Penggelapan
Tindak pidana penggelapan diatur dalam BAB XXIV pasal 372 sampai dengan pasal 377 KUHP. Dalam aturan ini yang dimaksud dengan penggelapan adalah sebagai berikut :
“Barangsiapa dengan sengaja dan dengan melawan hukum memiliki barang, yang sama sekali atau sebagian kepunyaan orang lain, dan yang ada padanya bukan karena kejahatan, dipidana karena penggelapan, dengan pidana penjara selama-lamanya empat tahun atau denda sebanyak-banyaknya sembilan ratus rupiah.”
38
Dalam aturan ini hampir sama dengan pencurian, hanya saja dalam penggelapan barang yang diambil sudah berada dalam penguasaan si pelaku dengan cara yang sah.
2. Tinjauan Umum Tentang Tindak Pidana Penipuan
Penipuan diatur dalam BAB XXV KUHP yaitu dalam pasal 378 hingga 395. Dalam pasal-pasal yang mengatur mengenai penipuan ini dibedakan menjadi penipuan biasa, penipuan dengan pemberatan dan penipuan ringan. Untuk induk dari pasal yang mengatur mengenai penipuan sendiri terdapat dalam pasal 378 KUHP yang berbunyi sebagai berikut :
“Barangsiapa dengan maksud hendak menguntungkan dirinya atau orang lain dengan melawan hukum, baik dengan memakai nama palsu atau peri keadaan yang palsu, baik dengan tipu muslihat, maupun dengan rangkaian kebohongan, membujuk orang supaya memberikan sesuatu barang atau supaya membuat utang atau menghapuskan piutang, dipidana karena penipuan dengan pidana penjara selama-lamanya empat tahun.”
Unsur yang terdapat dalam pasal ini adalah orang yang membujuk orang lain untuk memberikan suatu barang, membuatutang, meniadakan suatu piutang dengan melawan hukum dengan :
a. Tipu-muslihat;
c. Nama palsu;
d. Peri keadaan palsu;
Membujuk disini adalah menanamkan pengaruh demikian rupa terhadap orang, sehingga orang yang dipengaruhinya mau berbuat sesuatusesuai dengan kehendaknya, padahal apabila orang itu mengetahui duduk soal yang sebenarnya, orang tersebut tidak akan mau melakukan perbuatan tersebut. Mengenai cara memberikan barang tidak harus diserahkan kepada terdakwa sendiri dan tidak harus diserahkan oleh korban sendiri, namun bisa melalui orang lain. Menguntungkan diri sendiri dengan melawan hukum berarti menguntungkan diri sendiri dengan tiada hak. Tipu muslihat berarti suatu hal yang tidak sesuai dengan kenyataan yang dirancang sedemikian hingga membuat orang lain percaya,, dimana hal ini setali dengan rangkaian kebohongan yang merupakan susunan cerita bohong yang saling menutupi satu sama lain. Peri keadaan palsu sendiri adalah suatu kebohongan mengenai suatu keadaan, dengan contoh suatu pengakuan jabatan yang sebenarnya tidak melekat pada si pelaku.
3. Tinjauan Umum tentang Pemberian suap dan gratifikasi
Tindak Pidana penyuapan diatur dalam KUHP pasal 209,210,418,419 dan 420.
Diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empar ratus lima puluh ribu rupiah
1) Barang siapa memberi atau menjanjikan sesuatu kepada seorang pejabat dengan maksud menggerakkannya untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya
2) Barang siapa memberi sesuatu kepada seorang pejabat karena atau
berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya.
Ciri delik suap adalah39 :
1. Peran aktif antara penyuap dengan pejabat
2. Terdapat deal/kesepakatan dua pihak mengenai besaran nilai suap yang akan ditransaksikan dan cara penyerahannya.
Sedangkan untuk gratifikasi diatur dalam pasal 11 UU No 20 tahun 2011
“Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1(satu) tahun dan paling lama 5(lima) tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah), pegawai negeri atau penyelenggara Negara yang menerima hadiah atau janji pdahal diketahui atau patut diduga, bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan karena kekuasaan atau kewenangan yang berhubungan dengan
39
R. Dyatmiko Soemodihardjo, Mencegah dan Memberantas Korupsi, Mencermati Dinamikanya Di Indonesia, (Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher,2008),hal 67.
jabatannya, atau yang menurut pikiran orang yang memberikan hadiah atau janji tersebut ada hubungan dengan jabatannya”
Ciri delik gratifikasi adalah40:
1. Tidak ada peran aktif dari pegawai negeri atau penyelenggara Negara
2. Tidak ada tekanan pada pemberian suap
3. Tidak ada deal/termasuk transaksi dan penyerahannya, serta
4. Pemberian kepada pegawai negeri atau pejabat Negara tanpa adanya perencanaan/tidak terduga
4. Tinjauan Umum Tentang Tindak Pidana Penyalahgunaan Jabatan dan
Korupsi
Tindak pidana ini diatur dalam BAB XXVIII tentang Kejahatan Yang Dilakukan dalam Jabatan. Dalam Bab ini banyak terdapat pasal-pasal yang dapat dikategorikan sebagai tindak pidana dalam pengelolaan rumah negara, antara lain pada pasal 418, dan 419. Untuk tindak pidana ini erat kaitannya dengan tindak pidana korupsi karena hal-hal yang telah diatur dalam pasal 418 dan 419 BAB XXVIII KUHP juga diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.41
40
Firman Wijaya, Delik Penyalahgunaan Jabatan dan Suap Dalam Praktek, (Jakarta: Penaku,2011),hal.50
41 Selanjutnya disebut dengan Undang-Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
Korupsi sendiri diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Penjelasan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara Yang bersih Dan Bebas Dari Korupsi, Kolusi Dan Nepotisme, Penjelasan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara Yang bersih Dan Bebas Dari Korupsi, Kolusi Dan Nepotisme, United Nations Convention Against Corruption, 2003, dan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2006 tentang Pengesahan United Nations Convention Against Corruption, 2003.
Tindak pidana korupsi yang diatur dalam Undang-Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi terdapat dalam Pasal 2 Ayat 1 yang berbunyi sebagai berikut :
“Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp.
200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah).”
Penyimpangan dalam pengadaan rumah negara sangat rentan dengan praktik kejahatan dalam jabatan dan tindak pidana korupsi, seperti yang diatur dalam Pasal 3 Undang-Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang berbunyi sebagai berikut :
“Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendriri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan atau denda paling sedikit Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah).”
Serta pasal 13 Undang-Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang berbunyi sebagai berikut :
“Setiap orang yang memberi hadiah atau janji kepada pegawai negeri dengan mengingat kekuasaan atau wewenang yang melekat pada jabatan atau kedudukannya atau oleh pemberi hadiah atau janji dianggap melekat pada jabatan atau kedudukan tersebut, dipidan dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan atau denda paling banyak Rp. 150.000.000,- (seratus lima puluh juta rupiah).”
b. Korupsi Dalam Tinjauan Hukum Pidana Islam
“Fikih “Jinayat”” terdiri dari dua kata, yaitu fikih dan “Jinayat”. Pengertian “fikih” secara bahasa berasal dari lafal “faqiha, yafqahu fiqhan”, yang berarti mengerti, paham. Pengertian “fikih” secara istilah yang dikemukakan Abdul Wahab Khallaf adalah :
! "#$
%$
&
' $ ( ) ! *
%$
Artinya : “Fikih adalah ilmu tentang hukum-hukum syara’ praktis yang diambil dari dalil-dalil yang terperinci, Atau fikih adalah himpunan hukum-hukum syara’ yang bersifat praktis yang diambil dari dalil-dalil yang terperinci.”42
Adapun ““Jinayat”” menurut bahasa adalah :
+,
-". / * 012 3 " 45
Artinya : “Nama bagi hasil perbuatan seseorang yang buruk dan apa yang diusahakan.”
Pengertian “Jinayat” secara istilah fuqaha sebagaimana yang dikemukakan oleh Abdul Qadir Audah adalah :
!
" # $% & ' ! & ( ) *+
Artinya : “Jinayat” adalah suatu istilah untuk perbuatan yang dilarang oleh syara’, baik perbuatan tersebut mengenai jiwa, harta atau42
lainnya43. Jika digabungkan maka pengertian “Fikih Jinayat” adalah ilmu tentang hukum syara’ yang berkaitan dengan masalah perbuatan yang dilarang dan hukumannya, yang diambil dari dalil-dalil yang terperinci.
Bentuk-bentuk korupsi sebagaimana definisi diatas dapat dijumpai ungkapannya dalam berbagai kasus yang terangkum dalam beberapa konsep-konsep normatif dan fiqih, beberapa istilah-istilah tersebut adalah :
a) Ghulul
Secara leksikal ghulul dimaknai dengan “akhdzu al-syai wa dassahu fi mata’ih” ( mengambil sesuatu dan menyembunyikan dalam hartanya )44. Pada mulanya ghulul merupakan istilah bagi penggelapan harta rampasan perang sebelum dbagikan. Oleh karena itu, Ibn Hajar al-Asqalani mendefinisikannya dengan “al-khiyanah fi al-maghnam” ( pengkhianatan pada harta rampasan perang )45. Tindak kejahatan ini disebut dalam QS Ali ‘Imran [3] : 161
! , -*. /,& 0 /1! / +/0 2/3 45 % / ! $6/ 7 8 9 -(/) ! /:.;-/ < = , 4+/> ( CDCBA@, 4 '?) 43
Abdul Qadir Audah, At Tasyri’ Al Jina’iy Al Islamiy, Juz 1, (Beirut : Dar Al Kitab Al ‘Araby, tanpa tahun). Hal.67.
44
Muhammad Rawwas Qal’aji dan Hamid Shadiq Qunaibi, Mu’jam Lughat al-fuqaha’, ( Beirut Dar al-Nafis,1985 ), h.334.
45
Ibn Hajar ‘Asqalani, Fath Bari bi Syarh Shahih Bukhari, ( Kairo: Dar Diwan
Artinya : “Dan tidaklah mungkin seorang Nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barang siapa yang berkhianat, maka ia akan datang pada hari kiamat membawa apa yang dikhianatinya. Kemudian setiap jiwa akan diberi pembalasan sesuai dengan apa yang ia kerjakan, dan tak seorang pnn akan” diperlakukan secara lalim. ( QS Ali ‘Imran/3: 161 )
b) Risywah
Kata risywah secara leksikal mengacu pada kata rasya-yarysu-risywatan
yang bermakna al-ju’l yang berarti upah, hadiah, pemberian atau komisi. Sedangkan riywah secara terminologis adalah tindakan memberikan harta dan yang sejenis untuk membatalkan hak milik pihak lain atau mendapatkan atas hak milik pihak lain46. Pengertian tersebut sesuai dengan pengertian para ulama, di antaranya al-Shan’ani dalam Subul al-Salam yang memahami korupsi sebagai “upaya memperoleh sesuatu dengan mempersembahkan sesuatu”47. Kejahatan ini disebut dalam hadits Nabi :
EF *G9 4 * H ' I 1 ' J H *KI , 5 7 1
B *
4L $5 *G4 MN
Artinya : Tsauban berkata : Rasullullah melaknat penyuap, penerima suap dan perantara ( yaitu orang yang menghubungkan keduanya48.
c)Khiyanah
46
Rawwas Qal’aji, h.233.
47
Al-Shan’ani, Subul al-Salam, ( Beirut : Dar al-Shadr,tt.), XIV,h.322
48
Khiyanat (khianat) secara umum berarti tidak menepati janji. Dalam QS al-Anfal [8]: 27 dikemukakan tentang larangan mengkhianati Allah dan Rasul-Nya : L & 1 N !O = ) P9 J+ ' ) P9 / Q9 ) !& / R/)& , 4+/ 9 (UVBT@' )S) Artinya : Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul-Nya dan jangan pula kamu berkhianat terhadap amanat yang diberikan kepadamu sedangkan kamu mengetahuinya.( QS al-Anfal/8:27)
Khianat juga merupakan sesuatu yang melekat pada ghulul sebab orang yang melakukan ghulul berarti berkhianat. Sebagaimana penjelasan berikut ini : Mengkorupsi sesuatu berarti menyembunyikan sesuatu itu ke dalam hartanya dan menyembunyikannya, kemudian dia mengkhianati sahabatnya dalam (harta) itu49
d) Mukabarah dan ghasab
Ghasab adalah mengambil sesuatu dari tangan seseorang dengan jalan kekerasan (paksa)50.
Sedangkan pengertian Mukabarah sangat umum, meliputi eksploitasi secara tidak sah atas benda dan manusia. Dengan pengertian ini maka ghasab termasuk di dalamnya karena merupakan tindakan menguasai atau mengeksploitasi milik
49
M.Shadiq Khan, Nail al-Maram min Tafsir Ayat al-Ahkam, 1929,h.99
50
Pencarian lewat internet www.google.com kata pencarian : Pengertian Ghasab Artikel di akses pada 14 April 2011
pihak lain berdasarkan kekuatan dan kekuasaan. Kejahatan ini disinggung dalam QS al-Kahfi [18]: 79 :
67 6/8* 8 8. 6 976 :; 8<6=6> [email protected] B> 67 C8 @8D 8E/ 8 8 @F8G 6 6> C84 $H H6
I.@%6J K84 $8- LMC/ CN,O9=8D PQ H ,!3 8<8*
(WX VTUSR )
Artinya : Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut dan aku bertujuan merusak bahtera itu, karena di hadapan mereka ada raja yang merampas tiap-tiap bahtera.
( QS al-Kahfi/18:79 )
e) Sariqah
Sariqah adalah tindakan mengambil harta pihak lain secara sembunyi-sembunyi tanpa ada pemberian amanat atasnya. Kejahatan ini disinggung dalam QS al-Maidah [5] : 38 :
1W! = Q) .;- 45 XY 4L Z/& / [/ I \; ]I \;
$Q^ X X J+ J+
(AT B `@_ZF 4 )
Artinya : Laki-laki dan perempuan yang mencuri potonglah tangan keduanya sebagai balasan bagi keduanya dan siksaan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.( QS al-Maidah/5:38)
Inthikab atau merampas dan menjambret juga termasuk salah satu jenis penyimpangan terhadap pengadaan aset Negara karena jika dilihat dari hakikatnya sebagai pemindahan hak yang bertentangan dengan hukum.
67
POSITIF NEGARA