BAB II TINJAUAN TEORITIS
3. Pengertian Penyuluh Agama
Istilah Penyuluh Agama mulai disosialisasikan sejak tahun 1985 yaitu dengan adanya Keputusan Menteri Agama nomor 791 Tahun 1985 tentang honorarium bagi Penyuluh Agama. Istilah Penyuluh Agama dipergunakan untuk mengganti istilah Guru Agama Honorer (GAH) yang dipakai sebelumnya di lingkungan kedinasan Departemen Agama. Sesuai dengan peraturan pemerintah nomor 16 Tahun 1994 tentang Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil antara lain dinyatakan bahwa untuk
8 Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), edisi ketiga, h. 1100.
9 Khairul Umam dan H. A. Achyar Aminudin, Bimbingan Dan Penyuluhan, (Bandung:
CV. Pustaka Setia, 1998), h. 76.
meningkatkan mutu profesionalisme dan pembinaan karir pegawai negeri sipil perlu ditetapkan jabatan fungsional.10
Sebagai pelaksanaan dari ketentuan tersebut diatas, dikeluarkan keputusan Presiden nomor 87 Tahun 1999 tentang rumpun jabatan fungsional pegawai negeri sipil yang antara lain menetapkan bahwa penyuluh agama adalah jabatan fungsional pegawai negeri yang termasuk dalam rumpun jabatan keagamaan. Mengacu pada peraturan diatas, pengertian Penyuluh Agama adalah pegawai negeri sipil yang diberi tugas, tanggung jawab dan wewenang secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan bimbingan keagamaan dan penyuluhan pembangunan melalui bahasa agama.11
Maka dapat disimpulkan bahwa Penyuluh Agama adalah orang yang memberikan bimbingan atau penerangan kepada orang lain untuk meningkatkan pengertian dan kemampuan dalam menghadapi dan memecahkan masalah melalui bahasa Agama.
4. Peran Penyuluh Agama
Berkaitan dengan peran (baik dari organisasi pemerintah maupun organisasi non pemerintah), sebenarnya ada berbagai peran yang dapat dilaksanakan, di mana masing-masing terdapat peran-peran yang lebih spesifik yang lebih mengarah pada teknik-teknik antara lain:12
10 Pelaihari KP, “Kompetensi Dasar Penyuluh Agama Tingkat Fungsional”, artikel diakses pada tanggal 26 September 2011 dari
http:/penemasdramaga.blogspot.com/2010/10/sejarah-pengertian-dan-tupoksi-penyuluh.html
11 Pelaihari KP, “Kompetensi Dasar Penyuluh Agama Tingkat Fungsional”.
12 Isbandi Rukminto Adi, “Pemikiran-pemikiran dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial”. (Jakarta: Lembaga Penerbit FE-UI,2002), h. 196.
1. Peran-peran Fasilitatif a. Animasi Sosial
Animasi sosial menggambarkan kemampuan petugas sebagai agen perubah atau pemberdaya masyarakat untuk membangkitkan energi, inspirasi, antusiasme masyarakat, termasuk di dalamnya mengaktifkan, menstimuli dan mengembangkan motivasi masyarakat untuk bertindak.
b. Mediasi dan Negoisasi
Agen perubah dalam melakukan upaya intervensi sosial (perubahan sosial yang terencana) kadangkala bertemu dengan situasi dimana terjadi konflik minat dan nilai dalam komunitas. Berkaitan dengan hal tersebut agen perubah harus dapat menjalankan fungsi mediasi ataupun menjadi mediator guna menghubungkan kelompok-kelompok yang sedang berkonflik agar tercapai sinergi dalam komunitas tersebut. Peran sebagai mediator ini tentu saja terkait dengan peran negoisator. Karena ditengah kelompok yang sedang berkonflik, tidak jarang seorang agen perubah harus mampu menengahi dan mencari titik temu yang dapat dikerjakan bersama oleh kelompok-kelompok yang sedang berkonflik tersebut.
c. Pemberi Dukungan
Dalam kaitan dengan peran sebagai pemberi dukungan bahwa salah satu peran dari agen perubah adalah untuk menyediakan dan mengembangkan dukungan terhadap masyarakat yang mau terlibat dalam struktur dan aktifitas komunitas tersebut. Dukungan itu sendiri
tidak selalu bersifat ekstrinsik ataupun material, tetapi dapat juga bersifat intrinsik seperti pujian, penghargaan dalam bentuk kata-kata, ataupun sikap dan perilaku yang menunjukkan dukungan dari agen perubah terhadap apa yang dilakukan masyarakat, seperti menyediakan waktu bagi masyarakat bila mereka ingin berbicara dengan agen perubah guna membahas permasalahan yang mereka hadapi.
2. Peran-peran Edukasional
a. Membangkitkan Kesadaran Masyarakat
Upaya membangkitkan kesadaraan masyarakat berawal dari upaya menghubungkan antara individu dengan struktur yang lebih makro (seperti struktur sosial dan politik). Hal ini bertujuan untuk membantu individu melihat permasalahan, impian, aspirasi, penderitaan ataupun kekecewaan mereka dari perspektif sosial politik yang lebih luas.
b. Menyampaikan Informasi
Dalam upaya memberdayakan masyarakat tidak jarang juga harus menyampaikan informasi yang mungkin belum diketahui oleh sasarannya. Dengan hanya memberikan informasi yang relevan mengenai suatu masalah yang sedang dihadapi komunitas sasaran tidak jarang dapat menjadi peran yang bermakna terhadap komunitas tersebut.
Oleh karena itu, dengan Islam penyuluh agama bertugas mengarahkan umat agar masuk ke dalam ajaran Islam secara utuh, menyeluruh dan universal.
5. Pengertian Agama
Secara etimologi agama berasal dari kata sangkrit, kata “Ad-dien”
yang dari bahasa Arab dan “Religi” dalam bahasa Eropa.13 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, agama berarti prinsip kepercayaan kepada Tuhan dan ajaran-ajarannya dan kewajiban-kewajiban yang berhubungan dengan kepercayaan itu.14
Dalam Kamus Sosiologi, pengertian ada tiga macam, yaitu (1) kepercayaan pada hal-hal yang spiritual; (2) perangkat kepercayaan dan praktik-praktik spiritual yang dianggap sebagai tujuan tersendiri; dan (3) ideologi mengenai hal-hal yang bersifat supra natural. Sementara itu, Thomas F. O’Dea mengatakan bahwa agama adalah pendayagunaan sarana-sarana supra empiris untuk maksud-maksud non empiris atau supra empiris.
Dari beberapa definisi diatas, jelas tergambar bahwa agama merupakan suatu hal yang dijadikan sandaran penganutnya ketika terjadi hal-hal yang berada di luar jangkauan dan kemampuannya karena sifatnya yang supra natural sehingga diharapkan dapat mengatasi masalah-masalah yang non empiris.15
Adapun yang dimaksud dengan fungsi agama adalah peran agama dalam mengatasi persoalan-persoalan yang timbul dimasyarakat yang tidak dapat dipecahkan secara empiris karena adanya keterbatasan kemampuan dan ketidakpastian. Oleh karena itu, diharapkan penyuluh agama menjalankan
13 Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta: UI Press, 1987), Cet V, Jilid I, h. 9.
14 Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Balai Pustaka, 1992), edisi 2, h. 10.
15 Dadang Kahmad, Sosiologi Agama. (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. 2002). h. 129-130.
fungsinya sehingga masyarakat merasa sejahtera, aman, stabil, dan sebagainya.
Thomas F. O’Dea menuliskan enam fungsi agama, yaitu:
1. Sebagai pendukung, pelipur lara, dan perekonsiliasi
2. Sarana hubungan transcendental melalui pemujaan dan upacara ibadat 3. Penguat norma-norma dan nilai-nilai yang sudah ada
4. Pengkoreksi fungsi yang sudah ada 5. Pemberi identitas diri, dan
6. Pendewasaan agama
Fungsi agama yang dijelaskan oleh Hendropuspito lebih ringkas lagi, tetapi intinya sama. Menurutnya, fungsi agama itu adalah edukatif, penyelamatan pengawasan sosial, memupuk persaudaraan, dan transformatif.16
Agama dapat dipandang sebagai doktrin yang diyakini secara mutlak kebenarannya. Metodologi penelitian agama dalam konteks ini merupakan berbagai pendekatan yang dilakukan untuk memahami agama tersebut. Selain itu, masuk kedalam konteks ini ialah sejarah perkembangan kajian keagamaan; proses terbentuknya rumusan-rumusan hukum agama; dan sejarah intelektual kajian agama.
Namun demikian, agama sebagai doktrin diduga memberikan kontribusi terhadap dinamika dan tatanan sosial, politik dan ekonomi. Sistem pelapisan masyarakat sedikit banyak dipengaruhi doktrin-doktrin agama yang diyakini, sehingga agama melahirkan kenyataan empiris sebagai gejala
16 Dadang Kahmad, Sosiologi Agama. (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. 2002).. h.130
keagamaan. Sikap dan keterikatan pemeluk agama terhadap ajaran agama juga merupakan gejala keagamaan yang menjadi obyek kajian. Selain itu, faktor-faktor yang berpengaruh terhadap sikap dan keterikatan pada ajaran agama seperti pendidikan, lingkungan dan status sosial merupakan salah satu telaahan dalam penelitian agama.17