• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

3. Prilaku nyeri

3.1 Pengertian Perilaku Nyeri

Perilaku nyeri merupakan suatu aspek dari pengalaman nyeri. Ini merupakan perilaku jelas dan kelihatan seperti lemah atau ekspresi wajah yang meringis (Fordyce 1976 dalam harahap 2007). Nyeri yang muncul sering ditandai dengan beberapa jenis perilaku dari kelihatan atau kedengaran yang ditafsirkan sebagai perilaku nyeri (Pilowski, 1994 dalam harahap, 2007). Perilaku nyeri mungkin atau juga tidak mungkin dianggap sebagi kesesuaian untuk tingkatan dari ilmu penyakit tubuh yang diobservasi (Lofvander, 2002 dalam harahap, 2007)

Perilaku nyeri merupakan beberapa dan semua produksi-produksi dari individu yang mana observasi itu layak akan digolongkan sebagai nyeri yang berkesan seperti: (1)Gerakan Tubuh, (2)Ekspresi Wajah ,(3)Pernyataan Verbal, (4) Perebahan badan, (5) Minum obat, (6)Pencarian resep obat dan (7) Penerima kerugian. Perilaku-perilaku nyeri adalah tindakan-tindakan yang berhubungan dengan ketidakmampuan (kecacatan) dan kegelisahan (contoh: kejang, lemas, aktivitas yang menurun) dan telah muncul untuk memainkan peranan penting di dalam penurunan fungsi dari tingkatan yang dimiliki individu dan menambah kondisi nyeri (Fordyce, 1976 dalam harahap, 2007).

Perilaku nyeri merupakan tanda-tanda dari nyeri dan kekuatan dalam memperoleh perhatian dan respon dari yang lain. Anderson, Keefe, dan Bradkley dan koleganya telah mengobervasi bahwa pasien dengan penderita nyeri sering sekali menunjukkan penjagaan (guarding), menggosok pasif (passive rubbing) dan kekakuan (rigidity) sebagai ekspresi-ekspresi dari rasa nyeri mereka. Perilaku nyeri ini mungkin dipelihara, paling sedikit sebagian, oleh konsekuensi kekebelannya mungkin luar biasa, seperti perilaku rasa khawatir dari yang lain, atau fakta dari pengalaman menentang, seperti situasi pekerjaan yang tertekan atau konflik dengan kepentingan lainnya.

Mengobservasi langsung perilaku nyeri merupakan cara pengukuran nyeri yang menghasilkan nilai yang akurat (Fordyce, 1974 dalam Brannon & Feist, 2007). Menurut Turk, Wack, dan Kerns (1985 dalam Dimatteo, 1991) perilaku nyeri yang dapat diobservasi yaitu: (1)Pernyataan Verbal: mengaduh, menangis, sesak nafas dan mendengkur, (2)Ekspresi Wajah: meringis, menggeletukkan gigi, dan menggigit bibir

(3)Gerakan Tubuh: gelisah, imobilisasi, ketegangan otot, peningkatan gerakan jari dan tangan (4)Kontak dengan orang lain/interaksi social: menghindari percakapan, menghindari kontak social, penurunan rentamg perhatian, dan fokus pada aktivitas menghilangkan nyeri.

3.2 Jenis-jenis Perilaku Nyeri

Perilaku nyeri kronis secara khusus berdasarkan atas dasar pikiran sekurang-kurangnya di bagi dua jenis yaitu: perilaku responden dan perilaku operant (Harahap, 2007)

3.2.1Perilaku responden

Perilaku responden merupakan salah satu jenis perilaku refleks sebagai respon terhadap stimulus (Kats, 1998 dalam Harahap, 2007) yang muncul kapanpun (Fordyce, 1976 dalam Harahap, 2007). Stimulus yang muncul biasanya spesifik dan dapat diprediksi (Fordyce, 1976 dalam Harahap, 2007). Perilaku responden merupakan perilaku secara spontan. Ketika stimulus muncul dengan adekuat seperti stimulus nosiseptif, respon perilaku kemungkinan akan terjadi. Dalam perbandingan, ketika stimulus muncul tidak dengan adekuat, perilaku yang nampak tidak akan terjadi. Oleh karena itu, perilaku responden secara keras merupakan faktor-faktor dari stimuli (Harahap, 2007).

Dalam nyeri kronik, ketika nyeri itu muncul, pasien kemungkinan merespon terhadap nyeri tersebut dengan beberapa cara seperti penjagaan (guarding), menggosok (rubbing), meringis (grimacing), menahan nyeri (bracing), dan perilaku nyeri terdengar atau sentuhan yang sering sekali dipengaruhi dari bagian-bagian tubuh. Pelajaran sebelumnya telah menunjukkan

bahwa perilaku nyeri secara positif telah menghubungkan dengan intensitas nyeri dan nyeri hebat. (Ahles et all, 1983 dalam Harahap, 2007).

3.2.2 Perilaku operant

Perilaku operant biasanya tidak berhubungan dengan spesifik respon terhadap stimulus (Kats, 1998 dalam Harahap, 2007). Ini akan muncul sebagai respon secara langsung dan otomatis terhadap stimulus yang muncul, sama juga sebagai perilaku responden. Tetapi perilaku operant mungkin muncul karena perilaku-perilaku tersebut telah diikuti dengan positif atau konsekuensi yang kuat (Fordyce, 1976 dalam Harahap, 2007). Perilaku operant sering kali tidak berhubungan dengan spesifik respon terhadap stimulus yang muncul (Kats, 1998 dalam Harahap, 2007).

3.3 Respon perilaku nyeri

Pada saat nyeri dirasakan, pada saat itu juga dimulai suatu siklus. Apabila tidak diobati atau tidak dilakukan upaya untuk menghilangkannya, dapat mengubah kualitas kehidupan individu secara bermakna (Potter&Perry, 2005). Respons perilaku yang timbul pada klien yang mengalami nyeri dapat bermacam- macam. Menurut Brunner dan Suddart (2003) bahwa, respon perilaku yang biasa terhadap nyeri mencakup:

3.3.1 Pernyataan verbal (Mengaduh, Menangis, Sesak Nafas, Mendengkur).

3.3.2 Ekspresi wajah (Meringis, Menggeletukkan gigi, Menggigit bibir).

3.3.3 Gerakan tubuh (Gelisah, Imobilisasi, Ketegangan otot, peningkatan gerakan jari & tangan).

3.3.4 Kontak dengan orang lain/interaksi sosial (Menghindari percakapan, Menghindari kontak sosial, Penurunan rentang perhatian, Fokus pada aktivitas menghilangkan nyeri).

Individu yang mengalami nyeri dengan awitan mendadak dapat bereaksi sangat berbeda terhadap nyeri yang berlangsung selama beberapa menit atau menjadi kronis. Nyeri dapat menyebabkan keletihan dan membuat individu terlalu letih untuk merintih atau menangis. Pasien dapat tidur, bahkan dengan nyeri hebat. Pasien dapat tampak rileks dan terlibat dalam aktivitas karena menjadi mahir dalam mengalihkan perhatian terhadap nyeri( Brunner&Suddart, 2001).

Meinhart & McCaffery (1983) dalam Potter (2005) mendiskripsikan 3 fase pengalaman nyeri:

a. Fase antisipasi (terjadi sebelum nyeri diterima)

Fase ini mungkin bukan merupakan fase yg paling penting, karena fase ini bisa mempengaruhi dua fase lain. Pada fase ini memungkinkan seseorang belajar tentang nyeri dan upaya untuk menghilangkan nyeri tersebut. Peran perawat dalam fase ini sangat penting, terutama dalam memberikan informasi pada klien.

b.Fase sensasi (terjadi saat nyeri terasa)

Fase ini terjadi ketika klien merasakan nyeri. karena nyeri itu bersifat subjektif, maka tiap orang dalam menyikapi nyeri juga berbeda-beda. Toleransi terhadap nyeri juga akan berbeda antara satu orang dengan orang lain. Orang yang mempunyai tingkat toleransi tinggi terhadap nyeri tidak akan mengeluh nyeri dengan stimulus kecil, sebaliknya orang yang toleransi terhadap nyerinya rendah akan mudah merasa nyeri dengan stimulus nyeri kecil. Klien dengan tingkat toleransi tinggi terhadap nyeri mampu menahan nyeri tanpa bantuan, sebaliknya orang yang toleransi terhadap nyerinya rendah sudah mencari upaya mencegah nyeri, sebelum nyeri datang. Keberadaan enkefalin dan endorfin membantu menjelaskan bagaimana orang yang berbeda merasakan tingkat nyeri dari stimulus yang sama. Kadar endorfin berbeda tiap individu, individu dengan endorfin tinggi sedikit merasakan nyeri dan individu dengan sedikit endorfin merasakan nyeri lebih besar.

Klien bisa mengungkapkan nyerinya dengan berbagai jalan, mulai dari ekspresi wajah, vokalisasi dan gerakan tubuh. Ekspresi yang ditunjukan klien itulah yang digunakan perawat untuk mengenali pola perilaku yang menunjukkan nyeri. Perawat harus melakukan pengkajian secara teliti apabila klien sedikit mengekspresikan nyerinya, karena belum tentu orang yang tidak mengekspresikan nyeri itu tidak mengalami nyeri. Kasus-kasus seperti itu tentunya membutuhkan bantuan perawat untuk membantu klien mengkomunikasikan nyeri secara efektif.

Fase ini terjadi saat nyeri sudah berkurang atau hilang. Pada fase ini klien masih membutuhkan kontrol dari perawat, karena nyeri bersifat krisis, sehingga dimungkinkan klien mengalami gejala sisa pasca nyeri. Apabila klien mengalami episode nyeri berulang, maka respon akibat (aftermath) dapat menjadi masalah kesehatan yang berat. Perawat berperan dalam membantu memperoleh kontrol diri untuk meminimalkan rasa takut akan kemungkinan nyeri berulang.

3.4 Klasifikasi Perilaku Nyeri

Perilaku Nyeri pada Pasien Pasca Bedah Open Reduction and Internal Fixation (ORIF)

Banyak faktor fisiologi (motivasi, afektif, kognitif, dan emosional) mempengaruhi pengalaman nyeri total pasien. Temuan riset telah mengarah pada pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana faktor-faktor persepsi, pembelajaran, kepribadian, etnik dan budaya, dan lingkungan dapat mempengaruhi ansietas, depresi, dan nyeri. Tingkat keparahan nyeri pasca operasi tergantung pada anggapan fisiologi dan psikologi individu, toleransi yang ditimbulkan untuk nyeri, letak insisi, sifat prosedur, kedalaman trauma bedah dan bagaimana agens tersebut diberikan (Brunner & Suddart, 2002).

Dokumen terkait