• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR DAN HIPOTESIS

2.3 Prestasi Belajar

2.3.1 Pengertian Prestasi Belajar

Prestasi belajar siswa adalah hasil belajar yang dicapai siswa. Kegiatan belajar siswa yang efisien akan berlangsung apabila dimulai dengan tujuan yang jelas dan terarah. Agar dapat mencapai hasil belajar seperti yang diharapkan, dalam belajar harus disertai dengan semangat dan kemauan yang besar untuk mencapai tujuan tersebut, serta berpartisipasi aktif selama kegiatan belajar berlangsung.

Menurut Achmad Rifa‟I & Catharina Tri Anni (2012: 69) menyatakan bahwa hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh siswa setelah

mengalami kegiatan belajar. Perolehan aspek-aspek perubahan perilaku tersebut tergantung pada apa yang dipelajari oleh siswa, oleh karena itu apabila siswa mempelajari tentang pembuatan blus wanita maka perubahan perilaku yang diperoleh adalah penguasaan pembuatan blus wanita. Belajar menurut Slavin (1994: 152) adalah perubahan individu yang disebabkan oleh pengalaman. Nana Sudjana (1996: 33) mengatakan bahwa belajar dapat diartikan suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari belajar.

Berdasarkan pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa prestasi belajar adalah bukti atau hasil usaha yang telah dicapai oleh siswa setelah mengalami pengalaman. Hasil belajar merupakan tolak ukur untuk mengetahui keberhasilan seseorang. Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktifitas belajar yang mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.

Belajar didalamnya perlu pemahaman terhadap materi yang dipelajari. Berkaitan dengan hal tersebut, pelajaran yang diberikan pada siswa harus memiliki struktur, penyajian jelas dan sederhana. Usaha yang dapat dilakukan siswa agar mempermudah dalam memahami suatu pelajaran yaitu mempelajarinya secara bertahap, menambah wawasan dengan membaca dan mempelajari pelajaran lain yang berkaitan dengan materi yang dipelajari serta berlatih secara berulang-ulang.

Benyamin S. Bloom dikutip dalam buku Chatharina Tri Anni (2012: 70-74) mengusulkan tiga ranah belajar yaitu: ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik.

2.3.1.1 Ranah Kognitif

Ranah kognitif berkaitan dengan hasil belajar berupa pengetahuan, kemampuan dan kemahiran intelektual. Ranah kognitif mencakup kategori pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan penilaian.

Pengetahuan (Knowledge) didefinisikan sebagai perilaku mengingat atau mengenali informasi yang telah dipelajari sebelumnya. Pengetahuan ini meliputi pengingatan kembali tentang rentangan materi yang luas, mulai dari fakta spesifik sampai teori yang kompleks. Misalnya siswa yang ingin mempelajari keterampilan menjahit blus maka yang bersangkutan harus mengetahui langkah-langkah menjahit mulai dari memilih model sampai langkah-langkah kerja membuat blus wanita.

Pemahaman (comprehension) didefinisikan sebagai kemampuan memperoleh makna dari materi siswa. Hal ini ditunjukkan melalui penerjemahan materi siswa, dan melalui mengestimasikan kecenderungan masa depan. Hasil belajar ini berada pada satu tahap di atas pengingatan materi sederhana, dan mencerminkan tingkat pemahaman paling rendah. Pemahaman disini maksudnya agar siswa mampu menjelaskan proses belajar menjahit blus. Penerapannya dalam menjahit blus siswa dapat memahami cara-cara menjahit setiap bagian-bagian blus.

Penerapan (application) adalah kemampuan untuk menggunakan materi pembelajaran yang telah dipelajari didalam situasi baru dan kongkrit. Hal ini mencakup penerapan hal-hal seperti aturan, metode, konsep, prinsip-prinsip, dalil, dan teori. Hasil belajar di bidang ini memerlukan tingkat pemahaman yang lebih

tinggi dari pada tingkat pemahaman sebelumnya. Penerapannya dalam menjahit blus wanita adalah siswa mampu menerapkan bagian-bagian busana yang diperoleh, sehingga mampu untuk mempraktekannya dalam pembuatan blus wanita.

Analisis (analysis) merupakan kemampuan untuk memecahkan materi kedalam bagian-bagian sehingga dapat dipahami struktur organisasinya. Hal ini mencakup identifikasi bagian-bagian, analisis hubungan antar bagian dan mengenali prinsip-prinsip pengorganisasian. Hasil belajar ini mencerminkan tingkat intelektual lebih tinggi daripada pemahaman dan penerapan, karena memerlukan pemahaman isi dan bentuk struktural materi siswa yang telah dipelajari. Penerapannya dalam pembuatan blus wanita adalah siswa mampu menganalisa cara-cara membuat bagian-bagian blus wanita.

Sintesis (synthesis) merupakan kemampuan menggabungkan bagian-bagian dalam rangka membentuk struktur yang baru. Penerapannya dalam menjahit blus wanita, seorang siswa dapat menjahit bagian-bagian blus wanita sesuai dengan teknik menjahit yang benar.

Penilaian (evaluation) merupakan kemampuan membuat keputusan tentang nilai materi pembelajaran untuk tujuan tertentu. Tipe ini mengharapkan siswa dapat membandingkan, menyimpulkan dan memberi pendapat. Penerapannya dalam menjahit blus, siswa mampu menilai hasil jahitan mana yang baik dan benar yaitu jahitan yang sesuai dengan teknik menjahit (Catharina Tri Anni, 2012: 70).

2.3.1.2 Ranah Afektif

Ranah afektif merupakan hasil belajar yang paling sukar diukur karena berhubungan dengan perasaan, sikap, minat dan nilai. Ranah afektif mencakup kategori penerimaan, penanggapan, penilaian, pengorganisasian dan pembentukan pola hidup (Catharina Tri Anni, 2012: 71).

Penerimaan (receiving) mengacu pada keinginan siswa untuk menghadirkan rangsangan tertentu. Sudut pandang siswa, ia berkaitan dengan memperoleh, menangani, dan mengarahkan perhatian siswa. Hasil belajar ini berentangan dari kesadaran sederhana tentang adanya sesuatu sampai pada perhatian selektif yang menjadi bagian milik individu siswa. Penerimaan itu mencerminkan tingkat hasil belajar paling rendah didalam ranah afektif. Penerapannya dalam menjahit blus, siswa bersedia memperhatikan saat guru menjelaskan materi pembuatan blus wanita.

Penanggapan (responding) mengacu pada partisipasi aktif siswa. Jawaban adalah reaksi yang diberikan seseorang terhadap stimulus yang diberikan dari luar. Pada tingkat ini siswa tidak hanya menghadirkan fenomena tertentu tetapi juga mereaksikannya dengan berbagai cara. Hasil belajar di bidang ini adalah penekanan pada kemahiran merespon, keinginan merespon (mengerjakan tugas secara sukarela), atau kepuasan dalam merespon (membaca untuk hiburan). Tingkat yang lebih tinggi dari kategori ini adalah mencakup tujuan siswa yang umumnya diklasifikasikan ke dalam minat siswa, yaitu minat yang menekankan pencarian dan penikmatan kegiatan tertentu. Penerapannya dalam menjahit, siswa

akan merapikan peralatan menjahit setelah selesai menjahit tanpa ada perintah dari guru.

Penilaian (valuing) berkenaan dengan nilai yang melekat pada obyek atau perilaku tertentu pada siswa. Penilaian ini berentangan dari penerimaan nilai yang lebih sederhana (keinginan memperbaiki keterampilan kelompok), sampai pada tingkat kesepakatan yang kompleks (bertanggung jawab agar berfungsi secara efektif pada kelompok). Penilaian didasarkan pada internalisasi seperangkat nilai tertentu, namun menunjukkan nilai-nilai yang diungkapkan didalam perilaku yang ditampakkan oleh siswa. Hasil belajar di bidang ini dikaitkan dengan perilaku yang konsisten dan cukup stabil didalam membuat nilai yang dapat dikenali secara jelas. Tujuan siswa yang diklasifikasi ke dalam sikap dan apresiasi akan masuk ke dalam kategori ini.

Pengorganisasian (organization) berkaitan dengan serangkaian nilai-nilai yang berbeda, memecahkan kembali konflik-konflik antar nilai, dan mulai menciptakan sistem nilai yang konsisten secara internal. Hasil belajar ini dapat berkaitan dengan konseptualisasi nilai (mengenali tanggung jawab setiap individu untuk memperbaiki hubungan antar manusia) atau pengorganisasian sistem nilai (mengembangkan rencana kerja yang mencukupi kebutuhan sendiri baik dalam hal peningkatan ekonomi maupun pelayanan sosial). Tujuan siswa yang berkaitan dengan pengembangan pandangan hidup dapat dimasukkan ke dalam kategori ini.

Pembentukan pola hidup (organization by a value complex) mengacu pada individu siswa memiliki sistem nilai yang telah mengendalikan perilakunya dalam waktu cukup lama sehingga mampu mengembangkannya menjadi karakteristik

gaya hidupnya. Perilaku pada tingkat ini adalah bersifat pervasif, konsisten dan dapat diramalkan. Hasil belajar pada tingkat ini mencakup berbagai aktifitas yang luas, namun penekanan dasarnya adalah pada kekhasan perilaku siswa.

2.3.1.3 Ranah Psikomotorik

Tujuan pembelajaran ranah psikomotorik menunjukkan adanya kemampuan fisik seperti keterampilan motorik dan syaraf, manipulasi objek dan koordinasi syaraf (Catharina, 2012: 73). Ranah psikomotorik mencakup kategori persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing, gerakan terbiasa, gerakan kompleks, penyesuaian dan kreativitas menurut Elizabeth Simpson dikutip oleh Catharina (2012: 73).

Persepsi (perception) berkaitan dengan penggunaan organ penginderaan (kesadaran akan adanya stimulus), melalui petunjuk pemilihan (memilih petunjuk yang relevan dengan tugas). Penerapannya dalam pembuatan busana setiap siswa mampu membedakan cara membuat blus luar wanita sesuai dengan model yang telah didapatkan. Kesiapan (set) berkaitan dengan kesiapan mental (kesiapan mental untuk bertindak) dan kesiapan jasmani (kesiapan jasmani untuk bertindak). Pada tingkat ini persepsi terhadap petunjuk itu menjadi prasyarat penting. Penerapannya dalam pembuatan blus luar wanita adalah pada saat siswa akan memulai membuat blus wanita sesuai dengan sketsa model yang telah didapatkan, maka siswa dapat mempersiapkan dirinya dan alat-alat yang dibutuhkan saat pembuatan blus sesuai dengan sketsa mode yang didapatkan.

Gerakan terbimbing (guided response) berkaitan dengan tahap-tahap awal didalam belajar keterampilan kompleks. Kecukupan kinerja ditentukan oleh guru

atau seperangkat kriteria yang sesuai. Penerapannya dalam pembuatan blus wanita adalah setiap siswa mampu membuat blus wanita sesuai dengan sketsa model dengan urut-urutan yang benar, tetapi masih harus dengan bimbingan guru pada setiap tahapan proses pembuatan blus wanita tersebut.

Gerakan terbiasa (mechanisme) berkaitan dengan petunjuk kerja dimana gerakan yang telah dipelajari itu telah menjadi biasa dan gerakan dapat dilakukan dengan sangat meyakinkan dan mahir. Hasil belajar pada tingkat ini berkaitan dengan keterampilan kinerja dari berbagai tipe, namun pola-pola gerakannya kurang kompleks dibandingkan dengan tingkatan berikutnya yang lebih tinggi. Penerapannya dalam pembuatan blus luar wanita adalah siswa mampu membuat blus wanita sesuai sketsa yang didapat dengan tertib kerja yang telah ada sesuai dengan job sheet tanpa harus diberikan langkah demi langkah oleh guru.

Gerakan kompleks (complex overt response) berkaitan dengan kemahiran untuk kerja dari tindakan motorik yang mencakup pola-pola gerakan yang kompleks. Kecakapan ditunjukkan melalui kecepatan, kehalusan, keakuratan dan yang memerlukan energi minimum. Kategori ini mencakup pemecahan hal-hal yang tidak menentu (bertindak tanpa ragu-ragu) dan kinerja otomatis (gerakan dilakukan dengan mudah dan pengendalian yang baik). Hasil belajar pada tingkat ini mencakup kegiatan motorik yang sangat terkoordinasi. Penerapannya dalam pembuatan blus wanita ketika siswa akan membuat blus wanita yang ada garis hiasnya maka langkah awal yang harus dilakukan siswa yaitu menjahit garis hias terlebih dahulu baru kemudian menjahit bahu, sisi kemudian bagian yang lain

(dijahit dari bagian yang terkecil atau termudah terlebih dahulu) sehingga lebih efektif dan hasilnya baik.

Penyesuaian (adaptation) berkaitan dengan keterampilan yang dikembangkan sangat baik sehingga individu partisipan dapat menodifikasi pola-pola gerakan sesuai dengan persyaratan-persyaratan baru atau ketika menemui situasi masalah baru. Penerapannya dalam pembuatan blus wanita adalah ketika siswa menjahit pada bagian kampuh sisi diselesaikan dengan cara dibuka obras.

Kreativitas (originality) mengacu pada penciptaan pola-pola gerakan baru untuk disesuaikan dengan situasi tertentu atau masalah-masalah tertentu. Hasil belajar pada tingkat ini menekankan aktifitas yang didasarkan pada keterampilan yang benar-benar telah dikembangkan. Contoh: Siswa mampu membuat pengembangan-pengembangan dari bentuk dasar blus wanita menjadi bermacam-macam model blus.

Dokumen terkait