• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III HAMBATAN DALAM PELAKSANAAN PRINSIP TRANSPARANSI

A. Pengertian Prinsip Transparansi Pada Perbankan

Konsep Good Corporate Governance adalah konsep yang menyangkut tentang manajemen dan tata kelola perusahaan yang terdiri dari unsur-unsur RUPS, Direksi dan Dewan Komisaris. Konsep ini mengatur agar antara ketiga organ perusahaan tersebut dapat terjalin hubungan dan mekanisme kerja, pembagian tugas, kewenangan dan tanggungjawab yang harmonis baik secara internal maupun eksternal dengan tujuan meningkatkan nilai perusahaan demi kepentingan shareholders dan stakeholders.

Menurut Keputusan Menteri Negara/Kepala Badan Penanaman Modal dan Pembinaan Badan Usaha Milik Negara, defenisi dari Good Corporate Governance ini adalah:

“suatu prinsip korporasi yang sehat yang perlu diterapkan dalam pengelolaan dalam perusahaan yang dilaksanakan semata-mata demi menjaga kepentingan perusahaan dalam rangka mencapai maksud dan tujuan perusahaan.38

Good Corporate Governanceberkaitan dengan pengambilan keputusan yang efektif yang bersumber pada etika bisnis, budaya perusahaan, etika, niali, sistem, proses bisnis, kebijakan dab struktuyr organisasi yang bertujuan mendorong serta turut mendukung pengembangan pengelolaan sumber daya dan resiko secara lebih efisien dan

38 Pasal 2 Keputusan Menteri Negara Kepala Badan Penanaman Modal dan Pembinaan Badan Usaha Milik Negara Nomor: kep-23/MPMPBUMN/2000 Tentang pengembangan praktik Good Corporate Governance dalam perusahaan perseroan.

efektif, pertanggungjawaban perusahaan kepada pemegang saham dan stakeholders lainnya.

Seberapa jauh ketekaitan antara krisis yang terjadi sejak tahun 1997 dengan kehancuran industri perbankan, dapat dilihat dari akar permasalahan (root of cause) kehancuran industry perbankan itu sendiri serta sisi perekonomian Indonesia secara makro dan mikro yang dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang seperti politik, ekonomi, budaya and sosial.39

Transparansi adalah prinsip yang menjamin akses atau kebebasan bagi setiap orang untuk memperoleh informasi tentang penyelenggaraan pemerintahan, yakni informasi tentang kebijakan, proses pembuatan dan pelaksanaannya, serta hasil-hasil yang dicapai.40 Transparansi yakni adanya kebijakan terbuka bagi pengawasan.

Sedangkan yang dimaksud dengan informasi adalah informasi mengenai setiap aspek kebijakan pemerintah yang dapat dijangkau oleh publik. Keterbukaan informasi diharapkan akan menghasilkan persaingan politik yang sehat, toleran, dan kebijakan dibuat berdasarkan pada preferensi publik.

Transparansi yaitu keterbukaan dalam mengemukakan informasi yang material dan relevan serta keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan keputusan.

Dalam mewujudkan transparansi, perusahaan harus menyediakan informasi yang cukup, akurat, dan tepat waktu kepada pihak yang berkepentingan dengan perusahaan

39 Zulkarnain Sitompul, Perlindungan Dana Nasabah Bank, (Jakarta: Program Pascasarjana Fakultas Hukum, Universitas Indonesia, 2008), hlm. 22

40Loina Lalolo Krina, Prinsip Transparansi Dalam Good Corporate Governance, https://perencanaankota.blogspot.co.id/2011/11/prinsip-transparansi-dalam-good.html, dikutip pada tanggal 24 seprember 2017 , pukul 13.05 WIB

tersebut.41 Selain itu, para investor harus dapat mengakses informasi penting perusahaan secara mudah pada saat diperlukan.

Penyediaan informasi yang memadai, akurat, dan tepat waktu kepada stakeholders harus dilakukan oleh perusahaan agar dapat dikatakan transparan. Pengungkapan yang memadai sangat diperlukan oleh investor dalam kemampuannya untuk membuat keputusan terhadap risiko dan keuntungan dari investasinya. Kurangnya pernyataan keuangan yang menyeluruh menyulitkan pihak luar untuk menentukan apakah perusahaan tersebut memiliki dana dalam tingkat yang mengkhawatirkan.42

Untuk mengukur tingkat kepercayaan masyarakat terhadap industry perbankan tercermin dari keinginan masyarakat berpartispasi dalam kegiatan perbankan seperti menyimpan atau menginvestasikan uang, mendepositokan dan meminjam uang untuk memulai atau memperluas usaha.43Untuk menjaga obyektivitas dalam menjalankan bisnis, perbankan harus menyediakan informasi yang material dan relevan dengan cara yang mudah diakses dan dipahami oleh pemangku kepentingan. Membangun sebuah kepercayaan adalah sesuatu yang tak tak mudah, kepercayaan dapat diperoleh apabila bank bisa membuktikan dirinya sebagai bank yang sehat lewat kemampuan ganda yang dimilikinya, yakni sebagai penyedia likuiditas dan penyandang dana bagi penyediaan aset jangka panjang.44

41 Mas Achmad Daniri, Good Corporat Governance: Konsep dan Penerapannya dalam Konteks Indonesia, (Jakarta:PT. Ray Indonesia, 2005), hlm. 9

42 H.Moh.Wahyudin Zarkasyi, Good Corporate Governance Pada Badan Usaha Manufaktur, Perbankan, dan Jasa Keuangan,(Bandung: ALFABETA, 2008), hal. 39.

43 Zulkarnain Sitompul, Op. Cit., hlm. 24

44 Ibid. hlm. 25

Transparansi adalah keterbukaan atas semua tindakan dan kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Prinsip transparansi menciptakan kepercayaan timbal-balik antara pemerintah, perusahaan dan masyarakat melalui penyediaan informasi dan menjamin kemudahan di dalam memperoleh informasi yang akurat dan memadai. Tranparansi dibangun atas dasar arus informasi yang bebas.

Kesenjangan informasi dapat mengakibatkan kebangkrutan pada bank, dan dapat pula menjalar ke bank lainnya. Hal ini disebabkan ketika nasabah yang memiliki informasi mengetahui bahwa nasabah yang tidak memiliki melakukan penarikan simpanan, merekapun terpaksa turut menarik simpanannya yang menyebabkan terjadinya bank run pada suatu bank dapat menular ke bank lain.45

Seluruh proses pemerintahan, lembaga-lembaga dan informasi perlu dapat diakses oleh pihak-pihak yang berkepentingan, dan informasi yang tersedia harus memadai agar dapat dimengerti dan dipantau. Sehingga bertambahnya wawasan dan pengetahuan masyarakat terhadap penyelenggaraan pemerintahan. Meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan, meningkatnya jumlah masyarakat yang berpartisipasi dalam pembangunan dan berkurangnya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan.46

Aturan dan prosedur transparan biasanya diberlakukan untuk membuat pejabat pemerintah bertanggung-jawab dan untuk memerangi korupsi. Bila rapat pemerintah dibuka kepada umum dan media massa, bila anggaran dan laporan keuangan bisa diperiksa oleh siapa saja, bila undang-undang, aturan, dan keputusan

45 Ibid. hlm. 30

46 H.Moh.Wahyudin Zarkasyi, Op. Cit., hlm. 41

terbuka untuk didiskusikan, semuanya akan terlihat transparan dan akan lebih kecil kemungkinan pemerintah untuk menyalahgunakannya untuk kepentingan sendiri.

Pemikiran yang gamblang ini, barangkali relevan untuk mendefinikan konsep transparansi.47

Konsep transparansi didefinisikan oleh Hardjasoemantri bahwa, “seluruh proses pemerintah, lembaga-lembaga, dan informasi perlu dapat diakses oleh pihak-pihak yang berkepentingan, dan informasi yang tersedia harus memadai agar dapat dimengerti dan dipantau.” Demikian juga oleh Krina P. yang mendefinisikan transparansi sebagai,

“prinsip yang menjamin akses atau kebebasan bagi setiap orang untuk memperoleh informasi tentang penyelenggaraan pemerintahan, yakni informasi tentang kebijakan, proses pembuatan dan pelaksanaannya, serta hasil-hasil yang dicapai.”

Dari pengertian transparansi yang dikemukakan di atas dapat ditarik suatu kesimpulan pengertian bahwa, prinsip transparasi itu sesungguhnya dibangun atas informasi yang bebas. Bebas diakses oleh siapa saja yang membutuhkan, dan pemerintah berkewajiban untuk membeberkan informasi tersebut, terutama yang berkaitan dengan segala sesuatu yang diputuskan untuk dan/atau telah dilakukan dan tidak dilakukan untuk urusan publik. Kendati demikian, perlu diketengahkan bahwa, pemerintah yang transparan tidak saja berarti adanya keterbukaan informasi dan akses masyarakat, karena boleh jadi ada informasi yang asimetris, tetapi penekanannya lebih pada makna “tanggung jawab”. Tanggung jawab untuk memberikan informasi yang benar dan relevan kepada yang siapa saja yang membutuhkan atau kepada publik. Hal ini sejalan dengan pendapat Haryatmoko yang memberikan pemahamannya terhadap

47 Ibid. hlm. 42

konsep transparasi bahwa, “organisasi pemerintah bisa mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukan dengan memberi informasi yang relevan atau laporan yang terbuka terhadap pihak luar atau organisasi mandiri (legislator, auditor, publik) dan dipublikasikan.”

Dengan pemahaman demikian maka, sesungguhnya transparansi merupakan bentuk akuntabilitas pemerintah yang sangat rasional untuk menghadapi sistem ekonomi dan administrasi.