BAB I : PENDAHULUAN
C. Putusan Hakim Pengadilan
1. Pengertian Putusan dan Keputusan Hakim
Tujuan para pencari keadilan menempuh proses hukum melalui sidang pengadilan, selain bertujuan mencari keadilan, juga berharap memperoleh kepastian hukum dari putusan hakim.175 Putusan hakim lazim disebut dengan putusan pengadilan, sesuatu yang ditunggu-tunggu dan dinanti-nantikan oleh para pencari keadilan untuk memperoleh kepastian hukum dan keadilan dari perkara yang sedang dihadapi.176
Putusan hakim berbeda dengan keputusan hakim. Pengertian putusan dalam buku berjudul Peristilahaan Hukum Dalam Praktik menyebutkan putusan adalah hasil atau kesimpulan dari sesuatu yang telah dipertimbangkan dan dinilai dengan semasak-masaknya yang dapat berbentuk tertulis maupun lisan.
177
175 M. Nur Rasaid, Hukum Acara Perdata, (Jakarta: Sinar Grafika, 2003), hal. 48.
Rumusan tersebut kurang tepat karena antara putusan dan keputusan dicampuradukkan dalam satu pengertian yang sama. Rumusan yang tidak tepat terjadi sebagai akibat terjemahan dari ahli bahasa yang bukan ahli hukum.
176 Moh. Taufik Makarao, Pokok-Pokok Hukum Acara Perdata, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hal. 124.
177 Kejaksaan Agung Republik Indonesia, Peristilahaan Hukum Dalam Praktik, (Jakarta:
Kejaksaan Agung Republik Indonesia, 1985), hal. 221.
Diperlukan kecermatan dan pemahaman dalam penggunaan istilah-istilah agar tidak menyesatkan. Menurut Leden Marpaung, mengenai putusan yang diterjemahkan dari hasil vonis adalah hasil akhir, berarti putusan akhir dari pemeriksaan pokok perkara di sidang pengadilan. Akan tetapi ada juga yang disebut interlocutoir yang diterjemahkan dengan putusan sela, dan preparatoire yang diterjemahkan dengan keputusan pendahuluan atau keputusan persiapan, serta keputusan provisionil yang diterjemahkan dengan keputusan sementara.178
Pasal 1 angka 11 KUHAP menentukan:
Putusan pengadilan adalah pernyataan hakim yang diucapkan dalam sidang pengadilan terbuka, yang dapat berupa pemidanaan atau bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini.
Kelemahan pengertian putusan dalam Pasal 1 angka 11 KUHAP adalah tidak disebutnya putusan dalam bentuk tertulis. Pentingnya membuat putusan hakim dalam bentuk tertulis dimaksudkan agar putusan tersebut dapat diserahkan kepada yang berkepentingan, dikirim kepada Pengadilan Tinggi atau ke Mahkamah Agung apabila yang bersangkutan melakukan upaya banding maupun kasasi. Selain itu untuk memenuhi publikasi ke masyarakat dan sebagai arsip yang dilampirkan dalam berkas perkara.
Pengertian putusan dalam Pasal 1 angka 11 KUHAP kemudian dipertegas dalam Pasal 200 KUHAP yang menentukan: “Surat putusan ditandatangani oleh hakim dan panitera seketika setelah putusan itu diucapkan”. Penandatanganan surat
178 Leden Marpaung (I), Proses Penanganan Perkara Pidana, (Jakarta: Sinar Grafika, 1995), hal. 406.
putusan dimaksud berarti menghendaki suatu putusan harus dibuat secara tertulis. Hal yang sama juga ditegaskan dalam Pasal 50 ayat (2) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman, yang menentukan: “Tiap putusan pengadilan harus ditandatangani oleh ketua serta hakim yang memutus dan panitera yang ikut serta bersidang”.
Pengertian putusan hakim menurut Lilik Mulyadi adalah:
Putusan yang diucapkan oleh hakim karena jabatannya dalam persidangan perkara pidana yang terbuka untuk umum setelah melakukan proses dan prosedural hukum acara pidana pada umumnya berisikan amar pemidanaan atau bebas atau pelepasan dari segala tuntutan hukum dibuat dalam bentuk tertulis dengan tujuan penyelesaian perkaranya.179
Rumusan putusan yang disebut oleh Lilik Mulyadi tersebut di atas juga mengharuskan dibuat secara tertulis. Hal ini sejalan pula dengan Surat Edaran Mahkamah Agung Republik Indonesia (SEMA-RI) Nomor 5 Tahun 1959 Tanggal 20 April 1959 dan SEMA-RI Nomor 1 Tahun 1962 Tanggal 7 Maret 1962 yang menegaskan konsep putusan harus sudah disiapkan lebih dahulu sebelum putusan diucapkan dan diserahkan kepada panitera untuk diselesaikan lebih lanjut.
Berdasarkan Pasal 13 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman, bila putusan pengadilan tidak diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum (kecuali undang-undang menentukan lain)
179 Lilik Mulyadi (III), Seraut Wajah Putusan hakim Dalam hukum Acara Pidana Indonesia:
Perspektif, Teoritis, Praktik, Tenik Membuat, dan Permasalahannya, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2010), hal. 131.
mengakibatkan putusan tersebut batal demi hukum.180
KUHAP sendiri tidak mendefenisikan tentang keputusan, namun sesuai dengan pandangan Leden Marpaung di atas, dapat diketahui sebenarnya untuk apa keputusan itu dibuat. Untuk mengetahui kemana arah suatu keputusan, maka dapat dipahami maksud dari Pasal 156 ayat (1) KUHAP menentukan:
Berdasarkan pengertian tentang putusan tersebut di atas, baik dalam doktrin maupun undang-undang, ternyata harus dipisahkan mana yang disebut sebagai “putusan” dan mana yang disebut sebagai “keputusan”.
Dalam hal terdakwa atau penasihat hukum mengajukan keberatan bahwa pengadilan tidak berwenang mengadili perkaranya atau dakwaan tidak dapat diterima atau surat dakwaan harus dibatalkan, maka setelah diberi kesempatan kepada penuntut umum untuk menyatakan pendapatnya, hakim mempertimbangkan keberatan tersebut untuk selanjutnya mengambil keputusan.
Keputusan yang dimaksud di sini adalah keputusan hakim yang berupa interlocutoir atau keputusan sela, dan preparatoire atau keputusan pendahuluan atau keputusan persiapan, serta provisionil atau keputusan sementara.181
180 Pasal 13 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman menentukan:
Bila diperhatikan lagi Pasal 156 ayat (7) KUHAP, keputusan itu dibuat adalah untuk penetapan yang menyatakan pengadilan tidak berwenang mengadili.
a. Semua sidang pemeriksaan pengadilan adalah terbuka untuk umum, kecuali undang-undang menentukan lain.
b. Putusan pengadilan hanya sah dan mempunyai kekuatan hukum apabila diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum.
c. Tidak dipenuhinya ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) mengakibatkan putusan batal demi hukum.
181 Faisal Luqman Hakim, Nurainun Mangunsong, Ahmad Bahiej, Lindra Darnela, dan M.
Musbahul Mujib (Tim Peneliti UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), Disparitas Putusan Hakim Dalam Perkara Narkotika di Daerah Istemewa Yogyakarta, (Jakarta: Sekretaris Jenderal Komisi Yudisial Republik Indonesia, 2014), hal. 286.
Berarti keputusan hakim sama maksudnya dengan penetapan hakim.
Argumentasi ini didukung dengan Pasal 148 KUHAP dan Pasal 156 ayat (1) KUHAP. Pasal 148 menentukan sebagai berikut:
a. Dalam hal ketua pengadilan negeri berpendapat bahwa perkara pidana itu tidak termasuk wewenang pengadilan yang dipimpinnya, tetapi termasuk wewenang pengadilan negeri lain, ia menyerahkan surat pelimpahan perkara tersebut kepada pengadilan negeri lain yang dianggap berwenang mengadilinya dengan surat penetapan yang memuat alasannya.
b. Surat pelimpahan perkara tersebut diserahkan kembali kepada penuntut umum selanjutnya kejaksaan negeri yang bersangkutan menyampaikannya kepada kejaksaan negeri di tempat pengadilan negeri yang tercantum dalam surat penetapan.
c. Turunan surat penetapan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disampaikan kepada terdakwa atau penasihat hukum dan penyidik.
Hal yang penting diperhatikan dalam Pasal 148 KUHAP tersebut di atas adalah tentang penetapan yang dikeluarkan oleh pengadilan negeri yang tidak berwenang mengadili perkara tersebut. Ini disebut sebagai surat penetapan.
Selanjutnya bila diperhatikan Pasal 156 ayat (1) KUHAP dalam hal terdakwa atau penasihat hukumnya mengajukan keberatan tentang pengadilan tidak berwenang mengadili perkaranya atau dakwaan tidak dapat diterima atau surat dakwaan harus dibatalkan, maka setelah diberi kesempatan kepada penuntut umum untuk menyatakan pendapatnya, maka selanjutnya hakim mempertimbangkan keberatan tersebut untuk selanjutnya mengambil keputusan. Ini disebut sebagai surat keputusan.
Berdasarkan Pasal 148 KUHAP dan Pasal 156 ayat (1) KUHAP dapat disimpulkan bahwa bila pengadilan negeri terbentur pada masalah kewenangan mengadili maka harus dikeluarkan surat penetapan atau surat keputusan. Berarti dalam surat penetapan atau surat keputusan adalah sama, yaitu sama-sama memiliki
alasan yang sama yaitu sama-sama didasarkan pada tidak berwenangnya Pengadilan Negeri tersebut mengadili. Sedangkan yang dimaksud sebagai putusan adalah hasil vonis atau hasil pemeriksaan akhir, yang berarti putusan akhir dari pemeriksaan suatu pokok perkara di sidang pengadilan, atau yang disebut dengan putusan akhir.
Bilamana membicarakan tentang kewenangan pengadilan negeri yang tidak berwenang mengadili maka berarti tahap pembicaraan ini masih berada dalam pemeriksaan pendahuluan yang keputusannya menghasilkan keputusan pendahuluan (preparatoire) atau disebut juga dengan keputusan sementara (provisionil). Apabila diperhatikan lebih lanjut ketentuan di dalam Pasal 156 ayat (1) KUHAP maka keputusan pendahuluan itu juga dapat dijatuhkan untuk surat dakwaan penuntut umum yang dinyatakan batal demi hukum (nietig van rechtswege atau null and void), termasuk batal demi hukum bilamana surat dakwaan itu tidak memenuhi syarat materiil sebagaimana telah ditegaskan dalam Pasal 143 ayat (2) huruf b KUHAP junto Pasal 143 ayat (3) KUHAP.
Keputusan pendahuluan (preparatoire) atau keputusan sementara (provisionil) itu juga dapat dijatuhkan oleh hakim bilamana terkait dengan Pasal 156 ayat (1) KUHAP dalam hal surat dakwaan tersebut tidak dapat diterima (niet onvankelijk verklaard) disebabkan karena materi perkara tersebut telah kadaluarsa, atau materi perkara pidana tersebut merupakan materi perdata, atau perkara pidana tersebut disebabkan telah nebis in idem (telah diputus sebelumnya dalam perkara yang sama).