BAB II LANDASAN TEORI
B. PSAK 109
1. Pengertian dan Ruang lingkup PSAK 109
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 109 tentang Akuntansi Zakat yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) merupakan pedoman yang mengatur tentang pengakuan, pengukuran, penyajian dan pengungkapan transaksi zakat dan infak/sedekah. Standar akuntansi zakat ini mengatur tentang bagaimana suatu transaksi diakui atau dicatat, kapan transaksi tersebut harus diakui, bagaimana mengukurnya, serta bagaimana mengungkapkan dan menyajikannya dalam laporan keuangan.
PSAK 109 Tentang Akuntasi ZIS bertujuan guna terwujudnya keseragaman pelaporan, dan kesederhanaan pencatatan, sehingga publik dapat membaca laporan akuntansi pengelola zakat serta mengawasi pengelolaannya. Selain itu penerapan PSAK 109 ini juga bertujuan memastikan bahwa organisasi Pengelola zakat telah memakai
prinsip-prinsip syariah, dan seberapa jauh Organisasi Pengelola Zakat memiliki tingkat kepatuhan dalam menerapkannya.12
Ruang lingkup Pernyataan ini berlaku bagi amil yang menerima dan menyalurkan zakat, infaq, dan sedekah. Sebagaimana yang dimaksud amil merupakan organisasi pengelola zakat yang pembentukannya bertujuan untuk mengumpulkan dan menyalurkan dana zakat, infaq, dan sedekah. Pernyataan ini berlaku bagi entitas syariah yang kegiatan utamanya menerima dan menyalurkan zakat, infaq, dan sedekah. Jika entitas syariah menerima dan menyalurkan zakat, infaq, dan sedekah, tetapi itu bukan kegiatan utamanya maka entitas tersebut mengacu pada PSAK 101.13
2. Pengakuan, Pengukuran, Pengungkapan dan Penyajian a. Pengakuan
Pengakuan adalah proses pembentukan suatu akun dan menyatakan pos tersebut baik dalam kata-kata maupun dalam jumlah uang dan mencantumkannya dalam laporan laba rugi dan neraca.14 Definisi pengakuan dalam Akuntansi menurut Standar Akuntansi Pemerintahan adalah proses penetapan terpenuhinya kriteria pencatatan suatu kejadian peristiwa dalam catatan akuntansi sehingga akan menjadi bagian yang melengkapi unsur aset, kewajiban, ekuitas dana,
12 Megawati, Devy dan Trisnawati, “Penerapan PSAK 109 Tentang Akuntansi Zakat dan Infak/Sedekah pada BAZ Kota Pekanbaru,” Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan, 2014, hlm.
13 Ikatan Akuntan Indonesia, Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 109, (Jakarta: Dewan Standar Akuntansi Keuangan, 2008), hlm.7
14 Ikatan Akuntan Indonesia, Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 101, (Jakarta:Dewan standar akuntansi keuangan, 2007), hlm. 35
pendapatan, belanja, dan pembiayaan sebagaimana termuat dalam laporan keuangan entitas pelaporan yang bersangkutan. Pengakuan diwujudkan dalam bentuk pencatatan jumlah uang terhadap pos-pos laporan keuangan yang terpengaruh oleh kejadian atau peristiwa terkait.
Kriteria minimum yang perlu dipenuhi oleh suatu kejadian atau peristiwa untuk diakui, yaitu:
1) Terdapat kemungkinan bahwa manfaat ekonomi yang berkaitan dengan kejadian atau peristiwa tersebut akan mengalir keluar atau masuk ke dalam entitas pelaporan yang bersangkutan.
2) Kejadian atau peristiwa tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur atau diestimasi dengan andal.
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa secara sederhana pengertian pengakuan adalah penentuan kapan suatu transaksi harus dicatat. Dimana pencatatan transaksi ini nantinya akan menggunakan basis akuntansi apakah itu basis akrual ataupun basis kas. Aspek pengakuan mempunyai peranan yang penting sebagai kerangka dasar dalam pembuatan laporan keuangan karena pengakuan merupakan sebuah pedoman atau prinsip yang mengatur kapa dicatatnya transaksi pendapatan, beban, laba dan rugi.15
b. Pengukuran
15 Aji Prasetyo, S.E.I., M.S.A, “Akuntansi Keuangan Syariah”, (Yogyakarta : ANDI, 2019), hlm. 56
Pengukuran adalah penentuan jumlah rupiah untuk mengakui dan memasukkan setiap elemen laporan keuangan ke neraca atau laporan laba rugi. Ada beberapa dasar dalam pencatatan pengukuran pada suatu akun:16
Tabel 2.1 Dasar Pencatatan Pengukuran Suatu Akun
Aktiva Kewajiban
Biaya Historis
Sebesar nilai wajar Sebesar jumlah saat diterima Biaya
Terkini
Sebesar nilai wajar Sebesar jumlah saat didiskontokan
Sedangkan pengertian pengukuran menurut Ikatan Akuntan Indonesia adalah proses penetapan jumlah uang untuk mengakui dan memasukkan setiap unsur laporan keuangan dalam neraca dan laporan laba rugi. Pengukuran adalah penentuan jumlah rupiah yang akan dilekatkan pada akun (objek) yang terlibat pada suatu transaksi.17
16 Muhammad Al Amin, “Filsafat Teori Akuntansi”, (Magelang : Unimma Press, 2018), hlm.
65
17 Suwardjono, “Teori Akuntansi Perekayasaan Laporan Keuangan:Edisi Ketiga”, (Yogyakarta: BPFE, 2014), hlm.192
Penerimaan dana dapat diakui ketika kas atau nonkas diterima sebesar:18
1) Jumlah yang diterima, jika penerimaan dalam bentuk kas.
2) Nilai wajar, jika penerimaan dalam bentuk nonkas.
Jadi dapat disimpulkan, pengukuran memiliki definisi sebagai proses penetapan jumlah nominal suatu akun dalam proses pembuatan laporan keuangan sehingga dapat menyajikan suatu informasi yang relevan.
c. Penyajian
Penyajian adalah menetapkan tentang cara-cara melaporkan elemen atau pos ke dalam statemen keuangan agar elemen atau pos tersebut cukup informatif.19 Laporan keuangan harus menyajikan secara wajar posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas syariah dengan menerapkan PSAK secara benar disertai pengungkapan yang diharuskan PSAK dalam catatan atas laporan keuangan.
Informasi lain tetap diungkapkan untuk menghasilkan penyajian yang wajar walaupun pengungkapan tersebut tidak diharuskan oleh PSAK.20
18 Teten Kustiawan, “Pedoman Akuntansi Amil Zakat”, (Jakarta Selatan:Forum Zakat, 2012), hlm.66
19 Suwardjono, “Teori Akuntansi Perekayasaan Laporan Keuangan:Edisi Ketiga”, (Yogyakarta: BPFE, 2014), hlm. 134
20 Ikatan Akuntan Indonesia, Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 101, (Jakarta:Dewan standar akuntansi keuangan, 2008), hlm.3
Ada beberapa hal yang harus disajikan dalam laporan keuangan amil zakat:21
1) Laporan keuangan harus menyajikan secara wajar posisi keuangan, kinerja (aktifitas), dan arus kas disertai pengungkapan yang diharuskan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
2) Aset disajikan berdasarkan karakteristiknya menurut likuiditas, sedangkan liabitas disajikan menurut urutan jatuh temponya.
3) Laporan arus kas disajikan secara metode langsung, atau metode tidak langsung
4) Catatan laporan keuangan harus disajikan secara sistematis dengan urutan penyajian sesuai komponen utamanya yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan. Informasi dalam catatan atas laporan keuangan berkaitan dengan pos-pos dalam laporan posisi keuangan, laporan perubahan dana, laporan perubahan aset kelolaan dan laporan arus kas yang sifatnya memberikan penjelasan baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif
5) Dalam catatan atas laporan keuangan tidak diperkenankan menggunakankata “sebagian besar” untuk menggambarkan bagian dari suatu jumlah tetapi harus dinyatakan dalam jumlah nominal atau presentase.
21 Teten Kustiawan, Pedoman Akuntansi Amil Zakat, (Jakarta Selatan:Forum Zakat, 2012), hlm. 33.
d. Pengungkapan
Pengungkapan merupakan langkah akhir dalam proses akuntansi dengan menyajikan suatu informasi ke dalam bentuk seperangkat penuh statemen keuangan. Kegunaan dalam pengungkapan ini untuk ditujukan kepada pihak yang berkepentingan dan membutuhkan informasi.22 Laporan keuangan amil zakat ditujukan kepada beberapa pihak yang berwewenang, yaitu meliputi muzakki, pihak lain yang memberikan sumber daya selain zakat seperti donasi dan pinjaman, otoritas pengawasan dan pemeriksaan, pemerintah, lembaga mitra dan masyarakat.23
Secara umum, tujuan pengungkapan adalah menyajikan informasi yang dipandang perlu untuk mencapai tujuan pelaporan keuangan dan untuk melayani berbagai pihak yang mempunyai kepentingan berbeda-beda.
3. Ketentuan PSAK 109 Tentang Perlakuan Akuntansi Dana Non Halal
Dalam PSAK Nomor 109 dijelaskan bahwa penerimaan dana non halal adalah semua penerimaan dari kegiatan yang tidak sesuai dengan prinsip syariah, antara lain seperti penerimaan jasa giro atau bunga yang berasal dari bank konvensional. Penerimaan dana non halal pada umumnya terjadi dalam kondisi darurat atau kondisi yang tidak di
22 Suwardjono, Teori Akuntansi Perekayasaan Laporan Keuangan:Edisi Ketiga, (Yogyakarta:
BPFE, 2014), hlm. 578
23 Teten Kustiawan, Pedoman Akuntansi Amil Zakat, (Jakarta Selatan:Forum Zakat, 2012), hlm. 27
inginkan oleh entitas syariah karena secara prinsip dilarang. Ketika organisasi pengelola zakat menerima dana yang berasal dari transaksi tersebut, maka penerimaan dana non halal tersebut harus diakui sebagai akun dana non halal, yang terpisah dari dana zakat, dana infak/sedekah dan dana amil. Lalu kemudian dicatat dan diakui sesuai tanggal transaksi yang terjadi pada rekening koran. Jumlah yang akan dilekatkan pada akun tersebut juga harus sesuai berdasarkan transaksi yang terjadi pada rekening koran.
Setiap bulan penerimaan dana non halal diakumulasikan dan disajikan dalam laporan perubahan dana dan setiap tahunnya disajikan kedalam neraca dan laporan perubahan dana serta jenis laporan keuangan lainnya.24 Informasi dana non halal yang ada di neraca tersebut harus disajikan karena dana non halal merupakan dana yang terpisah dari dana-dana yang lainnya yang fungsi dan peruntukkannya juga tidak digunakan pada semua kegiatan khususnya untuk disalurkan pada mustahiq.
BAZNAS menyajikan dana non halal secara terpisah dari dana zakat, infak dan shodaqoh agar dapat diketahui perbedaannya dengan dana-dana yang lainnya. Serta fungsi dan keberadaannya juga tidak sama. Maka dari itu dana non halal dengan dana-dana zakat, infak, sedekah harus disajikan secara terpisah. Dana non halal yang disajikan oleh BAZNAS memang
24 Ahmad Roziq dan Widya Yanti, “Pengakuan, pengukuran, penyajian dan Pengungkapan Pada Lebaga Amil Zakat”, Jurnal akuntansi universitas jember, hlm. 29
tidak bisa dihindari karena BAZNAS menyajikan dana non halal tersebut dalam posisi yang sangat darurat.25
Dalam PSAK 109 paragraf 41 menyebutkan bahwa Organisasi Pengelola Zakat juga harus membuat pengungkapan keberadaan dana nonhalal, jika ada diungkapkan mengenai kebijakan atas penerimaan dan penyaluran dana, alasan, dan jumlahnya pada laporan keuangan berupa catatan atas laporan keuangan.
C. Laporan Keuangan
1. Pengertian Laporan Keuangan
Laporan keuangan menurut Standar Akuntansi Keuangan adalah bagian dari proses pelaporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan yang dapat disajikan dalam bentuk laporan arus kas, catatan dan laporan lain, serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan.
Munawir mendefinisikan laporan keuangan sebagai proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk mengkomunikasikan data keuangan.
Selanjutnya, laporan keuangan adalah alat yang sangat penting untuk memperoleh informasi sehubungan dengan posisi keuangan dan hasil-hasil operasi yang telah dicapai.26
Dalam pengertian yang sederhana laporan keuangan adalah laporan yang menunjukkan kondisi keuangan suatu perusahaan pada saat
25 Hisamuddin dan Sholikha, hlm. 24
26 Aldila Septiana, “Analisis Laporan Keuangan”, (Pamekasan: Duta Media Center, 2019), hlm.2
ini atau dalam satu periode tertentu. Dimana dalam penyusunan laporan keuangan ini harus mengacu kepada prinsip akuntansi yang berlaku secara umum, yaitu Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang disusun oleh dewan standart akutansi keuangan IAI yang merupakan acuan utama penyusunan dan penyajian laporan keuangan di indonesia.
2. Tujuan Laporan Keuangan
Laporan keuangan bertujuan untuk memberikan informasi keuangan atau perusahaan, baik pada saat tertentu maupun periode tertentu. Laporan keuangan juga dapat disusun sesuai kebutuhan perusahaan maupun secara berkala. Intinya adalah laporan keuangan mampu memberikan informasi keuangan kepada pihak pengguna laporan keuangan tersebut baik itu pengguna internal maupun eksternal perusahaan.
Secara umum dapat disimpulkan bahwa tujuan pembuatan laporan keuangan bagi amil zakat adalah,
a. Mampu menyajikan informasi mengenai lembaga amil zakat tersebut, apakah sudah memenuhi ketentuan syariah di dalam melakukan operasionalnya atau belum.
b. Untuk menilai manajemen dari lembaga amil zakat dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya.
c. Untuk menilai kinerja pelayanan atau program yang diberikan oleh lembaga amil zakat dan kemampuannya untuk terus memberikan pelayanan atau program tersebut.
3. Komponen Laporan Keuangan Amil Zakat
Di dalam PSAK No. 109 menyakatan bahwa Komponen laporan keuangan yang lengkap dari amil terdiri dari:
a. Neraca (laporan posisi keuangan);
b. Laporan perubahan dana;
c. Laporan perubahan aset kelolaan;
d. Laporan arus kas;
e. Catatan atas laporan keuangan.
Format masing-masing laporan keuangan adalah sebagai berikut:
1) Neraca (Laporan Posisi Keuangan)
Entitas amil menyajikan pos-pos dalam neraca (laporan posisi keuangan) dengan memperhatikan ketentuan dalam PSAK terkait, yang mencakup tetapi tidak terbatas pada:
a) Aset yang terdiri dari kas dan setara kas, instrumen keuangan, piutang, aset tetap dan akumulasi penyusutan.
b) Kewajiban yang terdiri dari biaya yang masih harus dibayar, dan kewajiban imbalan kerja.
c) Saldo dana yang terdiri dari dana zakat, dana infak/sedekah, dana amil, dan dana non halal.
Adapun bentuk dari laporan neraca (posisi keuangan) adalah,
Tabel 2.2 Laporan Posisi Keuangan BAZ “XXX”
Per 31 Desember 2XX2
Keterangan Rp Keterangan Rp
Aset Kewajiban
Jumlah aset Jumlah Kewajiban
dan Saldo Dana
Amil menyajikan laporan perubahan dana zakat, dana infaq dan sedekah, dana
amil dan dana non halal. Penyajian laporan perubahan dana mencakup, tetapi
tidak terbatas pada pos-pos berikut:
a) Dana zakat yang meliputi: penerimaan dana zakat, penyaluran dana zakatbaik kepada amil atau mustahik nonamil, saldo awal dana zakat dan saldoakhir dana zakat.
b) Dana infak/sedekah yang meliputi: penerimaan dana infak/sedekah baikinfak/sedekah terikat (muqayyadah) maupun infak/sedekah tidak terikat(mutlaqah), penyaluran dana infak/sedekah baik infak/sedekah terikat(muqayyadah) maupun infak/sedekah tidak terikat (mutlaqah), saldo awal dana infak/sedekah, dan saldo akhir dana infak/sedekah.
c) Dana amil yang meliputi: penerimaan dana amil yakni bagian amil dari danazakat, bagian amil dari dana infak/sedekah, penerimaan lain;
pengggunaandanaamil; saldo awal dana amil; dan saldo akhir dana amil.
Adapun bentuk format laporan perubahan dana adalah sebagai berikut, .
Untuk periode yang berakhir 31 Desember 2XX2
Keterangan Rp
DANA ZAKAT Penerimaan
Penerimaan dari muzakki Muzakki entitas Muzakki individu Hasil pendapatan
Jumlah penerimaan dana zakat
Bagian amil atas penerimaan dana zakat
Jumlah penerimaan dana zakat setalah bagian amil
Penyaluran Fakir-miskin Riqob Ghorim Muallaf Sabilillah Ibnu sabil
Jumlah penyaluran dana zakat Surplus (defisit)
Saldo awal Saldo akhir
DANA INFAQ/SEDEKAH Penerimaan
Infaq/sedekah terikat atau muqoyyadah Infaq/sedekah tidak terikat atau mutlaqoh Bagian amil atas penerimaan dana
infaq/sedekah
Jumlah penerimaan dana infaq/sedekah
Jumlah penggunaan dana non halal Surplus
Saldo awal Saldo akhir
Jumlah saldo dana zakat, dana infaq/sedekah, dana amil dan dana nonhalal
3) Laporan perubahan aset kelolaan
Entitas amil menyajikan laporan perubahan aset kelelolaan yang mencakup tetapi tidak terbatas pada:
a) Aset kelolaan yang termasuk aset lancar
b) Aset kelolaan yang termasuk aset tidak lancar dan akumulasi penyusutan c) Penambahan dan pengurangan
d) Saldo awal e) Saldo akhir
Adapun format laporan perubahan aset adalah sebagai berikut, Tabel 2.4 Laporan Perubahan Aset Kelolaan
BAZ”XXX”
Untuk periode yang berakhir 31 Desember 2XX2
Saldo Awal
Penambahan Pengurangan Penyisihan Akumulasi Penyusutan dengan PSAK 02 laporan arus kas dan PSAK yang relevan.
5) Catatan Atas Laporan Keuangan
Amil menyajikan catatan atas laporan keuangan sesuai dengan PSAK 101 penyajian laporan keuangan syariah dan PSAK yang relevan
D. Organisasi Lembaga Pengelola Zakat 1. Pengertian Organisasi Pengelola Zakat
Organisasi pengelola zakat merupakan entitas ataupun lembaga yang bertugas untuk mengelola zakat, infak dan sedekah baik yang dipentuk oleh pemerintah maupun yang dibentuk oleh masyarakat.
pengelolaan zakat disini berarti segalakegiatan yang mencakup kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan pengkoordinasian dalam pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat.
Organisasi pengelola zakat dalam mengelola zakat, infak dan sedekah harus berdasarkan pada ketentuan syariat Islam dan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2011 tentang pengelola zakat. Menurut Muhammad (2008) keberadaan Organisaasi pengelola Zakat (OPZ) di Indonesia diatur oleh beberapa peraturan perundang-undangan, yaitu : UU No.38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat, Keputusan Menteri Agama No. 581 Tahun 1999 Tentang Pelaksanaan UU No. 38 Tahun 1999, Keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dan urusan Haji No. D/291 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Zakat.27
2. Macam-Macam Organisasi Pengelola Zakat a. Badan Amil Zakat (BAZ)
BAZ adalah organisasi pengelola zakat yang dibentuk oleh pemerintah terdiri atas unsur masyarakat dan pemerintah dengan tugas mengumpulkan, mendistribusikan dan mendayagunakan zakat sesuai dengan ketentuan agama.
Susunan Badan Amil zakat terdiri atas Dewan Pertimbangan, Komisi Pengawas dan Badan Pelaksana; Dewan pertimbangan
27 Hisamudin dan Sholikha, “Persepsi, Penyajian dan Pengungkapan Dana Non Halal Pada Baznas Dan PKPU Kabupaten Lumajang, Jurnal Ziswaf Vol. 1, No. 1, Juni 2014, hlm.4
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi unsur ketua, sekretaris dan anggota; Komisi pengawas sebagaimana dimaksud ayat (1) meliputi unsur ketua, sekretaris dan anggota; Bidang pelaksana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi unsur ketua, sekretaris, bagian keuangan, bagian pengumpulan, bagian pendistribusian dari pendayagunaan; Anggota pengurus Badan Amil Zakat terdiri atas unsur masyarakat dan unsur pemerintah. Unsur masyarakat terdiri atas unsur ulama, kaum cendikia, tokoh masyarakat,tenaga profesional, dan lembaga pendidikan yang terkait.
b. Lembaga Amil Zakat (LAZ)
Definisi Lembaga Amil Zakat (LAZ) Sesuai dengan ketetapan Pemerintah mengenai pengelolaan zakat yaitu UU No. 23 Tahun 2011 menyebutkan Lembaga Amil Zakat (LAZ) sebagai obyek penelitian adalah suatu lembaga di lingkungan masyarakat yang dibentuk untuk membantu BAZNAS dalam pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat. Pembentukan LAZ wajib memiliki izin Menteri atau pejabat yang ditunjuk oleh Menteri.Lembaga Amil Zakat (LAZ) adalah institusi pengelolaan zakat yang sepenuhnya dibentuk oleh masyarakat yang bergerak di bidang dakwah, pendidikan, sosial atau kemasyarakatan umat Islam, dikukuhkan, dibina dan dilindungi oleh pemerintah.
3. Karakteristik Organisasi Pengelola Zakat
Sebagai organisasi nirlaba, organisasi pengelola zakat juga memiliki karakteristik seperti organisasi nirlaba lainnya, yaitu: Sumber daya (baik dana maupun barang) berasal dari para donatur yang mempercayakannya kepada lembaga, Menghasilkan berbagai jasa dalam bentuk pelayanan kepada masyarakat, Kepemilikan oranisasi pengelola zakat tidak seperti lazimnya pada organisasi bisnis. Organisasi pengelola zakat mempunyai karakteristik yang membedakannya dengan organisasi nirlaba lainnya yaitu, Terikat dengan aturan dan prinsip-prinsip syariah Islam. Sumber dana utama adalah dana zakat, infak, sedekah, dan wakaf, Biasanya memiliki Dewan Syariah dalam struktur organisasinya.
E. Hubungan Prinsip Akuntansi Syariah Dalam Penerapan PSAK 109 Badan Amil Zakat Nasional sebagai lembaga entitas syariah yang mana dalam menjalankan kegiatan operasionalnya harus sesuai dengan skema syariah. Didalam mempertanggungjawabkan hasil kinerja nya pihak Baznas harus mengikuti prosedur sesuai ketentuan syariah. Untuk mengukur dan menilai hasil kinerja dapat dilihat dari penyajian laporan keuangan pada entitas tersebut. Di dalam akuntansi syariah penyajian laporan keuangan syariah harus memenuhi prinsip akuntansi syari‟ah yaitu,
1. Prinsip pertanggungjawaban (Accountability) adalah prinsip yang selalu berkaitan dengan konsep amanah yaitu, hasil transaksi manusia dengan Sang Khalik. Banyak ayat Al-Qur‟an yang menjelaskan tentang proses
pertanggungjawaban manusia sebagai pelaku amanah Allah dimuka bumi.
Implikasi dalam ekonomi dan akuntansi adalah bahwa individu yang terlibat dalam praktik ekonomi ataupun akuntansi harus selalu melakukan pertanggung jawaban apa yang telah diamanatkan dan diperbuat kepada pihak-pihak yang terkait. 28
Teori Akuntabilitas dalam Islam sangat sesuai jika diaplikasikan pada penerapan PSAK 109 untuk lembaga zakat maupun lembaga syariah lainya karena teori tersebut menjelaskan bentuk pertanggungjawaban lembaga amil zakat sebagai lembaga yang bergerak dalam bidang ekonomi. Bentuk pertanggungjawaban yang paling utama adalah kepada Allah SWT (akuntabilitas vertikal), selanjutnya pertanggung jawaban pada manusia dan alam (akuntabilitas horizontal).
a. Akuntabilitas Vertikal Tingkat pertama atau akuntabilitas vertikal menjelaskan bahwa seluruh alam semesta dan semua manifestasinya adalah miliknya Allah dan manusia ditunjuk oleh Allah untuk terlibat di dalamnya sementara otoritas tertinggi masih berada di tangan Allah.
Akuntabilitas vertikal merupakan bentuk pertanggung jawaban amil zakat kepada Allah SWT, dengan menerapkan prinsip-prinsip syariah merupakan salah satu caranya. Menempatkan Allah sebagai stakeholders tertinggi merupakan inti dari konsep akuntabilitas vertikal.
Sehingga tali penghubung agar akuntansi syariah tetap bertujuan pada membangkitkan kesadaran tanggung jawab pada Allah SWT. Hal ini
28 Dr. Muammar Khaddai, “Akuntansi Syariah”, (Penerbit Madenatera, Medan : 2016), hlm.17
berhubungan dengan pengumpulan dana, pengelolaan dana, serta penyaluran dana apakah telah sesuai dengan ketentuan Islam.29
b. Akuntabilitas tingkat kedua atau akuntabilitas horizontal adalah tanggungjawab sekunder yang mencakup pertanggungjawaban kepada semua pemangku kepentingan, Akuntabilitas horizontal menciptakan kesadaran yang konstan dalam Akuntan Islam. Pertama, dia harus bertanggung jawab kepada Allah SWT atas semua perbuatannya. Oleh karena itu, akuntan harus transparan dan harus berusaha memberikan laporan keuangan secara andal dan informasi yang akurat dan obyektif.
Inti dari akuntabilitas horizontal yang menjadi dasar yaitu berkaitan dengan tanggung jawab kepada manusia dan alam.
Pertanggungjawaban kepada manusia baik kepada muzakki maupun karyawan, serta maasyarakat pada umumnya. Organisasi Pengelola Zakat merupakan lembaga pengelola zakat yang terdiri dari Badan Amil Zakat dan Lembaga Amil Zakat, yang berarti di dalamnya terdapat unsur masyarakat. Sehingga Organisasi Pengelola Zakat bertanggung jawab atas dana tersebut, lebih utama pada muzakki sebagai pihak yang telah membayarkan zakatnya melalui Organisasi Pengelola Zakat yang secara otomatis memberikan amanahnya pada amil zakat. Kemudian dalam kaitannya dengan tanggung jawab kepada alam, yaitu bentuk tanggung jawab Organisasi Pengelola Zakat pada masyarakat dan
29 Astuti dan Asrori, The Analysis of Amil Competemcy and Its Effect on The Implementation of Zakat, Accounting Analysis Journal (Semarang; Universitas Negeri Semarang)
lingkungan sekitar, khususnya yang berada disekitar Organisasi Pengelola Zakat itu berada.
c. Prinsip Keadilan Menurut penasiran Al-Qur‟an surat Al-Baqarah; 282 terkandung prinsip keadilan yang merupakan nilai penting dalam etika kehidupan sosial dan bisnis. Pada konteks akuntansi, menegaskan kata adil dalam ayat 282 surat Al-Baqarah, dilakukan oleh perusahan harus dicatat dengan benar. Misalnya, bila nilai transaksi adalah sebesar Rp.
265 juta, maka akuntan (perusahaan) harus mencatat dengan jumlah yang sama dan sesuai dengan nominal transaksi.
d. Prinsip Kebenaran Prinsip ini sebenarnya tidak dapat dilepaskan dengan prinsip keadilan. Sebagai contoh, dalam akuntansi kita selalu dihadapkan pada masalah pengakuan, pengukuran laporan. Aktivitas ini
d. Prinsip Kebenaran Prinsip ini sebenarnya tidak dapat dilepaskan dengan prinsip keadilan. Sebagai contoh, dalam akuntansi kita selalu dihadapkan pada masalah pengakuan, pengukuran laporan. Aktivitas ini