BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Pengertian Rumah Sakit
Menurut UU RI No. 44s Tahun 2009 tentang Kesehatan, rumah sakit adalah institusi yang fungsi utamanya memberikan pelayanan kepada pasien, diagnostik dan teraupetik untuk berbagai penyakit dan masalah kesehatan, baik yang bersifat bedah maupun non bedah. Rumah sakit harus di bangun dan dilengkapi, serta dipelihara dengan baik untuk menjamin pelayanan kesehatan, keselamatan pasien serta harus menyediakan fasilitas yang lapang , tidak berdesak-desakan dan terjamin sanitasinya yang bertujuan untuk kesembuhan pasiennya.
Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No.983/Menkes /SK/XI/1992 tanggal 12 November tentang Pedoman Organisasi Rumah Sakit yang menyebutkan bahwa rumah sakit umum adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat dasar, spesialistik dan sub spesialistik. Rumah sakit ini mempunyai misi memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau oleh masyarakat dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Tugasnya adalah melaksanakan upaya kesehatan secara berdaya guna dan berhasil guna dengan mengutamakan upaya penyembuhan dan pemulihan yang dilaksanakan secara serasi dan terpadu dengan upaya peningkatan dan pencegahan penyakit serta penyulluhan kesehatan bagi masyarakat sekitarnya.
Peran rumah sakit sejalan dengan tujuan kesehatan adalah tercapainya kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum dan tujuan pembangunan nasional. Peran rumah sakit pada saat ini sudah bertambah dari
sarana pelayanan rujukan yang semula hanya melaksanakan upaya peningkatan dan pencegahan secara terpadu dan berkesinambungan (Soejitno, 2002).
2.3.1 Pelayanan Rumah Sakit
Rumah sakit merupakan suatu sub sistem dari pelayanan kesehatan, juga merupakan suatu industri jasa yang berfungsi untuk memenuhi salah satu kebutuhan primer manusia, baik sebagai individu, masyarakat atau bangsa secara keseluruhan untuk meningkatkan hajat hidup yang utama yaitu kesehatan. Dalam upaya menghasilkan masukan, proses dan keluaran pelayanan yang bermutu, efektif, efisien yang berorientasi kepada kepentingan pasien. Departemen Kesehatan RI telah menyusun kriteria-kriteria penting mengenai jenis disiplin pelayanan yang berkaitan terutama dengan struktur dan proses pelayanan rumah sakit. Kroteria tersebut terutama dalam bentuk “standar pelayanan rumah sakit”, sebagai salah satu nilai atau modul yang dijadikan sebagai dasar perbandingan yang harus dipakai oleh pengelola rumah sakit dalam melaksanakan pelayanan yang didasari ilmu pengetahuan dan keterampilan manajemen rumah sakit yang memadai dengan dijiwai oleh etika profesi (Depkes RI, 2002).
2.3.2 Sumber Daya Pengelolaan Limbah di Rumah Sakit
Sumber daya pengelolaan limbah sangat diperlukan dalam mencapai tujuan pengelolaan limbah di rumah sakit. Untuk mencapai tujuan yang telah di tentukan diperlukan sumber daya manusia sebagai sumber daya aktif. Harold Koonts dan Cyrill O. Donnel dalam bukunya yang berjudul prinsiple of management yang dikutip oleh Marsum dan Siti Fauziah (2007) menjelaskan bahwa sumber daya manusia
adalah hal yang paling sangat menentukan dalam hal melakukan proses untuk mencapai suatu tujuan. Sumber daya manusia di rumah sakit terdiri dari sumber daya non medis (cleaning servis dan bagian administrasi) serta sumber daya medis (dokter dan perawat). Tanpa adanya sumber daya baik medis dan non medis maka tidak akan ada proses kerja, sebab pada dasarnya sumber daya manusia adalah makhluk kerja.
Manajemen di rumah sakit tidak terlepas dari sumber daya manusia (sumber daya aktif), koordinasi antar manusia yang dikendalikan untuk mencapai tujuan adalah merupakan proses manajemen yang meliputi 4 (empat) elemen dasar sumber daya manusia:
1. Kegiatan sumber daya untuk mencapai tujuan
2. Proses dilakukan secara rasional melalui manusia lain 3. Menggunakan metode dan teknik tertentu
4. Dan dalam lingkungan organisasi tertentu.
Prinsip-prinsip umum manajemen yang berkaitan dengan sumber daya manusia, sebagai berikut:
1. Adanya pembagian kerja, kualitas anggota perlu di perhatikan baik fisik, mental, pendidikan, pengalaman dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang maha Esa.
2. Disiplin merupakan ketaatan, kepatuhan untuk mengikuti aturan yang menjadi tanggung jawabnya.
3. Kewenangan dan tanggung jawab setiap pekerja untuk melaksanakan pekerjaannya sesuai pembagian tugas yang di berikan kepadanya.
5. Penggajian pegawai dan karyawan sangat menentukan dalam kelancaran tugas. 6. Pusat kewenangan yang berdampak kepada perumusan pertanggungjawaban
dalam rangka mencapai tujuan.
7. Mekanisme kerja dalam organisasi sehingga anggota tahu siapa yang menjadi atasan dan bertanggung jawab kepada siapa dan sebaliknya.
8. Inovasi pengembangan serta inisiatif dari pekerja agar berkembang kearah perubahan kemajuan.
9. Semangat bekerja sama, yaitu hubungan manajemen dengan sumber daya manusia merupakan proses usaha pencapaian tujuan melalui kerjasama dengan orang lain untuk mencapai tujuan (Marsum dkk. 2009).
Pengorganisasian usaha sanitasi rumah sakit harus mencerminkan fungsi dinamis dengan wadah kegiatan terdiri dari unsur:
1. Pimpinan layanan sanitasi rumah sakit 2. Teknis sanitasi
3. Penunjang layanan sanitasi
Adapun tugas-tugas dalam sanitasi rumah sakit yaitu: 1. Mengembangkan prosedur rutin untuk pelaksanaannya.
2. Melatih dan mengawasi petugas pengelolaan limbah dimulai dari perawat, cleaning servis hingga petugas khusus yang melakukan pengelolaan limbah padat medis.
Petugas yang berwenang dalam pelaksanaan usaha sanitasi di rumah sakit yang termasuk didalamnya adalah perawat dan cleaning servis merupakan kunci dalam panitia atau komite keamanan dan harus melaksanakan tugasnya dalam pengawasan infeksi. Petugas harus melakukan suatu pengamatan (surveilence) sanitasi yang efektif dan melaporkan pelaksanaan program yang telah dibuat kepada pimpinan rumah sakit. Petugas khususnya perawat sebagai pemberi layanan kepada penderita dapat memengaruhi proses pengobatan. Hubungan psikobiososial penderita dengan petugas maupun dengan pengunjung dapat memengaruhi hasil penyembuhan, lebih-lebih apabila interaksi faktor biopsikososial ini berproses dalam suasana lingkungan yang bersih, nyaman dan asri (Hapsari, 2010).
2.4 Konsep Limbah Padat Medisdi Rumah Sakit