• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGERTIAN TINDAK PIDANA DAN UNSUR-UNSURNYA

Dalam dokumen KETENTUAN PIDANA KORPORASI (Halaman 90-93)

TINDAK PIDANA DAN PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN

A. PENGERTIAN TINDAK PIDANA DAN UNSUR-UNSURNYA

Tindak pidana mengandung suatu pengertian dasar dalam ilmu hu-kum yakni sebagai istilah yang dibentuk dengan kesadaran dalam berikan ciri tertentu pada peristiwa hukum pidana. Tindak pidana mem-punyai pengertian yang abstrak dari peristiwa-peristiwa yang kon kret dalam lapangan hukum pidana, sehingga tindak pidana haruslah dibe-rikan arti yang bersifat ilmiah dan ditentukan dengan jelas untuk dapat memisahkan dengan istilah yang dipakai sehari-hari dalam kehidupan masyarakat.1

Menurut P.A.F Lamintang, “Istilah tindak pidana berasal dari ba-hasa Belanda yaitu “Strafbaar feit.” Perkataan feit itu sendiri dalam baha-sa Belanda berarti “sebagian dari suatu kenyataan”, sedangkan straaf-bar berarti “dapat dihukum”, hingga secara harfiah perkataan “strafbaar feit” itu dapat diterjemahkan atau diartikan ke dalam bahasa Indonesia yang berarti sebagian dari suatu kenyataan yang dapat dihukum.”2 Biasa-nya tindak pidana disinonimkan dengan delik, yang berasal dari bahasa Latin yakni kata delictum. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tercantum sebagai berikut: “Delik adalah perbuatan yang dapat dikenakan hukum karena merupakan pelanggaran terhadap undang-undang tindak pida-na.”3 Beberapa ahli memberikan pengertian mengenai tindak pidana, di antaranya;

1. Pompe memberikan pengertian tindak pidana menjadi dua bagian yakni;

a. menurut teori bahwa tindak pidana merupakan suatu pelanggaran terhadap norma, yang dilakukan karena kesalahan si pelanggar dan diancam dengan pidana untuk mempertahankan tata hukum dan menyelamatkan kesejahteraan umum;

b. menurut hukum positif tindak pidana merupakan suatu kejadian yang oleh peraturan undang-undang dirumuskan sebagai perbu-atan yang dapat dihukum.4

2. Barda Nawawi Arief, tindak pidana adalah perbuatan melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang oleh peraturan perundangun -da ngan dinyatakan sebagai perbuatan yang dilarang -dan diancam dengan pidana.5

1 Kartonegoro, Diktat Kuliah Hukum Pidana, Balai Lektur Mahasiswa, Jakarta, hlm. 62.

2 P.A.F Lamintang, 1984, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, Sinar Baru, Bandung, hlm.

182..Lihat juga https://www.dictio.id/t/apayangdimaksuddengantindakpidanadalamhukumpi

-da na indonesia/12364/2 diakses 02/10/2018.

3 Teguh Prastyo, 2012, Hukum Pidana, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, hlm. 47.

4 Tri Andrisman, 2011, Hukum Pidana, Universitas Lampung, Bandar Lampung, hlm. 70.

5 Barda Nawawi Arief, 2010, Perbandingan Hukum Pidana, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta,

3. Sutan Remy Sjahdeini mendefinisikan tindak pidana sebagai peri-laku (conduct) yang oleh undang-undang pidana yang berperi-laku (hu-kum pidana positif) telah dikriminalisasi dan oleh karena itu dapat dijatuhi sanksi pidana bagi pelakunya.6

4. Indrianto Seno Adji memberikan pengertian tindak pidana sebagai

“perbuatan seseorang yang diancam pidana, perbuatannya bersifat melawan hukum, terdapat suatu kesalahan dan bagi pelakunya da-pat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya.”7

Tindak pidana juga merupakan bagian dasar daripada suatu kesa-lahan yang dilakukan terhadap seseorang dalam melakukan suatu keja-hatan. Jadi untuk adanya kesalahan hubungan antara keadaan dengan perbuatannya yang menimbulkan celaan harus berupa kesengajaan atau kealpaan. Dikatakan bahwa kesengajaan (dolus) dan kealpaan (culpa) merupakan bentuk-bentuk kesalahan, sedangkan istilah dari pengertian kesalahan (schuld) yang dapat menyebabkan terjadinya suatu tindak pi-dana yakni karena seseorang tersebut telah melakukan suatu perbuatan yang bersifat melawan hukum sehingga atas perbuatannya tersebut ia harus mempertanggungjawabkan segala bentuk tindak pidana yang telah dilakukannya untuk dapat diadili dan apabila telah terbukti benar bahwa telah terjadinya suatu tindak pidana yang telah dilakukan oleh seseo-rang, maka dapat dijatuhi hukuman pidana sesuai dengan pasal yang mengaturnya.8 Perbuatan pidana menurut Moeljatno meliputi unsur-unsur sebagai berikut:9

a. Unsur-unsur formil:

1. Perbuatan (manusia);

2. Perbuatan itu dilarang oleh suatu aturan hukum;

3. Larangan itu disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana ter-tentu;

4. Larangan itu dilanggar oleh manusia.

b. Unsur-unsur materiil:

Perbuatan itu harus bersifat melawan hukum, yaitu harus betul-betul dirasakan oleh masyarakat sebagai perbuatan yang tak boleh atau tak patut dilakukan. Jadi meskipun perbuatan itu memenuhi peru-musan Undang-Undang, tetapi tidak bersifat melawan hukum atau

hlm. 37.

6 Sutan Remy Sjahdeini, 2017, Ajaran Pemidanaan: Tindak Pidana Korporasi dan Seluk-Beluknya, Kencana, Jakarta, hlm. 34.

7 Indrianto Seno Adji, 2002, Korupsi dan Hukum Pidana, Kantor Pengacara Konsultan Hukum Prof. Oemar Seno Adji & Rekan, Jakarta, hlm. 155.

8 Kartonegoro, Ibid., hlm. 156.

9 Moeljatno, Op. cit., hlm. 54.

bertentangan dengan hukum, maka perbuatan itu bukan merupakan suatu tindak pidana.

Setiap tindak pidana yang terdapat di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) pada umumnya dapat dijabarkan ke dalam un-sur-unsur yang terdiri dari unsur subjektif10 dan unsur objektif.11 Unsur subjektif ialah unsur yang terdapat dalam diri si pelaku tindak pidana.

Unsur subjektif ini meliputi:

a. Kesengajaan (dolus)

Hal ini terdapat, seperti dalam melanggar kesusilaan (Pasal 281 KUHP), pembunuhan (Pasal 338 KUHP), dan lain-lain.

b. Kealpaan (culpa)

Hal ini terdapat seperti dalam dirampas kemerdekaan (Pasal 334 KUHP), menyebabkan mati (Pasal 359 KUHP), dan lain-lain.

c. Niat (voornemen)

Hal ini terdapat dalam percobaan (poging) – Pasal 53 KUHP.

d. Maksud

Hal ini terdapat seperti dalam pencurian (Pasal 362 KUHP), penipuan (Pasal 372 KUHP); dan lain-lain.

e. Dengan rencana lebih dahulu (met voorbedachte rade)

Hal ini terdapat seperti dalam pembunuhan dengan rencana (Pasal 340 KUHP).

f. Perasaan takut (vrees)

Hal ini terdapat seperti dalam: membuang anak sendiri (Pasal 308 KUHP), membunuh anak sendiri (Pasal 341 KUHP), dan lain-lain.

Adapun unsur objektif ialah unsur yang terdapat di luar diri si pela-ku tindak pidana. Menurut Lamintang unsur objektif berkaitan dengan keadaan-keadaan di mana tindakan-tindakan dari si pelaku itu harus di-lakukan.12 Unsur objektif itu meliputi:

a. Perbuatan atau kelakuan manusia;

b. Akibat yang menjadikan syarat mutlak atau delik;

c. Unsur melawan hukum;

d. Unsur lain yang menentukan sifat tindak pidana;

e. Unsur yang memberatkan tindak pidana;

f. Unsur tambahan yang menetukan tindak pidana.

10 Unsur subjektif adalah unsur-unsur yang melekat pada diri si pelaku atau yang berhubungan dengan diri si pelaku, dan termasuk ke dalamnya yaitu segala sesuatu yang terkandung di dalam hatinya.

11 Adapun unsur objektif adalah unsur-unsur yang ada hubungannya dengan keadaan-keadaan, yaitu di dalam keadaan-keadaan di mana tindakan-tindakan dari si pelaku itu harus di lakukan.

12 Lamintang P.A.F., 1984, Hukum Pidana Indonesia, SinarBaru, Bandung, hlm. 184.

Manakala tindak pidana dikonsepkan sebagai perbuatan yang di-larang dan diancam dengan pidana barangsiapa yang melakukannya, maka unsur-unsur tindak pidana meliputi tiga hal. Pertama, perbuatan itu berwujud suatu kelakukan, baik aktif maupun pasif yang berakibat pada timbulnya suatu hal atau keadaan yang dilarang oleh hukum. Kedua, ke-lakuan dan akibat yang timbul tersebut harus bersifat melawan hukum baik dalam pengertiannya yang formil maupun materiil. Ketiga, adanya hal-hal atau keadaan tertentu yang menyertai terjadinya perbuatan dan akibat yang dilarang oleh hukum.

Perumusan tindak pidana juga berpengaruh terhadap pertanggung-jawaban pidana dan bentuk pemidanaan (sanksi pidana) terhadap pem-buatnya. Berkaitan dengan hal ini, Clarkson mengatakan “criminal li-ability is imposed upon blameworthy actor whose conduct has actor whose conduct constitutes the forbidden harm.”13 Dengan demikian, hakikat celaan terhadap pembuat, juga dipengaruhi oleh perumusan perbuatan yang di-tetapkan sebagai tindak pidana dalam suatu undang-undang.

Dalam dokumen KETENTUAN PIDANA KORPORASI (Halaman 90-93)