• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penggalian Persepsi Masyarakat dengan Analisis AHP (Analytical Hierarchy Process) Hierarchy Process)

Analytical Hierarchy Process (AHP) dilakukan untuk mengetahui dan menggali persepsi dari unsur-unsur pengambil kebijakan dan masyarakat terhadap penentuan pusat aktivitas KTM. Dalam menetapkan suatu kebijakan, maka perumusan kebijakan akan dihadapkan pada banyak faktor, baik yang besifat kuantitatitf maupun kualitatif. Dengan menggunakan metode AHP, maka semua faktor yang dianggap berpengaruh terhadap suatu kebijakan akan dilakukan dalam perhitungan.

Beberapa keuntungan dari penggunaan metode AHP antara lain adalah : 1. Dapat mempresentasikan suatu sistem yang dapat menjelaskan bagaimana

perubahan pada level yang lebih tinggi mempunyai pengaruh terhadap unsur-unsur pada level yang lebih rendah.

2. Membantu memudahkan analisis guna memecahkan persoalan yang kompleks dan tidak terstruktur dengan memberikan skala pengukuran yang jelas guna mendapatkan prioritas.

3. Mampu mendapatkan pertimbangan yang logis dalam menentukan prioritas dengan tidak memaksakan pemikiran linier.

4. Mengukur secara komprehensif pengaruh unsur-unsur yang mempunyai korelasi dengan maslah dan tujuan, dengan memberikan skala pengukuran yang jelas.

Menurut Saaty (1980) dalam Mirza (2006), langkah-langkah yang dilakukan dalam metode AHP adalah :

1. Mengidentifikasi/menetapkan masalah yang muncul;

2. Menetapkan tujuan, kriteria dan hasil yang ingin dicapai;

3. Mengidentifikasi kriteria-kriteria yang mempunyai pengaruh terhadap masalah yang ditetapkan;

4. Menetapkan struktur hierarki. Hierarki adalah suatu sistem yang tersusun dari beberapa level/tingkatan, dimana masing-masing tingkat mengandung beberapa unsur atau faktor.

5. Menentukan hubungan antara masalah dengan tujuan, hasil yang diharapkan, pelaku/objek yang berkaitan dengan masalah, dan nilai masing-masing faktor.

6. Membandingkan alternatif (comparative judgement)

7. Menentukan faktor-faktor yang menjadi prioritas (synthesis of priority) 8. Menentukan urutan alternatif dengan memperhatikan logical consistency

Sarana yang digunakan dalam AHP adalah dengan memberikan kuisioner kepada responden terpilih yang mengetahui dan memahami dengan baik masalah yang menjadi objek penelitian. Metode sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Kriteria responden adalah pihak-pihak yang terlibat langsung atau minimal pernah terlibat dalam perumusan kebijakan serta dianggap memahami tentang perencanaan Kota Terpadu Mandiri (KTM) di Kawasan Transmigrasi Mesuji, terutama masyarakat dan Pemerintah daerah kabupaten Tulang bawang. Kriteria responden tersebut dimaksudkan agar jawaban yang diperoleh dapat mencerminkan kondisi yang lebih realistis dalam penentuan prioritas kebijakan pengembangan KTM di Kawasan Transmigrasi Mesuji.

Responden diambil terhadap Responden untuk analisis AHP terdiri dari unsur masyarakat dan pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Tulang Bawang yang masing-masing di wakili oleh satu orang yang dianggap mengerti dan terlibat langsung dalam penyusunan kebijakan. Responden yang dipilih tersebut antara lain Sekretaris Daerah Kabupaten, unsur Bappeda Kabupaten Tulang Bawang, unsur perencanaan Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja Kabupaten Tulang Bawang, unsur perencanaan Dinas Pertanian Kabupaten Tulang Bawang, unsur perencanaan Dinas Perkebunan Kabupaten Tulang Bawang dan perwakilan anggota DPRD Kabupaten Tulang Bawang. Dalam penelitian ini analisis AHP dilakukan dengan menggunakan program aplikasi Axpert Choice 200.

Goal Kriteria Alternatif

Gambar 2. Struktur AHP Terhadap Penentuan Pusat Aktivitas Pelayanan KTM Identifikasi Tiplologi Kelembagaan

Analisis Tipologi Kelembagaan

Analisis ini dilakukan untuk mengetahui berbagai tipologi kelembagaan yang ada di di Kawasan Transmigrasi Mesuji. Tipologi kelembagaan di kawasan transmigrasi Mesuji didasarkan pada tingkat keberlanjutan kelembagaan. Dalam studi ini penentu keberlanjutan kelembagaan didasarkan pada tiga hal, yaitu: (1) pelayanan terhadap anggota; (2) peranserta anggota; dan (3) good governance.

Dari Perspektif Social Capital, yang intinya membangun dan mengembangkan hubungan kelembagaan (institutional-networking), dapat dijelaskan bahwa interaksi atau “keseimbangan dinamis” antara “pelayanan” dan “peranserta”

merupakan suatu kapital sosial kelembagaan yang mengindikasikan bahwa secara kelembagaan dicapai suatu “keberhasilan proses manajemen”. Sedangkan good governance (tata kelola yang baik) mengindikasikan bahwa telah terjadi proses

PUSAT AKTIVITAS

SumberDaya Wilayah

Sosial Fisik Wilayah

Perekonomian Wilayah

SDA

Desa B Sarana

Kelembagaan

kependudukan

Kesetrategisan Lokasi

Pertanian

Industri dan Jasa

Desa A

pelembagaan pada kelembagaan tersebut yang berlandaskan pada prinsip-prinsp demokrasi, transparansi, dan akauntabilitas.

Dengan dua variabel di atas: “keseimbangan pelayanan-peranserta” dan

“good governance”, dibangun tipologi kelembagaan dalam bentuk kuadran. Suatu garis kontinum horisontal (ordinat) menggambarkan tingkat keberhasilan proses manajemen yang diindikasikan dengan rendah sampai tinggi “keseimbangan pelayanan-peranserta” dalam suatu kelembagaan. Garis vertikal (absis) mengambarkan tidak berfungsi sampai dengan berfungsinya good governance.

“Perpotongan” garis ordinat dan absis tersebut di atas membentuk suatu “model”

kuadran atau tipologi kelembagaan.

Kuadran Pertama adalah “ruang” yang disediakan bagi sejumlah kelembagaan yang memiliki tingkat “keseimbangan pelayanan-peranserta” tinggi dan berfungsinya prinsip-prinsip good governance. Dalam Kuadran Pertama ini kelembagaan merupakan suatu kelembagaan yang sustain. Kuadran Kedua adalah “ruang” yang menjadi tempat bagi sejumlah kelembagaan yang memiliki tingkat “keseimbangan pelayanan-peranserta” rendah, tetapi prinsip-prinsip good governance nya berfungsi. Dalam Kuadran Kedua ini kelembagaan merupakan suatu kelembagaan yang semi-sustain dengan kendala manajemen. Kuadran Ketiga adalah “ruang” yang menjadi tempat bagi sejumlah kelembagaan yang memiliki tingkat “keseimbangan pelayanan-peranserta” rendah dan tidak berfungsinya prinsip-prinsip good governance atau bad governance. Dalam Kuadran Ketiga ini kelembagaan merupakan kelembagaan-kelembagaan yang tidak Sustain. Kuadran Keempat adalah ruang yang disediakan bagi sejumlah kelembagaan yang memiliki tingkat “keseimbangan pelayanan-peranserta” tinggi, tetapi prinsip-prinsip good governance nya tidak berfungsi. Dalam Kuadran Keempat ini kelembagaan merupakan kelembagaan yang semi-sustain dengan kendala good governance.

Penentuan responden untuk pengambilan sampel data kelembagaan dan dilakukan dengan stratified purposive sampling, yang dilakukan berdasarkan hasil analisis skalogram terhadap seluruh desa yang ada di Kecamatan Mesuji dan Mesuji Timur. Sampling diambil pada desa yang mewakili hierarki I, II dan III (hasil analisis Skalogram). Untuk data kelembagaan kelompok tani, tiap-tiap

hierarki diwakili oleh 2 desa, masing masing desa diwakili 5 kelompok tani, sedangkan untuk P3A dan Koperasi karena jumlahnya yang terbatas, dilakukan pengambilan data kelembagaan pada semua kelembagaan tersebut

Data dan informasi kuantitatif di tingkat responden, kelembagaan, dan satuan wilayah kecamatan diolah dan dianalisis melalui tabulasi frekuensi, tabulasi silang, dan regresi linier dengan menggunakan software SPSS 10.

Ilustrasi hasil tabulasi tipologi kelembagaan di kawasan transmigrasi mesuji seperti disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5. Tabulasi Silang Tipologi Kelembagaan di Kawasan Transmigrasi Mesuji

Tata Kelola yang baik

Tipe 2 Tipe 1

Rendah Tinggi

Keseimbangan Pelayanan Peran Serta Keseimbangan Pelayanan Peran Serta

Tipe3 Tipe4

Tata Kelola yang buruk

Matriks Tujuan, Kerangka Ana$lisis Penelitian, Data yang dibutuhkan dan Hasil yang diharapkan.

Berdasarkan tujuan, kerangka analisis penelitian, data yang dibutuhkan, dan hasil yang diharapkan maka disusun matriks sebagaimana tertera pada Tabel 6 dan diagram alir pada Gambar 3.

Tabel 6. Matrik Tujuan, Analisis, Data yang Dibutuhkan dan Hasil yang Diharapkan

No Tujuan Analisis Data dan Sumber Data Hasil yang diharapkan

Primer Skunder Efisiensi dan Margin Pasar

Analisis Skalogram dan

Analisis AHP Perspesi, KTM dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya KTM Berbasis Potensi Agribisnis Masyarakat dan Kawasan pada Kawasan Transmigrasi Mesuji

Gambar 3. Bagan Alir Kegiatan Penelitian - Pelayanan thd. Anggota - Manfaat bagi anggota - Good governance

Analisis LQ Analisis Usahatani, Analisis Margin Pasar

Arahan Strategi Pengembangan KTM pada Kawasan Transmigrasi Berbasis Potensi Agribisnis Masyarakat

dan Kawasan

Analisis Skalogram, AHP Identifikasi Potensi Pngembangan Komoditas Unggulan

Analisis tabulasi frekuensi, tabulasi silang, dan metode

statistika

Pengembangan Kota Terpadu Mandiri (KTM) di Kawasan Transmigrasi dirancang dengan kegiatan utamanya pertanian termasuk pengelolaan sumberdaya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman, pelayanan jasa permukiman, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi. Menurut Depnakertrans (2006) dalam hal ini pengembangan KTM menggunakan konsep Agropolitan.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan KTM diantaranya luas kawasan transmigrasi, memiliki produk unggulan, skala ekonomi, akses, dan tingkat kepadatan penduduk yang relatif rendah. Disamping itu unit-unit permukiman transmigrasi yang telah ada diarahkan menjadi KTM harus memenuhi beberapa persayaratan diantaranya ketersediaan lahan, potensi sumber daya alam dan manusia, serta kelembagaan masyarakat yang mendukung.

Wilayah Administrasi, Letak Geografis dan Aksesbilitas

Kabupaten Tulang Bawang dibentuk berdasarkan Undang-undang No.02 Tahun 1997, yang semula merupakan bagian dari Kabupaten Lampung Utara.

Luas wilayah Kabupaten Tulangbawang adalah 7.770,84 Km2 dan merupakan Kabupaten terluas di Propinsi Lampung, kurang lebih 22% dari luas wilayah Propinsi Lampung. Kabupaten Tulang Bawang dipilih sebagai salah satu lokasi KTM karena memiliki potensi yang sangat besar sebagai kawasan pengembangan pertanian pangan dan perkebunan seperti padi, jagung, karet dan kelapa sawit.

Kawasan Transmigrasi Mesuji dipilih sebagai lokasi KTM karena letaknya yang strategis. Kawasan Transmigrasi Mesuji terletak di sekitar Jalan Lintas Timur Sumatera yang menghubungkan antara Kota Bandar Lampung Provinsi Lampung dan Kota Palembang Provinsi Sumatera Selatan.

Lokasi Kota Terpadu Mandiri (KTM) berada di Kawasan Transmigrasi Mesuji yang meliputi Kecamatan Mesuji Timur dan Mesuji Lampung. Secara geografis, lokasi KTM Mesuji Kabupaten Tulang Bawang berada pada posisi lintang dan bujur masing-masing antara 03o42’ – 04o5’ Lintang Selatan sampai dengan 105o23’ - 105o38’ Bujur Timur. Luas wilayah KTM Mesuji Kabupaten

Tulang Bawang ini adalah 46.559,94 Ha. Batas-batas lokasi ini adalah sebagai berikut:

Sebelah Utara : Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan Sebelah Barat : Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan Sebelah Selatan : Kecamatan Rawajitu Utara, dan

Sebelah Timur : Kecamatan Tanjung Raya.

Kecamatan Mesuji Timur dan Mesuji Lampung terdiri dari 22 desa, sebagaimana disajikan pada Tabel 7 dan Gambar 4.

Tabel 7. Desa-desa di Lokasi KTM Kabupaten Tulang Bawang No Nama Desa Lokasi Penempatan Tahun

Penempatan Kecamatan Keterangan 1 Tanjung Mas

Makmur Mesuji Atas SP6 1995-1996 Mesuji Timur Transmigrasi 2 Pangkal Mas Jaya Mesuji Atas UPT II 1993-1994 Mesuji Timur Transmigrasi 3 Pangkal Mas

Mulya Mesuji Atas SP SP4 1994-1995 Mesuji Timur Transmigrasi 4 Muara Mas Mesuji Atas SP5 1994-1995 Mesuji Timur Transmigrasi 5 Tanjung Mas Jaya Mesuji Atas SP7 1995-1996 Mesuji Timur Transmigrasi 6 Tanjung Mas

Mulya Mesuji Atas SP8 1995-1996 Mesuji Timur Transmigrasi 7 Eka Mulya Mesuji F SP1 1992-1993 Mesuji Timur Transmigrasi 8 Dwi Karya

Mustika Mesuji F SP2 1993-1994 Mesuji Timur Transmigrasi 9 Wonosari Mesuji F SP3 1992-1993 Mesuji Timur Transmigrasi 10 Sungai Cambai Kampung Asli - Mesuji Timur Kampung Asli 11 Tanjung Meneng Mesuji I SP2 1983-1984 Mesuji Timur Transmigrasi 12 Talang Batu Kampung Asli - Mesuji Timur Kampung Asli 13 Margojadi Mesuji F SP1 1983-1984 Mesuji Timur Transmigrasi

14 Wiralaga I Kampung Asli - Mesuji 19 Mulyasari Mesuji Atas SP11 1997-1999 Mesuji

Lampung Transmigrasi 20 Sumber Makmur Mesuji Atas SP12 1997-1999 Mesuji

Lampung Transmigrasi Sumber : Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja Kabupaten Tulang Bawang (2007)

Ibukota Kecamatan Mesuji Lampung adalah Wiralaga, sedangkan Ibukota Kecamatan Mesuji Timur adalah Tanjung Mas Makmur. Jarak tempuh dari Wiralaga ke ibukota Kabupaten adalah 102 km, sedangkan jarak tempuh dari Tanjung Mas Makmur ke Ibukota Kabupaten adalah 117 km.

Berdasarkan studi Widiatmaka et al. (2006) rencana pusat Kota Transmigrasi Mandiri adalah Desa Tanjung Mas Makmur (Mesuji Atas SP.6).

Jumlah transmigran yang telah dimukimkan di Desa Tanjung Mas Makmur adalah 500 Kepala Keluarga dan Penempatannya dilaksanakan pada Tahun 1995/1996.

Secara administratif pembinaan warga transmigran di Desa Tanjung Mas makmur telah diserahkan kepada Pemda Kabupaten Tulangbawang pada Tahun 1999/2000.

Sarana dan prasarana yang terdapat di wilayah tersebut adalah jalan dan jembatan yang dibangun pada awal penempatan transmigran, sehingga kedua sarana dan prasarana tersebut kondisinya sudah memprihatinkan. Di musim kemarau jalan masih dapat dilalui, namun pada saat musim hujan kendaraan roda empat tidak dapat melintas di jalan tersebut.

Ruas jalan yang terdapat pada wilayah KTM Mesuji adalah ruas jalan Simpang Pematang – Wiralaga sepanjang 40 Km dan ruas jalan Wiralaga – Mesuji Atas sepanjang 14 Km. Kondisi kedua ruas jalan ini dalam keadaan rusak berat. Ruas jalan ini juga merupakan jalan utama menuju ke Unit Pemukiman Transmigrasi binaan dan memiliki nilai aspek ekonomis untuk mendukung kegiatan ekonomi terhadap wilayah pemukiman transmigrasi disekitarnya.

Kawasan Transmigrasi Mesuji dipilih sebagai Lokasi KTM karena letaknya yang strategis yaitu terletak di antara Kota Bandar Lampung Provinsi Lampung dan Kota Palembang Provinsi Sumatera Selatan yang dihubungkan oleh Jalan Lintas Timur Sumatera. Sehingga apabila didukung dengan pengembangan aksesbilitas di Kawasan tersebut diharapkan tingkat pertumbuhannya akan tinggi, sebagai pengaruh dari adanya mobilitas ekonomi antara Sumatera Selatan dan Lampung yang melintasi kawasan tersebut.

Tulang Bawang Lampung

Kondisi Fisik Wilayah

Kawasan Transmigrasi Mesuji merupakan wilayah dataran. Lokasi KTM di Kawasan Transmigrasi Mesuji, lahannya didominasi oleh kelas lereng <3 %, yaitu dengan luas lahan 46.411,68 hektar atau 97,95 % dari luas calon KTM Tulang Bawang. Di areal calon lokasi KTM tidak terdapat lahan yang memiliki kelas lereng >25 %. Ditinjau dari ketinggiannya, wilayah calon KTM sebagian besar memiliki kelas ketinggian <10 m dpl, yaitu dengan luas mencapai 87,86 % dari luas wilayah atau 41.631,83 hektar (Widiatmaka et al., 2006). Sebaran lahan berdasarlakan lereng dan ketinggian disajikan pada Tabel 8 dan 9

Tabel 8 Sebaran Lahan Berdasarkan Tingkat Kelerengan di Lokasi KTM

Jumlah 47.383,96 100,00

Tabel 9. Sebaran Lahan Berdasarkan Ketinggian di Lokasi KTM Kawasan

Jumlah 47.383,96 100,00

Jenis tanah di kawasan transmigrasi Mesuji dapat digolongkan menjadi tiga kelompok besar tanah, yaitu kelompok-kelompok tanah lahan kering, kelompok-kelompok tanah lahan basah yang memiliki ciri hidromorfik dan kelompok tanah gambut. Kelompok terakhir ini hanya memiliki luasan yang sangat kecil. Kelompok tanah lahan kering diantaranya adalah dari ordo tanah

(USDA, 1987) Kanhapludults, Hapludox, dan Tropohumods. Kelompok tanah dengan ciri hidromorfik diantaranya adalah dari ordo Dystropepts, Fluvaquents, Sulfaquents, Quartzipsamments dan Psammaquents. Kelompok tanah pertama terutama menempati areal lahan kering di bagian barat areal studi, sementara kelompok tanah lahan basah berada di bagian timur, di sepanjang aliran Sungai Mesuji. Kelompok tanah gambut, yaitu dari ordo Tropohemists dan Sulfihemists hanya ada dalam jumlah sangat sedikit.

Cakupan formasi geologi di di Lokasi KTM di Kawasan Transmigrasi Mesuji terdiri atas Formasi Aluvium, Endapan Rawa, dan Muaraenim. Formasi Aluvium tersebar di sepanjang Sungai Mesuji yang merupakan batas dengan Kabupaten Ogan Komering Ilir dengan cakupan areal sebesar 10.914,40 hektar atau 23,44 % luas wilayah calon KTM Tulang Bawang. Formasi geologi lainnya adalah Endapan Rawa, yaitu mencakup 27.589,62 hektar (59,26 %). Formasi ini merupakan formasi yang memiliki luasan terbesar di wilayah calon lokasi KTM Mesuji. Formasi Muaraenim merupakan formasi yang paling kecil di wilayah calon KTM, cakupannya hanya sebesar 17,30 % dari luas calon KTM atau sebesar 8.055,92 hektar. Sebaran formasi geologi ini berada di bagian barat sampai ke selatan Lokasi calon KTM (Widiatmaka et al. 2006). Sebaran formasi geologi selengkapnya disajikan pada Tabel 10.

Tabel 10. Formasi Geologi di Lokasi KTM di Kawasan Transmigrasi Mesuji

No Geologi Luas

Simbol Formasi Ha %

1 Qa Aluvium 10.914,40 23,44

3 Qs Endapan Rawa 27.589,62 59,26

5 Tmpm Formasi Muaraenim 8.055,92 17,30

Total 46.559,94 100,00

Kawasan Transmigrasi Mesuji beriklim tropis dengan musim hujan dan musim kemarau yang bergantian sepanjang tahun. Jumlah curah hujan pada tahun 2004 adalah sebesar 1.689,2 mm/tahun, sedangkan menurut data dari Kantor Statistik Lampung Utara Tahun 1996 curah hujan di Wilayah Mesuji mencapai 2955 mm/th. Musim kemarau di daerah ini terjadi pada bulan Juni sampai Oktober, sedangkan musim penghujan terjadi pada bulan Nopember sampai Mei.

Jumlah hari hujan pada tahun 2006 berkisar antara 1-23 hari hujan, sebagaimana

disajikan pada pada Tabel 11 dan 12. Suhu udara rata-rata maksimum adalah sebesar 31 oC.

Bila diklasifikasikan berdasarkan sistem klasifikasi iklim Oldeman, wilayah Kabupaten Tulang Bawang termasuk tipe iklim D4 yaitu tipe iklim dengan bulan basah 3-4 bulan berturut-turut, dan bulan keringnya >6 bulan berturut-turut. Sedangkan berdasarkan klasifikasi iklim Schmidth-Ferguson, wilayah ini termasuk tipe iklim C, karena perbandingan antara bulan kering (<60 mm) dengan bulan basah (>100 mm) terdapat pada selang 33,3-60 %.

Tabel 11. Curah Hujan Rata-rata dan Iklim Kabupaten Tulang Bawang

No Bulan Curah Hujan (mm) Rata-

Sumber : Database Perkebunan dan Kehutanan, 2005 dan Depnakertrans (2006) Tabel 12 Jumlah Curah Hujan dan Hari Hujan Bulanan di Wilayah Mesuji Tahun

1995

Sumber : Kantor Statistik Lampung Utara, 1996

Berdasarkan kondisi-kondisi fisik tersebut Kawasan Transmigrasi Mesuji cocok untuk pengembangan pertanian terutama tanaman pangan dan perkebunan.

Areal pengembangan tanaman perkebunan seperti kelapa sawit dan karet sebagian besar terdapat di lahan kering. Areal ini terletak di bagian barat Kawasan Transmigrasi Mesuji. Tanaman pangan seperti padi dan jagung banyak diusahakan di bagian timur kawasan transmigrasi di dataran sepanjang sungai Mesuji. Lokasi Permukiman dan pusat-pusat pelayanan tersebar di seluruh Kawasan membentuk spot-spot. Kawasan lindung berada di sepanjang DAS sungai Mesuji.

Analisis Kesesuaian Lahan

Penilaian kesesuaian lahan dilakukan dengan pendekatan satuan lahan yang dikemukakan FAO (1976). Penilaian kelas kesesuaian lahan dilakukan dengan cara mencocokkan karakteristik dan kualitas lahan dengan persyaratan penggunaan lahan tertentu.

Kesesuaian lahan dibagi menjadi lima kelas, seperti berikut ini :

1. Kelas S1 : Sangat Sesuai. Lahan tidak mempunyai pembatas yang besar untuk pengelolaan yang diberikan, atau hanya mempunyai pembatas yang tidak secara nyata berpengaruh terhadap produksi dan tidak akan menaikan masukan yang telah diberikan

2. Kelas S2 : Cukup Sesuai. Lahan mempunyai pembatas-pembatas yang agak besar untuk mempertahankan tingkat pengelolaan yang harus diterapkan.

Pembatas akan mengurangi produk atau keuntungan dan meningkatkan masukan yang diperlukan

3. Kelas S3: Sesuai Marjinal. Lahan mempunyai pembatas-pembatas yang besar untuk mempertahankan tingkat pengelolaan yang harus diterapkan. Pembatas akan mengurangi produksi dan keuntungan atau lebih meningkatkan masukan yang diperlukan

4. Kelas N1: Tidak Sesuai pada saat ini. Lahan mempunyai pembatas yang lebih besar, tetapi lebih memungkinkan diatasi, tetapi tidak dapat diperbaiki dengan tingkat pengelolaan dengan modal normal. Keadaan pembatas sedemikian besar sehingga mencegah penggunaan dalam jangka panjang.

5. Kelas N2 : Tidak Sesuai untuk selamanya. Lahan mempunyai pembatas permanen yang mencegah segala kemungkinan penggunaan jangka panjang

Analisis kesesuaian lahan kawasan transmigrasi diperoleh dengan cara mencocokkan karakteristik dan kualitas lahan dengan persyaratan penggunaan lahan tertentu berdasarkan Kriteria Kesesuaian Lahan (LREP II, 1994 dalam Widiatmaka et al., 2007). Peta tanah yang digunakan bersumber dari Widiatmaka et al (2006) yaitu Peta Tanah dan Satuan Lahan skala 1 : 250.000 (PPT, 1994).

Sebagai gambaran bahwa dalam penentuan kelas kesesuaian lahan didasarkan

oleh kelas minimum (berdasarkan karakteristik yang paling minimum).

Penentuan kelas kesesuaian tersebut dilakukan dikarenakan adanya keterbatasan data, dimana peta yang tersedia hanya dalam skala 1 : 250.000. Tingkat kesesuaian lahan untuk pengembangan tanaman padi sawah, jagung, kelapa sawit dan karet di wilayah tersebut secara rinci sebagai berikut:

1. Kesesuaian lahan Padi Sawah

Budidaya padi sawah selalu diupayakan oleh petani transmigran di Kawasan Transmigrasi Mesuji untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Akan tetapi budidaya padi sawah di kawasan tersebut dihadapkan pada berbagai masalah terutama menyangkut kendala-kendala kimia, kesuburan serta pengelolaan tanah dan air.

Berdasarkan hasil analisis kesesuaian lahan, kelas kesesuaian lahan di kawasan penelitian sebagian besar adalah S3 (sesuai marjinal), yaitu 76.463,86Ha (98,55%). Lahan ini tersebar di hampir seluruh desa di Kawasan Transmigrasi Mesuji. Kelas kesesuaian N adalah seluas 1.128,836 Ha (1,45%) yang berada di Desa Nipah Kuning.

Usaha perbaikan dari N ke S3 dan dari S3 ke S2 kemungkinan masih dapat dilakukan sepanjang faktor pembatasnya termasuk dalam katagori yang memungkinkan diperbaiki. Hal yang perlu diperhatikan adalah besarnya biaya perbaikan lahan dengan hasil yang akan dicapai merupakan hal yang perlu dipertimbangkan. Kelas kesesuaian lahan aktual tanaman padi disajikan pada Tabel 13 dan Gambar 5.

Kelas kesesuaian S3 (sesuai marjinal) untuk pengembangan padi sawah tersebar di sebagian besar Kawasan Trasnmigrasi Mesuji. Pada umumnya faktor pembatasnya adalah ketersediaan hara (n), tingkat kemasaman/retensi hara(f), media perakaran (r) dan toxisitas (x). Pada lahan dengan kelas kesesuaian S3 dan dengan pembatas n dan f dapat dilakukan usaha perbaikan dengan melakukan pemupukan NPK untuk meningkatkan kadar P dan K dan pengapuran untuk mengurangi kemasaman tanah. Selain itu dapat pula dilakukan pemberian pupuk organik guna meningkatkan KTK, memperbaiki struktur tanah yang merupakan sumber energi bagi kehidupan jasad mikro tanah. Lahan dengan faktor pembatas r dapat diperbaiki dengan pengelolaan sistem drainase yang baik guna

mempercepat kematangan gambut. Lahan dengan faktor pembatas x (toxisitas) memiliki lapisan sulfidik pada kedalaman 50 cm menjadi faktor pembatasnya.

Usaha perbaikan yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pengaturan sistem tata air tanah. Menurut Radjagukguk (1990) dalam Chotimah (2002), kunci keberhasilan budidaya padi sawah pada lahan gambut terletak pada keberhasilan dalam pengelolaan dan pengendalian air, penanganan sejumlah kendala fisik yang merupakan faktor pembatas, penanganan substansi toksik dan pemupukan unsur makro dan mikro. Sesuai dengan potensi kesesuaian lahan untuk pengembangan tanaman padi sawah di Kawasan Transmigrasi Mesuji, pengembangan tanaman padi sawah dapat diarahkan pada satuan-satuan lahan di sepanjang daerah pinggir sungai Mesuji yang mempunyai fisiografi aluvial dan dataran yang terletak di bagian timur dan tengah dari Kawasan Transmigrasi Mesuji.

Tabel 13. Klasifikasi Kelas Kesesuaian Lahan Aktual Tanaman Padi Sawah di Kawasan Transmigrasi Mesuji

No SPT Kelas Kesesuaian Lahan Aktual

Luas

Kelas Kesesuaian Lahan Faktor Pembatas S1 = Sangat Sesuai n = Hara tersedia S2 = Cukup Sesuai r = Media Perakaran S3 = Sesuai Marjinal f = Retensi Hara N = Tidak Sesuai x = Toksisitas

Gambar 5. Peta Kesesuaian Lahan Aktual untuk Pengembangan Tanaman Padi

Gambar 5. Peta Kesesuaian Lahan Aktual untuk Pengembangan Tanaman Padi

Dokumen terkait