PENGADILAN TINGGI MEDANBT = 100o000 030 090 s/d 100o000 150 000
2 TENTANG PENGGUGAT TIDAK MEMPUNYAI KEPENTINGAN HUKUM
1.7 Pendapat M.Yahya Harahap, dalam bukunya yang berjudul
Hukum Acara Perdata Tentang Guqatan, Persidangan,
Penyitaan, Pembuktian dan Putusan Pengadilan, Sinar Grafika Jakarta, 2005, Halaman 527, Pasal142 Ayat (5) RBg yang menjelaskan "Dalam gugatannya mengenai barang tetap maka gugatan diajukan kepada Ketua Pengadilan Negeri diwilayah letak barang tetap tersebut";
1.8 Perbuatan melawan hukum diatur dalam Pasal 1365 KUHPerdata (BW)
1.9 Bahwa segala apa yang dikemukakan Pembanding I/Tergugat I tentang kewenangan Pengadilan Negeri Padangsidimpuan telah dimuat dalam Surat Jawabannya dan telah dipertimbangkan secara cermat dan utuh oleh Majelis Hakim perkara a quo sehingga tidak ada hal-hal yang baru yang disampaikan Pembanding I/Tergugat I dalam Memori Bandingnya
Dengan demikian putusan (Majelis Hakim) Pengadilan Negeri Padangsidimpuan yang menolak Eksepsi Tergugat I, dan
Tergugat III, untuk seluruhnya (kompetensi Relatif dan Kompetensi Absolut) adalah putusan yang sudah tepat dengan
didasari pertimbangan hukum yang cukup, cermat dan utuh, maka Pengadilan Negeri Padangsidimpuan berwenang untuk memeriksa dan mengadili perkara a quo
2 TENTANG PENGGUGAT TIDAK MEMPUNYAI KEPENTINGAN HUKUM
Bahwa alasan-alasan yang dikemukan dalam memori banding Pembanding I/Tergugat I bahwa Penggugat tidak mempunyai kepentingan Hukum hanya karena adanya Putusan Pidana yang
PENGADILAN TINGGI MEDAN
telah mempunyai kekuatan hukum (in kracht van gewijsde), sama sekali tidak benar dan bahkan menggelikan, karena kepentingan hukum Penggugat/Terbanding sangat nyata dalam perkara a quo yang dengan cara-cara yang melawan hukum dirampas, dengan alasan sebagai berikut:
2.1 Bahwa putusan pidana yang disebut telah berkekuatan hukum, dengan segala keanehan dan dikatakan telah dieksekusi diruangan Kejaksaan Tinggi Medan dalam sehelai surat berupa serah terima antara Kepala Kejaksaan Tinggi dengan Kepala Dinas Kehutanan Prov. Sumatera Utara, merupakan keajaiban tersendiri dalam masalah eksekusi benda tidak bergerak berupa lahan perkebunan, karena tanpaplaatselijk
onderzoek dan constatering,Tergugat I, dan II menserah
terimakan secara fiktif lahan sebagai benda tidak bergerak, tanpa prosedur yang harus dilalui dalam eksekusi benda tidak bergerak dengan kehadiran pejabat pemerintah setempat serta pihak-pihak terkait yang menunjukkan batas-batas yang dieksekusi terutama seluruh pemilik yang terkait dengan batas-batas yang jelas dengan patok-patok yang menentukan secara kongkrit apa yang diserahkan. Justru pemeriksaan
setempat (plaatseljk onderzoek)dalam perkara ini yang
dilakukan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Padang Sidempuan, menunjukkan bahwa rujukan dan penentuan lokasi lahan Penggugat yang dinyatakan dirampas untuk negara yang menjadi objek sengketa dalam perkara a quo justru tidak berada ditempat yang dirumuskan oleh Para Tergugat, teristimewa Jaksa Penuntut Umum yang menjadi patokan utama.
2.2 Bahwa seluruh rangkaian alat bukti dan peristiwa telah menunjukkan bahwa Pembanding I/Tergugat I telah melakukan perbuatan melawan hukum yang mengakibatkan kerugian kepada Penggugat/Terbanding, karena tidak terdapat alasan-alasan yang dapat mengesampingkan kenyataan bahwa dalam negara hukum, justru pelaksanaan kekuasaan negara harus tunduk pada hukum yang berlaku, dan penyelenggara negara tidak boleh
PENGADILAN TINGGI MEDAN
melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak jelas dasar hukumnya, apalagi jika dilakukan rekayasa; eksekusi yang
dilaksanakan secara terburu-buru di penghujung masa jabatan Menteri Kehutanan yang lama meskipun telah mengetahui adanya Putusan Perdata dan Putusan TUN yang menunjukkan bukti sebaliknya, menjadi tanggung jawab Pembanding secara tanggung renteng;
2.3 Bahwa perlindungan dan pengakuan konstitusi atas hak-hak traditional Penggugat telah jelas-jelas ditegaskan dengan Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) No 35/PUU-X/2012, 16 Mei 2013 yang intinya menyatakan :
“ bahwa hutan adat yang dimiliki oleh masyarakat
tidak termasuk hutan Negara” hal mana juga merupakan ketentuan yang dianut oleh UU No.41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan khususnya Pasal 15 dan Putusan MK No.45/PUU-IX/2011, 9 Februari 2012 tentang pemahaman dan pemaknaan penetapan Kawasan Hutan harus melalui empat tahapan, yaitu :
“ Penunjukan, Penata Batasan, Pemetaan dan Pengukuhan/Penetapan, tanpa manaPenunjukkan hutan tanpa proses tahapan tersebut adalah praktek dari pada pemerintahan otoriter dan bukan merupakan praktek dari pemerintahan yang demokratis ”.
2.4 Bahwa Penggugat/Terbanding menolak alasan Pembanding/Tergugat I tentang pernyataan bahwa Pembanding tidak melakukan perbuatan melawan hukum hanya dengan mengulang alasan-alasan yang telah dikemukakan dalam jawaban dan dupliknya dan sama-sekali tidak membawa hal baru, dengan alasan bahwa Putusan MK tidak berlaku surut dan Putusan No.45/PUU-IX/2011mempertahankan Pasal 81 UU No.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan tetap sah dan mengikat, karena Putusan MK No.45/PUU-IX/2011 tidak berdiri sendiri dan beberapa putusan MK lainnya secara jelas mengakui masyarakat hukum
PENGADILAN TINGGI MEDAN
adat atas lahan sengketa antara lain Putusan No.34/PUU-IX/2011, No.35/PUU-X/2012, dan No.55/PUU-VIII/2010. Lagipula hak masyarakat hukum adat yang telah ada sejak sebelum Indonesia merdeka, yang merupakan hukum yang berlaku jauh lebih awal daripada apa yang dirujuk oleh Pembanding baik ketentuan pidana maupun tentang penetapan kawasan hukum sebagai dasar perampasan lahan perkebunan para penggugat dalam perkara Pidana No.481/Pid.B/2006/PN.Jkt.Pst tanggal 28 Juli 2006. Oleh karena itu pernyataan bahwa Putusan MK berlaku prospektif dan bukan retroaktif sama sekali tidak relevan dalam perkara a quo Bahwa putusan MK tersebut sama sekali tidak membatalkan Pasal 15 dalam UU No.41 Tahun 1999 tetapi menegaskan bahwa penetapan Kawasan Hutan harus melalui empat tahapan yaitu Penunjukan, Penata Batasan, Pemetaan dan Pengukuhan/Penetapan, tanpa mana Penunjukkan hutan tanpa proses tahapan tersebut adalah praktek dari pada pemerintahan otoriter dan bukan merupakan praktek dari pemerintahan yang demokratis, sehingga dengan demikian sejak awal juga sudah merupakan perbuatan yang melawan hukum.
3 Bahwa selain itu di lokasi Penggugat yang disebut-sebut oleh JPU berada di 5 (lima) desa sebagai locus delicti perbuatan pidana yang didakwakan kepada DL. Sitorus, pada kenyataannya menurut Hasil Audit Interdept bulan Mei 2005 (Vide Bukti P-22 dalam halaman 62 Putusan perkara a quo) terdapat juga sebanyak 43
badan usaha lain termasuk BUMN dan PMA, yang mengelola perkebunan Kelapa Sawit tanpa dipermasalahkan sebagai perkara pidana oleh Kejaksaan Agung RI cq. Kejaksaan Tinggi Propinsi Sumatera Utara, Pemerintah ataupun Menteri Kehutanan, yaitu antara lain:
1) PT.Hexa Setia Sawita, 1.1176ha, 2)PT.Sumber Sawit Makmur, 2.072 ha, 3)PT.Damai Nusa Sekawan, 2.384Ha, 3)PT.Agro Mitra Karya Sejahtera, 21.543.23 ha, 4)PT.First Mujur Plantation dan Industri, 15.000ha 5)PT.Wonorejo Perdana, 15.000.00 ha.
PENGADILAN TINGGI MEDAN
Raya Padang Langkat, 2.372.97 ha, 8)PT.Sinar Tika Portibi Jaya Plantation, 1.679.12 ha, 9)PT.Mazuma Agro Indonesia (MAI), 12.266.43 ha, 10)PT.Karya Agung Sawita (KAS), seluas 14.374.86 ha, 11)PT.Perkebunan Nusantara II, seluas 4.000 ha,
12)PT.Sibuah Raya, seluas 1.750.00 ha, 13)PT.Perkebunan
Nusantara IV, 1.294.20 ha, 14)PT.Toga Saudara Makmur, 192.55 ha, dll, sebagaimana dengan hal yang termuat dalam laporan hasil audit Tim Interdep Mei 2005 (Vide Bukti P-22) tersebut,dapat dengan jelas disimpulkan bahwa Pembanding/Terugat I menutup mata terhadap diskriminasi yang dilakukannya, untuk menunjukkan bahwa Pembanding/Tergugat I telah melakukan tugasnya mempertahankan kawasan hutan dan lingkungan hidup dengan optimal berdasarkan hukum yang berlaku dengan upaya mengorbankan Para Penggugat; anehnya KUD Serbaguna yang dinyatakan Menteri LHK berada di dalam wilayah kawasan hutan Reg.40 yang kemudian dipergunakan oleh JPU mendakwa DL. Sitorus menduduki kawasan hutan tanpa ijin Menteri LHK ternyata
oleh Putusan Pengadilan Tinggi Medan
No.434/PDT/2011/PT.MDN, tanggal 4 Juni 2912 yang sudah berkekuatan hukum tetap (Vide Bukti P-11), dan Putusan MA.PK.No.66PK/Pdt-2014, tanggal 26 Oktober 2015 (vide bukti P-12)dinyatakan tidak dalam kawasan hutan dan kepemilikan tanah masyarakat anggota KUD Serbaguna yang didasarkan pada 624 Sertifikat Hak Milik (SHM) adalah sah, fakta mana sama sekali tidak ingin dilihat oleh Pembanding teristimewa Tergugat I/Pembanding, agar tidak tampak kepada publik penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan Pembanding I/ Tergugat I.
4 Bahwa ketentuan Pasal 15 UU No.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan menyatakan sebagai berikut:
“ Bahwa penunjukan kawasan hutan adalah salah satu tahap dalam proses pengukuhan kawasan hutan, dan ketentuan demikian harus memperhatikan kemungkinan adanya hak-hak perseorangan atau ulayat pada kawasan hutan yang akan ditetapkan sebagai kawasan hutan sehingga jika demikian terjadi, maka penataan batas dan pemetaan batas
PENGADILAN TINGGI MEDAN
kawasan hutan harus mengeluarkannya dari kawasan hutan agar tidak merugikan bagi masyarakat yang berkepentingan dengan kawasan yang akan ditetapkan sebagai kawasan hutan”,
Oleh karena hal yang demikian,maka pada saat penataan batas dan pemetaan batas kawasan hutan Pemerintah/Menteri Kehutanan (kini Menteri LHK) seyogianya terlebih dahulu harus mengeluarkan semua tanah yang menjadi Hak ulayat masyarakat adat setempat dari areal kawasan yang akan ditetapkan sebagai kawasan hutan, tetapi dalam kenyataannya hal demikian tidak dilakukan. Sebagai contoh, 5(lima) desa yang disebutkan dalam dakwaan, pada kenyataannya berpenghuni dan sebagai pemukiman masyarakat setempat, tidak boleh dimasukkan dalam kawasan hutan bahkan harus dikeluarkan (enclave) kendatipun Penggugat/Terbanding tidak pernah melakukan kegiatan disitu. Dengan demikian terbukti Pembanding telah melakukan Perbuatan Melawan Hukum yaitu telah melanggar UU No.5 Tahun
1967 (Vide Bukti P-48) Pasal 15 UU No.41 Tahun 1999 tersebut diatas dan Putusan M.K.RI No.45/PUU–IX/2011, 21 Februari 2012; 5 Bahwa Lahan yang dikelola Penggugat tersebut telah ikut dituntut
oleh Tergugat II dan dinyatakan dirampas untuk Negara dan telah diputus dengan Putusan MA No.2642K/Pid/2006, ternyata
benar-benar keliru, perampasan mana dilaksanakan dengan menyerahkan lahan tersebut kepada Dinas Kehutanan Provinsi Sumut (Vide Bukti P – 42, Berita Acara penyerahan rampasan tanggal 26 Agustus 2009), padahal fakta dan hukum menunjukkan lahan tersebut adalah merupakan lahan milik masyarakat Adat Marga Hasibuan dan sebagian sudah bersertifikat Hak Milik, dan yang diatasnya Negara pernah
menerbitkan izin HPH (Hak Pengusahaan Hutan) kepada 5 Perusahaan secara tidak sah (secara sepihak tanpa melibatkan/mendapat persetujuan masyarakat yang berhak) dan kemudian setelah lokasi dibabat, lokasi ditinggal demikian saja; 6 Bahwa inventarisasi Tim Interdep pada bulan Mei 2005 (vide Bukti
Bukti P-22), dan Jaksa Agung RI, sesungguhnya telah merekomendasikan untuk menyelesaikannya dengan Out of Court
PENGADILAN TINGGI MEDAN
Settlements (Vide Bukti P- 26)bahwa kenyataan yang ditemukan dilapangan telah menyebabkan penanganan secara hukum pidana seperti yang diajukan kepada DL.Sitorus yang putusannya menjadi dasar perampasan barang bukti yang menjadi milik Para Penggugat, sesungguhnya juga telah menjadi pendirian awal dari Jaksa Agung R.I. saat itu, sebagai tampak dalam alat bukti yang disajikan, dan perubahan sikap yang terjadi, dan hanya menjadikan D.L.Sitorus dengan akibat terampasnya lahan perkebunan Para Penggugat, merupakan sikap diskriminasi yang luar biasa, dan pelanggaran konstitusi secara menyolok;
7 Bahwa Memori Banding Pembanding I/Tergugat I yang hanya mendasarkan pada dokumen perkara dan putusan pidana, telah gagal memberi argumen bahwa adanya putusan tata-usaha negara dan
putusan perdata yang telah berkekuatan hukum tetap (in kracht)
mengenai barang bukti, yang kontradiktif dengan keseluruhan alat bukti dalam perkara pidana, telah menyebabkan seluruh proses eksekusi yang dikemukakan Tergugat kehilangan daya laku dan titel
eksekutorial, karena sebagaimana telah dikemukakan dalam
tanggapan bagian eksepsi diatas bahwa suatu putusan atau bagian dari putusan, tidak dapat dilaksanakan atau non eksekutabel apabila terdapat (i) pertentangan antara putusan tersebut dengan putusan-putusan lain secara kontradiktif menyangkut objek sengketa yang dinyatakan dirampas tersebut (ii) jikalau terdapat ketidaksesuain antara batas-batas objek sengketa yang dinyatakan dirampas dengan kenyataan yang terdapat dilapangan (iii) apabila objek sengketa itu justru menjadi hak orang lain dari pada seorang terdakwa dalam putusan yang menyatakan perampasan tersebut;
8 Bahwa apa yang disebut eksekusi administratif oleh Tergugat II
tidak memiliki dasar hukum dalam sistem yang dikenal, sebab
eksekusi barang bukti berupa lahan harus dilakukan secara riil di lokasi di mana barang bukti berada, dengan tujuan supaya batas-batas maupun seluruh objek yang berada diatasnya dapat diinventarisasi, hal mana dilakukan dengan kehadiran pihak-pihak yang berkepentingan disaksikan oleh Pejabat Pemerintahan setempat; 9 Bahwa tuduhan Tergugat II yang menyatakan penerbitan sertifikat
PENGADILAN TINGGI MEDAN
Pertanahan Kabupaten Tapanuli Selatan/Turut Tergugat sebanyak kurang-lebih 1820 sertifikat diduga fiktif, adalah bertentangan dengan hukum yang berlaku, karena pada asasnya Sertifikat yang
dikeluarkan oleh Badan Pertanahan merupakan bukti autentik
yang mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna kecuali dapat dibuktikan sebaliknya. Sampai saat ini upaya membuktikan apa yang didalilkan Tergugat II tidak pernah dilakukan, apalagi upaya pembatalannya pun tidak pernah terjadi;
10 Bahwa Memori Pembanding tentang Kawasan Hutan Register 40 yang didasari sebagaimana dalam Memori Tergugat I/Pembanding adalah tidak benar, dengan alasan sebagai berikut:
a. Bahwa GB No.50 Tahun 1924 bukan suatu keputusan
penunjukkan kawasan hutan melainkan daftar 13 nama desa
(tidak termasuk lima desa seperti dalam dakwaan JPU yaitu Desa Mandasip, Desa Paran Padang, Desa Aek Raru, Desa Langkimat, dan Desa Janji Matogu) yang akan dipertimbangkan menjadi kawasan hutan, padahal hingga sampai sekarang pun rencana tersebut belum pernah/tidak dapat ditindaklanjuti menjadi kawasan hutan, sebagaimana dimaksud dalam Putusan MK No.45/PUU-IX/2011. Karena sejak dahulu 13 desa tersebut sudah menjadi pemukiman penduduk (kota/desa), dan 5 Desa yang disebut dalam dakwaan sejak dahulu sudah menjadi permukiman penduduk yang memiliki pemerintahan desa. Bahkan dalam dokumen yang disebut GB No.50 tahun 1924 tersebut, ada disebutkan lahan-lahan penggembalaan ternak dari penduduk.
b. Bahwa JPU dalam dakwaannya tersebut, telah dengan sengaja dan secara keliru menyatakan lokasi perkebunan yang terletak di Kecamatan Barumun Tengah sebagai Kawasan Hutan yang seolah-olah benar disebutkan dalam GB No.50 tahun 1924, tetapi surat aslinya tidak pernah diperlihatkan oleh JPU selama persidangan perkara Pidana tersebut diatas, sehingga kemudian dengan Surat Keputusan Tergugat I No.44 Tahun 2005 dijadikan dasar untuk menyatakan lokasi GB.50/1924 sebagai kawasan hutan yang selanjutnya disebut-sebut sebagai register 40, padahal dalam kenyataannya hal tersebut tidak benar karena GB No.50 tahun 1924 dalam bahasa aslinya tidak pernah menyatakan lokasi
PENGADILAN TINGGI MEDAN
tersebut sebagai kawasan hutan produksi melainkan menyebut perkampungan, penggembalaan ternak penduduk kampung, dan lahan-lahan untuk dipertimbangkan sebagai rencana bagi
pembangunan hutan yang baru. Bahkan sampai saat terakhir
dalam putusan Peninjauan Kembali (PK), GB No.50 yang dijadikan dasar hukum untuk menjatuhkan pidana dan merampas perkebunan kelapa sawit yang dikelola penggugat sesungguhnya sudah direkayasa dengan merubah GB No.50 melalui terjemahan kedalam bahasa Indonesia, yang secara umum dan menyeluruh menyimpang dari fakta-fakta hukum yang sebenarnya, terlebih lagi jikalau GB No.50 tersebut tidak tercatat dalam daftar
staatsblaad Hindia Belanda tahun 1924 yang harus menjadi
dasar keberlakuan atau kekuatan mengikat. Lagipula dokumen tersebut tidak pernah dicocokkan dengan dokumen asli untuk dapat diterima sebagai alat bukti yang sah (vide Halaman 30,31 Putusan Pengadilan Tinggi Medan No.434/PDT/2011/PT.MDN, tanggal 4Juni 2012 vide Bukti P-11) Halaman 2 Putusan No.134K/TUN/2007, dan Staatsblad Hindia Belanda Tahun 1924 juga tidak menyebut adanya Gouverment Besluit (GB) No.50 tersebut sebagaimana terlihat dari daftar isi Staatsblad tahun 1924. Bahkan dalam GB No.50 tidak menyebut 5 (lima) Desa seperti yang disebutkan dalam dakwaan JPU.
c. Surat Keputusan Menteri Kehutanan (sic. Menteri Pertanian) No.923/Kpts/Um/12/1992, 27 Desember 1982 tentang Penunjukan Areal Hutan di Wilayah Propinsi Dati I Sumatra Utara Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) seluas 3.780.132.02 Ha, (yang tidak berlaku lagi karena dengan SK Menteri Kehutanan No.44/2005 yang juga tidak berlaku karena dinyatakan oleh Mahkamah Agung Tidak Sah).
Bahwa KeputusanMenteri Pertanian No.923 Tahun 1982 tidak pernah menyebutkan TGHK dan Keputusan Menteri tersebut bukan sebagai dasar hukum dari TGHK. Bahwa disebutkannya Keputusan Menteri Pertanian No.923 Tahun 1982 tentang TGHK adalah pembohongan publik karena hal tersebut sama sekali tidak disebut dalam Keputusan Menteri Pertanian No.923 Tahun 1982. Bahkan SK No.923/Kpts/Um/12/1992, 27 Desember 1982 tersebut bukan
PENGADILAN TINGGI MEDAN
merupakanpenetapan suatu areal kawasan hutan melainkan hanya rencana belaka sebagaimana dapat dilihat dalam konsideran dan diktum-diktumnya. Bahwa selain itu juga, GB No 50 dimaksud tidak memuat informasi koordinat geographis dan data spasial, padahal data koordinat dan data spasial tersebut sangat penting untuk menentukan dalam meletakkan posisi pasti lahan atau lokasi – termasuk objek perkara- yang dimaksud oleh Tergugat-Tergugat yang hanya mengambil alih dari dakwaan JPU dalam perkara pidana No 481/Pid.B/2006/PN.JKT.PST, 28 Juni 2007, sebagaimana juga telah ternyata ketika dilakukan pemeriksaan setempat yang dilakukan tanggal 1 Juni 2016 telah terbukti dalam berita acara batas-batas yang disebutkan dalam putusan Pidana tidak ditemukan sehingga oleh karenanya sesungguhnya tidak dapat dipastikan bidang lahan yang mana yang dimaksudkan dalam putusan maupun berita acara eksekusi tanggal 26
Agustus 2009 yang fiktip, sehingga oleh karenanya seluruh
argument dari pada Tergugat I/Pembanding tidak relevan dan harus dikesampingkan. Lagi pula, alat bukti yang diajukan Tergugat I/Pembanding tentang Tata Batas adalah Copy dari Copy Berita Acara Tata Batas yang tidak memuat Koordinat maupun data spasial serta sama sekali tidak ditandatangani oleh pejabat yang berwenang untuk itu. Sehingga sama sekali tidak mempunyai nilai kekuatan pembuktian.
d. Bahwa Dakwaan JPU tersebut pada intinya adalah mengkriminalisasi DL.Sitorus (Pendamping Penggugat) karena menyebutkan secara keliru bukan faktanya DL.Sitorus telah menduduki kawasan hutan Negara tetap tanpa ijin Menteri Kehutanan di lima desa yaitu Desa Mandasip, Desa Paran Padang, Desa Aek Raru, Desa Langkimat, dan Desa Janji Matogu yang menurutnya didasarkan pada :
1. Gouvernement Besluit (GB) 50 Tahun 1924 tanggal 24 Juni 1924, padahal GB No.50 dimaksud tidak pernah menetapkan
kawasan hutan sebagaimana dijelaskan di atas, dan sebagai
hasil rekayasa melalui terjemahan yang tidak benar.
2. Surat Keputusan Menteri Kehutanan (sic. Menteri Pertanian) No.923/Kpts/Um/12/1992 tanggal 27 Desember 1982 tentang
PENGADILAN TINGGI MEDAN
Penunjukan Areal Hutan di Wilayah Propinsi Dati I Sumatra Utara Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) seluas 3.780.132.02 Ha, padahal SK Menteri ini tidak ada hubungan Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK).
3. Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) tidak mempunyai dasar hukum yang jelas karena hanya bersifat kesepakatan, bukan ketentuan hukum dan tidak dapat dipergunakan menjadi acuan untuk produk hukum yang mengikat, sebagaimana dapat dilihat dalam Pasal 7 UU No.12 Tahun 2011 jo TAP MPR No.III Tahun 2000. Kesepakatan yang dimaksud dalam TGHK adalah kesepakatan yang dicapai antara pemerintah dengan pihak-pihak yang berkepentingan dilahan hutan yang disepakati itu yaitu semua pihak yang memiliki hak termasuk masyarakat hukum adat. In casu dalam perkara pidana DL Sitorus yang dalam dakwaan menyebut adanya TGHK tersebut dokumen dimaksud yang memuat tanda tangan para pejabat pemerintahan bukanlah menjadi lampiran daripada SK Menteri Pertanian No.923 dan juga bukan merupakan kesepakatan dimaksud dalam penentuan Tata Guna Hutan.
4. Bahwa memori dari Pembanding yang merujuk Perda Propinsi Sumatera Utara No.7 Tahun 2003 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Prov.Daerah Tingkat I Sumatera Utara tahun 2003-2018, dan Perda Kabupaten Tapanuli Selatan No.14 Tahun 1998 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten daerah Tingkat II Tapanuli Selatan, sama sekali tidak menyebut TGHK dan tidak mengalokasikan kecamatan Barumun Tengah sebagai kawasan hutan. Secara jelas disebutkan dalam Pasal 2 bagian 2 tentang arahan pengembangan kawasan budi daya justru menetapkan bahwa kawasan hutan produksi tetap, produksi terbatas dan kawasan hutan produksi konversi berada di wilayah kecamatan Kotanopan, Batang Natal, Padang Bolak, Sosopan, Padang Sidimpuan Timur, Siais dan Kecamatan Muara Batanggadis.
5. Dikaitkan dengan GB No.50 dan ketentuan-ketentuan lain yang tidak pernah menyebutkan 5 (lima) Desa tersebut sebagai kawasan hutan (P - 23,a,b,c) sedangkan masyarakat setempat
PENGADILAN TINGGI MEDAN
telah menguasai fisik sejak jaman dahulu (7 generasi). Oleh karena itu Pembanding/Tergugat I tidak berhak menyatakan areal yang dikuasai/dikelola masyarakat setempat adalah sebagai kawasan hutan yang dilarang untuk didayagunakan. Terlebih-lebih lagi dikaitkan dengan Putusan MK No.35/PUU-X/2012, 16 Mei 2013 dan Putusan MK No.45/PUU-IX/2011,tanggal 21 Februari 2012. Dengan demikian dalil-dalil yang dikemukakan oleh Pembanding tidak benar dan harus ditolak.
6. Bahwa pemahaman daripada Tergugat I/Pembanding tentang konsep penguasaan Negara dalam Pasal 33 UUD 1945 sangat sempit dan tidak merujuk pada konsep yang telah dirumuskan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) masing-masing dalam putusan putusan yang menguji UU tentang sumber daya alam, antara lain :
a. Putusan Mahkamah Konstitusi No. 01-02-022/PUU-I/2003 b. Putusan Mahkamah Konstitusi No. 002/PUU-I/2003 tgl 21
Desember 2004,
c. Putusan Mahkamah Konstitusi No. 058-059-060-63/PUU-II/2004 tgl 19 Juli 2005
Masing-masing putusan tersebut pada dasarnya secara konsisten menyatakan bahwa :