• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. METODE PENELITIAN

5.2. Penggunaan Input Pada Usahatani Jagung di

Barat

5.2.1. Jawa Timur

Input yang digunakan pada usahatani jagung antara lain: benih, pupuk urea, pupuk TSP, dan tenaga kerja. Berdasarkan data struktur ongkos usahatani jagung di Jawa Timur seperti disajikan pada Tabel 2, bahwa kisaran penggunaan benih jagung antara 17 – 30 kg/ha. Bila dilihat perkembangan penggunaan benih jagung, pada kurun waktu 1985-1998 meningkat sebesar 0.28 persen per tahun, dan pada kurun waktu selanjutnya (1998-2009) mengalami penurunan 1.71 persen per tahun. Secara keseluruhan penggunaan benih dalam kurun waktu 1985-2009 mengalami penurunan sebesar 1.05 persen per tahun. Penggunaan benih jagung pada tahun 2009 mencapai 26 kg/ha, dan rata-rata penggunaan benih pada kurun waktu 1985-2009 sebesar 28 kg/ha. Menurut Ditjen Tanaman Pangan (2010)

bahwa kebutuhan benih untuk varietas jagung hibrida sebesar 15 kg/ha dan untuk varietas komposit dan lokal sekitar 25 kg/ha. Dengan demikian dapat diketahui bahwa pertanaman jagung di Jawa Timur belum seluruhnya menggunakan varietas unggul hibrida. Secara nasional, penggunaan varietas hibrida baru sekitar 50 persen dari total luas panen.

Penggunaan input pupuk urea dalam kurun waktu 1985-2009, antar tahunnya cukup bervariasi, dengan kisaran penggunaan antara 103-217 kg/ha, dan rata-rata penggunaannya sebesar 174 kg/ha. Laju perkembangan penggunaan pupuk urea mengalami peningkatan sebesar 1.40 persen per tahun pada kurun waktu 1985-1998, dan menurun sebesar 2.85 persen per tahun pada kurun waktu 1998-2009. Secara umum periode 1985-2009, laju perkembangan penggunaan pupuk urea mengalami peningkatan sebesar 0.17 persen per tahun.

Penggunaan pupuk lainnya adalah pupuk TSP, dimana penggunaannya relatif lebih rendah dibandingkan dengan penggunaan pupuk urea. Pada kurun waktu 1985-2009, penggunaan pupuk TSP kurang bervariasi antar tahunnya, dengan kisaran penggunaan antara 25-39 kg/ha, dan rata-rata penggunaan sebesar 31 kg/ha. Laju perkembangan penggunaan pupuk TSP mengalami penurunan sebesar 0.62 persen per tahun pada kurun waktu 1985-1998, dan selanjutnya pada kurun waktu 1998-2009 juga mengalami penurunan sebesar 0.36 persen per tahun. Secara umum periode 1985-2009, penggunaan pupuk TSP mengalami peningkatan sebesar 0.05 persen per tahun.

Peranan pupuk sangat penting didalam peningkatan produktivitas dan produksi komoditas pertanian termasuk komoditas jagung dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan nasional. Pada tahun 2009, kebutuhan pupuk di

Provinsi Jawa Timur untuk komoditas jagung yaitu: (1) untuk pupuk urea sebesar 394.74 ribu ton, (2) untuk pupuk Superphospat (SP) sebesar 220.50 ribu ton, (3) untuk pupuk KCl sebesar 58.02 ribu ton, dan (4) untuk Ponska sebesar 47.44 ribu ton. Proporsi kebutuhan pupuk untuk jagung terhadap total kebutuhan pupuk di Provinsi sekitar 38.50 persen untuk pupuk urea, 34.15 persen untuk pupuk SP, 28.94 persen untuk pupuk KCl, dan 20.69 persen untuk pupuk Ponska (Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa Timur, 2010).

Bila di pandang rata-rata penggunaan pupuk pada tahun terakhir (2009), yaitu sebesar 169 kg/ha untuk pupuk urea dan 29 kg/ha untuk pupuk TSP. Penggunaan pupuk tersebut masih sangat jauh dengan rata-rata anjuran nasional misalnya pupuk urea untuk usahatani jagung hibrida sebesar 300 kg/ha dan untuk jagung komposit sebesar 200 kg/ha (Ditjen Tanaman Pangan, 2010). Rendahnya penggunaan pupuk dapat disebabkan belum sepenuhnya usahatani menggunakan varietas unggul hibrida dan juga keterbatasan modal usahatani.

Pada penggunaan input tenaga kerja, kisaran penggunaannya antara 26 – 104 HOK (Hari Orang Kerja) per hari kerja, dengan rata-rata penggunaan sebesar 51 HOK per hektar. Bila dilihat perkembangan penggunaan tenaga kerja pada usahatani jagung pada kurun waktu 1985-1998, cenderung menurun sebesar 2.56 persen per tahun, dan pada kurun waktu selanjutnya 1998-2009 mengalami peningkatan 4.16 persen per tahun. Oleh karena itu, secara keseluruhan laju perkembangan penggunaan tenaga kerja dalam kurun waktu 1985-2009 mengalami peningkatan sebesar 0.42 persen per tahun.

Tabel 2. Penggunaan Input Usahatani Jagung di Provinsi Jawa Timur, Tahun 1985-2009

Tahun Benih (Kg/ha) Urea (Kg/ha) TSP (Kg/ha)

T.Kerja (HOK/ha) 1985 30 140 30 49 1986 29 153 26 66 1987 29 135 25 47 1988 33 186 36 62 1989 31 217 32 78 1990 26 154 38 26 1991 29 173 39 57 1992 28 182 33 58 1993 26 154 26 48 1994 29 169 25 45 1995 34 162 29 33 1996 34 189 28 34 1997 30 185 28 39 1998 29 190 29 59 1999 29 202 29 53 2000 28 193 30 48 2001 25 189 35 44 2002 26 185 35 39 2003 24 185 30 37 2004 24 188 30 38 2005 24 180 33 53 2006 26 180 35 61 2007 22 185 35 51 2008 24 165 35 51 2009 26 103 19 104 rata-rata 28 174 31 53 Perkembang- an (%/thn) 1985-1998 0.28 1.40 -0.62 -2.56 1998-2000 -2.10 0.64 1.63 -10.42 1998-2009 -1.71 -2.85 -0.36 4.16 1985-2009 -1.05 0.17 0.05 0.42

Sumber: Struktur Ongkos Usahatani Jagung (BPS, 1985-2009; Pusdatin- Kementan, 2005-2007; dan Dinas Pertanian Jawa Timur, 2001- 2009)

5.2.2. Jawa Barat

Di Provinsi Jawa Barat, data penggunaan input pada struktur ongkos usahatani jagung disajikan pada Tabel 3. Pada tabel tersebut diketahui bahwa

kisaran penggunaan benih jagung antara 17 – 37 kg/ha, dengan rata-rata penggunaan sebesar 23 kg/ha. Bila dilihat perkembangan penggunaan benih jagung pada kurun waktu 1985-1998, secara rata-rata mengalami penurunan sebesar 4.79 persen per tahun, dan pada kurun waktu selanjutnya (1998-2009) mengalami peningkatan sebesar 3.27 persen per tahun. Secara keseluruhan laju perkembangan penggunaan benih pada kurun waktu 1985-2009 mengalami penurunan sebesar 1.52 persen per tahun. Penggunaan benih jagung pada tahun 2009 mencapai 21 kg/ha, dengan rata-rata penggunaan pada kurun waktu 1985-2009 sebesar 23 kg/ha. Menurut Ditjen Tanaman Pangan (2010) bahwa kebutuhan benih untuk varietas jagung hibrida sebesar 15 kg/ha dan untuk varietas komposit dan lokal sekitar 25 kg/ha. Dengan demikian dapat diketahui bahwa pertanaman jagung di Jawa Barat juga belum seluruhnya menggunakan varietas unggul hibrida.

Seperti halnya di Provinsi Jawa Timur, penggunaan input pupuk urea dalam kurun waktu 1985-2009 di Jawa Barat, antar tahunnya juga bervariasi, dengan kisaran penggunaan antara 51 – 154 kg/ha, dan rata-rata penggunaan sebesar 112 kg/ha. Laju perkembangan penggunaan pupuk urea mengalami penurunan sebesar 0.45 persen per tahun pada kurun waktu 1985-1998, namun meningkat sebesar 2.43 persen per tahun pada kurun waktu 1998-2009. Pada periode 1985-2009, secara umum penggunaan pupuk urea mengalami penurunan sebesar 0.07 persen per tahun.

Penggunaan pupuk lainnya adalah pupuk TSP, dimana penggunaannya lebih rendah dibandingkan dengan penggunaan pupuk urea. Pada kurun waktu 1985-2009, kisaran penggunaan pupuk TSP antara 17 - 79 kg/ha, dengan rata-rata

penggunaan sebesar 49 kg/ha. Penggunaan pupuk TSP mengalami penurunan sebesar 1.69 persen per tahun pada kurun waktu 1985-1998, dan selanjutnya pada kurun waktu 1998-2009 penggunaannya juga menurun sebesar 1.89 persen per tahun. Secara umum periode 1985-2009, penggunaan pupuk TSP mengalami penurunan sebesar 1.89 persen per tahun.

Penyediaan dan distribusi pupuk bersubsidi dihadapkan pada permasalahan yang kompleks khususnya yang berkaitan dengan semakin berkembangnya luas dan keragaman komoditas, pergeseran musim tanam, bencana alam dan kekeringan, pengaturan wilayah produsen pupuk. Oleh karena itu, terdapat alokasi volume dan wilayah pelayanan produsen dan distributor sampai kios pengecer. Secara total (tidak diketahui untuk per komoditas) pada tahun 2009, realisasi penyaluran pupuk urea sebesar 677.62 ribu ton, SP sebesar 127.23 ribu ton, ZA sebesar 72.86 ribu ton, NPK sebesar 247.86 ribu ton, dan pupuk organic sebesar 17.41 ribu ton (Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa Barat, 2009).

Bila di pandang penggunaan pupuk pada tahun terakhir (2009), yaitu sebesar 112 kg/ha untuk pupuk urea dan 49 kg/ha untuk pupuk TSP. Penggunaan pupuk tersebut masih sangat jauh dengan rata-rata anjuran nasional misalnya untuk pupuk urea pada usahatani jagung hibrida sebesar 300 kg/ha dan untuk jagung komposit sebesar 200 kg/ha (Ditjen Tanaman Pangan, 2010). Rendahnya penggunaan pupuk tersebut di Jawa Barat juga disebabkan belum sepenuhnya usahatani menggunakan varietas unggul hibrida dan juga keterbatasan modal usahatani.

Tabel 3. Penggunaan Input Usahatani Jagung di Provinsi Jawa Barat, Tahun 1985-2009

Tahun Benih (Kg/ha) Urea (Kg/ha) TSP (Kg/ha)

T.Kerja (HOK/ha) 1985 26 113 46 89 1986 30 93 49 118 1987 28 75 39 62 1988 31 112 67 107 1989 23 152 79 104 1990 37 119 58 102 1991 28 143 67 113 1992 29 142 78 73 1993 22 97 44 64 1994 17 100 46 50 1995 20 149 53 52 1996 17 121 48 54 1997 17 90 45 61 1998 16 71 35 92 1999 17 72 35 94 2000 17 85 45 98 2001 17 95 48 115 2002 20 115 51 117 2003 25 135 45 121 2004 25 136 50 149 2005 20 148 53 175 2006 25 154 55 189 2007 22 120 41 215 2008 23 105 32 277 2009 21 51 17 302 rata-rata 23 112 49 120 Perkembang- an (%/thn) 1985-1998 -4.79 -0.45 -1.69 -4.00 1998-2000 4.56 9.05 13.14 3.35 1998-2009 3.27 2.45 -1.69 11.56 1985-2009 -1.52 -0.07 -1.89 5.26

Sumber: Struktur Ongkos Usahatani Jagung (BPS, 1985-2009; Pusdatin- Kementan, 2005-2007; dan Dinas Pertanian Tanaman Pangan

Jawa Barat, 2001-2009)

Untuk penggunaan input tenaga kerja, kisaran penggunaannya antara 50 -302 HOK (Hari Orang Kerja) per hektar, dengan rata-rata penggunaan sebesar 120 HOK per hektar. Bila dilihat perkembangan penggunaan tenaga kerja pada

usahatani jagung pada kurun waktu 1985-1998 cenderung menurun sebesar 4.00 persen per tahun, dan pada kurun waktu selanjutnya (1998-2009) mengalami peningkatan 11.56 persen per tahun. Secara keseluruhan penggunaan tenaga kerja dalam kurun waktu 1985-2009 mengalami peningkatan sebesar 5.26 persen per tahun.