BAB II TINJAUAN LITERATUR
B. Ketunanetraan
4. Penggunaan Perpustakaan
Tidak semua orang bisa menggunakan perpustakaan, apalagi bagi orang yang baru atau belum pernah datang ke perpustakaan, itu dapat menghambat seseorang untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkannya, maka dari itu diperlukan pengetahuan atau pendidikan terlebih dahulu untuk menggunakan perpustakaan, dan apakah responden mendapatkan pendidikan pemakai terlebih dahulu sebelum menggunakan perpustakaan dapat kita lihat pada tabel berikut ini:
Tabel 11 Pendidikan Pemakai
Variabel Jawaban Frekuensi Prosentase
Ya 7 58,33%
Tidak 5 41,67%
Jumlah 12 100%
Melalui tabel di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar responden mendapatkan pendidikan pemakai terlebih dahulu sebelum menggunakan perpustakaan yaitu berjumlah 58,33% (7 orang), dan hampir setengahnya tidak mendapatkan pendidikan pemakai sebelum menggunakan perpustakaan yaitu berjumlah 41,67% (5 orang). Apakah pendidikan pemakai tersebut membantu responden dalam menggunakan perpustakaan dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 12
Membantu atau Tidak Pendidikan Pemakai Variabel Jawaban Frekuensi Prosentase
Membantu 5 71,43%
Cukup membantu 2 28,57%
Kurang membantu 0 0%
Tidak membantu 0 0%
Jumlah 7 100%
Dengan melihat tabel di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar responden menyatakan membantu dengan adanya pendidikan pemakai dengan nilai prosentase 71,43% (5 orang), dan hampir setengahnya menyatakan cukup membantu dengan nilai prosentase 28,57% (2 orang). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendidikan pemakai bagi siswa yang baru adalah membantu
mereka untuk mengetahui bagaimana caranya menggunakan perpustakaan dengan baik.
h. Asal Memperoleh Bacaan
Bahan bacaan bisa berasal darimana saja, bisa dari perpustakaan, membeli sendiri, pinjam, dan lain sebagainya, yang terpenting kita bisa mendapatkan ilmu pengetahuan yang kita butuhkan, untuk mengetahui darimana responden memperoleh bahan bacaan dapat kita lihat dari tabel berikut:
Tabel 13
Asal Memperoleh Bacaan
Variabel Jawaban Frekuensi Prosentase
Menyewa 0 0%
Hadiah dari orang tua 0 0%
Pinjam dari perpustakaan sekolah 10 83,33%
Menukar bacaan 0 0%
Pinjam dari temen 1 8,33%
Membeli sendiri 1 8,33%
Jumlah 12 100%
Melalui Tabel di atas dapat diketahui bahwa hampir seluruhnya responden memperoleh bahan bacaan pinjam dari perpustakaan sekolah berjumlah 83,33% (10 orang), sebagian kecil pinjam dari teman berjumlah 8,33% (1 orang), dan dari membeli sendiri berjumlah 8,33% (1 orang). Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa responden memanfaatkan perpustakaan untuk memperoleh bahan bacaan yang dibutuhkan untuk menambah ilmu pengetahuan.
i. Asal Memperoleh Pengetahuan atau Informasi
Pengetahuan atau informasi bisa didapatkan dimana saja, bisa dari perpustakaan dari internet ataupun dari yang lainnya, untuk mengetahui darimana
responden mendapatkan pengetahuannya darimana dapat kita lihat dari tabel berikut:
Tabel 14
Asal Memperoleh Pengetahuan atau Informasi Variabel Jawaban Frekuensi Prosentase
Perpustakaan 8 66,67% Saudara 0 0% Internet 4 33,33% Orang Tua 0 0% Lainnya… 0 0% Jumlah 12 100%
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar responden memperoleh pengetahuan/ informasinya dari perpustakaan yaitu berjumlah 66,67% (8 orang), dan hampir setengahnya dari internet berjumlah 33,33% (4 orang). Agar informasi yang didapatkan sesuai dengan apa yang kita harapkan maka harus tahu betul bagaimana mencari informasi yang benar dengan metode yang benar pula.
j. Dapat Menggunakan Internet
Teknologi informasi yang semakin maju pesat, menuntut semua orang untuk mengembangkan pengetahuannya tentang teknologi agar tidak ketinggalan informasi, begitupun di lingkungan sekolah, siswa/siswi harus dibekali ilmu pengetahuan tentang teknologi informasi agar nanti sudah siap dalam menghadapi era globalisasi seperti sekarang ini. Untuk mengetahui apakah responden dapat menggunakan internet atau tidak dapat diketahui pada tabel berikut:
Tabel 15
Dapat Mengakses Internet
Variabel Jawaban Frekuensi Prosentasi
Bisa 5 41,67%
Cukup bisa 2 16,67%
Kurang bisa 1 8,33%
Tidak bisa 4 33,33%
Jumlah 12 100%
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa hampir setengahnya responden bisa mengakses internet yaitu berjumlah 41,67% (5 orang), sebagian kecil yang menyatakan cukup bisa berjumlah 16,67% (2 orang), sebagian kecil responden menyatakan kurang bisa mengakses internet berjumlah 8,33% (1 orang), dan hampir setengahnya yang menyatakan tidak bisa berjumlah 33,33% (4 orang).
Dapat disimpulkan bahwa pada umumnya responden dapat menggunakan internet, tentunya dengan bantuan alat yang sudah dimodivikasi sesuai kebutuhan. Darimanakah responden belajar menggunakan internet dapat diketahui pada tabel berikut ini:
Tabel 16
Asal Belajar Mengakses Internet
Variabel Jawaban Frekuensi Prosentase
Guru 8 100% Pengelola Perpustakaan 0 0% Orang Tua 0 0% Teman 0 0% Saudara 0 0% Lainnya… 0 0% Jumlah 8 100%
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa seluruh responden yang dapat menggunakan internet belajar dari guru yaitu berjumlah 100% (8 orang). Dalam hal ini, guru mempunyai peranan yang sangat besar untuk membantu responden dengan keterbatasan yang dimiliki agar dapat mendapatkan pengetahuan agar tidak ketinggalan atau tidak kalah dengan anak awas pada umumnya. Sejak kapan responden dapat menggunakan internet dapat diketahui pada tabel di bawah ini:
Tabel 17
Sejak Kapan Bisa Mengakses Internet
Variabel Jawaban Frekuensi Prosentase
Sejak SD 4 50%
Sejak SMP 1 12,5%
Sejak SMA 0 0%
Tidak Tahu 3 37,5%
Jumlah 8 100%
Tabel di atas menunjukkan bahwa setengahnya responden bisa mengakses internet sejak duduk di bangku Sekolah Dasar yaitu berjumlah 50% (4 orang), sebagian kecil yang mengatakan sejak SMP berjumlah 12,5% (1 orang), dan hampir setengahnya lagi menyatakan tidak tahu sejakkapan bisa mengakses internet yaitu berjumlah 37,5% (3 orang).
k. Cara yang Dilakukan Agar Informasi yang Didapat Sesuai Kebutuhan Agar informasi yang kita dapatkan sesuai dengan apa yang kita butuhkan, maka diperlukan cara tertentu untuk mendapatkan yang sesuai dengan keinginan kita, apakah responden melakukan cara tertentu dahulu sebelum melakukan pencarian informasi dapat kita lihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 18
Cara yang Dilakukan Agar Informasi yang Didapat Sesuai Kebutuhan
Variabel Jawaban Frekuensi Prosentase
Mengetahui secara benar informasi yang dibutuhkan 3 25% Mengetahui cara penelusuran informasi yang benar 2 16,67% Bertanya ke guru/pengelola perpustakaan tempat
informasi yang dibutuhkan
5 41,67%
Lainnya…tidak melakukan apa-apa 2 16,67%
Jumlah 12 100%
Melalui tabel di atas dapat diketahui bahwa sebagian kecil responden menyatakan ada cara tertentu agar informasi yang didapat sesuai kebutuhan yaitu mengetahui secara benar informasi yang dibutuhkan dengan nilai prosentase 25% (3 orang), sebagian kecil lagi menyatakan mengetahui cara penelusuran informasi yang benar dengan nilai prosentase 16,67% (2 orang), hampir setengahnya bertanya terlebih dahulu ke guru/pengelola perpustakaan tempat informasi yang dicari dengan nilai prosentase 41,67% (5 orang), dan sebagian kecil menyatakan tidak melakukan tertentu terlebih dahulu dengan nilai prosentase 16,67% (2 orang). Setelah informasi ditemukan apa yang responden lakukan, untuk mengetahuinya dapat kita lihat pada tabeldi bawah ini:
Tabel 19
Tindakan Setelah Informasi di Temukan
Variabel Jawaban Frekuensi Prosentase
Menyeleksinya 1 8,33%
Langsung diambil semua informasinya 0 0%
Dibaca terlebih dahulu 8 66,67%
Langsung di bawa ke kelas 2 16,67%
Dilihat dahulu judulnya 1 8,33%
Lainnya… 0 0%
Berdasarkan data pada tabel di atas dapat diketahui sebagian kecil tindakan responden setelah informasi ditemukan adalah diseleksi terlebih dahulu informasinya berjumlah 8,33% (1 orang), sebagian besar dibaca terlebih dahulu yaitu berjumlah 66,67% (8 orang), ada yang langsung dibawa ke kelas berjmlah 16,67% (2 orang), dan yang terakhir dilihat dulu judulnya berjumlah 8,33% (1 orang). Agar informasi yang didapat bermanfaat, maka harus di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari agar berguna bagi diri sendiri ataupun orang lain. Membagi informasi ada bisa dengan berbagai cara, bisa dengan presentase, diskusi, dan yang lainnya. Untuk mengetahui apakah responden membagi informasi yang didapat dengan orang lain atau tidak, dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 20
Membagi Informasi yang Didapat dengan Orang Lain Variabel Jawaban Frekuensi Prosentase
Ya 9 75%
Tidak 3 25%
Jumlah 12 100%
Tabel di atas menunjukkan bahwa sebagian besar responden membagi informasinya dengan orang lain yaitu berjumlah 75% (9 orang), dan sebagian kecil lagi mengatakan tidak berbagi dengan orang lain berjumlah 25% (3 orang).
l. Guru Menganjurkan Siswa untuk Datang ke Perpustakaan
Anjuran guru kepada siswa untuk datang ke perpustakaan dapat memotivasi siswa agar lebih semangat untuk mencari informasi di perpustakaan, hal itu menunjukkan bahwa adanya kerja sama antara guru dan pengelola perpustakaan dalam mengembangkan tingkat kreatifitas siswa dalam mencari
informasi. Seberapa sering guru menganjurkan siswa untuk datang ke perpustakaan dapat dilihat pada Tabel 21 berikut:
Tabel 21
Guru Menganjurkan Siswa untuk Datang ke Perpustakaan Variabel Jawaban Frekuensi Prosentase
Selalu 1 8,33%
Cukup Sering 2 16,67%
Jarang 8 66,67%
Tidak Pernah 1 8,33%
Jumlah 12 100%
Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa sebagian kecil responden menyatakan guru selalu menganjurkan siswa untuk datang ke perpustakaan dengan jumlah prosentase 8,33% (1 orang), dan sebagian kecil lagi menyatakan cukup sering berjumlah 16,67% (2 orang), sebagian besar guru jarang menganjurkan siswanya untuk datang ke perpustakaan yaitu berjumlah 66,67% (8 orang), dan sebagian kecil lagi tidak pernah menganjurkan dengan jumlah prosentase 8,33% (1 orang).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa guru jarang menganjurkan siswa untuk datang ke perpustakaan. Guru menganjurkan siswanya untuk datang ke perpustakaan tentu ada alasannya, untuk mengetahui hal tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 22
Keperluan Guru Menganjurkan Siswa untuk Datang ke Perpustakaan Variabel Jawaban Frekuensi Prosentasi
Untuk menyelesaikan tugas 6 50%
Untuk mencari informasi 5 41,67%
Untuk penelitian 0 0%
Untuk menambah informasi 1 8,33%
Untuk rekreasi 0 0%
Lainnya… 0 0%
Jumlah 12 100%
Berdasarkan data pada tabel di atas dapat disimpulkan bahwa keperluan guru menganjurkan siswanya untuk datang ke perpustakaan setengahnya responden menjawab adalah untuk menyelesaikan tugas yaitu berjumlah 50% (6 orang), hampir setengahnya untuk mencari informasi berjumlah 41,67% (5 orang), dan sebagian kecil adalah untuk menambah informasi berjumlah 8,33% (1 orang).
m. Pendapat Siswa Terhadap Penggunaan Koleksi dalam Penyelesaian Tugas Perpustakaan adalah tempat semua ilmu berada, dengan itu semua orang bisa mendapatkan ilmu sesuai dengan yang dibutuhkan. Penggunaan koleksi dalam menyelesaikan tugas yang diberikan guru kepada siswa dapat memperlihatkan bagaimana siswa memanfaatkan koleksi yang ada dengan sebaik mungkin, untuk mengetahui apakah koleksi yang ada membantu siswa dalam menyelesaikan tugasnya dapat kita lihat pada tabel berikut ini:
Tabel 23
Pendapat Siswa Terhadap Penggunaan Koleksi dalam Penyelesaian Tugas Variabel Jawaban Frekuensi Prosentasi
Membantu 5 41,67%
Cukup membantu 3 25%
Kurang membantu 2 16,67%
Tidak membantu sama sekali 2 16,67%
Jumlah 12 100%
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa hampir setengahnya responden menyatakan kalau koleksi yang ada di perpustakaan sudah membantu dalam menyelesaikan tugas-tugas yang di berikan guru dengan nilai prosentase 41,67% (5 orang), sebagian kecil menyatakan cukup membantu dengan nilai prosentase 25% (3 orang), sebagian kecil lagi menyatakan kurang membantu dan tidak membantu sama sekali dengan nilai prosentase 16,67% (2 orang).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa koleksi perpustakaan membantu siswa dalam menyelesaikan tugas yang diberikan, hal tersebut menunjukkan kalau perpustakaan mempunyai peran yang sangat besar dalam proses pembelajaran.
n. Pendapat Siswa terhadap Terpenuhinya Kebutuhan dalam Proses Pembelajaran dengan Koleksi Perpustakaan
Proses pembelajaran dapat berlangsung secara lancar, apabila terpenuhinya kebutuhan untuk proses tersebut, diantaranya dengan bantuan koleksi yang ada di perpustakaan, apakah menurut responden koleksi perpustakaan sudah memenuhi kebutuhan dalam proses pembelajaran dapat diketahui pada tabel di bawah ini:
Tabel 24
Pendapat siswa terhadap terpenuhinya kebutuhan dalam proses pembelajaran dengan koleksi perpustakaan
Variabel Jawaban Frekuensi Prosentase
Terpenuhi 0 0%
Cukup terpenuhi 4 33,33%
Kurang terpenuhi 6 50%
Tidak terpenuhi 2 16,67%
Jumlah 12 100%
Tabel di atas menunjukkan bahwa hampir setengahnya dari responden menyatakan cukup terpenuhi dengan nilai prosentase 33,33% (4 orang), setengahnya responden menyatakan kurang terpenuhi dengan nilai prosentase 50% (6 orang), dan sebagian kecil responden menyatakan tidak terpenuhi dengan nilai prosentase 16,67% (2 orang).
Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa koleksi perpustakaan belum memenuhi kebutuhan siswa dalam proses pembelajaran.
o. Petugas Perpustakaan Membantu dalam Mendapatkan Informasi di Perpustakaan
Diantara tugas dari pengelola perpustakaan adalah membantu pengguna dalam memdapatkan informasi yang dibutuhkannya, apakah petugas perpustakaan sekolah luar biasa selalu membantu penggunaka untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan dapat kita lihat pada tabel berikut ini:
Tabel 25
Petugas Perpustakaan Membantu dalam Mendapatkan Informasi di Perpustakaan Variabel Jawaban Frekuensi Prosentase
Selalu 1 8,33%
Cukup sering 4 33,33%
Jarang 6 50%
Tidak pernah 2 16,67%
Jumlah 12 100%
Melalui tabel di atas dapat diketahui bahwa sebagian kecil responden menyatakan petugas perpustakaan selalu membantu dalam mencari informasi dengan nilai prosentase 8,33% (1 orang), hampir setengahnya responden menyatakan cukup sering dengan nilai prosentase 33,33% (4 orang), setengahnya dari responden menyatakan jarang membantu dengan nilai prosentase 50% (6 orang), dan sebagian kecil responden menyatakan tidak pernah membantu dengan nilai prosentase 16,67% (2 orang).
Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa petugas perpustakaan cukup sering membantu responden dalam mencari informasi yang dibutuhkan, itu menunjukkan kalau petugas perpustakaan mengetahui secara betul tanggung jawabnya sebagai pengelola perpustakaan.
p. Hambatan dalam Mencari Informasi
Dalam mencari informasi tidak semudah dengan apa yang kita bayangkan, kadang ada hambatan-hambatan tertentu, sehingga menyebabkan sulitnya mendapatkan informasi yang kita butuhkan, apakah responden pernah mendapat hambatan dalam mencari informasi dapat kita lihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 26
Hambatan dalam Mencari Informasi
Variabel Jawaban Frekuensi Prosentase
Selalu 3 25%
Sering 2 16,67%
Jarang 3 25%
Tidak pernah 4 33,33%
Jumlah 12 100%
Data di atas menunjukkan bahwa sebagian kecil dari responden menyatakan selalu mendapat hambatan dalam mencari informasi dengan nilai prosentase 25% (3 orang), sebagian kecil responden menyatakan sering mendapat hambatan dengan nilai prosentase 16,67% (2 orang), sebagian kecil lagi menyatakan jarang mendapat hambatan dengan nilai prosentase 25% (3 orang), dan yang terakhir hampir setengahnya responden menyatakan tidak pernah mendapat hambatan dengan nilai prosentase 33,33% (4 orang). Hambatan dalam mencari informasi ada berbagai macam, untuk mengetahui hambatan apa yang di temui oleh responden dapat kita lihat pada tabel berikut:
Tabel 27
Hambatan yang Ditemui
Variabel Jawaban Frekuensi Prosentase
Koleksinya sedikit 3 37,5%
Koleksi yang dicari tidak ditemukan 1 12,5% Penelusuran koleksi sulit dilakukan 3 37,5% Lainnya..Pengadaan koleksi terlambat 1 12,5%
Jumlah 8 100%
Dari tabel di atas dapat kita lihat bahwa hampir setengahnya responden menyatakan hambatannya adalah karena koleksinya sedikit dengan nilai
prosentase 37,5% (3 orang), sebagian kecil menyatakan karena koleksi yang di cari tidak ditemukan dengan nilai prosentase 12,5% (1 orang), hampir setengahnya responden menyatakan karena penelusuran koleksi sulit dilakukan dengan nilai prosentase 37,5% (3 orang), sebagian kecil lagi menyatakan karena pengadaan koleksi yang terlambat dengan nilai prosentase 12,5% (1 orang).
90
Bab ini merupakan yang terakhir dari semua bab yang telah dibahas, dalam bab ini akan diuraikan kesimpulan dari keseluruhan hasil penelitian yang telah dilakukan dan di analisa dari bab 1 hingga bab 4, nanti juga akan diuraikan beberapa saran yang membangun bagi perpustakaan sekolah luar biasa agar lebih baik lagi untuk kedepannya. Untuk lebih lengkapnya sebagai berikut:
A. Kesimpulan
Ada beberapa kesimpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian yang telah dilakukan tentang peran perpustakaan sekolah luar biasa dalam menumbuhkan kemampuan literasi informasi bagi anak tunanetra, yaitu:
1. Upaya-upaya yang dilakukan sekolah luar biasa untuk meningkatkan kemampuan literasi informasi bagi anak tunanetra belum optimal. Hal itu terlihat dari kurangnya sarana dan prasarana yang memadai, baik itu dari fasilitas yang tersedia dan koleksi perpustakaan sangat kurang terutama untuk pelajar SMLB. Kebanyakan koleksi untuk tingkat sekolah dasar dan menengah. Walaupun begitu, kebanyakan siswa sudah bisa belajar mandiri, mencari informasi di perpustakaan tanpa bantuan petugas perpustakaan, karena sebelum mereka menggunakan perpustakaan diberikan pendidikan pemakai terlebih dahulu oleh pengelola perpustaaan. Begitupun dengan penggunaan komputer atau internet, sudah menjadi
mata pelajaran wajib bagi siswa. Hal itu dilakukan untuk membekali siswa agar tidak gagap teknologi nanti setelah lulus sekolah.
2. Keberadaan perpustakaan di sekolah luar biasa sangan penting, itu terlihat dari hasil sebaran kuesioner tentang seberapa penting keberadaan perpustakaan, sebagian besar responden menyatakan sangat penting dengan nilai prosentase 58,33% dan yang menyatakan cukup penting berjumlah 33,33%.
3. Semua mempunyai peranan yang cukup besar, baik dari pihak sekolah, pengelola perpustakaan, guru dan siswa untuk membekali siswa dengan kemampuan literasi informasi. Maka dari itu diperlukan perhatian yang lebih demi pengembangan perpustakaan yang lebih baik.
B. Saran
Setelah memberi kesimpulan terhadap hasil penelitian yang telah dilakukan, peneliti merasa harus memberikan beberapa saran yang mudah-mudahan menjadi motivasi bagi perpustakaan sekolah luar biasa untuk menjadi lebih baik lagi, yaitu sebagai berikut:
1. Sebaiknya ada petugas perpustakaan yang khusus mengelola perpustakaan, sehingga aktivitas yang ada di perpustakaan akan berjalan lancar. Baik dari pelayanan sirkulasi, ataupun pelayanan teknis lainnya.
2. Hendaknya koleksi untuk SMLB di tambah, agar siswa tidak lagi merasa kesulitan apabila ingin mencari informasi yang dibutuhkannya. Dan dari segi pengadaan koleksi seringkali mengalami keterlambatan ini juga perlu dikaji lagi.
3. Hendaknya fasilitas perpustakaan di tambah dalam rangka menunjang upaya perpustakaan untuk meningkatkan kemampuan literasi informasi siswa.
4. Diharapkan upaya-upaya perpustakaan sekolah luar biasa untuk meningkatkan kemampuan literasi informasi siswa agar lebih dioptimalkan kembali.
5. Hendaknya buku Braille disamakan dengan buku awasnya, baik dari pengarangnya ataupun dari judulnya, agar tidak menyulitkan siswa dalam mendapatkan informasi.
6. Hendaknya perpustakaan dibuat semenarik mungkin, agar dapat memicu siswa untuk datang ke perpustakaan.
93
Alfida. (2008). ”Pustakawan dan Literasi Informasi: Menguak Kemampuan Pustakawan dan Membimbing Pengguna”. Al-Maktabah: Jurnal Komunikasi dan Informasi Perpustakaan, 9 (2), 234
Barraga, N.C. (1986). Psychological Implications of Low Vision. Kuala Lumpur: First Asia Pacific Seminar.
Diknas. (1981).Sekolah Luar Biasa Sekilas Lintas. Jakarta: Fa Perkara Offset. Farida, Ida dkk. (2005). Information Literacy Skill: Dasar Pembelajaran Seumur
Hidup. Jakarta: UIN Jakarta Press.
Hartanto (2006). Para tunanetra kini tertolong untuk membaca buku-buku di perpustakaan, Departemen Pendidikan Nasional menyediakan pojok tunanetra yang memungkinkan mereka membaca buku-buku perpustakaan secaradigital.http://hartanto .Blogspot.com/2006/12/layanan-perpustakaan-untuk-pengguna.htm. Diakses tanggal 18 Mei 2009.
Moleong, Lexy J.(2007). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rusdakarya Offset.
Mudjito. (1999).Membina Minat Baca. Jakarta: Universitas Terbuka
Nasution. (2002).Metode Penelitian Naturalistik-Kualitatif. Bandung: Tarsito. Nurhadi, Muljan Achmad. (1981). Cara Mengevaluasi Perpustakaan Sekolah.
Jakarta: Majalah Berita Perpustakaan.
Nuryudi. (2006). ”Mendukung Pendidikan Berbasis Kompetensi dengan Program Literasi dasar dan Information Literacy di Perpustakaan Sekolah”. Al-Maktabah:Jurnal Komunikasi dan Informasi Perpustakaan, 8 (2), 14-15 Pamudji, dkk. (1999). Meningkatkan Kemampuan Mandiri Anak Tunanetra di
SLB/ A Surabaya. Surabaya: DEPDIKBUD.
Pamudji, dkk. (1998). Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Anak Tunanetra Melalui Pengajaran Modul di SLB/ A Surabaya. Surabaya: DEPDIKBUD. Parmono. (2007).Perpustakaan Sekolah: Pendekatan Aspek Manajemen dan Tata
Kerja. Jakarta: Grasindo.
Perpustakaan Nasional RI. (2001). Pedoman Umum Penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah: Jakarta. Perpustakaan Nasional RI.
Puspita, Irine. (2003). Mengelola Perpustakaan SLB. Subang: UPTD Perpustakaan.
Rahardja, Djadja. (2004).Pendidikan Anak Low Vision. Jakarta: UPI.
Roberts, F.K. (1986). The Parent Connection: Enhancing the Effective Component of Parent Comperences. Teaching Exceptional Children.
Saiful-Haq, Rizal, dkk. (2006). Pengantar Manajemen Perpustakaan Madrasah. Jakarta: Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Saiful-Haq, Rizal, dkk.(2005). Perpustakaan dan Pendidikan: Pemetaan
Peran-Serta Perpustakaan dalam Proses Belajar-Mengajar, Jakarta: Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Somantri, T Stjihati.(2006). Psikologi Anak Luar Biasa. Bandung: PT Rafika Aditama.
Sudijojo, Anas. (1997). Pengantar Statistika Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sulistyo-Basuki.(1993).Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia.
Suryana, R. (1982). Membina Perpustakaan Sekolah: Pengantar Teori dan Praktek. Bandung: Paramaarhta.
Sutarno. NS. (2003). Perpustakaan dan Masyarakat. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Tim Peneliti Mahasiswa. (1995). Eksperimen Permainan Kartu Huruf Braile dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Anak Tunanetra. Surabaya: DEPDIKBUD.
Wahyudiati. (2008).Urgensi Literasi Informasi Sebagai Bekal Kecakapan Hidup. http://batikyogya.wordpress.com/2008/03/03/urgensi-literasi-informasi-sebagai-bekal-kecakapan-hidup. Diakses 20 Desember 2009
Warsito, Hermawan. (1992). Pengantar Metodologi Penelitian: Buku Panduan Mahasiswa. Jakarta: Gramedia.
Widdjajantin, Anastasia. (2004). Ortopedagogik Tunanetra I. Jakarta: DEPDIKBUD.