PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN 35
9. Penghapusan Diskriminasi dalam Berbagai Bentuk
Diskriminasi mencakup perilaku yang berdasarkan perbedaan dibuat berdasarkan alamiah atau pengategorian masyarakat, yang tidak ada hubungannya secara kemampuan individu atau jasa. Sebagai bangsa yang terdiri atas beragam budaya, suku, etnik dan agama, peluang adanya diskriminasi tersebut dalam penyelenggaraan
pemerintahan sampai dengan kehidupan sehari-hari masyarakat sangat potensial menimbulkan permasalahan di berbagai sektor, baik dilakukan oleh aparatur negara maupun individu-individu di masyarakat.
Berbagai upaya telah dilakukan oleh Pemerintah antara lain melalui proses legislasi yang diarahkan untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat terhadap perlakuan yang diskriminatif yang masih mencerminkan pada tahapan politik hak asasi manusia di tingkat legislasi. Pada tahapan implementasi peraturan perundang-undangan di bidang hak asasi manusia, masih banyak kasus hak asasi manusia yang proses hukumnya belum terselesaikan sehingga tersangka pelaku banyak yang lolos dari jerat hukum. Keberpihakan dan masih adanya perbedaan persepsi terhadap hak asasi manusia oleh penyelenggara negara masih menjadi titik persoalan mendasar. Komitmen negara yang menjamin perlakuan yang tidak diskriminatif kepada seluruh lapisan masyarakat belum dapat ditindaklanjuti oleh aparat penegak hukum dan masyarakat umum lainnya.
Dalam perkembangan proses legislasi di daerah, banyak peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah yang bersifat diskriminatif, misalnya peraturan yang mengatur masalah perempuan terkait dengan upaya penyelesaian kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga. Masih banyak kasus yang belum dapat diselesaikan karena minimnya pengetahuan dan pemahaman dari aparat penegak hukum mengenai bentuk-bentuk kekerasan dalam rumah tangga. Di bidang pelayanan umum, seperti pelayanan kesehatan, terutama untuk masyarakat miskin, berbagai bentuk diskriminasi juga masih terjadi di antara masyarakat miskin sehingga makin terpinggirkan.
Di lain pihak, eskalasi kriminalitas terhadap anak belum banyak menunjukkan perlindungan yang maksimal, anak masih dijadikan objek sasaran perlakuan yang tidak seharusnya atau menjurus ke bentuk kriminalitas oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, dan oleh oknum pelaku anak.
Beberapa langkah kebijakan yang telah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dalam upaya penghapusan diskriminasi antara lain adalah memperkuat perlindungan kepada masyarakat penyandang cacat melalui penandatanganan Konvensi Internasional
mengenai Perlindungan dan Pemajuan Hak-Hak dan Martabat Penyandang Cacat pada 30 Maret 2007. Masalah perdagangan warga negara Indonesia, terutama perempuan dan anak-anak masih sering terjadi terutama di wilayah konflik, daerah-daerah yang terkena bencana dan daerah perbatasan Indonesia dengan negara lain atas alasan kondisi perekonomian maupun merupakan tindak kriminal, Pemerintah telah mengeluarkan PP Nomor 9 Tahun 2008 mengenai Tata Cara dan Mekanisme Pelayanan Terpadu bagi Saksi dan/atau Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang menindaklanjuti pengesahan UU mengenai Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. Untuk melindungi saksi dan korban, juga telah dibentuk Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban yang diikuti dengan pengesahan Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 2008 tentang Pemberian Kompensasi, Restitusi dan Bantuan kepada Saksi dan Korban.Terkait dengan hal tersebut, juga telah diselenggarakan kerja sama Pemulihan Korban Kekerasan dalam Rumah Tangga dengan sejumlah lembaga di lingkungan pemerintahan untuk memudahkan perempuan korban mengakses keadilan. Masalah kewarganegaraan juga telah ditindaklanjuti oleh Pemerintah, termasuk tatacara pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil. Untuk melindungi perempuan yang bermasalah dengan hukum, telah diupayakan konsep sistem penangan peradilan pidana terpadu (SPPT) terkait dengan penanganan tindakan kekerasan terhadap perempuan dari tingkat penyidikan sampai peradilan yang akan diintegrasikan ke dalam amendemen KUHAP. Akses masyarakat yang masih minim di beberapa sektor tertentu telah dipetakan dan menjadi masukan dalam upaya penyusunan konsep akses kepada keadilan (access to justice) yang mengacu pada sebuah keadaan dan proses sehingga warga negara mampu mencari dan memperoleh pemulihan hak-haknya melalui lembaga keadilan formal dan informal sesuai dengan standar hak asasi manusia. Konsep ini akan menjadi masukan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 5 tahun mendatang (2010—2014). Pemerintah Indonesia untuk pertama kalinya menyerahkan Universal Periodic Review
kepada Dewan HAM PBB pada bulan April 2008 yang diikuti dengan penyerahan laporan Indonesia mengenai pelaksanaan
dilaksanakan pada bulan Mei 2008 sebagai laporan perkembangan pelaksanaan konvensi internasional.
Untuk melanjutkan upaya-upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dalam menegakkan hak asasi manusia, peningkatan pemahaman mengenai konsep hak asasi manusia yang universal perlu ditanamkan kepada seluruh lapisan masyarakat. Sosialisasi pemahaman tentang keberagaman budaya, suku, etnik dan agama melalui sektor pendidikan dan sektor-sektor penunjang lainnya ditingkatkan untuk mendukung pemahaman konsep hak asasi manusia di Indonesia. Sebagai tindak lanjut yang konstruktif dan sistematis, penegakan hak asasi manusia perlu dilakukan mekanisme pembentukan, harmonisasi dan sinkronisasi peraturan perundang- undangan yang ditunjang dengan pengawasan terhadap pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan yang eksis tidak hanya dalam rangka pemenuhan kewajiban Indonesia sebagai negara peserta konvensi internasional terkait hak asasi manusia saja, tetapi juga sebagai langkah implementatif untuk mengakui dan melaksanakan hak asasi manusia secara komprehensif di Indonesia. Konsep pelanggaran terhadap hak asasi manusia ditekankan sebagai pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan dan konstitusi.
Perbaikan pelayanan publik merupakan salah satu indikator keberhasilan penghapusan diskriminasi hak asasi manusia dalam berbagai bentuk. Pelayanan publik yang optimal di berbagai sektor seperti kepada pelayanan dasar (pendidikan dan kesehatan) akan ditingkatkan. Konsep pendekatan akses masyarakat terhadap hukum dan keadilan sangat penting dikedepankan sehingga hak-hak seluruh warganegara, khususnya yang miskin dan terpinggirkan dapat terpenuhi dan terlayani dengan baik oleh penyelenggara negara.
10. Penghormatan Pengakuan dan Penegakan Atas Hukum