B. DESKRIPSI PENAMPANG TANAH
4. Pengkajian Analisis Data dan Informasi Iklim untuk Menekan Risiko Pertanian
PENDAHULUAN
Tersedianya sumber daya manusia yang handal di daerah menjadi salah satu syarat tercapainya keberhasilan pembangunan di daerah bersangkutan. Dalam era otonomi daerah, selain sumber daya manusia yang berkualitas juga dituntut adanya kemampuan dalam mengelola sumber daya alam yang tersedia di setiap daerah. Salah satu sumber daya alam yang berpotensi untuk dikembangkan adalah iklim.
Terbatasnya pemahaman tentang iklim, analisis dan interpretasi data menjadikan sumber daya ini seringkali luput dari perhatian. Padahal apabila dikelola dengan baik, iklim dapat menjadi sumber daya yang mendukung usaha pertanian, karena risiko akibat deraan iklim dapat dihindari atau paling tidak dapat diminimalkan.
Puslitbangtan c/q Balittan Bogor sejak tahun 1972 melalui proyek ATA-110 telah membangun suatu jaringan pengamatan iklim dengan 26 stasiun iklim, dan secara reguler informasi iklim hasil analisisnya disebarkan ke beberapa Puslitbang dan Balit dalam bentuk publikasi AGRO-CLIMATOLOGY (A compilation of climatology data) hingga tahun 1995 telah diterbitkan sebanyak 83 edisi. Dalam perkembangan selanjutnya inventarisasi dilakukan hingga bulan April 1997, di lingkup Badan Litbang Pertanian terdapat tidak kurang dari 45 stasiun iklim dan atau lebih dari 55 penakar hujan. Stasiun tersebut dikelola oleh masing-masing balai dan instalasi sehingga mempersulit kordinasi, karena keterlambatan pengiriman data sehingga menyulitkan pengguna dalam analisis data. Untuk mengatasi hal tersebut, mulai tahun 2002 Puslitbangtanak menyusun program pembinaan dan pembimbingan dalam pengembangan sistem jaringan stasiun pengamatan dan database iklim serta analisis agroklimat.
Guna mendukung kegiatan tersebut pada tanggal 10 Januari 1997 telah disepakati kerja sama antara Pemerintah Perancis dan Pemerintah Indonesia mengenai pengembangan sistem usahatani lahan kering berwawasan agribisnis.
Tujuan dari proyek tersebut adalah: (1) pemasangan peralatan iklim dan hidrologi;
(2) alih teknologi; (3) pelatihan di dalam dan luar negeri; dan (4) penelitian dan pengembangan. Untuk tujuan tersebut telah dipasang 74 unit stasiun iklim otomatis (Automatic Weather Station) dan 23 unit stasiun duga muka air otomatis (Automatic Water Level Recorder) yang dipasang di 7 provinsi yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Lampung, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Tenggara. Kelebihan dari data digital antara lain data dari AWS bisa langsung dibaca dalam komputer menggunakan format SARRA melalui sebuah kaset yang dipasang dalam AWS. Selain itu, data dapat langsung dikirim melalui telepon, fax atau internet, sehingga dapat menghemat waktu dan tenaga pengamat cuaca, serta data yang dihasilkan lebih cepat dan akurat. Untuk meningkatkan kemampuan tenaga pengamat dan peneliti di daerah dalam mengelola dan menganalisis data iklim untuk perencanaan pertanian, perlu pembinaan dan pembimbingan untuk lebih meningkatkan kemampuannya dalam menganalisis dan menginterpretasi data sehingga dihasilkan informasi pertanian yang tangguh.
Untuk mengoptimalkan pemanfaatan data iklim dan hidrologi yang berasal dari peralatan tersebut, serta meningkatkan kemampuan para peneliti dalam analisis dan interpretasi data agroklimat, maka pada tahun 2002 telah dilakukan pembinaan dan pembimbingan dalam pengembangan sistem jaringan stasiun pengamatan dan database iklim serta analisis agroklimat. Pembinaan tersebut perlu ditindaklanjuti dengan sistem pendampingan, agar materi teori maupun praktek, dan metode yang telah disampaikan dalam pelatihan sebelumnya dapat lebih dikuasai, serta dikerjakan sendiri oleh BPTP berdasarkan kondisi biofisik dan sosial ekonomi masing-masing.
Konsep tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi BPTP yang mengelola stasiun otomatis, tetapi juga harus dikembangkan untuk lokasi lainnya termasuk BPTP yang tidak memiliki stasiun otomatis. Proses ini diharapkan berkesinambungan dan terkait antara tahap satu dengan tahap berikutnya. Dengan demikian akan mempermudah proses alih teknologi.
Apabila proses alih teknologi dapat berlangsung dengan baik, maka peningkatan kemampuan dan kualitas sumberdaya manusia di daerah, khususnya para peneliti di BPTP, dapat tercapai. Peningkatan kemampuan dan apresiasi terhadap sumberdaya iklim akan melahirkan konsep-konsep baru dalam memandang iklim sebagai sumberdaya yang sangat potensial untuk menunjang keberhasilan pembangunan, terutama pembangunan pertanian, karena risiko kegagalan akibat deraan iklim dapat dihindari atau diminimalkan.
Justifikasi
Peningkatan kemampuan sumberdaya manusia di daerah termasuk BPTP saat ini, khususnya dalam analisis data iklim dan interpretasinya, menjadi lebih penting dalam era otonomi daerah. Sebagian besar kemampuan staf di daerah (BPTP) sangat terbatas dalam analisis data iklim dan interpretasinya. Selain faktor pengalaman dan latar belakang yang bukan bidangnya, hal ini juga disebabkan karena iklim sebagai faktor yang penting dalam proses produksi pertanian sering kurang mendapat perhatian dibanding faktor lainnya, seperti tanah dan tanaman. Akibatnya apresiasi terhadap sumberdaya iklim juga menjadi berkurang. Padahal apabila dioptimalkan, iklim dapat menjadi sumberdaya yang sangat potensial.
Untuk itu pelatihan dan pendampingan dalam analisis data agroklimat serta interpretasinya perlu dilakukan agar informasi iklim dapat didayagunakan sehingga risiko dapat diminimalkan. Dengan adanya pelatihan diharapkan para staf dapat melakukan analisis dan interpretasi data iklim serta menyusun Buletin Agroklimat di daerah masing-masing, dengan tetap disertai pendampingan.
Tujuan
Membina/membimbing para peneliti di BPTP agar dapat melakukan analisis dan interpretasi data iklim serta menyusun Buletin Agroklimat secara mandiri.
Luaran
Para peneliti di BPTP dapat melakukan analisis dan interpretasi data agroklimat serta menyusun Buletin Agroklimat secara mandiri di masing-masing daerah.
METODOLOGI Pendekatan
Pembinaan analisis data dan informasi iklim untuk menekan risiko kegagalan usahatani merupakan kegiatan yang berbentuk pelatihan dan pendampingan. Hasil-hasil penelitian dalam bidang agroklimat dan hidrologi dikemas dalam bentuk program (spread sheet) yang relatif sederhana, menarik dan mudah dipahami oleh para pengguna di daerah. Dengan demikian diharapkan alih teknologi dapat berlangsung dengan baik dan mencapai sasaran.
Pada tahun pertama telah dilakukan pelatihan (workshop) bagi enam BPTP (Lampung, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara, dan Nusa Tenggara Timur) tentang pengelolaan stasiun iklim dan penyusunan metode analisis agroklimat untuk menekan risiko. Diberikannya materi pengelolaan stasiun iklim, karena enam BPTP tersebut diberi wewenang untuk mengelola beberapa alat pengamatan iklim dan hidrologi otomatis, yaitu AWS (Automatic Weather Station) dan AWLR (Automatic Water Level Record) hasil kerja sama Puslitbangtanak, Badan Litbang Pertanian dengan CIRAD Perancis. Materi diberikan dalam bentuk diktat yang terdiri dari pemahaman terhadap teori neraca air (30%) dan materi praktikum (70%).
Mekanisme umpan balik dari pelatihan tersebut adalah dengan cara mewajibkan para peserta menyusun Buletin Agroklimat bulanan dengan menggunakan data spesifik lokasi di masing-masing BPTP. Buletin kemudian dikirim ke Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi untuk dievaluasi. Jika ditemui kejanggalan dalam proses analisis, para peserta diwajibkan untuk melakukan pendalaman materi kembali yang dibimbing oleh Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi. Diharapkan untuk tahap selanjutnya para peneliti di enam BPTP tersebut dapat melakukan analisis data iklim dan interpretasinya secara mandiri di masing-masing daerahnya dengan tetap dilakukan pendampingan untuk membantu dalam proses analisis dan interpretasi.
Konsep ini dikembangkan dan diterapkan untuk BPTP Sumatera Utara, Jawa Barat, dan Jawa Timur dengan titik berat materi pada analisis data iklim dan interpretasinya. Tahun berikutnya dilakukan pemantapan dan penyebarluasan (diseminasi) hasil analisis dan interpretasi. Demikian seterusnya, proses ini berlangsung secara berkesinambungan. Untuk mempermudah proses alih teknologi, peserta dari masing-masing BPTP diharapkan tidak berganti-ganti.
Kegiatan ini dilaksanakan secara berkelompok di dua lokasi, yaitu Sumatera Utara untuk BPTP Sumatera Utara dan Jawa Timur untuk BPTP Jawa Barat dan Jawa Timur. Pelatihan diberikan sebagian besar (70%) dalam bentuk praktikum, selebihnya (30%) dalam bentuk teori dan pengenalan lapang (field trip). Untuk mengetahui tingkat pemahaman dan penguasaan materi pelatihan, pada hari terakhir dilakukan presentasi hasil analisis oleh setiap BPTP dan penyusunan kertas kerja.
Materi yang disampaikan dalam pelatihan ini secara garis besar dibagi menjadi tiga bagian, yaitu (1) teori, yang meliputi pengantar hubungan iklim, tanah dan tanaman, database dan buletin agroklimat; (2) praktikum database iklim,
database hidrologi, database cropping system, database tanah, fenologi tanaman;
dan (3) pengenalan lapang (field trip).
Penyusunan database dilakukan dengan menggunakan program Access.
Database disusun dalam suatu tabel data, masing-masing berisi data dan penjelasan sebagai berikut:
Database iklim
Database iklim diambil dari data harian yang terdiri dari curah hujan, kelembaban (maksimum, minimum, rerata), suhu (maksimum, minimum, rerata), radiasi global dan kecepatan angin (maksimum, minimum, rerata), sedangkan data evapotranspirasi apabila tidak diamati dapat dihitung berdasarkan parameter iklim yang lain dengan model Penman-Montheit.
Database hidrologi
Memuat data debit dari bendung (reservoir) di lokasi penelitian, kapasitas bendung, dan lain-lain.
Database cropping system
Memuat deskripsi tentang sistem pertanian yang didapatkan dari survei lapangan, antara lain pola tanam, tanggal tanam, sistem irigasi, jenis tanaman, dan lain-lain.
Database tanaman
Merupakan kumpulan data tentang karakteristik tanaman yang merupakan referensi data tanaman dari FAO seperti lama/panjang fase fisiologi tanaman, koefisien tanaman, dan sensitifitas tanaman terhadap cekaman air siklus pertumbuhan, tinggi tanaman, kedalaman perakaran, persentase dari ketersediaan air yang diambil oleh tanaman, persentase penutupan tanaman, dan lain-lain.
Database tanah
Database tanah berisi deskripsi tentang sifat fisik tanah dan karakteristik hidrodinamik tanah. Data diperoleh setelah dilakukan analisis contoh tanah dari beberapa lokasi terpilih. Data yang diperlukan antara lain adalah kadar air kapasitas lapang dan titik layu permanen, porositas, total ketersediaan air, total air yang dievaporasikan pada setiap lapisan tanah, dan lain-lain.
Pengolahan dan analisis neraca air digunakan untuk mengetahui kecukupan air tanaman tertentu pada jenis tanah tertentu di lokasi tertentu. Kecukupan air selama masa pertanaman menentukan potensi kehilangan hasil tanaman yang bersangkutan.
Tanaman membutuhkan air yang cukup selama masa pertumbuhannya. Kekurangan air akan mengakibatkan reduksi transpirasi tanaman. Kondisi ini berakibat pada penurunan hasil tanaman. Input air tanaman yang utama berasal dari curah hujan, sedangkan air yang tersimpan pada zona perakaran digunakan oleh tanaman untuk transpirasi, dan sebagian hilang melalui evaporasi.
Data hasil pengolahan dan analisis data selanjutnya diinterpretasi dan disusun dalam format Buletin Agroklimat bulanan.
Lingkup dan Rencana Kegiatan Persiapan
Peserta yang berasal dari BPTP jumlahnya dibatasi maksimal dua orang agar efektif, baik dari segi alih ilmu maupun dalam proses penyerapan materi. Materi yang akan diberikan membutuhkan ketekunan dan konsentrasi tinggi dalam proses pemahamannya. Oleh karena itu, peserta yang berhak mengikuti pelatihan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. Pendidikan minimal S1 Pertanian.
2. Menguasai aplikasi komputer terutama Microsoft Word, Microsoft Excel dan pernah mengenal atau tahu Microsoft Access.
3. Diutamakan yang menangani data Automatic Weather Station (AWS)/data iklim dan Automatic Weather Station (AWS)/data hidrologi bagi BPTP yang dipercaya menangani kedua stasiun tersebut.
4. Memiliki motivasi tinggi dan mampu mengkomunikasikan hasil pelatihan.
Agar lebih memudahkan pemahaman mengenai materi yang diajarkan, peserta diwajibkan mencoba menganalisis data agroklimatologi dari stasiun iklim yang terdekat dengan BPTP masing-masing. Guna mendukung kelancarannya maka kewajiban para peserta adalah sebagai berikut:
1. Membawa data iklim dan curah hujan harian dan hidrologi untuk stasiun terdekat dengan time series yang cukup panjang dan telah dientri dalam format Excel atau Lotus123.
2. Membawa data sifat fisik tanah untuk stasiun-stasiun tersebut.
3. Dianjurkan membawa komputer notebook yang dilengkapi floppy disk dan CD-Room dengan software Microsoft Office, minimal versi 2000.
Pelaksanaan pelatihan
Pelatihan dilaksanakan selama 6 hari dengan pertimbangan satu materi dibahas selama 1 hari, termasuk teori dan praktek. Jadwal pelatihan disajikan dalam Tabel 1.
Kegiatan penelitian dan pengkajian analisis data dan informasi iklim untuk menekan risiko kegagalan usahatani meliputi dua kegiatan utama. Pertama, pengantar yang berupa kuliah umum mengenai database iklim, tanah dan tanaman; hubungan iklim, tanah dan tanaman; dan Buletin Agroklimat. Kedua, pendalaman materi Buletin Agroklimat melalui praktikum dan latihan, serta penyusunan kertas kerja untuk wilayah masing-masing.
Materi yang diberikan dalam pelatihan meliputi pengantar dengan porsi 20%
dari total kegiatan serta teori, praktikum dan pembuatan kertas kerja dengan porsi 80%. Materi pengantar meliputi database iklim, tanah dan tanaman, hubungan iklim, tanah dan tanaman dan Buletin Agroklimat. Praktikum meliputi database iklim, tanah dan tanaman, introduksi pola tanam dalam database agroklimat, dan penyusunan kertas kerja berupa Buletin Agroklimat untuk wilayah masing-masing.
Tabel 1. Garis besar jadwal pelatihan.
Hari Materi
Pertama Pembukaan Pengantar
1. Hubungan iklim, tanah dan tanaman 2. Database
3. Buletin Agroklimat
Kedua Database tanah, tanaman, iklim, cropping system (teori dan praktikum)
Ketiga Database pola tanam (teori dan praktikum) Keempat Kunjungan lapang (field trip)
Kelima Penyusunan Buletin Agroklimat dan kertas kerja Keenam Presentasi hasil setiap BPTP
Penutupan Evaluasi
Untuk mengetahui tingkat penguasaan materi oleh masing-masing peserta, maka dilakukan evaluasi melalui pembuatan kertas kerja dan Buletin Agroklimat yang wajib disampaikan ke Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi setiap bulan, untuk dipantau sejauh mana Buletin Agroklimat dapat diaplikasikan. Melalui validasi di lapangan dilihat tingkat penyimpangan hasil simulasi dengan data existing.
Pelatihan dilakukan dua kali. Pertama, di daerah bekerjasama dengan pihak BPTP setempat. Kedua, dilakukan menjelang akhir tahun di Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi. Khusus untuk yang kedua, kegiataan diikuti oleh beberapa peserta yang pernah didampingi dan tiap peserta diwajibkan untuk mempresentasikan hasil yang telah mereka lakukan di lapangan. Pada tahun selanjutnya, pengolahan dan analisis serta interpretasi data agroklimat diharapkan dapat dilakukan oleh staf BPTP sendiri sementara peneliti Puslitbangtanak hanya berperan sebagai pendamping/nara sumber/supervisor.
Bahan penelitian
Bahan yang dibutuhkan dalam penelitian adalah data iklim harian, data debit, informasi pertanian (pola tanam, karakteristik tanaman, tanggal tanam, dll.). Bahan-bahan ini diperlukan terutama dalam pembuatan materi baik teori maupun praktikum.
Untuk bahan pelatihan, diperlukan seminar kit, yang berisi antara lain buku panduan, makalah materi pengantar, bahan praktikum, ballpoint, buku, name tag, dan sertifikat.