b. Perawatan di Rumah Sakit
IV. Pengobatan obstetrik
Sikap terhadap kehamilan ialah semua kehamilan dengan eklamsia harus diakhiri, tanpa memandang umur kehamilan dan keadaan janin.13
Persalinan diakhiri bila sudah mencapai stabilisasi (pemulihan) hemodinamika dan metabolisme ibu atau 12 jam sejak gejala eklamsia timbul.13
Jika terdapat gawat janin, atau persalinan tidak dapat terjadi dalam 12 jam maka dilakukan seksio sesarea. Pelaksanaan seksio sesarea harus memperhatikan: tidak terdapat koagulopati, anestesi yang aman/ terpilih adalah anestesi umum.
Jika anestesi umum tidak tersedia, atau janin mati, aterm terlalu kecil, lakukan persalinan pervaginam. Jika serviks matang, lakukan induksi dengan oksitosin 2-5 IUdalam 500 ml dekstrose 10 tetes/menit atau dengan prostaglandin.13
Perawatan postpartum: antikonvulsan diteruskan sampai 24 jam postpartum; antihipertensi diteruskan jika tekanan diastolik masih > 110 mmHg; dan pantau volume urine.13
Secara umum dapat disimpulkan penangan pasus eklamsia adalah sebagai berikut:14
1. Hindari dari trauma saat kejang
2. Monitor kebutuhan oksigen ibu dan janin - beri oksigen 8-10 L/menit
- monitor oksigenasi dan status metabolik dengan transcutaneous pu lse oximetry atau dengan pemeriksaan gas darah arteri.
3. Minimalisasi aspirasi
- Posisi lateral decubitus
terjadi aspirasi atau tidak.
4. Pemberian MgSO4 untuk mencegah kejang berulang 5. Kontrol hipertensi dengan obat antihipertensi
2.9. KOMPLIKASI
Komplikasi yang terberat ialah kematian ibu dan janin. Usaha utama ialah melahirkan bayi hidup dari ibu yang menderita pre-eklampsia dan eklampsia. Komplikasi di bawah ini biasanya terjadi pada pre-eklampsia berat dan eklampsia.
1. S olusio plasenta. Komplikasi ini biasanya terjadi pada ibu yang menderita hipertensi akut dan lebih sering terjadi pada pre-eklampsia. Di R S Dr. Cipto Mangunkusumo 15,5% solusio plasenta disertai pre-eklampsia.13
2. H ipof ibrinogenemia. Pada pre-eklampsia berat Zuspan (1978) menemukan 23% hipofibrinogenemia, maka dari itu dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan fibrinogen secara berkala.13
3. H emolisis. Penderita dengan pre-eklampsia berat kadang-kadang menunjukkan gejala klinik hemolisis yang dikenal karena ikterus. Belum diketahui dengan pasti apakah ini merupakan kerusakan sel-sel hati atau destruksi sel darah merah. Nekrosis periportal hati yang sering ditemukan pada penderita autopsi penderita eklampsia dapat menerangkan ikterus tersebut.13
4. P erdarahan otak . Komplikasi ini merupakan penyebab utama kematian maternal penderita eklampsia.13
5. K elainan mata. Kehilangan penglihatan untuk sementara bisa terjadi selama seminggu. Perdarahan kadang-kadang terjadi pada retina; hal ini merupakan tanda gawat akan terjadinya apopleksia serebri.13
6. E dema paru-paru. Zuspan (1978) menemukan hanya satu penderita dari 69 kasus eklampsia, hal ini disebabkan karena payah jantung.13
7. Nekrosis hati. Nekrosis periportal hati pada pre-eklampsia-eklampsia merupakan akibat vasopasmus arteriol umum. Kelainan ini diduga khas untuk eklampsia, tetapi ternyata juga ditemukan pada penyakit lain. Kerusakan sel-sel hati dapat diketahui dengan dengan pemeriksaan faal hati, terutama penentuan enzim-enzimnya.13
8. S indroma HELLP , yaitu haemolysis, elevated liver enzymes, dan low platelet .13 9. P rematuritas, dismaturitas, dan kematian janin intra-uterin.13
2.10. PENCEGAHAN
Upaya prevensi eklampsia, terutama dianjurkan untuk wanita hamil dengan resiko terhadap preeklampsia-eklampsia :
1. Pemeriksaan antenatal yang teratur dan bermutu serta teliti, mengenali tanda-tanda sedini mungkin (Preeklampsia ringan), lalu diberikan pengobatan yang cukup supaya penyakit tidak menjadi lebih berat.15
2. Perubahan gaya hidup
a. Tirah baring : untuk wanita resiko tinggi yang normotensif, dua penelitian yang tidak begitu kuat menunjukkan bahwa tirah baring, sampai dengan 4 jam sehari di rumah, dapat menurunkan resiko preeklampsia. Untuk hipertensi gestasional tirah baring di rumah sakit terbukti dapat menurunkan hipertensi berat dibandingkan aktivitas biasa di rumah. Di Indonesia tirah baring masih diperlukan pada wanita resiko tinggi, walaupun belum terbukti dalam mencegah terjadinya eklampsia.
b. Olah raga : Penelitian observasional mengasosiasikan olahraga dengan penurunan resiko dari eklampsia. Mekanisme potensialnya meliputi penurunan tekanan darah, kadar lipid darah, dan sitokin proinflamasi. Walaupun tidak ditemukan penelitian yang menunjukkan pengaruh olahraga untuk pencegahan eklampsia untuk wanita resiko rendah, olahraga dengan intensitas ringan sampai sedang menguntungkan untuk alasan kesahatan tubuh secara keseluruhan (11 penelitian yang melibatkan 472 wanita). Dengan ini, olahraga tidak secara khusus menurunkan risiko eklampsia.15
3. Diet dan nutrisi
Kalsium 1000-2000 mg/ hari, dapat dipakai sebagai suplemen pada wanita dengan resiko tinggi terjadinya eklampsia. Efeknya paling terlihat untuk wanita resiko tinggi dan wanita yang asupan kalsium dalam dietnya rendah. Data terakhir dari WHO trial menyatakan bahwa pada wanita-wanita dengan diet yang rendah kalsium, asupan kalsium mendukung penurunan resiko eklampsia yang cukup besar dibanding plasebo. Terdapat pula penurunan resiko untuk eklampsia, hipertensi gestasional berat, dan terjadinya partus sebelum minggu ke 32.14
Antioksidan ( carotene, CoQ10, N-Acetylcystein, asam lipoik dan terutama vitamin C dan E ). Eklampsia sering dihubungkan dengan stress oksidative. Namun, pada penelitian randomized control trial yang dilakukan pada wanita-wanita nullipara dengan resiko rendah, terapi dengan vitamin C (1000 mg/d) dan vitamin E (400 IU/d) selama 14 ± 22 minggu menunjukkan reduksi pada insidensi dari Eklampsia ( 1 trial, 1877 wanita ). Penelitian lain menunjukkan bahwa pemberian suplemen vitamin C dan E justru dapat menurunkan risiko eklampsia.
Mikronutrien lain selain kalsium, defisiensi dari Magnesium, Zinc, dan Piridoxin berhubungan dengan peningkatan kejadian hipertensi dalam kehamilan dan atau komplikasinya.14
4. Obat-obatan
Obat-obatan anti platelet, terutama aspirin dosis rendah (75±100 mg/d ), mengurangi resiko eklampsia sebesar 19%. Heparin, tunggal atau kombinasi dengan obat antiplatelet, telah dianjurkan untuk wanita-wanita dengan resiko sangat tinggi, seperti penyakit ginjal dengan riwayat preeclampsia. Namun, penelitian saat ini masih terlalu kecil untuk mengambil keputusan.14
2.11. PROGNOSIS
i. Sekitar 25% dari wanita dengan eklampsia memiliki hipertensi pada kehamilan berikutnya.11
ii. 5% dari pasien dengan hipertensi mengembangkan preeklampsia berat. Sekitar 2% dari wanita dengan eklampsia mengembangkan eklampsia dengan kehamilan berikutnya.11 iii. Wanita multipara dengan eklampsia memiliki yang berikut:
y Memiliki risiko yang lebih tinggi untuk pengembangan hipertensi esensial
y Tingkat kematian pada kehamilan berikutnya yang lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan primiparous.11
iv.
Bila penderita tidak terlambat dalam pemberian pengobatan, maka gejala perbaikan akan tampak jelas setelah kehamilan diakhiri. Segera setelah persalinan berakhir perubahan patofisiologik akan segera pula mengalami perbaikan (dengan pengecualian cedera serebrovaskular), tekanan darah kembali normal dalam beberapa jam kemudian. Diuresis ( > 4 L/hari) merupakan indikator klinis paling akurat dari menyembuhkan kondisi ini. Eklamsia tidak mempengaruhi kehamilan berikutnya, kecuali pada janin dari ibu yang sudah mempunyai hipertensi kronik. Prognosis janin sangat bergantung pada usia gestasi pada saat kelahiran dan masalah-masalah yang berhubungan dengan prematuritas.11