TINJAUAN PUSTAKA
7. Pengobatan Tuberkulosis
Untuk mendiagnosa TB, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, terutama di daerah paru – paru atau dada, lalu dapat meminta pemeriksaan tambahan berupa foto rontgen dada, tes laboratorium untuk dahak dan darah, juga tes tuberkulin (mantoux/PPD). Pengobatan TB adalah pengobatan jangka panjang, biasanya selama 6–9 bulan dengan paling sedikit 3 macam obat (Andareto, 2015).
Segera melakukan terapi jika ditemukan AAFB (acid-alcohol-fast bacillus) dalam sputum. Jika kecurigaan tuberkulosis secara klinis tinggi namun apus sputum-negatif, ambil sampel sputum untuk kultur dan mulailah terapi. Bagi sebagian besar pasien di Inggris dengan dugaan organisme yang sensitif, pedoman British Thoracic Society menganjurkan pemberian regimen selama 6 bulan, terdiri atas rifampisin, isoniazid, pirazinamid dan etambunol selama 2 bulan pertama, diikuti oleh rifampisin dan isoniazid selama 4 bulan selanjutnya sebagai standar. Dalam kasus di mana didapatkan kultur M. Tuberculosis positif namun dengan hasil kerentanan yang baik setelah 2 bulan, pengobatan termasuk pirazinamid (dan etambunol) dilanjutkan sampai dipastikan adanya keretanan penuh, bahkan jika sampai lebih dari 2 bulan. Obat keempa (etambunol) harus dihindari pada pasien dengan risiko resistensi terhadap isoniazid yang
25 rendah. Berikut dosis obat anti tuberkulosis yang umum dan komplikasinya :
a. Empat obat pertama dianggap sebagai “lini pertama” :
1) 400 – 600 mg/hari : tes fungsi hati abnormal. Memberi warna merah muda pada urin.
2) Isoniazid (INH) 300 mg/har (degan piridoksin 10 mg): neuropati perifer dan ensefalopati (sangat jarang), terjadi pada asetilator lambat dan merespon terhadap piridoksin, seringkali diberikan sebagai profilaksis.
3) Pirazinamid 1,5 – 2,0 g/hari : hepatotoksik (jarang namun berat).
4) Etambunol 15 mg/kg/hari: neuritis optik disertai menurunnya penglihatan warna dan ketajaman penglihatan
b. Komplikasi obat lini kedua
1) Etionamid : mual dan mutah; hapatotoksik
2) Sikloserin: neurotoksisitas disertai bingung dan depresi 3) Asam para-aminosalisilat : mual, muntah dan ruam kulit
Di negara berkembang, dimana murahnya harga obat menjadi prioritas, streptomisin, tiaseton dan isiniazid lebih sering digunakan.
Misalnya, pengobatan selam dua minggu dengan stretomisin (1g) dan isiniazid dosis tinggi 15mg/kg disertai piridoksin selama 1 tahun agak efktif kecuali jika timbul masalah resistensi. Isniazid plus tiasetazon sekali sehari efektif dalam 80-95% kasus(Rubenstein et al., 2007).
26 B. Tinjauan UmumTentang Kualitas Hidup
1. Pengertian Kualitas Hidup
Menurut Kazdagli (2012) dalam (Pratiwi, 2015), kualitas hidup adalah istilah diskriptif dan memiliki arti yang luas, mengacu pada kesehatan emosional, sosial dan fisik individu, serta kemampuan untuk dapat berfungsi dalam tugas kehidupan biasa. Kualitas hidup terdiri dari penelitian subjektif seseoran mengenai sejauh mana berbagai dimensi, seperti lingkungan, kondisi fisik, ikatan sosial dan kondisi psikologi dirasakan memenuhi kebutuhannya. Kualitas hidup merupakan konsep yang kompleks, yang terkait dengan kepuasaan individu terhadap seluruh aspek hidupnya mulai dari fisik hingga sosial dan psikologi. Banyak hal dapat mempengaruhi kualitas hidup, termasuk penghasilan, lingugan sosial dan fisik, hubungan antar pribadi dan kesehatan.
Kualitas hidup adalah memberikan kesempatan untuk hidup nyaman, mempertahankan keadaan fisiologis yang harus seimbang dengan keadaan psikologis di dalam kehidupan sehari-hari (Ratmini and Arifin, 2011).
Ditinjau dari berbagai disiplin ilmu, kualitas hidup mempunyai pengertian dan tujuan yang berbeda. Dari segi filsafat, penilaian kualitashidup dilakukan melalui kesadaran manusia terhadap makna dan tujuan hidupnya.Dari sudut pandang ekonomi, kualitas hidup manusia ditentukan oleh sikapkewiraswastaan, sikap menggunakan kesempatan ekonomi yang terbuka bagidirinya. Dari segi psikologi, kualitas hidup tercermin dari tingkat kepuasan hidupnya, dengan semakin meningkatnya golongan umur
27 maka risiko menderita penyakit danstres semakin besar. Hal itu dapat mempengaruhi berkurangnya kualitas hidupseseorang(Berutu, 2015)
2. Ruang Lingkup Kualitas Hidup
Secara umum terdapat 6 domain yang dipakai untuk menguur kualitas hidup berdasarkan kuesioner yang dikembangkan oleh WHO (World Health Organization), bidang tersebut adalah kesehatan fisik, kesehatan psikologik, keleluasaan aktivitas, hubungan sosial dan lingkungnan, sedangkan secara rinci domain–domain yang termasuk kualitas hidup adalah sebagai berikut (Lun, 2011) :
a. Kesehatan fisik (physical helath) : kesehatan umum, nyeri, energi dan vitalitas, aktivitas seksual, tidur dan istirahat.
b. Kesehatan psikologis (psychological health) : cara berpikir, belajar, memori dan konsentrasi.
c. Tingkat aktivitas (level of independence) : obilitas, aktivitas sehari – hari, komunikasi, kemampuan kerja
d. Hubungan sosial (social relationship) : hubunan sosial, dukungan sosial e. Lingkungan (environment) : keamanan, lingkungan rumah dan kepuasan
kerja
f. Kepercayaan rohan atau religus (spirituality/religion beliefs) 3. Pengukuran Kualitas Hidup
Kualitas hidup dapat diukur dengan menggunakan instrumen pengukuran kualitas hidup yang telah teruji dengan baik. Secara umum pengukuran kualitas hidup yang dipakai dibagi dalam dua kelompok besar yaitu pengukurang kualitas hidup secara umum (generic scale) dan
28 pengukuran kualitas hidup secara khusus (specific scale) (Hermann, 1993) dalam (Suryawati, 1999).
a. Pengukuran Kualitas Hidup Umum
Instrumen umum ialah instrumen yang dipakai untuk mengukur kualitas hidup secara umum pada penderita penyakit kronik. Instrumen ini digunakan untuk menilai secara umum mengenai kemampuan fungsional, ketidakmampuan dan kekuatiran yang timbul akibat penyakit yang diderita (Silitonga, 2007). Instrumen umum juga dipakai untuk menilai kemampuan fungsional secara luas, ketidakmampuan dan kekhawatiran yang berhubungan dengan kualitas hidup, ditekankan pada kemampuan untuk mengetahui akibat dari penyakit dan pengobatan (Suryawati, 1999). Salah satu contoh instrumen umum adalah Sickness Impact Profile (SIP) dan Medical Outcome Study 36-item short-form Health Survey (SF-36).
b. Pengukuran Kualitas Hidup Khusus
Instrumen khusus dipakai untuk mengukur sesuatu yang khusus dari penyakit, populasi atau fungsi yang khusus. Pengukuran kualitas hidup secara khusus mempunyai kemampuan kuat untuk mendeteksi perubahan penting dimana pertanyaan difokuskan pada hipotesa sisi kehidupan yang dipengaruhi oleh penyakit (Suryawati, 1999). Salah satu contoh instrumen khusus adalah The Washington Psychosocial Seizure Inverntory (WPSI), Stroke Specific Quality of Life (SSQOL) dan The Epilepsy Surgery Inventory (ESI-55) (Silitonga, 2007).
29 Sampai saat ini, masih belum terdapat instrumen khusus yang digunakan untuk mengukur kualitas hidup khusus pada pasien tuberkulosis sehingga pengukuran kualitas hidup pada pasien tuberkulosis menggunakan instrumen umum yang sifatnya general.
Medical Outcome Short Form – 36(MOS SF-36) adalah instrumen generik yang diterima secara universal dan luas dalam pengukuran kualitas hidup pada berbagai penyakit.
MOS SF-36 dikembangkan oleh DcDowell dan Nowell dari Rand Corporation of SantaMonica pada tahun 1970 dan distandarkan pada tahun 1990, SF-36 terdiri dari dua domain, yaitu kesehatan fisik (Physical Component Summary, PCS) dan kesehatan mental (Mental Component Summary, MCS). Setiap domain terdiri dari empat area.
Setiap area terdiri dari empat subarea. Setiap subarea terdiri dari beberapa pertanyaan, yaitu :
1) Domain kesehatan fisik (PCS)
a) Fungsi fisik (physical function): terdiri dari 10 pertanyaan tentangaktivitas fisik, termasuk mandi dan berpakaian
b) Keterbatasan akibat masalah fisik (role physical): terdiri dari empat pertanyaan tentang pekerjaan dan aktivitas sehari-hari c) Perasaan sakit/nyeri (bodily pain): terdiri dari dua pertanyaan
tentang rasa sakit yang dirasakan
d) Persepsi kesehatan umum (general health): terdiri dari lima pertanyaan tentang kesehatan individu
2) Domain kesehatan mental (MCS)
30 a) Kesejahteraan mental (mental health): terdiri dari lima
pertanyaantentang perasaan seperti sedih dan senang
b) Keterbatasan akibat masalah emosional (role emotinal): terdiri dari tiga pertanyaan tentang masalah pekerjaan yang berdampak padaemosi
c) Fungsi sosial (social function): terdiri dari tiga pertanyaan tentang aktivitas sosial yang berkaitan dengan masalah fisik dan emosi d) Vitalitas/Energi (vitality): terdiri dari empat pertanyaan tentang
vitalitas yang dirasakan.
Skala SF-36 ini kemudian dinilai dengan kemungkinan cakupan 0–
100, dengan skor yang lebih tinggi menandakan kualitas hidup yang lebih baik. Kuesioner SF-36 merupakan salah satu kuesioner generik yang banyak digunakan pada penelitian-penelitian tentang kualitas hidup.
Kuesioner ini telah diterjemahkan dan divalidasi dalam versi bahasa Indonesia dan telah banyak digunakan pada berbagai penelitian di Indonesia
e) Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Kualitas Hidup
Faktor – faktor yang dapat mempengarhi kualitas hidup menurut Pradono, dkk (2009) dalam (Idris, 2015) antara lain :
a) Usia. Menururt Harlock, usia diklasifikasikan berdasarkangolongan usia muda (40-60 tahun) dan lanjut usia (di atas 60 tahun). Usia dewasa madya memilikituntutan mencapai tanggung jawabsosial, membantu anak remajamenjadi orang dewasa yangbertanggungjawab dan mencapaiprestasi dalam berkarir. Jika padamasa tersebut seseorang
31 mengalamikondisi kronis, maka akanmenimbulkan tekanan karenamembatasi produktivitas mereka.Sedangkan dewasa akhir, lebih dapatmenerima kondisi fisiknya yangmenurun karena sakit dibandingkanyang lebih muda dikarenakan bebantanggung jawab yang telah dilewati.
b) Jenis kelamin, laki-laki lebih berisiko untuk memilikikualitas hidup yang rendah jikadibandingkan dengan perempuan.Hal tersebut dikarenakan perempuan lebih matang secaraemosi dan lebih tahan ketikamenghadapi tekanan/permasalahan.
c) Pendidikan, masyarakat dengantingkat pendidikan yang rendahberisiko mempunyaikualitas hidup yang kurangdibandingkan dengan yangberpendidikan tinggi.
d) Pekerjaan, secara umum bisadigolongkan dengan kategoriseseorang yang memiliki pekerjaandan yang tidak memiliki pekerjaan. Seseorangyang bekerja memiliki kualitashidup yang lebih baik daripadaseseorang yang tidak bekerja.
e) Perilaku Berisiko, seperti merokok,kurang aktivitas fisik, minumalkohol atau kurang makan seratdapat menjadi faktor utamaterjadinya penyakit tidak menulardan gangguan emosional. Jangkapanjang dari kondisi ini dapatmenurunkan kualitas hidup.
f) Penyakit Kronis, masyarakat yang memiliki penyakit kronis lebih berisiko untuk memilikikualitas hidup yang rendah daripadamasyarakat yang tidak memiliki penyakit kronis.
32 g) Gangguan Mental, masyarakatdengan gangguan mental ringansekalipun
berisiko lebihbesar untuk memiliki kualitas hidupkurang dibandingkan denganmasyarakat yang tidak memilikigangguan emosional.
h) Status ekonomi (pendapatan),masyarakat dengan status ekonomiyang rendah lebih berisiko memilikikualitas hidup yang rendah jikadibandingkan dengan masyarakatekonomi yang tinggi.
C. Tinjauan Umum Tentang Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Hidup