• Tidak ada hasil yang ditemukan

cacing Sel mast/

3.11. Pengolahan dan Analisa Data

Untuk melihat perbedaan rerata kadar serum IgE total antara kelompok infeksi STH dan kelompok tanpa infeksi STH digunakan uji t independen, untuk melihat perbedaan kejadian gejala atopi (asma, rinitis alergi, dan eksim) antara kelompok infeksi STH dan kelompok tanpa infeksi STH digunakan Chi square. Untuk melihat perbedaan rerata kadar serum IgE total berdasarkan tipe infeksi (infeksi tunggal oleh T. trichiura dan infeksi campuran T. trichiura dan A. lumbricoides) digunakan uji t independen , sedangkan untuk menilai perbedaan rerata kadar serum IgE total berdasarkan intensitas infeksi (ringan, sedang, dan berat) digunakan uji ANOVA. Pengolahan data dilakukan dengan perangkat lunak komputer SPSS versi 17.0 dengan tingkat kemaknaan P < 0.05. Yang menjadi variabel subjek adalah umur, jenis kelamin, status gizi, tipe infeksi (campuran atau tunggal), intensitas/derajat infeksi, gejala penyakit atopi (asma, rinitis alergi,eksim), dan kadar serum IgE total.

BAB 4 HASIL

Penelitian dilaksanakan di dua sekolah dasar di Kecamatan Secanggang Kabupaten Langkat Propinsi Sumatera Utara pada bulan Juli sampai Oktober 2009. Dari 183 anak yang diperiksa tinjanya dengan metode Kato-katz diketahui bahwa 114 (62%) anak menderita infeksi ascariasis dan atau trichiuriasis, tidak ditemukan telur N. americanus dan S. stercoralis pada sampel tinja yang diperiksa. Kemudian secara konsekutif dengan dipilih 42 anak yang terinfeksi dan 42 anak tanpa infeksi (gambar 1)

Gambar 2. Profil penelitian

Karakteristik demografi subjek penelitian terlihat pada tabel 4.1. 183 anak SD

Telur cacing A lumbricoides dan atau T trichiura (+) 114 anak (62%)

Telur cacing A lumbricoides dan atau T trichiura (-) 69 anak (38%)

42 anak

secara konsekutif secara konsekutif 42 anak

Kadar serum Ig E total Kadar serum Ig E total

Tabel 4.1 Karakteristik subjek

Variabel Helminthiasis Nonhelminthiasis

Umur, mean (SD), thn 10.3 (1.54) 10.3 (1.54) Jenis kelamin Laki-laki, n (%) Perempuan, n (%) 16 (38.1) 26 (61.9) 18 (42.9) 24 (57.1) Status nutrisi Normal, n (%) Malnutrisi ringan-sedang, n (%) Malnutrisi berat, n (%) 22 (52.4) 19 (45.2) 1 (2.4) 32 (76.2) 9 (21.4) 1 (2.4)

Pada penelitian ini didapati bahwa 45.2% anak yang terinfeksi STH mengalami malnutrisi ringan-sedang atau lebih dua kali lipat dibanding kelompok anak tanpa infeksi STH.

Gambar 3. Distribusi tipe infeksi

Gambar 4. Distribusi intensitas infeksi

Pada penelitian ini didapati bahwa 57.1% kasus infeksi STH merupakan infeksi campuran A. lumbricoides dan T. trichiura.

57.1 % 42.9 % A.lumbricoides + T. trichiura T. trichiura 2.4% 47.6% 50% Ringan Sedang Berat

Tabel 4.2 Distribusi gejala penyakit atopi dan kadar serum IgE total

Variabel helminthiasis nonhelminthiasis P

Asma, n 27 18 0.049

Rinitis alergi, n 36 35 0.763

Dermatitis atopi/eksim, n 21 12 0.044

IgE serum total * 1131.3 (891.17) 744.8 (692.06) 0.029

* Dinyatakan dalam Mean (SD), IU/ml

Pada penelitian ini didapati perbedaan bermakna antara rerata kadar serum IgE total antara kelompok terinfeksi dan tidak terinfeksi (nilai P= 0.029).

Tabel 4.3. Distribusi kadar serum IgE total berdasarkan tipe dan Intensitas infeksi STH

Variabel

Rerata kadar serum IgE total

P

*

Tipe infeksi 0.380

T. trichiura 967.1 (994.29)

A. lumbricoides dan T. trichiura 1222.5 (834.17) Intensitas infeksi Ringan Sedang Berat 1039.9 (1022.57) 1003.4 (772.50) 2500.0 (-) 0.280

*

Dinyatakan dalam Mean (SD), IU/ml

Tabel 4.3 menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna rerata kadar serum IgE total antara anak yang terinfeksi dengan satu atau lebih dari satu spesies STH (P= 0.380), dan tidak terdapat perbedaan bermakna rerata kadar serum IgE total berdasarkan intensitas infeksi STH (P= 0.280).

BAB 5 PEMBAHASAN

Studi ini membandingkan kadar IgE total pada 42 anak yang terinfeksi STH dengan kadar IgE total 42 anak anak yang tidak terinfeksi STH, juga dilakukan penilaian terhadap gejala atopi atau penyakit alergi (eksim, rinitis alergi, dan asma) yang dikaitkan dengan adanya infeksi STH.

Untuk kadar serum IgE total yang dibandingkan antara anak yang terinfeksi STH dengan yang tidak terinfeksi, pada studi kami dijumpai kadar rerata IgE pada anak yang terinfeksi 1131.26 IU/ml (nilai normal untuk usia kurang dari 15 tahun adalah <200 IU/ml) lebih tinggi dibandingkan daripada kadar IgE rerata pada anak yang tidak terinfeksi yaitu 744.76 IU/ml, kemudian analisis dengan independent t test menunjukkan adanya perbedaan bermakna (P=0.029) rerata kadar IgE total antara anak yang terinfeksi STH dengan yang tidak terinfeksi di SD Negeri di Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Propinsi Sumatera Utara.

Anak-anak yang tinggal di daerah endemis sering memiliki kadar IgE total >10 000 IU/ml. Produksi IgE poliklonal dalam jumlah besar pada helminthiasis dapat mengubah reaksi hipersensitifitas tipe segera melalui inhibisi aktifitas sel mast dengan penuhnya reseptor FcεRI di permukaan sel mast dan basofil yang berikatan dengan IgE.35 Sebuah studi terhadap anak mendapatkan kadar IgE total 40-5000 IU/ml pada 20 anak dengan infeksi ringan A.lumbricoides dan 141-5000 IU/ml pada 20 anak dengan infeksi

berat A.lumbricoides, sedangkan pada anak tanpa infeksi A.lumbricoides didapatkan rentang kadar IgE total 60-975 IU/ml. Studi tersebut juga menyimpulkan bahwa infeksi kronis STH berhubungan dengan respons sitokin yang mengindikasikan perubahan respons Th2 sehingga menghambat respons imun terhadap vaksin dan menekan proses penyakit inflamasi.36 Studi yang mempelajari hubungan antara infeksi A.lumbricoides dengan asma dan atopi pada anak pedesaan di Cina dari keluarga dengan riwayat asma mendapatkan kadar IgE pada populasi studi 2.0 sampai 10137.5 IU/ml dan terdapat hubungan antara hasil pemeriksaan tinja yang positif untuk A.lumbricoides dengan kadar IgE total.

Antigen cacing merupakan inducer produksi IgE yang poten dan mampu menstimulasi respons IgE pada hampir semua individu.

37

38-40

IgE memberikan perlindungan terhadap parasit dengan cara melepaskan mediator yang akan menarik eosinofil,41 tapi di negara maju IgE dikaitkan dengan penyakit alergi seperti asma dan hay fever.9 Meskipun kadar IgE meningkat sejalan dengan paparan terus menerus terhadap parasit cacing, namun peran IgE dalam respons imun protektif anti-helminth tetap kontroversial.38 Manusia yang tinggal di daerah endemis infeksi cacing cenderung memiliki kadar IgE poliklonal yang sangat tinggi akibat infeksi kronis cacing. Diduga bahwa kadar tinggi IgE poliklonal merupakan mekanisme pertahanan cacing terhadap efek IgE anti-parasit/IgE spesifik. IgE non-spesifik mungkin memenuhi reseptor FcεRI di basofil dan sel mast, dan mencegah antigen memicu degranulasi sel mast.39

Parasit cacing termasuk geohelminth dapat memicu respons alergi yang hebat pada manusia. Terdapat kesamaan antara inflamasi alergi yang disebabkan respons sistem imun terhadap alergen lingkungan dan respons terhadap antigen parasit, keduanya dikaitkan dengan kadar IgE yang tinggi, eosinofilia jaringan dan mastositosis, hipersekresi mukus, dan sel T yang lebih sering mensekresi sitokin tipe 2 (seperti IL-4, IL-5, dan IL-13).42

Infeksi STH mungkin mempengaruhi respons terhadap sensitisasi alergi atau respons dari efektor alergi. Temuan dari studi terbaru telah memperkuat temuan sebelumnya karena sensitisasi alergi ditentukan berdasarkan peningkatan kadar IgE poliklonal atau IgE spesifik pada populasi di daerah endemis infeksi STH.

1

Ascariasis bisa meningkatkan risiko asma baik sebagai akibat langsung dari inflamasi saluran nafas (migrasi larva) maupun meningkatkan atopi dan respons inflamasi Th2 di saluran nafas.43

Studi kami menunjukkan bahwa dari 42 anak yang terinfeksi STH sebanyak 27 anak mempunyai gejala asma sedangkan dari 42 anak yang tidak terinfeksi STH terdapat 18 anak pernah mengalami gejala asma, uji statistik dengan Chi square test menunjukkan adanya hubungan antara infeksi STH dengan gejala asma (P = 0.049). Hal ini sesuai dengan studi di Costa Rica tentang hubungan antara sensitisasi terhadap A.lumbricoides dengan asma yang menunjukkan adanya hubungan antara sensitisasi terhadap A.lumbricoides dengan hiperresponsivitas saluran nafas dan rawat inap akibat asma (OR = 3.08, 95% CI = 1.23-7.68, P = 0.02).

tentang hubungan antara infeksi A.lumbricoides dan asma serta atopi di daerah rural China mendapatkan adanya hubungan antara infeksi A.lumbricoides dengan peningkatan risiko asma (OR = 1.85, 95% CI = 1.37-2.49, P < 0.001).44 Sebuah studi pada 1982 anak di Selatan Brazil mendapatkan data yang menunjukkan bahwa infeksi cacing (A. lumbricoides 19.1%) secara simultan dapat memicu timbulnya gejala saluran nafas dan mengurangi berkembangnya penyakit atopi.45 Semua parasit STH dengan fase pulmonal dari migrasi larva (seperti A.lumbricoides, cacing tambang, dan Strongiloides stercoralis) dapat menyebabkan sindroma mirip asma (Loeffler’s syndrome), yang ditandai adanya sesak nafas, batuk, dan eosinofilia.35 Sebuah studi tentang kadar IgE total pada alergi saluran nafas yang dilakukan pada pasien dengan risiko tinggi infeksi cacing usus menyimpulkan bahwa pada pasien dengan alergi saluran nafas dan kadar IgE total serum yang meningkat serta tinggal di daerah dengan risiko tinggi infeksi cacing usus, pemeriksaan IgE anti-ascaris lebih bermanfaat dan lebih informatif dibanding pemeriksaan parasitologi tinja.46

Pada studi ini gejala rinitis alergi dijumpai pada 36 anak dari 42 yang terinfeksi STH dan 35 anak dari 42 anak yang tidak terinfeksi, uji statistic dengan chi square test menunjukkan tidak ada hubungan antara infeksi STH dengan gejala rinitis alergi (P = 0.763). Sebuah studi besar berbasis kuesioner pada populasi pediatri di daerah pedesaan Equador menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara gejala rinokonjungtivitis dan infeksi A. lumbricoides.

bahwa anak dengan infestasi cacing kremi (E.vermicularis) sebelum atau saat kelas 1 sekolah dasar memiliki risiko yang lebih rendah untuk didiagnosis rinitis selama periode sekolah dibanding anak tanpa infeksi cacing kremi.Studi yang berdasar kuesioner untuk mencari gejala rinitis pada anak usia sekolah seperti pada studi kami dan studi yang dilakukan Huang dkk tersebut bisa menyebabkan kesalahan dalam klasifikasi gejala rinitis, sehingga kedepannya dibutuhkan perangkat epidemiologi yang baru untuk identifikasi yang lebih akurat.

Gejala eksim/dermatitis atopi pada studi ini dijumpai pada 21 anak dari 42 anak yang terinfeksi STH dan 12 anak dari 42 anak yang tidak terinfeksi, uji statistik dengan chi square test menunjukkan ada hubungan gejala eksim/dermatitis atopi dengan infeksi STH (P = 0.044).

48

Pada tahun 2005 studi pada 4169 anak Jerman Timur menunjukkan hubungan terbalik antara infeksi A.lumbricoides dan eksim yang didiagnosis berdasarkan kuesioner (adjusted OR = 0.45, 95% CI = 0.33-0.60).49 Studi kasus kontrol pada 732 anak Etiopia usia 1-5 tahun menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara eksim dan infeksi parasit terutama Trichuris (adjusted OR Trichuris = 1.61, 95% CI = 1.14-2.26).50 Studi pada anak sekolah dasar di Kuba menunjukkan infeksi baru A.lumbricoides memberikan proteksi terhadap dermatitis atopi, infeksi E. vermicularis dan cacing tambang di masa yang lalu merupakan faktor risiko bagi rinokonjungtivitis alergi dan/atau dermatitis atopi.51

Terdapatnya perbedaan hasil yang ditemukan antar beberapa studi menunjukkan kemungkinan beberapa faktor terlibat, seperti intensitas infeksi, frekuensi infeksi, kapan (waktu) terjadinya infeksi, spesies yang terlibat, dan faktor lain yang mungkin mempengaruhi derajat supresi atau stimulasi yang bersifat individual. Mungkin saja bahwa infeksi yang sesekali, jangka pendek, dan ringan mempunyai efek stimulasi, sementara infeksi yang sering dan berat mensupresi respons alergen.22,52

BAB 6

Dokumen terkait