BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN
3.9 Pengolahan Analisis Data
1. Pengolahan data dilakukan secara komputerisasi dengan program SPSS.
2. Uji Chi-square untuk melihat apakah ada perbedaan yang signifikan pola sidik bibir dominan pada mahasiswa/i etnis Batak Toba.
3. Uji Korelasi Pearson untuk melihat hubungan panjang dan lebar bibir terhadap jumlah sidik bibir.
BAB 4
HASIL PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-analitik yang mendeskripsikan pola dan alur sidik bibir pada etnis Batak Toba serta menganalisa pola dan alur sidik bibir yang dominan serta hubungan panjang dan lebar bibir terhadap jumlah sidik bibir. Penelitian ini menggunakan design cross sectional yang mengumpulkan data-data sidik bibir mahasiswa/i Fakultas Kedokteran Gigi USU pada suatu waktu.
Subjek penelitian ini merupakan mahasiswa/i ernis Batak Toba dua generasi dengan rentang umur 18-25 tahun. Total subjek penelitian yang digunakan sebanyak 62 orang yang terdiri dari 31 mahasiswa dan 31 mahasiswi yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, yaitu subjek penelitian harus memiliki hubungan oklusi rahang klas I Angle, tidak memiliki hipersensitivitas terhadap lipstik, tidak memiliki kelainan berupa labioskisis dan labiopalatoskisis, tidak sedang terdapat lesi pada bibir, tidak pernah melakukan tindakan bedah bibir, tidak terdapat deformitas pada bibir pasca kecelakaan, tidak pernah melakukan sulam bibir, tidak memiliki kebiasaan buruk berupa lip biting dan lip sucking, tidak sedang memakai pesawat orthodonti, dan tidak merokok.
Posisi bibir waktu pengambilan sidik bibir adalah posisi mulut tertutup karena pada posisi ini tidak terjadi kontraksi otot yang akan mengakibatkan alur-alur horizontal tidak terlihat dan hanya alur-alur vertikal yang terlihat. Posisi mulut tertutup juga digunakan saat pengukuran panjang dan lebar bibir. Pola sidik bibir yang diambil pada penelitian ini diamati dan dihitung sesuai metode yang dilakukan oleh Tsuchihashi (1974) dengan membagi sidik bibir kedalam empat kuadran, yaitu kuadran kanan atas sebagai kuadran 1, kuadran kiri atas sebagai kuadran 2, kuadran kiri bawah sebagai kuadran 3, kuadran kanan bawah sebagai kuadran 4, dan dihitung serta dianalisis satu per satu. Metode ini dipilih karena akan menghasilkan pengamatan yang lebih objektif. Pengukuran panjang panjang bibir diambil dari titik
Ch kiri sampai Ch kanan, sedangkan lebar bibir diabil dari titik P atas sampai P bawah.
Gambar 12. Kuadran Bibir (doc)
Klasifikasi sidik bibir yang digunakan adalah klasifikasi Suzuki-Tsuchihashi.
Pada klasifikasi ini sidik bibir dikategorikan menjadi enam tipe pola alur sidik bibir, yaitu Tipe I dengan alur yang jelas secara vertikal pada seluruh bagian bibir, Tipe I‟
dengan alur vertikal yang tidak pada seluruh bagian bibir, Tipe II dengan alur yang bercabang, Tipe III dengan alur yang saling menyilang, Tipe IV dengan alur yang membentuk kotak- kotak, dan Tipe V dengan alur yang tidak termasuk dalam tipe I-IV.
Gambar 13. Pola Sidik Bibir Tipe I (doc)
Kuadran 1 Kuadran 2
Kuadran 3 Kuadran 4
Gambar 14. Pola Sidik Bibir Tipe I‟ (doc)
Gambar 15. Pola Sidik Bibir Tipe II (doc)
Gambar 16. Pola Sidik Bibir Tipe III (doc)
Gambar 17. Pola Sidik Bibir Tipe IV (doc)
Pada penelitian ini akan dicatat pola sidik bibir dominan menurut kuadran, yaitu pola sidik bibir yang paling banyak ditemukan pada masing-masing kuadran, dan pola sidik bibir dominan seluruh kuadran, yaitu pola sidik bibir yang paling banyak terdapat pada bibir. Penelitian ini juga mengukur panjang dan lebar bibir serta melihat hubungan panjang dan lebar bibir terhadap jumlah sidik bibir.
4.1 Karakteristik Umum Subjek Penelitian
Berdasarkan kuesioner yang telah diisi, diperoleh data frekuensi distribusi karakteristik umum pada subjek penelitian berdasarkan jenis kelamin menunjukkan jumlah subjek yang diambil adalah mahasiswa laki-laki sebanyak 31 orang dan mahasiswi perempuan sebanyak 31 orang. Data subjek berdasarkan karakteristik jenis kelamin tersebut merata karena penelitian ini dilakukan untuk melihat distribusi dan perbedaan tipe sidik bibir berdasarkan jenis kelamin.
4.2 Data Distribusi Pola Sidik Bibir Dominan Menurut Kuadran Pada Mahasiswa/i Etnis Batak Toba Berdasarkan Klasifikasi Suzuki-Tsuchihashi.
4.2.1 Frekuensi Distribusi Pola Sidik Bibir Dominan Mahasiswa/i Etnis Batak Toba Pada Kuadran I
Berdasarkan tabel dibawah (Tabel 1), diketahui bahwa pola sidik bibir dominan mahasiswa laki-laki etnis Batak Toba yang terbanyak pada kuadran I adalah
Tipe I sebanyak 12 orang (19,4%), diikuti oleh Tipe I‟ sebanyak 11 orang (17,7%), selanjutnya Tipe II sebanyak 5 orang (8,0%), dan pola sidik bibir yang paling sedikit adalah Tipe III sebanyak 3 orang (4,8%), sedangkan pola sidik bibir Tipe IV dan Tipe V tidak ditemukan secara dominan pada mahasiswa laki-laki. Diketahui juga bahwa pola sidik bibir dominan mahasiswi perempuan etnis Batak Toba yang terbanyak pada kuadran I adalah Tipe I sebanyak 16 orang (25,8%), diikuti oleh Tipe I‟
sebanyak 8 orang (12,9%), selanjutnya Tipe II sebanyak 6 orang (9,7%), dan pola sidik bibir yang paling sedikit adalah Tipe IV sebanyak 1 orang (1,6%), sedangkan pola sidik bibir Tipe III dan Tipe V tidak ditemukan secara dominan pada mahasiswi perempuan.
Berdasarkan hasil uji chi-square, diperoleh nilai p=0,302>0,05. Nilai ini menunjukkan bahwa pola sidik bibir dominan antara mahasiswa laki-laki dan mahasiswi perempuan etnis Batak Toba pada kuadran I tidak terdapat perbedaan yang signifikan.
Tabel 1. Frekuensi Distribusi Pola Sidik Bibir Dominan Mahasiswa/i Etnis Batak Toba Pada Kuadran I
Kuadran I
Sig.
Klasifikasi Laki-laki Perempuan
n % n %
Gambar 18. Pola Sidik Bibir Dominan Mahasiswa/i Etnis Batak Toba Pada Kuadran I
4.2.2 Frekuensi Distribusi Pola Sidik Bibir Dominan Mahasiswa/i Etnis Batak Toba Pada Kuadran II
Berdasarkan tabel dibawah (Tabel 2), diketahui bahwa pola sidik bibir dominan mahasiswa laki-laki etnis Batak Toba yang terbanyak pada kuadran II adalah Tipe I sebanyak 16 orang (25,8%), diikuti oleh Tipe I‟ sebanyak 7 orang (11,3%), selanjutnya Tipe II sebanyak 5 orang (8,1%), kemudian Tipe IV sebanyak 2 orang (3,2%), dan pola sidik bibir yang paling sedikit adalah Tipe III sebanyak 1 orang (1,6%), sedangkan pola sidik bibir Tipe V tidak ditemukan secara dominan pada mahasiswa laki-laki. Diketahui juga bahwa pola sidik bibir dominan mahasiswi perempuan etnis Batak Toba yang terbanyak di kuadran II adalah Tipe I sebanyak 19 orang (30,7%), diikuti oleh Tipe II sebanyak 7 orang (11,3%), selanjutnya Tipe I‟
sebanyak 3 orang (4,8%), dan pola sidik bibir yang paling sedikit adalah Tipe III dan Tipe IV masing-masing sebanyak 1 orang (1,6%), sedangkan pola sidik bibir Tipe V tidak ditemukan secara dominan pada mahasiswi perempuan.
12
Pola Sidik Bibir Dominan Kuadran I
Laki-laki Perempuan
Berdasarkan hasil uji chi-square, diperoleh nilai p=0,654>0,05. Nilai ini menunjukkan bahwa pola sidik bibir dominan antara mahasiswa laki-laki dan mahasiswi perempuan etnis Batak Toba pada kuadran II tidak terdapat perbedaan yang signifikan.
Tabel 2. Frekuensi Distribusi Pola Sidik Bibir Dominan Mahasiswa/i Etnis Batak Toba Pada Kuadran II
Kuadran II
Sig.
Klasifikasi Laki-laki Perempuan
n % n %
Gambar 19. Pola Sidik Bibir Dominan Mahasiswa/i Etnis Batak Toba Pada Kuadran I
16
Pola Sidik Bibir Dominan Kuadran II
Laki-laki Perempuan
4.2.3 Frekuensi Distribusi Pola Sidik Bibir Dominan Mahasiswa/i Etnis Batak Toba Pada Kuadran III
Berdasarkan tabel dibawah (Tabel 3), diketahui bahwa pola sidik bibir dominan mahasiswa laki-laki etnis Batak Toba yang terbanyak pada kuadran III adalah Tipe I sebanyak 18 orang (29,0%), diikiti oleh Tipe II sebanyak 6 orang (9,7%), selanjutnya Tipe I‟ sebanyak 4 orang (6,5%), dan pola sidik bibir yang paling sedikit adalah Tipe III sebanyak 3 orang (4,8%), sedangkan pola sidik bibir Tipe IV dan Tipe V tidak ditemukan secara dominan pada mahasiswa laki-laki. Diketahui juga bahwa pola sidik bibir dominan mahasiswi perempuan etnis Batak Toba yang terbanyak pada kuadran III adalah Tipe I sebanyak 22 orang (35,5%), diikuti oleh Tipe II sebanyak 8 orang (12,9%), dan pola sidik bibir yang paling sedikit adalah Tipe III sebanyak 1 orang (1,6%), sedangkan pola sidik bibir Tipe I‟, Tipe IV, dan Tipe V tidak ditemukan secara dominan pada mahasiswi perempuan.
Berdasarkan hasil uji chi-square, diperoleh nilai p=0,141>0,05. Nilai ini menunjukkan bahwa pola sidik bibir dominan antara mahasiswa laki-laki dan mahasiswi perempuan etnis Batak Toba pada kuadran III tidak terdapat perbedaan yang signifikan.
Tabel 3. Frekuensi Distribusi Pola Sidik Bibir Dominan Mahasiswa/i Etnis Batak Toba Pada Kuadran III
Kuadran III
Sig.
Klasifikasi Laki-laki Perempuan
n % n %
Gambar 20. Pola Sidik Bibir Dominan Mahasiswa/i Etnis Batak Toba Pada Kuadran III
4.2.4 Frekuensi Distribusi Pola Sidik Bibir Dominan Mahasiswa/i Etnis Batak Toba Pada Kuadran IV
Berdasarkan tabel dibawah (Tabel 4), diketahui bahwa pola sidik bibir dominan mahasiswa laki-laki etnis Batak Toba yang terbanyak pada kuadran IV adalah Tipe I sebanyak 15 orang (24,2%), diikuti oleh Tipe II sebanyak 6 orang (9,7%), selanjutnya Tipe I‟ sebanyak 5 orang (8,1%), kemudian Tipe III sebanyak 3 orang (4,8%), dan pola sidik bibir yang paling sedikit adalah Tipe IV sebanyak 2 orang (3,2%), sedangkan pola sidik bibir Tipe V tidak ditemukan secara dominan pada mahasiswa laki-laki. Diketahui juga bahwa pola sidik bibir dominan mahasiswi perempuan etnis Batak Toba yang terbanyak pada kuadran IV adalah Tipe I sebanyak 16 orang (25,8%), diikuti oleh Tipe II sebanyak 9 orang (14,5%), dan pola sidik bibir yang paling sedikit adalah Tipe I‟ dan Tipe III masing-masing sebanyak 3 orang (4,8%), sedangkan pola sidik bibir Tipe I‟, Tipe IV, dan Tipe IV dan Tipe V tidak ditemukan secara dominan pada mahasiswi perempuan.
18
Pola Sidik Bibir Dominan Kuadran III
Laki-laki Perempuan
Berdasarkan hasil uji chi-square, diperoleh nilai p=0,659 >0,05. Nilai ini menunjukkan bahwa pola sidik bibir dominan antara mahasiswa laki-laki dan mahasiswi perempuan etnis Batak Toba pada kuadran IV tidak terdapat perbedaan yang signifikan
Tabel 4. Frekuensi Distribusi Pola Sidik Bibir Dominan Mahasiswa/i Etnis Batak Toba Pada Kuadran IV
Kuadran IV
Sig.
Klasifikasi Laki-laki Perempuan
n % n %
Gambar 21. Pola Sidik Bibir Dominan Mahasiswa/i Etnis Batak Toba Pada Kuadran IV
Pola Sidik Bibir Dominan Kuadran IV
Laki-laki Perempuan
4.3 Data Pola Sidik Bibir Dominan Seluruh Kuadran Pada Mahasiswa/i Etnis Batak Toba Berdasarkan Klasifikasi Suzuki-Tsuchihashi
4.3.1 Frekuensi Distribusi Pola Sidik Bibir Dominan Seluruh Kuadran Pada Mahasiswa/i Etnis Batak Toba Berdasarkan Klasifikasi Suzuki-Tsuchihashi
Berdasarkan tabel dibawah (Tabel 5), diketahui bahwa pola sidik bibir dominan seluruh kuadran pada mahasiswa/i etnis Batak Toba berdasarkan klasifikasi Suzuki-Tsuchihashi adalah Tipe I dengan jumlah laki-laki sebanyak 17 orang (27,4%), dan perempuan 22 orang (35,5%).
Pola sidik bibir dominan seluruh kuadran Tipe I‟ pada mahasiswa laki-laki etnis Batak Toba sebanyak 5 orang (8,1%), dan pada mahasiswi perempuan etnis Batak Toba sebanyak 2 orang (3,2%).
Pola sidik bibir dominan seluruh kuadran Tipe II pada mahasiswa laki-laki etnis Batak Toba sebanyak 7 orang (11,3%), dan pada mahasiswi perempuan etnis Batak Toba sebanyak 7 orang (11,3%).
Pola sidik bibir dominan seluruh kuadran Tipe III pada mahasiswa laki-laki etnis Batak Toba sebanyak 2 orang (3,2%), dan pada mahasiswi perempuan etnis Batak Toba tidak terdapat pola sidik bibir dominan Tipe III.
Pola sidik bibir dominan seluruh kuadran Tipe IV dan Tipe V tidak ditemukan secara dominan pada mahasiswa/i etnis Batak Toba.
Tabel 5. Frekuensi Distribusi Pola Sidik Bibir Dominan Seluruh Kuadran Pada Mahasiswa/i Etnis Batak Toba Berdasarkan Klasifikasi Suzuki-Tsuchihashi
Laki-laki Perempuan Jumlah
n % n % n %
Gambar 22. Pola Sidik Bibir Dominan Seluruh Kuadran Pada Mahasiswa/i Etnis Batak Toba Berdasarkan Klasifikasi Suzuki-Tsuchihashi
4.3.2 Perbedaan Pola Sidik Bibir Dominan Menurut Tipe Pada Mahasiswa/i Etnis Batak Toba Berdasarkan Klasifikasi Suzuki-Tsuchihashi
Berdasarkan tabel dibawah (Tabel 6), diketahui bahwa pola sidik bibir dominan menurut tipe pada mahasiswa/i etnis Batak Toba berdasarkan klasifikasi Suzuki-Tsuchihashi Tipe I memiliki nilai p=0,423>0,05. Nilai signifikasi ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara mahasiswa laki-laki dan mahasiswi perempuan yang memiliki pola sidik bibir Tipe I.
Pola sidik bibir dominan Tipe I‟ pada mahasiswa/i etnis Batak Toba memiliki nilai p=0,257>0,05. Nilai signifikasi ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara mahasiswa laki-laki dan mahasiswi perempuan yang memiliki pola sidik bibir Tipe I‟.
Pola sidik bibir dominan Tipe II pada mahasiswa/i etnis Batak Toba memiliki nilai signifikasi p=1.Nilai signifikasi ini menunjukkan bahwa sama sekali tidak terdapat perbedaan antara mahasiswa laki-laki dan mahasiswi perempuan yang memiliki pola sidik bibir Tipe II.
17
Pola Sidik Bibir Dominan Seluruh Kuadran
Tipe I Tipe I' Tipe II Tipe III Tipe IV Tipe V
Pola sidik bibir dominan Tipe III, Tipe IV, dan Tipe V pada mahasiswa/i etnis Batak Toba tidak dapat diuji secara statistik.
Tabel 6. Perbedaan Pola Sidik Bibir Dominan Menurut Tipe Pada Mahasiswa/i Etnis Batak Toba Berdasarkan Klasifikasi Suzuki-Tsuchihashi
Laki-laki (n) Perempuan (n) Sig.
4.4. Data Rerata Panjang dan Lebar Bibir Pada Mahasiswa/i Etnis Batak Toba
Berdasarkan tabel dibawah (Tabel 7), diketahui bahwa rerata panjang bibir dan lebar bibir pada mahasiswa/i etnis Batak Toba lebih besar pada laki-laki dibandingkan pada perempuan. Rerata panjang bibir pada laki-laki adalah 48,7 dengan standar deviasi 4,4, sedangkan rerata panjang bibir pada perempuan adalah 44,5, dengan standar deviasi 3,3. Rerata lebar bibir pada laki-laki adalah 20,8 dengan standar deviasi 3,7, sedangkan rerata lebar bibir pada perempuan adalah 19,5 dengan standar deviasi 2,2.
4.5 Hubungan antara Panjang Bibir dan Lebar Bibir Terhadap Jumlah Sidik Bibir
4.5.1 Hubungan Panjang Bibir dan Jumlah Sidik Bibir Pada Mahasiswa/i Etnis Batak Toba
Berdasarkan gambar dibawah (Gambar 17), diketahui bahwa semakin besar ukuran panjang bibir, maka terdapat kecenderungan jumlah sidik bibir meningkat.
Dapat disimpulkan bahwa panjang bibir memiliki hubungan yang positif dengan jumlah sidik bibir. Dengan menggunakan uji korelasi Pearson diketahui bahwa korelasi yang terjadi antara panjang bibir dan jumlah sidik bibir termasuk ke dalam kategori keeratan sedang, dengan r = 0,381.
Gambar 23. Sebaran data antara panjang bibir dan jumlah sidik bibir
r = 0,381
4.5.2 Hubungan Lebar Bibir dan Jumlah Sidik Bibir Pada Mahasiswa/i Etnis Batak Toba
Berdasarkan gambar dibawah (Gambar 18), diketahui bahwa semakin besar ukuran lebar bibir, maka terdapat kecenderungan jumlah sidik bibir meningkat. Dapat disimpulkan bahwa lebar bibir memiliki hubungan yang positif dengan jumlah sidik bibir. Dengan menggunakan uji korelasi Pearson diketahui bahwa korelasi yang terjadi antara panjang bibir dan jumlah sidik bibir termasuk ke dalam kategori keeratan lemah dengan r = 0,165.
Gambar 24. Sebaran data antara lebar bibir dan jumlah sidik bibir
r = 0,165
BAB 5 PEMBAHASAN
Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan untuk membantu penyidik dalam menentukan identitas seseorang. Proses identifikasi manusia merupakan suatu proses paling menantang dan sulit untuk dilakukan.1 Ilmu kedokteran gigi forensik merupakan cabang dari ilmu kedokteran forensik mengenai cara penanganan, pemeriksaan, dan evaluasi bukti-bukti melalui gigi dan rongga mulut serta pemaparan hasil-hasil untuk kepentingan peradilan. Pemeriksaan utama dari kegiatan kedokteran gigi forensik adalah pemeriksaan dan evaluasi terhadap gigi, rahang, serta jaringan rongga mulut, pemeriksaan terhadap jejas untuk mengidentifikasi dugaan terhadap pelaku, pemeriksaan terhadap penemuan-penemuan yang terdapat pada rongga mulut atau bagian tubuh dengan maksud untuk identifikasi selanjutnya.2
Cheiloscopy berasal dari kata cheilos yang berarti „bibir‟ dan e skopein yang berarti „melihat‟ sehingga didefinisikan sebagai teknik identifikasi forensik dengan melihat pola dan alur kerutan pada permukaan mukosa bibir.4 Bibir merupakan gabungan dari dua otot orbicularis oris pada sekeliling rongga mulut yang dilapisi oleh kulit pada bagian luar dan mukosa pada bagian dalamnya. Bagian luar dan dalam tersebut berbatasan pada zona transisi atau vermillion zone. Menurut The American Join Committee of Cancer bibir merupakan bagian dari rongga mulut yang dimulai dari vermillion border, yaitu perbatasan antara kulit dan vermillion zone hingga seluruh vermillion zone. Vermillion zone memiliki suatu bentuk pola dan alur yang khas berupa garis atau fisur yang disebut dengan sidik bibir.7
Sejak pembentukannya, pola dan alur dari sidik bibir tidak akan berubah.
Sidik bibir sudah ada sejak seseorang dilahirkan dan sampai saat ini belum diketahui dengan pasti kapan pembentukannya. Namun, ada yang berpendapat bahwa sidik bibir terbentuk pada minggu keenam kehidupan intrauterine dan sudah dapat diidentifikasi saat bayi berusia empat bulan. Sejak saat itu, polanya tidak berubah
bahkan setelah terjadi spasme otot saat kematian.4,5 Pola dan alur sidik bibir tersebut dapat diklasifikasikan.6
5.1 Pola Sidik Bibir Dominan Pada Mahasiswa/i Etnis Batak Toba Menurut Kuadran Berdasarkan Klasifikasi Suzuki-Tsuchihashi
Hasil penelitian mengenai pola sidik bibir dominan menurut kuadran berdasarkan klasifikasi Suzuki-Tsuchihashi memaparkan bahwa pola sidik bibir dominan mahasiswa laki-laki etnis Batak Toba yang terbanyak pada kuadran I adalah Tipe I sebanyak 12 orang (19,4%), dan pola sidik bibir dominan mahasiswi perempuan etnis Batak Toba yang tebanyak pada kuadran I adalah Tipe I sebanyak 16 orang (25,8%). Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Anila dkk.
(Karnataka, 2013) yang memaparkan bahwa pola sidik bibir dominan populasi Manipur pada kuadran I adalah Tipe I.32 Hasil penelitian yang dilakukan oleh Bharathi dan Thenmozhi (Tamil, 2015) memaparkan bahwa pola sidik bibir dominan populasi Tamil pada kuadran I adalah Tipe I.4 Joey (Medan, 2017) memaparkan bahwa pola sidik bibir dominan etnis Tionghoa Malaysia pada kuadran I adalah Tipe II.8 Ashish dkk. (Moradabad, 2016) memaparkan bahwa pola sidik bibir dominan populasi Moradabad pada kuadran I adalah Tipe II.33 Pola sidik bibir dominan yang sama dan yang berbeda pada kuadran I ini dapat dipengaruhi oleh etnis. Setiap etnis memiliki pola sidik bibir dominan yang menjadi karakteristik kuadran etnis tersebut.
Pola sidik bibir dominan mahasiswa laki-laki etnis Batak Toba yang terbanyak pada kuadran II adalah Tipe I sebanyak 16 orang (25,8%), dan pola sidik bibir dominan mahasiswi perempuan etnis Batak Toba yang tebanyak pada kuadran II adalah Tipe I sebanyak 19 orang (30,7%). Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Anila dkk. (Karnataka, 2013) yang memaparkan bahwa pola sidik bibir dominan populasi Manipur pada kuadran II adalah Tipe I.32 Hasil penelitian yang dilakukan oleh Bharathi dan Thenmozhi (Tamil, 2015) memaparkan bahwa pola sidik bibir dominan populasi Tamil pada kuadran II adalah Tipe II.4 Joey (Medan, 2017) memaparkan bahwa pola sidik bibir dominan etnis Tionghoa Malaysia pada kuadran II adalah Tipe II.8 Ashish dkk. (Moradabad, 2016) memaparkan bahwa pola
sidik bibir dominan populasi Moradabad pada kuadran II adalah Tipe III.33 Pola sidik bibir dominan yang sama dan yang berbeda pada kuadran II ini dapat dipengaruhi oleh etnis. Setiap etnis memiliki pola sidik bibir dominan yang menjadi karakteristik kuadran etnis tersebut.
Pola sidik bibir dominan mahasiswa laki-laki etnis Batak Toba yang terbanyak pada kuadran III adalah Tipe I sebanyak 18 orang (29,0%), dan pola sidik bibir dominan mahasiswi perempuan etnis Batak Toba yang tebanyak pada kuadran III adalah Tipe I sebanyak 22 orang (35,5%). Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Anila dkk. (Karnataka, 2013) yang memaparkan bahwa pola sidik bibir dominan populasi Manipur pada kuadran III adalah Tipe I.32 Hasil penelitian yang dilakukan oleh Bharathi dan Thenmozhi (Tamil, 2015) memaparkan bahwa pola sidik bibir dominan populasi Tamil pada kuadran III adalah Tipe II.4 Joey (Medan, 2017) memaparkan bahwa pola sidik bibir dominan etnis Tionghoa Malaysia pada kuadran III adalah Tipe II.8 Ashish dkk. (Moradabad, 2016) memaparkan bahwa pola sidik bibir dominan populasi Moradabad pada kuadran III adalah Tipe III.33 Pola sidik bibir dominan yang sama dan yang berbeda pada kuadran III ini dapat dipengaruhi oleh etnis. Setiap etnis memiliki pola sidik bibir dominan yang menjadi karakteristik kuadran etnis tersebut.
Pola sidik bibir dominan mahasiswa laki-laki etnis Batak Toba yang terbanyak pada kuadran IV adalah Tipe I sebanyak 15 orang (24,2%), dan pola sidik bibir dominan yang paling sedikit adalah Tipe IV, sebanyak 2 orang (3,2%). dan pola sidik bibir dominan mahasiswi perempuan etnis Batak Toba yang tebanyak pada kuadran IV adalah Tipe I, sebanyak 16 orang (25,8%). Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Anila dkk. (Karnataka, 2013) yang memaparkan bahwa pola sidik bibir dominan populasi Manipur pada kuadran IV adalah Tipe I.32 Hasil penelitian yang dilakukan oleh Bharathi dan Thenmozhi (Tamil, 2015) memaparkan bahwa pola sidik bibir dominan populasi Tamil pada kuadran IV adalah Tipe I.4 Joey (Medan, 2017) memaparkan bahwa pola sidik bibir dominan etnis Tionghoa Malaysia pada kuadran IV adalah Tipe II.8 Ashish dkk. (Moradabad, 2016) memaparkan bahwa pola sidik bibir dominan populasi Moradabad pada kuadran IV
adalah Tipe II.33 Pola sidik bibir dominan yang sama dan yang berbeda pada kuadran IV ini dapat dipengaruhi oleh etnis. Setiap etnis memiliki pola sidik bibir dominan yang menjadi karakteristik kuadran etnis tersebut.
Pola sidik bibir dominan yang sama dan yang berbeda pada setiap kuadrannya ini dapat dipengaruhi oleh ras dan etnis. Hal ini didukung oleh beberapa literatur yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh perbedaan ketebalan bibir pada setiap ras. Bibir yang tipis merupakan tipe variasi bibir yang sering dijumpai pada ras Kaukasoid, tipe variasi bibir medium biasanya dijumpai pada ras Mongoloid, dan tipe variasi bibir tebal dan sangat tebal biasanya dijumpai pada ras Negroid.6 Ketebalan bibir akan berpengaruh pada keadaan otot-otot bibir. Keadaan otot-otot bibir yang rileks akan menghasilkan pola sidik bibir yang baik dimana pola horizontal akan terlihat jelas.34 Hasil penelitian yang diperoleh peneliti pada etnis Batak Toba, Anila dkk.
(Karnataka, 2013) pada populasi Manipur, Joey (Medan, 2017) pada etnis Tionghoa Malaysia merupakan ras Mongoloid, hasil penelitian oleh Bharathi dan Thenmozhi
(Karnataka, 2013) pada populasi Manipur, Joey (Medan, 2017) pada etnis Tionghoa Malaysia merupakan ras Mongoloid, hasil penelitian oleh Bharathi dan Thenmozhi