• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA

Dalam dokumen : TENNI OKSOWELA F (Halaman 48-0)

H. PEMBUATAN DAN PENGUJIAN KUESIONER

I. PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA

Analisis data adalah proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan. Pada umumnya, analisis data dilakukan dengan menggunakan metode statistik. Salah satu fungsi pokok statistik adalah menyederhanakan data penelitian yang amat besar jumlahnya menjadi informasi yang lebih sederhana dan mudah dipahami. Data yang diperoleh dalam penelitian ini terlebih dahulu akan disajikan dalam bentuk grafik lingkaran. Selanjutnya, data diolah dengan metode statistik menggunakan analisa tabulasi silang, korelasi Spearman dan analysis of variance (ANOVA).

Analisa tabulasi silang adalah metode analisa yang paling sederhana tetapi memiliki daya menerangkan yang cukup kuat untuk menjelaskan

hubungan antar variabel (Singarimbun dan Effendi, 1995). Dalam analisa tabulasi silang, peneliti menggunakan distribusi persentase pada sel-sel dalam tabel sebagai dasar untuk menyimpulkan hubungan antara variabel-variabel penelitiannya.

Pada penelitian ini, uji korelasi Spearman digunakan untuk mengetahui hubungan karakteristik responden terhadap persepsinya mengenai tanggal kadaluwarsa. Korelasi Spearman digunakan untuk mencari hubungan atau menguji signifikansi hipotesis asosiatif apabila masing-masing variabel yang dihubungkan berbentuk ordinal dan sumber data antar variabel tidak harus sama (Sarwono, 2006). Pada penelitian ini, uji korelasi Spearman dilakukan dengan menggunakan program SPSS versi 12 for windows. Korelasi dapat menghasilkan angka positif atau negatif. Apabila korelasi menghasilkan angka positif maka hubungan kedua variabel bersifat searah seperti misalnya apabila satu variabel besar maka variabel lainnya juga besar. Apabila korelasi menghasilkan angka negatif maka hubungan kedua variabel bersifat tidak searah seperti misalnya apabila satu variabel besar maka variabel lainnya kecil. Menurut Sarwono (2006), angka korelasi berkisar antara 0 hingga 1, dengan ketentuan apabila angka mendekati satu maka hubungan kedua variabel semakin kuat dan apabila angka korelasi mendekati nol maka hubungan kedua variabel semakin lemah. Adapun patokan angka korelasi tersebut adalah sebagai berikut :

a. 0-0.25 : Korelasi lemah c. > 0.5-0.75 : Korelasi kuat b. > 0.25-0.5 : Korelasi cukup d. > 0.75-1 : Korelasi sangat kuat Menurut Sarwono (2006), signifikasi hubungan antara dua variabel dapat dianalisis dengan ketentuan sebagai berikut, yaitu

a. Apabila probabilitas < 0.05 maka hubungan kedua varibel signifikan b. Apabila probabilitas > 0.05 maka hubungan kedua varibel tidak signifikan

Alat uji statistik yang cocok untuk uji kesamaan tergantung pada jumlah kategori dari variabelnya. Menurut Ghozali (2006), untuk variabel yang berkategori dua maka uji statistik yang digunakan adalah uji beda t-test, sedangkan untuk variabel yang berkategori lebih dari dua digunakan analysis of variance (ANOVA). Pada penelitian ini, digunakan uji ANOVA untuk

mengetahui hubungan perbedaan persepsi responden mengenai tanggal kadaluwarsa antar karakteristik responden. Karakteristik responden yang akan di uji dengan ANOVA adalah jenis pekerjaan responden. Pekerjaan responden pada penelitian ini dikategorikan ke dalam lima kategori yaitu pelajar atau mahasiswa, pegawai negeri, pegawai swasta, ibu rumah tangga dan wiraswasta. Menurut Usman dan Akbar (2003), uji ANOVA terdiri dari dua macam yaitu one way anova dan two way anova. Pada penelitian ini digunakan one way anova karena peneliti ingin mengetahui hubungan perbedaan antara dua variabel. Uji ANOVA dilakukan dengan menggunakan program SPSS versi 12 for windows. Hasil uji ANOVA dengan program SPSS akan menghasilkan nilai probabilitas tertentu yang dapat dilihat pada tabel test of between-subject effects. Apabila nilai probabilitas < 0.05 maka dapat dikatakan bahwa kedua variabel signifikan atau terdapat perbedaan diantara kedua variabel dan sebaliknya apabila nilai probabilitas > 0.05 maka dapat dikatakan bahwa kedua variabel tidak signifikan atau tidak terdapat perbedaan diantara kedua variabel (Ghozali, 2006). Untuk mengetahui kategori dari variabel yang memiliki signifikasi perbedaan, dapat diketahui dari nilai probabilitas yang terdapat pada tabel post hoc test hasil uji lanjut dengan Turkey test. Apabila nilai probabilitas < 0.05 maka dapat diketahui bahwa kategori dari variabel tersebut memiliki perbedaan terhadap variabel lainnya dan sebaliknya apabila nilai probabilitas > 0.05 maka dapat diketahui bahwa kategori dari variabel tersebut tidak memiliki perbedaan terhadap variabel lainnya (Ghozali, 2006).

1 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

D. PENGUJIAN KUESIONER

Sebelum kuesioner disebarkan kepada responden sebenarnya, dilakukan pengujian kuesioner terlebih dahulu. Pengujian tersebut meliputi uji coba, uji validitas dan uji reliabilitas kuesioner dengan menggunakan 30 orang respoden untuk masing-masing pengujian yang dilakukan. Responden yang digunakan untuk pengujian kuesioner adalah responden yang memiliki keadaan yang hampir sama dengan responden sebenarnya yaitu konsumen yang menggunakan makanan dalam kemasan, mengetahui mengenai label pada kemasan produk dan mengetahui mengenai tanggal kadaluwarsa yang terdapat pada label kemasan produk. Kuesioner yang digunakan pada penelitian ini adalah kuesioner dengan pertanyaan yang bersifat tertutup dan semi terbuka. Pertanyaan tertutup adalah pertanyaan yang tidak memungkinkan responden untuk memberikan jawaban selain dari pilihan jawaban yang telah disediakan. Pertanyaan tertutup pada kuesioner penelitian ini adalah pertanyaan nomor 1, nomor 4, nomor 5, nomor 6 dan nomor 8.

Pertanyaan semi terbuka adalah pertanyaan yang memungkinkan responden untuk menjawab dengan memilih salah satu atau lebih alternatif pilihan jawaban yang telah disediakan atau menuliskan jawabannya sendiri jika tidak tersedia pada pilihan jawaban. Pertanyaan semi terbuka pada kuesioner penelitian ini adalah pertanyaan nomor 2, nomor 3, nomor 7, nomor 9 dan nomor 10. Kuesioner yang digunakan pada penelitian ini dapat dilihat pada Lampiran 1.

Uji coba kuesioner dilakukan dengan cara menanyakan secara langsung kepada responden mengenai pertanyaan yang kurang dimengerti atau menimbulkan bias sehingga dapat dilakukan perbaikan berdasarkan saran dari responden tersebut. Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan responden sebanyak 30 responden yang dipilih secara purposive dimana responden yang digunakan memiliki keadaan yang hampir sama dengan responden sebenarnya yaitu konsumen yang menggunakan makanan dalam kemasan, mengetahui mengenai label pada kemasan produk dan mengetahui mengenai tanggal

2 kadaluwarsa yang terdapat pada label kemasan produk. Hasil uji coba menunjukkan bahwa tulisan atau huruf yang digunakan dapat dilihat dan jelas terbaca oleh responden serta memiliki urutan pertanyaan yang teratur dan sesuai antara satu pertanyaan dengan pertanyaan yang lain. Namun, menurut responden, terdapat beberapa pertanyaan yang membingungkan dalam menjawabnya yaitu pada pertanyaan nomor 1. Untuk pertanyaan nomor 1, terdapat empat pilihan jawaban untuk pertanyaan tersebut yaitu selalu, sering, terkadang dan tidak. Empat pilihan jawaban yang disediakan ternyata sedikit membingungkan responden karena mereka tidak bisa membedakan maksud dari masing-masing pilihan, terutama membedakan antara maksud dari kata

“sering” dan “terkadang”. Oleh karena itu, untuk pertanyaan nomor 1, dilakukan perbaikan kuesioner dengan memberikan keterangan dari masing-masing pilihan jawaban. Perbaikan kuesioner yang dilakukan pada uji coba kuesioner dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Hasil uji coba kuesioner

Setelah dilakukan uji coba kuesioner, selanjutnya dilakukan pengujian validitas kuesioner yang dilakukan terhadap 30 responden yang sama yang digunakan pada uji coba kuesioner. Data hasil pengisian kuesioner diolah dan dicari hubungan korelasi antar variabel yang diperoleh dari pengolahan menggunakan SPSS versi 12 for windows dengan teknik korelasi Spearman.

Korelasi Spearman ini digunakan untuk mengetahui ada dan tidaknya hubungan antara dua variabel yang berskala ordinal (non-parametrik). Hasil uji validitas kuesioner dapat dilihat pada Tabel 3.

Nomor Pertanyaan Sebelum Perbaikan Setelah Perbaikan 1 Pilihan Jawaban :

a. Selalu b. Sering c. Terkadang d. Tidak

Pilihan Jawaban :

a. Selalu (pasti memperhatikan bila membeli produk)

b. Sering (lebih banyak memperhatikan dibanding tidak)

c. Terkadang (lebih banyak tidak dibandingkan memperhatikan) d. Tidak

3 Tabel 3. Hasil uji validitas kuesioner

No Kelompok Parameter Validitas

(probabilitas < 0.05)

1 Intensitas memperhatikan info produk 0.020

2 Hal yang pertama kali diperhatikan 0.004

3 Sumber informasi tentang tanggal kadaluwarsa 0.002 4 Pengetahuan tanggal kadaluwarsa produk garam meja

dan gula pasir

0.013 5 Pengetahuan perbedaan pengertian produk “best before”

dan produk “best before end”

0.003 6 Tindakan terhadap produk yang tidak mencantumkan

tanggal kadaluwarsa 9 Alasan tetap atau terkadang mengkonsumsi produk yang

telah memasuki batas akhir waktu kadaluwarsa

0.024

10 Fungsi tanggal kadaluwarsa 0.002

Hubungan dua variabel dapat dikatakan signifikan (valid) apabila nilai probabilitas bernilai < 0.05 dan sebaliknya apabila nilai probabilitas bernilai >

0.05 maka hubungan kedua varibel tidak signifikan (tidak valid). Berdasarkan hasil pada Tabel 3, dapat dilihat bahwa nilai probabilitas dari masing-masing pertanyaan bernilai < 0.05 sehingga dapat disimpulkan bahwa masing-masing pertanyaan pada kuesioner bersifat signifikan (valid). Untuk hasil pengujian validitas kuesioner dari masing-masing pertanyaan dengan metode korelasi Spearman dengan program SPSS versi 12 for windows dapat dilihat pada Lampiran 2 hingga Lampiran 11.

Setelah uji validitas kuesioner, selanjutnya dilakukan uji reliabilitas kuesioner. Uji reliabilitas kuesioner dilakukan untuk menunjukkan kekonsistenan suatu alat pengukur dalam mengukur gejala yang sama. Uji reliabilitas dilakukan dengan teknik pengukuran ulang (test-retest) yang dilakukan terhadap 30 responden dalam selang waktu 15 hari antara pengukuran pertama dan pengukuran kedua. Hasil pengukuran pertama dan hasil pengukuran kedua tersebut kemudian dikorelasikan dengan menggunakan metode Alpha Cronbach dengan menggunakan program SPSS versi 12 for windows. Berdasarkan hasil pengujian dengan metode Alpha

4 Cronbach, diperoleh nilai Alpha Cronbach sebesar 0.870. Menurut Ghozali (2006), apabila nilai dari Alpha Cronbach bernilai > 0.60 maka dapat dikatakan kuesioner bersifat reliabel dan sebaliknya apabila nilai dari Alpha Cronbach bernilai < 0.60 maka dapat dikatakan kuesioner bersifat tidak reliabel. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa kuesioner yang digunakan pada penelitian ini bersifat reliabel. Untuk hasil pengujian reliabilitas kuesioner dengan metode Alpha Cronbach dengan menggunakan program SPSS versi 12 for windows dapat dilihat pada Lampiran 12.

E. PROFIL RESPONDEN

Identitas responden yang digunakan pada penelitian ini meliputi jenis kelamin, tingkat usia, jenis pekerjaan, tingkat pendidikan dan status sosial ekonomi. Nilai jawaban yang diberikan responden pada penelitian ini melalui pengisian kuesioner dapat dilihat pada Lampiran 13.

1. Jenis Kelamin

Berdasarkan jenis kelaminnya, mayoritas responden yang digunakan pada penelitian ini adalah responden wanita sebanyak 68% (Gambar 4).

Hal ini disebabkan karena responden dengan jenis kelamin pria, yang berperan sebagai ayah dalam keluarga, menurut Sumarwan (2003) umumnya berperan sebagai pengguna dalam keluarga berkaitan dengan konsumsi pangan. Sebaliknya individu yang berperan sebagai inisiator, gate keeper dan pembeli adalah ibu. Peran yang dipegang ibu tersebut memungkinkan ibu memiliki ketertarikan yang lebih besar mengenai informasi yang berkaitan dengan produk yang dibeli karena keterlibatan yang dimilikinya (Kotler, 2001). Sebaliknya, ayah kemungkinan tidak memiliki informasi mengenai suatu produk dibandingkan ibu dengan mengingat ayah merupakan sosok individu dalam keluarga yang kurang terlibat dengan kegiatan rumah tangga khususnya berbelanja. Hal inilah yang menyebabkan responden yang berpartisipasi pada penelitian ini sebagian besar berjenis kelamin wanita.

5 Gambar 4. Jenis kelamin responden

2. Tingkat Usia

Berdasarkan tingkat usia, responden yang digunakan pada penelitian ini berada pada rentang usia 15-25 tahun yaitu sebanyak 43% (Gambar 5).

Menurut Sibarani (2004), kisaran usia produktif adalah 15 hingga 64 tahun, sedangkan kisaran usia tidak produktif di atas 64 tahun dan kurang dari 15 tahun. Berdasarkan hal ini, dapat diketahui bahwa responden yang digunakan pada penelitian ini termasuk ke dalam kisaran usia produktif.

Gambar 5. Usia responden

3. Pekerjaan Responden

Berdasarkan jenis pekerjaannya, responden yang digunakan pada penelitian ini lebih banyak yang bekerja sebagai ibu rumah tangga yaitu sebanyak 30% (Gambar 6). Menurut Engel et al. (1994), konsumsi makanan dalam keluarga sangat ditentukan oleh ibu rumah tangga yang memainkan peran sebagai gate keeper yang bertanggung jawab dalam pemilihan dan persiapan hidangan bagi seluruh keluarga. Sebagai gate keeper, ibu berperan memberikan inisiatif pemikiran dalam keluarga mengenai pembelian produk dan pengumpulan informasi untuk membantu

6 pengambilan keputusan, khususnya mengenai keputusan pembelian sebagian besar bahan pangan

Gambar 6. Jenis pekerjaan responden

4. Pendidikan Responden

Berdasarkan tingkat pendidikan, sebagian besar responden yang digunakan pada penelitian ini memiliki pendidikan atau Sekolah Lanjutan (SMP dan SMA) yaitu sebanyak 67 % sedangkan sisanya tersebar dalam kelompok Sekolah Dasar dan Perguruan Tinggi (S0 dan S1) (Gambar 7).

Berdasarkan hasil ini, peneliti menilai bahwa responden dalam penelitian ini telah memiliki pendidikan yang cukup memadai. Sebaran tingkat pendidikan responden dalam penelitian ini menunjukkan bahwa responden dinilai cukup mampu memahami instruksi yang diberikan melalui kuesioner selama pengambilan data sehingga menunjang pencapaian tujuan penelitian.

Gambar 7. Tingkat pendidikan responden

5. Status Sosial Ekonomi a. Status Rumah

Berdasarkan status rumah yang ditempati oleh responden, sebagian besar responden pada penelitian ini memiliki rumah pribadi yaitu sebanyak 55% (Gambar 8).

7 Gambar 8. Status rumah responden

b. Status Daya Listrik

Berdasarkan status daya listrik yang digunakan, responden yang digunakan pada penelitian ini memiliki status daya listrik sebesar 900 watt yaitu sebanyak 39% (Gambar 9).

Gambar 9. Status daya listrik responden c. Biaya Telepon

Berdasarkan biaya telepon yang dikeluarkan selama tiga bulan terakhir, responden yang digunakan pada penelitian ini sebagian besar mengeluarkan biaya kurang dari Rp. 300.000 yaitu sebanyak 76% (Gambar 10). Penggolongan status sosial ekonomi berdasarkan pengeluaran biaya telepon yang dilakukan responden, dilakukan karena responden seringkali tidak ingin mengemukakan pendapatannya per bulan. Oleh karena itu, peneliti mencoba untuk menggunakan metode lain dengan menanyakan biaya penggunaan telepon baik telepon rumah maupun telepon genggam dengan asumsi bahwa semakin besar biaya telepon yang dikeluarkan maka semakin besar pula pendapatan seseorang.

8 Gambar 10. Pengeluaran biaya telepon responden

Selanjutnya, peneliti mengelompokkan responden ke dalam status sosial ekonomi. Menurut Sumarwan (2003), kelas sosial tidak hanya mencerminkan penghasilan tetapi juga indikator lainnya seperti pekerjaan, pendidikan dan tempat tinggal. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Wachidah (2007), pengelompokkan status sosial ekonomi ini dilakukan berdasarkan status kepemilikan rumah, status daya listrik rumah dan pengeluaran biaya telepon tiga bulan terakhir yang dilakukan oleh responden. Selanjutnya, berdasarkan ketiga hal tersebut status sosial ekonomi responden dapat ditentukan dengan melihat tabel pengelompokkan status sosial ekonomi (Tabel 1). Dari hasil pengelompokkan, diperoleh bahwa responden yang digunakan pada penelitian ini adalah responden dengan status sosial ekonomi rendah yaitu sebanyak 38% (Gambar 11).

Gambar 11. Status sosial ekonomi responden

C. PERSEPSI RESPONDEN

Berdasarkan tingkat pengetahuannya, responden dibagi menjadi tiga kelompok. Pengelompokkan ini dilakukan berdasarkan pada jawaban benar (dalam bentuk persentase) yang di dapat responden ketika mengisi kuesioner

9 pada pertanyaan nomor 4 dan nomor 5. Tingkat pengetahuan dikatakan kurang apabila jumlah responden yang mampu menjawab dengan benar adalah <60%, tingkat pengetahuan dikatakan cukup apabila jumlah responden yang mampu menjawab dengan benar adalah 60%-80% dan tingkat pengetahuan dikatakan baik apabila jumlah responden yang mampu menjawab dengan benar adalah

>80% (Khomsan, 2000).

Untuk pertanyaan nomor 4, mengenai perlu atau tidak dilakukan pencantuman tanggal kadaluwarsa pada produk garam meja dan gula pasir, sebanyak 24% responden menjawab dengan benar bahwa pencantuman tanggal kadaluwarsa pada produk garam meja dan gula pasir tidak perlu dilakukan (Gambar 12). Menurut Codex Alimentarius Commission (CAC) terdapat tujuh jenis produk pangan yang tidak memerlukan pencantuman tanggal, bulan dan tahun kadaluwarsa. Dua dari tujuh jenis produk pangan tersebut adalah garam meja dan gula pasir. Berdasarkan Khomsan (2000), dapat ditarik kesimpulan bahwa tingkat pengetahuan responden mengenai perlu atau tidak dilakukan pencantuman tanggal kadaluwarsa pada produk garam meja dan gula pasir adalah kurang sehingga dapat dikatakan bahwa responden tidak mengetahui bahwa pencantuman tanggal kadaluwarsa pada produk garam meja dan gula pasir tidak perlu dilakukan. Hal ini dapat terjadi karena responden memiliki persepsi bahwa pencantuman tanggal kadaluwarsa wajib dilakukan pada semua produk pangan yang dikemas. Menurut Kotler (2001), persepsi konsumen berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki sebelumnya, dimana semakin tinggi tingkat pengetahuan seseorang maka semakin baik persepsinya terhadap sesuatu.

Gambar 12. Jawaban responden mengenai pencantuman tanggal kadaluwarsa pada produk garam meja dan gula pasir

10 Untuk pertanyaan nomor 5, mengenai perbedaan pengertian antara produk “best before” dengan produk “best before end”, sebanyak 45%

responden menjawab dengan benar bahwa perbedaan pengertian tersebut terletak pada perbedaan daya tahan dari masing-masing produk (Gambar 13).

Berdasarkan amandemen tahun 1999 Codex Alimentarius Commission (CAC) pada point 4 mengenai mandatory labeling of prepacked foods, disebutkan bahwa pada kemasan produk pangan wajib dicantumkan date of minimum durability yang dituliskan mengikuti tulisan “best before” atau “best before end”. Kalimat “best before” digunakan untuk produk yang mempunyai waktu kadaluwarsa kurang dari tiga bulan, sedangkan kalimat “best before end”

digunakan untuk produk yang mempunyai waktu kadaluwarsa lebih dari tiga bulan. Hal ini memperlihatkan bahwa perbedaan pengertian antara produk

”best before” dengan produk “best before end” terletak pada perbedaan daya tahan dari masing-masing produk. Berdasarkan Khomsan (2000), dapat ditarik kesimpulan bahwa tingkat pengetahuan responden mengenai perbedaan pengertian antara produk ”best before” dengan produk “best before end”

adalah kurang sehingga dapat dikatakan bahwa responden tidak mengetahui bahwa perbedaan antara produk ”best before” dengan produk “best before end” terletak pada daya tahan dari masing-masing produk. Hal ini dapat terjadi karena sumber informasi yang mempengaruhi responden tentang produk makanan kemasan hanya mensosialkan label tanggal kadaluwarsa tetapi kurang menginformasikan arti dan variasi penulisan tanggal kadaluwarsa pada label kemasan pangan. Menurut Kotler (2001), sumber informasi merupakan karakter penyampai pesan sehingga semakin sedikit informasi yang disampaikan oleh sumber informasi maka semakin sedikit pula pesan yang ditangkap konsumen.

Gambar 13. Jawaban responden mengenai perbedaan pengertian antara produk “best before” dengan produk “best before end”

11 Menurut Kotler (2001), timbulnya persepsi didukung oleh adanya informasi yang masuk ke dalam memori seseorang sehingga sumber informasi menjadi faktor yang sangat penting untuk mempengaruhi konsumen dalam membeli suatu produk. Sumber informasi konsumen dapat dikelompokkan menjadi empat yaitu sumber pribadi, sumber komersial, sumber publik dan sumber pengalaman. Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa sebanyak 31% responden memilih media elektronik sebagai sumber informasi yang paling dipercaya untuk mendapatkan informasi tentang kadaluwarsa (Gambar 14). Media elektronik digunakan secara luas tetapi tidak semuanya digunakan untuk hiburan tetapi juga dapat digunakan untuk memperoleh beberapa informasi tentang produk. Berdasarkan hasil wawancara, responden lebih memilih media elektronik yaitu televisi sebagai sumber informasi utama.

Kemampuan televisi dalam menyampaikan isi pesan secara serentak yang menggabungkan antara audio, visual dan gerak mampu memikat perhatian khalayak sasaran yang lebih luas sehingga keunggulan ini membedakan televisi dengan media lainnya (Kotler, 2001). Keluarga yang merupakan sumber pribadi hanya dipilih oleh sebanyak 25% responden sebagai sumber informasi utama untuk mendapatkan informasi tentang kadaluwarsa. Hal ini dapat terjadi karena sumber pribadi seperti keluarga memiliki fungsi untuk melakukan evaluasi sedangkan sumber informasi yang didominasi pemasar seperti media elektronik secara umum berfungsi untuk memberitahu (Setiadi, 2003).

Gambar 14. Sumber informasi tentang kadaluwarsa

Memperhatikan info produk yang terdapat pada kemasan sebelum membeli atau mengkonsumsinya merupakan salah satu cara responden untuk mengetahui kondisi produk tersebut. Menurut Engel et al. (1994), konsumen

12 memberikan perhatian pada info produk yang terdapat pada kemasan dengan anggapan bahwa informasi yang tertera dalam label kemasan merupakan informasi yang benar mengenai produk tersebut. Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa sebanyak 66% responden selalu memperhatikan info produk, 14% responden terkadang memperhatikan info produk dan 18%

responden sering memperhatikan info produk (Gambar 15). Berdasarkan hasil ini, dapat diketahui bahwa sebagian besar responden memperhatikan info produk yang terdapat pada kemasan dengan intensitas yang berbeda.

Selanjutnya, dapat diketahui pula bahwa terdapat sebanyak 2% responden yang tidak memperhatikan info produk yang terdapat pada kemasan.

Berdasarkan hasil penelitian Susanto (2008), responden yang tidak memperhatikan info produk yang terdapat pada kemasan dapat terjadi karena responden tersebut lebih memperhatikan harga dari suatu produk.

Gambar 15. Intensitas responden memperhatikan info produk

Mengenai hal yang paling utama diperhatikan responden sebelum melakukan pembelian atau pengkonsumsian, sebanyak 38% responden memilih memperhatikan tanggal kadaluwarsa terlebih dahulu sebelum memutuskan melakukan pembelian atau pengkonsumsian (Gambar 16).

Keputusan merupakan pemilihan suatu tindakan dari dua atau lebih alternatif (Sciffman dan Kanuk, 1994). Menurut Hardinsyah dan Suhardjo (1987), terdapat empat tahap dalam proses pengambilan keputusan dan salah satu dari empat tahap tersebut adalah tahap menerima pengaruh. Tahap menerima pengaruh ini adalah suatu tahapan dimana pengaruh yang diterima konsumen biasanya berupa rasa tertarik, senang, ingin dan hal lain yang menarik dari informasi suatu produk. Berdasarkan hal ini, dapat diketahui bahwa tanggal kadaluwarsa merupakan informasi yang menarik bagi responden sehingga

13 dipilih sebagai hal yang paling utama diperhatikan sebelum melakukan tindakan pembelian atau pengkonsumsian. Menurut BPOM (2004), tanggal kadaluwarsa berfungsi sebagai informasi mengenai waktu atau tanggal yang menunjukkan suatu produk makanan masih memenuhi syarat mutu dan keamanan untuk dikonsumsi.

Gambar 16. Hal yang paling utama diperhatikan

Untuk produk pangan yang seharusnya mencantumkan tanggal kadaluwarsa namun tidak mencantumkan tanggal kadaluwarsa, terdapat sebanyak 41% responden yang memilih untuk membeli produk tersebut.

Untuk selanjutnya, dapat diketahui bahwa dari 41% responden tersebut sebanyak 66% responden beralasan melakukan tindakan membeli karena kondisi produk terlihat baik (Gambar 17). Menurut Syarief dan Halid (1993), suatu produk pangan akan menurun mutu gizinya meskipun penampakannya masih bagus. Berdasarkan hal ini, dapat diketahui bahwa responden memandang baik buruknya suatu produk pangan untuk dibeli lebih berdasarkan pada faktor mutu fisik produk pangan.

Gambar 17. Alasan responden membeli produk yang tidak mencantumkan tanggal kadaluwarsa

Gambar 17. Alasan responden membeli produk yang tidak mencantumkan tanggal kadaluwarsa

Dalam dokumen : TENNI OKSOWELA F (Halaman 48-0)

Dokumen terkait