• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.3 Analisis Pemilihan Strategi Pengembangan UKM Kacang Sangrai dengan Menggunakan Metode AHP dengan Menggunakan Metode AHP

5.3.2 Pengolahan Vertikal

5.3.2.3 Pengolahan Vertikal Elemen Alternatif Strategi

Pengolahan vertikal pada level empat dilakukan untuk menunjukkan alternatif strategi yang paling berpengaruh dalam pengembangan UKM kacang

101 sangrai di Kelurahan Keranggan. Berdasarkan Tabel 16 di bawah diperoleh bahwa alternatif strategi yang menjadi prioritas pertama adalah pengembangan pangsa pasar dan pemasaran UKM kacang sangrai dengan bobot sebesar 0,33. Alternatif strategi yang menjadi prioritas selanjutnya adalah pengembangan SDM pelaku UKM kacang sangrai melalui bimbingan teknis dan pelatihan dengan bobot sebesar 022, pengembangan peran lembaga pembiayaan untuk memfasilitasi pembiayaan dan pembinaan UKM kacang sangrai dengan bobot sebesar 0,19, pengembangan sarana dan prasarana produksi untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk kacang sangrai dengan bobot sebesar 0,18, serta pengembangan peran aktif pemerintah untuk melindungi eksistensi UKM kacang sangrai dengan bobot sebesar 0,09.

Tabel 16. Hasil Pengolahan Vertikal Elemen Alternatif Strategi

Alternatif Strategi Bobot Prioritas Pengembangan SDM Pelaku UKM Kacang Sangrai

melalui Bimbingan Teknis dan Pelatihan 0,22 2

Pengembangan Peran Lembaga Pembiayaan untuk Memfasilitasi Pembiayaan dan Pembinaan UKM Kacang Sangrai

0,19 3

Pengembangan Sarana dan Prasarana Produksi untuk Meningkatkan Kualitas dan Kuantitas Produk Kacang Sangrai

0,18 4

Pengembangan Pangsa Pasar dan Pemasaran UKM

Kacang Sangrai 0,33 1

Pengembangan Peran Aktif Pemerintah untuk

Melindungi Eksistensi UKM Kacang Sangrai 0,09 5

Sumber: Data diolah, 2018

Berdasarkan pengolahan vertikal menunjukkan bahwa strategi pengembangan pangsa pasar dan pemasaran UKM kacang sangrai menjadi strategi yang paling berpengaruh dalam pengembangan UKM kacang sangrai.

102 Strategi ini dapat membantu permasalahan yang dihadapi para pelaku usaha yaitu tidak adanya jaminan pasar. Dengan strategi ini maka pemerintah daerah dapat meningkatkan pasar produk kacang sangrai sehingga dapat dipasarkan di luar wilayah Jabodetabek dengan kemasan yang telah dibantu oleh Koperasi Cipta Boga.

Strategi pada prioritas kedua yaitu pengembangan SDM pelaku UKM kacang sangrai melalui bimbingan teknis dan pelatihan. Jika pasar produk kacang sangrai sudah memiliki cakupan yang luas, maka perlu adanya SDM yang berkualitas agar produk yang dipasarkan tetap terjaga kualitasnya. Pengembangan SDM dapat berupa pelatihan-pelatihan untuk para pemilik serta karyawan UKM kacang sangrai dapat meningkatkan penjualan dari pelatihan pengemasan yang baik, serta pelatihan pengenalan teknologi agar usaha kacang sangrai dapat mengikuti perkembangan zaman yang semakin maju.

Alternatif strategi pada prioritas ketiga adalah pengembangan peran lembaga pembiayaan untuk memfasilitasi pembiayaan dan pembinaan UKM. Jika produk telah mempunyai pasar yang baik maka para pelaku usaha membutuhkan modal untuk meningkatkan jumlah produksi. Strategi ini dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan modal yang terbatas yang dihadapi para pelaku usaha.

Pembinaan UKM melalui lembaga pembiayaan agar pelaku usaha dapat mengatur keuangan agar penghasilan dari usaha tidak tercampur dengan keuangan pribadi.

Alternatif strategi pada prioritas keempat adalah pengembangan sarana dan prasarana produksi untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk kacang sangrai. Strategi ini dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi para pelaku

103 usaha yaitu ketidakmampuan dalam memenuhi kepastian produksi. Dengan adanya strategi ini diharapkan pemerintah daerah dapat memberikan bantuan alat produksi yang lebih canggih agar dapat menjaga kualitas produk kacang sangrai, serta kegagalan produksi dapat menurun. Alternatif terakhir adalah pengembangan peran aktif pemerintah untuk melindungi eksistensi UKM kacang sangrai. Strategi ini merupakan langkah yang harus dipertahankan oleh pemerintah daerah karena strategi ini sebagai penunjang kelangsungan hidup usaha kacang sangrai di Kelurahan Keranggan.

104 Gambar 9. Hasil Analisis Vertikal Struktur Hierarki Pengembangan UKM Kacang Sangrai di Kelurahan Keranggan

Pengembangan Strategi Pengembangan UKM Kacang Sangrai di Kelurahan Keranggan,

Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan

Sumber

Dinas Koperasi dan UKM Kota Tangerang Selatan

BAB VI PENUTUP

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan terhadap penelitian yang telah dilakukan mengenai pengembangan UKM kacang sangrai di Kelurahan Keranggan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Pengembangan UKM kacang sangrai dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu Sumber Daya Manusia (SDM), keuangan, teknis produksi dan operasional, pasar dan pemasaran, dan kebijakan pemerintah sektor UKM. Serta aktor yang berperan yaitu Dinas Koperasi dan UKM Kota Tangerang Selatan, Kelurahan Keranggan, Koperasi Cipta Boga, dan pelaku UKM kacang sangrai.

2. Alternatif strategi yang dapat diterapkan dalam pengembangan UKM kacang sangrai yaitu pengembangan SDM pelaku UKM kacang sangrai melalui bimbingan teknis dan pelatihan, pengembangan peran lembaga keuangan untuk memfasilitasi pembiayaan dan pembinaan UKM kacang sangrai, pengembangan sarana dan prasarana produksi untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk kacang sangrai, pengembangan pangsa pasar dan pemasaran UKM kacang sangrai, dan pengembangan peran aktif pemerintah untuk melindungi eksistensi UKM kacang sangrai.

3. Prioritas strategi yang tepat diterapkan untuk pengembangan UKM kacang sangrai di Kelurahan Keranggan dari hasil analisis AHP yaitu pengembangan

106 pangsa pasar dan pemasaran UKM kacang sangrai dengan bobot sebesar 0,33.

Strategi yang dapat diterapkan selanjutnya yaitu pengembangan SDM pelaku UKM kacang sangrai melalui bimbingan teknis dan pelatihan dengan bobot sebesar 0,22, pengembangan peran lembaga pembiayaan untuk memfasilitasi pembiayaan dan pembinaan UKM kacang sangrai dengan bobot sebesar 0,19, pengembangan sarana dan prasarana produksi untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk kacang sangrai dengan bobot sebesar 0,18, serta pengembangan peran aktif pemerintah untuk melindungi eksistensi UKM kacang sangrai dengan bobot sebesar 0,09.

6.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan mengenai pengembangan UKM kacang sangrai di Kelurahan Keranggan, maka dapat penulis sarankan beberapa hal sebagai berikut :

1. Pemerintah daerah perlu memberikan penyadaran akan pentingnya berwirausaha kepada masyarakat Kelurahan Keranggan.

2. Peningkatan peran pemerintah daerah dan koperasi dalam membangun kemandirian produsen kacang sangrai melalui kesadaran akan pentingnya desain produk dan nama produk.

3. Pemerintah daerah menyelenggarakan pelatihan manajemen keuangan yang baik dan bagaimana membangun jaringan kemitraan dengan memanfaatkan teknologi informasi termasuk media sosial secara efektif.