BAB II KAJIAN TEORITIS, KERANGKA BERPIKIR DAN PENGAJUAN
3. Penguasaan Konsep dalam Pembelajaran Kontekstual
Penguasaan berasal dari kata dasar kuasa yang artinya mampu, kemampuan, hak menjalankan sesuatu, atau mandat. Penguasaan berarti pemahaman atau kesanggupan untuk menggunakan pengetahuan atau kepandaian.59 Selain itu penguasaan berhubungan dengan proses berfikir, mengetahui, dan memecahkan masalah.
Konsep adalah klasifikasi perangsang yang memiliki ciri-ciri tertentu yang sama.60 Konsep merupakan struktur mental yang diperoleh dari pengamatan dan pengalaman.61 Konsep juga bisa diartikan sebagai pengertian atau penyebutan semua ciri esensi suatu objek dengan membuang semua ciri aksidensinya.62
Good mendefinisikan konsep sebagai gambaran representasi dari ciri-ciri, yang dengan ciri-ciri itu obyek-obyek dapat dibedakan. Sedangkan Rosser seperti dikutip Ratna Wilis Dahar, menyatakan bahwa konsep adalah suatu abstraksi yang mewakili suatu kelas obyek-obyek, kejadian-kejadian, kegiatan-kegiatan, atau hubungan-hubungan yang mempunyai atribut yang sama.63
59
Pusat Bahasa Depdiknas
60
Anonim, ”Pendekatan Konsep dalam Pembelajaran Bahasa”, dari http://pakdesofa.blog2.plasa.com/archives/26, diakses Selasa, 16 Desember 2008
61
Ibid.
62
Ahmad Tafsir, Metodologi Pengajaran Agama Islam: Lesson Plan Agama Islam Aspek Kognitif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2000), h. 110
63
25
Gagne mengartikan konsep adalah hasil usaha individu dalam mengelompokkan suatu obyek ke dalam suatu golongan-golongan.64 Dengan kata lain, konsep dapat ditunjukkan dalam tingkah laku individu dengan merespon obyek yang kemudian diberi nama, atau konsep dapat diartikan sebagai abstrak yang melibatkan hubungan-hubungan.65
Konsep adalah satuan arti yang mewakili sejumlah obyek yang mempunyai ciri-ciri yang sama.66 Orang yang memiliki konsep mampu mengadakan abstraksi terhadap obyek-obyek yang dihadapi, sehingga obyek ditempatkan dalam golongan tertentu. Misalnya, pada bunga mawar, kenanga, anggrek, dan melati ditemukan sejumlah ciri yang terdapat pada semua bunga-bunga konkret itu, yaitu “mekar, bertangkai, berwarna, sedap dipandang mata, berputik, dan berbenang sari”. Sejumlah ciri itu ditangkap dalam pengertian “bunga” yang kemudian dilambangkan dengan kata “bunga”.67 Jadi, konsep bunga itu dalam pengertian mekar, bertangkai, berwarna, sedap dipandang mata, berputik, dan berbenang sari.
Konsep menurut Oemar Hamalik adalah suatu kelas atau kategori stimuli yang memiliki ciri-ciri umum. Stimuli adalah objek-objek atau orang.68
Dari beberapa definisi yang telah dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa konsep merupakan abstraksi yang menggambarkan ciri-ciri umum dari sekelompok obyek, proses, peristiwa atau fenomena lainnya, yang diperoleh melalui pengamatan dan pengalaman.
64
Yasin Bale dkk., Kontribusi Konsep-konsep Dasar Kimia dalam Mengembangkan Penguasaan Konsep Kimia Fisik I (Suatu Analisis pada Mahasiswa Prodi Kimia Fkip Unsyiah Angkatan 1993/1994, Laporan Penelitian, (Banda Aceh: Universitas Syiah Kuala Darusslaam-Banda Aceh, 1995), h. 5
65
Ibid.
66
Suhirman, ”Ilmu Jiwa Belajar (Jenis-jenis Belajar)”, dari http://www.mitrapulsa. com/ jenisbelajar.html, diakses Kamis, 08 Januari 2008
67
Ibid.
68
Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), Cet. IV, h. 162
Penguasaan konsep menjadi hasil dari siswa ketika sudah melalui pembelajaran. Penguasaan konsep merupakan aspek konsep dalam rumusan tujuan pembelajaran. Dua aspek dalam rumusan tujuan pembelajaran, yaitu aspek konsep dan aspek proses. Tujuan yang terutama mengungkap aspek konsep yang dikenal pula sebagai tujuan konsep. Sedangkan tujuan yang terutama mengungkapkan aspek proses dinamakan tujuan proses. Tujuan konsep lebih ditekankan dalam perumusan tujuan pembelajaran konsep dengan aspek proses sebagai kondisi belajarnya.69
b. Tingkat Pencapaian Konsep dalam Pembelajaran
Kemampuan individu dalam mengkonsep rangsangan baru memiliki tingkat yang berbeda-beda, yang disebut dengan tingkat pencapaian konsep. Klausmeier menghipotesiskan, bahwa ada empat tingkat pencapaian konsep, yaitu:70
1) Tingkat konkret, seseorang telah mencapai konsep pada tingkat konkret, apabila orang itu mengenal suatu benda yang telah dihadapinya sebelumnya.
2) Tingkat identitas, pada tingkat ini individu telah dapat merespon rangsangan baru berdasarkan konsep-konsep rangsangan sejenis yang telah dikenal sebelumnya.
3) Tingkat klasifikatori, pada tingkat klasifikatori, siswa mengenal persamaan dari dua contoh yang berbeda dari kelas yang sama. 4) Tingkat formal, untuk pencapaian konsep pada tingkat formal,
siswa harus dapat menentukan atribut-atribut yang membatasi konsep.
69
Nuryani Y Rustaman, dkk., Strategi Belajar Mengajar Biologi, (Malang: UM Press, 2005), h. 50-51
70
27
c. Pengukuran Penguasaan Konsep dalam Pembelajaran
Pengukuran merupakan salah satu bagian dari evaluasi, menurut Tambunan seperti dikutip oleh Salasi evaluasi atau penilaian adalah suatu proses penaksiran terhadap kemajuan, pertumbuhan, dan perkembangan anak didik menuju tujuan kurikulum. Dalam suatu pembelajaran evaluasi hasil belajar merupakan bagian integral yang tidak dapat dipisahkan dari sistem pengajaran. Guru dapat membuat beberapa pengukuran untuk mengetahui apakah anak didik telah menguasai tujuan pembelajaran yang dirumuskan oleh guru, setelah terjadinya kegiatan belajar mengajar dalam suatu materi pelajaran tertentu.
Beberapa metode yang dapat digunakan untuk menentukan apakah anak didik berhasil atau tidak dalam pencapaian tujuan pengajaran antara lain seperti: latihan di kelas, pekerjaan rumah, tugas-tugas lainnya dan ujian atau tes, baik lisan atau tulisan.
Berdasarkan analisis operasional, tujuan pendidikan atau pengajaran dibedakan menjadi tiga aspek, yaitu: aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek psikomotor. Ketiga aspek tujuan pendidikan atau pengajaran tersebut dikembangkan oleh Bloom, yang disebut juga “Taksonomi Bloom”. Bidang kognitif atau penalaran berhubungan dengan kemampuan intelektual, seperti pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Bidang afektif berhubungan dengan sikap, minat, perhatian, apresiasi dan cara menyesuaikan diri. Bidang psikomotor berhubungan dengan tingkah laku, seperti keterampilan menggunakan alat, kecepatan menghitung dan lain-lain. Dimensi proses kognitif taksonomi Bloom dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 2. Tingkatan Domain Kognitif.71 N
o Tingkatan Deskripsi Kompetensi
1 Pengetahuan/ Ingatan
Pengetahuan terhadap fakta, konsep, definisi, nama, peristiwa, tahun, daftar, rumus, teori, dan kesimpulan.
Contoh kegiatan belajar/kompetensi yang dikehendaki: - Mengemukakan arti - Menamakan sesuatu - Membuat daftar - Menentukan lokasi - Mendeskripsikan sesuatu - Menceritakan apa yang terjadi - Menguraikan apa yang terjadi
2 Pemahaman Pemahaman terhadap hubungan antar-faktor, antar konsep, antar-data, sebab-akibat, dan penarikan kesimpulan.
Contoh:
- Mengungkapkan gagasan/pendapat dengan kata-kata sendiri
- Membedakan atau membandingkan - Menginterpretasi data
- Mendeskripsi dengan kata-kata sendiri - Menjelaskan gagasan pokok
- Menceritakan kembali dengan kata-kata sendiri 3 Aplikasi/
Penerapan
Menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Contoh: - Menghitung kebutuhan - Melakukan percobaan - Membuat peta - Membuat model - Merancang strategi
4 Analisis Menentukan bagian-bagian dari suatu masalah, penyelesaian atau gagasan, menunjukkan hubungan antar bagian/mencakup penguraian suatu ide ke dalam unsur-unsur pokoknya sedemikian rupa sehingga hubungan antar unsurnya menjadi jelas.72
71
Ahmad Sofyan, dkk., Evaluasi Pembelajaran IPA Berbasis Kompetensi, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006), Cet. I, h. 18-19
72
W. James Popham dan Eva L. Baker, Teknik Mengajar secara Sistematis, (Jakarta: Rineka Cipta: 2005), h. 30
29
- Mengidentifikasi faktor penyebab atau perumusan masalah
- Mengajukan pertanyaan untuk memperoleh inforamsi
- Membuat grafik - Mengkaji ulang
5 Sintesis Menggabungkan berbagai informasi menjadi satu kumpulan atau konsep, meramu/merangkai berbagai gagasan menjadi sesuatu yang baru. Contoh:
- Membuat desain
- Mengarang komposisi lagu - Memprediksi
- Merancang model mobil/pesawat sederhana - Menciptakan produk baru
6 Evaluasi Mempertimbangkan dan menilai benar-salah, baik-buruk, bermanfaat-tidak bermanfaat.
Contoh:
- Mempertahankan pendapat - Beradu argumentasi
- Memilih solusi yang lebih baik - Menyusun kriteria penilaian - Menyarankan perubahan - Menulis laporan
- Membahas suatu kasus
4. Nilai-nilai Sains