• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.4 Pengujian Aktivitas Antibakteri Metode Cakram

Pada uji aktivitas antibakteri digunakan bakteri Staphylococcus aureus ATCC 25923 mewakili golongan bakteri Gram positif dan Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 mewakili bakteri Gram negatif. Pertimbangan penggunaan kedua bakteri bertujuan untuk mengetahui spektrum dari senyawa antibakteri yang terdapat pada asap cair, dimana suatu zat dikatakan berspektrum luas apabila dapat menghambat pertumbuhan bakteri Gram negatif dan Gram positif, berspektrum sempit apabila hanya menghambat pertumbuhan dari salah satu bakteri tersebut, misalkan Gram negatif atau Gram positif saja (Pelezer, 1997).

Pengujian antibakteri asap cair menggunakan metode difusi cakram. Efektivitas zat antibakteri ditunjukkan oleh zona hambat. Zona hambat tampak sebagai area jernih atau bersih yang mengelilingi cakram tempat zat antibakteri pada asap cair berdifusi. Diameter zona hambat selanjutnya diukur dengan menggunakan jangka sorong (Harmita, 2008).

Diameter zona bening disekitar cakram yang mengandung asap cair kemudian dibandingkan dengan diameter zona bening yang terbentuk di sekitar cakram yang

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengandung kontrol positif yaitu Tetrasiklin HCl dengan konsentrasi 1000 ppm dan kontrol negatif yaitu pelarut aquades steril.

Pengujian dengan metode difusi cakram ini bertujuan mengetahui efektifitas antibakteri tertinggi dengan membandingkan tiga asap cair yang dihasilkan, yaitu pada suhu 200-2500C, 280-3500C dan >4000C. Pada pengujian ini pengenceran yang digunakan adalah 0 kali, 10 kali dan 50 kali. Penggunaan tiga konsentrasi yang digunakan dilakukan untuk mengetahui besarnya potensi aktivitas larutan uji dalam menghambat pertumbuhan bakteri (Wayan, 2012).

Hasil yang diperoleh, menunjukkan ketiga asap cair memiliki kemampuan penghambatan terhadap pertumbuhan kedua bakteri uji. Ditunjukkan dengan terbentuknya zona hambat di sekeliling cakram pada semua konsentrasi asap cair. Kemampuan penghambatan asap cair tergantung pada konsentrasi yang digunakan. Kemampuan penghambatan berbanding lurus dengan ukuran diameter zona hambat yaitu semakin tinggi konsentrasi asap cair maka diameter zona hambat akan semakin besar, dan begitu juga sebaliknya (Lampiran 14).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Asap cair suhu 200-2500C, 280-3500C dan >4000C dengan pengenceran 0 kali atau konsentrasi 100% mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus ATCC 25923 yang ditunjukkan oleh diameter zona hambat masing-masing secara berurutan sebesar 33,7 mm; 40,55 mm; dan 49,55 mm. Sedangkan zona hambat yang terbentuk pada bakteri Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 masing-masing adalah 28,2 mm untuk asap cair 200-2500C; 38,7 mm untuk asap cair 280-3500C dan 43,55 mm untuk asap cair >4000C. Pengenceran 0 kali (konsentrasi 100%) merupakan konsentrasi asap cair murni sehingga diameter zona hambat yang dihasilkan merupakan diameter penghambatan maksimum yang dapat dilakukan oleh asap cair.

Dengan pengenceran asap cair sebanyak 10 kali atau setara dengan 100 mg/mL diameter zona hambat yang dihasilkan asap cair suhu pirolisis 200-2500C, 280-3500C dan >4000C pada bakteri Staphylococcus aureus ATCC 25923 masing-masing secara berurutan sebesar 11,05 mm; 19,5mm; dan 22,4 mm. Sedangkan zona hambat yang terbentuk pada bakteri Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 masing-masing adalah 12,6 mm untuk asap cair 200-2500C; 15,5 mm untuk asap cair 280-3500C dan 21,9 mm untuk asap cair >4000C.

Pada kontrol negatif pelarut berupa aquades steril yang digunakan sebagai pembanding pada uji efektifitas antibakteri ini tidak menunjukkan adanya penghambatan. Diameter zona hambat yang terbentuk pada kontrol positif yaitu tetrasiklin HCl dengan konsentrasi 1000 ppm untuk bakteri Staphylococcus aureus ATCC 25923 sebesar 19,25dan untuk Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 adalah 19,75 mm. Tetrasiklin merupakan salah satu antibiotik yang memperlihatkan spektrum antibiotik luas yang meliputi Gram positif dan Gram negatif (Anonim, 2007).

Berdasarkan hasil perhitungan zona hambat menggunakan jangka sorong menunjukkan bahwa tingkat penggunaan asap cair berpengaruh sangat nyata terhadap diameter daerah hambatan pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus ATCC 25923 dan Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853, artinya penggunaan asap cair pada konsentrasi yang berbeda-beda memberikan pengaruh yang berbeda terhadap luas

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta diameter daerah hambatan. Dimana semakin tinggi konsentrasi asap cair yang digunakan, maka pembentukan zona hambat pada uji aktivitas terhadap kedua bakteri juga semakin besar (Samsundari, 2006).

Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Dwijoseputro (1987) bahwa besar kecilnya diameter daerah hambatan disekitar cakram (disk) tergantung pada konsentrasi obat atau bahan obat yang digunakan. Apabila cakram (disk) yang digunakan mengandung bahan obat maka pertumbuhan bakteri akan terhenti dan sekitar cakram (disk) akan terlihat bening karena tidak ditumbuhi bakteri setelah diinkubasi 18 sampai 24 jam pada suhu 370C.

Diameter zona hambatan yang terbentuk pada tetrasiklin HCl 1000 ppm sebagai antibiotik pembanding terhadap bakteri Staphylococcus aureus ATCC 25923 dan larutan uji asap cair suhu pirolisis 200-2500C dengan pengenceran 10X membentuk zona hambat parsial (Lampiran 13), hal ini dapat disebabkan karena konsentrasi zat antibakteri yang berdifusi sampai ke daerah itu semakin berkurang, sehingga tidak cukup untuk menghambat semua pertumbuhan bakteri (Elya, 2009).

Zona hambat yang terbentuk pada uji antibakteri terbagi menjadi dua, yaitu yang bersifat total apabila daerah sekeliling silinder cakram berwarna jernih yang berarti bakteri uji benar-benar sensitif terhadap konsentrasi asap cair yang ditambahkan dan bersifat parsial apabila zona hambat yang terbentuk di sekeliling silinder cakram masih terdapat beberapa koloni bakteri uji (Elya, 2009).

Hasil pengujian aktivitas antibakteri asap cair tempurung kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) terhadap bakteri Staphylococcus aureus ATCC 25923 dan Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 disimpulkan kuat. Davis dan Stout (1971) menyatakan bahwa apabila zona hambat yang terbentuk pada uji difusi agar berukuran kurang dari 5 mm, maka aktivitas penghambatannya dikategorikan lemah. Apabila zona hambat berukuran 5-10 mm dikategorikan sedang, 10-19 mm dikategorikan kuat dan 20 mm atau lebih dikategorikan sangat kuat.

Dari ketiga asap cair pada berbagai rentang suhu pirolisis maka dapat disimpulkan asap cair yang memiliki potensi antibakteri tertinggi adalah asap cair pada suhu pirolisis >4000C. Seperti pada penjelasan sebelumnya, hasil pengamatan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pH ketiga asap cair menunjukkan bahwa suhu pirolisis >4000C mempunyai pH paling rendah dibandingkan asap cair lainnya yaitu 2,62 dan memiliki kandungan asam organik terbesar dengan persentasenya sebesar 8,896%.

Menurut Zuraida (2008), pH minimal pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus adalah 4,0 dan pH minimal pertumbuhan untuk Pseudomonas aeruginosa adalah 7,2 sedangkan pH asap cair yang ditambahkan sangat rendah yaitu 2,62 sehingga kematian bakteri selain disebabkan oleh adanya aktivitas senyawa antibakteri dalam asap cair tempurung kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) juga disebabkan oleh pH lingkungan yang lebih rendah dibandingkan pH minimal pertumbuhan untuk kedua bakteri uji.

Dokumen terkait