HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.6. Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji t dan uji F. Berdasarkan print output SPSS versi 18,0, diperoleh hasil pengujian sebagai berikut:
Regression Studentized Residual
2 1 0 -1 -2 R egressi on S tandardi z ed P redi ct ed V a lu e 3 2 1 0 -1 -2 Scatterplot Dependent Variable: Y
Tabel 4.7 Coefficients(a)
Model Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 57362407564,733 13669815575,669 4,196 0,001 X1 -3468243846,022 829941264,463 -0,073 -4,179 0,001 X2 -2327275510,098 685521950,179 -0,070 -3,395 0,004 X3 4,031 0,090 0,934 44,813 0,000 a Dependent Variable: Y
Sumber: Diolah dari Lampiran 1
Berdasarkan tabel di atas, dapat dijelaskan hasil uji t, sebagai berikut: 1. Nilai thitung untuk variabel tingkat suku bunga sebesar -4,179 dengan tingkat
signifikan 0,001, sehingga H0 ditolak dan H1 diterima, karena tingkat signifikansi sebesar 0,001 < 0,05. Artinya, tingkat suku bunga berpengaruh negatif dan signifikan secara parsial terhadap kepemilikan rumah oleh Masyarakat Kota Medan di Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Cabang Medan.
2. Nilai thitung untuk variabel uang muka sebesar -3,395 dengan tingkat signifikan 0,004, sehingga H0 ditolak dan H1 diterima, karena tingkat signifikansi sebesar 0,004 < 0,05. Artinya, uang muka berpengaruh negatif dan signifikan secara parsial terhadap kepemilikan rumah oleh Masyarakat Kota Medan di Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Cabang Medan.
3. Nilai thitung untuk variabel jumlah subsidi sebesar 44,813 dengan tingkat signifikan 0,000, sehingga H0 ditolak dan H1 diterima, karena tingkat signifikansi sebesar 0,000 < 0,05. Artinya, jumlah subsidi berpengaruh positif dan signifikan secara parsial terhadap kepemilikan rumah oleh Masyarakat Kota Medan di Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Cabang Medan.
Tabel 4.8 Anova(b)
Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Regression 20693579036020230000000 3 6897859678673410000000 1807,97 0,000(a)
Residual 61043908583578500000 16 3815244286473659000
Total 20754622944603810000000 19
a Predictors: (Constant), X3, X1, X2 b Dependent Variable: Y
Sumber: Diolah dari Lampiran 1
Berdasarkan tabel di atas, diketahui nilai Fhitung sebesar 1.807,97 dengan tingkat signifikan 0,000, sehingga H0 ditolak dan H1 diterima, karena tingkat signifikansi sebesar 0,000 < 0,05. Artinya, tingkat suku bunga, uang muka dan jumlah subsidi berpengaruh signifikan secara simultan terhadap kepemilikan rumah oleh Masyarakat Kota Medan di Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Cabang Medan. Dengan demikian, hipotesis diterima.
4.7. Pembahasan
Nilai koefisien korelasi menunjukkan hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Nilai koefisien determinan menunjukkan sejauhmana variabel terikat dapat dijelaskan oleh variabel bebas. Berdasarkan print output SPSS versi 18,0, diperoleh hasil pengujian sebagai berikut:
Tabel 4.9 Model Summary(b)
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 0,999(a) 0,997 0,997 1953265032,32 a Predictors: (Constant), X3, X1, X2 b Dependent Variable: Y
Dari tabel 4.9, diketahui nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0,999. Artinya, fasilitas kredit perumahan rakyat mempunyai hubungan yang sangat kuat terhadap kepemilikan rumah oleh Masyarakat Kota Medan di Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Cabang Medan. Nilai koefisien determinan (R Square) sebesar 0,997. Artinya, kepemilikan rumah dapat dijelaskan oleh fasilitas kredit perumahan rakyat 99,7% sedangkan 0,3% lagi dijelaskan oleh variabel lainnya.
Berdasarkan tabel 4.7, diperoleh persamaan regresi linear berganda adalah Y = 57.362.407.564,733 – 3.468.243.846,022X1 – 2.327.275.510,098X2 + 4,031X3. Artinya, fasilitas kredit perumahan rakyat (tingkat suku bunga, uang muka dan jumlah subsidi) berpengaruh terhadap kepemilikan rumah oleh Masyarakat Kota Medan di Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Cabang Medan. Hal ini dapat dilihat dari nilai koefisien regresinya.
Dilihat dari nilai koefisien regresinya, diketahui bahwa pengaruh variabel tingkat suku bunga terhadap kepemilikan rumah sebesar -3.468.243.846,022. Artinya, setiap terjadi kenaikan tingkat suku bunga KPR, maka kepemilikan rumah sakit turun sebesar Rp 3.468.243.846,022. Dengan demikian, terdapat pengaruh negatif antara tingkat suku bunga terhadap kepemilikan rumah. Hal ini terbukti dari hasil uji t, dimana nilai thitung untuk variabel tingkat suku bunga sebesar -4,179 dengan tingkat signifikan 0,001, sehingga H0 ditolak dan H1 diterima, karena tingkat signifikansi sebesar 0,001 < 0,05. Artinya, tingkat suku bunga berpengaruh negatif dan signifikan secara parsial terhadap kepemilikan rumah oleh Masyarakat Kota Medan di Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Cabang Medan. Dengan demikian, hipotesis diterima.
Hasil penelitian ini mendukung penelitian Elisabeth (2012), Utami (2013), Lubis dan Ginting (2008). Salah satu faktor yang dipertimbangkan oleh masyarakat sebelum membeli KPR bersubsidi adalah tingkat suku bunga KPR yang ditawarkan oleh bank. Jika tingkat suku bunga semakin tinggi, maka kemampuan masyarakat untuk membayar semakin rendah, sehingga keinginan mereka untuk membeli rumah semakin rendah. Untuk meningkatkan kepemilikan rumah, maka pemerintah menetapkan suku bunga KPR mulai tahun 2012 sampai saat ini sebesar 7,25% per tahun.
Dilihat dari nilai koefisien regresinya, diketahui bahwa pengaruh variabel uang muka terhadap kepemilikan rumah sebesar -2.327.275.510,098. Artinya, setiap terjadi kenaikan uang muka KPR, maka kepemilikan rumah sakit turun sebesar Rp 2.327.275.510,098. Dengan demikian, terdapat pengaruh negatif antara uang muka terhadap kepemilikan rumah. Hal ini terbukti dari hasil uji t, dimana nilai thitung untuk variabel uang muka sebesar -3,395 dengan tingkat signifikan 0,004, sehingga H0 ditolak dan H1 diterima, karena tingkat signifikansi sebesar 0,004 < 0,05. Artinya, uang muka berpengaruh negatif dan signifikan secara parsial terhadap kepemilikan rumah oleh Masyarakat Kota Medan di Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Cabang Medan. Dengan demikian, hipotesis diterima.
Hasil penelitian ini mendukung penelitian Utami (2013). Tetapi berbeda dengan hasil penelitian Elisabeth (2012), Lubis dan Ginting (2008). Hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa semakin tinggi uang muka KPR tipe 36, maka kepemilikan rumah semakin rendah. Untuk meningkatkan kepemilikan
rumah, seharusnya pihak bank menawarkan KPR bersubsidi tanpa uang muka untuk memudahkan masyarakat memilikinya.
Dilihat dari nilai koefisien regresinya, diketahui bahwa pengaruh variabel uang muka terhadap kepemilikan rumah sebesar 4,031. Artinya, setiap terjadi kenaikan jumlah subsidi, maka kepemilikan rumah sakit turun sebesar Rp 4,031. Dengan demikian, terdapat pengaruh positif antara jumlah subsidi dengan kepemilikan rumah. Hal ini terbukti dari hasil uji t, dimana nilai thitung untuk variabel jumlah subsidi sebesar 44,813 dengan tingkat signifikan 0,000, sehingga H0 ditolak dan H1 diterima, karena tingkat signifikansi sebesar 0,000 < 0,05. Artinya, jumlah subsidi berpengaruh positif dan signifikan secara parsial terhadap kepemilikan rumah oleh Masyarakat Kota Medan di Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Cabang Medan. Dengan demikian, hipotesis diterima.
Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian Utami (2013), Elisabeth (2012), Lubis dan Ginting (2008). Untuk membantu masyarakat berpenghasilan rendah, maka pemerintah memberikan subsidi KPR bersubsidi merupakan kredit pemilikan rumah program kerjasama dengan Kementerian Perumahan Rakyat dengan suku bunga rendah dan cicilan ringan dan tetap sepanjang jangka waktu kredit. Pemerintah subsidi berupa subsidi cicilan dan bunga atas pembiayaan yang diberikan oleh bank.
BAB V