• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pengujian Hipotesis

1. Analisis Regresi Sederhana

Di bawah ini akan diuraikan regresi sederhana dari masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat, yaitu:

Tabel-17 Regresi Sederhana Variabel Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam (PAI) (X1) dengan Pengamalan Ibadah Siswa (Y).

Model Unstandardized Coefficients

B Std. Error

(Constant) 61.252 2.658

Hasil Belajar PAI 1.401 .184

Berdasarkan tabel di atas regresi sederhana antara Variabel Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam (X1) dengan Pengamalan Ibadah siswa (Y) yaitu: Y=61.252 + 1.401X1 hal ini dapat dimaknai ada pengaruh yang positif antara Variabel Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam (X1) dengan Pengamalan Ibadah (Y).

Tabel-18 Regresi Sederhana Variabel Pengalaman Ekstrakurikuler Tadzkir (X2) dengan Pengamalan Ibadah Siswa (Y)

Model Unstandardized Coefficients

B Std. Error

(Constant) 24.856 5.003

Pengalaman Tadzkir

.830 .073

Berdasarkan tabel di atas regresi sederhana antara Variabel pengalaman ekstrakurikuler tadzkir (X2) dengan Pengamalan Ibadah

Siswa (Y) yaitu: Y=24.856 + 0.830X1 hal ini dapat dimaknai ada pengaruh yang positif antara pengalaman ekstrakurikuler tadzkir (X2) dengan Pengamalan Ibadah Siswa (Y).

2. Analisis Regresi Berganda

Analisis korelasi berganda digunakan untuk mencari hubungan antara variabel bebas yang lebih dari satu variabel dengan variabel terikat. Berdasarkan judul penelitian ini yaitu pengaruh hasil belajar Pendidikan Agama Islam, kegiatan ekstrakurikuler tadzkir terhadap pengamalan ibadah siswa pada siswa Sekolah Menengah Pertama di Kota Manado.

Berdasarkan hasil korelasi berganda menggunakan SPSS 21 yaitu:

Tabel-19 Hasil Korelasi Berganda Menggunakan SPSS 21

R R Square Adjusted R

Square

Std. Error of

the Estimate F Sig

.605a .366 .362 6.99970 85.262 0.000b

Berdasarkan tabel di atas terlihat korelasi berganda yaitu 0.605 artinya mempunyai hubungan yang kuat antara variabel hasil belajar Pendidikan Agama Islam, pengalaman tadzkir terhadap pengamalan ibadah pada Siswa Sekolah Menengah Pertama di Kota Manado. Hasil determinan menunjukkan hasil yaitu 0.366 atau 36.6% artinya perubahan dari pengamalan ibadah siswa Sekolah

Menengah Pertama dapat dijelaskan dengan variabel hasil belajar Pendidikan Agama Islam, pengalaman ekstrakurikuler tadzkir sebesar 36,6% sedangkan 63.4% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti pada penelitian ini.

Tabel-20 Hasil Regresi Berganda Menggunakan SPSS 21

Model Unstandardized

Coefficients t Sig.

B Std. Error

1

(Constant) 19.778 4.862 4.068 .000

Hasil Belajar PAI .922 .168 5.496 .000

Ekstrakurikuler Tadzkir

.712 .073 9.704 .000

Berdasarkan tabel di atas maka regresi berganda dapat diuraikan sebagai berikut : Y = 19.778+0.922X1+0.712X2 hal ini dapat dimaknai bahwa ada pengaruh yang positif antara hasil belajar Pendidikan Agama Islam (X1), dan pengalaman ekstrakurikuler tadzkir (X2) terhadap pengamalan ibadah (Y) pada Siswa Sekolah Menengah Pertama di Kota Manado.

3. Uji Hipotesis

Uji Hipotesis hubungan dari masing-masing variabel bebas dengan variabel terikat. Persyaratannya uji hipotesisnya yaitu:

H0: Tidak ada pengaruh yang signifikan antara variabel bebas (X1,

H1: Ada pengaruh yang signifikan antara masing-masing variabel bebas (X1, X2) terhadap variabel terikat (Y)

Jika Sig > 0.05 maka terima H0 dan tolak H1 namun jika Sig <

0.05 maka terima H1 dan tolak H0 berdasarkan persyaratan ini maka

hasil hipotesis penelitiannya: Hipotesis-1

Dengan menggunakan SPSS 21.00 diperoleh hasil significan (sig) = 0.004 dan tingkat kesalahan sebesar 0.05 (5%) dapat

diuraikan 0.004< 0.05 atau Sig < 0.05 sehingga terima H1 dan tolak

H0 artinya ada pengaruh yang signifikan antara hasil belajar

Pendidikan Agama Islam (PAI) (X2) dengan pengamalan ibadah siswa (Y) Sekolah Menengah Pertama di Kota Manado.

Hipotesis-2

Dengan menggunakan SPSS 21.00 diperoleh hasil significant (sig) = 0.000 dan tingkat kesalahan sebesar 0.05 (5%) dapat

diuraikan 0.000< 0.05 atau Sig < 0.05 sehingga terima H1 dan tolak

H0 artinya ada pengaruh yang signifikan antara pengamalan

ekstrakurikuler tadzkir (X3) dengan pengamalan ibadah siswa (Y) Sekolah Menengah Pertama di Kota Manado.

Hipotesis-3

Pada hipotesis 3 menggunakan uji hipotesis secara

Pengalaman Ekstrakurikuler tadzkir (X2) terhadap pengamalan ibadah siswa (Y) Sekolah Menengah Pertama di Kota Manado. Persyaratan uji hipotesis, yaitu:

H0: Ada pengaruh yang signifikan secara simultan variabel bebas

(X1,X2) dengan variabel terikat (Y)

H1: Tidak ada pengaruh yang signifikan secara simultan variabel

bebas (X1,X2) dengan variabel terikat (Y)

Dengan menggunakan statistic Uji-F untuk mencari hipotesis secara simultan antara hasil belajar Pendidikan Agama Islam (X1), pengalaman tadzkir (X2) terhadap pengamalan ibadah siswa (Y).Jika

Sig > 0.05 maka terima H0 dan tolak H1 namun jika Sig < 0.05 maka

terima H1 dan tolak H0 berdasarkan persyaratan ini maka hasil

hipotesis penelitiannya:

Diperoleh hasil significant (sig) = 0.000 dan tingkat kesalahan sebesar 0.05 (5%) dapat diuraikan 0.000< 0.05 atau Sig < 0.05

sehingga terima H1 dan tolak H0 artinya ada pengaruh yang signfikan

antara Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam (X1), Pengalaman Ekstrakurikuler tadzkir (X2) terhadap pengamalan ibadah siswa (Y) Sekolah Menengah Pertama di Kota Manado.

C. Pembahasan

Pada penelitian ini diuraikan pengaruh hasil belajar Pendidikan Agama Islam (X1), pengalaman ekstrakurikuler tadzkir (X2) terhadap

pengamalan Ibadah siswa (Y) pada siswa Sekolah Menengah Pertama di Kota Manado. Untuk itu akan dianalisis secara deskriptif dan regresi berganda, serta pengujian hipotesis penelitian.

Analisis deskriptif variabel hasil belajar Pendidikan Agama Islam (X1) pada kategori cukup baik berjumlah 29 responden (11%), baik berjumlah 145 responden (37%) dan baik sekali berjumlah 124 responden (49%). Hal ini dapat dimaknai bahwa hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam Sekolah Menengah Pertama dominan pada kriteria baik.

Pendidikan sebagai suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian perlu mendapatkan perhatian yang besar dari seluruh elemen yang terlibat dalam pembangunan pendidikan baik pemerintah,

pengelola maupun masyarakat. ”Melalui penciptaan Sumber Daya

Manusia (SDM) unggul dan berkualitas, pendidikan diyakini akan memberikan kontribusi positif bagi kemajuan dan pembangunan, baik

pembangunan jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang70.

Dalam rangka melahirkan Sumber Daya Manusia (SDM) organisasi pendidikan yang sangat penting, karena proses pendidikan dan pembelajaran dilaksanakan secara formal di sekolah. Sekolah harus memiliki guru akan sehingga meningkatkan hasil belajar siswa.

70Junaidah A. Azis. Meningkatkan Hasil Belajar PAI Materi Salat Berjamaah Melalui Metode Demonstrasi.Jurnal Pencerahan Vol. 6 no. 2 September 2012 (Majelis Pendidikan Daerah Aceh 2012), h. 48-55

Pengelolaan pembelajaran diawali dengan proses penyusunan rencana. Persiapan yang berisikan hal-hal yang perlu atau harus dilakukan oleh guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Unsur utama dalam perencanaan pembelajaran disusun dalam dokumen Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan berkarakter yang terdiri dari program tahunan, program semester, minggu efektif, alokasi waktu, silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Proses pembelajaran pendidikan agama, harus dilakukan sesuai dengan ketetapan Republik Indonesia Nomor 16 tahun 2010 tentang pengelolaan pendidikan agama di sekolah. Dalam bab IV pasal 8 ditetapkan bahwa:(1) Proses pembelajaran pendidikan agama dilakukan dengan mengedepankan keteladanan dan pembiasaan akhlak mulia serta pengamalan ajaran agama (2) dengan memanfaatkan berbagai sumber dan media belajar yang dapat mendorong pencapaian tujuan pendidikan agama (3) Proses pembelajaran pendidikan agama dilakukan melalui kegiatan intrakurikuler dan ekstra (Permenag Nomor 16 tahun 2010 Bab IV pasal 8)

Analisis deskriptif variabel pengalaman ekstrakurikuler tadzkir (X3) pada kategori kurang baik berjumlah 61 responden (20%), cukup baik berjumlah 62 responden (21%), dan baik berjumlah 175 responden (59%). Hal ini dapat dimaknai bahwa variabel kegiatan ekstrakurikuler tadzkir dominan pada kriteria baik

Pendidikan di sekolah secara umum menyelenggarakan 2 kegiatan, yaitu kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler. Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran yang sudah terstruktur dan terjadwal. Sedangkan pendidikan melalui mata pelajaran yang terstruktur dan terjadwal sesuai dengan standar isi, termasuk kegiatan intrakurikuler. Adapun kegiatan ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam di sekolah adalah kegiatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang dilakukan di luar jam pelajaran intrakurikuler, yang dilaksanakan di sekolah atau di luar sekolah untuk lebih memperluas pengetahuan, wawasan, kemampuan, meningkatkan dan menerapkan nilai pengetahuan dan kemampuan yang telah dipelajari dalam kegiatan intrakurikuler yang dituangkan dalam standar kompetensi kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia. Dalam panduan pemgembangan diri yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Nasional, ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat dan minat. Pengertian ekstrakurikuler yang terdapat pada Peraturan Menteri Agama No 16 tahun 2010 bahwa kegiatan ekstrakurikuler adalah upaya pemantapan dan pengayaan nilai- nilai dan norma serta pengembangan kepribadian, bakat dan minat

peserta didik pendidikan agama yang dilaksanakan di luar jam

intrakurikuler dalam bentuk tatap muka atau non tatap muka.71

Analisis deskriptif variabel pengamalan ibadah siswa (Y) pada kategori kurang baik berjumlah 48 responden (16%), cukup baik berjumlah 104 responden (45%), dan baik berjumlah 145 responden (49%). Hal ini dapat dimaknai bahwa variabel pengalaman ibadah siswa dominan pada kriteria baik.

Hasil korelasi berganda yaitu 0.731 artinya mempunyai hubungan yang kuat antara variabel hasil belajar Pendidikan Agama Islam, kegiatan ekstrakurikuler tadzkir terhadap pengamalan ibadah pada siswa Sekolah Menengah Pertama di Kota Manado. Hasil determinan menunjukkan hasil yaitu 0.53 atau 53% artinya perubahan dari pengamalan ibadah siswa Sekolah Menengah Pertama dapat dijelaskan dengan variabel hasil belajar Pendidikan Agama Islam, kegiatan ekstrakurikuler tadzkir sebesar 53% sedangkan 47% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti pada penelitian ini.

Pengamalan ibadah yakni perbuatan yang dilakukan seseorang sebagai usaha menghubungkan dan mendekatkan diri kepada Allah Swt

71Anwar Hafid.Pengembangan Ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam di

Sekolah. Alamat Websidehttp://anwarhapid.blogspot.co.id/2013/01/pengembangan- ekstrakulikuler-pendidikan.html. 2013

dengan taat melaksanakan segala perintah dan anjuran-Nya serta

menjauhi segala larangn-Nya.72

Analisis regresi berganda Y = 19.778+0.922X1+0.712X2 hal ini dapat dimaknai bahwa ada pengaruh yang positif antara hasil belajar Pendidikan Agama Islam (X1), dan kegiatan ekstrakurikuler tadzkir (X2) terhadap pengamalan ibadah pada Siswa (Y) Sekolah Menengah Pertama di Kota Manado.

Dari hasil di atas maka mempunyai hubungan yang positif namun berdasarkan fungsi regresi berganda di atas yang paling berpengaruh adalah pengalaman ekstrakurikuler tadzkir, hasil belajar Pendidikan Agama Islam Sekolah Menengah. Hal ini memberikan suatu temuan bahwa kegiatan tadzkir akan menjadi rekomendasi untuk diprogramkan di sekolah-sekolah yang ada di Kota Manado, untuk itu perlu melibatkan guru-guru sebagai Pembina dan mengontrol pelaksanaan kegiatan- kegiatan tersebut.

Implikasi Hasil Penelitian berdasarkan tujuan penelitian, maka akan diuraikan yaitu:

72Riyadi. Pengaruh Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam Terhadap Pengamalan Ibadah Siswa (Studi Kasus di SMP Muhammadiyah Salatiga Tahun 2012). Penelitian. Jurusan Tarbiyah. (Salatiga. Program Studi Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga). 2012. h. 45

1. Pengaruh Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam Terhadap Pengamalan Ibadah Siswa Sekolah Menengah Pertama di Kota Manado

Berdasarkan Hipotesis-1 diperoleh hasil significant (sig) = 0.004 dan tingkat kesalahan sebesar 0.05 (5%) dapat diuraikan

0.004< 0.05 atau Sig < 0.05 sehingga terima H1 dan tolak H0 artinya

ada pengaruh yang signifikan antara hasil belajar Pendidikan Agama Islam (X1) terhadap pengamalan ibadah siswa (Y) Sekolah Menengah Pertama di Kota Manado.

Hal ini sesuai dengan penelitian dari Wahyu Hidayat. Yang menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang positif antara pelaksanaan pendidikan agama Islam dan efeknya terhadap pengamalan ibadah siswa, di mana korelasi tersebut tergolong sedang atau cukup karena korelasinya berada pada rentang antara 0.40-0.70 berdasarkan dari tingkat kesesuaian pada kedua variabel tersebut, maka dapat diketahui dari koefisien determinasinya adalah sebesar 37,0881% dan 62.9119% merupakan sumbangan dari variabel lain yang juga menunjang pengamalan ibadah Siswa.

Pendidikan Agama Islam diartikan sebagai usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik dalam meyakini, memahami, menghayati dan mengamalkan agama Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan pelatihan. Pendidikan Islam diselenggarakan

dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan antar umat beragama dalam masyarakat untuk

mewujudkan persatuan nasional.73

Sedangkan pendidikan Agama Islam menurut Zuhairini adalah usaha-usaha sistematis dan pragmatis dalam membentuk anak didik agar nantinya setelah selesai pendidikan ia dapat memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran agama Islam yang telah diyakininya secara menyeluruh serta menjadikan ajaran agama Islam sebagai suatu pandangan dalam keselamatan dan kesejahteraan

hidup di dunia dan akhirat.74

Dari uraian di atas dapat dimaknai bahwa hasil belajar pendidikan agama Islam bukan hanya dipelajari secara konseptual akan tetapi harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Artinya pendidikan agama Islam harus dipahami, dihayati dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu mempunyai korelasi yang positif antara hasil belajar siswa dengan pengamalan ibadah siswa, artinya jika pengetahuan bagus maka akan memberikan dampak yang baik terhadap pengamalan ibadah termasuk pelaksanaan salat Fardhu dan sunah.

73Arifin. Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara. 2006), h.6

74Zuhairini. Filsafat Pendidikan Islam. Cetakan Ke dua (Jakarta: Bumi Aksara. 1991), h.28

2. Pengaruh Pengalaman Ekstrakurikuler Tadzkir Terhadap Pengamalan Ibadah Siswa Sekolah Menengah Pertama di Kota Manado

Berdasarkan Hipotesis-2 diperoleh hasil significant (sig) = 0.000 dan tingkat kesalahan sebesar 0.05 (5%) dapat diuraikan

0.000< 0.05 atau Sig < 0.05 sehingga terima H1 dan tolak H0 artinya

ada pengaruh yang signifikan antara pengamalan ekstrakurikuler tadzkir (X2) terhadap pengamalan ibadah siswa (Y) Sekolah Menengah Pertama di Kota Manado.

Jadi pengalaman ekstrakurikuler tadzkir sangat berpengaruh terhadap pengamalan ibadah siswa pada Sekolah Menengah Pertama di Kota Manado. Hal ini sejalan dengan artikel dari Anwar

Hafid75. Ada beberapa alasan betapa pentingnya mengikuti kegiatan

ekstrakurikuler tadzkir di sekolah:

Pertama, Kegiatan ekstrakurikuler dapat mengembangkan bakat yang dimiliki oleh peserta didik sekolah tersebut. Contoh,

pengembangan baca tulis Al-Qur’an, menulis kaligrafi dan

sebagainya. Sebab tujuan pertama dari kegiatan ini adalah memberi tempat dan mengembangkan bakat yang dimiliki oleh peserta didik. Sehingga bakat dan minat peserta didik dapat ditampung, dikembangkan dan dikoordinasi dengan tepat.

75Anwar Hafid. Op.cit,. h.1

Kedua, Kegiatan ekstrakurikuler dapat memperluas pergaulan remaja. Misalnya peserta didik menekuni kegiatan yang berkaitan dengan seni yang berbasis agama Islam, ketika terdapat pertandingan dengan sekolah lain, maka hal tersebut merupakan peluang peserta didik untuk mendapatkan teman baru.

Ketiga, Kegiatan sekolah ini, efektif dalam usaha pencegahan kenakalan remaja. Sebab remaja tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal-hal yang kurang bermanfaat. Selain itu peserta didik juga memiliki lingkungan pergaulan yang sehat dan mendapat pengawasan serta pembimbingan yang baik.

Keempat, Kegiatan ini, akan semakin mengasah bakat kreatif remaja. Misalnya peserta didik yang mengikuti kelas seni tari modern, biasanya mereka akan mencoba membuat koreografi tarian modern sendiri. Jika dalam pendidikan agama Islam bisa dikembangkan kegiatan, hadrah dan samrah.

Kelima, Kegiatan sekolah ini, bila ditekuni akan berbuah prestasi yang dapat dibanggakan. Bukan hanya dapat dibanggakan bagi peserta didik tersebut tetapi juga bagi sekolah yang bersangkutan, seperti popularitas sekolah semakin baik. Sedangkan bagi peserta didik, prestasi tersebut dapat membuahkan beasiswa peserta didik, meningkatkan rasa percaya diri, dan dapat menarik perhatian lawan jenisnya, hingga menjadi seorang idola remaja.

Implementasi kegiatan ekstrakurikuler tadzkir pada umumnya di Manado, yaitu:

a. Salat Berjamaah

Salat berjamaah dilakukan oleh semua siswa muslim yang ada di Sekolah, dan biasanya yang menjadi Imam adalah guru Pendidikan Agama Islam.

b. Kegiatan Baca Qur’an Bersama

Melakukan baca Al-Qur’an bersama dipimpin oleh ustad atau

guru Pendidikan Agama Islam, bagi siswa yang belum dapat

membaca Al-Qur’an diberikan kesempatan untuk belajar

membaca Al-Qur’an, dibantu oleh temannya atau guru

Pendidikan Agama Islam.

c. Membaca Salawat Nabi Bersama

Membaca salawat dilakukan oleh semua siswa dan satu orang ditunjuk untuk memimpin bacaan salawat, disamping itu juga guru atau ustad dapat menjadi pemimpin untuk membaca salawat Nabi

d. Ceramah Agama

Ceramah agama dilakukan untuk pelaksanaan pembinaan bagi siswa. Di samping itu juga dapat dilaksanakan ceramah agama yang dibawakan oleh siswa secara bergantian. Hal ini

bermanfaat untuk membantu siswa untuk dapat berbicara di depan umum.

Jadi kegiatan ekstrakuriluer tadzkir merupakan bagian terpenting untuk meningkatkan kompetensi pendidikan agama Islam siswa Sekolah Menengah Pertama di Kota Manado. Konsep pembiasaan untuk melaksanakan salat berjamaah, membacakan salawat nabi, dan juga melatih untuk berceramah sehingga dapat meningkatkan kemampuan untuk berbicara di depan umum.

3. Pengaruh Antara Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam Pengalaman Ekstrakurikuler Tadzkir Terhadap Pengamalan Ibadah Siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kota Manado

Berdasarkan hipotesis 3 Diperoleh hasil significant (sig) = 0.000 dan tingkat kesalahan sebesar 0.05 (5%) dapat diuraikan

0.000< 0.05 atau Sig < 0.05 sehingga terima H1 dan tolak H0 artinya

ada pengaruh yang signfikan antara Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam (X1), Pengalaman Ekstrakurikuler tadzkir (X2) terhadap pengamalan ibadah siswa (Y) Sekolah Menengah Pertama di Kota Manado.

Dalam standar kompetensi mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang berisi kemampuan minimal yang harus dikuasai siswa selama menempuh Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama, kemampuan ini berorientasi pada perilaku afektif dan

psikomotorik dengan dukungan pengetahuan kognitif dalam rangka memperkuat keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt.

Kemampuan-kemampuan yang tercantum dalam komponen

kemampuan dasar ini merupakan penjabaran dari kemampuan dasar umum yang harus dicapai di Sekolah Menengah Pertama yaitu: 1. Mampu membaca Al-Quran dan surat-surat pilihan sesuai

dengan tajwidnya, mengartikan, dan menyalinnya, serta mampu membaca, mengartikan dan menyalin hadits-hadits pilihan.

2. Beriman kepada Allah Swt, dan lima rukun Islam yang disertai dengan mengetahui fungsinya serta terefleksi dalam sikap perilaku, dan akhlak peserta didik dalam dimensi verikal maupun horizontal.

3. Mampu beribadah dengan baik dan benar sesuai dengan tuntunan syariat Islam baik ibadah wajib dan ibadah sunah maupun muamalah.

4. Mampu berakhlak mulia dengan meneladani sifat, sikap dan kepribadian Rasulullah serta Khulafaur Rasyidin.

5. Mampu mengambil manfaat dari sejarah peradaban Islam.76

Dari standar kompetensi di atas pada point ke-3 disebutkan bahwa siswa mampu beribadah dengan baik dan benar sesuai

76Depdiknas, Standar Kompetensi Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam SMP & MTS (Jakarta: Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas. 2003). h. 48

dengan syari’at Islam baik ibadah wajib dan ibadah sunah maupun muamalah. Hal ini menunjukkan ada keterkaitan antara hasil belajar siswa dengan kemampuan untuk melaksanakan ibadah siswa baik di rumah maupun di sekolah.

Sedangkan ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran dan pelayanan konseling untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidikan dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah atau

madrasah.77 Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa

kegiatan ekstrakurikuler tadzkir sebagai bagian penting dalam meningkatkan kompetensi atau kemampuan siswa khususnya pada mata pelajaran pendidikan agama Islam.

Dari hasil observasi pengamalan ibadah salat dan pengalaman tadzkir siswa Sekolah Menengah Pertama di Kota Manado khususnya Zuhur dan Asar masih belum maksimal, karena belum terorganisasi dengan baik. Pelaksanaan salat Zuhur dan Asar secara berjamaah dilaksanakan jika jumlah siswa muslim banyak, akan tetapi jika jumlah siswa muslim sedikit terlihat salat berjamaah

77Muhaimin dkk. Pengembangan Model KTSP pada Sekolah dan Madrasah (Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2008), h. 74

sangat jarang untuk dilakukan. Namun kegiatan-kegiatan tadzkir juga seperti itu, jika jumlah siswa muslim banyak kegiatan tadzkir dilaksanakan, namun jika jumlah siswa muslim sedikit maka hanya dilakukan bimbingan langsung oleh guru mata pelajaran pendidikan agama Islam.

Jadi secara komprehensif ada pengaruh positif dan signifikan antara hasil belajar pendidikan Agama Islam, pengalaman ekstrakurikuler tadzkir terhadap pengamalan ibadah siswa Sekolah Menengah Pertama di Kota Manado. Hal ini sejalan dengan beberapa jurnal sebagaimana diuraikan diatas.

Dokumen terkait