r = koefisien antara X dan Y
B. Analisis Induktif
2. Pengujian Hipotesis Interkorelasi
Adapun hasil analisis korelasi antara daya tahan kekuatan otot (X2) dan kelentukan pinggang(X3) terhadap kemampuan service atlet Klub Pelatihan Tenis Lapangan (PTL) UNP (X1) dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
a. Uji hipotesis satu
Dari Hipotesis yang diajukan dapat disimpulkan bahwa Terdapat hubungan yang signifikan antara daya tahan kekuatan otot (X2) dengan kemampuan service atlet Klub Pelatihan Tenis Lapangan (PTL) UNP (X1)
Setelah dilakukan analisis data terhadap kedua variabel maka didapat hasil sebagai berikut :
Tabel 6
Analisis korelasi antara daya tahan kekuatan otot lengan (X2) dengan kemampuan service atlet Klub Pelatihan Tenis Lapangan (PTL) UNP
(X1) Hipotesis ro Kd Kesimpulan X2X1 0,307 30,7% Signifikan Keterangan : Dk = derajat kebebasan n = jumlah sampel
Berdasarkan hasil analisis korelasi dari tabel di atas diperoleh ro (0,307) pada taraf signifikan α = 0,05, akibatnya Ho ditolak (Ha diterima). Artinya, terdapat hubungan yang signifikan antara daya tahan kekuatan otot lengan (X2) dengan kemampuan service (X1) pada taraf signifikan α = 0,05. Hal ini berarti hipotesis diterima. Dan kemudian daya tahan kekuatan otot lengan (X2) berkontribusi sebesar 30,7% terhadap kemampuan service atlet Klub Pelatihan Tenis Lapangan (PTL) UNP(X1) Agar lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran 8.
b. Uji hipotesis dua
Dari Hipotesis yang diajukan dapat disimpulkan bahwa Terdapat hubungan yang signifikan antara kelentukan pinggang(X3) dengan kemampuan service atlet Klub Pelatihan Tenis Lapangan (PTL) UNP (X1) Setelah dilakukan analisis data terhadap kedua variabel maka didapat hasil sebagai berikut.
Tabel 6
Analisis korelasi antara kelentukan (X3) dengan kemampuan service atlet Klub Pelatihan Tenis Lapangan (PTL) UNP (X1)
Hipotesis ro kd Kesimpulan
X2X1 0,209 20,9% Signifikan
Keterangan : Dk = derajat kebebasan
N=jumlah sampel
Berdasarkan hasil analisis korelasi dari tabel di atas diperoleh ro (0,209) pada taraf signifikan α = 0,05, akibatnya Ho ditolak (Ha diterima). Artinya, terdapat hubungan yang signifikan antara kelentukan pinggang(X3) dengan kemampuan service (X1) pada taraf signifikan α = 0,05. Hal ini berarti hipotesis diterima. Dan kemudian kelentukan pinggang(X3) berkontribusi sebesar 20,9% terhadap kemampuan service atlet Klub Pelatihan Tenis Lapangan (PTL) UNP. Agar lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran 8.
c. Uji hipotesis tiga
Dari Hipotesis yang diajukan dapat disimpulkan bahwa Terdapat hubungan yang signifikan antara daya tahan kekuatan otot lengan (X2) dan kelentukan pinggang(X3) secara bersama-sama dengan kemampuan service atlet Klub Pelatihan Tenis Lapangan (PTL) UNP (X1).
Tabel 6
Analisis korelasi antara daya tahan kekuatan otot lengan (X2) dan kelentukan(X3) dengan kemampuan service atlet Klub Pelatihan Tenis
Lapangan (PTL) UNP (X1)
Hipotesis ro kd Kesimpulan
X2X3X1 0,516 51,6% Signifikan
Dk = derajat kebebasan N=jumlah sampel
Berdasarkan hasil analisis korelasi dari tabel di atas diperoleh ro (0,516) pada taraf signifikan α = 0,05, akibatnya Ho ditolak (Ha diterima). Artinya, terdapat hubungan yang signifikan antara daya tahan kekuatan otot lengan (X2) dan kelentukan pinggang(X3) secara bersama-sama dengan kemampuan service (X1) pada taraf signifikan α = 0,05. Hal ini berarti hipotesis diterima. Dan kemudian daya tahan kekuatan otot lengan (X2) dan kelentukan pinggang(X3) secara bersama-sama berkontribusi sebesar 51,6% terhadap kemampuan service atlet Klub Pelatihan Tenis Lapangan (PTL) UNP(X1). Agar lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran 8.
3. Pembahasan
a. Kontribusi daya tahan kekuatan otot lengan terhadap kemampuan service atlet Klub Pelatihan Tenis Lapangan (PTL) UNP
Pukulan service yang dilakukan secara berulang kali, maka sangat membutuhkan unsur daya tahan seorang atlet. Dalam hal ini daya tahan kekuatan otot lengan merupakan kemampuan organisme tubuh mengatasi kelelahan dalam melakukan pukulan service dengan baik. Adapun organisme tubuh yang dimaksudkan adalah otot-otot lengan yang terlibat untuk melakukan pukulan service dalam permainan tenis lapangan.
Arianto (2007:23-24) mengemukakan bahwa : 1. Untuk menggerakkan extensor siku, yaitu saat melakukan
ayunan dari belakang adalah otot triceps.
2. Untuk menggerakkan lengan pada saat ayunan ke depan yaitu otot teres mayor, sud scapularis, latisimus dorsi dan pectoralis mayor.
3. Untuk menggerakkan lengan sebagai pendorong saat melakukan gerakan lanjutan (follow through) yaitu otot latismus dorsi, pectoralis mayor dan biceps.
Suatu gerakan otot-otot tersebut saling mendukung antara otot yang satu dengan otot yang lain. Selanjutnya otot-otot bekerja sesuai dengan aktifitas yang dibutuhkan dan sesuai bagian-bagiannya, karena tanpa saling keterkaitan otot-otot tersebut tidak dapat mencapai hasil yang maksimal. Suatu gerakan yang maksimal dalam kemampuan pukulan service otot-otot yang dominan harus diberikan rangsangan berupa latihan yang terprogram secara sistematis. Akibat daya tahan kekuatan yang bagus yang dimiliki, atlet lebih mudah mengarahkan pukulan service pada daerah
pertahanan lawan sesuai dengan arah yang diinginkannya. Dalam hal ini lengan leluasa dapat bergerak bebas mengayunkan pukulan dan dengan unsur kekuatan dapat memukul bola dengan kuat, cepat, tepat dan terarah pada sasaran sehingga perolehan poin dapat diraih dengan mudah. Oleh sebab itu besar manfaatnya daya tahan kekuatan otot lengan dalam kemampuan pukulan service tenis lapangan.
Hasil penelitian membuktikan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara daya tahan kekuatan otot lengan dengan kemampuan pukulan service atlet pelatihan tenis lapangan (PTL) UNP dan berkontribusi sebesar 30,7%.
Menurut perhitungan skor yang diperoleh, maka tingkat hubungan yang dimiliki tergolong kategori sangat kuat. Hal tersebut terjadi karena atlet yang melakukannya memiliki kemampuan menengah ke atas, sehingga skor yang didapatkan menjadi lebih baik. Artinya daya tahan kekuatan otot lengan yang dimiliki atlet akan dapat meningkat apabila diberikan latihan. Akibat latihan yang diberikan akan sangat menguntungkan pada kemampuan pukulan service yang dilakukan, maksudnya semakin tinggi tingkat daya tahan kekuatan otot lengan semakin baik kemampuan pukulan service yang dihasilkan selama permainan berlangsung hingga ke 5 set permainan tenis lapangan.
b. Kontribusi Kelentukan terhadap kemampuan service atlet Klub Pelatihan Tenis Lapangan (PTL) UNP
Kemudian unsur kondisi fisik yang juga sangat berperan dalam melakukan service adalah Kelentukan tubuh dari seorang pemain tersebut. Kelentukan merupakan kemampuan suatu persendian beserta otot-otot disekitarnya untuk melakukan gerak secara maksimal. Sedangkan Soekarman, (1987:19) menyatakan bahwa ”kelentukan ditentukan oleh kondisi tulang, otot, ligament, jaringan ikat dan kulit”. Kelentukan tubuh sangat berperan pada saat mengambil awalan untuk melakukan service dengan melentikan badan kebelakang agar lebih mudah memberikan tenaga dan gesekan waktu memukul bola, karena keberhasilan suatu teknik dipengaruhi oleh kelentukan. Seorang pemain dikatakan memiliki kelentukan tubuh yang baik dalam melakukan service. apabila pemain itu dapat mengambil awalan yang baik sebelum melakukan service ke lapangan lawan, sehingga dapat menghasilkan service yang baik, keras dan akurat. Oleh sebab itu besar manfaatnya kelentukan dalam kemampuan pukulan service tenis lapangan.
Hasil penelitian membuktikan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kelentukan dengan kemampuan pukulan service atlet klub pelatihan tenis lapangan (PTL) UNP dan berkontribusi sebesar 20,9%.
Menurut perhitungan skor yang diperoleh, maka tingkat hubungan yang dimiliki tergolong kategori sangat kuat. Hal tersebut terjadi karena
atlet yang melakukannya memiliki kemampuan menengah ke atas, sehingga skor yang didapatkan menjadi lebih baik. Artinya kelentukan yang dimiliki atlet akan dapat meningkat apabila diberikan latihan. Akibat latihan yang diberikan akan sangat menguntungkan pada kemampuan pukulan service yang dilakukan, maksudnya semakin tinggi tingkat kelentukan semakin baik kemampuan pukulan service yang dihasilkan dalam permainan tenis lapangan.
c. Kontribusi daya tahan kekuatan otot lengan dan Kelentukan secara bersama-sama terhadap kemampuan service atlet Pelatihan Tenis Lapangan (PTL) UNP
Service adalah salah satu jenis pukulan dalam permainan tenis, menurut Hendri (2009:58) “Service merupakan pukulan yang diawali dengan melambungkan bola terlebih dahulu sebelum dipukul, setelah dipukul bola harus masuk kotak service daerah permainan lawan”. Service ini sangat penting dalam permainan tenis, karena tanpa melakukan service permainan tidak akan berlangsung dan service merupakan teknik atau cara memperoleh point yang efektif, serta seorang pemain harus bisa melakukan service dengan benar sehingga bisa memperoleh point. service sangat penting dalam permainan tenis. Untuk dapat melakukan service dibutuhkan unsur kondisi fisik yang baik juga dari pemain, salah satu unsur kondisi fisik yang dibutuhkan dalam melakukan service adalah kekuatan dan proses dalam melakukan kemampuan pukulan service di
sepanjang waktu permainan secara berulang-ulang dalam tempo waktu yang relatif lama dibutuhkan ketahanan seorang pemain yaitu unsur daya tahan otot lengan, Kemampuan daya tahan kekuatan akan dapat menghindari timbulnya kelelahan yang cepat pada penggunaan kekuatan dalam waktu lama dalam melakukan service permainan tenis lapangan, sehingga dapat mempertahankan kemampuan prestasi sampai akhir pertandingan. Dalam pelaksanaan service itu sendiri selain unsur daya tahan kekuatan otot lengan juga didukung oleh unsur Kelentukan. Dimana kelentukan akan dapat mempertinggi keterampilan Service dalam tenis lapangan terutama pada saat melentikan pinggang kebelakang dan mendorong tubuh kedepan saat memukul bola sehingga lebih memudahkan memberikan tenaga dan gesekan waktu memukul bola, sehingga lajunya akan cepat, kuat dan terarah.
Hasil penelitian membuktikan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara dayatahan kekuatan otot lengan dan kelentukan dengan kemampuan pukulan service atlet klub pelatihan tenis lapangan (PTL) UNP dan berkontribusi sebesar 51,6%. Dan masih dapat dilihat bahwa masih ada sebesar 48,4% tingkat persentase kondisi fisik lain yang dapat mendukung keberhasilan service.
Menurut perhitungan skor yang diperoleh, maka tingkat hubungan yang dimiliki korelasi antara daya tahan otot lengan dan kelentukan secara bersama-sama terhadap kemampuan pukulan service tergolong kategori sangat kuat. Hal tersebut terjadi karena atlet yang melakukannya memiliki
kemampuan menengah ke atas, sehingga skor yang didapatkan menjadi lebih baik. Artinya daya tahan otot lengan dan kelentukan yang dimiliki atlet akan dapat meningkat apabila diberikan latihan. Akibat latihan yang diberikan akan sangat menguntungkan pada kemampuan pukulan service yang dilakukan. Dan juga karena masih banyak faktor kondisi fisik maupun teknik yang dapat memperngaruhi kemampuan service maka pelatih juga lebih memperhatikan dan meningkatkan pada latihan kondisi fisik seperti koordinasi mata-tangan, maupun teknik service itu sendiri seperti letak kaki tumpu, tinggi jangkauan atlet. Timing memukul bola, dan lain-lain.
72 A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat dikemukakan kesimpulan sebagai berikut:
1. Terdapat kontribusi daya tahan kekuatan otot lengan terhadap kemampuan service atlet Pelatihan Tenis Lapangan (PTL) UNP sebesar 30,7%
2. Terdapat kontribusi kelentukan terhadap kemampuan service atlet Pelatihan Tenis Lapangan (PTL) UNP sebesar 20,9%
3. Terdapat kontribusi antara daya tahan kekuatan otot lengan dan kelentukan terhadap kemampuan service atlet Pelatihan Tenis Lapangan (PTL) UNP sebesar 51,6%
B. Saran-saran
Berdasarkan pada kesimpulan di atas, maka penulis dapat memberikan saran-saran yang dapat membantu meningkatkan kemampuan service, yaitu :
1. Bagi pelatih disarankan untuk melatih kondisi fisik atlet yang dominan dalam melakukan pukulan service yaitu dengan cara melatih otot-otot yang dominan.
2. Bagi atlet disarankan dapat meningkatkan kemampuan pukulan service melalui proses latihan yang sistematis dan berkesinambungan.
3. Bagi peneliti yang ingin mengkaji lebih jauh tentang kemampuan pukulan service dapat menjadikan skripsi ini sebagai bahan informasi dan
disarankan agar dapat melakukan penelitian kepada populasi dan sampel yang lebih banyak pada daerah yang berbeda.
DAFTAR PUSTAKA
Adnan, Aryadie. 1992. Bimbingan Dasar Melatih Tenis. Padang: Fakultas Pendidikan Dan Kesehatan Institut Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Agus, Salim. (2008). Buku Pintar Tenis. Bandung : Nuansa
Arianto, Toni. (2007). Sumbangan Kekuatan Genggaman, Power Lengan dan Kekuatan Otot Tungkai Terhadap Ketepatan Servis Slice dalam Tenis
Pada Petenis Usia 14-16 Tahun se Kota Semarang (Skripsi). Semarang: Universitas Negeri Semarang.
Arikunto, Suharsimi. (2002). Prosedur Penelitian. (Edisi Revisi V). Jakarta : Rineka Cipta
Arsil. (1999). Pembinaan Kondisi Fisik. Padang: FIK UNP.
Arsil. (2006). Tes pengukuran dan evaluasi pendidikan jasmani.. Padang: FIK Universitas Negeri Padang. Arsil. (2010). Tes Keterampilan Olahraga. Padang: FIK UNP
Brown, Jim. 1978. Tennis Without Lessons. New Jersey: Prenctice-Hall, Inc. Englewood Clifts.
Damrah. (2007). Tenis Lapangan. Padang: FIK UNP.
Evelyn. C. Pearce. (1999). Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Fardi, Adnan. 2008. Statistik. Program Pascasarjana UNP Silabus Mata Kuliah Statistik. Padang: UNP Padang.
Irawadi, Hendri. (2009) Cara Mudah Menguasai Tenis. Malang : Wineka Media Ismaryati. (2008). Tes dan Pengukuran Olahraga. Surakarta: Lembaga
Pengembangan Pendidikan
Katilli. A. (1977). Olahraga Tenis. Jakarta: Yayasan Merpati.
Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga RI. No. 3. (2005). Tentang Sistem Keolahragaan Nasional. Jakarta: Presiden Republik Indonesia.
Loman, Lucas. 1992. Petunjuk Praktis Bermain Tenis. Bandung:Angkasa Maghetti, Bey. (1990). Tenis Para Bintang. Bandung: CV. Pionir Jaya.
Maidarman. (2011). Ilmu Melatih Lanjutan. FIK UNP. PADANG Mhurpy, Bill and Murphy, Chet. 1978. Lifetime Treasury Of Tested Tennis Tips : Secret Of Winning Play. New York: Parker Publishing Company, Inc.
West Nyack.
Mukholid, Agus. (2004). Pendidikan Jasmani Kelas I SMA (Kurikulum Berbasis Kompetensi 2004). Surakarta: Yudistira.
Mulyono Biyakto Atmojo. (2007). Tes dan Pengukuran Pendidikan Jasmani / Olahraga. Surakarta: Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP) UNS dan UPT Penerbitan dan Pencetakan UNS (UNS Press). Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Nurhasan. (1984). Tes dan Pengukuran Pendidikan Olahraga. Bandung: FPOK IKIP Bandung.
Pasurnay, Paulus. (2001). Latihan Fisik Olahraga. Yogyakarta: Pusat Pendidikan dan Penataran KONI Pusat.
Poerwadarminto. 1986. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Sudjana, (1992). Metode Statistika. Tarsito : Bandung
Syafruddin (2004). Permainan Bolavoli (Training-Teknik-Taktik) (Terjemahan). Padang: FIK UNP.
Syafruddin. (1999). Dasar-Dasar Kepelatihan Olahraga. Padang : FIK UNP Syahara, Sayuti. (2004). Kemampuan Biomotorik dan Metodologi
Pengembangan. Padang: UNP Padang.
Umar, Husen. 1998. Metode Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Winarno. (2006). Tes Keterampilan Olahraga. Malang: Laboratorium Jurusan Ilmu Keolahragaan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Yudoprasetyo. B. (1981). Belajar Tenis Jilid I. Jakarta: Bhatara Karya Aksara.
Lampiran 1