• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengujian Hipotesis Ketiga a. Aspek Kognitif

commit to user Tabel 4.8. Rataan dan Jumlah Rataan Prestasi Afektif

E. Pembahasan Hasil Analisis Data

3. Pengujian Hipotesis Ketiga a. Aspek Kognitif

Sebelum pengujian dengan menggunakan anava dua jalan, telah dilakukan uji prasyarat anailisis, yaitu uji normalitas dan uji homogenitas. Uji normalitas menggunakan metode Liliefors, menunjukkan bahwa dari aspek kognitif, sampel

commit to user

dari kelas eksperimen 1 yang memiliki kemampuan matematik tinggi dan rendah, serta sampel dari kelas eksperimen 2 yang memiliki kemampuan matematik tinggi dan rendah merupakan sampel dari populasi yang normal. Uji prasyarat selanjutnya adalah uji homogenitas. Uji homogenitas yang menggunakan uji Barlett menunjukkan bahwa dari aspek kognitif, sampel dari kelas eksperimen 1 yang memiliki kemampuan matematik tinggi dan rendah, serta sampel dari kelas eksperimen 2 yang memiliki kemampuan matematik tinggi dan rendah berasal dari populasi yang homogen.

Hasil dari anava dua jalan dengan menggunakan nilai prestasi kognitif menunjukkan bahwa Fhitung < Ftabel yaitu 0,24 < 6,39 yang berarti bahwa Ho

diterima. Hal ini membuktikan bahwa tidak terdapat interaksi antara pembelajaran CTL dengan metode GI dan proyek dengan kemampuan matematik terhadap prestasi belajar kognitif siswa pada materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan, maka tidak perlu dilakukan uji pasca anava.

Dalam proses pembelajaran CTL dengan metode GI dan proyek, peran kemampuan matematik sangat dibutuhkan oleh siswa dalam meningkatkan prestasi belajar kognitif. Semakin tinggi tingkat kemampuan matematik, maka semakin tinggi pula prestasi belajar kognitif siswa. Tidak adanya interaksi antara penggunaan pembelajaran CTL dengan metode GI dan proyek dengan kemampuan matematik terhadap prestasi belajar kognitif siswa menunjukkan tidak ada perbedaan efek antara siswa yang diajar dengan pembelajaran CTL dengan metode GI dan pembelajaran CTL dengan metode proyek. Oleh karena itu, apapun metode pembelajaran yang diterapkan, baik pembelajaran CTL dengan metode GI dan proyek, siswa yang memiliki kemampuan matematik tinggi akan memiliki prestasi belajar kognitif yang lebih baik daripada siswa yang memiliki kemampuan matematik rendah. Dengan demikian tidak terjadi interaksi antara metode pembelajaran dengan kemampuan matematik terhadap prestasi belajar kognitif.

b. Aspek Afektif

Sebelum pengujian dengan menggunakan anava dua jalan, telah dilakukan uji prasyarat anailisis, yaitu uji normalitas dan uji homogenitas. Uji normalitas

commit to user

menggunakan metode Liliefors, menunjukkan bahwa dari aspek afektif, sampel dari kelas eksperimen 1 yang memiliki kemampuan matematik tinggi dan rendah, serta sampel dari kelas eksperimen 2 yang memiliki kemampuan matematik tinggi dan rendah merupakan sampel dari populasi yang normal. Uji prasyarat selanjutnya adalah uji homogenitas. Uji homogenitas yang menggunakan uji Barlett menunjukkan bahwa dari aspek afektif, sampel dari kelas eksperimen 1 yang memiliki kemampuan matematik tinggi dan rendah, serta sampel dari kelas eksperimen 2 yang memiliki kemampuan matematik tinggi dan rendah berasal dari populasi yang homogen.

Hasil dari anava dua jalan dengan menggunakan nilai prestasi afektif menunjukkan bahwa Fhitung < Ftabel yaitu 0,13 < 6,39 yang berarti bahwa Ho

diterima. Hal ini membuktikan bahwa tidak terdapat interaksi antara pembelajaran CTL dengan metode GI dan proyek dengan kemampuan matematik terhadap prestasi belajar afektif siswa pada materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan, maka tidak perlu dilakukan uji pasca anava.

Tidak adanya interaksi antara penggunaan pembelajaran CTL dengan metode GI dan proyek dengan kemampuan matematik terhadap prestasi belajar afektif siswa menunjukkan tidak ada perbedaan efek antara siswa yang diajar dengan eksperimen pembelajaran CTL dengan metode GI dan proyek ditinjau dari kemampuan matematik. Hal ini berarti bahwa apapun metode pembelajarannya baik pembelajaran CTL dengan metode GI dan proyek, siswa yang memiliki kemampuan matematik tinggi akan memiliki prestasi belajar afektif yang lebih baik daripada siswa yang memiliki kemampuan atematik rendah. Dengan demikian, tidak akan terjadi interaksi antara metode pembelajaran dengan kemampuan matematik terhadap prestasi belajar afektif.

c. Aspek Psikomotor

Sebelum pengujian dengan menggunakan anava dua jalan, telah dilakukan uji prasyarat anailisis, yaitu uji normalitas dan uji homogenitas. Uji normalitas menggunakan metode Liliefors, menunjukkan bahwa dari aspek psikomotor, sampel dari kelas eksperimen 1 yang memiliki kemampuan matematik tinggi dan rendah, serta sampel dari kelas eksperimen 2 yang memiliki kemampuan

commit to user

matematik tinggi dan rendah merupakan sampel dari populasi yang normal. Uji prasyarat selanjutnya adalah uji homogenitas. Uji homogenitas yang menggunakan uji Barlett menunjukkan bahwa dari aspek psikomotor, sampel dari kelas eksperimen 1 yang memiliki kemampuan matematik tinggi dan rendah, serta sampel dari kelas eksperimen 2 yang memiliki kemampuan matematik tinggi dan rendah berasal dari populasi yang homogen.

Hasil dari anava dua jalan dengan menggunakan nilai prestasi afektif menunjukkan bahwa Fhitung < Ftabel yaitu 0,60 < 6,39 yang berarti bahwa Ho

diterima. Hal ini membuktikan bahwa tidak terdapat interaksi antara pembelajaran CTL dengan metode GI dan proyek dengan kemampuan matematik terhadap prestasi belajar psikomotor siswa pada materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan, maka tidak perlu dilakukan uji pasca anava.

Tidak adanya interaksi antara penggunaan pembelajaran CTL dengan metode GI dan proyek dengan kemampuan matematik terhadap prestasi belajar psikomotor siswa menunjukkan tidak ada perbedaan efek antara siswa yang diajar dengan eksperimen pembelajaran CTL dengan metode GI dan proyek ditinjau dari kemampuan matematik. Hal ini berarti bahwa apapun metode pembelajarannya baik pembelajaran CTL dengan metode GI dan proyek, siswa yang memiliki kemampuan matematik tinggi akan memiliki prestasi belajar psikomotor yang lebih baik daripada siswa yang memiliki kemampuan atematik rendah. Dengan demikian, tidak akan terjadi interaksi antara metode pembelajaran dengan kemampuan matematik terhadap prestasi belajar psikomotor.

Dari hasil ANAVA didapatkan hasil bahwa tidak ada interaksi antara kemampuan matematik terhadap prestasi belajar siswa yang berupa aspek kognitif, afektif dan psikomotor siswa. Hal ini dimungkinkan karena banyak faktor yang mempengaruhi proses pencapaian prestasi hasil belajar siswa baik dalam maupun luar dari diri siswa di luar faktor metode pembelajaran dan kemampuan matematik siswa, serta masih banyak keterbatasan dalam penelitian ini sehingga peneliti tidak dapat mengontrol faktor-faktor tersebut di luar kegiatan belajar mengajar.

Dalam penelitian ini, digunakan pendekatan pembelajaran CTL dengan metode GI dan proyek. Dari hasil penelitian ini, dapat diketahui bahwa model pembelajaran

commit to user

CTL dengan metode GI dan proyek dapat diterapkan untuk mengajar materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Cahyanto (2012: 256). Pendekatan CTL sesuai diterapkan bersama metode pembelajaran GI dan proyek. Hal ini mendorong siswa untuk aktif dalam pembelajaran.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa prestasi belajar kognitif, afektif dan psikomotor pada siswa yang dikenai pembelajaran CTL dengan metode GI lebih baik daripada siswa yang dikenai pembelajaran CTL dengan metode proyek.

Selain itu, terdapat pengaruh kemampuan matematik siswa terhadap prestasi belajar aspek kognitif, afektif dan psikomotor siswa. Dalam penelitian ini juga menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara pembelajaran CTL dengan metode GI dengan metode proyek.

commit to user