HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian
4. Pengujian Hipotesis a.Uji R2a.Uji R2
Menurut Bawono (2006: 92) koefisien determinasi (R2) menunjukkan sejauh mana tingkat hubungan antara variabel dependen (Y) dengan variabel independen (X1,2,3,...), atau sejauh mana kontribusi variabel independen (X1,2,3,...) mempengaruhi variabel independen (Y). Jika (R2) yang diperoleh mendekati 1 (satu) maka dapat dikatakan semakin kuat model tersebut menerangkan hubungan variabel bebas terhadap variabel terikat. Sebaliknya jika R2 makin mendekati nol maka semakin lemah pengaruh variabel-variabel bebas terhadap variabel terikat.
80 Tabel 4.9
Hasil Perhitungan Koefisien Determinasi (R2) Bank Sampel Model Summary Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 ,514a ,264 ,189 ,01392
a. Predictors: (Constant), CAR, NIM, LDR/FDR, BOPO, NPL/NPF Sumber : data yang diolah
Nilai R menerangkan tingkat hubungan antar variabel-variabel independen (X) dengan variabel dependen (Y). Pada tabel di atas dapat dilihat bahwa nilai R sebesar 0,514 atau 51,4%. Itu artinya hubungan antara variabel independen yaitu NIM, NPL/NPL, LDR/FDR, BOPO dan CAR terhadap variabel dependen yaitu ROA adalah 51,4%. Angka sebesar 51,4% mengindikasikan bahwa NIM, NPL/NPL, LDR/FDR, BOPO dan CAR memiliki hubungan dengan ROA.
Nilai Adjusted R Square (R2) pada tabel 4.8 sebesar 0,189 atau 18,9%, artinya variabel independen yaitu NIM, NPL/NPL, LDR/FDR, BOPO dan CAR dapat menerangkan variabel dependen yaitu ROA sebesar 18,9% atau 18,9% rata-rata variasi variabel terikat dijelaskan oleh rata-rata variabel bebas. Sedangkan sisanya sebesar 81,1% diterangkan oleh variabel lain yang tidak di masukkan dalam model regresi pada penelitian ini.
b. Uji Ftest
Uji F dapat digunakan untuk mengetahui seberapa jauh semua variabel independen (X) secara bersama-sama dapat mempengaruhi
81
variabel dependen (Y). Pengujian dilakukan dengan membandingkan nilai Fhitung dengan Ftabel (Bawono, 2006 : 91). Uji ini digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap varibel terikat. Dimana Fhitung>Ftabel, maka H0 ditolak. Sebaliknya apabila Fhitung<Ftabel, maka H0 diterima atau ada pengaruh signifikan antara variabel dependen dan variabel independen. Untuk mengetahui signifikan atau tidak pengaruh secara bersama-sama variabel bebas terhadap variabel terikat maka digunakan probabilitysebesar 5% (α= 0,05).
(a) Jika sig > ά (0,05), maka H0 diterima. (b) Jika sig < ά (0,05), maka H0 ditolak.
Tabel 4.10
Uji Signifikansi Simultan (Uji F) Bank Sampel
ANOVAb
Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.
1 Regression ,003 5 ,001 3,518 ,009a
Residual ,009 49 ,000
Total ,013 54
a. Predictors: (Constant), CAR, NIM, LDR/FDR, BOPO, NPL/NPF b. Dependent Variable: ROA
Sumber : data yang diolah
Dari hasil analisis regresi dapat diketahui bahwa secara bersama-sama variabel independen memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen. Hal ini dapat dibuktikan dari nilai Ftest sebesar 3,518 dengan probabilitas 0,009 dengan besar Ftabel 2,286. Ftabel dapat dilihat dalam tabel F pada alfa 0,05 dengan derajat bebas / degree of freedom (df) untuk pembilang sebesar 6 (df untuk
82
pembilang = k + 1 berarti 5 + 1 = 6), dan derajat penyebut 50 (df untuk penyebut = n – k berarti 55 - 5 = 50) sehingga dapat diketahui bahwa nilai F tabel adalah sebesar 2,286. Dapat disimpulkan bahwa variabel independen secara bersama-sama mempengaruhi variabel dependen karena Ftest > Ftabel.
Karena probabilitas jauh lebih kecil dari 0,05 atau 5% , maka model regresi dapat digunakan untuk memprediksi kinerja bank (ROA) atau dapat dikatakan bahwa secara bersama-sama NIM, NPL/NPL, LDR/FDR, BOPO dan CAR berpengaruh signifikan terhadap ROA.
c. Uji Ttest
Uji T dipakai untuk melihat signifikansi dari pengaruh variabel independen secara individu terhadap variabel dependen dengan menganggap variabel lain bersifat konstan. Uji ini dilakukan dengan memperbandingkan T hitung dengan T tabel (Bawono, 2006 : 89). Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah variabel independen (X) berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen (Y).
Signifikan berarti pengaruh yang terjadi dapat berlaku untuk populasi (dapat digeneralisasikan). Penelitian ini menggunakan signifikansi 0,1 (10%). Jika sig > ά (0,1), maka H0 diterima dan jika
83 Tabel 4.11
Uji signifikansi Parsial (Uji T) Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) ,017 ,009 1,870 ,067 NPL/NPF -,102 ,155 -,099 -,657 ,514 NIM ,106 ,053 ,246 2,004 ,051* LDR/FDR ,008 ,005 ,197 1,553 ,127 BOPO -,016 ,008 -,311 -2,189 ,033** CAR ,001 ,007 ,025 ,183 ,856
a. Dependent Variable: ROA
* : signifikan pada 10% ** : signifikan pada 5% *** : signifikan pada 1%
Sumber: data yang telah diolah
Dari data tabel 4.11 dapat ditulis rumus regresi linier sebagai berikut:
ROA = 0,017 - 0,102 NPL//NPF + 0,106 NIM + 0,008LDR/FDR – 0,016 BOPO + 0,001 CAR + ε
Dari data tabel 4.9 dapat disimpulkan bahwa :
1. Pengaruh Risiko Kredit (Non Performing Loan/Finance
(NPL/NPF)) terhadap Kinerja Bank (Return On Asset (ROA)).
Risiko kredit ditunjukkan dengan besaran Non performing
loan atau dalam bank syariah dikenal dengan nama Non
Performing Finance yaitu jumlah aktiva non produktif dibagi
dengan total kredit yang diberikan bank (Latumaerissa, 1999:84).
84
Dari hasil perhitungan secara parsial variabel NPL berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap variabel ROA yang ditunjukkan dengan besarnya nilai signifikansi yang lebih besar dari 0,05 yaitu sebesar 0,514 dengan nilai t test menunjukkan angka -0,057. Hasil tersebut tidak sesuai dengan penelitaian Ariani dan Ardian (2015) di LPD kab. Bandung pada tahun yang sama membuktikan bahwa NPL berpengaruh negatif signifikan terhadap ROA. Maka H1 ditolak karena nilai NPL/NPF pada bank sampel relatif rendah memungkinkan angka kredit macet di bank sampel juga rendah sehingga NPL/NPF tidak mempengaruhi profitabilitas.
Hal tersebut didukung oleh penelitian Djazuli (2015) di 8 Bank Umum Syariah tahun 2010-2013 menyatakan bahwa NPL berpengaruh tidak signifikan terhadap ROA dan penelitian Wibowo dan Saichu (2013) di bank syariah tahun 2008-2011 juga mendapatkan hasil yang tidak signifikan. Hal tersebut juga didukung oleh penelitian yang dilakukan Dayu (2015) di 30 Bank Konvensional pada tahun 2010-2013 juga mendapatkan hasil bahwa NPL tidak signifikan terhadap ROA.
2. Pengaruh Risiko Pasar (Net Interest Margin (NIM)) terhadap
Kinerja Bank (Return On Asset (ROA)).
Net Interset Margin yang digunakan untuk mengukur
85
dari bunga dengan melihat kinerja bank dalam menyalurkan kredit, mengingat pendapatan operasional bank sangat tergantung dari selisih bunga kredit yang disalurkan.
Dari hasil perhitungan secara parsial variabel NIM berpengaruh positif signifikan terhadap variabel ROA yang ditunjukkan dengan besarnya nilai signifikansi sebesar 0,051 dengan nilai t test menunjukkan angka 2,004. Hasil tersebut tidak sesuai dengan penelitaian Djazuli (2015) di 8 Bank Umum Syariah tahun 2010-2013 yang penelitiannya mendapatkan hasil bahwa NIM tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA. Maka
H2 diterima karena NIM dapat meningkatkan pendapatan bunga atas aktiva produktif yang dikelola bank, sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin kecil dan kinerja bank tersebut akan semakin baik.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Dewi, Herawati dan Sulindawati (2015) di Bank Umum Swasta Nasional yang terdaftar di BEI periode 2009-2013 mendapatkan hasil bahwa NIM berpengaruh signifikan terhadap ROA. Penelitian yang dilakukan Dayu (2015) di 30 Bank Konvensional pada tahun 2010-2013 juga mendapatkan hasil bahwa NIM positif dan signifikan berpengaruh terhadap ROA.
86
3. Pengaruh Risiko Likuiditas (Loan/Financing to Deposite Ratio
(LDR/FDR)) terhadap Kinerja Bank (Return On Asset (ROA)).
LDR merupakan rasio untuk mengukur komposisi jumlah kredit yang diberikan dibandingkan dengan jumlah dana masyarakat dan modal sendiri yang digunakan (Kasmir, 2011:290).
Dari hasil perhitungan secara parsial variabel LDR/FDR berpengaruh positif tidak signifikan terhadap variabel ROA yang ditunjukkan dengan besarnya nilai signifikansi sebesar 0,127 lebih besar dari 0,05 dengan nilai t test menunjukkan angka 1,553. Hasil tersebut tidak sesuai dengan penelitaian Dayu (2015) di 30 Bank Konvensional pada tahun 2010-2013 juga mendapatkan hasil bahwa LDR berpengaruh tidak signifikan terhadap ROA hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Ardi, Nugaraha dan Saryadi (2015) dengan penelitian di 35 bank umum yang telah go public pada tahun
2008-2012. Maka H3 ditolak karena semakin tinggi rasio ini maka memungkinkan memperoleh laba tetapi juga memiliki resiko yang besar karena kemampuan bank yang kurang bisa efektif dalam membayar kembali penarikan dana yang dilakukan deposan yang mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya sehingga dapat menimbulkan kerugian pada turunnya profitabilitas.
87
Hal ini sejalan dengan penelitian Dayu (2015) di 30 Bank Konvensional pada tahun 2010-2013 juga mendapatkan hasil bahwa LDR berpengaruh tidak signifikan terhadap ROA hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Ardi, Nugaraha dan Saryadi (2015) dengan penelitian di 35 bank umum yang telah go public pada tahun 2008-2012.
4. Pengaruh Rentabilitas (Biaya Operasional/ Pendapatan Operasional (BOPO)) terhadap Kinerja Bank (Return On Asset
(ROA)).
Dalam mengukur efisiensi operasional, rasio BOPO merupakan rasio yang salah satunya mempengaruhi ROA. Rasio BOPO digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi dan kemampuan bank dalam melakukan kegiatan operasinya. Semakin besar rasio BOPO, maka semakin tidak efisien suatu bank. Mengingat kegiatan utama bank pada prinsipnya adalah bertindak sebagai perantara, yaitu menghimpun dan menyalurkan dana, maka biaya dan pendapatan operasional bank didominasi oleh biaya bunga dan pendapatan bunga. Setiap peningkatan biaya operasional akan berakibat pada berkurangnya laba sebelum pajak yang pada akhirnya akan menurunkan laba atau profitabilitas (ROA) bank yang bersangkutan (Dendawijaya, 2009).
88
Dari hasil perhitungan secara parsial variabel BOPO berpengaruh negatif signifikan terhadap variabel ROA yang ditunjukkan dengan besarnya nilai signifikansi sebesar 0,033 lebih kecil dari 0,05 dengan nilai t test menunjukkan angka 2,189. Hasil tersebut tidak sesuai dengan penelitaian Djazuli (2015) di 8 Bank Umum Syariah tahun 2010-2013 bahwa BOPO berpengaruh tidak signifikan terhadap ROA. Maka H3 diterima karena meningkatnya rasio BOPO akan menurunkan profitabilitas.
Hal ini sejalan dengan penelitian Wibowo dan Saichu (2013) di Bank Syariah pada tahun 2008-2011 menunjukkan hasil bahwa BOPO berpengaruh negatif signifikan terhadap ROA hal ini juga didukung Sudiyatno (2013) dengan penelitian yang dilakukan di 96 perusahaan perbankan selama 2007-2010. Penelitian oleh Ardi, Nugaraha dan Saryadi (2015) dengan penelitian di 35 bank umum yang telah go public pada tahun
2008-2012 juga menunjukkan bahwa BOPO berpengaruh terhadap ROA.
5. Pengaruh Permodalan (Capital Adecuacy Ratio (CAR)) terhadap
Kinerja Bank (Return On Asset (ROA)).
CAR adalah rasio yang memperlihatkan seberapa jauh seluruh aktiva bank yang mengandung resiko (kredit, penyertaan, serat berharga, tagihan pada bank lain) ikut dibiayai
89
dari dana modal sendiri bank di samping memperoleh dana-dana dari sumber-sumber di luar bank, seperti dana masyarakat, pinjaman (utang), dan lain-lain. Dengan kata lain, capital
adequacy ratio adalah rasio kinerja bank untuk mengukur
kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan risiko, misalnya kredit yang diberikan (Dendawijaya, 2009:121).
Dari hasil perhitungan secara parsial variabel CAR berpengaruh positif tidak signifikan terhadap variabel ROA yang ditunjukkan dengan besarnya nilai signifikansi sebesar 0,856 lebih besar dari 0,05 dengan nilai t test menunjukkan angka 0,185. Hasil tersebut tidak sesuai dengan penelitaian Anggraeni dan Suwardika (2014) di BUMN dengan data yang diperoleh adalah data bulanan dari laporan keuangan publikasi bank-bank pemerintah selama tiga tahun, yaitu tahun 2010-2012 mendapatkan hasil bahwa CAR berpengaruh positif dan signifikan terhadap ROA dan hasil penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Aldi, Nugraha dan Saryadi (2015) di 35 Bank Umum periode 2008-2012. Maka H3 ditolak
karena CAR tidak berpengaruh signifikan karena bank tidak mampu untuk menutupi penurunan aktivanya sebagai akibat dari kerugian-kerugian bank yang disebabkan oleh aktiva berisiko
90
(kredit, penyertaan, surat berharga, tagihan pada bank lain) sehingga profitabilitas bank yang didapatkan kecil.
Hasil ini didukung oleh penelitian Dewi, Sinarwati dan Darmawan (2014) di 20 bank umum yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2008-2012 menunjukkan hasil bahwa Capital Adequacy Ratio tidak berpengaruh signifikan
91 BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN
Dari data sebelumnya dapat ditarik beberapa kesimpulan yaitu sebagai berikut:
1 Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel secara bersama – sama risiko pasar (NIM), risiko kredit (NPL/NPL), risiko likuiditas (LDR/FDR), rentabilitas (BOPO) dan permodalan (CAR) berpengaruh signifikan terhadap kinerja bank (ROA). Artinya, setiap perubahan yang terjadi pada variabel independen yaitu risiko pasar (NIM), risiko kredit (NPL/NPL), risiko likuiditas (LDR/FDR), rentabilitas (BOPO) dan permodalan (CAR) berpengaruh signifikan secara simultan terhadap kinerja bank (ROA) pada Bank Syariah di Indonesia.
2 Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa, secara parsial variabel risiko pasar (NIM), risiko kredit (NPL/NPL), risiko likuiditas (LDR/FDR), rentabilitas (BOPO) dan permodalan (CAR) ada yang berpengaruh signifikan tetapi ada pula yang tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja bank (ROA). Penjelasan secara terperinci sebagai berikut:
a. Variabel risiko pasar (NIM) berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja bank (ROA) pada Bank Syariah pada tahun 2010 – 2014. b. Variabel risiko kredit (NPL/NPF) berpengaruh negatif tidak
signifikan terhadap kinerja bank (ROA) pada Bank Syariah pada tahun 2010 – 2014.
92
c. Variabel risiko likuiditas (LDR/FDR) berpengaruh positif tidak signifikan terhadap kinerja bank (ROA) pada Bank Syariah pada tahun 2010 – 2014.
d. Variabel rentabilitas (BOPO) berpengaruh negatif signifikan terhadap kinerja bank (ROA) pada Bank Syariah pada tahun 2010 –
2014.
e. Variabel permodalan (CAR) berpengaruh positif tidak signifikan terhadap kinerja bank (ROA) pada Bank Syariah pada tahun 2010 –
2014.
3 Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel rentabilitas (BOPO) yang paling berpengaruh terhadap kinerja bank (ROA) di Bank Syariah dilihat dari hasil uji parsial.
B. SARAN
Dari penelitian di atas adapun saran-saran yang disampaikan:
1. Bagi pihak manajemen perbankan harus lebih meningkatkan nilai dari rasio kuantitatif RGEC agar pertumbuhan Bank menjadi lebih baik. Karena secara bersama-sama rasiokuantitatif RGEC mempengaruhi pertumbuhan Bank.
2. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan tidak hanya meneliti Bank yang menjadi bank sampel dalam penelitian ini tetapi diharapkan dapat dikembangkan.
93