Kesimpulan dan Saran
B. Penemuan dan Pembahasan I.Uji Asumsi Klasik I.Uji Asumsi Klasik
II. Analisis Regresi
3. Pengujian terhadap variabel FDR
Ho2: β2 = 0 : Tidak terdapat pengaruh secara parsial antara FDR
terhadap NOM.
H3: β3 ≠ 0 : Terdapat pengaruh secara parsial antara FDR terhadap NOM.
Berdasarkan tabel diatas, FDR memiliki t hitung sebesar (+) 2.155 dengan tingkat signifikansi 0.037. Karena nilai t hitung lebih besar daripada nilai t tabel (2.155 > 2.01174), maka variabel FDR dinyatakan berpengaruh secara parsial terhadap NOM. Kemudian, diketahui pula bahwa variabel FDR memiliki nilai signifikansi 0.034, lebih kecil dari 0,05 (0.037 < 0.05) maka dapat disimpulkan bahwa belum cukup bukti untuk menolak Ho3 dan menerima H3. Jadi,
variabel FDR (X3) secara parsial berpengaruh signifikan terhadap variabel NOM.
c. Koefisien Determinasi (Adjusted R Square)
Adjusted R Square adalah nilai R square yang telah disesuaikan. Analisis determinasi digunakan untuk mengetahui persentase sumbangan pengaruh variabel independen secara bersama-sama terhadap variabel dependen. Perbersama-samaan regresi linier berganda semakin baik apabila nilai koefisien determinasi semakin besar (mendekati 1) dan cenderung meningkat nilainya sejalan dengan peningkatan jumlah variabel bebas.10 Hasil data yang dianalisis menggunakan SPSS versi 20.0 dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.8
Hasil Uji Koefisien Determinasi
S
sumber: data sekunder yang diolah.
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat nilai koefisien determinan (Adjusted R Square) sebesar 0.262 atau sebesar 26,2%. Hal ini menunjukkan KAP, BOPO, FDR dan NPF berkontribusi sebesar 26,2% terhadap NOM.
10
Anwar Sanusi, Metodologi Penelitian Bisnis, Jakarta: Salemba Empat, 2013 – Cet.III), h. 136.
Model Summaryb
Model R R Square Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
Durbin-Watson
1 .555a .308 .262 .25746 1.422
a. Predictors: (Constant), FDR, BOPO, KAP b. Dependent Variable: NOM
Sedangkan sisanya sebesar 73,8% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
IV. Pembahasan
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa NOM dapat dijelaskan oleh KAP, BOPO, FDR dan NPF sebagai berikut:
a. Kualitas Aktiva Produktif (KAP)
Dari hasil pengolahan data dan perhitungan data yang dibantu oleh SPSS versi 20.0 variabel KAP memiliki nilai signifikan sebesar 0,475 yang menunjukkan variabel ini tidak berpengeruh terhadap NOM. Hal ini terjadi dikarenakan pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Romdayanah (2011) yang menjadikan KAP sebagai proxy kualitas asset dalam faktor yang mempengaruhi NOM Bank Umum Syariah Devisa menggunakan model penelitian yang kurang tepat. Pada penelitian tersebut menggunakan model regresi linear berganda untuk meneliti objek penelitian yang mengharuskan peneliti menggunakan model data panel dikarenakan objek penelitian menggunakan empat BUS Devisa dan waktu penelitian terdiri dari data bulanan dalam kurun waktu tiga tahun.11 Ini mengartikan data yang digunakan oleh peneliti tersebut
11 Romdayanah, “Pengaruh Faktor Permodalan, Kualitas Aset, dan Likuiditas terhadap Profitabilitas Bank Umum Syariah,” (Skripsi S1 Fakultas Syariah, IAIN Walisongo Semarang, 2011), h.39.
merupakan gabungan antara data deret waktu (time series) dengan data kerat lintang (cross-section) yang disebut dengan data panel.12
Kurang tepatnya metode penelitian yang digunakan mengakibatkan hasil model penelitian yang salah sehingga model tersebut tidak dapat memperhitungkan atau memperkirakan besarnya pengaruh secara kuantitatif dari perubahan suatu kejadian terhadap kejadian lainnya. Hal ini dibuktikan dengan tidak lolosnya model regresi linier berganda yang digunakan peneliti dalam uji asumsi klasik. Penerapan metode statistika didasarkan kepada asumsi-asumsi tertentu, misalnya kesalahan pengganggu (disturbance’s error) mempunyai varian yang sama (homoscedasticity), tidak ada multicollinearity dalam beberapa variabel bebas, tidak ada autocorrelation dalam data berkala (time series data) dan lain sebagainya.13
Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel KAP (X1) secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel NOM. Hal ini tidak selaras dengan pendapat Romdayanah (2011) dalam penelitiannya yang berjudul, “Pengaruh Faktor Permodalan, Kualitas Aset, dan Likuiditas terhadap Profitabilitas Bank Umum Syariah”. Pada penelitian yang dilakukan pada BUS yang tergolong dalam Bank Devisa tersebut,
12
Adler Hayman Manurung, dkk., The Determinant of Commercial Banks’Interest Margin in Indonesia: An Analysis of Fixed Panel Regression, International Jurnal of Economics and Financial Issues, Vol. 4, No.2, (2014), h. 299.
13
diketahui bahwa KAP yang memproxykan kualitas asset berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas bank syariah yang diproxykan dengan NOM sebagai rasio utama. Namun hasil penelitian ini didukung oleh pendapat Diah Aristya Hesti (2010) dalam penelitiannya yang berjudul “Analisis Pengaruh Ukuran Perusahaan, Kecukupan Modal, Kualitas Aktiva Produktif (KAP), dan Likuiditas terhadap Kinerja Keuangan”.
Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa besar kecilnya kualitas aktiva produktif bank (KAP) belum tentu menyebabkan besar kecilnya keuntungan bank. Walau Bank yang memiliki Aktiva produktif yang diklasifikasikan berimbang dengan peningkatan aktiva produktifnya namun tidak dapat menyalurkan dana aktiva produktif tersebut dengan baik akan menciptakan dana mengendap yang tidak menghasilkan pendapatan bagi bank sehingga KAP yang baik pun tidak berpengaruh secara signifikan terhadap profitabilitas atau rentabilitas bank.14
Tidak berpengaruhnya KAP terhadap NOM dapat disebabkan karena bank umum syariah yang beroperasi pada tahun tersebut tidak mengoptimalkan dana aktiva produktif yang ada.15 Jadi secara realitas, Bank umum syariah menyalurkan dana aktiva produktif tersebut lebih banyak pada pembiayaan yang bersifat konsumtif yang memiliki resiko
14 Diah Aristya Hesti, “Analisis pengaruh ukuran perusahaan, kecukupan modal, kualitas aktiva produktif (KAP), dan likuiditas terhadap kinerja keuangan,”(Skripsi S1 Fakultas
Ekonomi,UNDIP, Semarang,2010), h. 86.
15
Candra Puspita Ningtyas,dkk., “Perbandingan Kinerja Keuangan Bank Konvensional dan
Bank Syariah Berdasarkan Analisis Rasio Keuangan,”(Fakultas Ilmu Administrasi, UNBRAW, Malang,2012),h.5.
lebih tinggi daripada pembiayaan yang bersifat produktif. Karena pembiayaan yang bersifat konsumtif memiliki resiko gagal bayar lebih besar sehingga kemungkinan terjadinya peningkatan APYD yang tidak berimbang dengan peningkatan dana aktiva produktifnya lebih tinggi. b. Beban Operasional Pendapatan Operasional (BOPO).
Dari hasil pengolahan data dan perhitungan data yang dibantu oleh SPSS versi 20.0 variabel BOPO memiliki nilai signifikan sebesar 0,002 yang menunjukkan variabel BOPO berpengeruh terhadap NOM. Tanda negatif koefisien regresinya, menunjukkan bahwa apabila terdapat peningkatan nilai BOPO maka nilai NOM akan menurun. Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel BOPO (X2) secara parsial berpengaruh
signifikan terhadap variabel NOM. Hal ini selaras dengan pendapat Taufik Ariyanto (2011) dalam penelitiannya yang berjudul, “Faktor Penentu Net Interest Margin Perbankan Indonesia”. Pada penelitian tersebut, diketahui bahwa BOPO yang memproxykan efisiensi operasional berpengaruh signifikan terhadap Net Interest Margin (NIM) Perbankan Indonesia yang dianalogkan dengan NOM sebagai rasio utama rentabilitas yang digunakan pada Perbankan Syariah Indonesia. Hasil ini didukung pula oleh penelitian Manurung dan Dezmercoledi (2013), Cahy (2009), dan Syarif (2006).
Berdasarkan penjelasan beserta hasil analisis data yang telah diolah maka dapat dipaparkan bahwa BOPO memiliki hubungan berbanding
terbalik dengan NOM. Ini berarti, jika BOPO bank syariah semakin kecil, maka NOM akan semakin besar.16 Hal ini terjadi dikarenakan dengan adanya peningkatan kemampuan manajemen bank dalam mengendalikan biaya operasional maka akan memperbesar peluang suatu bank dalam meningkatkan perolehan pendapatan operasionalnya sehingga berdampak pada tingkat NOM suatu bank menjadi lebih baik. BOPO sering digunakan dalam mengukur efisiensi suatu bank. Rendahnya BOPO mencerminkan kualitas manajemen yang tinggi pada bank. Semakin rendah rasio ini semakin bagus karena bank menghasilkan banyak pendapatan operasional dari pengelolaan aktivanya dengan biaya operasional yang rendah.17
BOPO menunjukkan seberapa besar bank dapat menekan biaya operasionalnya di satu pihak, dan seberapa besar bank dapat melakukan efisiensi terhadap biaya operasional yang dikeluarkan. Semakin kecil rasio BOPO, berarti semakin efisien biaya operasional yang dikeluarkan bank yang bersangkutan sehingga kemungkinan yang lebih besar bagi
16 Adler Haymans Manurung dan Anugraha Dezmercoledi, “Net Interest Margin: Bank Publik di Indonesia,”Journal of Business and Entrepreneurship, Vol.1, No.1 (January,2013),h.9.
17
Mufti Nur Cahyo, “Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi Margin Bank Umum Syariah”, (Skripsi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Diponegoro
bank untuk mendapatkan keuntungan yang lebih dan menunjukkan bahwa bank tidak berada dalam kondisi bermasalah.18
c. Financing to Deposit Ratio (FDR)
Dari hasil pengolahan data dan perhitungan data yang dibantu oleh SPSS versi 20.0 variabel FDR memiliki nilai signifikan sebesar 0,037 yang menunjukkan variabel ini berpengeruh terhadap NOM. Tanda positif koefisien regresinya, menunjukkan bahwa apabila terdapat peningkatan nilai FDR maka nilai NOM akan meningkat.
Berdasarkan penjelasan beserta hasil analisis data yang telah diolah maka dapat dipaparkan bahwa FDR memiliki hubungan searah dengan NOM. Ini berarti, jika FDR bank syariah semakin kecil, maka NOM akan semakin kecil, dan begitu sebaliknya. Hubungan positif antara FDR dengan NOM mempunyai arti bahwa kenaikkan likuiditas akan diikuti oleh kenaikkan profitabilitas atau rentabilitas bank.19 Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel FDR (X3) secara parsial berpengaruh
signifikan terhadap variabel NOM. Hal ini selaras dengan pendapat Taufik Ariyanto (2011) dalam penelitiannya yang berjudul, “Faktor Penentu Net Interest Margin Perbankan Indonesia”. Pada penelitian tersebut, diketahui bahwa LDR analog dari FDR yang memproxykan
18
Kartika Wahyu Sukarno dan Muhamad Syaichu, “Analisis faktor-faktor yang
mempengaruhi Kinerja Bank Umum di Indonesia,” Jurnal Studi Manajemen dan Organisasi, Vol.
3,No.2 (Juli,2006),h.50.
19
Romdayanah, “Pengaruh Faktor Permodalan, Kualitas Aset, dan Likuiditas terhadap
Profitabilitas Bank Umum Syariah,” (Skripsi S1 Fakultas Syariah, IAIN Walisongo Semarang, 2011),
kinerja manajemen bank dan volume pembiayaan berpengaruh signifikan terhadap Net Interest Margin (NIM) Perbankan Indonesia yang dianalogkan dengan NOM sebagai rasio utama rentabilitas yang digunakan pada Perbankan Syariah Indonesia. Hasil ini didukung pula oleh penelitian yang dilakukan Manurung dan Dezmercoledi (2013).
FDR menyatakan seberapa jauh kemampuan bank dalam membayar kembali penarikan dana yang dilakukan deposan dengan mengandalkan pembiayaan yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya. Semakin besar pembiayaan maka pendapatan yang diperoleh naik.20 Dalam kegiatan operasional, bank dapat mengalami kelebihan atau kekurangan likuiditas. Apabila terjadi kelebihan, maka hal itu dianggap sebagai keuntungan bank. Sedang apabila terjadi kekurangan likuiditas, maka bank memerlukan sarana untuk menutupi kekurangan tersebut. Likuiditas yang rendah menunjukkan bahwa bank lebih banyak menempatkan dananya pada Bank Indonesia, pada bank lain atau dalam bentuk surat berharga. Rendahnya likuiditas berdampak pada ekspansi pembiayaan. Hal ini dilakukan karena bank mempertimbangkan resiko kredit sehingga berdampak pada rendahnya rentabilitas bank syariah.21
20 Dina Rizkiah Hutasuhut, “Pengaruh FDR, BOPO dan NPF terhadap Profitabilitas Perbankan Syariah di Indonesia,” (Skripsi S1 Fakultas Ekonomi, Universitas Sumatera Utara,2009),h. 36.
21 Romdayanah, “Pengaruh Faktor Permodalan, Kualitas Aset, dan Likuiditas terhadap Profitabilitas Bank Umum Syariah,” (Skripsi S1 Fakultas Syariah, IAIN Walisongo Semarang, 2011),
Sehingga untuk melindungi bank dari resiko kredit tersebut, bank harus meningkatkan tingkat marjinnya. Jika diasumsikan perbankan memiliki sikap risk averse, maka dalam kondisi risk averse makin tinggi resiko yang dihadapi oleh bank, maka kompensasi marjin terhadap resiko tersebut juga akan makin besar, begitu juga dengan kondisi sebaliknya.22 Likuiditas secara umum bukan merupakan masalah utama bank pada sistem perbankan yang kompetitif. Selain likuiditas terdapat faktor lain yang tidak kalah penting. Bank dalam melakukan usahanya dituntut untuk senantiasa menjaga keseimbangan antara pemeliharaan likuiditas yang cukup dengan pencapaian profitabilitas atau rentabilitas yang wajar, serta pemenuhan kebutuhan modal yang memadai.23
22
Taufik Ariyanto, Faktor Penentu Net Interest Margin Perbankan Indonesia,Jurnal Perbanas, Vol.13,1 (juni 2011).
23 Diah Aristya Hesti, “Analisis pengaruh ukuran perusahaan, kecukupan modal, kualitas aktiva produktif (KAP), dan likuiditas terhadap kinerja keuangan,”(Skripsi S1 Fakultas
95