BAB 2 : LANDASAN TEORI
2.2 Kepuasan Kerja
2.2.3 Pengukuran Kepuasan Kerja
Alat ukur yang digunakan dalam pengukuran kepuasan kerja memiliki banyak jenis. Akan tetapi ada alat ukur yang memang dikhususkan untuk mengukur kepuasan kerja tersebut, diantaranya yaitu:
1. Job Descriptive Index yang dibuat oleh Smith & Kendall pada tahun 1969. Alat ukur mencakup lima aspek, yaitu pekerjaan itu sendiri, gaji, promosi, supervisi dan rekan kerja.
2. Fixed-response scale yang didasarkan pada teori discrepancy, contohnya yang disebut Need Satisfaction Questionaire, yang dibuat oleh Porter (1961).
3. The Job Satisfaction Survey (JJS) dikembangkan oleh Spector pada tahun 1985.
Alat ukur ini terdiri dari sembilan aspek kepuasan kerja yaitu gaji, promosi, supervisor, tunjangan, peraturan dan prosedur, rekan kerja, pekerjaan itu sendiri dan komunikasi.
Dalam penelitian ini, peneliti mengadaptasi alat ukur The Job Descriptive Index yang dikembangkan oleh Smith, Kendall & Hullin pada tahun 1969 yang mencakup lima dimensi kepuasan kerja, yaitu pekerjaan itu sendiri, gaji, promosi, supervisor dan rekan kerja. Alat ukur ini dipilih karena dirasa paling sesuai dan paling menggambarkan kepuasan kerja pada aparatur desa.
1.3 Religiusitas
2.3.1 Definisi Religiusitas
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, agama adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan
20
manusia serta lingkungannya. Secara etimologis, religi yang berarti agama terambil dari bahasa Latin religare yang berarti mengikat kembali. Durkheim menyatakan bahwa agama adalah suatu sistem terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan praktik yang berhubungan dengan hal yang suci (Pasiak, 2012).
Dalam aspek perilaku, agama identik dengan istilah religiusitas (keberagamaan) yang artinya berhubungan dengan pengetahuan, keyakinan, pelaksanaan ibadah dan akidah, dan penghayatan atas agama yang dianutnya (Pasiak, 2012). Menurut Fetzer (2003), religiusitas adalah kemampuan individu merasakan pengalaman spiritual dalam kesehariannya, mengalami kebermaknaan hidup, mengekspresikan agama sebagai sebuah nilai, meyakini ajaran agamanya, dapat memaafkan, melakukan praktik agama secara pribadi, menggunakan agama sebagai coping, mendapatkan dukungan dari penganut agama yang sama, mengalami sejarah keberagamaan, komitmen dalam beragama, mengikuti organisasi keberagamaan, dan meyakini pilihan agamanya. Religiusitas juga mempengaruhi perilaku, sosial dan psikologis seseorang.
Kendler, et al.(2003), mengukur religiusitas secara luas, dengan mencoba mengembangkan teknik analisis keberagamaan menjadi lebih mudah dengan menguraikannya menjadi beberapa dimensi untuk mendapatkan hasil yang lebih representatif. Yaitu adalah perwujudan individu penganut agama yang menggambarkan, kemampuan hubungan individu dengan Tuhannya, serta hubungan individu dalam membina hubungan dengan individu lain maupun sesama penganut agamanya, kemampuan individu menggambarkan pendekatan kepedulian; rasa kasih sayang; dan saling memaafkan terhadap sekitar,
21
kemampuan individu menggambarkan kekuasaaan yang dimiliki Tuhan dan mempersepsi bahwa Tuhan lah sebagai penentu/hakim, kemampuan individu tersebut bersyukur, kemampuan individu menggambarkan perilaku yang tidak menyimpan rasa dendam dan kemampuan individu melambangkan Tuhannya yang mencerminkan kepercayaan dan keyakinannya terhadap keterlibatan Tuhan dalam urusannya.
Berdasarkan beberapa definisi yang dijelaskan sebelumnya peneliti mengacu pada teori yang dikemukakan oleh kindler et. al. (2003), bahwa yang dimaksud dengan religiusitas adalah perwujudan individu penganut agama yang menggambarkan, kemampuan hubungan individu dengan Tuhannya, serta hubungan individu dalam membina hubungan dengan individu lain maupun sesama penganut agamanya, kemampuan individu menggambarkan pendekatan kepedulian; rasa kasih sayang; dan saling memaafkan terhadap sekitar, kemampuan individu menggambarkan kekuasaaan yang dimiliki Tuhan dan mempersepsi bahwa Tuhan lah sebagai penentu/hakim, kemampuan individu tersebut bersyukur, kemampuan individu menggambarkan perilaku yang tidak menyimpan rasa dendam dan kemampuan individu melambangkan Tuhannya yang mencerminkan kepercayaan dan keyakinannya terhadap keterlibatan Tuhan dalam urusannya.
2.3.2 Dimensi religiusitas
Menurut Kendler, et al., (2003) ada tujuh dimensi religiusitas, yaitu:
1. General religiosity/coping religious
22
Merefleksikan tentang perhatian dan keterlibatan individu dengan hal-hal yang berkaitan dengan spiritual, seperti menghayati (sensing) keberadaan mereka selama di alam semesta serta keterlibatan aktif dengan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari maupun ketika sedang bertemu masalah (krisis).
2. Social religiosity (Religious ‘social support’)
Pada dimensi ini merefleksikan tingkat interaksi seseorang dengan individu religius lainnya. Hal ini juga menggambarkan frekuensi kehadiran di tempat beribadah sehingga dimensi ini disebut social religiosity. Social religiosity dianggap sama dengan apa yang kita istilahkan dengan religious social support.
3. Forgiveness (sikap memaafkan)
Kendler, et.al. (2003) menggambarkan forgiveness sebagai sikap perhatian, cinta kasih, dan memaafkan kepada sesama, sehingga dimensi ini tidak memunculkan istilah Tuhan karena ingin mengukur sikap memaafkan terhadap sesama individu.
4. God as judge (Tuhan sebagai penentu/hakim).
Dimensi ini menggambarkan tentang kepercayaan bahwa Tuhan akan memberi ganjaran dari apa yang telah kita lakukan, seperti saat kita melakukan hal baik maka Tuhan akan memberikan pahala, sebaliknya saat kita melakukan kesalahan Tuhan akan memberikan hukuman.
5. Thankfulness (Bersyukur)
Kemampuan individu menggambarkan rasa syukur (thankfulness), merefleksikan perasaan berterima kasih yang berlawanan dengan marah terhadap kehidupan dan Tuhan.
23
6. Unvengefulness (Rasa tidak dendam)
Menggambarkan perilaku yang tidak mendendam yaitu mencerminkan suatu perilaku yang tidak menaruh rasa dendam.
7. Involve god (Keterlibatan Tuhan)
Merefleksikan sebuah kepercayaan terhadap keterlibatan Tuhan yang secara aktif dan positif dalam urusan manusia (sehari-hari).
2.3.3 Pengukuran religiusitas
Dalam beberapa penelitian sebelumnya ditemukan instrumen yang digunakan untuk mengukur religiusitas:
1. Fetzer Institute (2003) mengukur religiusitas Brief Multidimensional Measure of Religiousness/Spirituality (BMMRS) yang terdiri dari dua belas dimensi, yaitu:
daily spiritual experience, meaning, value, belief, forgiveness, private religious practice, religious/spiritual coping, religious support, religious/spiritual history, commitment, organizational religiousness, religious preference.
2. Kendler et.al. (2003) mengukur religiusitas yang terdiri dari tujuh dimensi, yaitu: general religiousity, social religiousity, involved God, forgiveness, God as judge, unvengefulness, thankfulness.
3. Huber dan Huber (2012) mengembangkan Charles Glock’s Model untuk mengukur religiusitas dengan menggunakan Centrality of Religiousity Scale (CRS). Terdapat lima dimensi yang diukur, yaitu: intellect, ideology, public practice, private practice, experience.
Untuk mengukur religiusitas dalam penelitian, peneliti menggunakan skala religiusitas skala pengukuran yang diterjemahkan dan dimodifikasi dari skala
24
pengukuran religiusitas yang disusun oleh Kendler, et.al. (2003) dengan tujuh dimensi: general religiosity, sosial religiosity, forgiveness, god as judge, thankfulness, unvengefulnes dan involve god.
2.4 Kerangka Berpikir
Kinerja aparatur sangat berpengaruh terhadap kemajuan dan kesejahteraan rakyat, karena kesuksesan pemerintah berasal dari kinerja aparaturnya. Kinerja aparatur ada yang baik dan ada yang buruk. Banyak faktor yang mempengaruhi kinerja, salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja adalah kepuasan kerja.
Kepuasan kerja akan mencerminkan perasaan aparatur terhadap pekerjaannya yang akan berdampak pada kinerja aparatur tersebut. Penelitian yang dilakukan Judge, Thoresen, Bono dan Patton (2001) membuktikan bahwa kinerja dipengaruhi oleh kepuasan kerja. Penelitian Halil Zaim, İrfan Kurt, dan Selman Tetik (2012) menunjukan kepuasan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja. Namun, penelitian yang dilakukan oleh Erline Kristine (2017) menunjukan kepuasan kerja berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja.
Selain kepuasan kerja, variabel religiusitas juga merupakan salah satu dimensi yang dapat memberikan dampak positif terhadap kinerja. Aviyah dan Farid (2014) menjelaskan bahwa tingkat kesadaran religious seseorang dapat menimbulkan dorongan yang kuat dan dapat menjadi motivator untuk mengarahkan seseorang dalam bekerja..
Penelitian Amaliah. et. al. (2015) menunjukan religiusitas mempengaruhi kinerja secara signifikan. Selain itu penelitian yang dilakukan Alfisyah dan Anwar
25
(2018) juga menunjukan bahwa religiusitas mempengaruhi kinerja secara signifikan. Namun, penelitian yang dilakukan oleh Khairunnisa (2016) menunjukan bahwa religiusitas berpengaruh negatif terhadap kinerja.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh Kepuasan Kerja dan Religiusitas terhadap Kinerja Aparatur Desa di Kecamatan Banyusari Kabupaten Karawang. Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas, maka kerangka berpikir penelitian ini adalah sebagai berikut:
Gambar 2.1: Kerangka Berpikir Penelitian
26
2.5 Hipotesis Penelitian
Hipotesis merupakan jawaban sementara yang masih harus dibuktikan kebenarannya didalam kenyataan (empirical verification), percobaan (experimentation) atau praktik (implementation) (Umar, 2003:56). Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
2.5.1 Hipotesis Mayor
Ada pengaruh yang signifikan kepuasan kerja dan religiusitas terhadap kinerja 2.5.2 Hipotesis Minor
H1.1 = Terdapat pengaruh yang signifikan pekerjaan itu sendiri terhadap variabel kinerja
H1.2 = Terdapat pengaruh yang signifikan gaji terhadap variabel kinerja
H1.3 = Terdapat pengaruh yang signifikan kesempatan promosi terhadap variabel kinerja
H1.4 = Terdapat pengaruh yang signifikan atasan terhadap variabel kinerja H1.5 = Terdapat pengaruh yang signifikan rekan kerja terhadap variabel kinerja H1.6 = Terdapat pengaruh yang signifikan general religiosity terhadap variabel
kinerja
H1.7 = Terdapat pengaruh yang signifikan sosial religiosity terhadap variabel kinerja
H1.8 = Terdapat pengaruh yang signifikan forgiveness terhadap variabel kinerja H1.9 = Terdapat pengaruh yang signifikan god as judge terhadap variabel kinerja
27
H1.10 = Terdapat pengaruh yang signifikan thankfulness terhadap variabel kinerja
H1.11= Terdapat pengaruh yang signifikan unvengefulnes terhadap variabel kinerja
H1.12= Terdapat pengaruh yang signifikan involve god terhadap variabel kinerja Karena tahap selanjutnya adalah uji statistik, maka hipotesis pada penelitian ini akan diubah menjadi hipotesis nol.
28
BAB 3
METODE PENELITIAN
Pada bab ini, peneliti mengemukakan tentang metodologi penelitian. Adapun penjelasan mengenai metode dimulai dengan deskripsi mengenai populasi, variabel penelitian, definisi operasional variabel penelitian, instrumen pengumpulan data, serta metode analisis data. Jenis penelitian, subyek penelitian, instrumen yang digunakan, pengumpulan data dan teknik analisa data.
3.1 Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel 3.1.1 Populasi dan sampel
Populasi yang diambil dalam penelitian ini adalah aparatur desa di Kecamatan Banyusari Kabupaten Karawang. Populasi dalam penelitian ini terdiri adari 404 aparatur desa yang tersebar di 12 desa. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 163 responden yang terdiri dari 141 laki-laki dan 22 perempuan.
3.1.2 Teknik Pengambilan sampel
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini termasuk kategori non probabilty sampling, yaitu besar peluang untuk terpilihnya anggota populasi sebagai sample sama.
3.2 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 3.2.1 Variabel Penelitian
Adapun variabel penelitian yang akan diteliti dalam penelitian ini yaitu : kinerja, pekerjaan itu sendiri, gaji, kesempatan promosi, atasan, rekan kerja, general religiosity, social religiosity, forgiveness, God as judge, thankfulness, unvengefulnes dan involve God
29
Variabel dependen (DV) dalam penelitian ini adalah kinerja, sedangkan variabel pekerjaan itu sendiri, gaji, kesempatan promosi, atasan, rekan kerja, general religiosity, sosial religiosity, forgiveness, god as judge, thankfulness, unvengefulnes dan involve god merupakan variabel independen (IV).
3.2.2 Definisi Operasional
Berdasarkan landasan teori yang ada serta rumusan hipotesis penelitian, maka yang menjadi variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Kinerja
Perilaku dibawah kontrol individu yang relevan pada tujuan organisasi (Borman & Motowidlo, dalam Van Scotter, 1994). pengukuran kinerja ini dapat diperoleh dari skor Task Performance Scale yang dikembangkan oleh Borman, Ackerman, dan Kubisiak (1994) dengan tiga dimensi yaitu, Task Proficiency/Quality, Productivity, dan Judgment and Problem Solving.
2. Kepuasan Kerja
Kepuasan kerja dalam penelitian ini adalah perasaan subjektif yang dirasakan oleh seseorang pegawai, sebuah kondisi menyenangkan, emosi positif karyawan yang dihasilkan dari penilaian kognitif dari pekerjaan dan pengalaman. (Smith dalam Ramayah et.al, 2001). Yang terdiri dari lima dimensi, yaitu : pekerjaan itu sendiri, gaji, kesempatan promosi, atasan , dan rekan kerja.
3. Religiusitas
Religiusitas adalah perwujudan aparatur desa penganut agama di Kecamatan Banyusari Kabupaten Karawang berdasarkan dimensi general religiosity, sosial
30
religiosity, forgiveness, god as judge, thankfulness, unvengefulnes dan involve god yang diukur dengan skala religiusitas yang diadaptasi dari Kendler, et.al. (2003).
3.3 Instrumen Pengumpulan Data
Instrument pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah berbentuk kuesioner dengan menggunakan skala Likert yang mana pada setiap pertanyaan dilengkapi dengan alternatif jawaban. Dalam skala ini subjek diminta menyatakan kesesuaian dan ketidaksesuaian terhadap isi pernyataan dalam empat kategori jawaban, yaitu Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Tidak Sesuai (TS), Sangat Tidak Sesuai (STS).
Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya pemusatan (central tendency) atau menghindari jumlah respon yang bersifat netral. Model ini terdiri dari pernyataan positif (favourable) dan pernyataan negatif (unfavourable).
Penskoran tertinggi diberikan pilihan sangat sesuai dan terendah pada pernyataan sangat tidak sesuai untuk pernyataan favourable. Selanjutnya pernyataan tertinggi untuk pernyataan unfavorable diberikan pada pilihan jawaban sangat tidak sesuai dan skor terendah diberikan untuk pilihan sangat sesuai. Setiap katagori memiliki nilai sebagai berikut:
Tabel 3.1
Skor untuk Pernyataan Favorable dan Unfavorable Skala Likert
Alternatif Jawaban Favorable Unfavorable
Sangat Sesuai (SS) 4 1
Sesuai (S) 3 2
Tidak Sesuai (TS) 2 3
Sangat Tidak Sesuai (STS) 1 4
Dalam penelitian ini, peneliti akan menggunakan tiga alat ukur, yaitu:
Task Performance Scale, The Job Descriptive Index dan alat ukur yang
31
diadaptasi dari skala religiusitas Kendler. Penjelasan dari tiga alat ukur tersebut adalah sebagai berikut:
3.3.1 Alat ukur kinerja
Pengukuran kinerja dalam penelitian ini diperoleh dari skor pengukuran kinerja bernama Task Performance Scale yang diadaptasi dari penelitian Borman, Ackerman, dan Kubisiak (1994) dengan tiga dimensi yaitu, Task Proficiency/Quality, Productivity, dan Judgment and Problem Solving.
Tabel 3.2
Blue Print Skala Kinerja (Task Performance Scale)
No. Dimensi Indikator Item Jumlah Tidak Setuju” hingga “Sangat Setuju”, yang kemudian peneliti modifikasi menjadi empat rentang poin dari “Sangat Tidak Sesuai” hingga “Sangat Sesuai”.
32
3.3.2 Alat ukur kepuasan kerja
Untuk mengukur Kepuasan Kerja, penulis mengadaptasi dari alat ukur The Job Descriptive Index yang dikembangkan oleh Smith, Kendall & Hullin (1969) yang mencakup lima dimensi, yaitu : pekerjaan itu sendiri, gaji, kesempatan promosi, atasan dan rekan kerja.
Tabel 3.3
Blue Print Skala Kepuasan Kerja
No Dimensi Indikator Nomor Item
Jumlah
- Merasa diperlakukan adil oleh atasan
3.3.3 Alat ukur religiusitas
Untuk mengukur religiusitas peneliti mengadaptasi dari skala religiusitas Kendler, et al., (2003). Dalam skala ini terdapat tujuh dimensi yaitu general religiosity (coping religious); sosial religiosity; forgiveness; Tuhan sebagai penentu/hakim
33
(god as judge); Rasa berterima kasih (thankfulness); Perasaan tidak dendam (unvengefulness) dan keterlibatan Tuhan dalam aktifitas keseharian (involve god).
Berikut adalah blueprint untuk skala variabel Religiusitas yang akan digunakan dalam penelitian ini :
Tabel 3.4 Tuhan dalam masa krisis / menghadapi kesulitan
2. Sosial religiosity - Membina hubungan dengan individu sesame manusia
3. Forgiveness - Memaafkan orang lain dan diri sendiri
4. God as judge - Mempercayai tuhan sebagai penetap takdir
32, 33 - 2
- Mempercayai hukum dan nilai-nilai dari Tuhan
6. Unvengefulness - Membebaskan diri dari rasa dendam
34
3.4 Pengujian Validitas Konstruk
Untuk menguji validitas konstruk setiap item maka penulis melakukan uji validitas menggunakan CFA (Confirmatory Factor Analysis) dengan software LISREL 8.7. yang bertujuan untuk mengetahui apakah setiap item pada variabel valid dalam mengukur apa yang hendak diukur. Adapun langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Menguji apakah hanya satu faktor saya yang menyebabkan item-item saling berkorelasi (hipotesis uni-dimensional item). Hipotesis ini diuji dengan Chi-Square, untuk memutuskan apakah memang tidak ada perbedaan antara matriks korelasi yang diperoleh dari data dengan matriks korelasi yang dihitung menurut teori atau model. Jika hasil Chi-Square tidak signifikan (p>0.05) berarti hipotesis nihil yang menyatakan bahwa tidak ada perbedaan antara matriks korelasi yang diperoleh dari data dan model tidak ditolak yang artinya item yang diuji mengukur satu faktor saja (uni-dimensional). Namun jika nilai Chi-Square signifikan (p<0.05), maka diperlukan modifikasi terhadap model dengan cara memperbolehkan kesalahan pengukuran pada item-item saling berkorelasi tetapi dengan tetap menjaga bahwa item hanya mengukur satu faktor (uni-dimensional). Jika sudah diperoleh model yang fit (tetapi tetap uni-dimensional) maka dilakukan langkah selanjutnya.
2. Menganalisis item mana yang menjadi sumber tidak fit. Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mengetahui item mana yang menjadi sumber tidak fit, yaitu:
35
- Menggunakan uji signifikansi terhadap koefisien muatan faktor dari masing-masing item dengan menggunakan t-test. Jika nilai t yang diperoleh pada sebuah item tidak signifikan (ǀt<1.96ǀ) maka item tersebut akan di drop karena dianggap tidak signifikan sumbangannya terhadap pengukuran yang sedang dilakukan.
- Melihat arah dari koefisien muatan faktor (factor loading). Jika suatu item memiliki muatan faktor negatif, maka item tersebut didrop karena tidak sesuai dengan pengukuran (berarti semakin tinggi nilai pada item tersebut semakin rendah nilai pada faktor yang diukur).
- Sebagai kriteria tambahan (optional) dapat dilihat juga banyaknya korelasi partial antara kesalahan pengukuran pada suatu item yang berkorelasi dengan kesalahan pengukuran pada item lain. Jika pada suatu item terdapat terlalu banyak korelasi seperti ini (misalnya lebih dari tiga), maka item tersebut juga akan didrop. Alasannya karena item yang demikian selain mengukur apa yang ingin diukur juga mengukur hal lain (multi-dimensional item).
Jika langkah-langkah di atas telah dilakukan, maka diperoleh item-item yang valid untuk mengukur apa yang ingin diukur.
3.4.1 Uji validitas konstruk skala kinerja
Penulis menguji apakah 9 item yang ada bersifat unidimensional, artinya benar hanya mengukur kinerja. Dari hasil analisis CFA yang dilakukan dengan model satu faktor, ternyata tidak fit, dengan chi square = 127,63, Pvalue = 0,00000, dan nilai RMSEA 0,152. Oleh sebab itu penulis melakukan modifikasi terhadap model, dimana kesalahan pengukuran pada beberapa item dibebaskan berkorelasi
36
satu sama lainnya. Maka, diperoleh model fit dengan chi-square = 6,99, Pvalue = 0,90282, dan nilai RMSEA 0,000.
Setelah didapat nilai Pvalue > 0,05 dapat dinyatakan bahwa model dengan satu faktor dapat diterima. Artinya seluruh item hanya mengukur satu faktor yaitu kinerja. Kemudian penulis melihat apakah item tersebut mengukur faktor yang hendak diukur secara signifikan dan sekaligus menentukan apakah item tersebut perlu didrop atau tidak. Pengujiannya dilakukan dengan melihat nilai t bagi setiap koefisien muatan faktor, seperti pada tabel 3.5 dibawah ini.
Tabel 3.5
Muatan faktor item kinerja
ITEM KOEFESIEN STANDAR
EROR T-VALUE SIGNIFIKAN
1 0.80 0.07 10.72 V tidak terdapat item yang muatan faktornya negatif. Artinya, seluruh item valid untuk mengukur apa yang hendak diukur.
3.4.2 Uji validitas konstruk skala pekerjaan itu sendiri
Penulis menguji apakah 5 item yang ada bersifat unidimensional, artinya benar hanya mengukur pekerjaan itu sendiri. Dari hasil analisis CFA yang dilakukan dengan model satu faktor, ternyata tidak fit, dengan chi square = 23,09 Pvalue =
37
0,00032, dan nilai RMSEA 0,149. Oleh sebab itu penulis melakukan modifikasi terhadap model, dimana kesalahan pengukuran pada beberapa item dibebaskan berkorelasi satu sama lainnya. Maka, diperoleh model fit dengan chi-square = 0,26, Pvalue=0,87733, dan nilai RMSEA 0,000.
Setelah didapat nilai Pvalue > 0,05 dapat dinyatakan bahwa model dengan satu faktor dapat diterima. Artinya seluruh item hanya mengukur satu faktor yaitu pekerjaan itu sendiri. Kemudian penulis melihat apakah item tersebut mengukur faktor yang hendak diukur secara signifikan dan sekaligus menentukan apakah item tersebut perlu didrop atau tidak. Pengujiannya dilakukan dengan melihat nilai t bagi setiap koefisien muatan faktor, seperti pada tabel 3.6 dibawah ini.
Tabel 3.6
Muatan faktor item pekerjaan itu sendiri ITEM KOEFESIEN STANDAR
EROR T-VALUE SIGNIFIKAN
1 0.09 0.11 0.83 X
2 0.32 0.10 3.21 V
3 0.20 0.10 2.02 V
4 0.70 0.14 4.86 V
5 0.57 0.13 4.52 V
Berdasarkan tabel 3.6, nilai t bagi koefisien muatan faktor item 2, 3, 4, 5, adalah signifikan karena t > 1.96. Dengan demikian secara keseluruhan item nomor 1 di drop karena memiliki nilai t < 1.96 ataupun bernilai negatif. Artinya bobot nilai pada item tersebut tidak akan ikut dianalisis dalam perhitungan factor score.
3.4.3 Uji validitas konstruk skala gaji
Penulis menguji apakah 5 item yang ada bersifat unidimensional, artinya benar hanya mengukur gaji. Dari hasil analisis CFA yang dilakukan dengan model satu faktor, ternyata tidak fit, dengan chi square = 104,44 , Pvalue = 0,00000, dan nilai
38
RMSEA 0,178. Oleh sebab itu penulis melakukan modifikasi terhadap model, dimana kesalahan pengukuran pada beberapa item dibebaskan berkorelasi satu sama lainnya. Maka, diperoleh model fit dengan chi-square = 17,96 Pvalue = 0,00300, dan nilai RMSEA 0,126.
Setelah didapat nilai Pvalue > 0,05 dapat dinyatakan bahwa model dengan satu faktor dapat diterima. Artinya seluruh item hanya mengukur satu faktor yaitu gaji. Kemudian penulis melihat apakah item tersebut mengukur faktor yang hendak diukur secara signifikan dan sekaligus menentukan apakah item tersebut perlu didrop atau tidak. Pengujiannya dilakukan dengan melihat nilai t bagi setiap koefisien muatan faktor, seperti pada tabel 3.7 dibawah ini:
Tabel 3.7
Muatan faktor item gaji
ITEM KOEFESIEN STANDAR
EROR T-VALUE SIGNIFIKAN
1 0.19 0.08 2.29 V drop karena memiliki nilai bernilai negatif. Secara keseluruhan artinya dari seluruh faktor item gaji item tersebut hanya satu item yang akan ikut dianalisis dalam perhitungan berikutnya.
3.4.4 Uji validitas konstruk skala kesempatan promosi
Penulis menguji apakah 5 item yang ada bersifat unidimensional, artinya benar hanya mengukur promosi. Dari hasil analisis CFA yang dilakukan dengan model satu faktor, ternyata tidak fit, dengan chi square = 85,85, Pvalue = 0,00000, dan
39
nilai RMSEA 0,316. Oleh sebab itu penulis melakukan modifikasi terhadap model, dimana kesalahan pengukuran pada beberapa item dibebaskan berkorelasi satu sama lainnya. Maka, diperoleh model fit dengan chi-square = 0,02 Pvalue = 0,88992, dan nilai RMSEA 0,000.
Tabel 3.8
Muatan faktor item kesempatan promosi ITEM KOEFESIEN STANDAR
EROR T-VALUE SIGNIFIKAN
1 1.40 0.53 2.63 V
2 0.03 0.05 0.51 X
3 -0.50 0.19 -2.67 X
4 0.62 0.23 2.66 V
5 0.19 0.10 1.96 V
Setelah didapat nilai Pvalue > 0,05 dapat dinyatakan bahwa model dengan satu faktor dapat diterima. Artinya seluruh item hanya mengukur satu faktor yaitu kesempatan promosi. Kemudian penulis melihat apakah item tersebut mengukur faktor yang hendak diukur secara signifikan dan sekaligus menentukan apakahitem tersebut perlu didrop atau tidak. Pengujiannya dilakukan dengan melihat nilai t bagi setiap koefisien muatan faktor.
Berdasarkan tabel 3.8, nilai t bagi koefisien muatan faktor item 1, 4, dan 5 adalah signifikan karena t > 1.96. Dengan demikian secara keseluruhan item nomor 2 dan 3 di drop karena memiliki nilai t < 1.96 ataupun bernilai negatif.
Artinya bobot nilai pada item tersebut tidak akan ikut dianalisis dalam perhitungan factor score.
3.4.5 Uji validitas konstruk Atasan
3.4.5 Uji validitas konstruk Atasan