• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

3.8 Prosedur Kerja

3.8.10 Pengukuran Total Protein Saliva

Pengukuran total protein saliva dilakukan berdasarkan prosedur yang tertulis pada PierceTM BCA Protein Assay Kit.

1. Persiapan larutan standard

Langkah awal adalah melakukan pembuatan larutan standard ( Gambar 18 ).

Encerkan standar albumin (BSA) ke dalam beberapa vial, pengenceran tersebut menggunakan larutan PBS. Dengan panduan pengenceran sebagai berikut:

a. Vial A: 300 μl larutan BSA.

b. Vial B: 375 μl larutan BSA diencerkan dengan 125 μl larutan PBS.

c. Vial C: 325 μl larutan BSA diencerkan dengan 325 μl larutan PBS.

d. Vial D: 175 μl larutan dari vial B diencerkan dengan 175 μl larutan PBS.

e. Vial E: 325 μl larutan dari vial C diencerkan dengan 325 μl larutan PBS.

f. Vial F: 325 μl larutan dari vial E diencerkan dengan 325 μl larutan PBS.

g. Vial G: 325 μl larutan dari vial F diencerkan dengan 325 μl larutan PBS.

h. Vial H: 100 μl larutan dari vial G diencerkan dengan 400 μl larutan PBS.

i. Vial I: 400 μl larutan PBS.

Gambar 18. Pembuatan larutan standard (dokumentasi).

2. Pembuatan Working Reagent (WR) dengan mencampurkan Reagen A (10,000μl) dan B (200μl) ( Gambar 19).

Gambar 19. Pencampuran reagen A dan B dengan vorteks (dokumentasi).

3. Selanjutnya, sampel (25 μl) dicampur dengan Working Reagent (WR) (200 μl) (Gambar 20).

Gambar 20. Pencampuran sampel dan WR (dokumentasi).

4. Aduk dengan microplate shaker agar sampel dan working reagent dapat tercampur secara merata (Gambar 21).

Gambar 21. Aduk dengan shaker (dokumentasi).

5. Kemudian diinkubasi selama 30 menit, pada suhu 37°C (Gambar 22).

Gambar 22. Inkubasi menggunakan inkubator (dokumentasi).

6. Setelah itu diletakkan pada microplate reader 562nm selama 10 menit untuk mengukur konsentrasi total protein sampel (Gambar 23). Konsentrasi tersebut dinyatakan dalam satuan µg/mL.

Gambar 23. Pembacaan dengan microplate reader (dokumentasi).

3.8.11 Pemeriksaan Konsentrasi Lisozim

1. Sampel saliva disimpan dalam suhu -20°C. Apabila hendak digunakan, sampel harus diletakan dalam suhu ruang sampai cair (sekitar 2 jam). Microtube disentrifugasi dengan mesin sentrifugal (Eppendorf centrifuge) 1000 putaran/ menit selama 20 menit dengan suhu 2-8°C.

2. Pengenceran Sampel:

Penelitian ini menggunakan pengenceran sampel dari 1: 100 (1μl sampel saliva dalam 99 μl sampel dilution buffer).

3. Wash Buffer : Encerkan 30ml wash buffer konsentrat pada air distilasi untuk mempersiapkan 750 ml wash buffer

4. Persiapan standard (Gambar 24)

a. 600 ng/ml larutan standard: Tambahkan 1 ml standard dilution buffer dalam standard tube, biarkan dalam suhu ruang selama 10 menit dan campur dengan baik.

b. 300 ng/ml: 9,3 ng/ml larutan standard. Buat label pada eppendorf dengan 300 ng/ml, 150 ng/ml, 75 ng/ml, 37,5 ng/ml, 18,75 ng/ml, 9,375 ng/ml. Masukan 0,3 ml standar dilution buffer ke dalam masing-masing tube.

Gambar 24. Persiapan standard (dokumentasi).

5. Prosedur pemeriksaan konsentrasi lisozim:

a. Siapkan semua reagen, standard kerja, dan sampel

b. Cuci plate 2 kali sebelum ditambahkan standard dan sampel (Gambar 25).

Gambar 25. Pencucian plate (dokumentasi).

c. Tambahkan sampel dan biotin–detection antigen. (Gambar 26). Tambahkan 50 μl standard dan sampel saliva pada masing-masing well. Selanjutnya tambahkan 50 μl biotin–detection antigen pada masing-masing well tersebut. Tutup dengan adesif strip.

Inkubasi selama 45 menit pada suhu 37°C.

Gambar 26. Penambahan biotin detection (dokumentasi).

d. Aspirasi masing-masing well dan cuci, ulangi proses tersebut dua kali lagi sehingga total pencucian 3 kali (masing-masing well dicuci dengan 350 μl wash buffer). Pencucian dilakukan menggunakan washer otomatis. Balikkan plate dan hilangkan cairan di atas kertas tisu.

e. Tambahkan 100μl HRP-Streptavidin Conjugate (SABC) pada masing-masing well (Gambar 27). Tutupi well dengan adesif strip baru. Inkubasi selama 30 menit pada suhu 37°C (Gambar 28).

Gambar 27. Penambahan SABC (dokumentasi).

Gambar 28. Inkubasi 30 menit pada suhu 37°C (dokumentasi).

f. Ulangi aspirasi/proses pencucian untuk 5 kali seperti tahapan d.

g. Tambahkan 90μl TMB substrat pada masing-masing well (sebelumnya TMB dimasukan dalam inkubator 37°C selama 30 menit sebelum digunakan) seperti pada Gambar 29. Inkubasi selama 10 menit pada suhu 37°C.

Gambar 29. Penambahan TMB substrat (dokumentasi).

h. Tambahkan 50μl larutan stop pada masing-masing well, secara hati-hati ketuk plate untuk memastikan larutan bercampur (Gambar 30).

Gambar 30. Penambahan stop solution (dokumentasi).

i. Tentukan optical density masing-masing well segera dengan menggunakan microplate reader di set 450 nm (Gambar 31).

Gambar 31. Pembacaan dengan microplate reader (dokumentasi).

3.9 Pencatatan Hasil Pemeriksaan

Lakukan pencatatan pada hasil pengamatan setelah semua pemeriksaan telah dilakukan. Pencatatan hasil pengamatan dilakukan pada lembar pemeriksaan yang tersedia. Seluruh data hasil pengamatan tersebut akan dikumpulkan dan dilakukan pengolahan dan analisis data.

3.10 Pengolahan dan Analisis Data

Data yang telah diperoleh dianalisa menggunakan software SPSS v25. Data setiap pemeriksaan dilakukan uji normalitas Shapiro-wilk untuk melihat distribusi data.

Untuk mengetahui perbedaan pH dan konsentrasi total protein sebelum dan setelah minum teh sidamanik pada kelompok karies dan bebas karies digunakan uji T dependen, untuk laju alir dan lisozim digunakan uji Wilcoxon. Lalu untuk mengetahui perbedaan pH dan konsentrasi total protein antara kelompok karies dan kelompok bebas karies digunakan uji T independent, untuk laju alir dan lisozim digunakan uji Mann-Whitney.

BAB 4

HASIL PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara dengan rentang usia 18-25 tahun pada bulan Oktober 2021 - Februari 2022 di Departemen Biologi Oral Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 30 orang, dan telah memenuhi kriteria inklusi serta ekslusi yang ditetapkan. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok bebas karies dan kelompok penderita karies. Masing-masing kelompok terdiri dari 15 orang. Kedua kelompok tersebut diberikan perlakuan yaitu diberi seduhan teh hitam sidamanik.

Penelitian ini menggunakan subjek sejumlah 30 subjek yang terbagi menjadi 2 kelompok. Dapat dilihat pada tabel 1 yang menunjukkan data demografi subjek pada penelitian ini yang terdiri dari jenis kelamin dan usia pada rentang 18-25 tahun.

Terdapat pula kelompok yang terdiri dari kelompok kelompok karies dengan skor DMFT 1-5 dan kelompok bebas karies.

Tabel 1. Data demografis subjek penelitian No.

4.1 Perbedaan Laju Alir Saliva Sebelum dan Setelah Minum Teh Hitam Sidamanik pada Penderita Karies dan Bebas Karies

Pada tabel 2 dapat dilihat rata-rata laju alir saliva sebelum meminum seduhan teh hitam sidamanik pada kelompok karies adalah 0,47 ± 0,26 ml/menit. Sedangkan rata-rata laju alir saliva setelah minum teh hitam sidamanik pada kelompok karies adalah 0,74 ± 0,62 ml/menit. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p = 0,001 artinya p < 0,05, maka terdapat perbedaan laju alir yang signifikan sebelum dan setelah minum teh hitam sidamanik pada kelompok karies.

Dapat dilihat pada tabel 2 bahwa rata-rata laju alir saliva sebelum meminum seduhan teh hitam sidamanik pada kelompok bebas karies adalah 0,53 ± 0,36 ml/menit.

Sedangkan setelah minum teh hitam sidamanik pada kelompok bebas karies adalah 0,78 ± 0,41 ml/menit. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p = 0,001 artinya p < 0,05, maka terdapat perbedaan laju alir yang signifikan sebelum dan setelah minum teh hitam sidamanik pada kelompok bebas karies.

Setelah meminum teh hitam sidamanik, dapat dilihat pada tabel 3 terdapat perbedaan laju alir antara kelompok karies dan bebas karies. Hasil uji statistik yang dilakukan dengan menggunakan uji Mann-Whitney menunjukkan nilai p = 0,281 dan artinya p > 0,05 , maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan laju alir saliva antara kelompok karies dan bebas karies setelah meminum teh hitam sidamanik.

Tabel 2.Perbedaan Laju Alir Saliva Sebelum dan Setelah Minum Teh Hitam Sidamanik pada Kelompok Karies dan Bebas Karies

Kelompok Laju Alir Saliva N Rata-rata ml/menit

Tabel 3. Perbedaan Laju Alir Saliva antara Kelompok Karies dan Bebas Karies Setelah Sidamanik pada Penderita Karies dan Bebas Karies

Pada tabel 4 terdapat rata-rata pH saliva sebelum meminum seduhan teh hitam sidamanik pada kelompok karies adalah 6,68 ± 0,20. Sedangkan rata-rata pH saliva setelah minum teh hitam sidamanik pada kelompok karies adalah 6,97 ± 0,20. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p = 0,000 artinya p < 0,05, maka terdapat perbedaan yang signifikan terhadap pH sebelum dan setelah minum teh hitam sidamanik pada kelompok karies.

Dapat dilihat pada tabel 4 bahwa rata-rata pH saliva sebelum meminum seduhan teh hitam sidamanik pada kelompok bebas karies adalah 6,81 ± 0,23. Sedangkan rata-rata pH saliva setelah minum teh hitam sidamanik pada kelompok bebas karies adalah 7,05 ± 0,21. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p = 0,000 artinya p < 0,05, maka terdapat perbedaan yang signifikan terhadap pH sebelum dan setelah minum teh hitam sidamanik pada kelompok bebas karies.

Setelah meminum teh hitam sidamanik, dapat dilihat pada tabel 5 terdapat perbedaan pH antara kelompok karies dan bebas karies. Hasil uji statistik yang dilakukan dengan menggunakan uji T independen menunjukkan nilai p= 0,296 artinya p > 0,05 , maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan pH saliva antara penderita karies dan bebas karies setelah meminum seduhan teh hitam sidamanik.

Tabel 4. Perbedaan pH Saliva Sebelum dan Setelah Minum Teh Hitam Sidamanik pada

Kelompok N Rata-rata Standar Deviasi p value

pH Karies 15 6,97 0,20 p= 0,296

Bebas Karies 15 7,05 0,22

Keterangan: Uji T independen

4.3 Perbedaan Total Protein Saliva Sebelum dan Setelah Minum Teh Hitam Sidamanik pada Penderita Karies dan Bebas Karies

Pada tabel 6 dapat dilihat rata-rata total protein saliva sebelum meminum seduhan teh hitam sidamanik pada kelompok karies adalah 733,92 ± 204,83 µg/ml.

Sedangkan rata-rata total protein saliva setelah minum teh hitam sidamanik pada kelompok karies adalah 895,39 ± 218,98 µg/ml. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p

= 0,010 artinya p < 0,05 , maka terdapat perbedaan yang signifikan pada total protein sebelum dan setelah minum teh hitam sidamanik pada kelompok karies.

Tabel 6 menunjukkan rata-rata total protein saliva sebelum meminum seduhan teh hitam sidamanik pada kelompok bebas karies adalah 695,38 ± 230,17 µg/ml.

Sedangkan rata-rata total protein saliva setelah minum teh hitam Sidamanik pada kelompok bebas karies adalah 803,00 ± 292,74 µg/ml. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p = 0,016 artinya p < 0,05, maka terdapat perbedaan total protein yang signifikan sebelum dan setelah minum teh hitam sidamanik pada kelompok bebas karies.

Setelah meminum teh hitam sidamanik, dapat dilihat pada tabel 7 terdapat perbedaan total protein antara kelompok karies dan bebas karies. Hasil uji statistik yang

dilakukan dengan menggunakan uji T independen menunjukkan nilai p= 0,336 artinya p > 0,05 , maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan pada pH saliva antara penderita karies dan bebas karies setelah meminum seduhan teh hitam sidamanik.

Tabel 6. Perbedaan Total Protein Saliva Sebelum dan Setelah Minum Teh Hitam Sidamanik pada Kelompok Karies dan Bebas Karies

Kelompok Total Protein N Rata-rata µg/ml

Standar Deviasi

p-value Karies Sebelum Perlakuan 15 733,92 204,83

p= 0,010* Setelah Perlakuan 15 895,39 218,98

Bebas Karies Sebelum Perlakuan 15 695,38 230,17 p= 0,016* Setelah Perlakuan 15 803,00 292,74

Keterangan: Uji T dependen

4.4 Perbedaan Lisozim Saliva Sebelum dan Setelah Minum Teh Sidamanik pada Penderita Karies dan Bebas Karies

Pada tabel 8 dapat dilihat rata-rata lisozim saliva sebelum meminum seduhan teh hitam sidamanik pada kelompok karies adalah 15,07 ± 18,62 µg/ml. Sedangkan rata-rata lisozim saliva setelah minum teh hitam sidamanik pada kelompok karies adalah 12,09 ± 14,35 µg/ml. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p = 0,28 artinya p > 0,05, maka tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada lisozim sebelum dan setelah minum teh hitam sidamanik pada kelompok karies .

Dapat dilihat pada tabel 8 bahwa rata-rata lisozim saliva sebelum meminum seduhan teh hitam sidamanik pada kelompok bebas karies adalah 23,96 ± 20,10 µg/ml.

Sedangkan rata-rata lisozim saliva setelah minum teh hitam sidamanik pada kelompok bebas karies adalah 16,59 ± 15,97 µg/ml. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p = 0,14

artinya p > 0,05, maka tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada lisozim sebelum dan setelah minum teh hitam sidamanik pada kelompok bebas karies.

Setelah meminum teh hitam sidamanik, dapat dilihat pada tabel 9 terdapat perbedaan lisozim antara kelompok karies dan bebas karies. Hasil uji statistik yang dilakukan dengan menggunakan uji Mann-Whitney menunjukkan nilai p= 0,373 artinya p > 0,05 , maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan pada lisozim saliva antara penderita karies dan bebas karies setelah meminum seduhan teh hitam sidamanik.

Tabel 8. Perbedaan Lisozim Saliva Sebelum dan Setelah Minum Teh Hitam Sidamanik pada Kelompok Karies

Kelompok Lisozim N Rata-rata µg/ml

Bebas Karies Sebelum Perlakuan 15 23.96 20,10

p = 0,14 Setelah Perlakuan 15 16,59 15,97

Keterangan: Uji Wilcoxon

Tabel 9. Perbedaan Lisozim Saliva antara Kelompok Karies dan Bebas Karies Setelah Minum Teh Hitam Sidamanik

BAB 5 PEMBAHASAN

Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental dengan rancangan penelitian pre-eksperimental yang diakukan dengan menggunakan pendekatan pretest-posttest design untuk mengetahui pengaruh sebelum dan sesudah meminum teh hitam Sidamanik terhadap laju alir, pH, total protein, dan lisozim saliva pada subjek karies dan bebas karies. Rentang usia pada penelitian ini 18-25 tahun karena pada usia ini sekresi saliva maupun kondisi rongga mulut dalam kategori baik.

Secara umum pada penelitian ini rongga mulut setiap subjek memiliki kondisi gigi geligi yang baik, karies hanya terdapat pada permukaan fisur dan enamel gigi. Untuk menjaga kondisi rongga mulut dalam keadaan normal, peneliti menginstruksikan pada setiap subjek agar tidak makan dan minums serta tidak mengosok gigi satu jam sebelum penelitian. Penelitian ini menggunakan teh hitam sidamanik yang diperoleh di pasaran.

Kandungan teh hitam sidamanik yang bersifat agak pahit, sehingga dalam penelitian ini didapatkan subjek mengeluhkan rasa yang pahit sewaktu meminum teh.

5.1 Perbedaan Laju Alir Saliva Sebelum dan Setelah Minum Teh Hitam Sidamanik pada Penderita Karies dan Bebas Karies

Tabel 2 menunjukkan rata-rata nilai laju alir saliva sebelum dan setelah minum teh hitam sidamanik pada penderita karies dan bebas karies. Hasil pengamatan menunjukkan terdapat kenaikan laju alir saliva. Hasil dari uji Wilcoxon yang dilakukan menunjukkan terdapat kenaikan yang signifikan pada laju alir saliva. Pada kelompok karies, sebanyak 15 sampel (100%) mengalami peningkatan laju alir saliva setelah minum seduhan teh hitam sidamanik yaitu dari rata-rata 0,47 ml/menit menjadi 0,74 ml/menit. Pada kelompok bebas karies, sebanyak 15 sampel (100%) mengalami peningkatan laju alir saliva setelah minum teh hitam sidamanik yaitu dari 0,53 ml/menit menjadi 0,78 ml/menit. Hal ini sesuai dengan penelitian di Manila pada 250 subjek yaitu mahasiswa pada Universitas Manila dengan rentang usia 25-30 tahun, yang meneliti efek meminum teh hitam terhadap pH saliva dan laju alir saliva. Hasil yang

diperoleh yaitu meminum teh hitam secara signifikan (<0,05) meningkatkan laju alir saliva. Pada penelitian tersebut didapati hasil laju alir saliva sebelum minum adalah 0,53 ml/menit, sedangkan setelah minum teh hitam mengalami peningkatan menjadi 0,56 ml/menit.6

Sekresi saliva dapat dirangsang dengan makanan dan minuman. Beberapa reseptor sensorik diaktifkan sebagai respons terhadap minuman atau asupan makanan.

Mekanoreseptor, reseptor gustatory, nosiseptor, dan reseptor penciuman, dan berbagai jenis rasa (manis, asam, pahit, asin), meningkatkan sekresi saliva yang disebut refleks saliva gustatory. Teh hitam umumnya memiliki rasa pahit. Dan dalam penelitian ini, semua subjek meminum teh hitam sidamanik tanpa tambahan gula. Rasa pahit diproses di dorsum lidah. Protein Taste 2 Receptor (TAS2R) berfungsi sebagai reseptor rasa pahit. Ketika subjek minum teh hitam, teh mengaktifkan reseptor rasa dan merangsang sekresi saliva, yang mengakibatkan terjadinya peningkatan laju alir saliva. Selain itu, minum teh dalam keadaan hangat, dapat meningkatkan vasodilatasi kelenjar saliva, sehingga aliran darah pada kelenjar saliva mengalami peningkatan dan mengakibatkan terjadinya peningkatan laju alir saliva.6

Pada tabel 3, tidak didapati perbedaan laju alir saliva yang signifikan antara penderita karies dan bebas karies (p = 0,281). Namun secara substansial nilai rata-rata laju alir saliva lebih tinggi pada kelompok bebas karies, dengan nilai rata-rata laju alir pada kelompok karies yaitu 0,74 ml/menit, sedangkan pada kelompok bebas karies yaitu 0,78 ml/menit. Hasil ini sesuai dengan penelitian di Iraq yang dilakukan pada anak-anak, di mana didapatkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam laju alir saliva antara subjek dengan dan tanpa karies.75 Pada penelitian ini, teh hitam memberikan pengaruh yang signifikan dalam meningkatkan laju alir saliva pada kelompok karies dan bebas karies. Selain itu, sampel pada penelitian ini merupakan mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi dengan oral hygiene yang baik dan karies yang hanya terbatas pada enamel. Sehingga hasil yang diperoleh memiliki nilai rata-rata laju alir saliva yang hampir sama antara kelompok karies dan bebas karies, hal tersebut yang mengakibatkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada hasil penelitian.

5.2 Perbedaan pH Saliva Sebelum dan Setelah Minum Teh Hitam Sidamanik pada Penderita Karies dan Bebas Karies

Tabel 4 menunjukkan rata-rata pH saliva sebelum dan setelah minum teh hitam sidamanik pada kelompok karies dan bebas karies. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada 15 orang penderita karies dan 15 orang bebas karies, didapatkan adanya perbedaan pH yang signifikan setelah diberikan seduhan teh hitam sidamanik.

Hasil pengujian menggunakan uji T dependen menunjukkan bahwa seduhan teh hitam sidamanik dapat meningkatkan pH saliva secara signifikan.

Pada penelitian ini terjadi peningkatan pH saliva baik pada kelompok karies maupun bebas karies. Pada kelompok karies terjadi peningkatan 100% dengan peningkatan rata-rata dari 6,68 menjadi 6.97, dan pada kelompok bebas karies terjadi peningkatan 100% pH saliva dari rata-rata 6,81 menjadi 7,05. Hal ini sesuai dengan penelitian di Manilla yang meneliti efek meminum teh hitam terhadap pH saliva yang memperoleh hasil bahwa meminum teh hitam secara signifikan meningkatkan pH saliva dari 6,04 menjadi 6,13.6

Hasil penelitian menunjukkan bahwa teh hitam dapat meningkatkan pH saliva secara signifkan, karena teh hitam dapat menghambat pembentukan asam, menghambat aktivitas enzim glukosiltransferase dari Streptococcus mutans dan bakteri pada plak serta dapat mencegah penurunan pH saliva. Teh hitam mengandung polifenol yang merupakan senyawa yang dapat mencegah karies gigi. Polifenol dalam teh hitam berupa katekin terdiri dari senyawa epigallo-catechin (EGC) dan epigallo-catechin gallate (EGCg). Kandungan polifenol yang tinggi pada teh hitam menyebabkan rasa pahit, serta katekin yang bersifat anti mikroba dan fluor yang dapat menghambat bakteri penyebab karies sehingga dapat meningkatkan pH saliva. Hal ini sesuai dengan teori Amerongen, pH saliva dipengaruhi oleh ritme siang dan malam, diet dan stimulasi.76

Stimulasi rasa pahit yang diperoleh setelah minum teh hitam dapat memengaruhi laju sekresi saliva sehingga volume saliva meningkat dan memengaruhi pH menjadi meningkat. Kenaikan pH yang terjadi akibat kenaikan sekresi saliva dikarenakan adanya peningkatan jumlah ion bikarbonat yang berbanding lurus dengan kecepatan

sekresi saliva, terutama dari kelenjar parotis. Peningkatan kecepatan sekresi saliva akan meningkatkan pH saliva. Begitu juga sebaliknya penurunan kecepatan sekresi akan menurunkan pH saliva karena susunan kuantitatif dan kualitatif elektrolit di dalam saliva menentukan pH dan kapasitas buffer.65

Pada tabel 5, menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara penderita karies dan bebas karies (p = 0,296). Hal ini sejalan dengan penelitian Jayarad D dan Ganesan S, yang memperoleh hasil bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada pH saliva antara kelompok karies dan bebas karies.77 Namun secara substansi pH pada kelompok karies (6,97 ± 0,20) cenderung lebih rendah daripada kelompok bebas karies (7,05 ± 0,21). Hal ini sesuai dengan hasil penelitian di India yang dilakukan pada 50 anak dengan karies dan 50 anak bebas karies berusia 6-12 tahun, yang memperoleh hasil bahwa pH saliva pada penderita karies (6.64 ± 0.54) lebih rendah daripada bebas karies (7.47 ± 0.45).78

Sistem penyangga bikarbonat, fosfat, dan protein menetralkan keasaman dari minuman, makanan serta dari aktivitas bakteri, sehingga mencegah terjadinya kolonisasi mikroorganisme patogen. Tidak adanya perbedaan yang signifikan pada hasil antara kelompok karies dan bebas karies yang ditemukan, dapat disebabkan oleh faktor ekstrinsik seperti kebiasaan diet dan kebersihan mulut, serta faktor intrinsik seperti kandungan bikarbonat yang bervariasi pada tiap individu. Namun seperti yang diketahui bahwa, demineralisasi terjadi ketika pH turun di bawah pH kritis, yaitu 5,5, sehingga nilai pH rata-rata yang diperoleh pada kelompok karies dalam penelitian ini (6,97) termasuk baik.78

5.3 Perbedaan Total Protein Saliva Sebelum dan Setelah Minum Teh Hitam Sidamanik pada Penderita Karies dan Bebas Karies

Tabel 6 menunjukkan rata-rata nilai total protein sebelum dan setelah minum teh hitam sidamanik pada penderita karies dan bebas karies. Hasil dari uji T dependen yang dilakukan, diperoleh hasil terdapat peningkatan total protein secara signifikan setelah minum teh hitam sidamanik. Pada kelompok karies, 13 sampel (86,67%) mengalami peningkatan konsentrasi total protein saliva setelah minum teh hitam sidamanik. Pada

kelompok bebas karies juga sebanyak 13 sampel (86,67%) mengalami peningkatan konsentrasi total protein saliva setelah minum teh hitam sidamanik. Hal ini sesuai dengan penelitian di Zhejiang yang meneliti efek meminum teh hitam terhadap total protein saliva dan menemukan adanya peningkatan terhadap total protein saliva pada subjek setelah meminum teh hitam secara signifikan. Meningkatnya total protein saliva diakibatkan oleh meningkatnya laju alir saliva dimana didapati peningkatan yang signifikan antar laju alir saliva dan total protein pada subjek yang diteliti.21 Peningkatan konsentrasi total protein disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi protein saliva yang disekresikan oleh kelenjar saliva. Kontribusi kelenjar saliva berbeda pada kondisi terstimulasi dan tidak terstimulasi. Pada kondisi tidak terstimulasi yang banyak berkontribusi adalah kelenjar submandibular dan kelenjar sublingual. Sedangkan pada kondisi terstimulasi, kontribusi kelenjar parotid sangat meningkat dan menghasilkan saliva dengan konsentrasi protein yang tinggi, salah satunya protein kaya prolin sebagai perlindungan terhadap adanya faktor ekstrinsik.79

Penurunan konsentrasi yang terjadi pada beberapa sampel, dapat disebabkan oleh stress dan asupan makanan. Pada penelitian yang dilakukan di Brazil, didapatkan hasil bahwa terjadi penurunan konsentrasi total protein pada subjek ketika berada pada

Penurunan konsentrasi yang terjadi pada beberapa sampel, dapat disebabkan oleh stress dan asupan makanan. Pada penelitian yang dilakukan di Brazil, didapatkan hasil bahwa terjadi penurunan konsentrasi total protein pada subjek ketika berada pada