BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1.1 Pengukuran Waktu Kerja
Pengukuran waktu kerja adalah pengukuran yang dilakukan pada suatu aktifitas atau kegiatan seorang operator atau tenaga kerja dalam menyelesaikan pekerjaannya. Pengukuran waktu merupakan usaha untuk mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan operator untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.
Teknik pengukuran waktu kerja dibagi ke dalam dua bagian :
1. Pengukuran secara langsung, yaitu pengukuran yang dilakukan secara langsung ditempat dimana pekerjaan yang bersangkutan dijalankan.
Pengukuran secara langsung ini dapat dengan menggunakan jam henti (Stopwach) atau dengan menggunakan sampling kerja.
2. Pengukuran waktu kerja secara tidak langsung, yaitu melakukan perhitungan waktu tampa harus ada di tempat pekerjaan, yaitu dengan membaca tabel-tabel yang menggambarkan elemen-elemen gerakan, termasuk di dalamnya data waktu baku dan data gerakan (Sutalaksana, 2006).
Dengan salah satu dari cara ini, waktu penyelesaian suatu pekerjaan yang dijalankan dengan suatu sistem kerja tertentu dapat ditentukan, sehingga jika pengukuran dilakukan terhadap beberapa alternatif sistem kerja yang terbaik
diantaranya dilihat dari segi waktu dapat dicari, yaitu sistem yang membutuhkan waktu penyelesaian tersingkat.
Pengukuran waktu ditujukan untuk mendapatkan waktu baku penyelesaian suatu pekerjaan, yaitu waktu yang dibutuhkan secara wajar oleh seorang pekerja normal untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang dijalankan dalam suatu sistem kerja terbaik (Sutalaksana, 2006).
2.1.2 Pengukuran Waktu Dengan Jam Henti (Stopwatch)
Pengukuran waktu kerja jam henti adalah aktifitas yang mengawali dan menjadi landasan untuk kegiatan kegiatan pengukuran kerja yang lain.
Pengukuran waktu kerja dengan menggunakan jam henti (Stopwach) diperkenalkan pertama sekali oleh Frederick W. Tailor pada abad 19. Metode ini baik diaplikasikan untuk pekerjaan yang singkat dan berulang-ulang (repetitive).
Dari hasil pengukuran ini maka akan diperoleh waktu baku untuk menyelesaikan suatu siklus pekerjaan, yang mana waktu ini akan dipergunakan sebagai standar penyelesaian bagi semua pekerja yang akan menyelesaikan suatu pekerjaan yang sama dengan pekerjaan yang telah diteliti tarsebut (Sutalaksana, 2006).
Pengukuran waktu kerja dengan menggunakan jam henti menggunakan jam henti (stopwach) sebagai alat utamanya. Metode ini paling sering digunakan karena kesederhanaan aturan-aturan pengukuran yang di pakai. Pengukuran waktu kerja dengan jam henti ini merupakan cara pengukuran yang objektif karena disini waktu ditetapkan berdasarkan fakta yang terjadi dan tidak cuma sekedar diestimasi secara subjektif. Aktifitas pengukuran ini pada umumnya diaplikasikan pada industri manufakture yang memiliki karakteristik kerja yang berulang-ulang,
terspesifikasi, dan menghasilkan barang yang relatif sama. Aktifitas ini juga bisa pula diaplikasikan untuk pekerjaan-pekerjaan nonmanufakture seperti pada aktifitas kantor dan kegiatan pelayanan asalkan memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut :
1. Pekerjaan tersebut harus dilakukan secara berulang-ulang dan seragam.
2. Macam pekerjaan harus sama.
3. Pekerjaan tersebut cukup banyak dilaksanakan dan teratur sifatnya, sehinga akan memadai untuk diukur dan dapat dihitung waktu bakunya.
4. Hasil kerja (output) harus dapat dihitung secara nyata baik secara langsung ataupun elemen-elemen kerja yang berlangsung.
Untuk mendapatkan hasil pengukuran yang baik, yaitu yang dapat dipertanggung jawabkan maka tidak cukup sekedar melakukan beberapa kali pengukuran dengan jam henti. Banyak hal yang perlu agar dapat diperoleh waktu yang pantas untuk pekerjaan yang bersangkutan, seperti yang berhubungan dengan kondisi kerja, cara pengukuran, jumlah pengukuran dan lain-lain.
2.1.3 Prosedur Pengukuran Waktu Dengan Jam Henti
Adapun prosedur pengukuran waktu dengan jam henti adalah sebagai berikut (Sutalaksana, 2006)
1. Melakukan langkah-langkah sebelum melakukan pengukuran a. Menetapkan tujuan pengukuran.
Tujuan melakukan kegiatan harus ditetapkan terlebih dahulu. Dalam pengukuran waktu hal yang penting yang harus diketahui dan ditetapkan adalah peruntukan penggunaan hasil pengukuran, tingkat ketelitian, dan
tingkat keyakinan yang diinginkan dari hasil pengukuran tersebut.
Selanjutnya mengidentifikasi pekerjaan yang akan diamati, dan menginformasikan kepada pekerja yang akan diamati.
b. Melakukan penelitian pendahuluan.
Tujuan yang ingin dicapai dari pengukuran waktu adalah memperoleh waktu yang pantas untuk diberikan kepada pekerja dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Pengukuran waktu sebaiknya dilakukan apabila kondisi kerja dari pekerjaan yang diukur sudah baik. Jika belum maka kondisi yang ada sebaiknya diperbaiki terlebih dahulu.
c. Melakukan pemilihan operator.
Operator yang akan melakukan pekerjaan bukanlah orang yang begitu saja diambil dari tempat kerja. Pekerja itu harus memenuhi beberapa persyaratan tertentu agar pangukuran dapat berjalan dengan baik dan dapat diandalkan hasilnya. Syarat- syarat tersebut adalah berkemampuan normal dan dapat diajak bekerja sama. Disamping itu operator yang dipilih adalah pekerja yang pada saat pengukuran dilakukan mau bekerja secara wajar. Hal yang harus dilakukan adalah pengamat harus selalu berdiskusi dan bekerja sama dengan pekerja.
d. Memilih operator.
Walaupun operator yang baik telah didapat, terkadang pelatihan masih diperlukan bagi operator. Perlu diingat bahwa yang dicari adalah waktu penyelesaian pekerjaan yang didapat dari suatu penyelesaian wajar dan
bukan penyelesaian dari orang yang bekerja kaku dengan berbagai kesalahan.
e. Mengurai pekerjaan atas elemen pekerjaan.
Disini pekerjaan dipecah menjadi elemen pekerjaan yang merupakan gerakan bagian dari pekerjaan yang bersangkutan. Elemen-elemen inilah yang diukur waktunya. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pengamatan.
Ada tiga aturan yang harus diikuti untuk membagi suatu operasi kerja ke dalam elemen-elemen kerja sebagai berikut :
1. Eleman elemen kerja dibuat sedetil dan sependek mungkin akan tetapi masih mudah diukur waktunya dengan teliti.
2. Waktu persiapan (loading) dan pengambilan produk dari mesin harus dipisahkan dari waktu proses mesin (machining). Proses loading dan unloading biasanya merupakan pekerjaan-pekerjan yang dilaksanakan secara manual oleh operator dan aktifitas pengukuran kerja mutlak berkonsentrasi disini.
3. Elemen-eleman kerja yang konstan harus dipisahkan dari elemen kerja yang variabel. Elemen kerja yang konstan disini adalah eleman-elemen yang bebas dari benda kerja yang dibuat.
2. Menentukan jumlah sampel atau jumlah siklus pekerjaan untuk pengamatan. Jumlah sampel perlu ditentukan dalam pengukuran waktu dengan jam henti ini.
3. Mengukur waktu yang dibutuhkan (waktu actual) dengan menggunakan stopwach, dan menentukan laju kinerja pekerja (Rating Factor) .
a. Waktu aktual atau waktu siklus didapat dari hasil pengukuran dengan menggunakan stopwach. Waktu aktual memiliki satuan jam/unit, menit/unit atau detik/unit.
b. Faktor penyesuaian diistilahkan sebagai Rating factor (RF), adalah suatu proses penyesuaian yang dilakukan terhadap kinerja operator dilihat pada kecepatan atau tempo operator tersebut bekerja selama masa pengamatan berlangsung. Besarnya Rating Factor (RF) ini akan bergantung pada kecepatan atau tempo kerja seorang operator yang terampil selama berlangsungnya pengamatan. Operator yang bekerja dengan kecepatan normal (tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat), Memliki RF =1 atau 100%. Operator yang bekerja sangat cepat memiliki RF> 1 atau RF> 100%.
4. Menetapkan faktor kelonggaran berdasarkan hasil pengamatan. Waktu normal untuk suatu elemen operasi adalah menunjukan bahwa seorang operator yang berkwalifikasi baik akan bekerja menyelesaikan pekerjaan pada kecepatan atau tempo kerja yang normal. Walaupun demikian pada prakteknya, tidaklah bisa diharapkan operataor tersebut akan mampu bekerja secara terus menerus tampa adanya interupsi sama sekali. Dalam menyelesaikan suatu pekerjaan, tenaga kerja juga diberikan waktu kelonggaran diantaranya kelonggaran untuk kebutuhan pribadi (personal allowance), sekedar menghilangkan rasa kelelahan ketidaknyamanan
(fatique allowance) dan keterlambatan-keterlambatan (Delay allowance).
Dengan demikian waktu longgar bersama waktu normal akan menentukan waktu baku.
5. Melakukan Perhitungan waktu baku.
Waktu baku sering disebut sebagai waktu standart (standart time) yaitu waktu yang dibutuhkan secara wajar oleh seorang pekerja normal untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang dijalankan dalam sistem kerja terbaik, yang disesuaikan dengan penyesuaian-penyesuaian misalnya rating factor, penundaan (delay)atau gangguan (interupsi).
2.1.4 Uji Keseragaman Data
Uji keseragaman data dilakukan untuk melihat atau mengetahui seluruh data sudah seragam dan berada dalam batas kontrol. Dalam melakukan study waktu harus melakukan uji keseragaman data. Tes keseragaman data bisa dilaksanakan dengan cara visual (common sense) atau mengaplikasikan dengan peta kontrol (control chart).
1. Tes keseragaman data secara visual (common sense)
Tes keseragaman ini dilakukan secara sederhana, mudah dan cepat. Disini pengamat hanya sekedar melihat data yang terkumpul dan mengidentifikasi data yang besar dan yang terlalu kecil atau jauh menyimpang dari nilai rata-ratanya. Data yang terlalu besar dan yang terlalu kecil ini harus dibuang dan tidak digunakan dalam perhitungan selanjutnya.
2. Peta kontrol (control chart).
3. Diperoleh dari hasil pengamatan. Pengaplikasian peta kontrol dilakukan dengan cara menentukan Batas Kendali atas dan Batas Kendali Bawah (Sutalaksana 2006). Adapun prosedur dalam pengujian keseragaman data adalah sebagai berikut:
a) Menghitung waktu siklus rata-rata untuk setiap elemen pekerjaan.
Rumus :
̅ = ∑ Keterangan :
̅ = Waktu siklus rata-rata
∑ jumlah waktu pengamatan N = Jumlah pengamatan
b) Menghitung standart deviasi Rumus :
= √∑( ̅) Keterangan
= Standar deviasi
X = Waktu siklus rata-rata Xi = Waktu pengamatan N = Jumlah pengamatan
c) Menentukan Batas Kendali Atas dan Batas Kendali Bawah Rumus :
1) Untuk CL 68% : BKA = X +
BKB = X –
2) Untuk CL 95% : BKA = X + BKB = X -
3) Untuk CL 99% : BKA = X + BKB = X –
Keterangan
BKA = Batas Kendali Atas BKB = Batas Kendali Bawah
X = rata-rata waktu siklus setiap elemen pekerjaan = Standar Deviasi
d) Membuat peta kendali BKA
Waktu rata-rata
BKB
Jumlah pengamatan
Gambar 2.1 Peta kendali (Control Chart)
2.1.5 Uji Kecukupan Data.
Setelah didapatkan data hasil pengukuran yang seragam, lakukan uji kecukupan data dari masing-masing elemen pekerjaan. Rumus yang digunakan adalah (Sutalaksana, 2006)
= [ √∑ (∑ )
∑ ]
Keterangan:
N’ = Kecukupan data
N = Jumlah pengukuran yang telah dilakukan Xj = Data hasil pengukuran
Rumus ini adalah untuk tingkat ketelitian 5% dan tingkat keyakinan 95%, berarti bahwa pengukuran membolehkan rata rata hasil pengukuran menyimpang sampai 5% dari rata rata sebenarnya, keyakinan hasil 95 % (Sutalaksana 2006).
Jika N’ lebih kecil dari N (jumlah pengamatan), maka data pengukuran dianggap cukup. Apabila data setelah pengujian kecukupan tidak mencukupi, maka harus dilakukan kembali pengukuran waktu. Setelah itu dilakukan kembali pengujian dan keseragaman dan kecukupan data.
2.1.6 Metode Penentuan Rating Factor
Menurut (Sutalaksana,2006) ada beberapa metode yang digunakan untuk menentukan rating factor (faktor Penyesuaian) :
1. Cara Presentase.
Cara presentase adalah merupakan cara sederhana sekali dan sangat mudah dilakukan. Akan tetapi hasil yang dadapatkan dengan cara ini sangat kasar sekali dan tidak cocok untuk produksi yang sangat memerlukan ketelitian.
2. Cara Shumard
Cara ini mamberikan patokan patokan penilaian malalui kelas kelas berformat kerja. Masing masing kelas mempunyai nilai sendiri sendiri. Disini pengukur diberi patokan untuk menilai performansi kerja operator menurut kelas-kelas Superfast, fast, Fast +, fast -, Excelent dan seterusnya.
3. Cara Westing House.
Westing factor adalah penentuan rating factor yang dikembangkan pada sebuah westinghouse yang dipublikasikan pada tahun 1927.
Cara Westinghouse mengarahkan penilaian pada empat faktor yang menentukan kewajaran atau ketidakwajaran dalam bekerja yaitu Skiil, Effort, Condition dan consistency.
Tabel 2.1
FaktorPenyesuaian Beredararkan Metode Westing House
Faktor Kelas Lambang Penyesuaian
Keterampilan Super skill
Kondisi kerja Ideal
Keterampilan atau skil didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengikuti cara kerja yang ditetapkan. Latihan dapat meningkatkan keterampilan, tetapi hanya sampai ketingkat tertentu saja tingkat yang merupakan kemampuan maksimal yang dapat diberikan pekerja yang bersangkutan. Keterampilan juga dapat menurun bila terlalu lama tidak menangani pekerjaan tersebut. Atau karena sebab lain separti kesehatan yang terganggu rasa fatique, pengaruh lingkungan sosial dan sebagainya.
Untuk keperluan penyesuaian, keterampilan dibagi menjadi enam kelas dengan ciri ciri sebagai berikut :
a. Super skil:
1. Secara bawaan cocok sekali dengan pekerjaannya.
2. Bekerja dengan sempurna.
3. Tampak seperti telah terlatih dengan sangat baik.
4. Gerakannya halus tetapi sangat cepat sehingga sangat sulit untuk diikuti.
5. Kadang kadang terkesan tidak berbeda dengan gerakan mesin.
6. Perpindahan dari suatu elemen pekerjaan ke eleman lainnya tidak terlampau terlihat karena lancarnya.
7. Tidak terkesan adanya gerakan gerakan berfikir dan merencanakan apa yang dikerjakan (sudah sangat otomatis).
8. Secara umum pekerja tersebut dapat dikatakan pekerja yang sangat baik.
b. Excellend skiil
1. Percaya pada diri sendiri.
2. Tampak cocok dengan pekerjaannya.
3. Terlihat telah terlatih baik.
4. Bekerjanya teliti dengan tidak banyak melakukan pengukuran atau memeriksa lagi.
5. Gerakan gerakan kerjanya beserta urutan nya dijalankan tampa kesalahan.
6. Menggunakan peralatan dengan baik.
7. Bekerjanya cepat tampa mengorbankan mutu.
8. Bekerjanya cepat tapi halus.
9. Bekerjanya berirama dan terkoordinasi.
c. Good skiil:
1. Kwalitas hasil baik.
2. Bekerjanya tampak lebih baikdari kebanyakan pekerja pada umumnya.
3. Dapat memberikan petunjuk petunjuk pada pekerja lainyang keterampilannya lebih rendah.
4. Tampak jelas sebagai tenaga kerja yang cakap.
5. Tidak memerlukan banyak pengawasan.
6. Tiada ada keraguraguan.
7. Bekerjanya stabil.
8. Gerakan gerakannya terkoordinasi dengan baik.
9. Gerakan-gerakannya cepat.
d. Avarage skiil :
1. Tampak adanya kepercayaan pada diri sendiri.
2. Gerakannya cepat.
3. Terlihat adanya pekerjan pekerjaan perencanaan.
4. Tampak sebagai tenaga kerja yang cakap.
5. Gerakannya cukup menunjukan tidak ada keragu raguan.
6. Mengkoordinasi tangan dengan pikiran dengan cukup baik.
7. Tampak cukup terlatihdan mengetahui seluk beluk pekerjaannya.
8. Bekerja cukup teliti.
9. Secara keseluruhan sangat memuaskan.
e. Fair skil:
1. Tampak terlatih tetapi belum cukup baik.
2. Mengenal peralatan dan lingkungan secukupnya.
3. Terlihat adanya perencanan perencanaan sebelum melakukan gerakan gerakan.
4. Tidak mempunyai kepercayaan diri yang cukup.
5. Tampaknya seperti tidak cocok dengan pekerjaannya tapi telah dipekerjaan dibagian itu sejak lama.
6. Mengetahui apa apa yang dilakukan dan harus dilakukan tapi tampak tidak terlalu yakin.
7. Sebahagian waktunya terbuang karena kesalahan kesalahan sendiri.
8. Jika tidak bekerja dengan sungguh sungguh outputnya akan sangat rendah.
9. Biasanya tidak ragu-ragu dalam menjalankan gerakan-gerakan.
f. Poor Skiil :
1. Tidak bisa mengkoordinasikan tangan dan pikiran.
2. Gerakan-gerakannya kaku.
3. Kelihatan ketidak yakinannya pada urutan-urutan gerakan.
4. Seperti yang tidak terlatih untuk pekerjaan yang bersangkutan.
5. Tidak terlihat adanya kecocokan dengan pekerjaanya.
6. Ragu-ragu dalam melaksanakan gerakan kerja.
7. Sering melakukan kesalahan.
g. Excessive effort:
1. Kecepatan sangat berlebihan.
2. Usahanya sangat bersungguh-sungguh tetapi sangat membahayakan kesehatan.
3. Kecepatan yang ditimbulkan tidak dapat dipertahankan sepanjang hari kerja.
h. Excellen effort:
1. Jelas terlihat kecepatannya sangat tinggi.
2. Gerakan lebih ekonomis dari operator biasa.
3. Penuh perhatian pada pekerjaan.
4. Banyak memberi saran.
5. Memberi saran- saran petunjuk dengan senang.
6. Percaya pada kebaikan maksud pengukuran waktu.
7. Tidak bertahan lebih dari beberapa hari.
8. Bangga atas kelebihannya.
9. Gerakan yang salah jarang sekali.
10. Bekerjanya sangat sistematis.
i. Good effort:
1. Bekerja berirama.
2. Saat menganggur sangat sedikit, bahkan kadang kadang tidak ada.
3. Penuh perhatian pada pekerjaan.
4. Senang pada pekerjaan.
5. Kecepatannya baik dan dapat dipertahankan sepanjang hari.
6. Percaya pada kebaikan pengukuran waktu.
7. Menerima saran-saran dan petunjuk dengan senang.
8. Dapat memberikan saran-saran untuk perbaikan kerja, tempat kerja diatur dengan baik .
j. Avarage effort:
1. Bekerja dengan stabil.
2. Menerima saran-saran tetapi tidak melakukannya.
3. Set up dilaksanakan dengan baik.
k. Fair effort:
1. Saran perbaikan diterima dengan kesal.
2. Kadang-kadang perhatian tidak ditujukan pada pekerjaan.
3. Kurang sungguh-sungguh.
l. Poor Effort
1. Banyak buang buang waktu.
2. Tidak memperhatikan adanya minat bekerja.
3. Tidak mau menerima saran-saran.
4. Tampak malas dan lamban bekerja.
Kondisi kerja atau kondition pada cara westing house adalah kondisi fisik lingkungannya seperti pencahayaan, suhu dan kebisingan ruangan. Tiga faktor lainnya ketrampilan, usaha dan konsistensi. Faktor kondisi sering disebut sebagai faktor managemen.
Faktor yang lain yang harus diperhatikan adalah konsistensi. Faktor ini perlu diperhatikan karena pada setiap pengukuran waktu angka - angka yang dicatat tidak pernah semuanya sama. Waktu penyelesaian yang ditunjukan pekerja selalu berobah-robah dari satu siklus ke siklus lainnya. Kondisi dibagi menjadi enam kelas yaitu perfec, excellend, good, average, fair dan poor. Perfec adalah yang dapat bekerja dengan waktu penyelesaian yang tetap dari saat ke saat. Konsistensi yang poor terjadi bila waktu penyelesaiannya berselisih jauh dari rata-rata secara acak. Konsistensi rata-rata atau average adalah bila selisih antara
waktu penyelesaian dengan rata-ratanya tidak besar walaupun ada satu dua yang letaknya jauh (Sutalaksana, 2006).
4. Cara Objektif.
Ada dua faktor yang mempengaruhi /menentukan wajar atau tidaknya seseorang dalam bekerja :
a. Kecepatan kerja.
b. Tingkat kesulitan kerja.
2.1.7 Kelonggaran atau Allowance
Kelonggaran diberikan untuk tiga hal (Sutalaksana, 2006) yaitu kelonggaran untuk kebutuhan pribadi, kelonggaran untuk menghilangkan sara fatique, dan hambatan hambatan yang tidak dapat dihindarkan. Kelonggaran ini merupakan hal-hal yang secara nyata dibutuhkan oleh pekerja, dan selama pengukuran tidak diamati, diukur, dicatat ataupun dihitung, karenanya seusai pengukuran dan setelah mendapatkan waktu normal, kelonggaran perlu ditambahkan untuk memperoleh waktu baku.
1. Kelonggaran untuk kebutuhan pribadi.
Yang termasuk kedalam kebutuhan pribadi adalah hal-hal seperti minum, kekamar kecil, bercakap-cakap dengan teman sekedar menghilangkan ketegangan atau kejemuan kerja. Kebutuhan ini mutlak dibutuhkan oleh pekerja karena merupakan tuntutan psikologis yang wajar. Apabila dilarang pekerja tidak dapat bekerja dengan baik bahkan hampir dapat dipastikan produktifitas menurun.
2. Kelonggaran untuk menghilangkan rasa lelah (Fatique)
Rasa fatique tercermin dari menurunnya hasil produksi baik jumlah maupun kwalitas. Karena salah satu cara untuk menentukan besarnya kelonggaran adalah dengan melakukan pengamatan sepanjang hari kerja dan mencatat saat dimana hasil produksi menurun. Tetapi kesulitan menentukan saat saat dimana menurunnya hasil produksi disebabkan oleh timbulnya rasa Fatique karena masih banyak kemungkinan lain yang dapat menyebabkannya. Jika sara fatiuque datang pekerja menurun kemampuan melakukan pekerjaan.
3. Kelonggaran untuk hambatan-hambatan yang tidak terhindarkan.
Dalam melaksanakan pekerjaan ada hambatan-hambatan yang tidak dapat dihindari. Namun demikian harus diusahakan serendah mungkin. Oleh sebab itu hambatan akan tetap ada dan karenanya harus diperhitungkan dalam perhitungan waktu baku. Yang termasuk dalam hambatan yang tidak dapat dihindari adalah : Meminta petunjuk pada pengawas, memperbaiki kemacetan singkat, mengasah peralatan potong, mengambil peralatan khusus, dari gudang, hambatan-hambatan kerena kesalahan pemakaian alat, bahan, ataupun mesin mati karena listrik mati.
Tabel2.2
Besarnya Kelonggaran Berdasarkan Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Faktor Contoh Pekerjaan Ekivalen Beban Kelonggaran
5. Seluruh anggota Bekerja di lorong lorong 10-15 Badan terbatas pertambangan yang sempit
D.KELELAHAN MATA Pencahayaan baik Buruk
Sumber : Sutalaksana, 2006 2.1.8 Penentuan Waktu Normal
Rating factor di aplikasikan untuk menormalkan waktu kerja yang diperoleh dari pengukuran kerja tempo atau kecepatan kerja operator berobah robah. Rumus (Sutalaksana ,2016):
2.cukup Ventilasi kurang baik, ada bau bauan 0-5
(tidak berbahaya)
3.Kurang baik Adanya debu debu beracun, atau tidak 5-10 Beracun tapi banyak
4.Buruk Adanya bau-bauan berbahaya yang 10-20
Mengharuskan menggunakan alat pernafasan G.KEADAAN LINGKUNGAN YANG BAIK
1.Bersih, sehat, cerahdengan kebisingan rendah 0
2.Siklus kerja berulang ulang antara 5-10 detik 0-1
3.Siklus kerja berulang ulang antara 0-5 detik 1-3
4.Sangat bising 0-5
5.Jika faktor faktor yang berpengaruh dapat menurunkan kwalitas 0-5
6.Terasa adanya getaran lantai 5-10
7.Keadaan keadaan yang luar biasa(bunyi kebersihan dll 5-15
*) Kontra antara warna hendaknya diperhatikan
**) Tergantung juga pada keadaan ventilasi
***) Dipengaruhi juga oleh ketinggian tempat kerja dari permukaan laut dan keadaan Iklim
Catatan Pelengkap : Kelonggaran untuk kebutuhan pribadi bagi pria =0-2,5%
Wanita =2-5,0%
Waktu Normal = Waktu Siklus * p
Dimana p adalah faktor penyesuaian. Faktor ini diperhitungkan jika operator bekerja dengan kecepatan tidak wajar sehingga hasil perhitungan waktu perlu disesuaikan atau dinormalkan dulu. Tujuannya adalah untuk mendapatkan waktu siklus rata-rata yang wajar. Jika pekerja bekerja dengan wajar, faktor penyasuaianp = 1.
2.1.9 Penentuan Waktu Standar/Waktu Baku.
Dalam perhitungan waktu standar/waktu baku harus memperhitungkan faktor kelonggaran waktu (allowance time ). Dengan demikian waktu standar adalah sama dengan waktu normal kerja dengan faktor waktu longgar. Rumus perhitungan waktu baku adalah sebagai berikut (Sutalaksana, 2006) :
Dimana 1 kelonggaran atau allowance yang dihasilkan pekerja untuk menyelesaikan pekerjaannya disamping waktu normal, (Sutalaksana,2016).
Kelonggaran ini diberikan untuk tiga hal, yaitu kebutuhan pribadi, menghilangkan rasa fatique, dan gangguan gangguan yang mungkin terjadi yang tidak dapat dihindarkan oleh pekerja. Umumnya kelonggaran dinyatakan dalam persen dari waktu normal.
2.1.10 Produktivitas Tenaga Kerja
Produktivitas adalah merupakan perbandingan antara hasil dari kegiatan yang dilakukan (output) dengan segenap faktor yang digunakan untuk mencapai hasil tersebut atau input (Sumanth,1984). Berarti produktivitas tenaga kerja merupakan perbandingan antara hasil yang dicapai dengan peran serta tenaga
Waktu Standar/Waktu Baku =waktu normal 1 )
kerja per satuan waktu.Seorang tenaga kerja yang produktif adalah tenaga kerja yang cekatan dan mampu menghasilkan barang atau jasa sesuai dengan mutu yang ditetapkan dalam waktu yang lebih singkat.
Pengukuran produktivitas digunakan metode pengukuran waktu tenaga kerja (jam, hari,tahun) yag biasanya diartikan sebagai jumlah kerja yang dapat dilakukan dalam satu jam oleh karyawan tepercaya yang bekerja menurut pelaksanaan standar. Karena hasil maupun masukan dapat dinyatakan sebagai rasio antara hasil kerja dalam waktu terhadap masukan dalam waktu kerja yang tersedia.
Rumus produktivitas digambarkan sebagai berikut ( Heizer dan Render, 2009)
Keterangan :
1. Satuan yang diproduksi merupakan jumlah yang diproduksi oleh perusahaan dalam waktu satu hari kerja.
2. Jam kerja yang dipakai adalah waktu yang digunakan dalam menyelesaikann sutu unit tas seminar.
2.2 Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual adalah merupakan cara penulis dalam melakukan langkah langkah penelitian. Berikut dalah kerangka konseptual dimaksud :
Produktivitas Tenaga Kerja =
Gambar 2.2 Kerangka Konseptual
Berdasarkan konseptual di atas yang menjadi input adalah data-data waktu siklus setiap elemen pekerjaan proses pembuatan tas seminar. Kemudian dilakukan proses pengolahan data dengan melalui dua tahap dimana tahap
Berdasarkan konseptual di atas yang menjadi input adalah data-data waktu siklus setiap elemen pekerjaan proses pembuatan tas seminar. Kemudian dilakukan proses pengolahan data dengan melalui dua tahap dimana tahap