BAB 6 PEMBAHASAN
61. Penggunaan antibiotik
6.3. Rute pemberian antibiotik
Dari hasil penelitian didapatkan rute pemberian antibiotik tersering ialah pemberian antibiotik secara Intravena (i.v) dengan jumlah pemberian sebanyak 34, kemudian pemberian secara oral sebanyak 18.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Devy Tarius Agustina di RS Paru Jember tahun 2013, Rute pemberian tersering yaitu secara intravena (96,5%) kemudian secara per oral (3,5%). Hasil penelitian yang sama yang dilakukan oleh Dewi Wara Shinta di RSU Dr. Soetomo Surabaya tahun 2007 yaitu rute
48
pemberian antibiotik tersering ialah secara intravena (76,85%), kemudian secara per oral (23,15%).
Rute pemberian antibiotik (oral atau intravena) diberikan tergantung pada kemampuan pasien untuk makan dan farmakokinetik antibiotik (GOLD, 2006).
Antibiotik dapat diberikan dengan mudah melalui infus dalam suatu botol IV bersama-sama dengan cairan IV, elektrolit-elektrolit atau bahan makanan, selain itu laju infus dapat dengan mudah diatur sesuai dengan kebutuhan pasien dan infus konstan dapat mencegah fluktuasi puncak (maksimum) dan palung (minimum) kadar obat dalam darah yang bila obat mempunyai indeks terapi yang sempit (Shargel, et al, 2005). Selain itu, penggunaan rute intravena dinilai lebih menguntungkan karena obat dapat didistribusikan secara optimal oleh tubuh dan absorbsinya tidak terganggu oleh asam lambung (Shargel, et al, 2005).
Rute pemberian oral seharusnya menjadi pilihan pertama untuk terapi infeksi namun Pada infeksi sedang sampai berat dapat dipertimbangkan menggunakan antibiotik parenteral. Antibiotik intravena dapat diganti peroral, apabila setelah 24-48 jam dengan mempertimbangkan : Kondisi klinis pasien membaik, Tidak ada gangguan fungsi pencernaan (muntah, malabsorpsi, gangguan menelan, diare berat), Kesadaran baik, Tidak demam (suhu > 36C dan < 38C), disertai tidak lebih dari satu kriteria berikut: Nadi
> 90 kali/menit, Pernapasan > 20 kali/menit atau PaCO2 < 32 mmHg, Tekanan darah tidak stabil, dan Leukosit < 4.000 sel/dl atau > 12.000 sel/dl (tidak ada neutropeni), (Kemenkes, 2011).
6.4. Penggunaan antibotik tunggal, kombinasi dan penggantian
Dari 31 pasien hasil peneletian, 14 pasien menerima satu jenis antibiotik tunggal, 7 pasien menerima antibiotik kombinasi, dan 10 pasien mengalami penggantian jenis antibiotik sejak masuk rumah sakit dan keluar rumah sakit.
Dari hasil penelitian didapatkan jenis antibiotik yang sering diberikan secara tunggal ialah Ceftazidime (6), kemudian Ceftriaxone (4), Levofloxacin (1), Moxifloxacin (1), Cefixime (1), dan azithromycin (1). Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dewi Wara Shinta di RSU Dr. Soetomo Surabaya tahun 2007, antibiotik tunggal yang sering diberikan ialah Levofloxacin (8), kemudian Cefotaksim (4), Ciprofloxacin (1), Ceftriaxone (1).
Dari hasil penelitian didapatkan Kombinasi antibiotik yang paling sering diberikan adalah Ceftazidime i.v dengan azithromycin oral yang diberikan pada 2 orang pasien. Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dewi Wara Shinta di RSU Dr. Soetomo Surabaya tahun 2007, kombinasi antibiotik yang paling sering diberikan ialah Ciprofloxacin i.v + Cefotaksim i.v.
Dari hasil penelitian didapatkan Penggantian antibiotik yang paling sering diberikan ialah penggantian ceftriaxone i.v menjadi azithromycin oral, yang terjadi pada 2 orang pasien. Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dewi Wara Shinta di RSU Dr. Soetomo Surabaya tahun 2007, penggantian antibiotik yang paling sering diberikan ialah Cefotaksim i.v menjadi Levofloxacin per oral yang terjadi pada 3 orang pasien.
Penggunaan antibiotik pasien penyakit paru obstruktif kronik eksaserbasi akut berbeda-beda. Antibiotik dapat digunakan secara tunggal ataupun kombinasi dari dua atau lebih golongan antibiotik lain dengan tujuan untuk menghasilkan efek sinergis, mencegah resistensi terhadap antibiotik, dan untuk memperluas spektrum antibiotik melawan infeksi dari etiologi yang tidak diketahui atau karena infeksi lebih dari satu spesies (WHO,2004). Kombinasi antimikroba digunakan pada infeksi berat yang belum diketahui dengan jelas kuman-kuman penyebabnya.
50
Dalam hal ini pemberian kombinasi antimikroba ditujukan untuk mencapai spektrum antimikrobial yang seluas mungkin. Selain itu, kombinasi antimikroba juga digunakan untuk mencapai efek sinergistik dan juga untuk menghambat timbulnya resistensi terhadap obat-obatan antimikroba yang digunakan (Nelwan, RHH., 2014).
Pola penggantian jenis antibiotik tersebut mayoritas berbeda-beda pada masing-masing pasien. Pola penggantian terbanyak yang ditemukan adalah penggantian ceftriaxone i.v menjadi azithromycin oral, yang terjadi pada 2 orang pasien. Pengobatan dengan antibiotik makrolid telah dilaporkan dapat mencegah terjadinya eksaserbasi pada pada pasien penyakit paru obstruktif kronik dan memperbaiki kualitas hidup dan gejala pasien, terutama pada pasien yang memiliki eksaserbasi sering (Yamaya Mutsuo et. al, 2012).
Penggunaan antibiotik pasien penyakit paru obstruktif kronik eksaserbasi akut berbeda-beda. Dalam Pemberian antibiotik dapat terjadi perubahan baik, jenis, ataupun rute pemberiannya. Penggantian dapat disebabkan karena jenis antibiotik lama tidak menunjukkan hasil yang diinginkan, atau disebabkan karena kondisi pasien yang tidak tahan terhadap pemberian antibiotik tertentu. Pemberian antibiotik disesuaikan dengan gejala klinis, dan hasil uji sensivitas. Namun hasil uji sensivitas dapat dilihat dalam kurun waktu yang lama sehingga pemberian terapi awal antibiotik hanya berdasarkan gejala klinis dan pengukuran spirometrinya.
51 BAB 7
KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan
- Antibiotik yang paling banyak digunakan yakni dari golongan sefalosporin generasi ketiga yaitu Ceftriaxone (28,8%), antibiotik lain yang diberikan bertutut-turut ialah Ceftazidime (25%), azithromycin (21,2%), Cefixime (13,5%), Levofloxacin (3,8%), Moxifloxacin (3,8%), dan Cefepime (3,8%)
- Dari 31 pasien hasil peneletian, 14 pasien menerima satu jenis antibiotik tunggal, 7 pasien menerima antibiotik kombinasi, dan 10 pasien mengalami penggantian jenis antibiotik sejak masuk rumah sakit dan keluar rumah sakit. Kombinasi antibiotik terbanyak yaitu Ceftazidime iv dengan azithromycin oral pada 3 orang pasien. Pola penggantian terbanyak yang ditemukan adalah penggantian ceftazidime i.v menjadi azithromycin oral, yang terjadi pada 2 orang pasien.
- Durasi penggunaan antibiotik untuk satu jenis antibiotik sangat bervariasi. Lama pemberian antibiotik tersering untuk azithromycin adalah 1,5,dan 7 hari. Lama pemberian tersering untuk Cefepime adalah 4 dan 7 hari. Lama pemberian tersering untuk Cefixime adalah 1 hari. Lama pemberian tersering untuk Ceftazidime adalah 1,3,6,8, dan 9 hari. Lama pemberian tersering untuk Ceftriaxone adalah 5 dan 6 hari. Lama pemberian tersering untuk Levofloxacin adalah 3 dan 4
52
hari. Lama pemberian tersering untuk Moxifloxacin adalah 4 dan 9 hari.
- rute pemberian antibiotik tersering ialah pemberian antibiotik secara Intravena (i.v) dengan jumlah pemberian sebanyak 34, kemudian pemberian secara oral sebanyak 18.
7.2 Saran
- Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai penggunaan antibiotik untuk menilai rasionalitas penggunaannya pada pasien PPOK Eksaserbasi Akut dengan jumlah sampel yang lebih besar, dan periode waktu yang lebih lama.
- Perlu dilakukan penelitian tentang pola resistensi bakteri terhadap beberapa antibiotik pada pasien PPOK Eksaserbasi Akut
DAFTAR PUSTAKA
Agusti, A. et. al. 2014. Prevention of Exacerbations in Chronic Obstructive Pulmonary Disease: Knowns and Unknowns. Journal of the COPD Foundation volume 1 Number 2. Journal.copdfoundation.org.
Agustina, D.V. 2013. Pola Penggunaan Antibiotik pada Pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) Rawat Inap di RS Paru Jember tahun 2011.
Jember: Fakultas Farmasi Universitas Jember
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (2013) ‘Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013’, Laporan Nasional 2013, pp. 1–384. doi: 1 Desember 2013.
Bakhtiar. 2013. Aspek Klinis dan Tatalaksana Gagal Nafas Akut pada Anak.
Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala. Banda Aceh.
www.Jurnal.Unsyiah.ac.id/JKS/article/view/3286
Bertram G.Katzung. Farmakologi dasar dan klinik. 10th ed. Jakarta. EGC;
2010.p748.
Celli BR, MacNee W. Chronic obstructive pulmonary disease. Eur Respir.
2008: 6.
Departemen Kesehatan R.I. 2008. Pedoman Pengendalian Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Jakarta.
Depkes RI. 2005. Pharmaceutical care untuk pasien infeksi saluran pernafasan.
Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Febiana T. 2012. Kajian Rasionalitas Penggunaan Antibiotik di Bangsal Anak RSUP dr. Kariadi Semarang Periode Agustus-Desember 2011. Semarang.
Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD). Global strategy for the diagnosis, management, and prevention of chronic obstructive pulmonary disease. National Institutes of Health. National Heart, Lung and Blood Insitute, Update 2016
54
GOLD. 2010. Global Strategy for The Diagnosis, Management, and Prevention of Chronic Obstructive Pulmonary Disease. USA: GOLD
GOLD. 2006. Global Strategy for The Diagnosis, Management, and Prevention of Chronic Obstructive Pulmonary Disease. USA: GOLD
GOLD. 2017. Global Strategy for the Diagnosis, Management and Prevention of COPD, Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD) 2017. Available from: http://goldcopd.org/
Hanania NA, Sharma G, Sharafkhaneh A., COPD in the Elderly Patient, Semin Respir Crit Care Med, 2010;31(5): 596-606.
Ikawati, Z. 2008. Farmakoterapi penyakit sistem pernapasan. Yogyakarta:
Pustaka Adipura.
Katzung, Betram G. 2012. Basic & clinical pharmacology, 12nd Ed. New York:
McGraw Hill.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2011. Pedoman pelayanan kefarmasian untuk terapi antibiotik. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Nelwan RHH. Pemakaian Antimikroba Secara Rasional Di Klinik. Dalam : Sudoyo AW et al. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Interna Publishing. Cetakan kedua 2010:2896-2900.
Papadopoulos et al. 2011. Smoking Cessation Can Improve Quality of Life among COPD Patients: Validation of The Clinical COPD Questionnaire into Greek, BMC Pulmonary Medicine. USA: Elsevier Saunders.
Pauwels, R.A., Buist, A.S., Calverly, P.M.A., Jenkins, C.R., and Hurd, S.S. 2001.
Global Stategy for the Diagnosis, Management, and Prevention of Chronic Obstructive Pulmonary Disease NHLBI/WHO Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD) Workshop Summary. Am J Respir Crit Care Med 163: 1256-1276
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2011. Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) Diagnosis dan Penatalaksanaan. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia.
Petri, W.A., 2001. Antimicrobial Agents. In: J.G. Hardman et al., Goodman and Gilman’s The Pharmalogical Basic of Therapeuties 10th Ed. USA:
McGraw-Hill Companies
Reese, R.E., Betts, R.F., Gumustop, B., 2000. Handbook of Antibiotics 3rd Ed., USA: Lippincott Williams and Wilkins.
Sapey E, Stockley R A. 2005. COPD exacerbations 2: Aetiology. Thorax 2006;61:250–258. doi: 10.1136/thx.2005. www.thoraxjnl.com
Scott, D. Et. al. 2006. Chronic Obstructive Pulmonary Disease, Risk Factors, and Outcome Trials. Proceedings Of The American Thoracis Society Vol 3 2006
Shargel, Leon and Andrew B.C.Yu. 2005. Biofarmasetika Dan Farmakokinetika Terapan. Airlangga University Press, Surabaya.
Shinta, D.W. 2007. Studi Penggunaan Antibiotik pada Eksaserbasi Akut Penyakit Paru Obstruktif Kronis (Studi pada pasien IRNA Medik di Ruang Paru Laki dan Paru wanita RSU Dr. Soetomo Surabaya). Surabaya : Fakultas Farmasi Universitas Airlangga Bagian Ilmu Biomedik Farmasi.
Sonita A, Erly, Masri M. Pola Resistensi Bakteri pada Sputum Pasien PPOK Terhadap Beberapa Antibiotika di Laboratorium Mikrobiologi RSUP Dr.M.Djamil Periode 2010 – 2012. Jurnal Kesehatan Andalas. 2014; 3(3).
http:// jurnal.fk.unand. ac.id
Staf Pengajar Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2008. h.
585-586.
Sunarti et al. 2016. Analisis Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Penyakit Paru Obstruksi Kronik di RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Surakarta: Biomedika.
Volume 9, No. 1
56
U.S. Food & Drug Administration. FDA Drug Safety Communication: FDA updates warnings for oral and injectable fluoroquinolone antibiotics due to disabling side effects. Updated 9 August 2016. Retrieved from http://www.fda.gov/Drugs/Drug Safety/ucm511530.htm. Accessed 29 November 2016.
World Health Organization (2016) WHO | Chronic obstructive pulmonary disease
(COPD), WHO. Available at :
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs315/en/
Woodhead, M., et al., 2005. Guidelines for the management of adult lower respiratory tract infection. Eur Respir J (26): 1138-1180
Yamaya,M., et al., 2012. Macrolide Effects on the Prevention of COPD Exacerbations.Japan. European Respiratory Journal 2012 Available at : http://erj.ersjournals.com/content/early/2012/03/08/09031936.00208011
LAMPIRAN
DATA PENELITIAN
Kode
jenis antibiotik
rute pemberian
Frekuensi
Pemberian Golongan
lama pemberian
Lama
Peraawatan Kombinasi KET Akibat
A01 Levofloxacin IV /12 Jam Fluorokuinolon 3 hari 5 hari Meninggal
Syok Septik, PPOK Eksaserbasi Akut,
CAD
A02 Moxifloxacin oral /12 Jam Fluorokuinolon 9 hari 16 hari Membaik
A03 Cefixime oral /12 Jam
sefalosporin
generasi ketiga 1 hari 5 hari Meninggal Gagal Nafas
A04 Ceftazidime IV /8 Jam
sefalosporin
generasi ketiga 1 hari 6 hari Ceftazidime+Cefepime Membaik
Cefepime IV /8 Jam
sefalosporin generasi
keempat 4 hari
Azithromycin oral /24 Jam Makrolid 2 hari
A05 Ceftazidime IV /12 Jam
sefalosporin
generasi ketiga 9 hari 17 hari Ceftazidime+azithromycin Membaik
Azithromycin oral /24 Jam Makrolid 1 hari
A06
Cefepime IV /12 Jam
sefalosporin generasi
keempat 7 hari
14 hari
Membaik
Azithromycin oral /24 Jam Makrolid 3 hari
A07 Ceftazidime IV /12 Jam
sefalosporin
generasi ketiga 3 hari 5 hari
Membaik
Cefixime IV /12 Jam
sefalosporin
generasi ketiga 1 hari
58
A08 Ceftazidime IV /8 Jam
sefalosporin
generasi ketiga 8 hari 8 hari
Belum sembuh
pulang paksa tidak ada alasan
A09 Ceftazidime IV /8 Jam
sefalosporin
generasi ketiga 3 hari 4 hari Membaik
A10 Ceftazidime IV /8 Jam
sefalosporin
generasi ketiga 8 hari 16 hari
Membaik
Ceftriaxone IV /24 Jam
sefalosporin
generasi ketiga 6 hari
A11 Ceftazidime IV /8 Jam
sefalosporin
generasi ketiga 2 hari 7 hari Meninggal
Gagal sirkulasi, syok hipovolemik,
perdarahan
A12 Ceftazidime IV /8 Jam
sefalosporin
generasi ketiga 9 hari 9 hari Membaik
A13
Ceftriaxone IM /12 Jam
sefalosporin
generasi ketiga 5 hari
22 hari
Meninggal
Gagal Nafas karena penyakit paru obstruksi kronik
Levofloxacin IV /24 Jam Fluorokuinolon 4 hari
A14 Ceftazidime IV /12 Jam
sefalosporin
generasi ketiga 1 hari 1 hari Meninggal
Gagal nafas, gagal sirkulasi, karena infeksi paru lama dan Tumor Regio
colli sinistra
A15 Ceftazidime IV /12 Jam
sefalosporin
generasi ketiga 4 hari 7 hari
Membaik
Cefixime oral /12 Jam
sefalosporin
generasi ketiga 2 hari
A16 Ceftazidime IV /8 Jam
sefalosporin
generasi ketiga 11 hari 11 hari Ceftazidime+azithromycin Membaik
Azithromycin oral /24 Jam Makrolid 10 hari
A17 Ceftriaxone IV /24 Jam
sefalosporin
generasi ketiga 5 hari 5 hari
Membaik
A18 Ceftazidime IV /8 Jam
sefalosporin
generasi ketiga 6 hari 8 hari Ceftazidime+azithromycin Membaik
Azithromycin oral /24 Jam Makrolid 5 hari
A19 Ceftriaxone IV /24 Jam
sefalosporin
generasi ketiga 4 hari 8 hari Ceftriaxone+azithromycin Membaik
Azithromycin oral /24 Jam Makrolid 5 hari
Ceftriaxone oral /24 Jam
sefalosporin
generasi ketiga 1 hari Ceftriaxone+cefixime
Cefixime IV /12 Jam
sefalosporin
generasi ketiga 1 hari
A20 Ceftriaxone IV /12 Jam
sefalosporin
generasi ketiga 14 hari 22 hari Membaik
A21 Ceftriaxone IV /12 Jam
sefalosporin
generasi ketiga 15 hari 20 hari
Membaik
Cefixime oral /12 Jam
sefalosporin
generasi ketiga 2 hari
A22 Ceftriaxone IV /24 Jam
sefalosporin
generasi ketiga 5 hari 6 hari Membaik
A23 Ceftriaxone IV /24 Jam
sefalosporin
generasi ketiga 7 hari 7 hari Meninggal
Gagal Nafas karena penyakit paru obstruksi kronik dan cor pulmonal
A24 Ceftriaxone IV /24 Jam
sefalosporin
generasi ketiga 6 hari 6 hari Ceftriaxone+azithromycin Membaik
Azithromycin oral /24 Jam Makrolid 1 hari
A25 Azithromycin oral /24 Jam Makrolid 4 hari 12 hari Ceftriaxone+azithromycin Membaik
Ceftriaxone IV /24 Jam
sefalosporin
generasi ketiga 3 hari
Ceftriaxone+cefixime
Cefixime oral /12 Jam
sefalosporin
generasi ketiga 8 hari
A26 Ceftriaxone IV /24 Jam
sefalosporin
generasi ketiga 6 hari 7 hari Ceftriaxone+azithromycin Membaik
Azithromycin IV /24 Jam Makrolid 7 hari
60
A27 Azithromycin oral /24 Jam Makrolid 7 hari 8 hari Ceftriaxone+azithromycin Membaik
Ceftriaxone IV /24 Jam
sefalosporin
generasi ketiga 8 hari
A28 Ceftazidime IV /12 Jam
sefalosporin
generasi ketiga 6 hari 7 hari Membaik
A29 Ceftriaxone IV /12 Jam
sefalosporin
generasi ketiga 4 hari 8 hari Ceftriaxone+cefixime Membaik
Cefixime oral /12 Jam
sefalosporin
generasi ketiga 5 hari
A30
Ceftriaxone IV /12 Jam
sefalosporin
generasi ketiga 18 hari
19 hari Ceftriaxone+moxifloxacin Meninggal
gagal nafas karena aspirasi dan tumor
esofagus 1/3 proksimal
Moxifloxacin oral /24 Jam Fluorokuinolon 4 hari
A31 Azithromycin oral /24 Jam Makrolid 9 hari 13 hari membaik
HASIL ANALISIS DATA Frequencies
[DataSet1]
Statistics jenis antibiotik
N Valid 52
Missing 0
Distribusi Penggunaan Antibiotik
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Azithromycin 11 21,2 21,2 21,2
Cefepime 2 3,8 3,8 25,0
Cefixime 7 13,5 13,5 38,5
Ceftazidime 13 25,0 25,0 63,5
Ceftriaxone 15 28,8 28,8 92,3
Levofloxacin 2 3,8 3,8 96,2
Moxifloxacin 2 3,8 3,8 100,0
11
2
7
13 15
2 2
21,2
3,8
13,5
25
28,8
3,8 3,8
0 5 10 15 20 25 30 35
Frekuensi Persentasi (%)
62
Crosstabs
[DataSet1]
Case Processing Summary
Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
jenis antibiotik * lama pemberian
52 100,0% 0 ,0% 52 100,0%
jenis antibiotik * lama pemberian Crosstabulation Count
lama pemberian
Total 1
hari 2 hari
3 hari
4 hari
5 hari
6 hari
7 hari
8 hari
9 hari
10 hari
11 hari
14 hari
15 hari
18 hari Azithromycin
Cefepime Cefixime Ceftazidime Ceftriaxone Levofloxacin Moxifloxacin
2 1 1 1 2 0 2 0 1 1 0 0 0 0 11
0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 2
3 2 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 7
2 1 2 1 0 2 0 2 2 0 1 0 0 0 13
1 0 1 2 3 3 1 1 0 0 0 1 1 1 15
0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2
0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 2
Total 8 4 5 7 6 5 4 4 4 1 1 1 1 1 52
Crosstabs
[DataSet1]
Case Processing Summary Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
jenis antibiotik * rute pemberian
52 100,0% 0 ,0% 52 100,0%
jenis antibiotik * rute pemberian Crosstabulation Count
rute pemberian
Total
IV oral
jenis antibiotik Azithromycin 1 10 11
Cefepime 2 0 2
Cefixime 2 5 7
Ceftazidime 13 0 13
Ceftriaxone 14 1 15
Levofloxacin 2 0 2
Moxifloxacin 0 2 2
Total 34 18 52
Penggunaan antibotik tunggal, kombinasi dan penggantian
Jenis Antibiotik Jumlah Pasien
No. Tunggal
1 Levofloxacin 1
Moxifloxacin 1
Cefixime 1
Ceftazidime 6
Ceftriaxone 4
Azithromycin 1
No. Kombinasi dan penggantian
Ceftazidime i.v + Cefepime i.v → cefepime i.v → Azithromycin oral
1 Ceftazidime i.v + Azithromycin oral 3
Cefepime i.v → Azithromycin oral 1
Ceftazidime i.v → cefixime i.v 1
Ceftriaxone i.v → ceftazidime i.v 1
Ceftriaxone i.m → Levofloxacin i.v 1
64
Ceftazidime i.v → cefixime oral 1
Ceftazidime i.v + Azithromycin oral → Cefixime i.v + Ceftriaxone oral
1
Ceftriaxone i.v → cefixime oral 1
Ceftriaxone i.v → Azithromycin oral 2 Azithromycin oral + ceftriaxone i.v → ceftriaxone i.v + cefixime oral
1 Azithromycin oral + ceftriaxone i.v 1
Ceftriaxone i.v + cefixime oral 1
Ceftriaaxone i.v + moxifloxacin oral 1 Keterangan : + : Kombinasi
→ : Diganti