Sustainability Assesment (CSA)
Kajian mengenai ecovillage didekati dengan metode Community
Sustainability Assesment (CSA) yang dapat dijadikan salah satu cara mengevaluasi
tingkat keberlanjutan suatu masyarakat dalam kerangka pikir ecovillage. Acuan dalam metode Community Sustainability Assesment (CSA) adalah berdasarkan
metode yang diperkenalkan oleh Global Ecovillage Network yang meliputi aspek ekologis , sosial dan spiritual. Pada penelitian ini, digunakan kuisioner CSA hasil terjemahan yang sudah digunakan dalam penelitian Aplikasi Konsep Desa Berkelanjutan (Ecovillage) dalam pengelolaan lanskap perkampungan tradisional (Nurlaelih, 2005).
Parameter keberlanjutan yang digunakan untuk setiap aspek yaitu: a. Aspek ekologis, lingkungan kehidupan masyarakat seimbang jika:
1. Orang-orang sangat terikat kepada tempat dimana mereka tinggal/hidup. Batasan-batasannya, kekuatan, kelemahan dan irama adalah jelas dan manusia tinggal dalam sinkronisasi dan keselarasan di dalam sistem yang ekologis dimana mereka merupakan satu bagian yang utuh.
2. Kehidupan alami, proses dan sistemnya dihormati; margasatwa dan habitat tumbuhan dipelihara.
3. Gaya hidup manusia bersifat memperbaharui, bukannya mengurangi integritas lingkungan
4. Makanan terutama berasal dari lokal atau sumber-sumber wilayah alami, organik, bebas dari zat pencemar dan menyediakan gizi seimbang.
5. Struktur dirancang untuk memadukan dan melengkapi lingkungan alami, penggunaan alami, material dan sistem pembangunan wilayah dan ekologis (dapat diperbaharui dan tidak beracun)
6. Konservasi dipraktekkan dalam sistem metode dan transportasi, sistem transportasi.
7. Konsumsi dan pembuangan limbah minimal
8. Tersedia air bersih yang dapat diperbaharui, masyarakat menyadari, menghormati, melindungi dan memelihara sumber airnya.
9. Limbah manusia dan limbah cair digunakan dan/atau dibuang untuk manfaat lingkungan dan masyarakat.
10. Sumber energi tidak beracun dan dapat diperbaharui digunakan untuk panas dan kegiatan masyarakat. Teknologi inovatif tidak dieksploitasi dan dibiarkan, tetapi digunakan untuk kepentingan bersama.
13
Ada suatu perasaan terhadap perubahan dan stabilitas sosial dalam kehiduapan masyarakat; suatu pondasi bagi keselamatan dan kepercayaan yang memungkinkan individu untuk secara bebas menyatakan diri mereka untuk kepentingan bersama
1. Tersedia ruang dan sistem untuk mendukung dan memaksimalkan komunikasi, hubungan dan produktivitas
2. Ada cukup kesempatan atau teknologi untuk komunikasi dalam masyarakat dan untuk menghubungkannya dengan masyarakat luas
3. Bakat, keterampilan dan sumberdaya lain diberikan secara bebas dalam masyarakat dan diberikan ke luar masyarakat untuk melayani sebaik mungkin
4. Keanekaragaman dihormati sebagai sumber kesehatan, vitalitas dan kreativitas dalam lingkungan alami dan dalam hubungn masyarakat
5. Penerimaan, ketertutupan dan keterbukaan membantu perkembangan pemahaman terhadap keuntungan keanekaragaman, memperkaya pengalaman sosial dan lingkungan serta mempromosikan keadilan
6. Pertumbuhan pribadi, pembelajaran dan kreativitas dihargai dan dipelihara; peluang untuk mengajar dan belajar tersedia utuk semua kelompok umur melalui format bidang pendidikan bervariasi.
7. Kebebasan untuk menyembuhkan, memelihara atau meningkatkan kesehatan (fisik, mental, spiritual, dan emosional) tersedia dan bisa usahakan, mencakup kesehatan alternatif dan praktik penyembuhan alami seperti meditasi dan gerak badan.
8. Aliran sumber daya, memberi dan menerima dana, barang-barang dan jasa adalah seimbang untuk berbagai keinginan dan kebutuhan masyarakat. c. Aspek spiritual, kondisi spiritual masyarakat seimbang jika:
1. Kekuatan budaya dilestarikan melalui aktivitas artistik dan budaya lain serta perayaan-perayaan, filosofi/adat
2. Kreativitas dan seni dilihat sebagai suatu ungkapan kesatuan dan hubungan timbal balik dengan semesta alam, dan dilestarikan melalui berbagai format artistik, kehidupan seni, dan melalui pemeliharaan dan pertukaran nilai-nilai keindahan.
3. Menghargai waktu bersenang-senang
4. Rasa hormat dan dukungan untuk manifestasi kespiritualan yang ditunjukkan oleh berbagai cara
5. Tersedia peluang untuk mengembangkan diri
6. Perasaan gembira dan memiliki dikembangkan melalui upacara agama dan perayaan
7. Kualitas dan kebersamaan dalam hati masyarakat membentuk persatuan dan kesatuan dalam kehidupan mereka. Hal ini mungkin merupakan suatu persetujuan dan visi bersama yang menyatakan komitmen; kepercayaan budaya, nilai-nilai dan praktek yang menggambarkan dan menyatakan keunikan dari tiap masyarakat
8. Mempunyai kapasitas untuk fleksibilitas dan kemampuan dalam menghadapi berbagai kesulitan yang muncul
9. Baik kota, pinggiran kota ataupun perdesaan, dikembangkan atau tidak, tumbuh pemahaman saling berhubungan dan saling ketergantungan dari semua unsur-unsur hidup di atas bumi
10. Masyarakat dengan sadar memilih dan berperan untuk menciptakan dunia yang penuh kasih.
Kuesioner yang menjadi informasi penting diisi dengan cara wawancara kelompok masyarakat kampung yang dianggap mengetahui dan memahami kondisi masyarakatnya. Adapun proses wawancara dilakukan dengan mengundang kelompok masyarakat di rumah ketua RW atau di Balai Desa Pasireurih. Penentuan kelompok masyarakat dilakukan berdasarkan posisinya di dalam masyarakat, lama tinggal di daerah tersebut, maupun pengalamannya dalam bermasyarakat.
Kuesioner CSA berisikan beragam pertanyaan, dimana setiap jawaban pertanyaan telah ditetapkan nilainya/score. Penilaian dilakukan dalam tiga tahap, yaitu: 1) penjumlahan score tingkat komponen aspek, 2) penjumlahan score tingkat aspek, dan 3) penjumlahan score total ketiga aspek. Pada setiap tingkat, nilai dibedakan dalam tiga kategori, yaitu:
Rendah : menunjukkan perlunya tindakan untuk mencapai kondisi yang mengarah kepada keberlanjutan
15
Sedang : menunjukkan suatu kondisi awal yang baik untuk mengarah kepada kondisi keberlanjutan
Tinggi : menunjukkan tingkat kondisi yang baik/sempurna dalam sistem keberlanjutan.
Kriteria penilaian tersebut dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Kriteria Penilaian dalam PKM/CSA
Parameter Bobot
Aspek Ekologis *
1. Perasaan terhadap tempat *
2. Ketersediaan, produksi, dan distribusi makanan * 3. infrastruktur, bangunan dan transportasi * 4. Pola konsumsi dan pengelolaan limbah padat * 5. Air-sumber, mutu, dan pola penggunaan * 6. Limbah cair dan pengelolaan polusi air *
7. Sumber dan penggunaan energi *
Total nilai aspek ekologis ** Aspek Sosial
1. Keterbukaan, kepercayaan, keselamatan; ruang bersama * 2. Komunikasi, aliran gagasan dan informasi *
3. Jaringan pencapaian dan jasa *
4. Keberlanjutan sosial *
5. Pendidikan *
6. Pelayanan kesehatan *
7. Keberlanjutan ekonomi-ekonomi lokal yang sehat * Total nilai aspek sosial ** Aspek Spiritual
1. Keberlanjutan budaya *
2. Seni dan kesenangan *
3. Keberlanjutan spiritual *
4. Keterikakatan masyarakat *
5. Gaya pegas masyarakat *
6. Holographic baru, pandangan dunia *
7. Perdamaian dan kesadaran global *
Total nilai aspek spiritual ** Total nilai keseluruhan ***
Ket :
1). pembobotan variabel/parameter dalam satu aspek
*
50+ Menunjukkan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan 25-49 Menunjukkan suatu awal yang baik ke arah keberlanjutan 0-24 Menunjukkan perlunya tindakan untuk mencapai keberlanjutan 2). Pembobotan pada satu aspek
**
333+ Menunjukkan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan 166-332 Menunjukkan suatu awal yang baik ke arah keberlanjutan 0-165 Menunjukkan perlunya tindakan untuk mencapai keberlanjutan 3). Pembobotan gabungan dari ketiga aspek
***
999+ Menunjukkan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan 500-998 Menunjukkan suatu awal yang baik ke arah keberlanjutan 0-449 Menunjukkan perlunya tindakan untuk mencapai keberlanjutan
IV. HASIL
4.1 Karakter Lanskap Perkampungan
Identifikasi karakter tapak diperlukan dalam upaya untuk mengetahui kondisi fisik dan sosial budaya yang terjadi saat ini. Selain untuk informasi kondisi existing, identifikasi tapak juga diperlukan untuk menganalisis relevansi tingkat keberlanjutan masyarakat yang menempati tapak. Dalam penelitian ini, karakter lanskap perkampungan yang dikaji meliputi karakter lanskap, karakter sosial, dan karakter spiritual. Melalui karakter lanskap pada ketiga lokasi penelitian dapat diketahui karakter lanskap perkampungan Desa Pasireurih saat ini.
4.1.1 Karakter Lanskap 1. Letak Geografis
Desa Pasireurih terletak pada lintang 06037’10” - 06038’40” LS dan 106042’45” - 106047’25” BT dengan ketinggian 350-500 mdpl dan luas wilayah 316 Ha. Pada bagian utara Desa Pasireurih berbatasan dengan Desa Parakan, Desa Sirnagalih pada bagian timur, Desa Tamansari pada bagian selatan, dan berbatasan dengan Desa Sukaresmi pada bagian barat (Gambar 2). Berjarak lima km dari kota Bogor atau 60 km dari kota Jakarta.
(sumber: Peta Rupa Bumi Digital, Bakosurtanal) Gambar 2. Peta lokasi Desa Pasireurih
2. Iklim
Berdasarkan data dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Balai wilayah II stasiun Kelas I Darmaga Bogor (2002-2008), kawasan studi termasuk beriklim tropik dengan jumlah curah hujan rata-rata tahunan 3.500-4.500 mm/th atau 323 mm/bln dengan jumlah hari hujan 284 hari. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Maret sebesar 539 mm/bln dan curah hujan terendah terjadi pada bulan Agustus sebesar 165 mm/bln. Kelembapan udara rata-rata 84%, intensitas penyinaran rata-rata sekitar 65,1% dan kecepatan angin rata-rata 2,3 km/jam. Suhu harian rata-rata 20º-30ºC dengan rata-rata tahunan 29ºC.
Desa Pasireurih termasuk daerah yang beriklim tropis dengan ciri suhu relatif tinggi dan konstan. Lokasi penelitian berada di daerah dataran rendah dengan ketinggian 350-500 mdpl. Lakitan (1994) berpendapat, kenaikan ketinggian 100 m suhu akan turun dengan kisaran 0,6 C. Di Desa Pasireurih masih memiliki daerah tegakan pohon, baik di kebun-kebun maupun di leuweung
tutupan (hutan keramat) yang berada di kawasan lebih tinggi dapat memberikan
kesejukan pada permukiman yang berada di bawahnya. Selain ketinggian, bentukan lahan dan vegetasi yang ada juga mempengaruhi iklim (Hill, 1995).
Desa Pasireurih terletak pada ketinggian 350-500 mdpl memiliki suhu rata-rata 20º-30ºC dengan rata-rata-rata-rata tahunan 29ºC. Simonds (1983) menjelaskan bahwa selain letak geografis, ketinggian tempat, keterbukaan terhadap sinar matahari dan keberadaan air, vegetasi juga sangat berperan dalam mempengaruhi iklim kawasan.
Berdasarkan data stasiun Klimatologi Klas I Darmaga 2008, desa Pasireurih memiliki curah hujan rata-rata 3.500-4.500 mm/tahun. Curah hujan yang relatif tinggi pada lokasi penelitian cukup menjamin ketersediaan air sepanjang tahun sehingga dapat dimanfaatkan sebagai daerah pertanian. Curah hujan yang tinggi juga dapat menimbulkan tingkat erosi yang tinggi. Pemanfaatan lahan pertanian berupa sawah di lokasi penelitian yang mengikuti pola kontur dapat menahan limpasan air yang berlebih, terutama saat musim hujan.
19