BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5. Penilaian Kinerja Manajer Pusat Pendapatan
Secara teoritis, pengukuran prestasi pusat pertanggungjawaban pada dasarnya dilakukan untuk mengetahui efektivitas dan efisiensi suatu pusat pertanggungjawaban. Efisiensi biasanya dilakukan dengan cara membandingkan suatu ukuran tertentu, misalnya membandingkan suatu pusat pertanggungjawaban dengan pusat pertanggungjawaban lainnya, membandingkan prestasi sesungguhnya dengan yang dianggarkan ataupun membandingkan kinerja pusat pertanggungjawaban masa sekarang dengan kinerja di masa lalu. Efektivitas biasanya berhubungan dengan output yang dihasilkan suatu pusat pertanggungjawaban tidak dapat memberikan kontribusi yang memadai dalam pencapaian tujuan perusahaan, maka pusat pertanggungjawaban tersebut dapat dikatakan tidak efektif.
Penilaian kinerja manajer pusat pendapatan pada PT. Yasa Mitra Perdana Cabang Medan dilakukan dengan cara menggunakan indikator anggaran sebagai alat untuk mengevaluasi yaitu dengan cara membandingkan angka pendapatan yang sebenarnya dengan pendapatan yang dianggarkan, dan dari hasil
Jihan Azizah Zein : Peranan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada PT. Yasa Mitra Perdana Medan, 2010.
perbandingan tersebut akan diperoleh selisih atau deviasi yang terjadi dalam perusahaan. Selisih antara anggaran penjualan dan realisasinya tersebut dapat berupa selisih yang menguntungkan maupun yang merugikan dan dari selisih tersebut kemudian akan dilakukan analisis lebih lanjut untuk mengetahui sebab-sebab terjadinya selisih tersebut. Jika realisasi penjualan lebih besar daripada anggaran, maka selisihnya merupakan selisih menguntungkan dan kinerja manajer tersebut dapat dinyatakan baik. Sebaliknya, jika realisasi penjualan lebih kecil dari anggaran, maka selisihnya merupakan selisih merugikan dan kinerja manajer tersebut dapat dikatakan kurang baik atau buruk. Perusahaan tidak menetapkan batasan yang dianggap material atau signifikan dalam menilai selisih setiap unsur anggaran penjualan dan realisasi, namun tergantung pada kondisi perekonomian. Kinerja manajer tidak dapat langsung dinyatakan buruk hanya karena realisasi penjualan lebih kecil dari anggaran tanpa mempertimbangkan kondisi perekonomian yang terjadi di negara atau daerah dimana perusahaan beroperasi. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisa lebih lanjut dengan melihat kondisi perekonomian pada saat itu, apakah penyimpangan yang terjadi wajar atau tidak sehingga perusahaan dapat menerapkan reward dan punishment yang dapat diberikan kepada manajer.
Jihan Azizah Zein : Peranan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada PT. Yasa Mitra Perdana Medan, 2010.
Berikut ini disajikan daftar target dan realisasi penjualan tahun 2008 pada PT. Yasa Mitra Perdana Cabang Medan.
Tabel 4.1 : Daftar target dan realisasi penjualan
PT. Yasa Mitra Perdana Periode tahun 2008
Bulan Target Aktual Penyimpangan ( % )
Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Rp. 2.062.473.000 1.855.686.000 2.074.779.000 2.089.206.000 2.533.788.000 4.552.152.000 4.334.881.000 5.151.081.000 5.341.483.000 4.960.877.000 5.937.078.000 6.297.198.000 Rp. 5.445.640.057 5.196.237.155 4.953.469.976 6.948.289.680 11.506.962.999 2.421.408.151 2.296.085.637 3.731.306.518 3.720.971.447 5.018.788.283 3.461.963.274 19.317.241.497 264,03 280,02 238,75 332,58 454,14 53,19 52,97 72,44 69,66 101,17 58,31 306,76 Total 47.190.682.000 74.018.364.674 156,85
B. Analisis Hasil Penelitian
1. Struktur Organisasi Perusahaan
Struktur Organisasi menunjukkan kerangka atau bagan yang menggambarkan jaringan hubungan kerja dan susunan pola hubungan yang menunjukkan kedudukan, tugas, dan tanggung jawab secara hirarki yang terdapat pada suatu perusahaan. Apabila struktur organisasi dapat menunjukkan dengan
Jihan Azizah Zein : Peranan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada PT. Yasa Mitra Perdana Medan, 2010.
jelas pemisahan garis wewenang dan tanggung jawab, maka masing-masing pusat pertanggungjawaban akan mudah untuk dinilai prestasi kerjanya.
Jika dilihat dari struktur organisasinya, maka dapat disimpulkan bahwa PT. Yasa Mitra Perdana Cabang Medan dalam menetapkan pembagian wewenang dan tanggung jawab sudah sangat jelas, namun ada satu orang yang mengemban tugas yang ganda yaitu kepala cabang yang juga bertugas sebagai manajer penjualan yaitu membuat anggaran dan melakukan penilaian terhadap kinerja dari seluruh pelaksanaan tugas dan tanggung jawab di perusahaan, sehingga akan menyebabkan adanya ketidakefisienan dalam melakukan penilaian kinerja. Hal ini menjadi tidak efisien karena ia pasti akan menilai bahwa kinerjanya sudah baik. Selain itu, struktur organisasi yang dipakai perusahaan merupakan struktur organisasi fungsional, dimana struktur hirarki yang ada dalam perusahaan dibagi berdasarkan fungsinya masing-masing. Dengan adanya pembagian tugas berdasarkan fungsinya tersebut, maka akan membuat manajemen mengetahui dengan jelas tugasnya masing-masing, sehingga mereka akan lebih fokus terhadap pelaksanaan tugas yang telah diberikan kepadanya dan juga mempermudah manajemen untuk melakukan pengawasan terhadap setiap bidang dalam perusahaan. Selain itu, perusahaan juga telah membuat pembagian tugas secara tertulis yang menjelaskan tanggung jawab, wewenang, tugas dan kewajiban setiap jabatan dalam struktur organisasi.
Jihan Azizah Zein : Peranan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada PT. Yasa Mitra Perdana Medan, 2010.
2. Penilaian Kinerja Manajer Pusat Pendapatan
Berdasarkan hasil perbandingan daftar target dan realisasi anggaran penjualan 2008, dapat dilihat adanya selisih untung ( favorable varians ) dan selisih rugi (unfavorable varians ), yaitu sebagai berikut:
a. penjualan dari bulan Januari – Mei mengalami peningkatan yang sangat signifikan dari target yang dianggarkan. Selisih untung yang terbesar yang didapat perusahaan terjadi pada bulan Mei dengan realisasi penjualan sebesar Rp. 11.506.962.999 atau 454,14 % dari anggaran yang ditetapkan ( Rp. 2.533.788.000 ), sedangkan selisih rugi terbesar terjadi pada bulan Juli dengan realisasi penjualan sebesar Rp. 2.296.085.637 atau hanya 52,97 % dari anggaran penjualan yang ditetapkan ( Rp. 4.334.881.000 ).
b. dari data diatas dapat dilihat bahwa pusat pendapatan PT. Yasa mitra Perdana tidak dapat mencapai target lima kali dalam satu tahun yaitu dari bulan Juni – September dan pada bulan November. Tidak tercapainya target pendapatan selama empat bulan berturut-turut mungkin disebabkan karena manajer tidak melakukan analisis terhadap penyebab terjadinya selisih tersebut.sehingga tidak dapat diambil tindakan-tindakan perbaikan yang memadai.
c. meskipun lima dari dua belas ( 12 ) bulan, pusat pendapatan PT. Yasa Mitra Perdana tidak dapat mencapai target, tetapi secara kumulatif realisasi penjualan tetap melebihi dari anggaran yang telah ditetapkan yaitu Rp. 74.018.364.676 atau 156,85 % dari anggaran pendapatan sebesar Rp. 47.190.682.000
Jihan Azizah Zein : Peranan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada PT. Yasa Mitra Perdana Medan, 2010.
Dari hasil diatas, dapat dilihat bahwa kinerja manajer pusat pendapatan baik. Secara kumulatif, dapat dilihat bahwa pusat penjualan dapat melebihi target yang dianggarkan pada tahun 2008. Sebagai tindak lanjut dari penilaian kinerja diatas, perusahaan menetapkan suatu kebijakan pemberian reward maupun punishment. Kebijakan ini dilakukan dengan tujuan untuk memacu kinerja setiap personil dalam perusahaan. Adapun reward yang diberikan yaitu berupa insentive, sedangkan punishment yang diberikan berupa teguran namun jika karyawan telah melakukan tindak-tindak kecurangan maka perusahaan dapat melakukan pemecatan. Pemberian reward pada manajer setelah dilakukannya penilaian kinerja sudah cukup baik, namun dalam pemberian punishment perusahaan masih kurang tegas, karena dalam hal penjualan jika penjualan tidak mencapai anggaran yang telah ditetapkan maka punishment yang diberikan hanya berupa teguran, sehingga kemungkinan manajer untuk tidak melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik akan mungkin dapat terjadi karena mereka menganggap bahwa hukuman yang akan mereka terima hanya berupa teguran saja. Oleh karena itu, menurut penulis sebaiknya punishment yang diberikan tidak hanya berupa teguran saja melainkan penurunan jabatan ataupun pemecatan.. Dengan adanya pemberian punishment yang tegas oleh perusahaan, maka akan dapat meningkatkan kesadaran para manajer untuk melakukan tugas dan tanggung jawab mereka dengan baik.
Jihan Azizah Zein : Peranan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada PT. Yasa Mitra Perdana Medan, 2010.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan.
Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. proses penyusunan anggaran pada PT. Yasa Mitra Perdana Medan menggunakan metode bottom up, dimana anggaran penjualan disusun oleh kepala cabang bersama-sama dengan kepala operasional. PT. Yasa Mitra Perdana biasanya mengadakan pertemuan antar seluruh kepala kantor cabang di Indonesia tiap tahunnya di kantor pusat, salah satu kegiatannya adalah penyampaian anggaran penjualan untuk diminta persetujuan dan pengesahannya oleh kepala operasional.
2. PT. Yasa Mitra Perdana Medan menggunakan anggaran penjualan sebagai alat penilaian kinerja pusat pendapatan dengan cara membandingkan anggaran penjulan dengan realisasinya selama satu periode dan berdasarkan hasil perbandingan tersebut dapat diketahui besarnya penyimpangan, namun tidak ada analisis lebih lanjut mengenai penyimpangan tersebut sehingga tidak dapat diketahui penyebab terjadinya penyimpangan itu.
3. struktur organisasi PT. Yasa Mitra Perdana Medan sebenarnya telah menerapkan pembagian wewenang dan tanggungjawab secara jelas namun ada satu orang yang mengemban tanggungjawab ganda yaitu kepala cabang yang juga merangkap sebagai manajer penjualan.
Jihan Azizah Zein : Peranan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada PT. Yasa Mitra Perdana Medan, 2010.
4. penerapan akuntansi pertanggungjawaban dalam menilai kinerja pusat pendapatan telah berjalan secara efektif dan efisien. Hal ini dapat dilihat dari: a. adanya pelaporan hasil kegiatan departemen oleh manajer pusat
pendapatan kepada atasan atau kepala bagian operasional di kantor pusat. b. perusahaan menetapkan sistem reward dan punishment bagi manajer pusat
pendapatan terhadap kemampuannya mencapai target penjualan.
c. berdasarkan anggaran dan realisasi penjualan PT. Yasa Mitra Perdana Medan, secara kumulatif kinerja manajer pusat pendapatan dikatakan baik karena hal ini dapat terlihat dari peningkatan realisasi penjualan yaitu sebesar Rp. 74.018.364.676 jika dibandingkan dengan target penjualan sebesar Rp. 47.190.682.000. Perusahaan tidak menetapkan batasan yang signifikan dalam menilai selisih anggaran dan realisasinya, sehingga jika realisasi penjualan lebih besar dari anggaran maka selisihnya merupakan selisih yang menguntungkan dan kinerja manajer penjualan dianggap baik, begitu juga sebaliknya jika realisasi penjualan lebih kecil dari yang dianggarkan maka selisihnya merupakan selisih yang tidak menguntungkan dan kinerja manajer dianggap buruk.
B. Saran
Selain dari kesimpulan yang telah dikemukakan diatas, penulis juga memberi masukan berupa saran kepada perusahaan yang berhubungan dengan penerapan sistem akuntansi pertanggungjawaban pusat pendapatan sebagai alat
Jihan Azizah Zein : Peranan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada PT. Yasa Mitra Perdana Medan, 2010.
ukur kinerja pusat pendapatan. Masukan ini diharapkan dapat berguna bagi perusahaan dalam menerapkan akuntansi pertanggungjawaban:
1. dalam hal pembagian tugas dan wewenang, sebaiknya satu orang hanya memegang satu jabatan saja, agar pekerjaan dapat dikerjakan dengan lebih maksimal dan efisien.
2. PT. Yasa Mitra Perdana sebaiknya menerapkan sistem punishment yang lebih tegas terhadap manajer pusat pertanggungjawaban pendapatan, ini sangat penting karena penerapan punishment yang lebih tegas akan mendorong manajer bekerja lebih baik
3. sebaiknya perusahaan menetapkan batas yang dianggap material atau signifikan dalam menilai selisih antara anggaran dan realisasi, sehingga penggunaan anggaran penjualan sebagai alat penilaian kinerja akan dapat berfungsi lebih baik.
4. PT. Yasa Mitra Perdana sebaiknya melakukan analisis lebih lanjut. Analisis yang dilakukan dapat berupa analisis varian harga jual, analisis varian volume penjualan, sehingga dengan adanya analisis ini perusahaan dapat mengetahui penyebab-penyebab terjadinya selisih antara anggaran dan realisasinya, dan dengan adanya analisis ini perusahaan dapat melakukan perbaikan secepatnya.
Jihan Azizah Zein : Peranan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada PT. Yasa Mitra Perdana Medan, 2010.
DAFTAR PUSTAKA
Ahyari, Agus, 2002. Anggaran Perusahaan: Pendekatan Kuantitatif, Edisi Pertama, Cetakan Keempat, BPFE, Yogyakarta.
Anthony, Robert N., dan V. Govindarajan, 2005. Sistem Pengendalian Manajemen, Buku Satu, Edisi Sebelas, Salemba Empat, Jakarta.
Garrison, Ray. H., 2000. Alih Bahasa A. Totok Budisantoso,. Akuntansi Manajerial, PT Salemba Empat, Jakarta.
Harahap, Sofyan Syafri, 2001. Budgeting Penganggaran: Perencanaan Lengkap Untuk Membantu Manajemen. Edisi Pertama, Cetakan Kedua, Penerbit PT Indah Karya (Persero) Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Hansen, Don R., dan M. M. Mowen, 2004. Akuntansi Manajemen, Salemba Empat, Jakarta.
Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi Sumatera Utara, 2004. Buku Petunjuk Teknik Penulisan Proposal Penelitian dan Penulisan Skripisi, Medan. Kuncoro, Mudrajad, 2003. Metode Riset untuk Bisnis dan Ekonomi, Erlangga,
Jakarta.
Mulyadi, 2001. Akuntansi Manajemen: Konsep, Manfaat dan Rekayasa, Edisi Tiga, Salemba Empat, Jakarta.
Rudianto, 2006. Akuntansi Manajemen: Informasi Untuk Pengambilan Keputusan Manajemen, PT. Grasindo, Jakarta.
Sari, Faradila, 2008. Peranan Pusat Pendapatan Dalam Proses Pemberian Kredit Kepemilikan Rumah Pada PT. BTN (Persero) Cabang Medan.
Siagian, Sinuraya M, 2007. Tinjauan Proses Penyusunan Laporan Pertanggungjawaban Keuangan Pada Dinas Pekerjaan Umum Medan. Sugiri, Slamet, dan Sulastiningsih, 2004. Akuntansi Manajemen: Sebuah
Pengantar, Edisi Tiga, UPP Akademi Manajemen Perusahaan YKPN, Yogyakarta.
Sunarto, 2002. Akuntansi Manajemen, BPFE-UST, Yogyakarta.
Supriyono, R. A., 2001. Akuntansi Manajemen 2: Struktur Pengendalian Manajemen, Edisi Pertama, BPFE-Yogyakarta, Yogyakarta.
Jihan Azizah Zein : Peranan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada PT. Yasa Mitra Perdana Medan, 2010.
__________, 2000. Sistem Pengendalian Manajemen, Buku Dua, Edisi Pertama, BPFE-Yogyakarta, Yogyakarta.