• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembuatan Tim Audit dan Pengecekan Independensi Tiap Anggota

BAB 3 GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN DAN PROSES MAGANG …. 35

3.3. Proses Perencanaan dan Prosedur Awal pada PT SDN

3.3.3. Pembuatan Tim Audit dan Pengecekan Independensi Tiap Anggota

perusahaan dan probabilitas terjadinya kesalahan pada laporan perusahaan. Pada proses audit ini, tim audit terdiri dari seorang engagement leader, seorang manajer, seorang senior associate, dua (2) orang associate 2, dan seorang karyawan magang. Anggota tim audit antara pengerjaan review laporan keuangan interim dan audit laporan keuangan tahunan berbeda. Senior associate dan associate 2 pada kedua pengerjaan tersebut berbeda dan karyawan magang hanya ikut serta ke dalam tim saat pengerjaan laporan keuangan tahunan.

Tiap angota tim akan diperiksa independensinya melalui sebuah form elektronik bernama eIndependence di mana setiap anggota tim harus menandatangani form tersebut. Ada tiga kriteria yang harus dipenuhi agar dapat dikatakan independen, yaitu tidak menjadi direktur pada perusahaan klien atau perusahaan afiliasinya, tidak berada dalam posisi yang dapat memberikan dampak

yang signifikan pada laporan keuangan, dan tidak pernah ikut serta dalam perikatan non-audit.

Selain memeriksa independensi tiap anggota tim, KAP harus mengungkapkan independensi KAP terhadap perusahaan. Berikut adalah beberapa poin penilaian independensi KAP terhadap perusahaan:

a. Menentukan apakah biaya yang diberikan kepada KAP mempengaruhi independensi KAP

b. Menentukan apakah karyawan atau partner KAP, sejak pengerjaan audit sebelumnya, menjadi direktur atau menempati posisi manajemen kunci di perusahaan, atau dipromosikan pada posisi tersebut

c. Mengidentifikasi jasa nonaudit yang diberikan KAP kepada perusahaan dan afiliasinya

d. Mengidentifikasi masalah hukum perusahaan terkait jasa audit maupun non-audit antara perusahaan atau afiliasinya dan KAP yang material bagi kedua belah pihak

Berdasarkan penilaian tersebut, KAP menyatakan tidak ada hal-hal yang berpengaruh signifikan terhadap independensi KAP.

Dalam bab ini, penulis akan menganalisis proses audit atas beban akrual PT SDN yang sudah dilakukan dengan membandingkannya dengan teori yang tercantum pada bab dua. Analisis akan dilakukan dengan menjelaskan fase kedua audit yaitu identifikasi risiko dan pengembangan strategi, fase ketiga audit yaitu audit lapangan, dan fase keempat audit yaitu proses penyelesaian audit.

Berikut adalah penjelasan dari masing-masing fase tersebut.

4.1.Identifikasi Risiko dan Pengembangan Strategi

Pada proses kedua, KAP akan mengidentifikasi risiko klien serta membuat dan mengembangkan strategi audit berdasarkan hasil analisis risiko tersebut.

Dalam proses pengidentifikasian risiko, KAP pertama-tama akan melakukan analisis perusahaan dan lingkungannya, termasuk analisis pihak-pihak yang berelasi dan analisis sisi hukum perusahaan. Kemudian, KAP akan menghitung materialitas perusahaan, menyelesaikan scoping, analisis penilaian risiko, penilaian pengendalian internal, penilaian risiko fraud, dan penilaian risiko lainnya (estimasi akuntansi dan analisis going concern).

Setelah memperoleh hasil analisis risiko tersebut, KAP akan menetapkan tingkat risiko inheren dalam software ARA yang terbagi dalam tiga kelompok, yaitu normal, elevated, dan significant. Kemudian proses pengembangan strategi dilanjutkan dengan mengidentifikasi dan mengevaluasi pengendalian yang ditetapkan perusahaan untuk memitigasi risiko yang ada. Selanjutnya, dari proses pengembangan strategi tersebut akan ditentukan jumlah bukti substantif yang diperlukan auditor untuk melakukan proses sampling.

Kedua proses tersebut akan dijelaskan lebih lanjut pada penjelasan selanjutnya.

4.1.1. Analisis Perusahaan dan Lingkungan Perusahaan

Pada bagian ini, KAP akan menganalisis perusahaan dari sisi hukum dan regulasi yang bersangkutan, sifat (nature) perusahaan, penggunakan standar

akuntansi dan alasannya, tujuan perusahaan dan strategi serta risiko bisnis yang berkaitan, dan menganalisis performa keuangan perusahaan.

4.1.1.1.Analisis Regulasi Pemerintah terkait Proses Bisnis Perusahaan

Dalam tahap ini, KAP melakukan analisis dengan mengumpulkan peraturan terkait dan melakukan diskusi dengan pihak perusahaan untuk memastikan peraturan apa saja yang digunakan perusahaan. Hasil analisis tersebut sudah dicantumkan pada bagian profil perusahaaan. Namun, ada beberapa peraturan yang biasanya diterapkan pada industri pertambangan yang tidak diterapkan oleh perusahaan. Berikut adalah peraturan-peraturan yang tidak digunakan perusahaan.

 Peraturan Menteri ESDM No. 28 tahun 2009

Peraturan ini mengharuskan perusahaan konsesi pertambangan untuk melakukan semua aktivitas ekstraksi mineral sendiri dalam tiga tahun setelah peraturan ini dikeluarkan. Peraturan ini tidak memiliki dampak kepada perusahaan karena sampai tanggal audit, perusahaan belum mencapai tahap produksi.

 Peraturan Menteri ESDM No. 7 tahun 2012

Peraturan ini mengharuskan komoditas mineral tertentu diproses atau melalui proses refinery terlebih dahulu sebelum diekspor. Proses tersebut harus dilakukan di Indonesia melalui kerjasama antar pemegang IUP produksi dan IUPK produksi. Sampai saat ini, peraturan tersebut tidak memiliki dampak pada operasi perusahaan karena perusahaan belum mencapai tahap produksi.

4.1.1.2.Analisis Sifat (Nature) Perusahaan

Pada proses ini, KAP melakukan diskusi dengan pihak perusahaan untuk mengetahui aktivitas penting apa saja yang sudah dilakukan oleh perusahaan.

Hasil dari diskusi tersebut ada pada bagian profil perusahaan.

4.1.1.3.Penggunaan Standar Akuntansi Perusahaan

Berdasarkan diskusi dengan manajer akuntansi perusahaan pada tanggal 16 Desember 2013, diketahui bahwa perusahaan tidak menggunakan standar akuntansi dan kebijakan akuntansi yang berbeda dengan tahun lalu. Sampai sekarang, kebijakan akuntansi perusahaan sesuai dengan Pernyataan Standar

Akuntansi Keuangan (PSAK) Indonesia. Standar akuntansi baru yang berkaitan dengan proses bisnis perusahaan adalah PSAK 33 (2011) tentang Aktivitas Pengupasan Tanah dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Namun, peraturan ini baru akan berlaku pada 1 Januari 2014 dan belum relevan dengan perusahaan karena perusahaan belum mencapai tahap produksi.

4.1.1.4.Tujuan dan Strategi Perusahaan serta Risiko Bisnis yang Berkaitan

Perusahaan akan menyelesaikan aktivitas konstruksi pada akhir kuartal pertama tahun 2014, menyelesaikan kewajiban hukum sebelum masuk ke tahap produksi, dan melakukan proses produksi paling lambat pada bulan Juni 2014.

Perusahaan juga menjamin adanya dana untuk proyek ini adalah hal yang paling utama untuk memastikan proyek HIJ masih dapat berlangsung.

Risiko utama perusahaan adalah terkait proses pengembangan dan kemampuan untuk menjamin tersedianya dana untuk proyek ini. Risiko ini menjadi risiko utama akibat penurunan harga emas yang signifikan pada tahun 2013. Perusahaan masih melakukan proses pendefinisian sumber daya yang tersedia. Selanjutnya apabila harga emas terus menurun, perusahaan tidak akan melanjutkan proyek ini karena tidak akan mendatangkan keuntungan ekonomi pada perusahaan.

4.1.1.5.Analisis Performa Keuangan Perusahaan

Karena perusahaan belum mencapai tahap produksi, performa keuangan akan diukur berdasarkan efisiensi pengeluaran perusahaan melalui perbandingan antara anggaran dengan pengeluaran yang sebenarnya dan perkembangan aktivitas pendanaan. Analisis ini dilakukan berdasarkan Management Report bulanan yang dikeluarkan oleh perusahaan. Berikut adalah rangkuman kondisi arus kas dan pendanaan perusahaan selama tahun 2013.

Tabel 4.1. Performa Keuangan Perusahaan Selama Tahun 2013

Bulan Deskripsi

Januari

Semua pengeluaran ada di bawah anggaran

CSS Ltd. berencana untuk memberikan bantuan pendanaan untuk proyek HIJ

Februari Semua pengeluaran ada di bawah anggaran

CSS Ltd. sepakat untuk memberikan pendanaan untuk proyek HIJ Maret Semua pengeluaran ada di bawah anggaran

Tabel 4.1. Performa Keuangan Perusahaan Selama Tahun 2013 (Sambungan)

Bulan Deskripsi

April KPI dari rencana tambang yang baru mengindikasikan arus kas yang membaik selama enam bulan

Mei Semua pengeluaran ada di bawah anggaran

Juni Perusahaan mengantisipasi kemungkinan kebutuhan dana tambahan untuk menyelesaikan proyek HIJ

Juli

Pengeluaran diekspektasikan masih di bawah anggaran Perusahaan berencana untuk melakukan equity funding untuk mendanai aktivitas proyek HIJ selama dana dari CSS Ltd. belum diberikan

Agustus

Pengeluaran diekspektasikan masih di bawah anggaran Perusahaan berencana untuk melakukan equity funding untuk mendanai aktivitas proyek HIJ selama dana dari CSS Ltd. belum diberikan

September

Terjadi permasalahan pada arus kas karena dana dari CSS Ltd. belum cair. Untuk menindaklanjuti permasalahan ini, perusahaan melakukan minimalisasi cost to complete.

Penundaan pemberian pinjaman oleh CSS Ltd.

Oktober

Penundaan penyelesaian Life of Mine (LOM) Plan menyebabkan masalah arus kas

Proses pendanaan melelaui utang berisiko tidak berjalan sesuai yang direncanakan akibat penundaan LOM Plan

Beberapa perusahaan pendanaan mendatangi area tambang perusahaan

November

Arus kas perusahaan semakin bermasalah akibat penurunan harga emas

Perusahaan mengurangi pengeluaran diskresioner (discretionary expenditure)

Perusahaan mendapat bantuan pendanaan darurat dari pemegang saham

Desember Perusahaan melakukan diskusi dengan kreditor Australia mengenai pendanaan proyek HIJ

Sumber : Management Report Perusahaan Bulan Januari s.d. Desember 2013 (telah diolah kembali)

Berdasarkan Management Report tersebut, dapat dilihat bahwa perusahaan sedang mengalami kesulitan pendanaan. Hal ini juga diperkuat oleh temuan dari laporan keuangan perusahaan di mana terdapat working capital dan arus kas yang negatif, serta pengurangan ekuitas perusahaan. Hal ini menimbukan keraguan (substantial doubt) akan keberlangsungan bisnis perusahaan.

Namun, XYZ plc, yang merupakan pemegang saham mayoritas perusahaan, sudah memberikan konfirmasi tertulis untuk memberikan bantuan keuangan bagi perusahaan dan semua anak perusahaannya yang berdomisili di Indonesia. Melalui konfirmasi tersebut, dapat diasumsikan bahwa perusahaan masih dapat bertahan selama satu tahun kedepan.

4.1.1.6.Mempertimbangkan Informasi Lain

Analisis perusahaan dan lingkungannya dilanjutkan dengan mempertimbangkan informasi lain dari berbagai perikatan yang perusahaan lakukan. Dalam melakukan proses ini, KAP mengetahui bahwa pada tahun 2013 lini bisnis perpajakan KAP memberikan jasa perpajakan berupa saran-saran tentang perjanjian pengilangan (refining) antara perusahaan dengan PT TAM.

KAP kemudian melakukan diskusi dengan lini bisnis tersebut dan menyimpulkan bahwa tidak ada hal yang relevan dengan proses identifikasi risiko kesalahan penyajian pada laporan keuangan perusahaan.

4.1.2. Mengidentifikasi Risiko

Dalam proses mengidentifikasi risiko, ada beberapa hal yang harus dilakukan KAP, yaitu melakukan analisis atas risiko kesalahan penyajian laporan keuangan perusahaan, melakukan penilaian pengendalian internal perusahaan, dan menganalisis risiko-risiko lain. Dari ketiga prosedur tersebut, KAP akan menentukan tingkat materialitas perusahaan dan menyimpulkan risiko audit perusahaan secara keseluruhan. Ketiga prosedur tersebut akan diuraikan di bawah.

4.1.2.1.Analisis atas Risiko Kesalahan Penyajian Laporan Keuangan Perusahaan Risiko kesalahan penyajian laporan keuangan dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu fraud dan error. KAP melakukan analisis kemungkinan kesalahan penyajian laporan keuangan berdasarkan kedua hal tersebut.

Berdasarkan analisis kesalahan penyajian laporan keuangan akibat error (melalui diskusi dengan pihak manajemen, prosedur analitis, dan observasi) KAP menyimpulkan bahwa error tidak menyebabkan kesalahan penyajian yang material pada akun beban akrual. Oleh karena itu, penjelasan mengenai pengujian risiko kesalahan akibat fraud akan lebih dijelaskan dalam laporan ini.

KAP harus menilai risiko adanya fraud akibat management override controls, yaitu risiko manajemen melakukan prosedur yang tidak sesuai dengan aturan perusahaan atau standar yang berlaku. Untuk mengetahui risiko ini, KAP melakukan dua hal yang dilakukan pada fase audit lapangan, yaitu memeriksa proses penjurnalan perusahaan dan prosedur audit yang tidak terduga (unpredictable audit procedure).

Perusahaan menggunakan software MYOB untuk menjurnal transaksi dan pross pelaporan laporan keuangan. Penjurnalan dilakukan secara manual dan semua staf akuntansi memiliki akses langsung untuk memasukkan jurnal pada sistem. Accounting supervisor atau financial controler akan memeriksa jurnal yang sudah dimasukkan ke dalam sistem pada proses tutup buku.

Setelah mengetahui sistem yang digunakan oleh perusahaan, KAP akan menentukan populasi akun jurnal yang akan diperiksa. KAP melakukan pertimbangan atas kondisi perusahaan yang belum mencapai tahap produksi dan menentukan untuk mengambil akun aset pengembangan (development assets) dan Construction in Progrees untuk diperiksa. Kedua akun tersebut berkaitan dengan akun akrual. Berikut ini adalah contoh jurnal kedua akun di tersebut.

Development Assets

Dr. Development Assets xxx

Dr. PPN Masukan xxx

Cr. Accrued Expenses atau Account Payable xxx

Cr. PPh 23/21/26/15 xxx

Cr. PPN Keluaran xxx

Construction in Progress

Dr. Construction in Progress xxx

Dr. PPN Masukan xxx

Cr. Accrued Expenses atau Account Payable xxx

Cr. PPh 23/21/26/15 xxx

Cr. PPN Keluaran xxx

Kedua akun tersebut akan diuji completeness terlebih dahulu dengan menjumlahkan beginning balance dengan pergerakan akun selama tahun 2013.

Dari pengujian tersebut, ditemukan bahwa jumlah kedua akun sudah sesuai.

Kemudian, KAP akan menentukan jumlah sampel yang akan diuji. Jumlah sampel ditentukan berdasarkan tiga kriteria yang ditetapkan oleh KAP, yaitu (1) jurnal dengan kombinasi debit dan kredit yang tidak biasa, (2) jurnal atas transaksi yang hanya terjadi satu kali, dan (3) jurnal yang berjumlah jutaan rupiah. KAP menemukan 28 jurnal yang sesuai dengan ketiga kriteria tersebut dan melakukan proses vouching pada 28 jurnal tersebut. Dari proses vouching tersebut, KAP menyimpulkan tidak ada jurnal yang mengindikasikan fraud berdasarkan prosedur yang dijalankan.

Selain melakukan pengujian pada proses penjurnalan transaksi perusahaan, KAP juga melakukan unpredictable audit procedure. Prosedur tersebut merupakan prosedur yang penting dilakukan dalam audit karena ada kemungkinan manajemen terbiasa dengan prosedur audit yang biasanya dilakukan dan berkemungkinan melakukan fraud pada area yang biasanya tidak diuji oleh KAP.

Sebagai contoh, perusahaan dapat membagi transaksi yang memiliki unsur fraud ke dalam beberapa transaksi fiktif dengan jumlah yang tidak material.

Prosedur ini dilakukan dengan melakukan vouching atas sampel transaksi dengan jumlah yang tidak material. Dalam proses vouching tersebut, KAP memeriksa kelengkapan dokumen, tujuan transaksi, dan jumlah transaksi.

Berdasarkan hasil proses vouching, KAP menyimpulkan tidak ada kesalahan prosedur dan jumlah pencatatan dari sampel tersebut.

KAP juga melakukan proses diskusi (inquiry) dengan pihak perusahaan, yaitu direktur dan accounting supervisor. Dari diskusi tersebut, KAP mengetahui bahwa secara historis, perusahaan tidak pernah mengalami permasalahan yang berhubungan dengan fraud. Hal ini didasari oleh alasan adanya pengawasan yang kuat dari pihak manajemen puncak berupa pengawasan rutin dari direktur dan kunjungan rutin dari CFO XYZ plc. Perusahaan juga melakukan komunikasi dengan karyawannya tentang praktik bisnis dan perilaku etis melalui sosialisasi regulasi perusahaan, peraturan anti korupsi dan penyuapan, serta peraturan perilaku bisnis dari website XYZ plc.

4.1.2.2.Analisis Risiko Keberlanjutan (Going Concern)

Keberlanjutan adalah kemampuan perusahaan untuk tetap melakukan operasi bisnisnya pada tahun-tahun berikutnya atau dengan kata lain, kemampuan perusahaan untuk tidak bankrut. Analisis ini dilakukan berdasarkan Management Report perusahaan dan draft laporan keuangan perusahaan. Berdasarkan kedua laporan tersebut, diketahui bahwa perusahaan sedang dalam masalah keuangan.

Namun, karena KAP sudah mendapat konfirmasi dari pemegang saham utama perusahaan, yaitu XYZ plc yang berisi jaminan untuk menjaga ketersediaan dana untuk perusahaan, KAP menetapkan tidak ada isu keberlanjutan yang material.

4.1.2.3.Analisis Transaksi Perusahaan dengan Pihak Berelasi

Untuk melakukan analisis terhadap transaksi dengan pihak yang berelasi, KAP harus mengetahui siapa saja pihak yang berelasi dengan perusahaan. Untuk itu, KAP melakukan diskusi dengan accounting supervisor dan memperoleh informasi sebagai berikut:

Tabel 4.2. Pihak yang Berelasi dan Transaksinya dengan Perusahaan Pihak yang

Berelasi Hubungan Jenis Transaksi yang Dilakukan Sumber : Dokumen ARA (telah diolah kembali)

Berdasarkan diskusi tersebut juga diketahui bahwa accounting supervisor secara rutin memperbarui struktur organisasi perusahaan dan melakukan diskusi terlebih dahulu dengan CFO XYZ plc sebelum melakukan transaksi dengan perusahaan baru sehingga manajemen senior mengetahui pihak yang ikut serta dalam bisnis perusahaan.

KAP juga melakukan penilaian atas risiko kesalahan penyajian atas transaksi dengan pihak yang berelasi ini melalui proses review kertas kerja tahun sebelumnya, jenis transaksi yang dilakukan, dan pencatatan akuntansi untuk transaksi yang besar dan tidak rutin. Berdasarkan penilaian tersebut, KAP menyimpulkan tidak ada risiko kesalahan penyajian yang teridentifikasi.

4.1.2.4.Analisis Pengendalian Internal Perusahaan

Setelah mengetahui risiko kesalahan penyajian yang mungkin terjadi pada perusahaan, KAP harus mengetahui prosedur atau pengendalian apa saja yang dilakukan perusahaan untuk memitigasi risiko tersebut. Untuk mengetahui hal tersebut, KAP melakukan penilaian berdasarkan COSO’s internal control – integrated framework. Berdasakan kerangka tersebut, ada lima hal yang dianalisis oleh KAP, yaitu lingkungan pengendalian perusahaan, penilaian perusahaan terhadap risiko perusahaan, aktivitas pengendalian perusahaan, sistem informasi dan komunikasi, serta aktivitas pengawasan perusahaan. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing analisis tersebut.

a. Analisis Lingkungan Pengendalian Perusahaan

Proses analisis ini dilakukan melalui diskusi (inquiry) dengan accounting supervisor perusahaan serta direktur dan supervisor hukum pada hari berikutnya. Ada beberapa hal yang dianalisis pada proses ini, yaitu (1) etika dan integritas, (2) partisipasi oleh pihak yang berwenang atas tata kelola, (3) filosofi manajemen dan gaya operasional, (4) struktur organisasi, (5) kompetensi sumber daya manusia perusahaan, dan (6) tekanan pada sumber daya manusia perusahaan untuk mencapai target kinerja keuangan tertentu.

Berdasarkan diskusi tersebut, KAP menemukan beberapa kelemahan pada lingkungan pengendalian perusahaan yaitu (1) kurangnya kebijakan akuntansi dan SOP, (2) kurangnya rekonsiliasi pada tiap akun dan review, (3) perkembangan pada aset konstruksi tidak diawasi dengan benar, (4) tidak ada rekonsiliasi pajak, dan (5) lemahnya keputusan kebijakan akuntansi pada situs pertambangan. Namun, KAP tidak melihat kelima kelemahan tersebut merupakan hal yang signifikan dengan alasan kelima

hal tersebut dapat diatasi dengan aktivitas pengendalian perusahaan. Oleh karena itu, KAP berkesimpulan lingkungan pengendalian perusahaan merupakan dasar yang sesuai untuk komponen pengendalian internal lainnya.

b. Analisis Proses Penilaian Risiko oleh Perusahaan

Proses ini dilakukan melalui analisis management report bulanan perusahaan dan diskusi terpisah dengan accounting supervisor dan direktur perusahaan. Ada dua hal yang dianalisis KAP dalam proses ini, yaitu (1) apakah perusahaan memiliki tujuan strategis yang sesuai dengan ukuran dan kompleksitas perusahaan beserta misi (objective) yang konsisten untuk menunjang strategi tersebut, (2) apakah tujuan strategis tersebut diinformasikan secara berkala kepada pihak yang berwenang atas tata kelola, (3) apakah perusahaan memiliki proses analisis risiko atas proses perubahan, (4) apakah perusahaan memiliki proses yang resmi untuk mengatur perubahan yang berdampak signifikan pada perusahaan.

Melalui keempat hal tersebut, KAP menyimpulkan bahwa aktivitas analisis risiko perusahaan sudah sesuai dengan ukuran dan kompleksitas perusahaan. Namun, KAP menemukan perusahaan tidak mengawasi jumlah hari karyawan XYZ plc berada di Indonesia sehingga berisiko terkena isu pajak apabila jumlah hari karyawan tersebut melebihi PE time test. KAP sudah mengomunikasikan hal ini kepada perusahaan pada perikatan audit beberapa tahun sebelumnya, namun sampai saat ini, perusahaan belum menangani isu ini karena direktur perusahaan dan XYZ plc masih mungin terkena risiko ini.

c. Analisis Aktivitas Pengendalian Perusahaan

Pada proses ini, KAP akan melakukan analisis pada eksekusi pengendalian perusahaan, yaitu kelengkapan dokumen transaksi dan otorisasi transaksi.

Ada empat jenis transaksi yang membutuhkan kelengkapan dokumen tertentu, yaitu transaksi treasury (pendanaan, pemberian kas ke karyawan, kas kecil, dan arus kas), pembelian, pajak, dan gaji. Pada pembahasan ini,

hanya akan dibahas implementasi pengendalian perusahaan pada transaksi pembelian karena transaksi tersebut merupakan transaksi yang paling banyak berkaitan dengan akun beban akrual.

Proses pembelian dilakukan melalui tiga tahap, yaitu pemesanan, penerimaan barang, dan pembayaran. Berdasarkan diskusi dengan accounting supervisor perusahaan, KAP memperoleh kelengkapan dokumen yang harus ada pada ketiga tahap pembelian sebagai berikut:

Tabel 4.3. Kelengkapan Dokumen Tiap Tahap Pembelian

Tahap Dokumen

Sumber : Dokumen ARA (Telah Diolah Kembali)

Berdasarkan analisis terhadap sampel dokumen-dokumen transaksi tersebut, KAP mengetahui bahwa otorisasi transaksi sudah dilakukan oleh pihak yang berwenang. Kelengkapan transaksi juga sudah diverifikasi oleh pihak yang independen untuk memastikan kelengkapannya.

Berdasarkan informasi tersebut, KAP berkesimpulan bahwa aktivitas pengendalian yang diimplementasikan perusahaan sudah relevan dengan ukuran dan kompleksitas perusahaan dan tidak ada kelemahan pada komponen aktivitas pengendalian perusahaan.

d. Analisis Sistem Informasi dan Komunikasi Perusahaan

Analisis ini dilakukan melalui diskusi dengan accounting supervisor perusahaan dan dari dokumen-dokumen yang berisi informasi perusahaan.

Ada tiga hal yang dianalsis KAP dalam proses ini, yaitu (1) apakah ada proses yang tepat untuk mengumpulkan informasi keuangan dan apakah sikap manajemen perusahaan mendukung lingkungan teknologi informasi

perusahaan, (2) apakah informasi keuangan dikomunikasikan secara rutin, dan (3) apakah sistem teknologi informasi perusahaan kompleks.

Berdasarkan ketiga hal tersebut, KAP menemukan beberapa hal berikut:

 Belum ada deskripsi pekerjaan yang resmi atau SOP untuk mendukung lingkungan teknologi informasi. Namun, direktur perusahaan sudah berkomitmen untuk mendukung lingkungan teknologi informasi. Hal ini dapat dilihat dari rencana perusahaan untuk meningkatkan fungsionalitas system teknologi informasi perusahaan. Perusahaan juga menyatakan bahwa pihaknya terbuka atas saran KAP untuk meningkatkan sistem teknologi informasi tersebut.

 Perusahaan kurang memiliki batasan pada akses data dan tidak ada backup dari data tersebut. Perubahan yang tidak diotorisasi atau adjustment juga dapat dilakukan tanpa terdeteksi sehingga meningkatkan risiko fraud dan error perusahaan.

 Komunikasi informasi keuangan perusahaan dilakukan melalui laporan bulanan manajemen. KAP mengidentifikasi bahwa pada bulan Januari sampai April dan Juli sampai Desember 2013, laporan tersebut tidak dipublikasikan secara rutin.

 Perusahaan menggunakan sistem MYOB sebagai sistem akuntansinya.

Berdasarkan penilaian melalui kuesioner KAP, KAP menyatakan bahwa sistem tersebut termasuk sistem nonkompleks.

Walaupun terdapat empat kelemahan pada sistem informasi dan komunikasi perusahaan, KAP menyimpulkan bahwa kelemahan-kelemahan tersebut bukan merupakan hal yang signifikan. Oleh karena itu, KAP menyatakan bahwa sistem informasi dan komunikasi perusahaan sudah sesuai dengan ukuran dan kompleksitas perusahaan.

e. Analisis Pengawasan Pengendalian Perusahaan

Dalam melakukan proses ini, KAP melakukan analisis terhadap proses pengawasan pengendalian yang sedang berjalan berdasarkan eksekusi pengawasan dan efektivitas pengawasan tersebut, serta penilaian terhadap

proses evaluasi efektivitas pengendalian internal yang terpisah. Analisis ini dilakukan melalui diskusi dengan accounting supervisor.

proses evaluasi efektivitas pengendalian internal yang terpisah. Analisis ini dilakukan melalui diskusi dengan accounting supervisor.